Anda di halaman 1dari 15

TUGAS

MATA KULIAH PROMOSI GIZI

Dosen Pengampu : Dr. dr. SA. Nugraheni, M.Kes

STRATEGI PROMOSI KESEHATAN UNTUK BALITA GIZI


KURANG DI PALU SULAWESI TENGAH

Disusun Oleh :

Hijra

(22030114410001)

TIKA

(2203011441000)

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU GIZI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara umum di Indonesia terdapat dua masalah gizi utama, yaitu
kurang gizi mikro dan kurang gizi makro. Kurang gizi makro pada umumnya
disebabkan oleh kekurangan asupan energi dan protein dibanding
kebutuhannya yang menyebabkan gangguan kesehatan, sedangkan kurang
gizi mikro disebabkan kekurangan zat gizi mikro. Anak balita sehat atau
kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara
berat badan menurut umurnya dengan rujukan (standar) yang telah
ditetapkan.
Masalah kurang gizi memang sudah banyak terjadi di beberapa
Negara berkembang termasuk di Indonesia. Melihat sumber dana yang
terbatas yang tersedia pada Negara-negara berkembang dan menumpuknya
kebutuhan yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan. Masalah kurang gizi
juga telah dinyatakan sebagai masalah utama kesehatan dunia dan berkaitan
dengan lebih banyak kematian dan penyakit yang disebabkan oleh masalah
kurang gizi tersebut. Walaupun.telah banyak dilakukan penyuluhan tentang
masalah kurang gizi namun masih banyak masyarakat yang mengalami
masalah masalah gizi. Dalam gizi kurang menggambarkan kurangnya
makanan yang dibutuhkan untuk memenuhi standar gizi.
Menurut Alan Berg, 1986. Gizi yang kurang mengakibatkan
terpengaruhnya

perkembangan

mental,

perkembangan

jasmani,

dan

produktifitas manusia karena semua itu mempengaruhi potensi ekonomi


manusia. Keadaan gizi dapat dikelompokkan menjadi tiga tingkat, yaitu
keadaan gizi lebih, keadaan gizi baik, dan keadaan gizi kurang. Keadaan gizi
lebih terjadi apabila gizi yang dibutuhkan melebihi standart kebutuhan gizi.
Gizi baik akan dicapai dengan memberi makanan yang seimbang dengan
tubuh menurut kebutuhan. Sedang gizi kurang menggambarkan kurangnya
makanan yang dibutuhkan untuk memenuhi standar gizi.

Konsumsi

gizi

makanan

pada

seseorang

dapat

menentukan

tercapainya tingkat kesehatan atau sering disebut status gizi.Apabila tubuh


berada dalam tingkat kesehatan gizi optimum dimana jaringan jenuh oleh
semua zat gizi maka disebut status gizi optimum.Dalam kondisi demikian
tubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya tahan yang setinggitingginya. Penyakit kurang gizi kebanyakan ditemui pada masyarakat
golongan rentan terutama pada anak-anak yaitu golongan yang mudah sekali
mengalami penyakit akibat kekurangan gizi dan kekurangan zat makanan
(deficiency) misalnya kwarsiorkor, busung lapar, marasmus, beri-beri, dan
lain-lain.
Berdasarkan data Riskesdas prevalensi berat-kurang pada tahun
2013 adalah 19,6 persen, terdiri dari 5,7 persen gizi buruk dan 13,9
persen gizi kurang. Jika dibandingkan dengan angka prevalensi nasional
tahun 2007 (18,4 %) dan tahun 2010 (17,9 %) terlihat meningkat. Perubahan
terutama pada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,4 persen tahun 2007, 4,9
persen pada tahun 2010, dan 5,7 persen tahun 2013. Sedangkan prevalensi
gizi kurang naik sebesar 0,9 persen dari 2007 dan 2013. Untuk
mencapai sasaran MDG tahun 2015 yaitu 15,5 persen maka prevalensi
gizi buruk-kurang secara nasional harus diturunkan sebesar 4.1 persen dalam
periode 2013 sampai 2015 (Bappenas, 2012).
Salah satu prioritas pembangunan nasional di bidang kesehatan adalah
upaya perbaikan gizi yang berbasis pada sumber daya, kelembagaan, dan
budaya lokal. Kurang gizi akan berdampak pada penurunan kualitas SDM
yang lebih lanjut dapat berakibat pada kegagalan pertumbuhan fisik,
perkembangan

mental

dan

kecerdasan,

menurunkan

produktivitas,

meningkatkan kesakitan serta kematian. Visi pembangunan gizi adalah


Mewujudkan keluarga mandiri sadar gizi untuk mencapai status gizi
masyarakat/keluarga yang optimal.
Pada makalah ini, kegiatan yang akan dibahas adalah mengani
kegiatan strategi promosi kesehatan dalam menurunkan tingginya prevalensi
gizi kurang di Palu Sulawesi Tengah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Promosi Kesehatan
WHO berdasarkan piagam Ottawa (1986) dalam Heri.D.J. Maulana
(2009) hal. 19, mendefinisikan promosi kesehatan adalah suatu proses yang
memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan
meningkatkan

kesehatannya

berbasis

filosofi

yang

jelas

mengenai

pemberdayaan diri sendiri.


Promosi kesehatan merupakan proses pemberdayaan seseorang untuk
meningkatkan control dan peningkatan kesehatannya. WHO menekankan
bahwa promosi kesehatan merupakan suatu proses yang bertujuan
memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan
meningkatkan

kesehatannya

berbasis

filosofi

yang

jelas

mengenai

pemberdayaan diri sendiri (Maulana,2009).


Promosi Kesehatan bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan
kegiatan terdepan yang harus terpadu dengan program-program kesehatan
lainnya. Pentingnya pendekatan Promosi Kesehatan untuk setiap upaya
kesehatan yang akan menjaga keberlangsungan proses pemberdayaan
sehingga masyarkat dapat menerima dan meneruskan kegiatan dengan
sumberdaya yang dimiliki".
Promosi kesehatan telah meningkat modern sejak tahun 1980.
Konsepnya pertama kali digunakan pada tahun 1970 oleh Mentri Kesehataan
Nasional dan Kesejahteraan, Marc Lalonde. Perspektif dari promosi
kesehatan dipengaruhi oleh faktor kesehatan lingkungan dan perubahan
perilaku dan gaya hidup, bukan oleh karakter biomedis. Hal ini dipengaruhi
oleh gagasan lebih lanjut mengenai definisi dari promosi kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di masa yang akan datang merubah
promosi kesehatan dari pelayanan medis menjadi pelayanan kesehatan yang
utama, yang direfleksikan dalam kebijakan dunia. Pada tahun1977 Majelis
Kesehatan Dunia (World Health Assembly) di Alma Ata menyerahkan semua

anggota dari seluruh negara untuk meningkatkan standar pelayanan kesehatan


dan mengurangi ketidaksamaan ke pelayanan kesehatan yang terjamin bagi
seluruh masyarakat produktif (WHO 1986). Sekarang promosi kesehatan
ditafsirkan dan digunakan dalam berbagai macam cara. Bisa saja
didiskripsikan sebagai proses bagi individual maupun kelompok yang
terdorong untuk menggunakan gaya hidup sehat, yang sasaran utamanya
adalah perubahan perilaku. Gagasan lain termasuk: pencegahan penyakit,
perilaku hidup bersih sehat, meningkatkan kesadaran dalam isu kesehatan,
perlindungan umum terhadap kerusakan, pendidikan masyarakat mengenai
gaya hidup sehat dan persamaan dalam kesehatan dan penyediaan pelayanan
kesahatan.
B. Tujuan Promosi Kesehatan
Green,1991 dalam Maulana,2009,tujuan promosi kesehatan terdiri
dari tiga tingkatan yaitu:
1. Tujuan Program
Refleksi dari fase social dan epidemiologi berupa pernyataan
tentang apa yang akan dicapai dalam periode tertentu yang berhubungan
dengan status kesehatan. Tujuan program ini juga disebut tujuan jangka
panjang, contohnya mortalitas akibat kecelakaan kerja pada pekerja
menurun 50 % setelah promosi kesehatan berjalan lima tahun.
2. Tujuan Pendidikan
Pembelajaran yang harus dicapai agar tercapai perilaku yang
diinginkan. Tujuan ini merupakan tujuan jangka menengah, contohnya :
cakupan angka kunjungan ke klinik perusahaan meningkat 75% setelah
promosi kesehatan berjalan tiga tahun.
3. Tujuan Perilaku
Gambaran perilaku yang akan dicapai dalam mengatasi masalah
kesehatan. Tujuan ini bersifat jangka pendek, berhubungan dengan
pengetahuan, sikap, tindakan, contohnya: pengetahuan pekerja tentang
tanda-tanda bahaya di tempat kerja meningkat 60% setelah promosi
kesehatan berjalan 6 bulan.
C. Langkah-Langkah Promosi Kesehatan

Dalam melakukan suatu promosi kesehatan, terdapat langkah-langkah


yang berupa:
1. Tahap Pengkajian
Tahapan pertama dalam perencanaan promosi kesehatan adalah
pengkajian tentang apa yang dibutuhkan klien atau komunitas untuk
menjadi sehat. Pengkajian bertujuan untuk menetapkan dasar data tentang
kebutuhan, masalah kesehatan, pengalaman yang terkait, praktik
kesehatan, tujuan, nilai dan gaya hidup yang dilakukan klien. Informasi
yang terkandung dalam dasar data adalah dasar untuk menetapkan proses
asuhan keperawatan selanjutnya.
2. Tahap Perencanaan
Tahap perencanaan penting untuk memastikan bahwa promosi
kesehatan yang akan dilakukan terfokus pada prioritas kerja yang sesuai
dengan tujuan/goal yaitu memberikan layanan keperawatan terbaik pada
klien meliputi individu, kelompok maupun masyarakat.
Strategis menjelaskan hasil yang diinginkan dan cara dalam
pencapaian tujuan yang akan dicapai pada hasil pelaksanaan tetapi tidak
selalu masuk ke detail tentang metode atau mengukur hasil. Perencanaan
strategis mengacu pada perencanaan sebuah kegiatan berskala besar yang
melibatkan berbagai intervensi pada patner yang berbeda dan bertahap.
Kerangka kerja perencanaan promosi kesehatan dapat meliputi:
a) Identifikasi kebutuhan dan prioritas memerlukan penelitian dan
penyelidikan, atau mungkin dengan menyeleksi sebagian klien dilihat
dari kasus yang menjadi problem. Identifikasi kebutuhan dapat
dilakukan dengan melakukan penyelidikan/penelitian secara berurutan
terhadap keadaan klien, bertanya langsung kepada klien tentang topik
terkait informasi dan nasehat yang mereka perlukan. Selain itu,
identifikasi dapat juga melihat pada catatan kasus untuk dapat
mengidentifikasi topik yang bersifat umum.
b) Tujuan mengacu pada goal dengan meningkatkan kesehatan di
beberapa area, contoh: mengurangi konsumsi alcohol karena

berhubungan dengan terjadinya gangguan kesehatan. Objek atau


sasaran membutuhkan pernyataan spesifik dan harus merupakan
pernyataan yang mengaktifkan objek bekerjasama dalam pencapaina
tujuan yang dicita-citakan bersama. Objek atau sasaran kemudian
diarahkan untuk diberi pendidikan, menciptakan kebiasaan yang sehat,
mengacu pada kebijakan yang terkait, dan menganalisa proses serta
hasil kelingkungan.
c) Pemilihan metode disesuaikan dengan tujuan promosi kesehatan yang
akan dicapai dan memperhatikan segi objek, artinya metode yang
digunakan mampu memberi reflek pada objek/target yang dituju.
d) Ketika objek dan metode telah diputuskan, tingkat perencanaan
selanjutnya adalah mempertimbangkan mengenai sumber spesifik
yang dibutuhakan dalam mengimplementasi strategi pelaksanaan.
Sumber dapat berupa dana, ketrampilan dan keahlian, bahan seperti
selebaran atau kotak pembelajaran, kebijakan yang menarik, rencana,
fasilitas dan pelayanan.
e) Evaluasi harus berhubungan tujuan/sasaran yang telah disusun
sebelumnya tetapi dapat diusahakan lebih dari tujuan yang telah
ditapkan atau kurang dari yang dicita-citakan. Evaluasi dapat kita
lakukan dengan menanyakan pada partisipan mengenai pemahaman
informasi pada akhir sesi atau dapat juga dalam bentuk lebih formal
seperti dengan menbagikan kuisioner kepada peserta/partisipan untuk
diisi sesuai apa yang dipahami atau dimengerti setelah pelaksanaan
promosi kesehatan.
f) Penyusunan rencana pelaksanaan merupakan tindakan yang meliputi
penulisan

detail

rencana

pelaksanaan,

seperti

identifikasi

topik/masalah, orang yang akan menyampaikan informasi terkait


dengan topic, sumber yang akan digunakan, rentang waktu hingga
tahap rencana evaluasi.
g) Merupakan tahap yang penting untuk selalu diperhatikan mengenai
hal yang harus dan tidak harus dilakukan, sehingga tidak terjadi
mapsalah yang tidak diharapkan. Pelaksanaan atau implementasi
promosi kesehatan perlu direncanakan supaya dalam kenyataannya

partisipan diharapkan mampu menyerap atau menerima, mengerti,


memahami dan mau serta mampu menerapkan dalam kehidupan
sehari-hari sehingga diperoleh perubahan perilaku menjadi lebih
sehat. Hasil atau out-put yang ditunjukkan oleh partisipan setelah
dilaksanakan promosi kesehatan menjadi bahan dalam penyusunan
evaluasi.
3. Tahap implementasi
Tahap implementasi

atau

pelaksanaan

adalah

tindakan

penyelesaian yang diperlukan untuk memenuhi tujuan yakni untuk


mencapai kesehatan yang optimal, implementasi merupakan pelaksanaan
dari rencana perawatan terhadap perilaku yang digambarkan dalam hasil
individu yang diusulkan.
4. Tahap evaluasi
Tahap evaluasi pada promosi kesehatan pada dasarnya memiliki
kesamaan dengan tahap evaluasi pada proses keperawatan secara umum.
Di dalam tahapan evaluasi hal penting yang harus diperhatikan adalah
standar ukuran yang digunakan untuk dijadikan suatu pedoman evaluasi.
Standar ini diperoleh dari tujuan dan hasil yang diharapkan diadakannya
suatu kegiatan tersebut. Kedua standar ini selalu dirumuskan ketika
kegiatan ataupun tindakan keperawatan belum diberikan. Selain itu,
dalam tahapan evaluasi juga dilakukan pengkajian lagi yang lebih
dipusatkan pada pengkajian objektif dan subjektif klien atau objek
kegiatan setelah dilakukan tindakan promosi kesehatan.

BAB III
PEMBAHASAN
A. Analisis Masalah Kesehatan
Mengingat status gizi masyarakat memberikan kontribusi terhadap
peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia sehingga untuk mengatasi

permasalahan gizi yang terjadi di Kota Palu diterapkan kebijakan Upaya


Peningkatan Gizi Keluarga. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain
pencegahan dan penanggulangan masalah gizi, khususnya masalah Kurang
Kalori Protein (KKP), Kekurangan Vit. A, Anemia Ibu Hamil dan
Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) melalui
kegiatan Peningkatan Gizi Anak Sekolah/Institusi, Pemberian Kapsul Vit.A
pada Anak Balita dan Ibu Nifas, Pemantauan Ibu Hamil KEK, Pemberian
Kapsul Yodium untuk penduduk di daerah rawan gangguan akibat kekurangan
yodium(GAKY), Pemberian Tablet Fe untuk ibu hamil serta kegiatan lain
yang berhubungan dengan peningkatan produksi pangan dan pendapatan
masyarakat, Pemantauan Penggunaan ASI Eksklusif, Pemetaan Keluarga
Sadar Gizi (Kadarzi), Pemantauan Penanganan Gizi Buruk, Pemantauan
Konsumsi Gizi dan pelaksanaan Lomba Balita Indonesia (LBI).
Angka kematian anak balita yang dilaporkan Puskesmas pada Tahun
2013 adalah 6,5 per 1.000 kelahiran hidup. Dan pada Tahun 2014 kematian
anak balita adalah sebanyak 37 balita atau 5,4 per 1.000 kelahiran hidup. Data
initidak bisa dibandingkan dengan data tiga tahun terakhir karena data yang
tidak tersedia. Namun demikian jika dilihat data Tahun 1997 angka kematian
anak balita 1997 adalah 0,95 per 1.000 kelahiran hidup, Tahun 1998 menurun
menjadi0,39 per 1.000 kelahiran hidup dan pada Tahun 1999 meningkat lagi
menjadi1,93 per 1.000 kelahiran hidup.
Dalam kegiatan strategi promosi kesehatan di Palu Sulawesi Tengah
dimulai dari mengenal masalah kesehatan, mengenal penyebab kesehatan,
mengenal sifat masalah dan mengenal epidemiologi masalah. Dalam kegiatan
tersebut, ditemukan bahwa yang menjadi prioritas utama masalah di Palu
Sulawesi Tengah adalah tingginya prevalensi kasus gizi kurang. Kondisi
tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti

rendahnya

pengetahuan masyarakat, tingkat pendidikan, dan status ekonomi keluarga,


Tingginya prevalensi gizi kurang ini dipengaruhi oleh rendahnya
masyarakat. Masyarakat di Palu Sulawesi Tengah masih belum memahami

dengan benar masalah kesehatan. Misalnya mengenai kebutuhan akan


konsumsi zat gizi.
B. Sasaran
Sasaran primer atau utama dari kegiatan ini adalah ibu yang memiliki
balita baik yang gizi kurang maupun yang normal dan anggota keluarga
lainnya seperti ayah sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Orang
tua baik ayah maupun ibu harus memperhatikan pola makan anaknya serta
kecukupan zat gizi yang dikonsumsinya, sedangkan anggota keluarga lainnya
akan memberikan motivasi dan dukungan kepada orang tua balita.
Sasaran sekunder atau lainnya yang dapat mendukung kegiatan ini agar
masyarakat dapat menerima dan mau melaksanakannya adalah tokoh-tokoh
masyarakat yang berpengaruh dalam masyarakat, diantaranya kader kesehatan,
ibu-ibu PKK, Posyandu dan Bidan Desa. Dukungan kepala desa dan
puskesmas memiliki peranan pula dalam pelaksanaan kegiatan yang harus
dilaksanakan.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Menurunkan angka prevalensi gizi kurang di Palu Sulawesi Tengah.
2. Tujuan Khusus
a) Meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai pola makan yang baik
untuk anaknya.
b) Meningkatkan pengetahuan dan motivasi orang tua mengenai
kebutuhan zat gizi yang dikonsumsi anaknya.
c) Mengubah pola pikir orang tua yang tidak begitu memahami masalah
kesehatan pada anaknya.
d) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam memberikan
asuhan gizi kepada anak (ASI/MP-ASI).
D. Strategi Promosi Kesehatan
1. Advokasi
Advokasi adalah kegiatan untuk meyakinkan orang lain, agar orang
lain tersebut membantu atau mendukung terhadap apa yang diinginkan.
Dalam konteks promosi kesehatan, advokasi adalah pendekatan kepada para
pembuat keputusan atau penentu kebijakan di berbagai sektor, dan di
berbagai tingkat, sehingga para pejabat tersebut mau mendukung program

kesehatan yang kita inginkan. Dukungan dari para pejabat pembuat


keputusan tersebut dapat berupa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan
dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, surat keputusan, surat
instruksi, dan sebagainya.
No
.

1.

2.

3.

Sasaran

Kepala desa

Kepala Dusun

Bidan Desa

Metode

Sosialisasi

Lobby

Sosialisasi

Kegiatan
Memberitahuka
n tingginya
prevalensi gizi
kurang di desa
Marana
Mengusulkan
kegiatan saling
membantu
antara rumah
tangga dengan
tingkat ekonomi
lemah dan
tingkat ekonomi
tinggi
Memberitahuka
n tentang pola
makan yang
sehat dan angka
kecukupan gizi
yang dibutuhkan

Hasil yang
Diharapkan
Kebijakan
mengenai
promosi
kesehatan
Terciptanya rasa
rasa saling
membantu antar
masyarakat

Orang tua
mampu
memahami
dengan baik
kondisi anak
dan kebutuhan
zat gizi yang
dikonsumsinya

2. Bina suasana
Bina suasana bertujuan untuk meningkatkan akses informasi dan
edukasi kepada masyarakat. Pendekatan berupa pencarian dukungan sosial
atau melakukan kemitraan pada tokoh-tokoh masyarakat seperti ibu-ibu
pkk, posyandu, bidan desa, kader-kader kesehatan, dan tokoh-tokoh lain.

No
.

Sasaran

1.

Ibu-Ibu PKK

2.

Kader
kesehatan

3.

Orang tua
balita

Hasil yang
Diharapkan
Ibu-ibu
PKK
Sosialisasi dan
mampu
diskusi
menyediakan
mengenai
fasilitas sarana
penyelesaian
dan prasarana
dan
penanggulangan untuk
berlangsunya
masalah gizi
kegiatan
Sosialisasi,
kurang
diskusi dan Mengusulkan
pelatihan
kegiatan
promosi
kesehatan
berupa
keterampilan
ibu dalam
mengatur pola
makan anaknya
Mengusulkan
Kebijakan
kegiatan
adanya
pemberian
pengadaan PMT
Sosialisasi makanan
dan
dan lobby tambahan (PMT) berkurangnya
setiap dua kali
masalah gizi
seminggu pada
kurang
anak balita
Mengadakan
Orang tua
penyuluhan
mampu
Penyuluha
mengenai :
memahami
n
dengan baik
Gizi kurang
Kesehatan
pentingnya
AKG balita
dan diskusi
Makanan bergizi kesehatan untuk
anaknya
Metode

3. Pemberdayaan Masyarakat

Kegiatan

Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang ditujukan


kepada masyarakat langsung. Tujuan utama pemberdayaan adalah
mewujudkan

kemampuan

masyarakat

dalam

memelihara

dan

meningkatkan kesehatan mereka sendiri (visi promosi kesehatan). Bentuk


kegiatan pemberdayaan ini dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan,
antara lain: penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan pengembangan
masyarakat dalam bentuk misalnya: koperasi, pelatihan-pelatihan untuk
kemampuan peningkatan pendapatan keluarga (income generating skill).
Dengan meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga akan berdampak
terhadap kemampuan dalam pemeliharan kesehatan mereka, misalnya:
terbentuknya dana sehat, terbentuknya pos obat desa, berdirinya polindes,
dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan semacam ini di masyarakat sering
disebut "gerakan masyarakat" untuk kesehatan. Dari uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa sasaran pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat
(sasaran primer).
No
.

Sasaran

1.

Ibu balita

2.

Kekuarga
balita

Hasil yang
Diharapkan
Menjelaskan
Peningkatan
konsep gizi
pengetahuan
kurang dan
orang tua
akibat gizi
tentang
kurang pada
pengertian
anak.
dan bahaya
Menjelaskan
obesitas.
Diskusi
Orangtua
pentingnya
dan tanya
pemantauan BB
diharapkan
jawab
anak,
dapat
penyediaan
menyediakan
makanan sehat
makanan yang
dan bergizi
sehat dan
dirumah dan
bergizi
pengaturan pola
dirumah.
makan anak
Diskusi
Memotivasi agar
Mampu
dan tanya selalu
memotivasi baik
jawab
memperhatikan
ibu maupun
Metode

Kegiatan

kesehatan balita

ayah dari balita


untuk selalu
memperhatikan
kondisi
kesehatan
anaknya

DAFTAR PUSTAKA
Notoatmojo,Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta :
Rineka Cipta.
Wahidmubarak dkk. 2007. Promosi Kesehatan. Jakarta : Graha Ilmu.
Wahit Icbal M, dkk. 2007. Promosi Kesehatan sebuah pengantar proses belajar
mengajar dalam pendidikan. Jakarta : Graha Ilmu.
Maulana H. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta. Graha Ilmu.