Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR II
ANALISA KUALITATIF GUGUS FUNGSI (I)

OLEH
KELOMPOK 7
NAMA

: NADYA FARAH KAMILIA

NIM

: F1D113018

PRODI

: TEKNIK PERTAMBANGAN

NAMA ASLAB

: 1. Olivia Stephani (F1C111040)


2. Ernilawati S (F1C111015)
3. Magdalena Normalina S
(F1C111053)
4. Lenny Theresia (F1C111041)

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS JAMBI
JAMBI
2014

ANALISA KUALITATIF GUGUS FUNGSI (I)

I.
Tujuan Praktikum
A. Alkena
- Untuk menentukan adanya

ikatan rangkap pada

suatu

senyawa
B. Alkohol
- Memahami tentang:
1. Sifat fisika alkohol fenol
2. Reaksi-reaksi alkohol fenol
3. Reaksi-reaksi yang membedakan alkohol dan fenol
II.
Landasan Teori
A. Alkena

Dalam suatu reaksi adisi (penghilangan ikatan rangkap/reaksi


penambahan), ikatan phi akan diputus dan pasangan elektron
ikatannya akan digunakan untuk membentuk dua buah ikatan
sigma.

-CC-

-C-C-

Senyawa yang mengandung ikatan phi biasanya mempunyai


energi lebih tinggi daripada senyawa padanannya yang hanya
mengandung ikatan sigma, karena itu suatu reaksi adisi biasanya
berlangsung eksoterm.

Ikatan rangkap dan ikatan rangkap tiga

dengan mudah akan bereaksi dengan molekul halida (X 2) atau


dengan hidrogen halida (HX) pada suhu kamar. Brom merupakan
reagen yang baik untuk menguji adanya ikatan tak jenuh karena

hilangnya warna brom sesudah bereaksi dengan ikatan tak jenuh


dengan mudah dapat diamati.

Ikatan ganda dua juga bereaksi

dengan larutan KMnO4 sehingga menghasilkan diol yang ditandai


dengan hilangnya warna ungu dari ion permanganat.
(Chang, 2004)
Alkena atau olefin dalam kimia
organik adalah hidrokarbon tak
rangkap

dua

jenuh dengan

antara atom karbon. Alkena

sebuah

asiklik

yang

ikatan
paling

sederhana, yang membentuk satu ikatan rangkap dan tidak


berikatan

dengan gugus

membentuk

suatu

fungsional manapun,

kelompok

maka

hidrokarbon dengan

akan
rumus

umum CnH2n.
Ciri-ciri

fisik

alkena

tidak

berbeda

jauh

dengan alkana.

Perbandingan utama di antara keduanya adalah alkena mempunyai


tingkat

keasaman

yang

jauh

lebih

tinggi

dibandingkan

alkana. Wujud zat dari alkena tergantung dari massa molekulnya.


tiga

alkena

yang

paling

sederhana

: etena, propena,

dan butena berbentuk gas. Alkena linear yang memiliki 5 sampai 16


atom karbon berwujud cair, dan alkena yang memiliki atom karbon
lebih dari 15 berwujud padat.
(Budi, 2004)
Alkena yang paling sederhana adalah etena atau etilena
(C2H4),

Senyawa aromatik seringkali

juga

digambarkan

seperti

alkena siklik, tapi struktur dan ciri-ciri mereka berbeda sehingga


tidak dianggap sebagai alkena.
Untuk mengikuti tatanama IUPAC, maka seluruh alkena
memiliki nama yang diakhiri ena. Pada dasarnya, nama alkena
diambil dari nama alkana dengan menggantikan akhiran ana

dengan ena. C2H6 adalah alkana bernama etena sehingga C2H4


diberi nama etena.
Pada alkena yang memiliki kemungkinan ikatan rangkap di
beberapa tempat, digunakan penomoran dimulai dari ujung yang
terdekat dengan ikatan tersebut sehingga atom karbon pada ikatan
rangkap bernomor sekecil mungkin untuk membedakan isomernya.
Contohnya adalah 1-heksena dan 2-heksena. Penamaan cabang
sama dengan alkana.
(Bradi, 1999)
Pada alkena yang lebih tinggi, dimana terdapat isomer yang
letaknya berbeda dengan letak ikatan rangkap, maka sistem
penomoran berikut ini dipakai:
1. Penomoran rantai karbon terpanjang dilihat dari ujung yang
terdekat dengan ikatan rangkap, sehingga atom karbon pada
ikatan rangkap tersebut mempunyai nomor sekecil mungkin.
2. Ketahui letak ikatan rangkap dengan letak karbon rangkap
pertamanya.
3. Penamaan rantai alkena itu mirip dengan alkana.
4. Beri nomor pada atom karbon, ketahui letak lokasi dan nama
gugusnya, ketahui letak ikatan rangkap, lalu terakhir namai
rantai utamanya.
(Kurniati, 2013)

Berbagai contoh penamaan isomer 1-heksena. Gambar kiri: 1heksena, gambar tengah: 4-metil-1-heksena, gambar kanan: 4-etil2-metil-1-heksena.
Dalam sebuah kasus khusus pada alkena dimana 2 atom
karbon mempunyai 2 gugus yang sejenis, maka notasi cis-trans
dapat dipakai. Jika gugus sejenis terletak pada tempat yang sama
dari ikatan rangkap, maka disebut sebagai (cis-). Jika gugus sejenis
terletak berseberangan, maka disebut sebagai (trans-).

Perbedaan antara isomer cis- dan trans-. Kiri: cis-2-butena, kanan:


trans-2-butena
(Budi, 2008)
B. Alkohol

Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga


disebut grain

alcohol;

dan

kadang

untuk minuman yang

mengandung alkohol. Hal ini disebabkan karena memang etanol


yang digunakan sebagai bahan dasar pada minuman tersebut,
bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan
alkohol

yang

digunakan

dalam

dunia

famasi.

Alkohol

yang

dimaksudkan adalah etanol. Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia


memiliki pengertian yang lebih luas lagi.
(Syukri, 1999)
Adanya suatu gugus hidroksil dalam alkohol dan fenol
memungkinkan terjadinya ikatan hidrogen antara molekul-molekul
tersebut dan ikatan hidrogen dengan senyawa lain yang bersifat
polar seperti air.

Hal ini menyebabkan golongan senyawa ini

mempunyai kelarutan yang besar dalam air, terutama untuk


golongan alkohol dengan berat molekul rendah.
Fenol merupakan alkohol siklik yang bersifat lebih asam
sehingga dapat membentuk garam natrium bila direaksikan dengan
NaOH yang bersifat larut dalam air. Berdasarkan pada jenis atom C
tempat terikatnya gugus hidroksil, alkohol digolongkan menjadi

alkohol

primer,

sekunder,

dan

tersier.

Alkohol

mempunyai

kecepatan reaksi yang berbeda terhadap suatu pereaksi tertentu,


bahkan dapat berbeda dalam hal hasil yang diperoleh, tergantung
kepada jenis atau golongan alkoholnya.
(Purna, 2007)
Dalam kimia, alkohol atau alkanol adalah istilah yang umum
untuk ssenyawa organik apapun yang memiliki gugus hidroksi (-OH)
yang terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon lain.
Gugus fungsional alkohol adalah gugus hidroksil yang terikat
pada karbon hibridisasi sp3. Ada tiga jenis utama alkohol - 'primer',
'sekunder, dan 'tersier'. Nama-nama ini merujuk pada jumlah
karbon yang terikat pada karbon C-OH. Alkohol primer paling
sederhana adalah metanol. Alkohol sekunder yang paling sederhana
adalah 2-propanol, dan alkohol tersier paling sederhana adalah 2metil-2-propanol.
(Chang, 2004)
Rumus kimia umum alkohol adalah CnH2n+1OH'. alkohol dapat
digunakan

sebagai

pengawet,

untuk

bahan

gakar

otomotif.

Etanol dan metanol dapat dibuat untuk membakar lebih bersih


dibanding bensin atau diesel.

Alkohol

dapat

digunakan

sebagai antibeku pada radiator.


Dalam sistem tata nama IUPAC, nama-nama senyawa alkana
kehilangan akhiran e dan diganti dengan ol, contohnya metana
menjadi metanol dan etana menjadi etanol. Ketika dibutuhkan,
posisi dari gugus hidroksil dapat diketahui dari nomor diantara

nama

alkana

dan

ol:1-propanol untuk

CH3CH2CH2OH, 2-

propanol untuk CH3CH(OH)CH3. Jika ada gugus fungsi yang lebih


tinggi

(seperti aldehida, keton,

awalannya

adalah

atau asam

"hidroksi", contohnya:

karboksilat,

maka

1-hidroksi-2-propanon

(CH3COCH2OH).
(Brady, 1999)

Beberapa contoh senyawa alkohol dan bagaimana menamainya

Alkohol

adalah asam lemah,

keelektronegatifan antara

Oksigen

karena

dan

perbedaan

Hidrogen

pada

gugus

hidroksil, yang memampukan Hidrogen lepas dengan mudah. Bila di


dekat

Karbon

Hidroksi

elektron seperti fenil atau halogen,


Sebaliknya,

semakin

terdapat gugus
maka

banyak gugus

keasaman

pendorong

penarik
meningkat.

elektron seperti

rantai alkana, keasaman menurun.


(Kurniati, 2013)

Dua

alkohol

paling

adalah metanol dan etanol (nama

sederhana

umumnya metil alkohol

dan etil alkohol) yang strukturnya sebagai berikut:


H

HH

||

H-C-O-H
|

H-C-C-O-H
||

HH

metanol

etanol

Dalam peristilahan umum, "alkohol" biasanya adalah etanol


atau grain

alcohol.

Etanol

dari fermentasi buah atau gandum dengan ragi.

dapat

dibuat

Etanol

sangat

umum digunakan, dan telah dibuat oleh manusia selama ribuan


tahun. Etanol adalah salah satu obat rekreasi (obat yang digunakan
untuk bersenang-senang) yang paling tua dan paling banyak
digunakan di dunia. Dengan meminum alkohol cukup banyak, orang
bisa mabuk. Semua alkohol bersifat toksik (beracun), tetapi etanol
tidak terlalu beracun karena tubuh dapat menguraikannya dengan
cepat.
(Budi, 2008)

III.

Alat Bahan dan Prosedur Kerja


a. Alat dan bahan

A. Alkena

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Alat

Tabung reaksi
Pipet
Rak tabung reaksi
Batang pengaduk
Gelas piala 100 mL
Gelas Ukur 50 mL

:
:
:
:
:
:

10 buah
5 buah
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah

Bahan

1. Bromine dalam CCl4 (air brom 2%)


2. KMnO4
3. Etanol

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

B. Alkohol
Alat
Rak tabung reaksi
Tabung reaksi
Penangas air
Gelas piala 100 mL
Gelas piala 50 mL
Pipet tetes
Gelas ukur 100 mL
Gelas ukur 50 mL

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Bahan
Etanol, 2-butanol, tersier butil alkohol, dan fenol
Pereaksi Lucas (ZnCl2 dalam HCl)
H2SO4 pekat
Kertas pH
Asam asetat glasial
FeCl3 1%

:1
: 1 buah
: 1 buah
: 3 buah
:2
:5
: 1 buah
:1

buah

buah
buah
buah

b. Skema kerja
A. Alkena
1. Tes bromine
Tabung reaksi
Dimasukkan 1 mL larutan yang akan
dianalisa
Ditambahkan air brom setetes demi
setetes
Dikocok
Catat hasil percobaan
di tabel pengamatan

2. Tes bromine

Tabung reaksi

Dimasukkan 1 mL larutan yang akan


dianalisa
Ditambahkan 2 mL air atau etanol
Ditambahkan tetes demi tetes larutan
berair kalium
Dikocok

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan

3. Reaksi dengan H2SO4 pekat


Tabung reaksi
Dimasukkan 1 mL asam sulfat pekat
dingin
Ditambahkan 2 tetes zat yang akan di
analisa
Diaduk perlahan-lahan

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan
B. Alkohol
1. Kelarutan dan Keasaman

Tabung reaksi

Dimasukkan 2 mL air dan 0,5 mL


senyawa alkohol yang hendak diuji
(etanol, 2-butanol, dan fenol)
Dikocok dan diamati
Dicatat hasil pengamatan
Dilakukan uji masing-masing
dengan kertas lakmus

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan

larutan

2. Penguji Lucas
Beberapa Tabung
reaksi

Dimasukkan pereaksi lucas


Ditambahkan kira-kira 1 mL alkohol
yang hendak diuji (alkohol primer,
sekunder, dan tersier)
Dikocok selama 30 detik
Dicatat waktu yang diperlukan untuk
larutan menjadi keruh atau memisah
menjadi dua lapisan

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan
3. Reaksi fenol dengan
FeCl3
Tabung reaksi
yang terpisah

Di larutkan 0,5 mL senyawa yang akan

diuji (etanol, 2-butanol, dan fenol) dengan


5 mL air
Ditambahkan 1-2 tetes FeCl3 kedalam
masing-masing tabung reaksi
Dikocok dan diamati

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan

4. Reaksi esterifikasi
Tabung reaksi

Dicampurkan

di

dalamnya

mL

alkohol dengan 3 mL asam asetat


glasial
Ditambahkan 0,5 mL H2SO4 pekat
Dipanaskan pada penangas air kirakira 5 menit
Diamati baunya

Catat hasil percobaan


di tabel pengamatan

IV.

Hasil dan Pembahasan

IV.1

Data Percobaan

A. Alkana
No
1

Senyawa
Alkana

KMnO4
Terjadinya dua lapisan.

H2SO4 pekat
Terjadinya prubahan

warna menjadi keruh


Larut
Tidak Jenuh

Lapisan atas reagen ungu


-

hilang
Terbentuknya endapan

warna coklat
Tes Positif

B. Alkohol
1. Kelarutan/pH
No
1
2
3
4

Nama zat
Etanol
2-Butanol
Butil Alkohol
Fenol

Pengamatan
Larut, berwarna kekuningan
Larut, berwarna bening
Larut, berwarna bening
Andanya endapan, lapisan atas

Keterangan
pH 5
pH 6
pH 6
pH 5

berwarna bening dan endapan


berwarna kuning

2. Pereaksi Lucas
No
1
2
3

Nama zat
Etanol
2-Butanol
t-butil alkohol

Pengamatan
Larut, Bening
Larut, bening
Larut, bening

Keterangan
Negatif
Negatif
Negatif

3. Reaksi dengan FeCl3


No
1
2
3

Nama zat
Etanol
2-Butanol
Fenol

Pengamatan
Tidak terjadi reaksi positif
Tidak terjadi reaksi positif
Terjadi reaksi positif, terbentuk cincin

Keterangan
Berwarna Kuning
Berwarna Kuning
Berwarna Ungu

berwarna ungu

4. Esterifikasi
No
1
2
3

Nama zat
Etanol
2-Butanol
t-butil alkohol

Pengamatan
Baunya menyengat
Baunya menyengat
Baunya lebih menyengat

Keterangan
Beningm oren, pink
Kunng, bening
Keruh

4.2 Pembahasan
A. Alkana
Pada percobaan kali ini zat yang seharusnya digunakan adalah alkena, tetapi
dalam percobaan menggunakan alkana.
Pada percobaan alkana, tes bromine tidak dilakukan, yang dilakukan hanya tes
bayer (KMnO4) dan reaksi dengan H2SO4 pekat saja
1. Tes bayer (KMnO4)
ketika 1 mL zat alkana ditambahkan 2 mL etanol (dalam hal ini kami
menggunakan etanol sebagai pelarut) kemudian ditambahkan kalium permanganat
tetes demi tetes, setelah satu menit warna ungu dari reagen hilang dan terbentuk
endapan coklat. Menurut literatur tes positif jika warna ungu dari reagen hilang
dan terbentuk endapan coklat, maka dapat disimpulkan bahwa hasilnya adalah
positif. Dari percobaan terjadi dua lapis, lapisan atas reagen ungu mengilang dan
lapisan bawah terbentuk endapan berwarna coklat.
2. Reaksi dengan H2SO4 pekat
1 mL (20 tetes) asam sulfat pekat dingin ditambahkan 2 tetes alkana dan diaduk
dengan perlahan-lahan, terjadi perubahan temperatur dari yang semula dingin
menjadi panas. Menurut literatur, jika senyawa larut atau jika tinbul warna, atau
terjadi perubahan temperatur berarti senyawa yang dianalisa tidak jenuh. Maka
dapat disimpulakan bahwa alkana bersifat tidak jenuh karena pada saat dilakukan
percobaan terjadi perubahan temperatur dari yang semula dingin menjadi panas.

B. Alkohol
1. Kelarutan/pH

Masing-masing senyawa yang diuji ( etanol, 2-butanol, dan fenol ) sebanyak


0,5 mL ketika dicampurkan dengan 2 mL air dan dikocok lalu kenudian diuji
diatas kertas lakmus didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut

Etanol : ketika diaduk dengan air tidak berbuih, berwarna kekuningan dan
larut, menurut hasil uji diatas kertas lakmus nilai pH nya adalah 5

2-butanol : ketika diaduk dengan air larutan berbuih berwarna bening dan
larut, menurut hasil uji diatas kertas lakmus nilai pH nya adalah 6

Butil Alkohol : ketika diaduk dengan air larutan berbuih berwarna bening dan
larut, menurut hasil uji diatas kertas lakmus nilai pH nya adalah 6

Fenol : ketika diaduk dengan air larutan berbuih, terjadi endapan berwarna
kuning dan keruh, menurut hasil uji diatas kertas lakmus nilai pH nya adalah
5
2. Pereaksi lucas

1 mL larutan pereaksi lucas ditambahkan kira-kira 1 mL alkohol yang hendak


diuji, lalu dikocok selama 30 detik dan didiamkan selama kurang lebih 30 menit,
didapatkan hasil uji sebagai berikut:

1 mL larutan pereaksi lucas + 1 mL alkohol primer (etanol) : tidak terjadi


perubahan warna tetap bening dan larut. Maka disimpulkan bahwa hasilnya
negatif

1 mL larutan pereaksi lucas + 1 mL alkohol sekunder (2-butanol) : tidak


terjadi perubahan warna tetap bening dan larut. Maka disimpulkan bahwa
hasilnya negatif

1 mL larutan pereaksi lucas + 1 mL alkohol tersier (t-butil alkohol) : tidak


terjadi perubahan warna tetap bening dan larut. Maka disimpulkan bahwa
hasilnya negatif

3. Reaksi dengan FeCl3


4.

Sebelum ditambahkan 3 tetes FeCl3 terlebih dahulu 0,5 mL dari masing-

masing senyawa yang akan diuji (etanol, 2-butanol, dan fenol) dilarutkan dangan
5 mL air. Dan ketika larutan diteteskan FeCl3, dikocok dan diamati, didapatkan
hasil uji coba sebagai berikut:

Etanol + FeCl3 : Tidak terjadi reaksi positif,tidak terjadi perubahan warna


tetap kuningataupun pembentukan cincin biru sampai ungu. Disimpulkan
bahwa hasilnya adalah negatif

2-butanol + FeCl3 : Tidak terjadi reaksi positif, tidak terjadi perubahan


warna tetap berwarna kuning ataupun pembentukan cincin biru sampai ungu.
Disimpulkan bahwa hasilnya adalah negatif

t-butil alkohol + FeCl3 : Terjadi reaksi positif, terbentuknya cincin berwarna


ungu. Disimpulkan bahwa hasilnya adalah positif

5. Esterifikasi
2 mL etanol + 3 mL asam asetat glasial + 0,5 mL H2SO4 : setelah dipanaskan
kira-kira selama 5 menit larutan mendidih dan menimbulkan bau yang

menyengat dan campuran warnanya bening, pren, pink.


2 mL 2-butanol + 3 mL asam asetat glasial + 0,5 mL H2SO4 : setelah
dipanaskan kira-kira selama 5 menit timbul gelembung diluar tabung reaksi

dan berbau menyengat, campuran warnanya kuning dan bening.


2 mL t-butil alkohol + 3 mL asam asetat glasial + 0,5 mL H2SO4 : setelah
dipanaskan kira-kira selama 5 menit larutan mendidih dan menimbulkan bau
yang lebih menyengat dan warnanya keruh.
6.
7.
8.
9.

V.
Kesimpulan dan saran
10.
V.1 Kesimpulan
11. Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Senyawa alkana tidak jenuh
2. Pada percobaan esterifikasi dapat disimpulkan bahwa fenol memiliki bau
yang lebih pekat.
3. Alkohol primer (etanol) dan alkohol sekunder (2-butanol) tidak dapat
bereaksi dengan FeCl3 sedangkan alkohol tersier (fenol) dapat bereaksi
dengan FeCl3
4. Fenol merupakan alkohol siklik yang bersifat lebih asam sehingga dapat
membentuk garam natrium bila direaksikan dengan NaOH yang bersifat
larut dalam air
5. Pada percobaan esterifikasi dapat disimpulkan bahwa fenol memiliki bau
yang lebih pekat.
6. Fenol merupakan alkohol siklik yang bersifat lebih asam sehingga dapat
membentuk garam natrium bila direaksikan dengan NaOH yang bersifat
larut dalam air
7. Alkohol sekunder (2-butanol) dapat bereaksi dengan pereaksi lucas
sedangkan fenol tidak dapat bereaksi dengan pereaksi lucas
12.
13.
V.2 Saran
14.

Praktikum sudah berjalan cukup baik, akan tetapi akan

lebih baik lagi jika semua pihak dapat bekerja sama dengan baik.
15.
16.
17.
18.

19.
20.

DAFTAR PUSTAKA

21.

Brady, J. E. 1999. Kimia Universitas. Jakarta: Binarupa

Aksara
22.

Budi, Sentot. 2008. Kimia Berbasis Eksperimen 1.

Solo; Platinum
23.

Chang,

Raymond.

2004.

Kimia

Jilid

II.

Jakarta:

Primagama
24.

Kurniati, Dini, dkk. 2013.Kimia Dasar untuk Sains dan


Teknik. Bandung; Yrama Widya

25.

Purba, Michael. 2007. KIMIA. Jakarta; Erlangga

26.

Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid 1. ITB, Bandung.


27.

28.

Anda mungkin juga menyukai