Anda di halaman 1dari 19

Jawab:

A.
Analisis
Berdasarkan
Reflektansi Vitrinit

TOC,

Pirolisis

Rock-Eval,

dan

Evaluasi geokimia ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik batuan


induk di suatu daerah dengan beberapa tujuan, diantaranya:
1. Analisis Kekayaan Batuan Induk (TOC)

Analisis ini meliputi kekayaan material organik berdasarkan karbon


organik total (TOC). Peters (1986) membuat klasifikasi kekayaan batuan
induk berdasarkan kandungan TOC (%). Berdasarkan klasifikasi tersebut
menunjukan bahwa kekayaan batuan induk yang terdiri dari 2 sampel
dengan kualitas baik hingga sangat baik.

Selain itu, analisis S2

menyatakan potensi material organik dalam batuan yang dapat berubah


menjadi hidrokarbon. Analisis ini menggunakan kurva silang antara nilai
S2 dan kandungan TOC nya. Berdasarkan Peters dan Cassa (1994) dapat
disimpulkan bahwa potensi nilai S2 semua sampel umumnya memiliki
kualitas dari baik hingga sangat baik. Untuk nilai TOC yang terdapat di
kurva silang ini memiliki kualitas dari baik hingga sangat baik (Gambar 1).
Sedangkan jika ditinjau dari kurva silang potential yield (S1 + S2) dengan
TOC yang menggunakan parameter Peters dan Cassa (1994), maka
hasilnya akan sama persis dengan kurva silang S2 dengan TOC (Gambar
2).

Gambar 1. Kurva silang antara S2 dan TOC (Peters dan Cassa, 1994).

Gambar 2. Kurva silang antara potential yield dan TOC (Peters dan Cassa,
1994).

2. Tipe Kerogen

Penentuan tipe kerogen dapat menggunakan kurva silang antara Tmax


dan HI dengan parameter dari Peters dan Cassa (1994). Hasil kurva silang
ini mengindikasikan bahwa semua sampel berada di zona tipe kerogen I
yang menghasilkan (Gambar 3). Jika menggunakan kurva silang OI dan HI
maka sampel kedalam tipe kerogen I yang menghasilkan gas (Gambar 4).

Gambar 3. Kurva silang antara Tmax dan HI (Peters dan Cassa, 1994).

Gambar 4. Kurva silang antara OI dan HI (Modifikasi van Krevelen).

3. Kematangan
Kematangan batuan dapat menggunakan data reflektansi vitrinit dengan
menggunakan parameter kematangan dari Peters dan Cassa (1991).
Semua sampel memiliki nilai dari 0,63 dan 0,72% yang menunjukan awal
matang hingga puncak matang. Selain itu, kematangan batuan juga dapat
menggunakan nilai Tmax dari parameter kematangan dari Peters dan
Cassa (1991). (Gambar 5).

Gambar 5. Kurva silang Tmax dengan Ro (Peters dan Cassa, 1991).


Dari kematangan Ro dan Tmax diatas dapat disimpulkan bahwa sampel
mulai masuk ke zona matang.

B. Analisis Berdasarkan Kromatografi Gas Spektometri Massa


(GC-MS)
Analisis ini terdiri dari biomarker alkana normal, sterana, dan terpana atau
hopana yang menggunakan sampel minyak dan sampel ekstrak batuan di
setiap biomarkernya.
1. Alkana Normal dan Isoprenoid
Analisis dengan menggunakan biomarker dan alkana normal ini bertujuan
untuk menentukan material asal organik, lingkungan pengendapan,
kematangan, dan korelasi.
Penentuan Material Asal Organik
Penentuan

material

asal

organik

ini

berdasarkan

intepretasi

dari

biormarker alkana normal dan isoprenoid yang menggunakan sampel


ekstrak batuan (Gambar 6) dan (Gambar 7).

Gambar 6. Biomarker alkana normal dari sampel ekstrak batuan Sed


- 1.

Gambar 7. Biomarker alkana normal dari sampel batuan Sed-2.

Hasil interpretasi biomarker diatas sampel ekstrak batuan dan sampel


minyak mempunyai titik tertinggi setelah atau diatas dari C20 yang
mengindikasikan bahwa material organik sampel minyak dan ekstrak
batuan berasal dari tumbuhan tingkat tinggi (lingkungan darat).
Lingkungan Pengendapan
Terdapat 3 cara dalam penentuan lingkungan pengedapan, pertama
adalah dengan menggunkan kurva silang antara pristan/fitan (Pr/Ph) dan
pristan/nC17,

kurva

silang

Pr/n-C17

dan

Ph/n-C18,

dan

interpretasi

biomarker dengan melihat posisi tinggi pristan dan fitan.


Hasil

kurva

silang

antara

pristan/fitan

(Pr/Ph)

dan

pristan/n-C17

menunjukan bahwa sampel minyak dan ekstrak batuan berada pada


lingkungan darat (terrestrial). Tingginya nilai pristan/fitan (Pr/Ph) lebih
besar dari 3 menunjukan kondisi oksik dengan pengaruh material
tumbuhan darat yang kuat (Bissada, 1993) (Gambar 8).
Hasil kurva silang antara Pr/n-C17 dan Ph/n-C18 menunjukan bahwa
sampel minyak dan ekstrak batuan berada pada lingkungan pengendapan
dengan tingkat oksidasi yang tinggi (Gambar 9).

Gambar 8. Kurva silang antara pristan/fitan (Pr/Ph) dan pristan/nC17.

Gambar 9. Kurva silang antara Pr/n-C17 dan Ph/n-C18.


Hasil interpretasi biomarker alkana normal pada gambar 8 dan 9
menunjukan bahwa posisi pristan lebih tinggi daripada fitan yang
menunjukan bahwa sampel minyak dan ekstrak batuan berada di
lingkungan pengendapannya relatif ke arah oksik.

Kematangan
Kematangan berdasarkan alkana normal dapat dilihat dari nilai CPI. Nilai
CPI untuk sampel ekstrak batuan Sed-1 dan Sed-2 adalah 1,21 dan 1,18.
Kedua sampel tersebut memiliki nilai CPI < 1 yang mengindikasikan
bahwa kedua sampel tersbut memiliki kematangan yang cukup matang.
2. Terpana atau Hopana (m/z 191)
Analisis biomarker terpana m/z 191 dapat digunakan untuk menentukan
lingkungan pengendapan dan kematangan. Untuk mempermudah proses
penentuan lingkungan pengendapan dan kematangan tersebut sebaiknya
dilakukan terlebih dahulu penentuan nomer karbon yang terdapat di
biomarker (Gambar 10, 11 dan 12).

C3
0

C2
9

C3

T
m

C3
T
s

C3 C3
4

C3
5

Gambar 10. Biomarker terpana atau hopana (m/z 191) dari sampel
ekstrak batuan Sed-1.

C29

C30
Tm
C31
C32
Ts

C33

C34

C35

Gambar 11. Biomarker terpana atau hopana (m/z 191) dari sampel
ekstrak batuan Sed-2.

C29
C30

Ts
Tm

C
3

C32

Gambar 12. Biomarker terpana atau hopana (m/z 191) dari sampel
minyak.

Lingkungan Pengedapan
Terdapat beberapa cara dalam penentuan lingkungan pengendapan
berdasarkan terpana (m/z 191) ini, salah satunya menggunakan kurva
silang antara hopana/sterana dan pristan/fitan.

Gambar 13. Kurva silang antara hopana/sterana dan pristan/fitan.


Berdasarkan kurva silang di atas bahwa sampel minyak dan ekstrak
batuan berada pada lingkungan darat dengan kondisi oksik yang sangat
tinggi.
Hadirnya oleanana (18(H) - oleanana/C30) pada sampel minyak dan
ekstrak batuan Sed-1 yang relatif tinggi mengindikasikan bahwa material
organik kedua sampel tersebut dipengaruh oleh adanya tumbuhan
berbunga (aingospermae) yang berasal dari lingkungan darat. Selain itu
munculya resin di sampel minyak juga mengindikasikan bahwa adanya
pengaruh dari lingkungan darat.
Kematangan
Kematangan berdasarkan terpana atau hopana dapat menggunakan
kurva

silang

antara

C30

moretana/hopana

Trisnorhopana/18(H)-Trisnorneohopana

(Tm/Ts)

dan

atau

bisa

17(H)juga

menginterpretasi dengan membandingakan puncak Ts dan Tm yang


terdapat di biomarker.
Berdasarkan hasil kurva silang tersebut kematangan sampel ekstrak
batuan adalah belum matang, sedangkan sampel minyak menunjukan

kematangan di awal matang (Gambar 14). Jika melihat perbandingan


puncak Ts dan Tm pada biomarker, maka kedua sampel mempunyai
perbandingan tinggi pucak yang sama antara Ts dan Tm, yaitu Ts memiliki
titik puncak yang lebih rendah dibandingkan dengan Tm sehingga dapat
dkitakan bahwa kedua sampel tersebut belum matang. Sedangkan pada
sample minyak puncak Ts lebih tinggi dari puncak Tm dapat dikatakan
bahwa sample tersebut sudah matang.

Gambar 14. Kurva silang antara antara C30 moretana/hopana dan Tm/Ts.
3. Sterana (m/z 217, 218, 259)
Analisis biomarker sterana (m/z 217, 218, 259) dapat digunakan untuk
menentukan lingkungan pengendapan, kematangan, dan mineralogi
batuan induk. Penentuan nomer karbon sebaiknya dilakukan terlebih
dengan

memisahkan antara

C27,

C28,

C29

untuk

mempermudah

interpretasi dalam penentuan menentukan lingkungan pengendapan,


kematangan, dan mineralogi batuan induk (Gambar 15 dan 16).

Lingkungan Pengendapan

Penentuan lingkungan pengendapan dapat dilakukan dengan membuat


diagram segitiga antara C27 20R, C28 20R, dan C28 20R. Hasil plot dari
ketiga nilai tersebut, lingkungan pengendapan untuk sampel minyak
diperkirakan berada di laut terbuka dan ekstrak batuan Sed-1 diperkirakan
berada di darat serta ekstrak batuan Sed-2 diperkirakan berada di danau
dangkal ataui estuari (Gambar 17).
Mineralogi Batuan Induk
Penentuan mineralogi batuan induk

dilakukan

dengan

interpretasi

diasterana pada biomarker. Diasterana adalah sterana yang mengalami


pertukaran hidrogen. Pada gambar 15 dan 16 terlihat bahwa sampel
minyak dan ekstrak batuan Sed-1 memiliki diasterana yang tinggi, hal
tersebut mengindikasikan bahwa batuan induk berupa klastika dengan
kandungan lempung yang cukup banyak.
Kematangan
Penentuan kematangan dapat menggunakam kurva silang antara C29
R+S/S+R Steranes dan C29 S/R Steranes (Gambar 19). Hasil
kurva silang tersebut mengindikasikan bahwa sampel minyak mempunyai
tingkat kematanagan di awal matang dan ekstrak batuan mempunyai tingkat
kematangan yang belum matang. Selain itu kematangan dapat ditentukan
dengan membanding puncak ketinggian 20S dan 20R pada C29 sehingga apabila
ditarik garis antara 20S dan 20R akan menghasilkan kemiringan (slope). Terlihat
bahwa (gambar 16 dan 17) 20S lebih tingga daripada 20R yang menunjukan
bahwa kematanga kedua sampel adalah matang.

Disterana

C27

C28
C29
2
0
S

2
0
R

Gambar 15. Biomarker sterana dari sampel minyak.

C29
C27

2
0
R

C28
Diste
rana

2
0
S

Gambar 16. Biomarker sterana dari sampel ekstrak batuan Sed-1.


Gam

C29
C27

C28

2
0
S

2
0
R

Diste
rana

bar 17. Biomarker sterana dari sampel ekstrak batuan Sed-2.

STERANE COMPOSITION & SOURCE


ROCK DEPOSITIONAL ENVIRONTMENT
C28
C28

20R

Plangk
ton

Estuarin
Open
e
Marine
Or
Or
Shallow
Lacustr
Lacustri
ine
ne

C27 20R
C27

Terrest
rial
High
er
Plant

C29
C29
20R

Gambar 18. Diagram segitiga sterana untuk penentuan lingkungan


pengendapan.

Gambar 19. Kurva silang antara C29 R+S/S+R sterana dan C29
S/R sterana.

Korelasi
Korelasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah sampel minyak dan
sampel ekstrak batuan berdasarkan biomarker dari alkana normal,
terpana/hopana, dan sterana berasal dari sumber yang sama atau tidak.
Jika dilihat dari beberapa plot yang sudah dilakukan maka sekilas minyak
tidak korelatif terhadap sampel batuan yang ada karena umum pada
sampel ekstrak batuan memiliki kesamaan pengaruh lingkungan darat.
Hal ini juga didukung oleh kurva silang antara isotop aromatik dengan
isotop saturat (Gambar 20).

Gambar 20. Kurva silang antara isotop saturat dan isotop aromatik.

Tidak adanya sample minyak pada data GC, membuat korelasi dilakukan
umum oleh data Terpana dan Sterana. Untuk lingkungan pengendapan
berdasarkan data terpana muncul Oleanana yang menjadi parameter
pengaruh dari endapan darat. Dan puncak diasterana pada data sterana
sample minyak memiliki kesamaan pola pada sampel sterana ekstrak
batuan

Sed-1.

Hal

ini

dapat

disimpukan

bahwa

sampel

CENDERUNG KORELATIF terhadap sampel ekstrak batuan Sed 1.

minyak