Anda di halaman 1dari 10

SC a.

i PRESENTASI BOKONG / MALPRESENTASI JANIN


A. Pengertian
Masa nifas (puerperium) adalah masa sesudahnya persalinan terhitung dari saat selesai
persalinan sampai pulihnya kembali alat-alat kandungan. (Depkes RI, 2004).
Masa nifas adalah waktu yang dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil (Prawirohardjo, 2002).
Post partum adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali
sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6 minggu (Abdul Bahri.S dkk, 2002).
Presentasi Bokong merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di
pundus uteri dan bokong berada dikavum uteri (Prwawirohardjo, 2007).
Presentasi bokong yaitu diamana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu (memanjang),
kepala difundus uteri dan bokong berada pada bagian vakum uteri atau didaerah pintu atas
panggul/simfisis (Razak, 2009).
Seksio sesaria adalah alternatif dari kelahiran vagina bila keamanan ibu dan/atau janin terganggu
(Marilynn. E. Doenges, 2002).
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan
dinding uterus (Sarwono , 2005).
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat badan diatas 500 gram
melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh (Gulardi & Wiknjosastro, 2006).
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan
dinding rahim (Arif Mansjoer, 2002).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa seksio sesaria adalah suatu tindakan
pembedahan obstetric yang merupakan alternatif dari kelahiran vagina jika keadaan ibu atau janin
tergangu, salah satu kelainan janin yaitu malposisi : sungsang. Presentasi bokong yaitu dimana janin
terletak memanjang kepala difundus uteri dan bokong berada pada simfisis,proses SC yaitu dengan
cara insisi pada dinding perut dan dinding rahim dan setelah proses intra natal terdapat masaPost
Partum adalah masa setelah plasenta lahir sampai kembalinya alat-alat kandungan biasanya
berlangsung selama 6 minggu.
B. Indikasi Dilakukan SC
1. Indikasi yang berasal dari Ibu
a) Primigravida dengan kelainan letak.
b) Primi para tua disertai kelaianan letak.
c) Disproporsi sefalo pelvic (disproporsi janian/panggul).
d) Sejarah kehamilan dan persalinan buruk.
e) Terdapat kesempitan paggul.
f) Plasenta previa terutama pada primigravida, solutsio plasenta tingkat I-II.
g) Komplikasi kehamilan yaitu preeklamsia-eklamsia.
h) SC atas permintaan Ibu.
i) Kehamilan yang disertai dengan penyakit (Jantung, DM).
j) Gangguan perjalanan persalinan (kista ovarium, mioma uteri, dsb).
1

2. Indikasi yang berasal dari Janin


a) Fetal distress/gawat janin.
b) Mal presentasi dan ma posisi kedudukan janin.
c) Prolaps tali pusat dengan pembukaan kecil.
d) Kegagalan persalinan vakum atau forceps ekstrasi.
C. Perubahan fisiologis.
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan dalam uterus.
Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relatif lebih banyak, sehingga
memungkinkan janin bergerak dengan leluasa.Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam
presentasi kepala, letak sungsang atau letak lintang.
Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif
berkurang.Karena bokong dengan kedua tungkai terlipat lebih besar daripada kepala, maka bokong
dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada ruangan
yang lebih kecil di segmen bawah uterus.Dengan demikian dapat dimengerti mengapa pada
kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan
cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala.Sayangnya, beberapa fetus
tidak seperti itu.Sebagian dari mereka berada dalam posisi sungsang.
Persalinan sungsang tidak menyebabkan bahaya bagi ibu tetapi menimbulkan hal yang serius
bagi bayinya.Kematian bayi pada persalinan sungsang 4 kali lebih besar daripada persalinan
biasa.Pelepasan plasenta dapat terjadi pada kala II akibat tarikan dari tali pusat. Setelah kepala masuk
ke dalam rongga panggul dapat terjadi tekanan pada kepala pada tali pusat dan ini akan
menyebabkan hipoksia janin. Bahaya lain adalah fraktur, ruptur organ abdomen dan banyak bahaya
untuk otot syaraf.
Setelah menjalani proses persalinan setiap ibu akan mengalami proses perubahan baik fisik
maupun psikologi. Hal ini adalah normal terjadi pada setiap ibu post partum. Perubahan fisiologis
yang terjadi adalah sebagai berikut :
1. Uterus.
Uterus akan kembali kekeadaan sebelum lahir (involusi), proses ini dimulai segera setelah
plasenta keluar, pada akhir tahap ketiga persalinan, garis tengah uterus kira-kira berada 2 cm di
bawah umbilicus, pada saat ini berat uterus kira kira 1000 gr, dalam waktu 12 jam tinggi fundus
uteri kurang lebih 1 cm di atas umbilicus, selanjutnya fundus uteri akan turun kira-kira 1 sampai
2cm setiap 24 jam, pada hari ke 6 post partum tinggi fundus uteri berada di pertengahan
umbilicus dan simpisis pubis, pada hari ke 9 post partum uterus tidak bisa dipalpasi. Berat uterus
menjadi 500 gr pada minggu pertama kemudian turun menjadi 350 gr pada minggu ke dua, dan
pada minggu ke enam beratnya menjadi 50-60 gr, konteraksi uterus akan meningkat secara
bermakna segera setelah bayi lahir dan akan menimbulkan rasa nyeri pada daerah abdomen, atau
yang biasa disebut after pain.
2. Lokhea
Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir sering disebut lokhea, mula-mula berwarna merah
kemudian berubah menjadi merah tua dan coklat.
Macam-macam lokhea
2

a.
b.
c.

Lokhea rubra : warna merah muda, aliran menyembur, berlangsung 3 sampai 4 hari post
partum.
Lokhea serosa : terdiri dari darah lama berwarna merah tua atau coklat, biasanya
berlangsung dari hari ke 3 sampai hari ke 10 setelah bayi lahir.
Lokhea alba : warna cairan putih atau kuning terjadi selama dua sampai enam minggu
setelah bayi lahir.

3. Serviks
Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan, 18 jam pasca partum serviks memendek
dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali ke bentuk semula.
4. Vagina dan perineum.
Mukosa pada vagina akan menipis dan rugae akan menghilang, vagina yang terenggang akan
kembali ke ukuran semula secara bertahap dalam 6 sampai 8 minggu post partum, rugae akan
kembali terlihat pada minggu ke-4. Perineum tampak oedem setelah melahirkan, umumnya akan
terlihat hemoroid, bisa ditemukan episotomi atau laserasi.
5. Sistim endokrin.
Penurunan signifikan hormone placental laktogen, estrogen dan kortisol akan memberikan efek
penurunan gula darah secara bermakna, kadar estrogen dan progesterone akan mengakibatkan
pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstrasel yang terakumulasi pada masa kehamilan.
6. Abdomen.
Abdomen tampak lunak dan mengendur selama beberapa waktu setelah melahirkan.Diperlukan
waktu sekitar 6 minggu untuk dinding abdomen kembali kekeadaan sebelum hamil.
7. Sistem urinarius.
Kadar steroid yang tinggi pada saat hamil akan menurun setelah melahirkan akan menyebabkan
penurunan fungs ginjal, fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan.
8. Sistem pencernaan.
Ibu biasanya lapar segera setelah melahirkan, buang air besar secara spontan akan tertunda
selama 3 hari setelah melahirkan hal ini di sebabkan karena tonus otot menurun.
9. Payudara
Pada hari ketiga postpartum akan terjadi pembengkakan. payudara akan tegang keras, hangat,
dan nyeri bila ditekan setelah laktasi di mulai, rasa nyer akan menetap selama 48 jam.
10. Sistem kardiovaskular
Volume darah biasanya turun sampai mencapai volume sebelum lahir, segera setelah lahir denyut
jantung akan meningkat selama 30 sampai 60 menit karena darah yang biasa melintasi sirkuit
uteroplasma tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum. Peningkatan kecil sementara baik peningkatan
systole maupun diastole.
11. Sistem neurologi.
Rasa tidak nyaman neurologis yang diinduksi kehamilan akan menghilang setelah wanita
melahirkan.
12. Sistem musculoskeletal
Stabilisasi sendi lengkap pada minggu keenam sampai kedelapan setelah wanita melahirkan.
13. Sistem integumen

Hiperpigmentasi pada areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir, kulit
yang merenggang di daerah payudara, abdomen, paha, dan pangul mungkin memudar namun
tidak hilang seluruhnya.
14. Sistem kekebalan
Kekebalan ibu untuk mendapat vaksinasi rubella atau untuk mencegah isoimunisasi Rh
ditetapkan.
D. Pathway
Terlampir
E. Tanda dan Gejala Kehamilan Dengan Presbo
a. Pergerakan anak terasa oleh ibu dibagian perut bawah dibawah pusat dan ibu sering merasa
benda keras (kepala) mendesak tulang iga.
b. Pada palpasi teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus uteri.
c. Punggung anak dapat teraba pada salat satu sisi perut dan bagian-bagian kecil pada pihak
yang berlawanan. Diatas sympisis teraba bagian yang kurang budar dan lunak.
d. Bunyi jantung janin terdengar pada punggung anak setinggi pusat.
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan
mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
2. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
3. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
4. Urinalisis : Menentukam kadar Albumin dan Glukosa
G. Komplikasi
1. Komplikasi Kehamilan dengan Presbo, yaitu:
a. Pada Ibu
1) Terjadi pelepasan plasenta
2) Perlukaan vagina dan serviks
3) Endometritis
b. Pada Anak
1) Prolaps tali pusat
2) Trauma pada bayi
3) Asfiksia karena prolaps/kompresi tali pusat, pelepasan plasenta, kepala macet.
4) Perlukaan/trauma pada organ abdomen.
5) Patah tulang leher.
2. Komplikasi dari tindakan SC
a. Pada ibu
Komplikasi-komplikasi yang biasa timbul ialah sebagai berikut:
1) Infeksi puerperal.
Kompikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam
masa nifas, atau bersifat berat apabila peritonitis, sepsis dan sebagainya.Infeksi
postoperative terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala-gejala infeksi
4

intrapartum atau ada faktor-faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu.
( partus lama khususnya setelah ketuban pecah dini, tindakan vaginal sebelumnya).
2) Perdarahan. Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteri
uterine ikut terbuka, atau karena atonia uteri.
3) Kemungkinan rupture tinggi spotan pada kehamilan berikutnya.
4) Luka kandung kemih, emboli paru, dan keluhan kandung kemih bila peritonialisasi terlalu
tinggi.
b. Pada anak.
Seperti halnya dengan ibunya, nasib anak yang dilahirkan dengan seksio cesaria banyak
tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan seksio cesaria.Menurut
statistic di negara dengan pengawasan antenatal dan intranatal yang baik, kematian perinatal
pasca seksio cesaria berkisar antara 4% sampai 7%.
3. Penatalaksanaan
Penatalaksaan Medis dan Keperawatan
a. Pre Operasi
1) Persiapan Klien :
a. Persetujuan atau informed consent.
b. Pemeriksaan VS klien.
c. Pemberian cairan intravena sesuai indikasi (infuse).
d. Tes laboratorium : darah dan urin.
e. Tes diagnostic sesuai dengan indikasi seperti pemeriksaan denyut jantung janin
dan pemeriksaan USG.
f. Pemberian oksitosin sesuai dengan indikasi.
g. Persiapan kulit pembedahan abdomen (pembersihan pada area pubis).
h. Pemasangan kateter.
i. Klien dipuasakan 6 jam sebelum dilakukan operasi.
b. Post Operasi
Perawatan post operasi seksio sesaria dimulai sejak kala III dengan menghindari
adanya kemungkinan perdarahan post operasi seksio cesaria dan infeksi yaitu :
a. Kaji/periksa VS klien.
b. Observasi adanya perdarahan pervagina 1-2 jam post operasi seksio sesaria.
c. Setelah post operasi tidur terlentang lamanya 6 jam, untuk mencegah perdarahan.
d. Sesudah 6 jam mobilisasi miring kanan dan kiri untuk mempercepat fasilitas usus.
e. Perawatan kateter. Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam post operasi.
f. Perawatan luka. Luka insisi di inspeksi setiap hari,sehingga pembalut luka yang
alternative ringan tanpa banyak plester sangan mennguntungkan, secara normal
jahitan kulit dapat diangkat setelah hari ke empat setelah pembedahan. Usahakan luka
agar tetap kering dan bersih untuk mengurangi/mencegah terjadinya infeksi pada luka
SC.
g. Bila ada nyeri diberi analgesik sesuai program.
h. Sebelum klien pulang diberi penyuluhan tentang :
1) Cara perawatan bayi diantaranya memandikan, cara meawat tali pusat dan cara
menyusui yang baik dan benar.
2) Keluarga berencana.
5

3) Kontrol satu minggu setelah pulang untuk perawatan luka operasinya.


4) Hindari koitus duektus selama 4-6 minggu atau sesuai petunjuk dokter.
5) Hindari mengangkat apapun yang lebih berat dari pada bayi selama 4-6 minggu
post operasi.
H.
Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan post operasi seksio cesaria menurut Doenges (2002) adalah
sebagai berikut :
a. Kaji/pemeriksaan fisik secara head to toe.
b. Kaji sirkulasi. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 ml.
c. Kaji integritas ego : dapat menunjukan prosedur yang diantisipasi sebagai tanda
kegagalan dan/atau refleksi negative pada kemampuan sebagai wanita.Dapat menunjukan
labilitas emosional dan kegembiraan sampai ketakutan, marah, atau menarik diri.
Klien/pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman
kelahiran. Mungkin mengekspresikan ketidakmampuan untuk menghadapi situasi baru.
d. Kaji eliminasi. Kateter urinarius indwelling mungkin terpasang : urin jernih pucat. Bising
usus tidak ada, samar atau jelas.
e. Makanan/cairan. Abdomen lunak.
f. Neurosensori.
- Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anestesi spinal epidural.
- Nyeri atau ketidaknyamanan, mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai
sumber, misal : trauma bedah/insisi, nyeri tekan penyerta, distensi kandung
kemih/abdomen, efek-efek anastesia.
f. Pernafasan. Bunyi paru jelas dan vaskuler
g. Keamanan.
Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda atau kering dan utuh.
h. Seksualitas.
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan
berlebihan/banyak.
i. Pemeriksaan diagnostic.
Jumlah darah lengkap, hemoglobin/hematokrit (HB/HT) : mengkaji perubahan kadar
praoperasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan, urinalisis : kultur
urin, darah, vaginal dan lokhea : pemeriksaan tambahan didasarkan pada kebutuhan
individual.
j. Untuk bayi kaji BAB dan BAK bayi, kaji reflek menghisap (ASI) bayi, kaji suhu bayi
setiap shift kerja.
I. Diagnosa keperawatan
Pre Operasi
1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemajanan/mengingat kesalahan
interpretasi, tidak mengenal sumber-sumber.
2. Ansietas berhubungan dengan konsistensi ancaman pada konsep diri, kebutuhan tidak
terpenuhi.
Post Operasi
6

1. Nyeri (akut) berhubungan dengan trauma pembedahan, efek-efek anastesia, efek-efek


hormonal, distensi kandung kemih/abdomen.
2. Hambatan Mobilitas Fisik b.d Nyeri, Program Pembatasan Gerak, Fisik Tidak Bugar.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, penurunan Hb, prosedur invasive, pecah
ketuban lama.
4. DefisitSelf Care berhubungan dengan efek-efek anastesia, penurunan kelemahan dan
ketahanan ketidaknyamanan fisik.
5. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan efek-efek anastesia, trauma jaringan.
6. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot.
7. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan trauma mekanisme, efek-efek hormonal, efekefek anastesi.
J. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri (akut) berhubungan dengan trauma pembedahan, efek-efek anastesia, efek-efek
hormonal, distensi kandung kemih/abdomen.
Kriteria evaluasi : klien mengungkapkan hilangnya atau berkurangnya nyeri, tampak rileks,
mampu tidur. istirahat dengan tepat (klien dapat meminimalkan/mengontrol nyeri)
- Pain Level
- Comfort Level
- TTV dalam batas normal
Intervensi :
a. Kaji PQRST nyeri yang dirasakan klien.
Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu
menentukan intervensi yang tepat.
b. Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam
Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu
indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien.
c. Ajarkan klien untuk melakukan teknik relaksasi.
Rasional: Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi
dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi
nyeri yang dirasakan.
d. Beri posisi yang nyaman.
Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri.
e. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat
dipersepsikan.
2. Ansietas berhubungan dengan konsistensi ancaman pada konsep diri, kebutuhan tidak
terpenuhi.
Kriteria evaluasi : mengungkapkan bahwa ansietas sudah menurun, mengungkapkan kesadaran
dari perasaan ansietas, tampak rileks dan tidur tenang.
- Anxiety Level
Intervensi :
1) Dorong keberadaan/partisipasi dari pasangan
7

2) Tentukan tingkat ansietas klien dan sumber masalah


3)
Bantu klien/pasangan dan mengidentifikasi mekanisme koping yang lazim dan
perkembangan strategi koping
4) Berikan informasi yang akurat tentang keadaan klien/bayi
5) Mulai kontak antara klien/pasangan dengan bayi segera mungkin.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, penurunan Hb, prosedur invasive,
pecah ketuban lama.
Kriteria evaluasi : mendokumentasikan tekhnik-tekhnik untuk menurunkan resiko atau
meningkatkan penyembuhan, menunjukan lunak bebas dari purulen dengan tanda awal
penyembuhan, uterus lunak/tidak adanya nyeri tekan, lokhea normal, bebas dari infeksi, tidak
demam dan urine jernih kuning pucat.
Intervensi :
1) Tinjauan ulang Hb/Ht prenatal
2) Kaji luka insisi, bersihkan luka dan ganti balutan
3) Kaji status nutrisi, beri diet TKTP, vit C dan zat besi
4) Kaji lokasi dan kontraksi uterus
5) Kaji suhu, nadi, jumlah sel darah putih
6) Perhatikan jumlah dan bau khas lokhea
7) Catatan frekuensi/jumlah karakteristik urin
8) Berikan perawatan perineal, kateter dan infus
9) Berikan aktifitas khusus untuk proses infeksi
4. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot
Bowl Elimination
Kriteria evaluasi : dibuktikan adanya bising usus aktif dan keluarnya flatus.
Intervensi :
1) Auskultasi terhadap adanya bising usus
2) Palpasi abdomen, perhatikan distensi/ketidaknyamanan
3) Anjurkan cairan oral adekuat (minimal6-8 gelas/hari)
4) Tingkatkan ambulasi dini
5) Identifikasi aktifitas-aktifitas klien utnk merangsang kerja usus
6) Berikan analgesic 30 menit sebelum ambulasi
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemajanan/mengingat kesalahan
interpretasi, tidak mengenal sumber-sumber.
Kriteria evaluasi : mengungkapkan pemahaman tentang perubahan fisiologis kebutuhankebutuhan individu, melakukan aktifitas yang perlu dengan benar dan penjelasan alasan untuk
tindakan.
Intervensi :
a. Kaji kesiapan dan motivasi klien untuk belajar.
b. Berikan rencana penyuluhan tekhnis.
c. Kaji keadaan fisik klien.
d. Perhatikan status psikologis dan respon terhadap kelahiran dan peran menjadi ibu.
e. Berikan informasi yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan psikologis klien.
8

f. Tinjau ulang kebutuhan perawatan diri dan perawatan bayi.


g. Demonstrasikan tekhnik-tekhnik perawatan diri, bayi, payudara, dll.
h. Kuatkan informasi yang berhubungan dengan pemeriksaan pascaoperasi lanjutan.
6. Hambatan Mobilitas Fisik b.d Nyeri, Program Pembatasan Gerak, Fisik Tidak Bugar.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan,diharapkan gangguan aktivitas teratasi dg kriteria hasil:
Tingkat mobilitas
a. Klien meningkat dalam aktivitas fisik.
b. Mengerti tujuan dari meningkatkan mobilitas

DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer.2002. Asuhan Keperawatn Maternitas. Salemba Medika. Jakarta
Doenges, M E.2000.Rencana Askep Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokmentasian
Perawatan Pasien. Jakarta:EGC
Carpenito L. J. 2001.Diagnosa Keperawatan.Jakarta : EGC
Winkjosastro, Hanifa. 2005.Ilmu Kebidanan.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Prawirohardjo, Sarwono.2002.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
Neonatal.Jakarta.JNPKKR_POGI
http://infokomaccess.blogspot.com/2011/07/asuhan-keperawatan-pada-klien-mola.html diakses pada
tanggal 14 oktober 2014, jam 15.25 wib.

Kebumen, ..........................
Clinical Instructur

Mahasiswa

I Gusti Ayu Nia Juniari


Mengetahui,
Pembimbing Akademik

)
9

10