Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Riau pada tempo dulu adalah merupakan wilayah perkembangan kerajaan melayu
dan perkembangan agama Islam disepanjang selat Malaka. Ada beberapa kerajaan yang
tumbuh dan berkembang pada awal abad ke 18 diantaranya Kerajaan Riau Lingga, Kerajaan
Siak, kerajaan Indragiri dan Kerajaan Pelalawan, merupakan kerajaan kerajaan Melayu yang
berpengaruh pada masa tersebut. Kesemua kerajaan Melayau Riau ini menunjukkan bahwa
masyarakat Riau pada masa itu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Sehingga orangorang melayu sudah dikatakan telah mempunyai ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan
umum maupun ilmu pengetahuan agama. Karena kalau kita baca sejarah dari kerajaan
kerajaan melayu RIau terlihat megah dan mencapai puncak kejayaan pada masa itu.
Pada masa tersebut sudah terdapat sistim pemerintahan monarkhi. Meskipun tidak
sebagai Kerajaan Islam, tetapi prinsip-prisip Islam dilakukan sepanjang yang dapat
diusahakan oleh masyarakat Melayu Ketika Itu. Kedudukan seorang Sultan sultan sangatlah
menentukan bukan saja sebagai seorang pemimpin negeri, tetapi juga sebagai khalifatullah
atau wali Allah atau sultan adalah bayangan Allah di permukaan bumi ini. 1
Siak adalah salah satu Kerajaan yang cukup berpengaruh dan berkembang ketika itu.
Maka dari itulah kami ingin mengetahui dan mempelajari bagaimana system peradilan yang
dipakai pada masa pemerintahan Siak sesuai dengan disiplin ilmu yang sedang penulis dalami
pada program studi Hukum Islam Strata 2 pada UIN Suska Pekanbaru. Tentunya keterbatasan
sumber dan Literature yang ada untuk mnggali lebih mendalam tentang system peradilan
kerajaan Siak ini tidaklah begitu memadai. Akan tetapi penulis berharap upaya ini dapat
memberikan kita pmahaman dan menambah khazanah keilmuan kita terhadap pengaruh Islam
terhadap sisitem peradilan pada masyarakat melayu masa lalu.
B. Batasan Masalah
Masalah yang akan kita bahas pada makalah ini terbatas pada masalah system
peradilan yang ada pada masa kerajaan Siak Sri Inderapura.
C. Rumusan Masalah
1 Lutfi, Amir, Unsur Islam Dalam Sistem Peradilan Kesultanan Siak Sri
Inderapura 1915-1945, Pekanbaru, IAIN Susqa Press, p. 266
1

Permasalah yang akan ditulis pada makalah ini adalah:


1. Bagaimanakah Sejarah Lahir dan Berkembangnya Kerajaan Siak?
2. Bagaimanakah Sisitim Peradilan Pada masa Kerajaan Siak?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Sejarah Berdiri dan Berkembangnya Kerajaan Siak Sri Inderapura
a. Masa Awal

Kesultanan Siak Sri Inderapura adalah sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah
berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia. Kerajaan ini didirikan di Buantan oleh Raja
Kecil, anak dari Sultan Mahmud Shah sultan Kesultanan Johor yang dibunuh dan dilarikan ke
Pagaruyung2 bersama ibundanya Encik Apong. Raja kecil yang bergelar Sultan Abdul Jalil
pada tahun 1723, setelah sebelumnya terlibat dalam perebutan tahta Johor. Dalam
perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat3 dan
menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di
tengah tekanan imperialisme Eropa. Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke
Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan
Kalimantan.4 Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan
penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia,
Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan
Republik Indonesia.5
Sebelum kerajaan Siak berdiri, daerah Siak berada dibawah kekuasaan Johor. Yang
memerintah dan mengawasi daerah ini adalah raja yang ditunjuk dan di angkat oleh Sultan
Johor. Namun hampir 100 tahun daerah ini tidak ada yang memerintah. Daerah ini diawasi
oleh Syahbandar yang ditunjuk untuk memungut cukai hasil hutan dan hasil laut. Pada awal
tahun 1699 Sultan Kerajaan Johor bergelar Sultan Mahmud Syah II mangkat dibunuh Magat
Sri Rama, istrinya yang bernama Encik Pong pada waktu itu sedang hamil dilarikan ke
2 Andaya, L.Y., Raja Kechil and the Minangkabau conquest of Johor in
1718, JMBRAS 1972, p. 45.
3 The Edinburgh Gazetteer, Or Geographical Dictionary, A. Constable and
Company, 1822.
4 Andaya, L.Y., Op. Cit., p. 55. Lihat juga Barnard, T. P., (2003), Multiple
centres of authority: society and environment in Siak and eastern
Sumatra, 1674-1827, KITLV Press, dan Cave, J., Nicholl, R., Thomas, P. L.,
Effendy, T., (1989), Syair Perang Siak: a court poem presenting the state
policy of a Minangkabau Malay royal family in exile, Malaysian Branch of
the Royal Asiatic Society
5 Samin, S. M., Sultan Syarif Kasim II: pahlawan nasional dari Riau,
Yayasan Pusaka Riau 2002, p. 25
3

Singapura, terus ke Jambi. Dalam perjalanan itu lahirlah Raja Kecik dan kemudian dibesarkan
di Kerajaan Pagaruyung Minangkabau. Sementara itu pucuk pimpinan Kerajaan Johor
diduduki oleh Datuk Bendahara tun Habib yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah 6.
Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1717 Raja Kecik berhasil merebut tahta
Johor. Tetapi tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman ipar
Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Dalam merebut Kerajaan
Johor ini, Tengku Sulaiman dibantu oleh beberapa bangsawan Bugis. Terjadilah perang
saudara yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar pada kedua belah pihak, maka
akhirnya masing-masing pihak mengundurkan diri. Pihak Johor mengundurkan diri ke Pahang,
dan Raja Kecik mengundurkan diri ke Bintan dan seterusnya mendirikan negeri baru di pinggir
Sungai Buantan (anak Sungai Siak). Demikianlah awal berdirinya kerajaan Siak di Buantan.
Sebelum menetap di daerah yang dinamakan Kabupaten Siak, Kesultanan Siak Sri
Indrapura beberapa kali mengalami perpindahan pusat kekuasaan. Ketika pertama kali
didirikan, pusat pemerintahan Kesultanan Siak Sri Indrapura berada di Buantan, kemudian
berpindah ke Mempura, Senapelan Pekanbaru, kembali lagi ke Mempura, dan ketika
diperintah oleh Tengku Said Ismail bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil
Syarifuddin (1827-1864) pusat pemerintahan dipindahkan ke kota Siak Sri Indrapura dan
akhirnya menetap di sana sampai pemerintahan Sultan Siak Sri Indrapura yang terakhir,
Tengku (Putera) Said Kasim II bergelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul Jalil
Syarifuddin (1908-1946)7 dan menetap disana sampai akhirnya masa pemerintahan Sultan
Siak terakhir.8

6 Norm a Dewi et .al.. Selintas Sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura dan
Peninggalannya. Bapeda Riau 2000, p. 5 Baca juga Luthfi, A., Hukum dan
perubahan struktur kekuasaan: pelaksanaan hukum Islam dalam Kesultanan Melayu Siak, 1901-1942,
Susqa Press, 1991, p. 52

7 Ibid., p. 6
8 Yuli S. Setyowati (ed.).. Sejarah Riau. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa,
2004, p. 207
4

Pada masa Sultan ke-11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin
yang memerintah pada tahun 1889 / 1908, dibangunlah istana yang megah terletak di kota
Siak dan istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah yang dibangun pada tahun 1889.
Dan oleh bangsa Eropa menyebutnya sebagai The Sun Palace From East (Istana Matahari
Timur).9
Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini Siak mengalami kemajuan
terutama dibidang ekonomi. Dan masa itu pula beliau berkesempatan melawat ke Eropa yaitu
Jerman dan Belanda. Setelah wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan
sedang bersekolah di Batavia yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada tahun 1915
beliau ditabalkan sebagai Sultan Siak ke-12 dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil
Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim
II). Sultan As-Sayyidi Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin II atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di
Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Dia
dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim.
Riau di bawah Kesultanan Siak pada masa kepemimpinan Sultan Syarif Kasim Sani
(Sani=dua). Ketika Jepang kalah, ikatan Hindia Belanda lepas, Sultan Syarif Kashim
menghadapi 3 pilihan: berdiri sendiri sperti dulu, bergabung dg Belanda atau bergabung dg
Republik Sultan sebagai sosok yg wara' dan keramat melakukan istikharah. Saya kuat
menduga Allah memberitahu Sultan Syarif Kasim agar bergabung dg Republik karena
kekayaan Riau yg sangat berlimpah dan berlebihan kalau sekedar dikuasai sendiri. Maka
Sultan menentukan pilihan bergabung dg Republik. Mendukung NKRI. BERGABUNG, bukan
menyerahkan diri.
Sultan menurunkan modal 13 juta Golden (3x nilai kompleks gedung Sate, Bandung),
bersama-sama dengan para komisaris lainnya di PT. NKRI (Deli, Asahan Siak, Yogya, Solo,
Kutai kartanegara, Pontianak, Ternate, Tidore, Bali, Sumbawa-daerah-daerah yg termasuk
Zelfbestuuren-berpemerintahan sediri pada jaman pendudukan Belanda di nusantara).
Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau pun
mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke
9 Suwarno, Swardila, et.al.. Siak Sri Indrapura. Jakarta: Amanah-Lontar,

2005, p. 65

Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil
menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden pada tahun 1946.
Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta. Baru pada tahun 1960
kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada tahun 1968
Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung
maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu. Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II
mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik
Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya
disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin. Diawal Pemerintahan Republik Indonesia,
Kabupaten Siak ini merupakan Wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang
kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah
menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura berdasarkan UU No. 53 Tahun
1999.
b. Masa keemasan
Dengan klaim sebagai pewaris Malaka,10 pada tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil
melakukan perluasan wilayah, dimulai dengan memasukan Rokan ke dalam wilayah
Kesultanan Siak, membangun pertahanan armada laut di Bintan. Namun tahun 1728 atas
perintah Raja Sulaiman, Yang Dipertuan Muda bersama pasukan Bugisnya, berhasil menekan
Raja Kecil keluar dari kawasan kepulauan. Raja Sulaiman kemudian menjadikan Bintan
sebagai pusat pemerintahannya dan atas keberhasilan itu Yang Dipertuan Muda diberi
kedudukan di Pulau Penyengat.11
Sementara Raja Kecil terpaksa melepas hegemoninya pada kawasan kepulauan dan
mulai membangun kekuatan baru pada kawasan sepanjang pesisir timur Sumatera. Antara
tahun 1740-1745, Raja Kecil kembali bangkit dan menaklukan beberapa kawasan di
Semenanjung Malaya.[25] Ancaman dari Siak, serta di saat bersamaan Johor juga mulai
tertekan oleh orang-orang Bugis yang meminta balas atas jasa mereka. Hal ini membuat Raja
Sulaiman pada tahun 1746 meminta bantuan Belanda di Malaka dan menjanjikan memberikan
10 Luthfi, A., , Hukum dan perubahan struktur kekuasaan: pelaksanaan hukum Islam dalam
Kesultanan Melayu Siak, 1901-1942, Susqa Press, 1991, p. 91

11 Andaya, L.Y., Op Cit., p. 55.


6

Bengkalis kepada Belanda, kemudian direspon oleh VOC dengan mendirikan gudang pada
kawasan tersebut.
Sepeninggal Raja Kecil tahun 1746, klaim atas Johor memudar, dan pengantinya
Sultan Mahmud fokus kepada penguatan kedudukannya di pesisir timur Sumatera dan daerah
vazal di Kedah dan kawasan pantai timur Semenanjung Malaya. Pada tahun 1761, Sultan Siak
membuat perjanjian ekslusif dengan pihak Belanda, dalam urusan dagang dan hak atas
kedaulatan wilayahnya serta bantuan dalam bidang persenjataan. [28] Walau kemudian muncul
dualisme kepemimpinan di kerajaan ini yang awalnya tanpa ada pertentangan di antara
mereka, Raja Muhammad Ali, yang lebih disukai Belanda, kemudian menjadi Sultan Siak,
sementara sepupunya Raja Ismail, tidak disukai oleh Belanda, muncul sebagai Raja Laut,
menguasai perairan timur Sumatera sampai ke Lautan Cina Selatan, membangun kekuatan di
gugusan Pulau Tujuh.
Sekitar tahun 1767, Raja Ismail, telah menjadi duplikasi dari Raja Kecil, didukung oleh
Orang Laut, terus menunjukan dominasinya di kawasan perairan timur Sumatera, dengan
mulai mengontrol perdagangan timah di Pulau Bangka, kemudian menaklukan Mempawah di
Kalimantan Barat. Sebelumnya Raja Ismail juga turut membantu Terengganu menaklukan
Kelantan, hubungan ini kemudian diperkuat oleh adanya ikatan perkawinan antara Raja Ismail
dengan saudara perempuan Sultan Terengganu. Pengaruh Raja Ismail di kawasan Melayu
sangat signifikan mulai dari Terengganu, Jambi dan Palembang. Laporan Belanda
menyebutkan Palembang telah membayar 3000 ringgit kepada Raja Ismail agar jalur
pelayarannya aman dari gangguan, sementara Hikayat Siak menceritakan tentang kemeriahan
sambutan yang diterima oleh Raja Ismail sewaktu kedatangannya ke Palembang.
Pada abad ke-18 K.esultanan Siak telah menjadi kekuatan yang dominan di pesisir
timur Sumatera. Tahun 1780 Kesultanan Siak menaklukkan daerah Langkat, dan menjadikan
wilayah tersebut dalam pengawasannya, 12 termasuk wilayah Deli dan Serdang. Di bawah
ikatan perjanjian kerjasama dengan VOC, pada tahun 1784 Kesultanan Siak membantu VOC

12 Collins, James T. Bahasa Melayu, Bahasa Dunia - Sejarah Singkat. Jakarta: KITLV bekerja sama
dengan Pusat Bahasa dan Yayasan Obor Indonesia.2005, p. 69

menyerang dan menundukkan Selangor,

sebelumnya mereka telah bekerjasama

memadamkan pemberontakan Raja Haji Fisabilillah di Pulau Penyengat.13


Perdagangan
Kesultanan Siak Sri Inderapura mengambil keuntungan atas pengawasan
perdagangan melalui Selat Melaka serta kemampuan mengendalikan para perompak di
kawasan tersebut. Kemajuan perekonomian Siak terlihat dari catatan Belanda yang
menyebutkan pada tahun 1783, ada sekitar 171 kapal dagang dari Siak menuju Malaka. Siak
menjadi kawasan segitiga perdagangan antara Belanda di Malaka dan Inggris di Pulau
Pinang. Namun disisi lain kejayaan Siak ini memberi kecemburuan pada keturunan Yang
Dipertuan Muda terutama setelah hilangnya kekuasaan mereka pada kawasan Kepulauan
Riau. Sikap ketidaksukaan dan permusuhan terhadap Sultan Siak, terlihat dalam Tuhfat alNafis, di mana dalam deskripsi ceritanya mereka mengambarkan Sultan Siak sebagai orang
yang rakus akan kekayaan dunia.
Peranan Sungai Siak sebagai bagian kawasan inti dari kerajaan ini berpengaruh besar
terhadap kemajuan perekonomian Siak Sri Inderapura. Sungai Siak merupakan kawasan
pengumpulan berbagai produk perdagangan, mulai dari kapur barus, benzoar bahkan timah
dan emas. Sementara pada saat bersamaan masyarakat Siak juga telah menjadi eksportir
kayu yang utama di Selat Malaka serta salah satu kawasan industri kayu terutama untuk
pembuatan kapal maupun untuk bangunan. Dengan cadangan kayu yang berlimpah, pada
tahun 1775 Belanda mengizinkan kapal-kapal Siak mendapat akses langsung kepada sumber
beras dan garam di Pulau Jawa, tanpa harus membayar kompensasi kepada VOC namun
tentu dengan syarat Belanda juga diberikan akses langsung kepada sumber kayu di Siak,
yang mereka sebut sebagai kawasan hutan hujan yang tidak berujung.
Dominasi Kesultanan Siak terhadap wilayah pesisir pantai timur Sumatera dan
Semenanjung Malaya cukup signifikan, mereka mampu mengantikan pengaruh Johor
sebelumnya atas penguasaan jalur perdagangan, selain itu Kesultanan Siak juga muncul
sebagai pemegang kunci ke dataran tinggi Minangkabau, melalui tiga sungai utama yaitu Siak,
Kampar, dan Kuantan, yang sebelumnya telah menjadi kunci bagi kejayaan Malaka. Namun
13 Barnard, T.P., Texts, Raja Ismail and Violence: Siak and the Transformation of Malay Identity in
theEighteenth Century, Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 32, No. 3 2001, p. 331-342.

demikian kemajuan perekonomian Siak memudar seiring dengan munculnya gejolak di


pedalaman Minangkabau yang dikenal dengan Perang Padri.14
c. Kemunduran
Ekspansi kolonialisasi Belanda ke kawasan timur Pulau Sumatera tidak mampu
dihadang oleh Kesultanan Siak, dimulai dengan lepasnya Kesultanan Deli, Kesultanan Asahan
dan Kesultanan Langkat, kemudian muncul Inderagiri sebagai kawasan mandiri. Begitu juga di
Johor kembali didudukan seorang sultan dari keturunan Tumenggung Johor, yang berada
dalam perlindungan Inggris di Singapura.[38][39] Sementara Belanda memulihkan kedudukan
Yang Dipertuan Muda di Pulau Penyengat dan kemudian mendirikan Kesultanan Lingga di
Pulau Lingga. Selain itu Belanda juga mempersempit wilayah kedaulatan Siak, dengan
mendirikan Residentie Riouw pemerintahan Hindia-Belanda yang berkedudukan di Tanjung
Pinang.
Penguasaan Inggris atas Selat Melaka, mendorong Sultan Siak pada tahun 1840
untuk menerima tawaran perjanjian baru mengganti perjanjian yang telah mereka buat
sebelumnya pada tahun 1819. Perjanjian ini menjadikan wilayah Kesultanan Siak semakin
kecil dan terjepit antara wilayah kerajaan kecil lainnya yang mendapat perlindungan dari
Inggris. Demikian juga pihak Belanda menjadikan kawasan Siak sebagai salah satu bagian
dari pemerintahan Hindia-Belanda, setelah memaksa Sultan Siak menandatangani perjanjian
pada 1 Februari 1858. Dari perjanjian tersebut Siak Sri Inderapura kehilangan kedaulatannya,
kemudian dalam setiap pengangkatan raja Siak mesti mendapat persetujuan dari Belanda.
Selanjutnya dalam pengawasan wilayah, Belanda mendirikan pos militer di Bengkalis serta
melarang Sultan Siak membuat perjanjian dengan pihak asing tanpa persetujuan Residen
Riau pemerintahan Hindia-Belanda.15
Perubahan peta politik atas penguasaan jalur Selat Malaka, kemudian adanya
pertikaian internal Siak dan persaingan dengan Inggris dan Belanda melemahkan pengaruh
hegemoni Kesultanan Siak atas wilayah-wilayah yang pernah dikuasainya. Tarik ulur
kepentingan kekuatan asing terlihat pada Perjanjian Sumatera antara pihak Inggris dan
14 Reid, A., Asal mula konflik Aceh: dari perebutan pantai Timur Sumatra hingga akhir kerajaan Aceh
abad ke-19, Yayasan Obor Indonesia, 2005, p 115

15 Ibid, p 220
9

Belanda, menjadikan Siak berada pada posisi yang dilematis, berada dalam posisi tawar yang
lemah. Kemudian berdasarkan perjanjian pada 26 Juli 1873, pemerintah Hindia-Belanda
memaksa Sultan Siak, untuk menyerahkan wilayah Bengkalis kepada Residen Riau. Namun di
tengah tekanan tersebut Kesultanan Siak masih mampu tetap bertahan sampai kemerdekaan
Indonesia, walau pada masa pendudukan tentara Jepang sebagian besar kekuatan militer
Kesultanan Siak sudah tidak berarti lagi. 16
d. Struktur pemerintahan
Pengaruh Kerajaan Pagaruyung, juga mewarnai sistem pemerintahan pada
Kesultanan Siak, setelah Sultan Siak, terdapat Dewan Menteri yang mirip dengan kedudukan
Basa Ampek Balai di Minangkabau. Dewan Menteri ini memiliki kekuasaan untuk memilih dan
mengangkat Sultan Siak, sama dengan Undang Yang Ampat di Negeri Sembilan. Dewan
Menteri bersama dengan Sultan menetapkan undang-undang serta peraturan bagi
masyarakatnya. Dewan menteri ini terdiri dari:
1. DatukTanah Datar dengan gelar Sri Paduka Raja

2. Datuk Lima Puluh dengan gelar Sri Bejuangsa


3. Datuk Pesisir dengan gelar Sri Dewa Raja
4. Datuk Kampar dengan gelar Maharaja Sri Wangsa
Di samping keempat datuk tersebut ada pula Datuk Bintara Kanan dan Kiri yang
mengatur tata pemerintahan, hukum dan undang-undang kesultanan; Datuk Laksmana untuk
mengatur laut; dan Panglima untuk kawasan darat . 17
Di luar pusat pemerintahan, Kesultanan Siak Sri Indrapura juga mengatur sistem
pemerintahan di daerah. Sebagaimana tercatat di buku Sejarah Piau (2004), pemerintahan di
daerah-daerah dipegang oleh Kepala Suku yang bergelar Penghulu, Orang Kaya, dan Batin.
16 Sejarah daerah Riau, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Pusat Penelitian
Sejarah dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977, p. 125

17 Norma, Dewi, Op., Cit., p. 6-7


10

Ketiga jabatan tersebut sama kedudukannya, hanya saja Penghulu tidak mempunyai hutan
tanah. Dalam menjalankan tugasnya Penghulu dibantu oleh:
1. Sangko Penghulu (wakil Penghulu)
2. Malim Penghulu (pembantu urusan kepercayaan/agama)
3. Lelo Penghulu (pembantu urusan adat sekaligus berfungsi sebagai Hulubalang).
Batin dan Orang Kaya adalah orang yang mengepalai suku ash. Jabatan ini didapat
secara turun temu run. Batin mempunyai hutan tanah (ulayat). Dalam menjahankan tugasnya,
Batin dibantu oheh:
1. Tongkat (pembantu Batin dalam urusan yang menyangkut kewajiban-kewajiban
terhadap sultan)
2. Monti (pembantu Batin urusan adat)
3. Antan-antan (pembantu Batin yang sewaktu-waktu dapat mewakili Tongkat atau
Monti jika keduanya berhalangan).
Batin dan Orang Kaya adalah orang yang mengepalai suku ash. Jabatan ni didapat
secara turun temurun. Batin mempunyai hutan tanah (ulayat). Dalam menjalankan tugasnya,
Batin dibantu oleh:
1. Tongkat (pembantu Batin dalam urusan yang menyangkut kewajiban-kewajiban
terhadap sultan)
2. Monti (pembantu Batin urusan adat)
3. Antan-antan (pembantu Batin yang sewaktu-waktu dapat mewakili Tongkat atau
Monti jika keduanya berhalangan).

11

Pada masa pemerintahan Raja Kecil, terdapat beberapa perbatinan di sepanjang


ahiran Sungai Siak, antara lain: Perbatinan Gassib, Senapelan, Sejaleh, dan Perawang.
Perbatinan sebelah selatan Sungai Siak antara lain: Perbatinan Sakai dan Petalangan.
Sedangkan perbatinan di pulau-pulau, antara lain : Perbatinan Tebing Tnggi, Senggoro,
Merbau, dan Rangsang. Sementara itu, daerah ash yang kepala sukunya disebut penghulu
antara lain: Siak Kecil, Siak Besar, Betung, dan Rempah 18Model sistem pemerintahan yang
dirancang oleh Raja Kecil bertahan hingga Kesultanan Siak Sri Indrapura diperintah oleh
Sultan Assyaidis Syarif Hasim Abdul Jalil Syarifuddin (1889-1908). Sultan Assyaidis Syarif
Hasim Abdul Jahil Syarifuddin merubah sistem pemerintahan dan meletakkan landasan sistem
pemerintahan
Seiring dengan perkembangan zaman, Siak Sri Inderapura juga melakukan
pembenahan sistem birokrasi pemerintahannya. Hal ini tidak lepas dari pengaruh model
birokrasi pemerintahan yang berlaku di Eropa maupun yang diterapkan pada kawasan kolonial
Belanda atau Inggris. Modernisasi sistem penyelenggaraan pemerintahan Siak terlihat pada
naskah Ingat Jabatan yang diterbitkan tahun 1897. Naskah ini terdiri dari 33 halaman yang
panjang serta ditulis dengan Abjad Jawi. Ingat Jabatan merupakan dokumen resmi Siak Sri
Inderapura yang dicetak di Singapura, berisi rincian tanggung jawab dari berbagai posisi atau
jabatan di pemerintahan mulai dari pejabat istana, wakil kerajaan di daerah jajahan,
pengadilan maupun polisi. Pada bagian akhir dari setiap uraian tugas para birokrat tersebut
ditutup dengan peringatan serta perintah untuk tidak khianat kepada sultan dan nagari.19
Nama-nama raja Siak
1. Raja Kecil yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah (1723-1746). Raja Kecil
adalah pendiri Kesultanan Siak Sri Indrapura setelah sebelumnya merebut
Kesultanan Johor pada 1717.
2. Tengku Buang Asmara bergelar Sultan Muhammad Abdul Jalil Jalaluddin Muzafar
Syah (1746-1765). Pada masa pemerintahannya nama Siak Sri Indrapura resmi
18 Setyowati, Yuli s., Log., Cit.
19 Ibid
12

digunakan.Tengku Buang Asmara bergelar Sultan Muhammad Abdul Jalil


Jalaluddin Muzafar Syah (1746-1765). Pada masa pemerintahannya nama Siak
Sri Indrapura resmi digunakan.
3. Tengku Ismail bergelar Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah (1765-1767).
Beliau juga dikenal dengan sebutan Sultan Kudung karena tangannya kudung
dalam peperangan melawan Belanda pada 1766.
4. Tengku Alamuddin bergelar Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1766-1780).
5. Tengku Muhammad Ah Panglima Besar bergelar Sultan Muhammad Ah Abdul Jalil
Muazzam Syah (1780-1782). Pada masa pemerintahannya Pekanbaru
berkembang menjadi pusat perdagangan.
6. Tengku Sulung/Yahya bergelar Sultan Yahya Abdul Jalil Muzaffar Syah (17821784).
7. Tengku Said Ah bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ah Abdul Jalil Baalawi (17841810). Beliau adalah putra dan Tengku Embung Badariah dan Said Syarif Usman,
seorang bangsawan Arab, sehingga beliau merupakan Sultan Siak pertama
berdarah Arab. Pada masa pemerintahannya Siak memiliki 12 daerah jajahan, di
antaranya: Kotapinang Pagarawan, Batubara Bedagai, Kualuh, Panai, Bilah,
Asahan, Deli, Serdang, Langkat,dan Temiang.
8. Tengku Said Ibrahim berQelar Sultan Assyaidis Syarif Ibrahim Abdul Jahil
Khahiluddin (1810-1827).
9. Tengku Said Isrnail bergelar Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Syarifuddin
(1827-1864). Pada masa pemerintahannya Traktat Siak ditandatangani pada 1
Februari 1858.

13

10. Tengku (Panglima Besar) Said Kasim I bergelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim
Abdul Jalil Syarifuddin (1864-1889). Beliau berhasil mendirikan Masjid
Syahabuddin, Qubbah Kasyimiah, membuat mahkota kesultanan, memuhai
modernisasi pendidikan, pemerintahan, dan ekonomi.
11. Tengku Putera (Ngah) Said Hasyim bergelar Sultan Assyaidis Syarif Hasim Abdul
Jahil Syarifuddin (1889-1908). Beliau meneruskan modernisasi dalam pendidikan,
meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memperkaya kesultanan dengan eksport
hasil bumi Siak. Behiau juga membangun Balai Kerapatan Tnggi (Balai Rung
Sari) dan Istana Asserayah Hasyimiah yang diisi dengan perhengkapan Eropa (di
antaranya tempat cerutu yang terbuat dan perak, tempat gula yang khusus
dipesan dan Limoges, Perancis, dan alat musik Gramafon dan Komet buatan
Jerman), membangun percetakan, dan menyusun Al Qawaid atau Babul Qawaid
(konstitusi tertulis Kesultanan Siak Sri Indrapura). Babu! Qawaid diartikan sebagai
Pintu Segaha Pegangan (Norma Dewi et.al., 1999/2000:13). 20
12. Tengku (Putera) Said Kasim H bergelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Sani Abdul
Jalil Syarifuddin (1908-1946). Sultan Kasim II adalah sultan terakhir Kesultanan
Siak Sri Indrapura. Pada 25 April 1968 beliau ditetapkan sebagai Warga Utama
Daerah Riau, dan pada 6 November 1998 beliau mendapat anugerah gelar
Pahlawan Nasional Republik Indonesia. 21
Perkembangan selanjutnya, Siak Sri Inderapura juga menerbitkan salah satu kitab
hukum atau undang-undang, dikenal dengan nama Bab al-Qawa'id. Kitab ini dicetak di Siak
tahun 1901, menguraikan hukum yang dikenakan kepada masyarakat Melayu dan masyarakat
lain yang terlibat perkara dengan masyarakat Melayu. Namun tidak mengikat orang Melayu
yang bekerja dengan pihak pemerintah Hindia-Belanda, di mana jika terjadi permasalahan
akan diselesaikan secara bilateral antara Sultan Siak dengan pemerintah Hindia-Belanda.

20 Ibid, p. 13
21 Adila, Suwarno, Op., Cit., p 83 dan 86
14

Dalam pelaksanaan masalah pengadilan umum di Kesultanan Siak diselesaikan


melalui Balai Kerapatan Tinggi yang dipimpin oleh Sultan Siak, Dewan Menteri dan dibantu
oleh Kadi Siak serta Controleur Siak sebagai anggota. Selanjutnya beberapa nama jabatan
lainnya dalam pemerintahan Siak antara lain Pangiran Wira Negara, Biduanda Pahlawan,
Biduanda Perkasa, Opas Polisi. Kemudian terdapat juga warga dalam yang bertanggung
jawab terhadap harta-harta disebut dengan Kerukuan Setia Raja, serta Bendarhari Sriwa Raja
yang bertanggung jawab terhadap pusaka kerajaan. [51]
Dalam administrasi pemerintahannya Kesultanan Siak membagi kawasannya atas
hulu dan hilir, masing-masing terdiri dari beberapa kawasan dalam bentuk distrik[48] yang
dipimpin oleh seseorang yang bergelar Datuk atau Tuanku atau Yang Dipertuan dan
bertanggungjawab kepada Sultan Siak yang juga bergelar Yang Dipertuan Besar. Pengaruh
Islam dan keturunan Arab mewarnai Kesultanan Siak,[53] salah satunya keturunan Al-Jufri yang
bergelar Bendahara Patapahan.[54]
Pada kawasan tertentu di Siak Sri Inderapura, ditunjuk Kepala Suku yang bergelar
Penghulu, dibantu oleh Sangko Penghulu, Malim Penghulu serta Lelo Penghulu. Sementara
terdapat juga istilah Batin, dengan kedudukan yang sama dengan Penghulu, namun memiliki
kelebihan hak atas hasil hutan yang tidak dimiliki oleh Penghulu. Batin ini juga dibantu oleh
Tongkat, Monti dan Antan-antan. Istilah Orang Kaya juga digunakan untuk jabatan tertentu
dalam Kesultanan Siak, sama halnya dengan pengertian Rangkayo atau Urang Kayo di
Minangkabau terutama pada kawasan pesisir. [14][50][55]
Yang Dipertuan Besar Siak adalah gelar dari penguasa Siak Sri Inderapura, selain
gelar Sultan Siak. Penguasa Siak ini dipilih oleh sebuah dewan menteri yang terdiri dari 4
orang datuk yaitu Datuk Tanah Datar, Datuk Limapuluh, Datuk Pesisir dan Datuk Kampar.
2. Sistim Peradilan Masa Kerajaan Siak
a. Penyusunan Babul Al-Qawaid
Kehidupan modern di Kesultanan Siak Sri Indrapura berlanjut ketika Tengku Putera (Ngah)
Said Hasyim bergelar Sultan Assyaidis Syarif Hasirn Abdul Jalil Syarifuddin naik tahta pada
1889-1908. Seperti tertulis didalam buku Siak Sri Indrapura (2005), beliau meneruskan
modernisasi dalam pendidikan, meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memperkaya
kesultanan dengan ekspoit hasil bumi Siak. Beliaulah yang membangun Balai Kerapatan
15

Tnggi (Balai Rung Sari) dan Istana Asserayah Hasyimiah yang diisi dengan perlengkapan
Eropa (di antaranya tempat cerutu yang terbuat dan perak, tempat gula yang khusus dipesan
dan Limoges, Perancis, dan alat musik Gramafon dan Komet buatan Jerman), membangun
percetakan, dan menyusun AI-Qawaid atau Babul Qawaid (konstitusi tertulis Kesultanan Siak
Sri Indrapura) tahun 1901 walaupun pada saat itu pemerintahan penjajahan Belanda
berkuasa, namun pemerintahan kerajaan tetap berjalan dan berkuasa. Sejak abad ke 13 M
di kerajaan Siak ini telah memiliki Pengadilan Agama sendiri dengan dilengkapi Buku Hukum
(kodifikasi) yang berjudul babul qawaid. Dalam buku ini disamping mengatur tentang
kompetensi dan kedudukan Hakim-Hakim juga mengatur tentang komposisi kelembagaan dan
mekanisme kerja peradilan itu sendiri.22
Babul Qawaid merupakan kitab undang-undang di Kesultanan Siak Sri Indrapura. Kitab
setebal 90 halaman ini menguraikan tentang hukum yang dikenakan kepada orang Melayu
maupun bangsa lain yang berhubungan dengan orang Melayu. Di dalam buku Siak Sri
Indrapura (2005) dijelaskan bahwa bagian pertama Babu! Qawaid merupakan bagian
pembukaan yang terdiri dan dua pasal dan menjelaskan tentang motivasi, atar belakang,
nama dan naskah ini, dan menyebutkan bahwa isinya tidak beriaku sebagai hokum bagi
penduduk bukan Melayu atau Melayu yang menjadi pegawai Pemerintah Hindia Belanda,
kecuali yang terhibat perkara dengan orang Melayu. Pengadilan untuk kasus ini akan
mehibatkan pejabat Kesultanan Siak Sri Indrapura dan pejabat Pemerintah Hindia Belanda. 23
Pengadilan Tinggi berada di ibukota Kerajaan yang disebut Kerapatan Qodhi yang diketuai
oleh Sultan, sedangkan hakim Anggota adalah datuk-datuk dari setiap suku, Qodhi dan
Controleur yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Datuk Sri Pekermaja (Kepala Suku Tanah Datar)


Datuk Sri Bijuangsa (Kepala Suku Lima Puluh)
Datuk Sri Dewaraja (Kepala Suku Pesisir)
Datuk Amir Pahlawan (Kepala Suku Kampar)
Qodhi
Controleur

22 Lutfi, Amir, Op., Cit., p. 340


23 Suwarno, Adila, Op., Cit., p 88
16

Balai Kerapatan Qodhi diberi nama Balairung, yakni tempat diselenggarakannya


aktifitas peradilan, yang berkenaan dengan soal agama seperti Muamalat (perdata) maupun
Jinayat (pidana) berupa Jarimah seperti Hudud, Qisas Diat dan Tazir . 24
Pada bagian utama Babul Qawaid terdiri dan 22 bab yang mencakup 154 pasal. Bab
pertama merinci pembagian negeri ke dalam 10 provinsi dan batas-batasnya. Selanjutnya
tertulis pula bab-bab yang mengatur, antara lain:
1. Gelar yang Berkuasa di Kerapatan Tnggi,
2. Besaran Hukuman yang Akan Disidang di Kerapatan Tinggi,
3. Perkara yang Akan Disidang di Hadapan Hakim Polisi,
4. Tugas Hakim Polisi Kesultanan dan Provinsi Jajahan,
5. Nama-nama Suku.25
Selain Babul Qawaid, perubahan sistem pemeritahan juga terlihat pada lembaga
pemerintahan di
Kesultanan Siak Sri Indrapura. Di dalam buku Sefintas Sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura
dan Peninggalannya (1999/2000), disebutkan bahwa di dalam menjalankan pemerintahan,
sultan dibantu oleh para pejabat kesultanan yang memimpin lembaga, baik di pusat maupun di
daerah yang terdiri dari:
1. Sultan merupakan kepala pemerintahan, pemegang kedaulatan dan administratur
tertinggi.
2. Dewan Menteri (Dewan Kesultanan) yang bertugas memilih dan mengangkat sultan.
Dewan ini bersama dengan sultan membuat undang-undang dan peraturan.
24 Ibid
25 Ibid
17

3. Hakirn Kerapatan Tingqi yang bertugas dalam pelaksanaan pengadilan umum.


a. Sedang Balai Kerapatan Tinggi adalah tempat untuk menyelesaikan kasuskasus yang terjadi pada rakyat Siak. Kepala dan
b. Kerapatan Tinggi adalah sultan dan didampingi oleh para Datuk. Kadi negeri
Siak dan Controleur Siak berfungsi sebagai anggota.
4.

Hakirn Polisi merupakan kepala pemerintahan di tingkat provinsi sebagai wakil sultan.
Wilayah Kesultanan Siak Sri Indrapura terdiri dan 10 provinsi. Yakni:
a. Propinsi Siak bergelar Tengku Besar
b. Propinsi Tebing Tinggi bergelar Tengku Temenggung Muda
c. Propinsi Merbau Bergelar Orang Kaya Setia Indera
d. Propinsi Bukit Batu Bergelar datuk Laksamana Setia Diraja
e. Propinsi Bangko bergelar Datuk Dewa Pahlawan
f.

Propinsi Kubu bergelar Datuk Jaya Perkasa

g. Propinsi Pekanbaru bergelar datuk Syahbandar


h. Propinsi Tapung Kiri bergelar Syarif Bendahara

5.

i.

Propinsi Tapung Kanan bergelar Datuk Bendahara

j.

2 Komisaris Negara Pangeran wira Negara dan Pangeran Wira Kesuma

Hakim syariah yang terbagi menjadi dua, pertama berkedudukan di Negeri Siak Sri
Indrapura bergelar Kadi Siak. Tugas dan Kadi Siak menangani pengadilan tentang
harta pusaka atau warisan dan masalah hukum adat. Kedua berkedudukan di daerah

18

provinsi yang bergelar Imam Jajahan. Tugas Imam jajahan adalah membantu Kadi
Siak.
6. Hakirn Kepala Suku/Hinduk merupakan pemerintahan yang terendah menurut hierarki
Kesultanan Siak Sri Indrapura. Hakim Kepala Suku/Hinduk bertu gas melaksanakan
pemerintahan dan men gatur kehidu pan bermasyarakat, beragama, dan
berkesultanan pada sukunya masing-masing. Hakim Kepala Suku/Hinduk tunduk
pada Hakim Polis. Provins.i 26
Namun pada 15 Juni 1915 atas tekanan kerajaan Belanda, kekuasaan kerajaan Siak
menjadi sangat dibatasi,27 para hakim propinsi kekuasaannya dipersempit bahkan ada yang
hilang. Berdasarkan keputusan yang diatur oleh Belanda wilayah Siak dibagi dalam bentuk
Distrik yang dipecah lagi menjadi Oder Distrikyaitu:
1. Distrik Siak yaitu Siak Sri Inderapura, Mempura di Buatan, Mandau dan Sungai
Pakning
2. Distrik Selat Panjang di Tebing Tinggi selat Panjang dan Merbau di Belitung
3. Distrik Bukit Batu dan distrik Dumai di Batu Panjang
4. Distrik Bagan Siapi-Api yaitu Bangko di Bagan Siapi-Api, Tanah Putih dan Kubu
5. Distrik Pekanbaru di pekanbaru, Tapung Kiri di Petapahan dan Tapung Kanan di
Sikijang28
Pembagian wilayah Distrik ini seolah-olah bertujuan untuk memudahkan Sultan dalam
mengatur Negeri, akan tetapi sebenarnya bertujuan untuk menghambat gerakan Sultan, sebab

26 Dewi, Norma, Op., Cit., p. 7-8


27 Lutfi, Amir, Op., Cit., p 295-296
28 Effendy, Tenas, Lintasan Sejarah Kerajaan Siak, Pekanbaru, BPKD,
1972, p. 49-50
19

pengangkatan kepala Distrik tidak lagi merupakan kekuasaan penuh Sultan namun harus
mendapat persetujuan pemerintah Belanda. 29
Rngkasan Babul AlQawaid
BAB I
Menentukan watas dan perhinggaan bagian provinsi masing-masing.
Pasal Satu
Negeri Siak Sri Indrapura
Pasal Dua
Negeri Tebing Tinggi
Pasal Tiga
Negeri Merbau
Pasal Empat
Negeri Bukit Batu
Pasal Lima
Negeri Bangko
Pasal Enam
Negeri Tanah Putih
Pasal Tujuh
Negeri Kubu
Pasal Delapan
Negeri Pekanbaru
Pasal Sembilan
Negeri Tapung Kiri
Pasal Sepuluh
Negeri Tapung Kanan
BAB II
Nama gelar yang berkuasa di Kerapatan Tinggi dan menjadi Hakim Polisi pada propinsi
masing-masing.
Pasal Satu
29 Lutfi, Amir, Log., Cit.
20

Hakim Kerapatan tinggi, polisi, Hajim Syariah, Hakim Kepala Suku Hinduk di Siak
Pasal Dua
Tengku Tumenggung di Tebing Tinggi
Pasal Tiga
Orang Kaya Setia Indra di Merbau
Pasal Empat
Datuk Laksamana di Bukit Batu
Pasal Lima
Datuk Dewa Pahlawan di Bangko
Pasal Enam
Datuk Setia Maharaja di Tanah Putih
Pasal Tujuh
Datuk Jaya Perkasa / Datuk Raha Indra Setia di Kubu
Pasal Delapan
Datuk Bandar di Pekanbaru
Pasal Sembilan
Syarif Bendahara di tapung Kiri
Pasal Sepuluh
Datuk Bendahara Muda Sekijang di Tapung Kanan
BAB III
Perkara dan bicara yang wajib dibawa ke hadapan Majelis Kerapatan Tinggi yang
bersemayam di dalam Negeri Siak Sri Indrapura.
Pasal Satu
Membunuh disengaja dengan senjata tajam dan sejenisnya
Pasal Dua
Membunuh orang disengaja dengan racun dan sejenisnya
Pasal Tiga
Rupa-rupa pembunuhan lainnya dengan senjata
Pasal Empat
Terkena luka besar, merusak urat besar, sampai merusakkan anggota badan jadi cacat
21

Pasal Lima
Mencuri, maling, samun, dan segala tipu daya
Pasal Enam
Salah bakar
Pasal Tujuh
Celaka durhaka
Pasal Delapan
Angkara Murka
Pasal Sembilan
Hutang piutang
BAB IV
Perkara dan bicara yang wajib dibawa ke hadapan hakim polisi yang bersidang di dalam
Negeri Siak Sri Indrapura.
Pasal Satu
Menyuruh kerja paksa.
Pasal Dua
Menentukan denda.
Pasal Tiga
Memutuskan perkara hutang piutang.
Pasal Empat
Menyelesaikan perkara dusun, kebun dan kampung.
BAB V
Perkara dan bicara yang dibicarakan di hadapan Hakim Polisi Jajahan Negeri Siak Sri
Indrapura
Pasal Satu
Menghukum kerja paksa, setinggi-tingginya 3 bulan.
Pasal Dua
Bila hukuman kerja paksa lebih satu bulan.
Pasal Tiga
Menentukan denda maka, setinggi-tingginya 60 ringgit burung.

22

Pasal Empat
Memutuskan perkara hutang-piutang, setinggi-tingginya 150 ringgit burung.
Pasal Lima
Menyelesaikan perkara harta pusaka, setinggi-tingginya 300 ringgit burung.
Pasal Enam
Menyelesaikan perkara dusun, kebun dan kampung, setinggi-tingginya 300 ringgit burung.
Pasal Tujuh
Yang wajib dibicarakan bahagian propinsi, dan perkara yang lebih besar wajib dikirimkan pada
hakim Polisi Negeri Siak Sri Indrapura
BAB VI
Musyawarah hakim-hakim polisi
BAB VII
Nama kepala suku hinduk-hinduk
BAB VIII
Kuasa kepala suku
BAB IX
Kuasa bagi bendahara
BAB X
Kuasa Qadi Negeri Siak
BAB XI
Imam jajahan
BAB XII
Kuasa kepala sekalian imam jajahan
BAB XIII
Ketinggian Sri Paduka Sultan atas hukum polisi dan kepala suku hinduk-hinduk
BAB XIV
Pekerjaan dan tanggungan hakim-hakim polisi bagian Negeri Siak Sri Indrapura dan hakim
polisi bahagian propinsi jajahan.
BAB XV
Kewajiban bagi pangeran-pangeran.
BAB XVI
Pekerjaan hoof jaksa.
BAB XVII
Tambahan pekerjaan baduada perkasa.
BAB XVIII
Aturan menjual kebun, dusun, dalam negeri Siak Sri Indrapura serta jajahannya taklukanya
BAB XIX
Menentukan nama suku
BAB XX
Aturan kepala-kepala mengerah bila beroleh perintah dari Sri Paduka Sultan menyuruh berat
bekerja
23

BAB XXI
Menyatakan bahagian-bahagian denda dan sapu meja yang dapat dari tempat keadilan yang
dilakukan oleh Kerapatan Tinggi dan Hakim Polisi Negeri Siak dan Hakim Polisi Jajahan.

BAB III
KESIMPULAN
Dari hasil pemaparan diatas dapat diambil beberapa kesimpulan tentang kerajaan
Siak dan sistim Peradilannya yaitu:
24

1. Kerajaan siak yang menganut sistim Monarkhi Demokrasi ini didirikan oleh Raja
Kecik anak keturunan anak dari Sultan Mahmud Shah sultan Kesultanan Johor
yang dibunuh dan dilarikan ke Pagaruyung bersama ibundanya Encik Apong. Raja
kecil yang bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723. Kerajaan ini tumbuh
sampai tahun 1946 atau berkuasa sekitar 223 tahun. Berakhir karena Sultan
Syarif Kasim II menyatakan bergabung dengan NKRI. Islam dijadikan agama
resmi kerajaan.
2. Sistim peradilan yang digunakan pada masa kerajaan Siak bersumber pada Kitab
Babul Qawaid yang disusun oleh Tengku Putera (Ngah) Said Hasyim bergelar Sultan
Assyaidis Syarif Hasirn Abdul Jalil Syarifuddin naik tahta pada 1889-1908. Buku ini
disusun tahun 1901 dan dijadikan sumber hukum dalam pelaksanaan pemerintahan dan
pembagian kekuasaan serta sistim peradilan perdata maupun pidana pada masa itu.
Landasan hokum yang digunakan pada masa itu adalah bercorakkan hokum Islam. Akan
tetapi jika menyangkut tentang masalah yang terjadi antara masyarakat dengan Belanda
ataupun orang-orang yang bekerja dengan Belanda maka permasalahn Hukum
diputuskan secara bersama oleh kedu belah pihak.

Demikian penulisan ini semoga bermanfaat dan dapat menambah khazanah


pengetahuan kita tentang keberadaa Kerajaan Siak dan system Peradilannya. Masukan dan
saran diperlukan untuk penyempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

25

1. Amir Lutfi, Unsur Islam Dalam Sistem Peradilan Kesultanan Siak Sri
Inderapura 1915-1945, Pekanbaru, IAIN Susqa Press.
2. Amir Luthfi., Hukum dan perubahan struktur kekuasaan: pelaksanaan
hukum Islam dalam Kesultanan Melayu Siak, 1901-1942, Susqa Press.
3. A. Reid, Asal mula konflik Aceh: dari perebutan pantai Timur Sumatra
hingga akhir kerajaan Aceh abad ke-19, Yayasan Obor Indonesia, 2005.
4. Collins, James T.

Bahasa Melayu, Bahasa Dunia - Sejarah

Singkat. Jakarta: KITLV bekerja sama dengan Pusat Bahasa dan Yayasan
Obor Indonesia.2005.
5. DEPDIKBUD. Sejarah daerah Riau, Proyek Penelitian dan Pencatatan
Kebudayaan Daerah, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, 1977.
6. J. Cave, R. Nicholl, P. L. Thomas., Tenas Effendy, , Syair Perang Siak: a
court poem presenting the state policy of a Minangkabau Malay royal
family in exile, Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society
7. L. Y. Andaya., Raja Kechil and the Minangkabau conquest of Johor in
1718, JMBRAS 1972.
8. Norma Dewi et .al.. Selintas Sejarah Kerajaan Siak Sri Indrapura dan
Peninggalannya. Bapeda Riau 2000.
9. S. M. Samin, Sultan Syarif Kasim II: pahlawan nasional dari Riau, Yayasan
Pusaka Riau 2002.
10. Swardila Suwarno, et.al.. Siak Sri Indrapura. Jakarta: Amanah-Lontar,
2005.
11. T. P. Barnard, Multiple centres of authority: society and environment in Siak
and eastern Sumatra, 1674-1827, KITLV Press.
12. T. P. Barnard, Texts, Raja Ismail and Violence: Siak and the Transformation
of Malay Identity in theEighteenth Century, Journal of Southeast Asian
Studies, Vol. 32, No. 3 2001.
13. Tenas Effendy, Lintasan Sejarah Kerajaan Siak, Pekanbaru, BPKD, 1972.

26

14. The Edinburgh Gazetteer, Or Geographical Dictionary, A. Constable and


Company, 1822.
15. Yuli S. Setyowati (ed.).. Sejarah Riau. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa,
2004

27

Anda mungkin juga menyukai