Anda di halaman 1dari 7

PENYAKIT MENIERE

Penyakit iniditemukan oleh Meniere pada 1861, dan dia yakin bahwa penyakit ini berada
dalam telinga, sedangkan pada waktu itu para ahli banyak menduga bahwa penyakit itu berada
pada otak. Dan pernyataan Meniere dibenarkan oleh Hallpike dan Cairn dengan ditemukannya
hidrops endolimfe, setelah memeriksa tulang temporal pasien meniere. Penyakit Meniere adalah
suatu sindrom yang terdiri dari serangan vertigo, tinnitus, dan berkurangnya pendengaran secara
progresif.
Pengertian vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar. Pengertian
vertigo adalah: sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat
disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh.
Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala
atau sindrom yang terdiri dari gejala somatic (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh
dingin, mual, muntah) dan pusing.
Sedangkan tinnitus merupakan gangguan pendengaran dengan keluhan selalu mendengar
bunyi, namun tanpa ada rangsangan bunyi dari luar. Sumber bunyi tersebut berasal dari tubuh
penderita itu sendiri, meski demikian tinnitus hanya merupakan gejala, bukan penyakit, sehingga
harus di ketahui penyebabnya.
Pada kebanyakan kasus-kasus hanya satu telinga yang terlibat, namun kedua telinga
mungkin dipengaruhi pada kira-kira 10% sampai 20% dari pasien-pasien. Penyakit Meniere
secara khas mulai antara umur 20 dan 50 tahun (meskipun telah dilaporkan pada hampir semua
kelompok umur). Pria-pria dan wanita-wanita sama-sama dipengaruhi. Gejala-gejala mungkin
hanya gangguan minor, atau dapat menjadi melumpuhkan, terutama jika serangan-serangan dari
vertigo berat/parah, seringkali, dan terjadi tanpa peringatan. Penyakit meniere juga disebut
idiopathic endolymphatic hydrops.
Penyebab
Penyebab penyakit meniere tidak diketahui namun terdapat berbagai teori, termasuk
pengaruh neurokimia dan hormonal abnormal pada aliran darah yang menuju ke labirin,
gangguan elektrolit dalam cairan labirin, reaksi alergi, dan gangguan autoimun.

Penyakit meniere masa kini dianggap sebagai keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan
cairan telinga tengah yang abnormal yang disebabkan oleh malapsorbsi dalam sakus
endolimfatikus. Namun, ada bukti menunjukkan bahwa banyak orang yang menderita penyakit
Meniere mengalami sumbatan pada duktus endolimfatikus. Apapun penyebabnya, selalu terjadi
hidrops endolimfatikus, yang merupakan pelebaran ruang endolimfatikus. Baik peningkatan
tekanan dalam sistem ataupun ruptur membran telinga dalam dapat terjadi dan menimbulkan
gejala meniere.
Manifestasi Klinis
Gejalanya berupa serangan vertigo tak tertahankan episodic yang sering disertai mual
dan/atau muntah, yang berlangsung selama 3-24 jam dan kemudian menghilang secara
perlahan.
Secara periodik, penderita merasakan telinganya penuh atau merasakan adanya tekanan
di dalam telinga.
Kehilangan pendengaan sensorineural progresif dan fluktuatif. Tinnitus bisa menetap atau
hilang-timbul dan semakin memburuk sebelum, setelah maupun selama serangan vertigo.
Pada kebanyakan penderita, penyakit ini hanya menyerang 1 telinga dan pada 10-15%
penderita, penyakit ini menyerang kedua telinga.
Terdapat trias atau sindrom meniere yaitu vertigo, tinitus, dan tuli saraf. Serangan
pertama sangat berat, yaitu vertigo disertai muntah. Setiap kali berusaha untuk berdiri dia merasa
berputar, mual, dan terus muntah lagi. Hal ini berlangsung beberapa hari sampai beberapa
minggu meskipun keadaannya berangsur baik. Penyakit ini bisa sembuh tanpa obat dan gejala
penyakit bisa hilang sama sekali. Pada serangan kedua kalinya dan selanjutnya dirasakan lebih
ringan tidak seperti serangan yang pertama kali. Pada penyakit Meniere vertigonya periodik yang
makin mereda pada serangan-serangan berikutnya.
Selain vertigo, biasanya pasien juga mengalami keluhan di telinga berupa tinitus, tuli
sensorineural terhadap frekuensi rendah, dan sensasi rasa penuh di telinga.
Ada 3 tingkat derajat keparahan penyakit meniere, yaitu:
Derajat I :
Gejala awal berupa vertigo yang disertai mual dan muntah. Gangguan vagal seperti pucat
dan berkeringat dapat terjadi. Sebelum gejala vertigo menyerang, pasien dapat merasakan
sensasi di telinga yang berlangsung selama 20 menit hingga beberapa jam. Diantara
serangan, pasien sama sekali normal.

Derajat II :
Gangguan pendengaran semakin menjadi-jadi dan berfluktuasi. Muncul gejala tuli
sensorineural terhadap frekuensi rendah.
Derajat III :
gangguan pendengaran tidak lagi berfluktuasi namun progresif memburuk. Kali ini
mengenai kedua telinga sehingga pasien seolah mengalami tuli total. Vertigo mulai
berkurang atau menghilang
Pada setiap serangan disertai dengan gangguan pendengaran dan dalam keadaan tidak ada

serangan pendengaran dirasakan baik kembali. Gejala lain yang menyertai serangan adalah
tinitus kadang-kadang menetap meskipun di luar serangan. Gejala yang lain menjadi tanda
khusus adalah perasaan penuh di dalam telinga.
Dari keluhan vertigonya kita sudah dapat membedakan dengan penyakit yang lainnya
yang juga mempunyai gejala vertigo seperti penyakit Meniere, tumor N. VIII, sklerosis multipel,
neuritis vestibuler, atau benign paroksismal positional vertigo (BPPV).
Pada tumor N. VIII serangan vertigo periodik, mula-mula lemah dan makin lama makin
kuat. Pada sklerosis multipel, vertigo periodik tetapi intensitas serangan sama pada setiap
serangan. Pada neuritis vestibuler serangan vertigo tidak periodik dan makin lama makin
menghilang. Penyakit ini diduga disebabkan virus. Biasanya penyakit ini timbul setelah
menderita influenza. Vertigo hanya didapatkan pada permulaan penyakit. Penyakit ini akan
sembuh total bila tidak disertai dengan komplikasi.
Gejala klinis penyakit Meniere disebabkan oleh adanya hidrops endolimfa pada koklea
dan vestibulum. Hidrops yang terjadi mendadak dan hilang timbul diduga disebabkan oleh :
1. Meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri.
2. Berkurangnya tekanan osmotik di dalam kapiler.
3. Meningkatnya tekanan osmotik ruang ekstrakapiler.
4. Jalan keluar sakus endolimfatikus tersumbat, sehingga terjadi penimbunan cairan endolimfa.
Pada pemeriksaan histopatologi tulang temporal, ditemukan pelebaran dan perubahan
morfologi pada membran Reissner. Terdapat penonjolan ke dalam skala vestibuli, terutama di
daerah apeks koklea helikotrema. Sakulus juga mengalami pelebaran yang dapat menekan
utrikulus. Pada awalnya pelebaran skala media di mulai dari daerah apeks koklea kemudian
dapat meluas mengenai bagian tengah dan basal koklea. Hal ini dapat menjelaskan terjadinya tuli
saraf nada rendah pada penyakit meniere.
Perubahan posisi dari tegak menjadi telentang dengan kepala menggantung dan telinga di
bawah, menyebabkan pergeseran hebat pada kupula kanalis posterior. Timbulnya vertigo
memerlukan waktu beberapa detik, karena untuk pergeseran massa tersebut diperlukan waktu.

Besarnya sensasi vertigo dan nistagmus dipengaruhi oleh besarnya pergeseran kupula. Vertigo
yang cepat hilang dapat disebabkan karena massa telah bergeser dan kupula kembali ke posisi
normal.
Tipe
a. Penyakit Meniere vestibular
Penyakit Meniere vestibular ditandai dengan adanya vertigo episodic sehubungan dengan
tekanan dalam telinga tanpa gejala koklear.
Tanda dan gejala:

Vertigo hanya bersifat episodic


Penurunan respons vestibuler atau tak ada respons total pada telinga yang sakit
Tak ada gejala koklear
Tak ada kehilangan pendengaran objektif
Kelak dapat mengalami gejala dan tanda koklear

b. Penyakit Meniere klasik


Tanda dan gejala:

Mengeluh vertigo
Kehilangan pendengaran sensorineural berfluktuasi tinitus

c. Penyakit Meniere koklea


Penyakit Meniere koklea dikenali dengan adanya kehilangan pendengaran sensorineural
progresif sehubungan dengan tnitus dan tekanan dalam telinga tanpa temuan atau gejala
vestibuler.
Tanda dan gejala:

Kehilangan pendengaran berfluktuasi


Tekanan atau rasa penuh aural
Tinnitus
Kehilangan pendengaran terlihat pada hasil uji
Tak ada vertigo

Uji labirin vestibuler normal


Kelak akan menderita gejala dan tanda vestibuler

Evaluasi Diagnostik
Pemeriksaan fisik biasanya normal kecuali pada evaluasi nervus cranial ke VIII.
Garputala (uji weber) akan menunjukkan lateralisasi ke sisi berlawanan dengan sisi yang
mengalami kehilangan pendengaran (sisi yang terkena penyakit Meniere).
Audiogram biasanya menunjukkan kehilangan pendengaran sensorineural pada telinga
yang sakit. Kadang audiogram dehidrasi dilakukan di mana pasien diminta meminum zat
penyebab dehidrasi, seperti gliserol atau urea, yang secara teoritis dapat menurunkan jumlah
hidrops endolimfe.
Elektrokokleografi menunjukkan abnormalitas pada 60% pasien yang menderita penyakit
meniere. Elektronistagmogram bisa normal atau menunjukkan penurunan respons vestibuler.
Selanjutnya juga dilakukan pemeriksaan CT scan atau MRI kepala, elektroensefalografi, dan
stimulasi kalorik.
Penatalaksanaan
Diet. Banyak pasien dapat mengontrol gejala dengan mematuhi diet rendah garam (2000
mg/hari). Jumlah natrium merupaka salah satu faktor yang mengatur keseimbangan cairan dalam
tubuh. Retensi natrium dan ciran dapat memutuskan keseimbangan halus antara endolimfe dan
perilimfe di dalam telinga dalam.
Garam Natrium terdapat secara alamiah dalam bahan makanan atau ditambahkan
kemudian pada waktu memasak atau mengolah. Makanan berasal dari hewan biasanya lebih
banyak mengandung garam Natrium daripada makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Garam Natrium yang ditambahkan ke dalam makanan biasanya berupa ikatan : natrium
Chlorida atau garam dapur, Mono Sadium Glumat atau vetsin, Natrium Bikarbonat atau soda
kue, Natrium Benzoat atau senyawa yang digunakan untuk mengawetkan daging seperti cornet
beef.
Makanan yang diperbolehkan adalah:

1. Semua bahan makanan segar atau diolah tanpa garam natrium, yang berasal dari tumbuhtumbuh, seperti :

Beras, kentang, ubi, mie tawar, maezena, hunkwee, terigu, gula pasir.
Kacang-kacangan dan hasil oleh kacang-kacangan seperti kacang hijau, kacang merah,

kacang tanah, kacang tolo, tempe, tahu tawar, oncom.


Minyak goreng, margarin tanpa garam.
Sayuran dan buah-buahan.
Bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, kunyit, kencur, laos,
lombok, salam, sereh, cuka.

2. Bahan makanan berasal dari hewan dalam jumlah terbatas.


3. Minuman seperti the, sirup, sari buah.
Makanan yang perlu dibatasi:
1. Semua bahan makanan segar atau diolah tanpa garam Natrium, yang berasal dari tumbuhtumbuhan, seperti :

Roti biskuit, kraker, cake dan kue lain yang dimasak dengan garam dapur dan atau soda.
Dendeng, abon, corned beef, daging asap, bacon, ham, ikan asin, ikan pindang, sarden,

ebi, udang kering, telur asing, telur pindang.


Keju, Keju kacang tanah (pindakas).
Margarin, mentega.
Acar, asinan sayuran dalam kaleng.
Asinan buah, manisan buah, buah dalam kaleng.
Garam dapur, vetsin, soda kue, kecap, maggi, terasi, petis, taoco, tomato ketcup.

2. Otak, ginjal, paru-paru, jantung dan udang mengandung lebih banyak natrium. Sebaiknya
bahan makanan ini dihindarkan.
Kafein dan nikotin merupakan stimulan vasoaktif, dan menghindari kedua zat tersebut
dapat mengurangi gejala. Ada kepercayaan bahwa serangan vertigo dipicu oleh reaksi alergi
terhadap ragi dalam alkohol dan bukan karena alkoholnya.
Farmakologis

Tindakan pengobatan untuk vertigo terdiri atas antihistamin, seperti meklizin (antivert),
yang menekan sistem vestibuler. Tranquilizer seperti diazepam (valium) dapat digunakan pada
kasus akut untuk membantu mengontrol vertigo, namun karena sifat adiktifnya tidak digunakan
sebagai pengobatan jangka panjang. Antiemetik seperti supositoria prometazin (phenergan) tidak
hanya mengurangi mual dan muntah tapi juga vertigo karena efek antihistaminnya. Diuretik
seperti Dyazide atau hidroklortiazid kadang dapat membantu mengurangi gejala penyakit
Meniere dengan menurunkan tekanan dalam sistem endolimfe. Pasien harus diingatkan untuk
makan-makanan yang mengandung kalium, seperti pisang, tomat, dan jeruk ketika menggunakan
diuretik yang menyebabkan kehilangan kalium.
Penatalaksanaan Bedah
Dekompresi sakus endolimfatikus atau pintasan secara teoritis akan menyeimbangkan
tekanan dalam ruangan endolimfe. Pirau atau drain dipasang di dalam sakus endolimfatikus
melalui insisi postaurikuler.
Obat ortotoksik, seperti streptomisisn atau gentamisisn, dapat diberikan kepada pasien
dengan injeksi sistemik atau infus ke telinga tengah dan dalam.
Prosedur labirinektomi dengan pendekatan transkanal dan transmastoid juga berhasil
sekitar 85% dalam menghilangkan vertigo, namun fungsi auditorius telinga dalam juga hancur.
Pemotongan nervus nervus vestibularis memberikan jaminan tertinggi sekitar 98% dalam
menghilngkan serangan vertigo. Dapat dilakukan translabirin (melali mekanisme pendengaran)
atau dengan cara yang dapat mempertahankan pendengaran (suboksipital atau fosa kranialis
medial), bergantung pada derajat hilangnya pendengaran. Pemotongan saraf sebenarnya
mencegah otak menerima masukan dari kanalis semisirkularis.