Anda di halaman 1dari 5

MASIH BERLAKUKAH STATUS IMPORTIR JALUR PRIORITAS SEIRING DENGAN

PENETAPANNYA SEBAGAI IMPORTIR MITRA UTAMA ?

Rita Dwi Lindawati


Widyaiswara Pusdiklat Bea dan Cukai

Pendahuluan
Seiring munculnya Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai P-24/BC /2007 tanggal 9
Agustus 2007, tentang MITRA UTAMA ( MITA ), seolah-olah seluruh perhatian kita tertuju pada
Client Baru Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yaitu importir MITA (Mitra Utama ) . Seperti
yang telah kita ketahui, sejak munculnya Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tersebut
kita mengenal importir MITA. Importir MITA adalah Importir Jalur Prioritas yang ditetapkan
oleh Direktur Teknis Kepabeanan sebagai MITA atau importir yang memenuhi syarat dan
ditetapkan sebagai Mitra Utama oleh Kepala Kantor Pelayanan Utama atas nama Direktur
Jenderal Bea dan Cukai. Sedangkan pengertian Importir Jalur Prioritas menurut P-11/BC/2005
tanggal 15 Juni tahun 2005 adalah importir yang ditetapkan sebagai importir penerima fasilitas
Jalur Prioritas berdasarkan keputusan Direktur Jenderal .
Selanjutnya muncul pertanyaan kritis untuk Importir Jalur Prioritas yang oleh Direktur
Teknis Kepabeanan ditetapkan menjadi importir MITA

, Masih berlakukah status Importir

Jalur Prioritasnya ? Untuk mencari jawab, penulis akan menelaah beberapa peraturan yang
akan penulis paparkan pada artikel ini.
Keberadaan MITA menurut P-24/BC/2007
Menurut P-24/BC/2007 tentang MITA disebutkan bahwa MITA dapat berasal dari Importir
Jalur Prioritas yang ditetapkan sebagai MITA oleh Direktur Teknis Kepabeanan. Jika sebuah
perusahaan

telah mendapatkan status sebagai Importir Jalur Prioritas berkeinginan untuk

menjadi importir MITA, maka perusahaan tersebut harus mengajukan permohonan kepada
Direktur Teknis Kepabeanan dengan memenuhi syarat-syarat seperti yang tercantum dalam P24/BC/2007 . Hal ini berarti bahwa tidak secara otomatis setiap

Importir Jalur Prioritas

ditetapkan menjadi importir MITA. Menurut P-24/BC/2007, status MITA hanya berlaku pada
Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai. Dengan demikian, Importir Jalur Prioritas yang sudah
ditetapkan menjadi MITA, hanya dapat menggunakan fasilitas dan status MITA-nya, untuk
menyelesaikan
1

kewajiban

pabean

pada

Kantor

Pelayanan

Utama.

Sedangkan

jika

penyelesaian kewajiban pabeannya diselesaikan di luar Kantor Pelayanan Utama ( pada Kantor
Pelayanan dan Pengawasan Pabean dan Cukai yang tercantum pada Surat Keputusannya
sebagai Importir Jalur Prioritas) maka Importir Jalur Prioritas tersebut dilayani sebagai Importir
Jalur Prioritas. Selain itu jika kita pelajari pasal demi pasal pada P-24/BC/2007 , tidak satupun
pasal yang mengatur hapusnya status Jalur Prioritas , jika importir tersebut telah ditetapkan
menjadi importir MITA.
Hak dan Kewajiban Importir Jalur Prioritas yang Telah Ditetapkan Sebagai MITA
Hak dan kewajiban Importir Jalur Prioritas yang telah ditetapkan sebagai MITA tetap
mengikuti statusnya . Maksud dari pernyataan ini adalah jika Importir Jalur Prioritas tersebut
sedang menyelesaikan kewajiban pabeannya pada Kantor Pelayanan Utama , maka importir
yang bersangkutan akan mendapatkan hak dan wajib menjalankan kewajiban sebagai importir
MITA. Begitu pula ketika importir yang bersangkutan sedang menyelesaikan kewajiban
pabeannya pada Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai yang telah tercantum
pada Surat Keputusan Importir Jalur Prioritas ( di luar KPU BC ) maka importir tersebut akan
mendapatkan hak dan wajib menjalankan kewajiban sebagai Importir Jalur Prioritas.
Hak dan Kewajiban Importir Jalur Prioritas ( IJP )
Dalam P-11/BC/2005 tanggal 15 Juni 2005 tentang Importir Jalur Prioritas , diatur hak
dan kewajiban Importir Jalur Prioritas.

Hak Importir Jalur Prioritas ( IJP ) adalah untuk mendapatkan kemudahan sebagai
berikut:
a. Tidak dilakukan penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik barang
sebagaimana dilakukan terhadap Jalur Merah dan Jalur Hijau, kecuali terhadap
:
1. Barang Impor Sementara.
2. Barang Re-impor.
3. Barang yang terkena Nota Hasil Intelijen (NHI).
4. Barang tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
b. Pemeriksaan fisik terhadap barang sebagaimana dimaksud dalam butir (a)
dapat dilakukan di gudang importir.
c. Pengeluaran barang impor dapat dilakukan dengan Trucklossing.
2

d. Penyerahan hardcopy PIB dilakukan paling lama 5 hari kerja sejak


diterbitkannya Surat
Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB).
e. Pemberitahuan Pendahuluan (prenotification).
f.

Pembayaran berkala khusus kepada importir produsen.


Kemudahan sebagaimana pada huruf b, huruf c, dan huruf e diberikan tanpa

pengajuan surat permohonan dari IJP tersebut.

Kewajiban Importir Jalur Prioritas adalah :


a. Menggunakan modul importir milik sendiri dan tidak memberikan atau
meminjamkannya bagi kepentingan pihak/perusahaan lain.
b. Membuat laporan importasi setiap 6 (enam) bulan sejak ditetapkan sebagai
IJP , dalam bentuk hardcopy dan soft copy, dan menyerahkannya kepada
Kepala Kantor Pelayanan tempat impor dilakukan.
c.

Melaporkan kehilangan dan/atau penyalahgunaan modul importir pada


kesempatan pertama.

Setelah penulis memaparkan hak dan kewajiban IJP, selanjutnya akan penulis
paparkan hak dan kewajiban Importir MITA .
Hak dan Kewajiban Sebagai Mitra Utama
Pada P-24/BC/2007 tentang MITA, diatur mengenai hak dan kewajiban sebagai
MITA adalah:
1. Tidak dilakukan penelitian dokumen dan/atau pemeriksaan fisik barang, kecuali
untuk MITA Non Prioritas, masih memungkinkan dilakukan penelitian dokumen
dan pemeriksaan fisik barang dalam hal barang ekspor yang diimpor kembali,
barang yang terkena pemeriksaan acak, atau barang impor sementara.
Pemeriksaan fisik atas barang-barang tersebut dapat dilakukan di gudang
importir tanpa mengajukan surat permohonan . Adapun ketentuan yang berlaku
atas barang-barang tersebut adalah ketentuan importasi yang pengeluaran
barangnya ditetapkan sebagai jalur merah.
2. Mendapatkan fasilitas paperless ( tidak perlu menyerahkan hard copy PIB/PEB
3

Kemudahan ini tidak berlaku dalam hal dilakukan pemeriksaan fisik barang
dan/atau pemeriksaan dokumen.
3. Mendapatkan akses pelayanan Client Coordinator
4. Pemutakhiran data registrasi importir.

Selanjutnya marilah Saudara pahami, apakah kewajiban MITA itu? Berikut ini akan
penulis uraikan mengenai kewajiban MITA :
1. MITA wajib memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh instansi teknis terkait
sebelum menyampaikan PIB.
2. MITA wajib menyampaikan pemberitahuan pabean impor atau ekspor secara
elektronik.
3. Tidak

memberikan

dan/atau

meminjamkan

modul

importir

kepada

pihak/perusahaan lain.
4. Melaporkan kehilangan dan/atau penyalahgunaan modul importir pada
kesempatan pertama.
5. Memberitahukan perubahan nama-nama PPJK yang diberi kuasa, kepada
kepala kantor
6. Menyampaikan nama pegawai perusahaan yang ditunjuk untuk berhubungan
dengan Client Coordinator.
Fakta status importir MITA dan Jalur Prioritas
Fakta di lapangan , masyarakat pengguna jasa kepabeanan , bahkan pegawai
Bea dan Cukai pun masih sering rancu mengenai status importir MITA dan Importir
Jalur Prioritas. Sementara orang masih menganggap Importir Jalur Prioritas itu sama
dengan MITA. Padahal antara importir MITA dan Importir Jalur Prioritas adalah dua
hal yang berbeda, baik

wilayah pemberlakuan status importir, maupun hak dan

kewajibannya . Importir Jalur Prioritas yang telah ditetapkan sebagai MITA akan
disebut sebagai MITA Prioritas sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur
Jenderal Bea dan Cukai , P-42/ BC/2009 yang telah diubah dengan P-08/BC/2009
tentang Tata Laksana Impor Untuk Dipakai. Selanjutnya MITA Prioritas ini dalam
penyelesaian pabean impor untuk dipakai akan mendapatkan jalur pelayanan impor
berupa Jalur Mita Prioritas. Jalur MITA Prioritas ini hanya ada dan berlaku pada
Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai. Sedangkan di luar Kantor Pelayanan
Utama Bea dan Cukai ( Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai yang
tersebut dalam Surat Keputusan Importir Jalur Prioritas), IJP yang telah ditetapkan
4

sebagai MITA ( MITA Prioritas ) akan diperlakukan sebagai IJP ( Importir Jalur
Prioritas ) dengan mendapatkan fasilitas pelayanan sebagai IJP.
Simpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Importir Jalur Prioritas yang telah
ditetapkan sebagai importir MITA ( MITA Prioritas) , tidak akan kehilangan statusnya
sebagai IJP. Hal ini diatur dalam P-24/BC/2007 tentang MITA maupun P-11/BC/2005
yang telah diperbarui dengan P-06/BC/2006 tentang Importir Jalur Prioritas. Dimana
dalam Peraturan Dirjen Bea dan Cukai tersebut diatur kapan berlakunya status
importir sebagai MITA dan kapan berlakunya status importir sebagai IJP. Selain itu
Perdirjend tersebut juga mengatur tentang hak dan kewajiban yang mengiringi
masing-masing status importir tersebut. Batasan-batasan pemberlakuan, hak dan
kewajiban antara status importir MITA ( MITA Prioritas) dan IJP harus dipahami dan
dicermati oleh importir sendiri maupun petugas Bea dan Cukai. Bagi importir ,
pemahaman ini diperlukan agar tidak terjadi kesalahan dalam menunaikan hak dan
kewajibannya dalam masing-masing status tersebut. Sedangkan bagi petugas Bea
dan Cukai, pemahaman tersebut sangat diperlukan agar tidak salah dalam
memberikan pelayanan dan pengamanan hak-hak Negara .
Sumber Data dan Kepustakaan
1.

P-11/BC/2005 tanggal 15 Juni 2005 tentang Importir Jalur Prioritas yang telah
diperbaharui dengan P-06/BC/2006 tanggal 25 April 2006

2.

P-24/BC/2007 tanggal 17 Agustus 2007 tentang MITA.

3.

P-08/BC/2009 tanggal 30 Maret 2009 tentang Perubahan atas Perdirjend Bea


dan Cukai Nomor P-42/BC/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengeluaran
Barang Impor Untuk Dipakai.

4.

Hasil wawancara dengan Kepala Seksi Layanan Informasi , KPP Madya


Pabean Tanjung Perak.

5.

Hasil wawancara dengan Kepala Sub Seksi Penyuluhan , KPP Madya


Soekarno Hatta.

6.

Hasil konfirmasi dengan Sub Direktorat Impor pada Direktorat Teknis


Kepabeanan Kantor Pusat DJBC Jakarta