Anda di halaman 1dari 19

DAMPAK KEPADATAN PENDUDUK TERHADAP KONDISI

LINGKUNGAN YANG ADA DI KOTA JAKARTA


LAPORAN AKHIR
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Geografi Desa Kota
yang dibina oleh Bapak Singgih Susilo

Oleh:
Offering L 2012
120721435370
120721403802
120721435498

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
April 2015
KATA PENGANTAR

Agung Syahroni
Erdina Elfi R
Rangga Romana Putra

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, yang atas rahmatNya maka kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Penulis juga
mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dosen dan semua pihak yang telah
membantu dalam tahap pembuatan makalah. Tidak lupa penulis juga
mengucapkan terimakasih kepada semua teman-teman yang sangat membantu
dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini penulis susun untuk memenuhi tugas wajib dalam mata
kuliah Geografi Desa-Kota. Dan dengan penyusunan makalah ini semoga saja
penulis bisa menambah pengetahuan kita semua tentang Geografi Desa dan Kota.
Selain hal tersebut semoga saja dengan laporan ini dapat diambil manfaatnya
kepada semua pihak yang membacanya. Laporan ini penulis susun berdasarkan
perkuliahan mempelajari geografi desa-kota.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangankekurangan baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran yang membangun
dari semua pihak sangat diharapkan demi kesempurnaan dalam pembuatan karya
tulis di masa yang akan datang. Amin.

Malang, April 2015


Penulis,

15

DAFTAR ISI

DAMPAK KEPADATAN PENDUDUK TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN


YANG ADA DI KOTA JAKARTA...........................................................................i
KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................2
C. Tujuan.............................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
A. Faktor Yang Mempengaruhi Kepadatan Penduduk Di Jakarta.......................3
1.

Fertilitas (Kelahiran)...............................................................................3

2.

Mortalitas (Kematian).............................................................................3

3.

Migrasi.....................................................................................................4

B. Dampak Yang Ditimbulkan Dari Kepadatan Penduduk Di Kota Jakarta


Terhadap Kondisi Lingkungan.......................................................................5
1.

Ketersediaan udara bersih........................................................................5

2.

Ketersediaan pangan................................................................................7

3.

Ketersediaan lahan...................................................................................8

4.

Ketersediaan air bersih............................................................................8

5.

Pencemaran lingkungan.........................................................................10

C. Solusi Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengatasi Dampak Yang Ditimbulkan


Dari Kepadatan Penduduk Terhadap Kondisi Lingkungan di Kota Jakarta. 11
BAB III PENUTUP...............................................................................................13
A. Kesimpulan...................................................................................................13

15

B. Saran.............................................................................................................13
DAFTAR RUJUKAN............................................................................................14

15

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kota memiliki banyak fasilitas dan sarana prasarana hal ini adalah
daya tarik yang dimiliki oleh kota. Maraknya pembangunan yang
dilakukan oleh kota akan menyebabkan para urban berdatangan untuk
mengikuti jalannya pembangunan di kota tersebut. Mereka berdalih
dengan adanya pembangunan tentunya lapangan pekerjaan di kota juga
akan semakin banyak. Disamping itu bila mendapat pekerjaan yang layak,
bukan tidak mungkin akan meningkatkan penghasilan dan taraf hidup para
urban.
Namun tidak semudah yang dibayangkan. Adanya urbanisasi secara
besar menjadi masalah bagi kota maupun desa. Khususnya bagi kota,
datangnya urban ke kota membuat jumlah penduduk di kota menjadi
bertambah sedangkan jumlah lahan yang tersedia terbatas. Hal ini akan
membuat kota akan semakin sesak. Keadaan semacam ini berkaitan
dengan kepadatan penduduk yang tinggi di kota. Akibatnya adalah
meningkatnya angka kemiskinan sehingga pemukiman kumuhnya juga
meningkat, peningkatan urban crime dan masih banyak masalah lain.
Kepadatan penduduk yang tinggi di Indonesia perlu diperhatikan
lebih. Khususnya di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Kepadatan penduduk
DKI Jakarta yang kami dapatkan terakhir dari Badan Pusat Statistika(BPS)
Indonesia menuliskan bahwa tahun 2014 jumlah penduduk DKI
Jakartamencapai 10.187.595 jiwa. Sedangkan kepadatan penduduk sebesar
14000/km2 Ini menunjukkan angka peningkatan yang sangatsignifikan dan
berkembang dengan begitu cepat. Hal ini juga dapat dikatakan sebagai
kriteria sangat padat. Menurut BPS bahwa kepadatan >75000/km 2
termasuk ke dalam kriteria sangat padat.
Kepadatan penduduk yang terjadi di Jakarta membuat berbagai
masalah timbul, baik terhadap sosial, budala, ekonomi, maupun
lingkungan. Kepadatan menandakan bahwa lingkungan sudah tidak
mampu secara fisik untuk menampung individu yang tinggal di daerah

tersebut. Sehingga timbullah degradasi-degradasi lingkungan. Maka dari


itu penulis tertarik untuk mengambil judul tentang Dampak kepadatan
penduduk terhadap lingkungan kota Jakarta
B. Rumusan Masalah
Permasalahan kepadatan penduduk di Kota Jakarta masuk dalam
kategori sangat tinggi, hal ini dapat menimbulkan kerusakan lingkungan,
dari latar belakang tersebut dapat timbul rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi kepadatan penduduk di Kota
Jakarta?
2. Apa sajakah dampak yang ditimbulkan dari kepadatan penduduk di
Kota Jakarta Terhadap kondisi lingkungan?
3. Apa sajakah solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak
yang ditimbulkan dari kepadatan penduduk terhadap kondisi
lingkungan di Kota Jakarta?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kepadatan penduduk di
Kota Jakarta.
2. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kepadatan penduduk
di Kota Jakarta terhadap kondisi lingkungan.
3. Untuk mengetahui solusi yang dapat dilakukan

untuk mengatasi

dampak yang ditimbulkan dari kepadatan penduduk terhadap kondisi


lingkungan di Kota Jakarta.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Faktor Yang Mempengaruhi Kepadatan Penduduk Di Jakarta


1. Fertilitas (Kelahiran)
Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil
reproduksi yang nyata dari seorang wanita atau sekelompok wanita.
Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir
hidup. Natalitas mempunyai arti yang sama dengan fertilitas hanya
berbeda ruang lingkupnya. Fertilitas menyangkut peranan kelahiran
pada perubahan penduduk sedangkan natalitas mencakup peranan
kelahiran pada perubahan penduduk dan reproduksi manusia.
Bertambahnya populasi manusia membuat persaingan akan
menggunakan lahan semakin tinggi. Peningkatan populasi ini seiring
dengan teori pertumbuhan eksponensial bahwa peningkatan jumlah
penduduk berdasarkan ukuran kelipatan. Bahwa populasi manusia
bertambah seperti bermain gundu. Selalu bertambah dan berlipat-lipat
setiap

tahun.

Apabila

kelahiran

bertambah

dan

persaingan

mendapatkan lahan tinggi sehingga memakan lahan yang tinggi. Hal


ini membuat padat penduduk di daerah tersebut. Maka jelas bahwa
kelahiran merupakan faktor penyebab
2. Mortalitas (Kematian)
Mortalitas atau kematian merupakan salah satu di antara tiga
komponen demografi yang dapat mempengaruhi perubahan penduduk.
Informasi tentang kematian penting, tidak saja bagi pemerintah
melainkan juga bagi pihak swasta, yang terutama berkecimpung dalam
bidang ekonomi dan kesehatan. Mati adalah keadaan menghilangnya
semua tanda tanda kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi
setiap saat setelah kelahiran hidup. Data kematian sangat diperlukan
antara lain untuk proyeksi penduduk guna perancangan pembangunan.
Misalnya, perencanaan fasilitas perumahan, fasilitas pendidikan, dan

jasa jasa lainnya untuk kepentingan masyarakat. Data kematian juga


diperlukan untuk kepentingan evaluasi terhadap program program
kebijakan penduduk.
Kematian sebagai faktor pengurang kepadatan penduduk.
Berbeda dengan kelahiran yang menambah jumlah penduduk.
Kematian ini adalah kebalikannya. Kematian secara tidak sadar dapat
digunakan sebagai faktor pengendali kelahiran, jumlah penduduk,
maupun kepadatan penduduk. Namun demikian kematian merupakan
faktor alami yang tidak bisa dibuat dan dikendalikan oleh manusia.
Pada masa perang dunia ke II banyak terjadi perang besarbesaran sehingga menelan banyak korban. Hal ini membuat
pertumbuhan penduduk sampai di angka minus. Namun tentunya ini
bukan hal yang diharapkan oleh manusia.
3. Migrasi
Merupakan salah satu faktor dasar yang mempengaruhi
pertumbuhan penduduk. Peninjauan migrasi secara regional sangat
penting untuk ditelaah secara khusus mengingat adanya densitas
(kepadatan) dan distribusi penduduk yang tidak merata, adanya factorfaktor pendorong dan penarik bagi orang-orang untuk melakukan
migrasi, di pihak lain, komunikasi termasuk transportasi semakin
lancar. Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk
menetap dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas
politik/negara atau pun batas administratif/batas bagian dalam suatu
negara. Jadi migrasi sering diartikan sebagai perpindahan yang relatif
permanen dari suatu daerah ke daerah lain. Migrasi antar bangsa
(migrasi internasional) tidak begitu berpengaruh dalam menambah atau
mengurangi jumlah penduduk suatu negara kecuali di beberapa negara
tertentu yang berkenaan dengan pengungsian, akibat dari bencana baik
alam maupun perang. Pada umumnya orang yang datang dan pergi
antarnegara boleh dikatakan berimbang saja jumlahnya. Peraturan
peraturan atau undang undang yang dibuat oleh banyak negara

umumnya sangat sulit dan ketat bagi seseorang untuk bisa menjadi
warga negara atau menetap secara permanen di suatu negara lain.
Namun faktor kepandatan penduduk yang sering dialami di Kota
Jakarta yaitu Urbanisasi yang semakin meningkat. Hal tersebut terjadi
karena beberapa hal anatara lain: (1) Terjadinya moderenisasi teknologi,
rakyat pedesaan selalu dibombardir dengan kehidupan serba wah yang ada
di kota besar sehingga semakin mendorong mereka meninggalkan
kampungnya. (2) Pendidikan, merupakan salah satu factor yang sangat
berpengaruh terhadap melunjaknya jumlah penduduk. Universitas terbaik
di Indonesia baik negeri maupun swasta ada perkotaan termasuk di
Jakarta. (3) Lapangan Kerja, Kota DKI Jakarta sebagai kota besar dan
berpenduduk banyak tentunya sangat menjanjikan untuk orang-orang kecil
yang berniat untuk mencari sesuap nasi dikota ini mulai dari pedagang
kaki lima (PKL), pedagang asongan, tukang ojek, tukang sangat
menjanjikan untuk hidup semir sepatu, buruh pabrik, pembantu rumah
tangga, office boy, satpam, sopir, kondektur dll yang terpenting bagi
penduduk pedesaan ketika di Kota DKI Jakarta bisa bekerja tanpa
mempunyai keahlian khusus. Jika ditambah dengan orang-orang yang
berkeahlian khusus yang didatangkan dari luar kota maupun luar negeri
untuk bekerja di Jakarta. (4) Pusat Hiburan, Jakarta merupakan magnet dan
pintu gerbang Indonesia. Indonesia mempunyai daya tarik tersendiri
sebagai kota Jakarta dekat dengan tempat-tempat hiburan seperti mall,
pantai indah kapuk, dufan, pantai Tidung, sea world dan banyak arenaarena lainnya yang tidak ada di kota-kota lain di Indonesia.

B. Dampak Yang Ditimbulkan Dari Kepadatan Penduduk Di Kota


Jakarta Terhadap Kondisi Lingkungan
1. Ketersediaan udara bersih
Udara bersih merupakan kebutuhan mutlak bagi kelangsungan
hidup manusia. Udara bersih banyak mengandung oksigen O 2. Jika
dalam suatu wilayah ditemukan jumlah penduduknya semakin banyak

maka akan berdampak langsung pada kebutuhan oksigen yang


diperlukan semakin banyak jumlahnya pula. Hal ini terjadi karena
semakin bertambahnya jumlah pemukiman, alat transportasi, dan
kawasan industri yang menggunakan bahan bakar fosil seperti minyak
bumi, bensin, solar, dan batu bara sebagai sumber utama dalam
pengelolaan produk industri maka akan berakibat pada jumlah kadar
CO2 dan CO yang ada di udara semakin tinggi setiap tahunnya.
Disamping itu juga kegiatan industri yang dilakukan juga akan
berdampak pada semakin bertambahnya kadar gas-gas pencemaran
seperti oksida nitrogen (NOx) dan oksida belerang (Sox) di udara.
Zat-zat sisa ini dihasilkan akibat dari pembakaran yang tidak
sempurna.
Beberapa

ulasan-ulasan

yang

dijelaskan

tersebut

telah

mencerminkan keadaan yang ada di Kota Jakarta saat ini, dimana pada
setiap tahunnya jumlah penduduk yang bertempat tinggal di Kota
Jakarta semakin bertambah dan polutan-polutan yang dihasilkan pun
juga semakin bertambah pada setiap tahunnya. Menurut pendapat
sumber yang diperoleh dari Paulus Londo tahun 2013 yang dimuat
secara online dalam redaksi kompasiana tingkat polusi yang ada di
Kota DKI Jakarta merupakan yang tertinggi di seluruh Indonesia,
sehingga wajar saja apabila Kota Jakarta disebut sebagai kota
polusi. Hal tersebut didukung dengan adanya data yang diambil
secara global. Kota Jakarta pada skala global menduduki urutan ketiga
setelah Kota Meksiko dan Thailand dalam hal pencemaran udara.
Sedangkan berdasarkan ukuran partikel polutannya Kota Jakarta
menempati urutan ke-9 dari 111 kota di dunia yang telah di survei oleh
Bank Duni pada tahun 2004, dimana kandungan partikel polutan yang
ada di Kota Jakarta mencapai ukuran partikel debu (particulate matter)
dengan ukuran yang mencapai 104 mikrometer per meter kubik
padahal menurut penetapan yang dilakukan oleh Uni Eropa ambang
batas tertinggi untuk ukuran polutan hanya sebesar 50 mikrogram.
Ukuran polutan yang sangat tinggi di Kota Jakarta terjadi karena
beberapa hal yang memicunya, yaitu tingginya angka kemacetan yang

terjadi di Kota Jakarta dan kurangnya jumlah Ruang Terbuka Hijau


(RTH) yang ada di Kota Jakarta.
Tingginya angka kemacetan yang ada di jalan-jalan yang ada di
Kota Jakarta berbanding terbalik dengan faktor jumlah kendaraan
yang saat ini terdaftar di DKI Jakarta. Dimana rasio jalan yang ada di
Kota Jakarta sekitar 7.650 kilometer dengan luas 40,1 kilometer
persegi atau hanya 6,26 persen dari luas wilayahnya. Sedangkan data
jumlah kendaraan bermotor yang pada bulan Juni 2009 yang terdaftar
di Kota Jakarta menurut data Komisi Kepolisian Indonesia mencapai
9.993.867 yang mana jumlah kendaraan bermotor ini masih belum
termasuk kendaraan milik TNI dan Polri. Jika dibandingkan dengan
kondisi jalan yang ada di Kota Jakarta sangat tidak ideal, padahal
perbandingan ideal antara prasarana jalan dan luas wilayah adalah 14
persen.
Disamping itu juga jumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang
ada di Kota Jakarta yang semakin berkurang. Padahal RTH yang ada
di kota memiliki manfaat secara langsung dan/atau tidak langsung
yaitu menciptakan keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan
keindaha wilayah perkotaan. Selain itu RTH di suatu wilayah
perkotaan terutama di Kota Jakarta berisi tumbuhan, tanaman dan
vegetasi yang endemik dan introduksi untuk mendukung manfaat dari
RTH.

2. Ketersediaan pangan
Untuk

melangsungkan

hidupnya,

manusia

membutuhkan

makanan. Dengan keadaan jumlah penduduk yang saat ini menempati


wilayah perkotaan dengan rasio yang cukup tinggi, maka akan
berakibat pada jumlah makanan yang diperlukan semakin banyak.
Ketidakseimbangan antara bertambahnya jumlah penduduk dengan
bertambahnya produksi pangan sangat mempengaruhi kualitas hidup
manusia. Akibatnya penduduk dapat kekurangan gizi atau bahkan
kekurangan bangan. Sebagian besar lahan pertanian di Kota Jakarta
digunakan menjadi lahan pembangunan pabrik, perumahan, kantor,

dan pusat perbelanjaan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan


masyarakat Kota Jakarta masih sangat tergantung dengan tersediannya
pangan yang dari desa sebagai penompangnya. Terutama yang
dijadikan sebagai daerah penopang untuk kebutuhan pangan Kota
Jakarta hampir sebagian besar semua daerah yang ada di pulau Jawa
dan sekitarnya. Sehingga kenaikkan jumlah penduduk berakibat pada
meningkatnya jumlah kebutuhan pangan dan lahan.
3. Ketersediaan lahan
Kepadatan penduduk mendorong adanya peningkatan kebutuhan
yang lainnya, baik lahan untuk tempat tinggal, sarana penunjang
kehidupan, industri, tempat pertanian, dan sebagaianya. Untuk
mengatasi kekurangan lahan, sering dilakukan dengan memanfaatkan
lahan pertanian produktif untuk perumahan dan pembnagunan sarana
dan prasarana kehidupan. Selain itu pembukaan hutan juga sering
dilakukan untuk membangun areal industri, perkebunan, dan
pertanian. Meskipun hal ini dapat dianggap solusi, sesungguhnya
kegiatan ini merusak lingkungan. Jadi peluang terjadinya kerusakan
lingkungan akan meningkat seiring dengan bertambahnya kepadatan
penduduk.
4. Ketersediaan air bersih
Di Kota DKI Jakarta air menjadi sumber masalah yang sangat
serius disana. Dimana ketika musim hujan tiba banjir menggenangi
seluruh kota, sedangkan ketika musim kemarau datang terjadi defisit
(kekurangan) air bersih. Daya dukung lingkungan yang digunakan
untuk menyediakan air bersih bagi warga kota juga semakin terbatas,
sementara tingkat kebutuhan akan air bersih yang terus meningkat.
Beberapa masalah yang terkait dengan lingkungan hidup yang ada di
kota DKI Jakarta yaitu terjadinya degradasi kualitas air yang
disebabkan pencemaran lingkungan, hilangnya sumber air akibat
pemanfaatan air tanah yang tinggi sehingga menyebabkan terjadinya
penurunan permukaan tanah.

Pada tahun 2011 menurut data yang diperoleh dari Badan


Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa 90 persen dari
air tanah yang ada di Kota Jakarta sudah tercemar akan logam-logam
berat, nitrat dan bakteri e-coli. Pencemaran air tanah yang terjadi di
Kota DKI Jakarta terjadi tidah hanya pada air tanah melainkan sudah
sampai pada sumber-sumber air yang memasok jaringan pelayanan
publik. Sedangkan air dari sumur penduduk selain umumnya
tercemarnyaoleh bakteri, juga terdapat kandungan logam bahkan pada
sebagian wilayah airnya terasa asin karena kadar garam yang
dikandung dari air tersebut yang semakin tinggi. Selain itu juga jika
memanfaatkan air yang berada di sungai-sungai merupakan hal yang
mustahil dilakukan di Kota DKI Jakarta karena air yang ada di sungaisungai sudah sulit untuk didur ulang dan di manfaatkan akibat
pencemaran lingkungan air sungai yang sudah parah. Bahkan menurut
Badan Kementrian Lingkungan Hidup, air sungai Ciliwung di wilayah
Jakarta sudah dalam kondisi no class. Pemerintah telah melakukan
usaha untuk menurunkan beban pencemaran yng dialami sungai
Ciliwung, namun hal tersebut tidaklah mudah. Hal tersebut terjadi
karena pencemaran sungai Ciliwung yang sudah melebihi beban
pencemaran idel yang telah ditetapkan oleh KLH, dimana bebaan
pencemaran yang dialami oleh sungai ciliwung yang mencapai 29.231
kg per hari sedangkan beban pencemaran air yang ideal adalah 7.019
hal tersebut mengakibatkan beban penurunan pencemaran yang harus
dilakukan mencapai 76 persen agar bisa kembali normal.
Sumber pencemaran air yang ada di sungai-sungai di Kota DKI
Jakarta adalah limbah domestik. Bahkan menurut beberapa media
massa sekitar sepertiga dari 6000 ton /hari sampah di DKI Jakarta
dibuang ke dalam sungai dan badan-badan air lainnya seperti situ dan
selokan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Indonesia
memaparkan hasil data yang dapat menjelaskan bahwa sebagian besar
air sungai di Kota DKI Jakarta berkualitas buruk.
Degradasi kualitas dan ketersediaan air juga terjadi akibat
eksploitasi air tanah yang massif. Akibat keterbatasan akses air dari

jaringan publik sebagian besar penduduk di Kota DKI Jakarta terpaksa


memanfaatkan air tanah untuk berbagai keperluan. Hal ini
menyebabkan terjadinya pencemaran air tanah, permukaaan tanah dan
intrusi air asin. Selain itu juga sistem sanitasi kota yang buruk
menyebabkan berbagai zat pencemar yang semakin mudah masuk ke
ceruk atau aquifer air di dalam tanah. Sedangkan akibat pengurasan
air tanah yang massif, ceruk air atau aquifer yang semula berisi air
tawar, saat ini sudah dimasuki air asin dari laut. Beberapa sumber
melaporkan, saat ini intrusi air asin sudah mencapai beberapa wilayah
di tengah kota Jakarta. Dengan demikian ancaman korosi terhadap
logam yang menjadi fondasi bangunan sulit dihindarkan.
Ancaman korosi pada fondasi bangunan , dan penurunan
permukaan tanah akibat pengurasan air tanah, saat ini sudah menjadi
ancaman serius bagi bangunan dan keselamatan penduduk Kota DKI
Jakarta. Hal tersebut ditandai dengan terjadinya penurunan permukaan
tanah yang telah teridentifikasi ketika suatu retakan ditemukan di
jembatan Sarinah pada tahun 1978. Penyebabnya, selain eksploitasi air
tanah yang massif juga disebabkan oleh berat bangunan semakin
tinggi. Menurut sejumlah sumber tingkat penurunan permukaan tanah
di Jakarta memang bervariasi. Dalam rentang waktu antara 1993 dan
2005 tingkat penurunan tanah terbesar terjadi di Jakarta Pusat sekitar
3,42 m sampai 1,02 m dari atas permukaan laut. Di Jakarta Utara
penurunannya mencapai 57 cm, dari 2,03 m ke 1,46 m. Di Jakarta
Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan penurunan mencapai 2,11 cm
dan 28 cm.
5. Pencemaran lingkungan
Aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sering
menimbulkan dampak buruk pada lingkungan. Misalnya untuk
memenuhi kebutuhan bahan bangunan dan kertas, maka kayu di hutan
ditebang. Untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian, maka hutan
dibuka dan rawa/lahan gambut dikeringkan. Untuk memenuhi
kebutuhan sandang, didirikan pabrik tekstil. Untuk mempercepat

transportasi, diciptakan berbagai jenis kendaraan bermotor. Apabila


tidak dilakukan dengan benar, aktivitas seperti contoh tersebut lambat
laun dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan kerusakan
ekosistem. Misalnya penebangan hutan yang tidak terkendali dapat
mengakibatkan berbagai bencana seperti banjir dan tanah longsor,
serta dapat melenyapkan kekayaan keanekaragaman hayati di hutan
tersebut. Apabila daya dukung lingkungan terbatas, maka pemenuhan
kebutuhan penduduk selanjutnya menjadi tidak terjamin.
Di daerah yang padat, karena terbatasnya tempat penampungan
sampah, seringkali sampah dibuang di tempat yang tidak semestinya,
misalnya di sungai. Akibatnya timbul pencemaran air dan tanah.
kebutuhan transportasi juga bertambah sehingga jumlah kendaraan
bermotor meningkat. Hal ini akan menimbulkan pencemaran udara
dan suara. Jadi kepadatan penduduk yang tinggi dapat mengakibatkan
timbulnya berbagai pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem.
C. Solusi Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengatasi Dampak Yang
Ditimbulkan

Dari

Kepadatan

Penduduk

Terhadap

Kondisi

Lingkungan di Kota Jakarta.


Solusi yang pernah dicanangkan pemerintah Kota DKI Jakarta dan
saat ini dijalankan untuk mengatasi kepadatan penduduk yang berakibat
kondisi lingkungan Kota DKI Jakarta yang semakin menurun yaitu:
1. Perencanaan program Keluarga Berencana (KB) untuk mengatasi
mebludaknya penduduk yang ada di Kota DKI Jakarta.
2. Menciptakan lapangan pekerjaan untuk mengurangi pengangguran
dan mengatasi kemiskinan.
3. Mengurangi perpindahan penduduk yang dari daerah ke Kota
Jakarta.
4. Menambah jalur alternatif seperti busway untuk mencegah terjadinya
kemacetan.
5. Menerapkan usia kendaraan yang layak beroperasi khususnya bagi
angkutan umum.
6. Menambah jalur khusus untuk roda 2 dan roda 4 agar kemacetan
dapat dikurangi.

Disamping solusi yang dicanangkan pemerintah, ada beberapa


solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi kepadata penduduk yang
ada di Kota DKI Jakarta, yaitu:
1. Pengendalian Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk
Cara mengendalikan jumlah dan pertumbuhan penduduk
adalah dengan menekan angka kelahiran melalui pembatasan jumlah
kelahiran, juga menunda usia perkawinan dini. Untuk pembatasan
jumlah kelahiran kita gunakan program yang telah ada, yaitu
program Keluarga Berencana (KB). Dan menghimbau kepada
masyarakat bahwa mempunyai dua anak lebih baik, daripada
mempunyai anak lebih banyak. Karena kebutuhan zaman sekarang
lebih mahal, serta menghilangkan anggapan masyarakat bahwa
Bahwa Banyak Anak Banyak Rejeki.
2. Pemerataan Persebaran Penduduk
Pemerataaan persebaran penduduk dapat dilakukan dengan
cara transmigrasi dan pembangunan industri di wilayah yang jarang
penduduknya. Untuk mencegah migrasi penduduk dari desa ke kota,
pemerintah mengupayakan berbagai program berupa pemerataan
pembangunan hingga ke pelosok, juga diikuti dengan perbaikan
sarana dan prasarana pedesaan, dan pemberdayaan ekonomi di
pedesaan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Faktor yang mempengaruhi kepadatan penduduk adalah fertilitas
(kelahiran), mortalitas (kematian), dan migrasi (perpindahan).
2. Dampak yang ditimbulkan dari kepadatan penduduk di kota jakarta
terhadap

kondisi

lingkungan

adalah

ketersediaan

udara

bersih,

ketersediaan pangan, ketersediaan air bersih, dan pencemaran lingkungan.


3. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan
dari kepadatan penduduk terhadap kondisi lingkungan di Kota Jakarta
yaitu penggalakan program KB, peningkatan lapangan pekerjaan,
peningkatan sarana transportasi, mengatasi kemancetan, pengendalian
jumlah penduduk, dan pemerataan persebaran penduduk
B. Saran
1. Kepadatan penduduk Kota Jakarta termasuk kategori sangat tinggi
seharusnya penanganan harus dilakukan lebih spesifik dan intensif
sehingga tidak terjadi degradasi lingkungan.

DAFTAR RUJUKAN
Afra, I. 2014. Pengaruh Pertambnagan Penduduk Terhadap Keseimbangan
Lingkungan dan Kelestarian Alam. (Online),
(http://blogpenduduk.blogspot.com/2014/05/pengaruhpertambahan-penduduk-terhadap.html) diakses tanggal 30 April
2015.
Iskarianty. 2010. Kepadatan Penduduk Sebagaio Akar Permasalahan Kota
Jakarta. (Online),
(http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/05/kepadatan-penduduksebagai-akar-dari-permasalahan-kota-jakarta-323405.html),
diakses tanggal 29 April 2015.
Londo, P. 2013. Aneka Ragam Masalah Lingkungan Membelit Jakarta. (Online),
(http://green.kompasiana.com/penghijauan/2013/11/01/anekaragam-masalah-lingkungan-membelit-jakarta-605811.html),
diakses 29 April 2015.
Rahman, Luthfi. 2014. Berapa juta jumlah penduduk Jakarta saat ini. (Online).
(http://www.merdeka.com/peristiwa/berapa-juta-jumlahpenduduk-jakarta-saat-ini.html) diakses pada 29 April 2015
Rumbar, Imanuel. 2014. Pengaruh Kepadatan Populasi Pendudukterhadap
Ketersediaan

Air

Bersihdi

Dki

Jakarta.

(Online)

(https://www.academia.edu/8768180/MAKALAH_Social_Scienc
e) diakses pada 29 April 2015
Nurhada,

Bayu.

2012.

Penduduk

dan

Implikasinya.

(Online)

(http://bayunurhada3009.blogspot.sg/2012/11/contoh-makalahtentang-kepadatan_9754.html) diakses pada 29 April 2015


Wikipedia.

2015.

Daerah

Khusus

Ibukota.

(Online)

(http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Khusus_Ibukota_Jakarta)
diakses pada 29 April 2015
Jauhari, Fuad. 2012. Efek Urbanisasi terhadap Kehidupan Masyarakat Perkotaan.
(Online)
(https://fuadjauhari27394.wordpress.com/2014/10/19/efek-

urbanisasi-terhadap-kehidupan-masyarakat-perkotaan/)

diakses

pada 29 April 2015


Novelita, Astrid. 2012. Kepadatan Penduduk Daerah Ibukota. (Online)
(https://putripertiwimintop.wordpress.com/2012/10/11/kepadatanpenduduk-di-ibukota-jakarta-2/) diakses pada 29 April 2015