Anda di halaman 1dari 33

BAB III

METODOLOGI PERENCANAAN
3.1.

Tujuan Operasional Perencanaan


Tujuan operasional perencanaan berfungsi untuk menerangkan tujuan

perencanaan yang hendak dicapai serta memberikan gambaran langkah-langkah


dalam pengerjaan selanjutnya, Tujuan operasional perencanaan ini meliputi :
1.

Mengetahui kondisi pengelolaan persampahan eksisting di wilayah RW V serta


RW IV Kelurahan Banyumanik Kecamatan Banyumanik Kota Semarang,
yang meliputi : jumlah dan karakteristik timbulan sampah, tingkat pelayanan
oleh dinas kebersihan, sarana dan prasarana kebersihan, teknik operasional,
kelembagaan, pembiayaan, hukum dan peraturan, serta peran serta
masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Data-data tersebut diperoleh dari

2.

pengambilan sampel timbulan, kuesioner, dan wawancara.


Merencanakan 5 sub sistem pengelolaan sampah yang meliputi sub sistem teknik
operasional, kelembagaan, pembiayaan, hukum dan peraturan, serta peran
serta masyarakat sesuai dengan jumlah timbulan dan karakteristik sampah
serta hasil kuesioner, kemudian menyusun RAB (Rencana Anggaran Biaya)
dan SOP (Standar Operasional Prosedur). Alternatif pengelolaan sampah
dapat ditentukan setelah melakukan analisa terhadap hasil survey lapangan
dan kuesioner mengenai pengelolaan sampah eksisting di wilayah
perencanaan. Dari analisa tersebut dapat diketahui hal-hal yang dibutuhkan
oleh masyarakat dalam pengelolaan persampahan.
3.2.

Waktu dan Lokasi Perencanaan


Waktu perencanaan dilaksanakan selama delapan bulan, yaitu mulai dari

bulan September 2014 April 2015. Lokasi pengambilan data dilaksanakan di


RW V Kelurahan Banyumanik Kecamatan Banyumanik Kota Semarang pada
bulan September 2014 Oktober 2014.

3.2.1.

Waktu Perencanaan
Perencanaan ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan, yaitu sebagai

berikut :
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini meliputi studi literatur, penyusunan dan pengajuan
proposal, serta perizinan terkait dengan perencanaan. Tahapan ini
dilaksanakan pada bulan September 2014.
2. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan ini meliputi pengambilan, pengumpulan dan pengolahan
data. Tahapan ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2014 - November 2014.
3. Tahap Perencanaan dan Penyusunan Laporan
Tahap perencanaan ini meliputi proses analisis data dan perencanaan hingga
penyusunan laporan. Tahapan ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2014
April 2015.
3.2.2. Lokasi Perencanaan
Lokasi perencanaan dilaksanakan di wilayah RW V serta RW IV
Kelurahan Banyumanik Kecamatan Banyumanik Kota Semarang.

Gambar 3.1. Lokasi Perencanaan


Sumber : Google Map, 2014

3.3. Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif
dengan pendekatan penelitian berupa Action Research atau Penelitian Tindakan.
Menurut Arikunto (2010), pengertian penelitian tindakan adalah penelitian tentang
hal-hal yang terjadi di masyarakat atau kelompok sasaran dan hasilnya langsung
dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan. Ciri atau karakteristik
utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara
peneliti dengan anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah salah satu
strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk
proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan
memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat dalam
kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.
Penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok yang juga
menunjukkan langkah, yaitu :
1.

Perencanaan

(Planning),

yaitu tahapan menyusun rancangan tindakan. Dalam tahapan ini, peneliti


menentukan titik-titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian
khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrument pengamatan
untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan
berlangsung.
2.

Tindakan

(Acting),

yaitu

implementasi atau penerapan isi rancangan.


3.

Pengamatan

(Observing),

yaitu pelaksanaan pengamatan oleh pengamat. Pelaksanaan tindakan dan


pengamatan berlangsung pada waktu yang sama.
4.
Refleksi (Reflecting), yaitu
kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi.
Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut merupakan satu siklus,
yaitu satu putaran kegiatan beruntun, dari tahap penyusunan rancangan sampai
dengan refleksi yang tidak lain adalah evaluasi.

3.4. Teknik Pengambilan Data


Pengambilan data yang dibutuhkan dalam perencanaan meliputi
pengambilan data primer dan data sekunder. Berikut adalah data-data yang
diperlukan dan teknik pengumpulannya.
Tabel 3.1. Teknik Pengambilan Data
No

Kebutuhan Data

A
1

Data Primer

Teknik
Pengumpulan
Data

Wawancara,
Kondisi fisik lingkungan dan observasi
sosial ekonomi
a.
Kondisi geografis
b.
Peta administrasi
c.
Jumlah penduduk
d.
Jumlah sarana prasarana
e.
PDRB
Timbulan sampah (berat dan Sampling
volume) dan komposisi sampah
(plastik, kertas, dll)

Kuesioner,
Kondisi pengelolaan sampah observasi,
wawancara,
eksisting
dokumentasi

a. Sistem pewadahan
b. Sistem pemilahan
c. Sistem pengumpulan ke TPS
d. Sistem pengangkutan ke TPA
Lembaga pengelola sampah

Pembiayaan

Wawancara,
dokumentasi
Kuesioner,

Sumber Data

Alat

Pemerintah
Monografi
(RW/Kelurahan/B Kelurahan
PS)
dan
PDRB
Kelurahan
Banyumanik

Masyarakat

Kantong
plastik besar,
kotak ukur,
timbangan,
meteran,
sarung tangan
Pemerintah
Kamera,
(RW/Kelurahan/B buku catatan,
PS), masyarakat
kuesioner

Pemerintah
(RW/Kelurahan),
masyarakat
Pemerintah

Kamera,
buku catatan,
kuesioner
Kamera,

wawancara

(RW/Kelurahan),
masyarakat
Pemerintah
(RW/Kelurahan),
masyarakat
Pemerintah
(RW/Kelurahan),
masyarakat

buku catatan,
kuesioner
Kamera,
buku catatan,
kuesioner
Kamera,
buku catatan,
kuesioner

Teknik
Pengumpulan
Data

Sumber Data

Alat

Observasi,
dokumentasi

Pemerintah
Kamera,
(RW/Kelurahan/B buku catatan
PS)

Observasi,
dokumentasi

Pemerintah
(RW/Kelurahan/
Kecamatan/BPS)
Pemerintah
(RW/Kelurahan/
Kecamatan/BPS)
Pemerintah
(RW/Kelurahan/
Kecamatan/BPS)
Pemerintah
(RW/Kelurahan/
Kecamatan/BPS)
Dinas PU, survey

Hukum dan peraturan

Wawancara,
kuesioner

Peran
serta
masyarakat Kuesioner,
(kemauan dan kemampuan observasi,
dalam pengelolaan sampah wawancara
terpadu seperti pengurangan,
Tabel 3.1. Teknik Pengambilan Data (Lanjutan)

No

B
1

2
3

Kebutuhan Data
pemilahan, dan daur ulang
sampah)
Data Sekunder
Data gambaran umum wilayah,
luas wilayah, batas wilayah serta
orbitasi (jarak dari pusat
pemerintahan)
Data jumlah penduduk RW V,
RW IV, dan jumlah KK masingmasing
Data sarana dan prasarana

Observasi,
dokumentasi

Peta-peta
pendukung
(peta Observasi,
administrasi, peta wilayah)
dokumentasi

Data peraturan
sampah

Harga satuan bangunan dan upah


pekerja
Spesifikasi dan harga alat
penunjang kegiatan operasional
(komposter, gerobak dll)

pengelolaan Observasi,
dokumentasi
Observasi,
dokumentasi
Observasi,
dokumentasi

Kamera,
buku catatan
Kamera,
buku catatan
Kamera,
buku catatan
Kamera,
buku catatan

Kamera,
buku catatan
Dinas PU, survey, Kamera,
pasar
buku catatan

3.5. Teknik Pengambilan Sampel


Pengukuran timbulan sampah dilakukan sesuai dengan SK SNI 19-39641994 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan

Komposisi Sampah Perkotaan. Metodologi pengukuran timbulan sampah adalah


sebagai berikut.
a. Cara pengambilan contoh
Pengambilan contoh sampah dilakukan di sumber sampah yaitu wilayah RW
V Kelurahan Banyumanik Kecamatan Banyumanik Kota Semarang baik
perumahan maupun non perumahan selama 8 hari berturut-turut pada lokasi
yang sama.
b. Jumlah contoh
Pelaksanaan pengambilan contoh timbulan sampah dilakukan secara acak
strata dengan jumlah sebagai berikut :
1) Jumlah contoh jiwa dan kepala keluarga (KK) dari perumahan dapat
dihitung berdasarkan rumus :
..
(3.1)
Keterangan :
S
= Jumlah contoh (jiwa)
Cd = Koefisien perumahan
Ps
= Populasi (jiwa)

S
K=
(3.2) N

Keterangan :
K
= Jumlah contoh (KK)
N
= Jumlah jiwa per keluarga
Detail perhitungan :
- Jumlah penduduk Kelurahan Banyumanik tahun 2013 (Ps) = 10.035
-

jiwa
Koefisien perumahan (Cd) = 1
Jumlah jiwa per KK (N) = 4 jiwa
Jumlah sampel (jiwa) : S = Cd Ps = 1 10035 = 100,17 jiwa
Jumlah sampel (KK) : K = S / N = 100,17 / 4 = 25,04 26 sampel

KK
- Proporsi jumlah KK rumah permanen/pendapatan tinggi (S1) = 25 %
Jumlah sampel permanen = S1 x K = 25% x 26 = 6,5 = 6 KK

- Proporsi jumlah KK rumah semi permanen/pendapatan sedang (S2) =


30 %
Jumlah sampel semi permanen = S2 x K = 30% x 26 = 7,8 = 8 KK
- Proporsi jumlah KK rumah non permanen/pendapatan rendah (S 3) =
45 %
Jumlah sampel non permanen = S3 x K = 45% x 26 = 11,7 = 12 KK
2) Jumlah contoh timbulan sampah dari non perumahan dapat dihitung
berdasarkan rumus :
...

..

(3.3)
Keterangan :
S
= Jumlah contoh masing-masing jenis bangunan non perumahan
Cd = Koefisien bangunan non perumahan = 1
Ts = Jumlah bangunan non perumahan
Perhitungan tersebut digunakan untuk menentukan jumlah sampel toko,
sekolah, kantor, pasar, dan jalan. Sedangkan untuk fasilitas umum
lainnya selain yang telah disebutkan seperti hotel, restoran, dan lain-lain
hanya diambil 10% dari jumlah keseluruhan, sekurang-kurangnya 1 (SNI
19-3964-1994).
Detail perhitungan :
- Sekolah : S = Cd Ts = 1 13 = 3,60 4 sampel
- Toko : S = Cd Ts = 1 22 = 4,69 5 sampel
- Kantor : S = Cd Ts = 1 2 = 1,41 2 sampel
- Pasar : S = Cd Ts = 1 1 = 1 sampel
- Tempat ibadah : S = 10% x 20 = 2 sampel
- Warung makan : S = 10% x 20 = 2 sampel
- Kesehatan : S = 10% x 4 = 0,4 1 sampel
- Industri : S = 10 % x 5 = 0,5 1 sampel
c. Pengukuran dan perhitungan
Pengukuran dan perhitungan contoh timbulan sampah harus mengikuti
ketentuan sebagai berikut :
1) Satuan yang digunakan dalam pengukuran timbulan sampah adalah :
(1) Volume basah (asal)
: liter/unit/hari
(2) Berat basah (asal)
: kilogram/unit/hari
2) Satuan yang digunakan dalam pengukuran kompoosisi sampah adalah
dalam % berat basah/asal.

3) Jumlah unit masing-masing lokasi pengambilan contoh timbulan sampah


(u), yaitu :
(1) Perumahan
: jumlah jiwa dalam keluarga
(2) Toko
: jumlah petugas atau luas areal
(3) Sekolah
: jumlah murid dan guru
(4) Pasar
: luas pasar atau jumlah pedagang
(5) Kantor
: jumlah pegawai
(6) Jalan
: panjang jalan dalam meter
(7) Hotel
: jumlah tempat tidur
(8) Restoran
: jumlah kursi atau luas areal
(9) Fasilitas umum lainnya : luas areal
4) Metode pengukuran contoh timbulan sampah, yaitu :
(1) Sampah terkumpul diukur volume dengan wadah pengukur 40 liter
dan ditimbang beratnya, dan atau
(2) Sampah terkumpul diukur dalam bak pengukur besar 500 liter dan
ditimbang beratnya, kemudian dipisahkan berdasarkan komponen
komposisi sampah dan ditimbang beratnya.
d. Peralatan dan perlengkapan
Peralatan dan perlengkapan yang digunakan terdiri dari :
1) Alat pengambil contoh berupa kantong plastik dengan volume 40 liter.
2) Alat pengukur volume contoh berupa kotak berukuran 20 cm x 20 cm x
100 cm, yang dilengkapi dengan skala tinggi.
3) Timbangan (0-5) kg dan (0-100) kg.
4) Alat pengukur volume contoh berupa bak berukuran (1 m x 0,5 m x 1 m)
yang dilengkapi dengan skala tinggi.
5) Perlengkapan berupa alat pemindah (seperti sekop) dan sarung tangan.

(a)

(b)

(c)

Gambar 3.2. Peralatan Sampling (a) Kantong Plastik Besar (b) Kotak
Pengukur Volume (c) Timbangan

e. Cara pengerjaan
Cara pengambilan dan pengukuran contoh dari lokasi perumahan adalah
sebagai berikut :
1) Menentukan lokasi pengambilan sampah
2) Menentukan jumlah tenaga pelaksana
3) Menyiapkan peralatan
4) Melakukan pengambilan dan pengukuran contoh timbulan dan komposisi
sampah sebagai berikut :
(1) Membagikan kantong plastik yang sudah diberi tanda kepada sumber
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

sampah 1 hari sebelum dikumpulkan


Mencatat jumlah unit masing-masing penghasil sampah
Mengumpulkan kantong plastik yang sudah terisi sampah
Mengangkut seluruh kantong plastik ke tempat pengukuran
Menimbang kotak pengukur
Menuang secara bergiliran contoh tersebut ke kotak pengukur 40

liter
(7) Menghentakkan 3 kali kotak contoh dengan mengangkat kotak
setinggi 20 cm, lalu dijatuhkan ke tanah.
(8) Mengukur dan mencatat volume sampah (Vs)
(9) Menimbang dan mencatat berat sampah (Bs)
(10) Menimbang bak pengukur 500 liter
(11) Mencampur seluruh contoh dari setiap lokasi pengambilan dalam
bak pengukur 500 liter
(12) Mengukur dan mencatat berat smpah
(13) Menimbang dan mencatat berat sampah.
(14) Memilah contoh berdasarkan komponen komposisi sampah
(15) Menimbang dan mencatat berat sampah
(16) Menghitung komponen komposisi sampah
f. Daftar pertanyaan / kuesioner
Selain melalui sampling timbulan sampah, informasi mengenai pengelolaan
persampahan di suatu wilayah juga dapat diketahui melalui kuesioner.
Kuesioner merupakan salah satu tahap yang dilakukan untuk mengidentifikasi
pelaksanaan pengelolaan persampahan di wilayah RW V Kelurahan
Banyumanik. Kuesioner ini dilakukan dengan cara memberikan seperangkat
pertanyaan untuk dijawab secara langsung oleh responden untuk mengetahui
opini dari responden mengenai pengelolaan persampahan di wilayah tempat
tinggalnya. Cara menentukan jumlah responden adalah dengan menggunakan
Rumus Slovin sebagai berikut.

n=
(3.4)
dimana : n
N

N
2
1+Ne

= jumlah sampel
= jumlah populasi
= persentase batas toleransi ketidaktelitian / tingkat
kesalahan (e ditetapkan sebesar 10% atau 0,1)

Detail perhitungan :
- N = jumlah penduduk Kelurahan Banyumanik tahun 2013 = 10.035 jiwa
- e = 0,1
- n=

N
2
1+Ne

10035
2
1+(10035x(0.1 ))

= 99,013 = 100 responden

Responden yang berjumlah 100 orang tersebut tidak hanya ditujukan


kepada masyarakat semata tetapi juga pihak atau tokoh penentu kebijakan
yaitu pemerintah setempat. Dengan pertimbangan tersebut diharapkan akan
didapatkan hasil kesinergian antara pemerintah dan masyarakat dalam
perencanaan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat. Kuesioner
untuk pihak penentu kebijakan bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting
dan kebijakan pengelolaan persampahan yang diterapkan di wilayah
setempat. Sedangkan kuesioner untuk masyarakat selain bertujuan untuk
mengetahui kondisi eksisting juga untuk mengetahui tingkat partisipasi dan
kesediaan masyarakat dalam melakukan pengelolaan sampah di wilayahnya.
Dari 100 orang responden dilakukan pembagian sebesar 20% dan
80%, dimana 20% adalah jumlah pihak penentu kebijakan terkait yaitu
pemerintah setempat dan 80% adalah jumlah masyarakat umum. Pihak
pemerintah setempat yang dimaksud adalah pihak Kecamatan Banyumanik,
pihak Kelurahan Banyumanik, pihak pengurus RW V dan masing-masing RT,
serta pihak KSM pengelola sampah dengan total sebanyak 20 orang.
Sedangkan dari pihak masyarakat umum merupakan warga RW V yang
dibagi lagi berdasarkan kondisi rumah dan tingkat perekonomiannya.
Penyebaran kuesioner masyarakat dilakukan secara merata di 8 RT yang ada

dengan masing-masing responden di tiap RT adalah 10 orang sehingga


totalnya menjadi 80 orang responden.
3.6. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan meliputi wawancara (interview),
kuesioner (angket), observasi, dan dokumentasi.
3.6.1. Wawancara (Interview)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti
ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus
diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang
lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil (Sugiyono, 2009).
Supaya hasil wawancara dapat terekam dengan baik, dan peneliti
memiliki bukti telah melakukan wawancara kepada informan atau sumber data,
maka diperlukan bantuan alat-alat sebagai berikut :
1. Buku catatan : berfungsi untuk mencatat semua percakapan dengan sumber
data. Notebook juga dapat digunakan untuk membantu mencatat data hasil
wawancara.
2. Tape recorder : berfungsi untuk merekam semua percakapan atau
pembicaraan. Penggunaan tape recorder dalam wawancara perlu memberi
tahu kepada informan apakah diperbolehkan atau tidak.
3. Kamera : untuk memotret / mengambil gambar saat peneliti sedang
melakukan pembicaraan dengan informan atau sumber data. Dengan adanya
foto ini, maka dapat meningkatkan keabsahan penelitian akan lebih terjamin,
karena peneliti betul-betul melakukan penelitian data.
3.6.2. Kuesioner (Angket)
Kuesioner dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau
pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner efisien apabila
peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa
diharapkan dari responden. Selain itu, kuesioner juga cocok digunakan apabila
jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat
berupa pertanyaan / pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada

responden secara langsung atau dikirim melalui pos atau internet. Prinsip dalam
penulisan kuesioner antara lain prinsip penulisan, pengukuran, dan penampilan
fisik. Pada prinsip penulisan meliputi beberapa faktor seperti isi, tujuan, bahasa,
tipe, bentuk dan urutan pertanyaan, dan lain-lain. (Sugiyono, 2009).
Penentuan

responden

dilakukan

dengan

menggunakan

teknik

nonprobability sampling jenis sampling purposive. Nonprobability sampling


adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama
bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel, sedangkan
sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu (Sugiyono, 2009). Hal tersebut dikarenakan pertimbangan sejumlah
responden yang dibutuhkan dalam pengisisan kuesioner perencanaan pengelolaan
sampah terpadu ini, yang mana dibutuhkan pendapat dari pihak pemerintah terkait
selain pendapat dari masyarakat umum. Sehingga dengan pertimbangan seperti ini
diharapkan nantinya ada kesinergian antara pemerintah dan masyarakat dalam
pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat yang direncanakan.
Jenis kuesioner terbagi menjadi 2, yaitu :
1.

Kuesioner

yang

ditujukan

untuk masyarakat secara umum, dengan pembagian golongan responden yaitu


warga

dengan

rumah

permanen/penghasilan

tinggi,

rumah

semi

permanen/penghasilan sedang, dan rumah non permanen/penghasilan rendah.


Kuesioner ini selain bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting
pengelolaan sampah, juga untuk mengetahui tingkat partisipasi dan kesediaan
masyarakat dalam melakukan pengelolaan sampah, serta untuk mengetahui
2.

jenis-jenis sampah yang sering dihasilkan masyarakat sehari-hari.


Kuesioner yang

ditujukan

untuk pemerintah. Pemerintah yang dimaksud adalah pemerintah setempat


yang menjadi penentu kebijakan pengelolaan persampahan dalam cakupan
wilayah Kecamatan Banyumanik khususnya RW V. Kuesioner tersebut
diberikan kepada RW V, KSM Bangunharjo selaku pengelola persampahan,
Kelurahan Banyumanik, dan Kecamatan Banyumanik. Jenis kuesioner ini
bertujuan selain untuk mengetahui kondisi eksisting pengelolaan sampah,

juga untuk mengetahui kebijakan dan strategi yang dilakukan pemerintah


untuk menangani pengelolaan persampahan di wilayahnya.

Tabel 3.2. Matriks Kuesioner


No
.
I
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
B
1
2
3
4

Tujuan Pertanyaan

Nomor Pertanyaan

Kuesioner Untuk Masyarakat


Data Diri Responden
Untuk mengetahui nama responden
1
Untuk mengetahui umur responden
2
Untuk mengetahui jenis kelamin 3
responden
Untuk mengetahui alamat tempat 4
tinggal responden
Untuk mengetahui pendidikan terakhir 5
responden
Untuk
mengetahui
pekerjaan 6
responden saat ini
Untuk mengetahui tingkat penghasilan 7
responden
Untuk mengetahui status responden di 8
dalam rumah tangga
Untuk mengetahui jumlah anggota 9
keluarga responden di dalam rumah
tangga
Kondisi Pengelolaan Sampah Eksisting
Untuk
mengetahui
kondisi 1
pengelolaan sampah eksisting secara
umum
Untuk mengetahui jenis tempat 2
sampah yang digunakan responden
Untuk mengetahui apakah kondisi 3
tempat sampah tertutup atau tidak
Untuk mengetahui lokasi penempatan 4

Jenis Pertanyaan

Isian
Isian
Pilihan
Isian
Pilihan
Pilihan
Pilihan
Pilihan
Pilihan

Pilihan
Pilihan
Pilihan
Pilihan

5
6
7
8
9

tempat sampah responden


Untuk mengetahui apakah responden
telah melakukan pemilahan sampah
atau belum
Untuk mengetahui penyedia tempat
sampah milik responden
Untuk mengetahui cara pembuangan
sampah yang dilakukan responden
Untuk mengetahui apakah responden
telah
terlayani
oleh
petugas
pengumpul
Untuk mengetahui tingkat pelayanan
petugas pengumpul

Pilihan

Pilihan

Pilihan

Pilihan

Pilihan

Tabel 3.2. Matriks Kuesioner (Lanjutan)


No
.
10
11
C
1
2
3
4
5
6
7

Tujuan Pertanyaan

Nomor Pertanyaan

Untuk
mengetahui
frekuensi 10
pengambilan sampah reponden oleh
petugas pengumpul
Untuk mengetahui kinerja petugas 11
pengumpul dalam mengumpulkan
sampah
Konsep Perencanaan Pengelolaan Sampah Terpadu
Untuk mengetahui apakah responden 1
mengetahui jenis sampah organikanorganik
Untuk
mengetahui
tingkat 2
pengetahuan responden terhadap jenis
sampah organik-anorganik
Untuk mengetahui apakah responden 3
mengetahui tentang aturan/regulasi
pengelolaan sampah rumah tangga
Untuk mengetahui jenis sampah 4
organik yang sering dihasilkan
responden di rumah
Untuk mengetahui jenis sampah 5
anorganik yang sering dihasilkan
responden di rumah
Untuk mengetahui jenis sampah B3 6
(Bahan Berbahaya dan Beracun) yang
sering digunakan responden di rumah
Untuk
mengetahui
perlakuan 7
responden terhadap sampah yang telah

Jenis Pertanyaan
Pilihan
Pilihan

Pilihan
Pilihan
Pilihan
Pilihan
Pilihan
Pilihan
Pilihan

8
9
10
11
12

dihasilkan
Untuk mengetahui apakah responden
pernah diberi himbauan tentang
pemilahan sampah rumah tangga
Untuk mengetahui sikap atau reaksi
responden setelah diberikan himbauan
Untuk
mengetahui
kesediaan
responden dalam membayar iuran
pengelolaan sampah
Untuk mengetahui kisaran iuran
sampah yang bersedia dibayarkan oleh
responden
Untuk
mengetahui
apakah
di
lingkungan tempat tinggal responden
pernah ada sosialisasi/pelatihan

Pilihan

Pilihan

10

Pilihan

11

Pilihan

12

Pilihan

Tabel 3.2. Matriks Kuesioner (Lanjutan)


No
.
13
14
15

II
A
1
2
3
4
5
B
1

Tujuan Pertanyaan

Nomor Pertanyaan

pengelolaan sampah
Untuk mengetahui apakah responden 13
pernah mengikuti sosialisasi/pelatihan
pengelolaan sampah atau belum
Untuk
mengetahui
kesediaan 14
responden dalam mengelola sampah
Untuk mengetahui apakah responden 15
menyetujui
penerapan
konsep
pengelolaan sampah modern di
wilayah RW V Kel. Banyumanik
Kuesioner Untuk Pemerintah
Data Diri Responden
Untuk mengetahui nama responden
Untuk mengetahui umur responden
Untuk mengetahui jabatan responden
dalam struktur organisasi pemerintah
Untuk mengetahui jenis kelamin
responden
Untuk mengetahui alamat tempat
tinggal responden
Daftar Pertanyaan
Untuk
mengetahui
kondisi
pengelolaan sampah eksisting secara
umum

Jenis Pertanyaan

Pilihan
Pilihan
Pilihan

1
2
3

Isian
Isian
Isian

Pilihan

Pilihan

Pilihan

2
3
4
5
6
7

Untuk mengetahui permasalahan


pengelolaan sampah yang sering
terjadi di lapangan
Untuk mengetahui kendala yang
sering
menghambat
kinerja
pengelolaan sampah di lapangan
Untuk
mengetahui
frekuensi
pelayanan pengelolaan sampah
Untuk mengetahui frekuensi evaluasi
pengelolaan sampah yang dilakukan
Untuk mengetahui dasar penentuan
iuran sampah yang dibebankan kepada
masyarakat
Untuk mengetahui kisaran besar iuran
sampah yang
sepadan
dengan
pelayanan sampah yang diberikan

Pilihan

Pilihan

Pilihan

Pilihan

Pilihan

Pilihan

Tabel 3.2. Matriks Kuesioner (Lanjutan)


No
.
8
9
10
11
12

13
14
15
16
17

Tujuan Pertanyaan

Nomor Pertanyaan

Jenis Pertanyaan

Untuk mengetahui apakah responden


mengetahui tentang Perda No. 6/2012
Untuk mengetahui apakah pengelolaan
sampah yang ada saat ini telah sesuai
dengan Perda No. 6/2012 atau belum
Untuk mengetahui apakah di wilayah
responden terdapat TPS atau belum
Untuk mengetahui operasional TPS
jika sudah ada
Untuk mengetahui apakah responden
setuju dengan konsep pengelolaan
sampah terpadu berbasis masyarakat
atau tidak
Untuk mengetahui apakah responden
mengetahui
tentang
pelaksanaan
konsep tersebut
Untuk mengetahui apakah di wilayah
responden telah tersedia fasilitas TPST
atau Bank Sampah
Untuk mengetahui operasional TPST
atau Bank Sampah jika sudah ada
Untuk mengetahui kinerja dari TPST
atau Bank Sampah tersebut
Untuk mengetahui rencana atau upaya

Pilihan

Pilihan

10

Pilihan

11

Pilihan

12

Pilihan

13

Pilihan

14

Pilihan

15

Pilihan

16

Pilihan

17

Pilihan

18

19
20

responden untuk mendirikan TPST


atau Bank Sampah
Untuk
mengetahui
frekuensi 18
sosialisasi atau himbauan kepada
masyarakat
mengenai
pemilahan
sampah
Untuk mengetahui tingkat partisipasi 19
masyarakat terhadap pengelolaan
sampah eksisting
Untuk mengetahui harapan responden 20
terhadap pengelolaan sampah

Pilihan

Pilihan
Pilihan

3.6.3. Observasi
Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang
spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan
kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang,
maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain.
Sutrisno Hadi (1986) dalam Sugiyono (2009) mengemukakan bahwa
observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari
pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah
proses-proses pengamatan dan ingatan.
Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian
berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila
responden yang diamati tidak terlalu besar (Sugiyono, 2009).
3.6.4. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,
lengger, agenda, dan sebagainya. Dibandingkan dengan metode atau teknik lain,
metode ini agak tidak begitu sulit, dalam artian apabila ada kekeliruan sumber
datanya masih tetap, belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati
bukan benda hidup tetapi benda mati. Dalam menggunkana metode dokumentasi,
peneliti memegang check-list untuk mencari variabel yang sudah ditentukan.

Apabila terdapat atau muncul variabel yang dicari, maka peneliti tinggal
membubuhkan tanda check di tempat yang sesuai (Arikunto,2010).
3.7. Teknik Analisis Data
3.7.1. Metode Analisis Data
Menurut Sugiyono (2009), dalam penelitian kualitatif data diperoleh dari
berbagai sumber dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacammacam (triangulasi) dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh.
Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi data
tinggi sekali. Data yang diperoleh pada umumnya adalah data kualitatif (walaupun
tidak menolak data kuantitatif), sehingga teknik analisis data yang digunakan
belum ada polanya yang jelas.
Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis
berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis.
Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tersebut, selanjutnya
dicarikan data lagi secara berulang-ulang sehingga selanjutnya dapat disimpulkan
apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak berdasarkan data yang terkumpul.
Bila berdasarkan data yang dapat dikumpulkan secara berulang-ulang dengan
teknik triangulasi, ternyata hipotesis diterima, maka hipotesis tersebut
berkembang menjadi teori. Dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih
difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data.
Dalam kenyataannya, analisis data kualitatif berlangsung selama proses
pengumpulan data daripada setelah selesai pengumpulan data.
Analisis

data

dalam

penelitian

kualitatif

dilakukan

pada

saat

pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam


periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap
jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis
terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampai
tahap tertentu sehingga diperoleh data yang dianggap kredibel. Miles dan
Huberman (1984) dalam Sugiyono (2009), mengemukakan bahwa aktivitas
analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus

menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis
data yaitu data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), dan
conclusion drawing/verification (penarikan kesimpulan dan verifikasi).
a. Data Reduction (Reduksi Data)
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka
perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah dikemukakan, semakin lama
peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan
rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data.
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan
demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih
jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data
selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan. Reduksi data dapat dibantu
dengan peralatan elektronik seperti computer mini, dengan memberikan kode
pada aspek-aspek tertentu.
b. Data Display (Penyajian Data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data.
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk
uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya.
Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian
kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.
c. Conclusion Drawing/Verification (Penarikan Kesimpulan Dan Verifikasi)
Langkah ketiga dalam analisis kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah
penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan
masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti
yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi
apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh buktibukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan
mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan
kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah
merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat
berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-

remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa
hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.
3.7.2. Kegiatan Analisis Data
Dalam penelitian ini, data yang diperoleh akan dianalisis dan digunakan
dalam perencanaan pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat di wilayah
RW V serta RW IV Kelurahan Banyumanik Kecamatan Banyumanik Kota
Semarang. Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah :
1.

Menganalisis kondisi eksisting pengelolaan sampah RW V serta RW IV Kelurahan


Banyumanik Kecamatan Banyumanik Kota Semarang.
Analisis ini mengulas sub sistem teknik operasional, sub sistem kelembagaan,
sub sistem pembiayaan, sub sistem hukum dan peraturan, serta sub sistem
peran serta masyarakat.

2.

Analisis kondisi wilayah daerah studi.


Analisis ini meliputi :
a. Analisis kondisi fisik RW V serta RW IV Kelurahan Banyumanik
Kecamatan Banyumanik Kota Semarang
b. Analisis kependudukan
c. Analisis sarana dan prasarana RW V serta RW IV Kelurahan
Banyumanik Kecamatan Banyumanik Kota Semarang
d. Analisis sosial ekonomi

3.

Analisis volume timbulan dan komposisi sampah Kelurahan Banyumanik


Kecamatan Banyumanik Kota Semarang.
Analisis ini berupa identifikasi volume timbulan sampah eksisting yang
masuk ke TPA/hari, volume timbulan sampah per orang/liter/hari serta
identifikasi

komposisi/karakteristik

sampah

Kelurahan

Banyumanik

Kecamatan Banyumanik Kota Semarang.


4.

Analisis hasil kuesioner


Analisis ini berupa tabulasi dari hasil kusioner yang telah dilakukan sehingga
diperoleh opini mayoritas dari seluruh responden. Kuesioner yang diberikan
kepada responden bertujuan untuk mengetahui informasi mengenai kondisi
eksisting pengelolaan sampah dan hal-hal lain yang berkaitan yang
mendukung perencanaan.

3.7.3. Langkah-Langkah Analisis Data


Menurut Arikunto (2010), setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan
data, data tersebut perlu segera diolah oleh peneliti. Secara garis besar, pekerjaan
analisis data meliputi tiga langkah, yaitu :
1.

Persiapan
Pada tahap persiapan dilakukan kegiatan pengecekan data yang telah
dikumpulkan berupa pemeriksaan isi instrument pengumpulan data serta
pengecekan macam isian data.

2.

Tabulasi
Pada tahap tabulasi dilakukan kegiatan pemindahan data ke dalam komputer
atau laptop kemudian diolah. Dalam tabulasi data ini, kegiatan yang
dilakukan antara lain pemberian kode terhadap jawaban yang diberikan oleh
responden. Dari sebuah pertanyaan dalam kuesioner checklist, jawaban
responden yang telah di-checklist diberi kode 1 sedangkan sisa pilihannya
atau yang tidak dijawab diberi kode 0. Kemudian data dijumlah total sehingga
diketahui mayoritas jawaban yang diberikan oleh responden.

3.

Penerapan data sesuai


dengan pendekatan penelitian
Pada tahap ini dilakukan kegiatan pengolahan data yang diperoleh dengan
menggunakan rumus-rumus atau aturan-aturan yang ada, sesuai dengan
pendekatan penelitian atau desain yang diambil.

3.7.4. Analisis Hasil Pengambilan Sampel Timbulan dan Komposisi


Sampah
Perhitungan timbulan dan komposisi sampah mengacu pada SNI 193964-1994 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan
Komposisi Sampah Perkotaan. Pengambilan sampel dilakukan selama 8 hari
berturut-turut di lokasi yang sama dan hasilnya dimasukkan ke dalam tabel
sebagai berikut.
Tabel 3.3. Hasil Sampling Timbulan Sampah
N
o

Sumbe
r

Nam
a KK

Jumlah
Penghun

Hari ke Tinggi
Volume

Berat

Volume

Berat

i (orang)

Sampa
h (cm)

Sampa
h (l/hr)

Sampa
h
(kg/hr)

Sampa
h
(l/o/hr)

Sampah
(kg/o/hr)

1
2
3
Rerata Timbulan Per Hari
Jumlah Timbulan

Tabel 3.4. Hasil Sampling Komposisi Sampah


No

Sumbe
r

Hari Ke Berat tiap Komponen Sampah


Or
Kr
Ky
Kn
Kt

Pl

Lg

Kc

Dll

1
2
3
Jumlah
Keterangan :
Or

= Organik (sisa makanan dan daun-daunan)

Kr

= Kertas

Ky

= Kayu

Kn

= Kain/tekstil

Kt

= Karet, kulit

Pl

= Plastik

Lg

= Logam

Kc

= Gelas/kaca

Dll

= Sampah lain-lain
Dari tabulasi data hasil sampling timbulan dan komposisi sampah,

kemudian dilakukan penghitungan volume dan berat sampah rata-rata serta


persentase berat dan volume sampah per komponen dengan menggunakan rumus
sebagai berikut.
a. Volume sampah rata-rata per hari

Vrata-rata

(V 1/u)+(V 2/u)+(V 3/u)++(Vn/u)


n
(3.5)

Liter/orang/hari ...
Keterangan :
V1 = Volume sampah sampel no. 1
u = Jumlah penghuni rumah (orang)
n = Total sampel
b. Berat sampah rata-rata
Brata-rata =

(B1/u)+(B2/u)+(B3/u)++(Bn/u)
n

kg/orang/hari

.
Keterangan :
B1 = Berat sampah sampel no. 1
u = Jumlah penghuni rumah (orang)
n = Total sampel
c. Persentase berat sampah per komponen (%)
% Berat per Komponen

(3.6)

Berat Komponenratarata x 100%


Total Berat Sampahratarata
.(3.7)
3.7.5. Analisis Hasil Kuesioner
Setelah kuesioner diisi oleh seluruh responden, dilakukan tabulasi untuk
menghitung hasil kuesioner. Tabulasi hasil kuesioner disajikan dalam bentuk
sebagai berikut.
Tabel 3.5. Hasil Kuesioner
No
.
A
1

Pertanyaan

Jawaban
a.
b.
c.
d.
a.
b.
c.

Jumlah Responden

d.
3.7.6. Analisis Proyeksi Jumlah Penduduk dan Timbulan Sampah
Proyeksi jumlah penduduk dihitung untuk memperkirakan jumlah
penduduk RW V serta RW IV Kelurahan Banyumanik pada tahun 2014-2034.
Sedangkan proyeksi timbulan sampah dihitung berdasarkan proyeksi PDRB Kota
Semarang. Proyeksi penduduk dan timbulan sampah ini akan digunakan untuk
memperkirakan jumlah kebutuhan alat yang akan digunakan selama jangka waktu
20 tahun ke depan.
Untuk melakukan perhitungan proyeksi jumlah penduduk, digunakan
acuan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 3 Tahun 2013 tentang
Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan Dalam Penanganan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
Berikut adalah rumus perhitungan proyeksi jumlah penduduk dan PDRB.
1. Metode Arithmatik
Pn = Po + Ka (Tn To) ..(3.8)
Ka =

P2 P1
T 2 T 1

..

(3.9)
dimana :
Pn = jumlah penduduk pada tahun ke-n
Po = jumlah penduduk pada tahun dasar
Tn = tahun ke-n
To = tahun dasar
Ka= konstanta arithmatik
P1 = jumlah penduduk yang diketahui pada tahun ke-1
P2 = jumlah penduduk yang diketahui pada tahun terakhir
T1 = tahun ke-1 yang diketahui
T2 = tahun ke-2 yang diketahui
2. Metode Geometrik
Pn = Po (1 + r)n ...(3.10)
dimana :
Pn = jumlah penduduk pada tahun ke-n
Po = jumlah penduduk pada tahun dasar
r = laju pertumbuhan penduduk
n = jumlah interval tahun

3. Metode Least Square


Y = a + bX .(3.11)
dimana :
Y = nilai variabel berdasarkan garis regresi
X = variabel independen
a = konstanta
b = koefisien arah regresi linier
Adapun persamaan a dan b adalah sebagai berikut :
2

X
2
n. X
2
Y . X X .Y

(3.12)
a=

X
n. X 2
n. X .Y X .Y

(3.13)
b

Untuk menentukan pilihan rumus proyeksi jumlah penduduk yang akan


digunakan dengan hasil perhitungan yang paling mendekati kebenaran harus
dilakukan analisis dengan menghitung standar deviasi atau koefisien korelasi.
Rumus standar deviasi dan koefisien korelasi adalah sebagai berikut.

Xi X

Xi X 2

s=

s=

untuk n > 20

..(3.14)

untuk n = 20 ..(3.15)

dimana :
s
= standar deviasi
Xi = variabel independen X (jumlah penduduk)
= rata-rata X

= jumlah data

Metode perhitungan proyeksi penduduk yang paling tepat adalah metode


yang memberikan nilai standar deviasi terkecil.
Untuk koefisien korelasi, metode perhitungan proyeksi jumlah penduduk
yang menghasilkan koefisien paling mendekati 1 adalah metode yang terpilih.
3.7.7. Analisis SWOT
Analisis SWOT digunakan untuk menganalisis kondisi eksisting
pengelolaan sampah di RW V serta RW IV Kelurahan Banyumanik berdasarkan
aspek kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan
ancaman (threats). Dari analisis tersebut nantinya didapatkan permasalahan dan
peluang yang bisa diambil untuk mengatasi permasalahan tersebut.
3.8. Perencanaan
3.8.1. Perencanaan

Sistem

Pengelolaan

Sampah

Terpadu

Berbasis

Masyarakat
Dalam melakukan perencanaan sistem pengelolaan sampah terpadu,
dibutuhkan pedoman yang dijadikan sebagai acuan dalam merencanakan suatu
sistem yang tepat. Pedoman yang digunakan dalam perencanaan disajikan dalam
tabel sebagai berikut.
Tabel 3.6. Pedoman Perencanaan
No
.
1

Perencanaan

Sub
Sistem
Operasional
a.
b.
c.
d.

2
3

Pewadahan
Pengumpulan
Pemindahan
Pengelolaan TPST

Sub Sistem Kelembagaan


Sub Sistem Pembiayaan

Pedoman

Teknik
a.
SNI 19-2454-2002
b.
SNI 19-2454-2002, SNI 3242:2008
c.
SNI 19-2454-2002, SNI 3242:2008
d.
SNI
3242:2008,
Pedoman
Umum
Penyelenggaraan Tempat Pengelolaan
Sampah (TPS) 3R Berbasis Masyarakat
SNI 3242:2008, Permendagri No. 5 / 2007
SNI 3242:2008, Pedoman 3R Berbasis

Sub Sistem
Peraturan
Sub Sistem
Masyarakat

3.8.1.1.

Hukum
Peran

Masyarakat di Kawasan Pemukiman


dan Pedoman 3R Berbasis Masyarakat di
Kawasan Pemukiman
Serta SNI 3242:2008, Pedoman Pengelolaan
Persampahan Perkotaan Bagi Pelaksana

Sub Sistem Teknik Operasional

1. Pewadahan
Dalam perencanaan pewadahan dilakukan perhitungan kapasitas wadah yang
sesuai dengan volume sampah yang dihasilkan masyarakat. Perencanaan
pewadahan dibedakan berdasarkan jenis sampah yang dipilah dan akan
dikelola. Kapasitas wadah dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut :
Kapasitas wadah perhari (L/hari) = Timbulan sampah terpilah (L/hr) x
Persentase komposisi sampah dalam
liter (3.16)
2. Pengumpulan
Ada 2 perhitungan dalam perencanaan pengumpulan, yaitu perhitungan
jumlah ritasi dan perhitungan jumlah alat pengumpul.
a. Perhitungan jumlah ritasi
Jumlah
ritasi

Jumlah jamkerja/hari( jam)x 60menit / jam


.(3.17)
Jumlahwaktu
pengambilandalamsekali ritasi(menit/ritasi)

b. Perhitungan jumlah alat pengumpul


Jumlah alat =
..(3.18)
3.

Jumlahtimbulansampah(m3/hari)
Kapasitasalat x Faktor pemadatanalat x Ritasialat

Pemindahan dan Pengolahan di TPST


Pada perencanaan ini dilakukan perencanaan bangunan TPST (Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu) yang berfungsi untuk mengolah dan mengelola
sampah. Kegiatan utama yang dilakukan antara lain pengomposan sampah
organik/bahan kompos dan pemilahan dan penyimpanan sampah layak jual

sebelum dijual. Menurut SNI 3242:2008 tentang Pengelolaan Sampah di


Pemukiman, bangunan pendaur ulang skala komunal memiliki luas 150 m2.
Bangunan TPST ini terdiri dari area penerimaan dan pemilahan, area
pengomposan, area penyimpanan, area residu, kantor, garasi, toilet, dan
gudang alat.
4.

Pemindahan ke TPS
Pada perencanan ini dilakukan perhitungan jumlah ritasi dan kebutuhan
armada yang akan memindahkan sampah berupa sampah residu ke TPS untuk
kemudian diangkut menuju TPA.
3.8.1.2.

Sub Sistem Kelembagaan


Dalam suatu sistem pengelolaan sampah terpadu, diperlukan lembaga

atau organisasi yang bertugas untuk mengelola pelaksanaan sistem yang berfungsi
sebagai perencana, pelaksana, sekaligus evaluator. Lembaga ini dapat berupa
organisasi

kemasyarakatan

yang

berbentuk

KSM

(Kelompok

Swadaya

Masyarakat).
3.8.1.3. Sub Sistem Pembiayaan
Dalam sistem pengelolaan sampah terpadu, pembiayaan merupakan
syarat penting agar penyelenggaraan sistem dapat berjalan dengan lancar.
Pembiayaan dapat bersumber dari iuran warga, pemerintah, atau pihak swasta.
Besarnya iuran sampah diatur berdasarkan kesepakatan warga dan disesuaikan
dengan penghasilan masing-masing KK misalnya dengan prinsip subsidi silang.
3.8.1.4. Sub Sistem Hukum dan Peraturan
Adanya hukum dan peraturan berfungsi untuk mengatur pelaksanaan
kegiatan sistem agar terselenggara sesuai dengan koridornya. Peraturan ini dibuat
oleh masyarakat dan pihak pengelola berdasarkan undang-undang maupun
peraturan daerah yang berlaku. Peraturan yang dibuat antara lain mengatur tentang
pengelolaan sampah dan pembiayaan atau iuran.

3.8.1.5. Sub Sistem Peran Serta Masyarakat


Penyelenggaraan

sistem

pengelolaan

sampah

terpadu

berbasis

masyarakat tidak lepas dari peran serta masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu,
perlu ditentukan terlebih dahulu seperti apa peran serta yang akan dilakukan
masyarakat dalam sistem tersebut. Peran serta masyarakat ini mengarah kepada
pemberdayaan masyarakat.
3.8.2.

Perencanaan Anggaran Biaya (RAB)


Dalam perencanaan sistem pengelolaan sampah perlu merencanakan

anggaran biaya atau RAB untuk mengetahui perkiraan seluruh biaya yang
diperlukan dalam sistem. Biaya yang diperhitungkan mulai dari biaya investasi
untuk pengadaan awal berbagai peralatan hingga biaya operasional dan
pemeliharaan alat serta penentuan besarnya iuran sampah bagi masyarakat.
3.8.2.1. Biaya Investasi
Biaya investasi merupakan biaya pengadaan awal peralatan dan
perlengkapan yang dibutuhkan yang disusun pada awal perencanaan.
3.8.2.2. Sumber Dana
Sumber dana yang digunakan dalam pelaksanaan sistem pengelolaan
sampah terpadu berbasis masyarakat berasal dari iuran warga dan hasil penjualan
sampah.
3.8.2.3. Biaya Penyusutan
Biaya penyusutan merupakan biaya yang diperoleh akibat penyusutan
harga dari barang atau peralatan yang dibeli. Perhitungan biaya penyusutan
mengacu pada SNI 3242:2008 dengan rumus sebagai berikut.
Biaya penyusutan =
(3.19)

Biayainvestasi
Umur pakai

..

3.8.2.4. Biaya Operasional dan Pemeliharaan


Dalam pelaksanaan sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis
masyarakat tentu diperlukan biaya operasional dan pemeliharaan di setiap unitnya.
Biaya ini meliputi pemeliharaan alat, penyediaan bahan dan alat, upah tenaga
kerja, pembayaran listrik dan air.
3.8.2.5. Biaya Pengelolaan Sampah
Biaya

pengelolaan

sampah

digunakan

untuk mengetahui

biaya

pengelolaan sampah setiap m3 per harinya. Biaya pengelolaan sampah dapat


dihitung dengan rumus berikut.
Biaya

pengelolaan

sampah

(3.20)

Biayaoperasional per hari


Timbulan sampahm3/hari

3.8.2.6. Biaya Reinvestasi


Biaya reinvestasi diperlukan karena peralatan yang digunakan dalam
pelaksanaan memiliki umur dan masa pakai dalam jangka waktu tertentu sehingga
perlu perhitungan biaya reinvestasi. Biaya reinvestasi ini dipengaruhi oleh
pertumbuhan inflasi.
3.8.2.7. Hasil Penjualan Sampah
Hasil penjualan sampah merupakan keuntungan yang diperoleh dari hasil
penjualan kompos, sampah plastik, sampah kertas, sampah kaleng, sampah
kaca,dan sampah logam besi yang masih layak jual kepada pihak lapak. Besarnya
keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan dapat dihitung dengan rumus
berikut.
Timbulan sampah A = timbulan sampah per hari x persentase komposisi sampah
A ..(3.21)
Timbulan sampah A layak jual = timbulan sampah A x recovery factor sampah A
..(3.22)

Hasil penjualan sampah = timbulan sampah A layak jual x harga jual sampah A
..(3.23)
3.8.2.8. Iuran Sampah
Iuran sampah berasal dari warga (KK) yang membayar iuran sampah
kepada perwakilan RT atau Dasa Wisma yang kemudian disetorkan kepada
Bendahara KSM Bangunharjo. Besar iuran akan ditentukan berdasarkan tingkat
penghasilan atau kemampuan ekonomi masyarakat RW V serta RW IV Kelurahan
Banyumanik. Besarnya iuran yang harus dibayar dapat dihitung dengan rumus
berikut.
Besar iuran =
(3.24)

BiayaOP per bulan


timbulan sampah per bulan

Timbulan per KK per bulan


1000

3.8.2.9. Neraca Laba Rugi


Neraca laba rugi berfungsi untuk mengetahui keuntungan dan kerugian
dalam pelaksanaan sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat.
Keuntungan atau kerugian tersebut dapat dilihat dari selisih pendapatan dengan
pengeluaran.
Mulai

Identifikasi Masalah

1.

Persiapan

2.
3.

Tahap Persiapan

4.

Pengambilan Data

Kondisi Eksisting Pengelolaan Sampah

Perizinan ke Instansi
Terkait
Survey Lokasi
Persiapan Alat
Pengambilan Sampel
Kuesioner

Kependudukan

Tahap Pelaksanaan

1.
2.
3.
4.

5.

Sub Sistem Teknik Operasional


Sub Sistem Kelembagaan
Sub Sistem Pembiayaan
Sub Sistem Hukum dan Peraturan
Sub Sistem Peran Serta Masyarakat

1.
2.
3.
4.

5.

Jumlah penduduk
Jumlah KK
Karakteristik penduduk
Data sarana prasarana
Nilai PDRB

Studi
Literatur

Tahap Perencanaan

Analisis Data :
1.
Kondisi eksisting pengelolaan sampah
2.
Kondisi wilayah daerah studi
3.
Volume timbulan dan komposisi sampah
4. Hasil kuesioner

Perencanaan :
1.
Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis
Mayarakat, yang meliputi :
a.
Sub Sistem Teknik Operasional
Pewadahan
Pengumpulan
Pemindahan dan Pengolahan di TPST
Pemindahan ke TPS
b.
Sub Sistem Kelembagaan
c.
Sub Sistem Pembiayaan
d.
Sub Sistem Hukum dan Peraturan
e. Sub Sistem Peran Serta Masyarakat

2.

Rencana Anggaran Biaya (RAB)


a.
Biaya Investasi
b.
Sumber Dana
c.
Biaya Penyusutan
d.
Biaya Operasional dan Pemeliharaan
e.
Biaya Pengelolaan Sampah
f.
Biaya Reinvestasi
g.
Haisl Penjualan Sampah
h.
Iuran Sampah
i.
Neraca Laba-Rugi

Penyusunan Laporan

Selesai

Gambar 3.3. Diagram Alir Tahapan Perencanaan