Anda di halaman 1dari 5

Higiene perusahaan dan kesehatan kerja industri

a. Pandangan Umum
Tidak terhingga banyaknya jenis indrustri kimia jika dibuat
pengelompokan menurut zat atau bahan kimia yang dipakai sebagai
bahan baku, sebagai produk antara dalam rangkaian proses produksi, dan
sebagai produk akhir suatu industri kimia. Higiene perusahaan dan
kesehatan kerja yang diselenggarakan dalam suatu industri kimia harus
sesuai dengan jenis perusahaan yang bersangkutan. Namun demikian,
terdapat hal-hal yang kurang lebih sama, yaitu fakta bahwa dalam industri
kima digunakan, diolah dan dihasilkan dan terdapat sampah sisa atau
limbah zat atau bahan kimia berbahaya. Dengan demikian potensi bahaya
dan resiko terjadinya keracunan, kecelakaan, kebakaran, peledakan,
penyakit akibat kerja dan efek serta dampak buruk disebabkan zat yang
relatif sangat besar. Bahkan lebih dari itu, potensi dan bahayanya jauh
lebih meningkat lagi dengan kemungkinan terjadinya malapetaka industri
(industrial hazard). Namun begitu teknologi maju yang biasanya
diterapkan padfa industri kimia lengkap dengan dengan teknologi
pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja serta higiene industri
biasanya memberikan jaminan sebaik mungkin untuk mencegah segala
kemungkinan yang tidak dikehendaki.
Industri kimia secara khusus mengelola produksi dan pengusahaan
bahan atau zat kimia. Industri kimia adalah suatu spesialisasi dalam
kegiatan perindustrian yang bahan atau zat kimia yang menjadi subjek
dan objek utamanya. Tidak mengherankan bila industri kimia siap
menangani bahan kimia berbahaya. Berbeda dari kenyataan itu, bahan
kimia berbahaya tidak sedikit bahkan demikian banyak digunakan oleh
industri lainnya yang dalam keselamatan, kesehatan dan higiene tidak
siap sama sekali.
Keamanan menggunakan bahan kimia berbahaya sangat
tergantung dari kemampuan dan keberhasilan penanganan bahan
tersebut dari sudut keselamatan kerja yang telah ada ketentuan yang
mengaturnya, terselenggaranya upaya preventif dalam pengolahan bahan
kimia (chemical handling) dan pelaksanaan pengendalian kadar udara
aman sebagaimana dinyatakan dalam NAB-nya. Penerapan NAB tidak
mungkin berguna jika pengelolaan bahan kimia berbahaya tidak
dijalankan dengan baik karena terjadinya keracunan tidak hanya oleh
penghirupan udara tercemar bahan beracun melalui paru melainkan dapat
merupakan akibat kontak kulit, terminum atau tertelan.
b. Zat atau Bahan Kimia Berbahaya
Berbahaya tidaknya suatu zat atau bahan kimia tergantung dari
kriteria bahaya yang ditimbulkannya yaitu keracunan, sifat reaktifnya,
mudah muledak, daya oksidasi dan potensi terjadinya peristiwa
kebakaran. Atas dasar bahan kimia berbahaya dapat diklasifikasikan
menurut bahan kimia beracun, bahan kimia kriteria sangat beracun,
kriteria reaktif, mudah meledak, oksidator, cairan mudah terbakar, cairan
sangat mudah terbakar dan gas yang mudah terbakar.

Berdasarkan potensi keracunan yang diakibatkannya terdapat dua


kelompok yaitu bahan kimia bercaun dan sangat beracun. Sebagai dasar
untuk kriteria untuk kriteria beracun dan sangat beracun digunakan Dosis
Letal (LD50) yaitu dosis yang menyebabkan kematian pada 50% binatang
percobaan. Tergolong bahan kimia beracun bila masuknya bahan ke dalam
tubuh melalui mulut LD50 >25 tetapi <200mg per kgBB atau melalui kulit
>25 tetapi <2mg perliter udara. Tergolong bahan kimia sangat beracun
bila masuknya bahan tersebut ke dalam tubuh melalui mulut LD 50 <25mg
per kgBB atau melalui kulit <25mg per KgBB atau melalui pernafasan
<0.5mg per liter udara. Contoh bahan kimia beracun menurut kriteria
tersebut adalah akrilonitril dengan Nilai Ambang Kuantitas (NAK) 20 ton;
amonia dengan NAK 100 ton; sam flourida dengan NAK 10 ton; asam
klorida dengan NAK 250 ton; asam sianida dengan NAK 20 ton; brom
dengan NAK 10 ton; stilenimin dengan NAK 50 ton; formaldehida dengan
NAK 20 ton; sulfur dioksida dengan NAK 20 ton dan TEL dengan NAK 50
ton.
Sifat racun zat kimia tidak sekedar digambarkan oleh nilai LD 50 atau
LC50, melainkan banyak efek lainnya sebagai indikator berbahaya atau
tidaknya. Suatu indikator penting lain efek buruk zat kimia adalah sifat
karsinogenisitasnya. Zat kimia yang merupakan karsinogen kepada
manusia antara lain 4-aminodifenil, arsen baik unsur mamupun
persenyawaan anorganisnya, benzidin, debu kayu keras, bis-klorometileter, persenyawaan krom heksavalen, uranium, vanadium pentoksida,
vinil krorida dan seng kromat. Lebih banyak lagi zat kimia yang
merupakan karsinogen pada hewan dan dan jauh lebih banyak lagi zat
kimia yang diperkirakan dapat menjadi penyebab kanker pada hewan dan
juga manusia.
Suatu indikator efek buruk lainnya zat kimia adalah kemampuannya
untuk menimbulkan gangguan pada fungsi reproduksi manusia. laki-laki
atau perempuan dapat mengalami ganguan tersebut sekalipun tidak
persis sama gangguan yang dialami oleh kedua jenis kelamin dimaksud.
Zat kimia yang dapat menggangu fungsi reproduksi antara lain air raksa,
arsen dan perseyawaannya, DDT, dioksin, etil-etilen-glikol, etilen oksida,
karbon disulfida, karbon monoksida, PCB, timah hitam dll.
Zat kimia tertentu sangat reaktif bereksi dengan air mengeluarkan
panas dan gas yang mudah terbakar serta bereaksi dengan asam
mengeluarkan panas dan gas yang mudah terbakar atau beracun atau
korosif. Contoh zat yang sangat reaktif asetilen (eten) dengan NAK 50 ton,
amonium nitrat dengan NAK 500 ton, etilen oksida dengan NAK 50 ton,
etilen nitrat dengan NAK 50 ton, hidrogen dengan NAK 10 ton, oksigen
dengan NAK 500 ton.
Perusahaan yang mempergunakan bahan kimia berbahaya yang
tidak melebihi NAK dikategorikan mempunyai potensi bahan menegah
sedangkan perusahaan yang mempergunakan bahan kimia berbahaya
yang melebihi NAK dikategorikan mempunyai potensi bahaya besar
diwajibkan:

1. Mempekerjakan petugas keselamatan dan kesehatan kerja kimia


dengan sistem kerja non-shift sekurang-kurangnya dua orang dari
sistem kerja shift sekurang-kurangnya lima orang
2. Mempekerjakan ahli keselamatan dan kesehatan kerja kimia
sekurangnya satu orang
3. Membuat dokumen pengendalian instalasi potensi bahaya besar
4. Melaporkan setiap perubahan nama dan kualitas bahan kimia, proses
modifikasi instalasi yang digunakan
5. Melakukan pemeriksaan dan pengujian faktor kimia yang ada ditempat
kerja sekurangnya enam bulan sekali
6. Melakukan pemeriksaan dan pengujian instalasi yang ada di tempat
sekurangnya dua tahun sekali dan melakukan pemeriksaan kesehatan
tenaga kerja dua tahun sekali.
Perusahaan yang mempunyai potensi bahaya menengah diwajibkan:
1. Memperkerjakan petugas keselamatan dan kesehatan kerja kimia
dengan sistem kerja non-shift sekurangnya satu orang dari sistem
kerja shift sekurangnya tiga orang
2. Membuat dokumen pengendalian instalasi potensi bahaya
menengah
3. Melaporkan setiap terjadi perubahan nama dan kualitas bahan
kimia, proses modifikasi instalasi yang digunakan
4. Melakukan pemeriksaan dan pengujian faktor kimia yang ada
ditempat kerja sekurangnya satu tahun sekali
5. Melakukan pemeriksaan dan pengujian instalasi yang ada di tempat
sekurangnya tiga tahun sekali dan melakukan pemeriksaan
kesehatan tenaga kerja satu tahun sekali.
Dokumen pengendalian instalasi potensi bahaya besar memuat halhal berikut:
1. Identifikasi bahaya , penilaian dan pengendalian risiko
2. Kegiatan teknis, rancang bangunan, konstruksi, pemilihan bahan
kimia, serta pengoperasian dan pemeliharaan instalasi
3. Kegiatan pembinaan tenaga kerja di tempat kerja
4. Rencana dan proses gawat darurat
5. Prosedur kerja aman
C. Upaya Pencegahan terhadap Lingkungan Kerja
Upaya pencegahan yang ditujukan kepada lingkungan kerja
dilaksanakan sebagai berikut:
1. Unit-unit operasi yang menimbulkan gas atau uap ke udara harus
memakai sistem tertutup dengan ventilasi keluar setempat. Ventilasi
umum dan dilusi biasanya tidak memadai bahkan mungkin
memperbesar risiko terjadinya keracunan atau efek lainnya dengan
menyebarkan zat kimia berbahaya ke tempat lain
2. Kanopi (corong tutup ventilasi keluar setempat) harsu menutupi unit
operasi sesempurna mungkin agar dihidari meluasnya efek bahan
berbahaya kepada pekerja yang bekerja di tempat lain

3. Bahan kimia berbahaya harus diangkut dengan alat angkut mekanis


selama pengangkutan menurut cara itu mungkin dan dapat
dilaksanakan
4. Tempat pengolahan bahan berbahaya harus berlantai dan berbangku
kerja yang tidak dapat ditembus oleh bahan berbahaya yang
bersangkutan, agar tempat dan bangku kerja mudah dibersihkan
sehingga dapat dicegah tertimbunnya bahan berbahaya baik padat
maupun cair. Selain itu harus ada saluran air mengalir, agar tempat
kerja dan perlengkapan kerja mudah sering dicucibdan dibersihkan
5. Bubuk yang tumpah harus diambil dengan vakum
6. Menyapu harus dilakukan secara basah dengan air dan minyak untuk
persenyawaan yang larut dalam minyak
7. Cairan tumpah harus dibuang dengan mencuci dan pembuangan air
cuci melalui saluran pembuangan air limbah
8. Untuk ventilasi umum harus dipakai udara segar, udara yang sudah
dipakai tidak boleh dipakai lagi
9. Sedapat mungkin diupayakan substitusi bahan beracun dengan bahan
yang lebih aman
10.Suhu udara tempat kerja harus diatur sesuai kebutuhan
11.Udara tempat kerja tidak boleh mengandung kadar bahan berbahaya
yang melebihi NAB-nya
D. Kepatuhan atas Ketentuan mengenai Alat Keselamatan
Kepatuhan atas ketentuan mengenai pemakaian alat keselamatan
dilakukan sebagai berikut:
1. Pekerja harus dilatih dan dididik agar menginsyafi bahaya yang ada
dan menghidarinya dengan memakai alat keselamatan
2. Sarung tangan, kacamata, skort, dan pakaian pelindungan haru
dipakai dalam hal diperlukan dalam menjalankan pekerjaan
3. Air untuk mandi dan mencuci mata harus cukup tersedia terutama
untuk membersihkan bahan korosif seandainya mata terkena bahan
tersebut
4. Pakai pelindung yang dipakai harus dicuci setiap hari
5. Untuk unit operasi yang tak mungkin ventilasi keluar setempat
dilaksanakan, masker yang dialiri udara atau masker gas harus
tersedia
6. Pekerja yang mengolah bahan beracun diwajibkan mencuci tangan
sebersih mungkin sebelum makan, merokok, minum
7. Pekerja wajib melaporkan kejadian kecelakaan
e. Upaya Kesehatan yang Baik
Upaya kesehatan yang baik antara lain:
1. Pekerja yang menghadapi bahaya harus diperiksa kesehatannya
setiap 6 bulan sampai satu tahun sekali sebagai penilaian efek
pekerjaan kepada kesehatan dan efektivitas upaya pencegahan
2. Alat harus diperiksa setiap minggu atau bulan untuk menilai
kemungkinan bahaya yang mungkin timbul. Antara lain harus
dilakukan pengambilan sampel udara dan juga pemeriksaan
sampel tersebut di lab
3. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja harus ditujukan kepada
adanya kemungkinan sakit pernapasan menahun, kelainan

ginjal, atau penyakit sistemik lainnya pada calon pekerja.


Siapapun dengan penyakit tersebut tidak diperkenankan bekerja
pada pekerjaan yang mungkin kontak dengan atau menghirup
uap bahan berbahaya yang mungkin menimbulkan efek yang
memburuk kelainan organ tubuh yang dimaksud.