Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum Farmakologi Perbandingan Kekuatan

Diuresis Berbagai Diuretik

Kelompok F6

Rienaldi

102011238

Gene Dwi Pramana

102011243

Leonita Alfyani Kurniaty

102011254

Arif Nurkalim

102011257

Maria Margaretha

102011263

Patricia Stephanie

102011263

Ivan Laurentius

102011265

Praktikum Farmakologi Perbandingan Kekuatan Diuresis Berbagai


Diuretik
Landasan Teori
Diuretik merupakan obat yang mempunyai efek meningkatkan urin. Peningkatan urin
ini memiliki arti peningkatan volume urin maupun peningkatan jumlah elektrolit yang
disekresikan dalam urin. Diuretik biasanya digunakan untuk mengurangi udem yang
disebabkan oleh kelainan jantung atau udem yang disebabkan oleh kelainan hati. Diuretik
memegang peranan penting dalam mengurangi dan menghilangkan berbagai jenis udem baik
sebagai obat tunggal maupun kombinasi dengan obat lain, tetapi diuretik bukan sebagai obat
untuk penyembuhan. Kadang-kadang diuretik digunakan juga untuk menimbulkan diuresis
guna mempercepat pengeluaran racun dalam tubuh. Akan dibahas beberapa jenis diuretika
yang akan dipakai pada praktikum diuretika ini, yakni (1) hidroklorotiazid (HCT), (2)
furosemid dan (3) spironolakton.
Hidroklorotiazid (HCT)
Diuretik tiazid bekerja menghambat simporter Na +, Cl- di hulu tubulus distal. Sistem
transport ini dalam keadaan normal berfungsi membawa Na + dan Cl- dari lumen ke dalam sel
epitel tubulus. Na+ selanjutnya dipompakan ke luar tubulus dan ditukar dengan K +, sedangkan
Cl- dikeluarkan melalui kanal klorida. Efek farmakodinamik tiazid yang utama adalah untuk
meningkatkan eksresi natrium, klorida dan sejumlah air. Efek natriuresis dan kloruresis
disebabkan oleh penghambatan mekanisme reabsorpsi elektrolit pada hulu tubuli distal.
Laju ekskresi Na+ maksimal yang ditimbulkan oleh tiazid relatif lebih rendah
dibandingkan dengan apa yang dicapai oleh beberapa diuretik lain, hal ini disebabkan 90%
Na+ dalam cairan filtrat telah direabsorpsi lebih dahulu sebelum mencapai tempat kerja. Pada
pasien diabetes insipidus, tiazid dapat mengurangi diuresis sedangkan pada pasien hipertensi
dapat menurunkan tekanan darah bukan karena efek diuretiknya tetapi efek langsung
terhadap arteriol. Efek hemodinamik tiazid dapat dipisahkan ke fase jangka pendek dan
jangka panjang. Jangka pendek toleransi dapat dihasilkan dari periode paska dosis
antinatriuresis dapat dipicu oleh pengurangan awal di volume cairan ekstraseluler sesuai
dengan penurunan tingkat obat di plasma dan cairan tubulus di bawah ambang diuretik.
Penurunan awal dalam tekanan darah dikaitkan dengan pengurangan dalam cairan
ekstraseluler dan volume plasma yang mengarah ke jantung yang tertekan oleh output dan
preload.

Tiazid merupakan obat terpilih dalam mengatasi udem karena payah jantung ringan
sampai sedang. Tiazid baik bila dikombinasikan dengan diuretik hemat kalium
(spironolakton) pada penderita yang juga mendapat pengobatan digitalis untuk mencegah
timbulnya hipokalemia yang memudahkan terjadinya intoksikasi digitalis. Tiazid juga
memberikan respon yang baik pada penderita udem akibat penyakit ginjal dan hati kronik.
Dalam pengobatan hipertensi, tiazid juga kerap digunakan baik sebagai obat tunggal ataupun
kombinasi. Pemberian tiazid pada penderita gagal jantung atau hipertensi yang disertai
gangguan fungsi ginjal harus hati-hati karena menurunkan laju filtrasi dan hilangnya natrium,
kalium dan klorida yang terlalu banyak.golongan tiazid juga digunakan untuk pengobatan
diabetes insipidus terutama yang bersifat nefrogen dan hiperkalsiuria pada penderita dengan
batu kalsium pada saluran kemih.
Indometasin dan AINS lain dapat mengurangi efek diuretik tiazid karena kedua obat ini
menghambat sintesis prostaglandin vasodilator di ginjal, sehingga menurunkan aliran darah
ginjal dan laju filtrasi glomerulus. Probenesid menghambat sekresi tiazid ke dalam lumen
tubulus. Akibatnya efektivitas tiazid berkurang. Hipokalkemia yang terjadi akibat pemberian
tiazid dapat meningkatkan risiko aritmia oleh digitalis dan obat-obat antiaritmia, sehingga
pemantauan kadar kalium sangat penting pada pasien yang juga mendapat digitalis atau
antiaritmia.
Efek samping dari diuretik tiazid adalah:
1) Gangguan elektrolit, meliputi hipokalemia, hipovolemia, hiponatremia, hipokloremia,
hipomagnesemia
2) Gejala insufisiensi ginjal dapat diperberat oleh tiazid, mungkin karena efek langsung
mengurangi aliran darah ginjal
3) Hiperkalsemia, tendensi hiperkalsemia pada pemberian tiazid jangka panjang merupakan
efek samping yang menguntungkan terutama untuk orang tua dengan risiko osteoporosis,
karena dapat mengurangi risiko fraktur
4) Hiperurisemia, diuretik tiazid dapat meningkatkan kadar asam urat darah karena efeknya
menghambat sekresi dan meningkatkan reabsorpsi asam urat
5) Tiazid dapat menurunkan toleransi glukosa dan mengurangi efektivitas obat hipoglikemik
oral
6) Gangguan fungsi seksual kadang dapat terjadi akibat pemakaian diuretik
7) Tiazid dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida plasma dengan
mekanisme tang tidak diketahui
Furosemid

Diuretik kuat (High-ceiling diuretics) mencakup sekelompok diuretik yang efeknya


sangat kuat dibandingkan dengan diuretik lain. Tempat kerja utamanya di bagian epitel tebal
ansa Henle bagian asendens, karena itu kelompok ini disebut juga sebagai loop diuretics.
Termasuk dalam kelompok ini adalah asam etarinat, furosemid, dan bumetanid.
Asam etakrinat termasuk diuretik yang dapat diberikan secara oral maupun parenteral
dengan hasil memuaskan. Furosemid, atau asam 4-kloro-N-furfuril-5-sulfamoil antranilat
masih tergolong derivat sulfonamid. Bumetanid merupakan derivat asam 3-aminobenzoat
yang lebih poten daripada furosemid, tetapi dalam hal lain kedua senyawa ini mirip satu sama
lain.
Secara umum dapat dikatakan bahwa diuretik kuat mempunyai mula kerja yang lebih
pendek daripada tiazid. Hal ini sebagian besar ditentukan oleh faktor farmakokinetik dan
adanya mekanisme kompensasi. Diuretik terutama berkerja dengan cara menghambat
reabsopsi elektrolit di ansa Henle asendens bagian epitel tebal; tempat kerjanya di permukaan
sel epitel bagian luminal (yang menghadap ke lumen tubuli). Pada pemberian secara IV obat
ini cenderung meningkatkan aliran darah ginjal tanpa disertai peningkatan filtrasi glomerulus.
Perubahan hemodinamik ginjal ini mengakibatkan menurunnya reabsorpsi cairan dan
elektrolit di tubuli proksimal serta meningkatnya efek awal diuresis. Peningkatan aliran darah
ginjal ini relatif hanya berlangsung sebentar. Dengan berkurangnya cairan ektrasel akibat
diuresis, maka aliran darah ginjal menurun dan hal ini akan mengakibatkan meningkatnya
reabsorpsi cairan dan eletrolit di tubuli proksimal. Hal yang terakhir ini agaknya merupakan
suatu mekanisme kompensasi yang membatasi jumlah zat terlarut yang mencapai bagian
epitel tebal ansa Henle asendens, dengan demikian akan mengurangi diuresis.
Masih dipertentangkan apakah diuretik kuat juga bekerja di tubulus proksimal. Furosemid
dan bumetanid mempunyai daya hambat enzim karbonik anhidrase karena keduanya
merupakan derivat sulfonamid, seperti juga tiazid dan asetazolamid, tetapi aktivitasnya terlalu
lemah untuk menyebabkan diuresis di tubuli proksimal.
Obat ini juga menyebabkan meningkatnya eksresi ektrasel K + dan kadar asam urat
plasma, mekanismenya kemungkinan besar sama dengan tiazid. Ekskresi Ca ++ dan Mg++ juga
ditingkatkan sebanding dengan peninggian ekskresi Na+. Berbeda dengan tiazid golongan ini
tidak meningkatkan reabsorpsi Ca++ di tubuli distal. Berdasarkan atas efek kalsiuria ini ,
golongan diuretik kuat digunakan untuk pengobatan simptomatik hiperkalsemia.
Diuretik kuat meningkatkan ekskresi asam yang dapat dititrasi (titrable acid) dan amonia.
Fenomena yang diduga terjadi karena efeknya di nefron distal ini merupakan salah satu faktor
penyebab terjadinya alkalosis metabolik. Bila mobilisasi cairan udem terlalu cepat, alkalosis
metabolik oleh diuretik kuat ini terutama terjadi akibat penyusutan volume cairan ekstrasel.
Sebaliknya pada penggunaan yang kronik, faktor utama penyebab alkalosis ialah besarnya

asupan garam dan ekskresi H+ dan K+. Alkalosis ini seringkali disertai dengan hiponatremia,
tetapi masing-masing disebabkan disebebkan oleh mekanisme yang berbeda.
Obat ini mudah diserap melalui saluran cerna. Bioavabilitas furosemid 65%. Diuretik
kuat terikat pada protein plasma secara ekstensif, sehingga tidak difiltrasi di glomerulus tetapi
cepat sekali disekresi melalui sistem transport asam organik di tubuli proksimal. Dengan cara
ini obat terakumulasi di cairan tubuli dan mungkin sekali di tempat kerja di daerah yang lebih
distal lagi. Probenesit dapat menghambat sekresi furosemid, dan interaksi antara keduanya ini
hanya terbatas pada tingkat sekresi tubuli, dan tidak pada tempat kerja diuretik.
Efek samping asam etakrinat dan furosemid dapat dibedakan atas: 1) reaksi toksik berupa
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang sering terjadi, dan 2) efek samping yang
tidak berhubungan dengan kerja utamanya terjadi. Hiperurisemia relatif sering terjadi, namun
pada kebanyakan penderita hal ini hanya merupakan kelainan biokimia. Dapat pula terjadi
reaksi berupa gangguan saluran cerna, depresi elemen darah, rash kulit, parestesia dan
disfungsi hati. Gangguan saluran cerna lebih sering dengan asam etakrinat daripada
furosemid. Sensitivitas silang mungkin terjadi antara furosemid dan sulfunamid yang lain.
Furosemid dan tiazid juga dapat menyebabkan nefritis interstisialis alergik yang
menyebabakan gagal ginjal reversibel. Juga terjadi penurunan tolenransi karbohidrat, tetapi
lebih ringan daripada tiazid. Pada dosis berlebihan pernah dilaporkan terjadinya hipoglikemia
akut dengan mekanisme yang tidak diketahui. Berdasarkan efeknya pada janin hewan coba,
maka diuretik kuat ini tidak dianjurkan pada wanita hamil, kecuali bila mutlak diperlukan.
Diuretik kuat dapat berinteraksi dengan warfarin dan klofibrat melalui pergeseran
ikatannya dengan protein. Pada penggunaan kronis, diuretik kuat ini dapat menurunkan
bersihan litium. Penggunaan bersama sefalosporin dapat meningkatkan nefrotoksisitas
sefalosporin. Antiinflamasi nonsteroid terutama indometasin dan kortikosteroid melawan
kerja furosemid.
Furosemid lebih banyak digunakan daripada asam etakrinat, karena gangguan saluran
cerna yang lebih ringan dan kurva dosis responnya kurang curam. Diuretik kuat merupakan
obat efektif untuk pengobatan udem akibat gangguan jantung, hati atau ginjal. Sebaiknya
diberikan secara oral, kecuali bila diperlukan diuresis yang segera, maka dapat diberikan
secara IV atau IM. Pemberian parenteral ini diperlukan untuk mengatasi udem paru akut.
Pada keadaan ini perbaikan klinik dicapai kerena terjadi perubahan hemodinamik atau
penurunan volume cairan ektrasel dengan cepat, sehingga aliran balik vena dan curah
ventrikel kanan berkurang. Untuk mengatasi udem refrakter, diuretik kuat biasanya diberikan
bersama diuretik lain, misalnya tiazid atau diuretik hemat K +. Pemakaian dua macam obat
diuretik kuat secara bersamaan merupakan tindakan tidak rasional.

Bila ada nefrosis atau gagal ginjal kronik, maka diperlukan dosis furosemid jauh lebih
besar daripada dosis biasa. Diduga hal ini disebabkan oleh banyaknya protein dalam cairan
tubuli yang akan mengikat furosemid sehingga menghambat diuresis. Pada penderita dengan
uremia, sekresi furosemid melalui tubuli menurun. Diuretik kuat juga digunakan pada
penderita gagal ginjal akut yang masih awal (baru terjadi), namun hasilnya tidak konsisten.
Diuretik kuat dikontraindikasikan pada keadaan gagal ginjal disertai anuria. Diuretik kuat
dapat menurunkan kadar kalsium plasma pada penderita hiperkalsemia simptomatik dengan
cara meningkatkan ekskresi kalsium melalui urin. Bila digunakan untuk tujuan ini, maka
perlu pula diberikan suplemen Na+ dan Cl- untuk menggantikan kehilangan Na+ dan Clmelalui urin.
Furosemid tersedia dalam bentuk tablet 20,40,80 mg dan preparat suntikan. Umumnya
pasien membutuhkan kurang dari 600 mg/hari. Dosis anak 2 mg/kgBB, bila perlu dapat
ditingkatkan menjadi 6 mg/kgBB.
Spironolakton
Spironolakton adalah diuretik hemat kalium (pil air) yang mencegah tubuh menyerap
terlalu banyak garam dan menjaga kadar kalium agar tidak terlalu rendah. Spironolakton
digunakan untuk mendiagnosa atau mengobati suatu kondisi di mana tubuh memiliki terlalu
banyak aldosteron. Aldosteron adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal untuk
membantu mengatur keseimbangan garam dan air dalam tubuh. Spironolakton menyebabkan
retensi cairan (edema) pada orang dengan gagal jantung kongestif, sirosis hati, atau gangguan
ginjal. Spironolakton juga digunakan untuk mengobati atau mencegah hipokalemia (kadar
kalium yang rendah dalam darah). Spironolakton merupakan obat yang diberikan untuk
menghindari hipokalemi, jangan pernah untuk diberikan pada pasien hiperkalemi, atau pada
pasien dengan pengobatan atau hal yang menyebabkan hiperkalemi. Termasuk DM, multipel
myeloma, penyakit tubulointerstitial renal dan insufisiensi renal.
Spironolakton adalah kompetitif antagonis aldosteron. Meski menghambat aldosteronstimulasi Na+ reabsorbsi dan ekskresi K+ dan H+ di distal tubulus dan duktus collecting.
Spironolaktone juga mengurangi aldosteron-stimulasi ammoniagenesis melalaui nefron.
Sprironolakton diberikan secara oral sampai lebih 2 hari agar efektif. Dimetabolisme di hati,
merupakan diuretic yang hanya beraksi diluar tubulus. Efek samping utama adalah
hiperkalemi, ginekomasti dan amenore. Indikasi spironolakton, efek yang besar pada pasien
yang tinggi aldoteron plasma (hiperaldosteron menyebabkan tumor adrenal atau hyperplasia)
juga pada pasien sirosis. Jangan digunakan pada hiperkalemi.

Sasaran belajar:
1.
2.
3.
4.

Mahasiswa dapat menjelaskan berbagai macam obat diuretik dan indikasinya


Mahasiswa dapat mengamati perbandingan kekuatan diuresis dari berbagai diuretik
Mahasiswa dapat memahami dan melaksanakan uji tersamar ganda
Mahasiswa dapat mencatat hasil pengamatan dengan teliti dan membuat laporan yang
baik.

Persiapan
Tiap kelompok mempersiapkan 2 orang percobaan yang berpuasa 4 jam sebelum
percobaan dimulai.

Alat dan bahan


1. Alat-alat
a. Tensimeter dan stetoskop
b. Gelas beaker ukuran 500 cc
c. Gelas ukur ukuran 100 cc
2. Obat-obat
a. Hidroklorotiazid (HCT) 25 mg
b. Furosemid 40 mg
c. Spironolakton
d. Plasebo

Prosedur Pelaksanaan
1.
2.
3.
4.

Orang percobaan yang telah puasa 4 jam sebelumnya, berbaring dengan tenang
Lakukan pengukuran TTV (tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi nafas, dan suhu kulit)
Kosongkan kandung kemih dengan seksama
Segera minum obat diuretic dengan segelas air (200 mL) setelah kandung kemih kosong
dan catat kodenya. Selama percobaan orang percobaan tidak boleh lagi minum cairan

dalam bentuk air, teh, juice, dll.


5. Tamping urin yang keluar pada menit ke 30, 60, 90, dan 120 dalam gelas beaker 500 cc,
ukur jumlahnya dengan mengunakan gelas ukur 100 cc, serta catat waktu pertama kali
berkemih.
6. Ukurlah tekanan darah dan frekuensi nadi tiap 15 menit sampai percobaan selesai.
7. Catat seluruh volume urin yang dikeluarkan selama 1 jam.
8. Bandingkan jumlah urin yang dihasilkan selama 1 jam dari berbagai jenis diuretik.

Hasil Pengamatan
Pukul
Menit
TD
Nadi
Vol.urin

Pk 12.00
0
110/90
77
-

Pk 12.15
15
110/80
70
-

Pk 12.30
30
110/90
70
39 ml

Pk 12.45
45
110/90
65
-

Pk 13.00
60
100/80
74
75 ml

Pk 13.15
75
100/70
68
-

Pk 13.30
90
110/70
65
42 ml

Suhu

35.2oC

34.6 oC

35.1oC

34.9oC

34.3oC

34.9OC

35.9oC

RR

14x/menit

13x/meni

13x/menit 13x/menit 13x/meni

15x/menit 14x/menit

OP 1 : Rienaldi
Kode obat: 77 (Plasebo)
Intake air : 200 mL
Ekskresi urin : 156 mL

Pukul
Menit
TD
Nadi
Vol.urin

Pk 12.00
0
120/90
94
-

Pk 12.15
15
110/80
88
-

Pk 12.30
30
110/80
84
45 ml

Pk 12.45
45
110/90
89
-

Pk 13.00
60
120/80
90
100 ml

Pk 13.15
75
110/80
86
-

Pk 13.30
90
110/90
80
49 ml

Suhu

35.4oC

35.6 oC

35.6oC

35.9oC

35.6oC

35.9OC

35.6oC

RR

16x/menit

13x/meni

13x/menit 13x/menit 12x/meni

15x/menit 13x/menit

OP 1 : Ivan
Kode obat: (Plasebo)
Intake air : 200 mL
Ekskresi urin : 194 mL
Analisa Orang Percobaan I dan II
Karena obat tersamar ganda yang dikonsumsi oleh kedua OP kami adalah plasebo maka tidak
ada perubahan yang siknifikan yang terjadi pada kedua OP kami, baik pada parameter dasar
maupun urin yang dikeluarkan pada saat BAK. Awalnya pada OP 1 kami memutuskan untuk
memilih plasebo karena intake air dan eksresi urin yang dikeluarkan menunjukan bahwa

intake air > ekskresi urin tetapi karena kami ragu akhirnya kami memutuskan untuk memilih
spironolakton, yang ternyata salah. Untuk OP 2 tidak ada keraguan sehingga kami memilih
plasebo.

Kesimpulan
Diuretik adalah obat yang menambah kecepatan pembentukan urin. Furosemid mempunyai
efek diuresis yang paling besar, karena furosemid termasuk golongan diuretik kuat. HCT
mempunyai efek diuresis terbesar kedua setelah furosemid, karena HCT termasuk golongan
diuretik hemat kalium. Spironolakton mempunyai efek diuresis standar, karena spironolakton
hanya merupakan diuretik lemah. Sedangkan yang terakhir ada plasebo, karena plasebo tidak
mengandung efek apa-apa dan hanya terdiri dari tepung biasa.

Daftar Pustaka
1. Bagian Farmakologi FKUI. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-4. Jakarta: Gaya Baru,
2005. h. 385-92.
2. Gunawan SG. Farmakologi dan terapi. ed 5. Jakarta: Badan Penerbit FK UI; 2007.
3. Dewoto HR, Louisa M. Farmakologi dan terapi. ed 5. Jakarta: Badan Penerbit FK UI;
2007.