Anda di halaman 1dari 20

TUGAS DOKUMENTASI KEPERAWATAN

LP DAN ASKEP BAYI BARU LAHIR NORMAL


Dosen Pengampu : Wahyudi, S.Kep, Ns.

Disusun oleh:
Andriyanto

(P17420213080)

Dicky Nanda P

(P17420213090)

Kartika Dian U

(P17420213101)

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PRODI D III KEPERAWATAN PURWOKERTO

LAPORAN PENDAHULUAN

I.

PENDAHULUAN
Bayi baru lahir atau neonatus adalah manusia yang memiliki rentang umur 0 28 hari. Bayi yang baru keluar dari
Rahim seorang ibu, memiliki resiko yang tinggi terhadap paparan lingkungan yang baru di rasakannya. Fungsi fisiologis
dari bayi perlu waktu untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut. Banyak kasus kematian bayi terjadi pada
umur ini karena kegagalan dari bayi untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Adaptasi lingkungan bayi dipengaruhi oleh banyak factor. Kesehatan ibu, perawatan saat ibu hamil, perawatan saat bayi
baru lahir mempengaruhi keadaan selanjutnya dari bayi.
Untuk itu, seorang perawat hendaknya dapat mengerti tentang bayi baru lahir. Sehingga dapat merawat bayi dengan baik
dan menurunkan angka kematian dan kecacatan pada bayi.

II.

DEFINISI
Bayi lahir normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia

kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dengan berat badan 2500-4000 gram, nilai apgar 7 dan tanpa cacat bawaan.

BBL Normal adalah bayi yang dikeluarkan dari hasil konsepsi melalui jalan lahir dan dapat hidup diluar dengan berat 2,5 4
kg, dengan usia Kehamilan 36 42 minggu, menangis spontan dan bernafas spontan, teratur dan tonus otot baik. (Asuhan Persalinan
Normal, 2003)
BBL Normal adalah Adaptasi fisiologi adalah sangat berguna bagi bayi untuk menjaga kelangsungan hidupnya diluar uterus,
artinya nantinya bayi harus dapat melakukan sendiri segala kegiatan untuk mempertahankan hidupnya. (Perawatan Ibu bersalin,
Fitramaya 2000)
BBL Normal adalah Bayi yang lahir dari kehamilan 2500 4000 gram. (Depkes, RI 1998, hal 93)

III.

FISIOLOGI

Neonatus adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin kehidupan
ekstra uterin. Beralih dari ketergantungan mutlak pada ibu menuju kemandirian fisiologi.
Tiga faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi dan proses vital neonatus yaitu maturasi, adaptasi dan toleransi. Selain itu
pengaruh kehamilan dan proses persalinan mempunyai peranan penting dalam morbiditas dan mortalitas bayi..
Empat aspek transisi pada bayi baru lahir yang paling dramatik dan cepat berlangsung adalah sistem pernapasan, sirkulasi, dan
kemampuan menghasilkan sumber glukosa.
IV.ETIOLOGI
1. HIS (Kontraksi Otot Rahim)

2. Kontraksi otot dinding perut


3. Kontraksi diafragma pelvis (kekuatan mengejan)
4. Ketegangan dan kontraksi ligamentum retundum

V.

TANDA DAN GEJALA

1. Lahir aterm antara 37-42 minggu


2. Berat badan 2500 4000 gram
3. Panjang lahir 48 52 cm
4. Lingkar dada 30 38 cm
5. Lingkar kepala 33 35 cm
6. Lingkar lengan 11-12
7. Frekuensi denyut jantung 120-160x/menit
8. Kulit kemerah- merahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup.
9. Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna
10. Kuku agak panjang dan lemas
11. Nilai APGAR >7
12. Gerakan aktif
13. Bayi lahir langsung menangis kuat
14. Genetalia :
a. Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada pada skrotum dan penis yang berlubang.

b. Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina dan uterus yang berlubang ,serta labia mayora menutupi labia
minora.
15. Refleks rooting ( mencari putting susu dengan rangsangan taktil pada pipi dan daerah mulut)sudah terbentuk dengan baik.
16. Refleks sucking sudah terbentuk dengan baik.
17. Refleks grasping sudah baik
18. Refleks morro
19. Eliminasi baik, urine dan mekonium keluar dalam 24 jam pertama

VI.

PATOFISIOLOGI

Adaptasi Fisiologis
Baru lahir terjadi perubahan fungsi organ yang meliputi:
1. Sistem pernapasan
Selama dalam uterus janin mendapat oksigen dari pertukaran melalui plasenta.Setelah bayi lahir pertukaran gas terjadi
pada paru-paru (setelah tali pusat dipotong).Rangsangan untuk gerakan pernapasan pertama ialah akibat adanya tekanan mekanis
pada toraks sewaktu melalui jalan lahir, penurunan tekanan oksigen dan peningkatan karbondioksida merangsang kemoreseptor
pada sinus karotis.Usaha bayi pertama kali untuk mempertahankan tekanan alveoli adanya surfaktan adalah menarik nafas,
mengeluarkan dengan menjerit sehingga oksigen tertahan di dalam.Fungsi surfaktan untuk mempertahankan ketegangan alveoli.
Masa alveoli akan kolaps dan paru-paru kaku. Pernapasan pada neonatus biasanya pernapasan diafragma dan
abdominal.Sedangkan respirasi setelah beberapa saat kelahiran yaitu 30 60 x / menit.
2. Jantung dan Sirkulasi Darah
Di dalam rahim darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi berasal dari plasenta masuk ke dalam tubuh janin melalui vena
umbilikalis, sebagian besar masuk ke vena kava inferior melalui duktus dan vena sasaranti, darah dari sel-sel tubuh yang miskin

3.

4.

5.

6.

oksigen serta penuh dengan sisa-sisa pembakaran dan sebagian akan dialirkan ke plasenta melalui umbilikalis, demikian
seterusnya.
Ketika janin dilahirkan segera, bayi menghirup dan menangis kuat, dengan demikian paru-paru akan berkembang, tekanan
paru-paru mengecil dan darah mengalir ke paru-paru, dengan demikian duktus botali tidak berfungsi lagi, foramen ovale akan
tertutup. Penutupan foramen ovale terjadi karena pemotongan tali pusat.
Saluran Pencernaan
Pada kehamilan 4 bulan, pencernaan telah cukup terbentuk dan janin telah dapat menelan air ketuban dalam jumlah yang
cukup banyak.Absorpsi air ketuban terjadi melalui mukosa seluruh saluran pencernaan, janin minum air ketuban dapat
dibuktikan dengan adanya mekonium (zat yang berwarna hitam kehijauan). Mekonium merupakan tinja pertama yang biasanya
dikeluarkan dalam 24 jam pertama.
Hepar
Hepar janin pada kehamilan 4 bulan mempunyai peranan dalam metabolisme hidrat arang, dan glikogen mulai disimpan di
dalam hepar, setelah bayi lahir simpanan glikogen cepat terpakai, vitamin A dan D juga sudah disimpan dalam hepar.
Fungsi hepar janin dalam kandungan segera setelah lahir dalam keadaan imatur (belum matang).Hal ini dibuktikan dengan
ketidakseimbangan hepar untuk meniadakan bekas penghancuran darah dari peredaran darah. Enzim hepar belum aktif benar
pada neonatus, misalnya enzim UDPGT (Uridin Disfosfat Glukoronide Transferase) dan enzim GGFD (Glukosa 6 Fosfat
Dehidrogerase) yang berfungsi dalam sintesis bilirubin sering kurang sehingga neonatus memperlihatkan gejala ikterus
fisiologis.
Metabolisme
Pada jam-jam pertama energi didapat dari pembakaran karbohidrat dan pada hari kedua energi berasal dari pembakaran
lemak. Energi tambahan yang diperlukan neonatus pada jam-jam pertama sesudah lahir diambil dari hasil metabolisme lemak
sehingga kadar gula darah dapat mencapai 120 mg/100 ml.
Produksi Panas
Pada neonatus apabila mengalami hipotermi, bayi mengadakan penyesuaian suhu terutama dengan NST (Non Sheviring
Thermogenesis) yaitu dengan pembakaran Brown Fat (lemak coklat) yang memberikan lebih banyak energi daripada lemak
biasa.Cara penghilangan tubuh dapat melalui konveksi aliran panas mengalir dari permukaan tubuh ke udara sekeliling yang
lebih dingin.Radiasi yaitu kehilangan panas dari permukaan tubuh ke permukaan benda yang lebih dingin tanpa kontak secara
langsung.Evaporasi yaitu perubahan cairan menjadi uap seperti yang terjadi jika air keluar dari paru-paru dan kulit sebagai uap

dan konduksi yaitu kehilangan panas dari permukaan tubuh ke permukaan benda yang lebih dingin dengan kontak secara
langsung.
7. Kelenjar Endoktrin
Selama dalam uterus fetus mendapatkan hormon dari ibu, pada waktu bayi baru lahir kadang-kadang hormon tersebut
masih berfungsi misalkan pengeluaran darah dari vagina yang menyerupai haid perempuan.Kelenjar tiroid sudah terbentuk
sempurna sewaktu lahir dan mulai berfungsi sejak beberapa bulan sebelum lahir.
8. Keseimbangan Air dan Ginjal
Tubuh bayi baru lahir mengandung relatif banyak air dan kadar natrium relatif lebih besar daripada kalium. Hal ini
menandakan bahwa ruangan ekstraseluler luas.Fungsi ginjal belum sempurna karena jumlah nefron matur belum sebanyak orang
dewasa dan ada ketidakseimbangan antara luas permukaan glomerulus dan volume tubulus proksimal, renal blood flow (aliran
darah ginjal) pada neonatus relatif kurang bila dibandingkan dengan orang dewasa.
9. Susunan Saraf
Jika janin pada kehamilan sepuluh minggu dilahirkan hidup maka dapat dilihat bahwa janin tersebut dapat mengadakan
gerakan spontan.Gerakan menelan pada janin baru terjadi pada kehamilan empat bulan.Sedangkan gerakan menghisap baru
terjadi pada kehamilan enam bulan.
Pada triwulan terakhir hubungan antara saraf dan fungsi otot-otot menjadi lebih sempurna.Sehingga janin yang dilahirkan
diatas 32 minggu dapat hidup diluar kandungan.Pada kehamilan 7 bulan maka janin amat sensitif terhadap cahaya.
10. Imunologi
Pada sistem imunologi Ig gamma A telah dapat dibentuk pada kehamilan 2 bulan dan baru banyak ditemukan segera
sesudah bayi dilahirkan. Khususnya pada traktus respiratoris kelenjar liur sesuai dengan bakteri dapat alat pencernaan,
imunoglobolin G dibentuk banyak dalam bulan kedua setelah bayi dilahirkan. Ig A, Ig D dan Ig E diproduksi secara lebih
bertahap dan kadar maksimum tidak dicapai sampai pada masa kanak-kanak dini. Bayi yang menyusui mendapat kekebalan
pasif dari kolostrum dan ASI.
11. Sistem Integumen
Kulit bayi baru lahir sangat sensitif dan mudah mengelupas, semua struktur kulit ada pada saat lahir tetapi tidak
matur.Epidermis dan dermis tidak terikat dengan erat dan sangat tipis, vernik keseosa juga bersatu dengan epidermis dan
bertindak sebagai tutup pelindung dan warna kulit bayi berwarna merah muda.
12. Sistem Hematopoiesis.

Saat bayi lahir nilai rata-rata Hb, Ht, SDM dan Leukosit lebih tinggi dari nilai normal orang dewasa. Hb bayi baru lahir
14,5 22,5 gr/dl, Ht 44 72%, SDM 5 7,5 juta/mm3 dan Leukosit sekitar 18000/mm3. Darah bayi baru lahir mengandung
sekitar 80% Hb janin.Presentasi Hb janin menurun sampai 55% pada minggu kelima dan 5% pada minggu ke 20.
13. Sistem Skelet
Arah pertumbuhan sefalokaudal terbukti pada pertumbuhan tubuh secara keseluruhan.Kepala bayi cukup bulan berukuran
seperempat panjang tubuh.Lengan sedikit lebih panjang daripada tungkai.Wajah relatif kecil terhadap ukuran tengkorak yang
jika dibandingkan lebih besar dan berat.Ukuran dan bentuk kranium dapat mengalami distorsi akibat molase.
Pada bayi baru lahir lutut saling berjauhan saat kaki diluruskan dan tumit disatukan sehingga tungkai bawah terlihat agak
melengkung.Saat baru lahir tidak terlihat lengkungan pada telapak kaki.Ekstremitas harys simetris, terdapat kuku jari tangan
dan kaki, garis-garis telapak tangan dan sudah terlihat pada bayi cukup bulan.
VII.

KOMPLIKASI
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Sebore
Ruam
Moniliasis
Ikterus fisiologi
Gangguan sistem saraf pusat: koma,menurunnya reflex mata(seperti mengdip)
Cardiovascular: penurunan tekanan darah secara berangsur, menghilangnya tekanan darah sistolik
Pernafasan: menurunnya konsumsi oksigen
Saraf dan otot: tidak adanya gerakan, menghilangnya reflex perifer.

VIII. PATHWAY
Bayi baru lahir
Perubahan Fisiologis

Sistem respirsai

S.kardiovaskular

Sistem respirasi

alveolus terisi O2

Hipoksia, tekanan
Rongga dada

resistensi vascular
paru

peningkatan
Merangsang saraf
pernafasan

tekanan pylmonalis

pegeluaran cariran
paru

IX.

ketidakefektifan
Ketidakefektifa
n bersihan jalan
napas
PENGKAJIAN

aliran darah paru


masuk jantung

S.Gastrointestinal
Asam lambung
kolik

distress antara
waktu makan
resiko nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh

gangguan
perfusi
Gangguan
Perfusi jaringan

Termoregulasi

Pemotongan Tali Pusat

adaptasi hangat ke
port de entry bacteri
dingin
meningkatkan panas
resiko infeksi
Resiko
Infeksi
Kegagalan
Peningkata
n suhu
aktivitas otot
panas
tubuh
menangis,
menggigil

Hipertermi

Hipotermi

Resiko
Cedera

A. Data Subyektif
1. Identitas bayi : didapatkan informasi dari ibu atau pengasuhnya.
2. Riwayat kehamilan, proses persalinan dan umur kehamilan.
3. Faktor sosial : alamat rumah, pekerjaan orang tua, orang-orang yang tinggal serumah, saudara kandung dan sumber/faktor
pendukung lain, penyalahgunaan obat/napza di lingkungan dekat.
B. Data Obyektif

1. Nilai Apgar : lima unsur yang dinilai: Frekuensi denyut jantung, usaha nifas, tonus otot, reflek dan warna.
a. Penilaian satu manit setelah lahir : untuk menilai derajat aspiksi
b. Penilaian lima menit setelah lahir : untuk menentukan prognosa.
2. Pemeriksaan fisik untuk mendeteksi adanya kelaian bawaan, bayi diperiksa secar sistemis dari : kepala, mata, hidung, muka,
mulut, telinga, leher, dada, abdomen, punggung extermetis, kulit, genitalia, dan anus.
3. Anteropometri :
a. Berat badan ditimbang dalam gram
b. Panjang badan dalam cm, melalui ukuran fronto-occipito
c. Lingkar perut dalam cm, ukuran melalui pusat
4. Refleks: moro, rooting, isap, menggenggam, babinski.
5. Keadaan umum:
a. Suhu
b. Pernapasan
c. Denyut nadi
d. Wrna kulit
C. Data Laboratorium
Kalau perlu sesuai kebijakan setempat
1. Gula darah sewaktu
2. Bilirubin dan golongan darah: ABO dan Rhesus faktor
3. Hb, Ht,Lekosit, dan Trombosit.

X. PENATALAKSANAAN
1.

Mengeringkan dengan segera dan membungkus bayi dengan kain yang cukup hangat untuk mencegah hipotermia.

2.

Menghisap lendir untuk membersihkan jalan napas sesuai kondisi dan kebutuhan.

3.

Memotong dan mengikat tali pusat, membaeri antiseptik sesuai ketentuan setempat.

4.

Bonding Attacment (kontak kulit dini) dan segera ditetekan pada ibunya.

5.

Menilai apgar menit pertama dan menit kelima.

6.

Memberi identitas bayi : Pengecapan telapak kaki bayi dan ibu jari ibu, pemasangan gelang nama sesuai ketentuan
setempat.

7.

Mengukur suhu , Pernapasan, denyut nadi.

8.

Memandikan/membersihkan badan bayi, kalau suhu sudah stabil (bisa tunggu sampai enam jam setelah lahir).

9.

Menetesi obat mata bayi untuk mencegah opthalmia-neonatorum.

10. Pemeriksaan fisik dan antropometri.


11.Rooming in (rawat gabung) : penuh atau partial.
12. Pemberian vitamin K oral/parenteral sesuai kebijakan setempat.
Vitamin K penting untuk mempertahankan mekanisme pembekuan darah ynag normal pada bayi yang baru lahir, karena
usus yang masih steril , bayi belum mampu membentuk vitamin K nya sendiri untuk beberapa hari pertama, begitu juga
bagi bayi yang mendapat ASI ekslusif juga berisiko mengalami kekurangan vitamin K, karena fakta menunjukkan cukup
banyak bayi baru lahir mengalami perdarahan terutama di otak dan saluran cerna, oleh karena itu bayi perlu vitamin K
untuk pencegahan terhadap terjadinya perdarahan.

Vitamin K yang diberikan yaitu vitamin K 1 (phytonadione) untuk meningkatkan pembentukan protombin. Pemberiannya
bisa dilakukan secara parenteral i.m dengan dosis satu kali segera setelah lahir ( sebelum 24 jam) atau juga bisa diberikan
secara oral dengan ketentuan apabila berat bayi lebih dari 2500 gram dosis yang diberikan 2 mg pada hari pertama dan 2
mg pada hari keempat setelah lahir, dan apabila beratnya kurang dari 2500 gram dosis yang diberikan sebanyak 1 mg
diberikan sama yaitu pada hari pertama dan keempat setelah lahir.
XI.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

XII.

Ketidakefektifan pola nafas


Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Hipertermia

Hipotermia
Resiko infeksi
Resiko Cedera
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

a. Diagnosa 1: Ketidakefektifan pola nafas


Tujuan : Dalam waktu 1x24 jam setelah dilakukan intervensi keperawatan pola nafas BBL kembali efektif Kriteria hasil:
1) Kemudahan bernafas dan kedalaman inspirasi
2) Ekspansi dada simetris
3) Tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan
4) Tidak ada bunyi nafas tambahan
5) Nafas pendek tidak ada
Intervensi
1) Observasi adanya pucat dan sianosis menunjukkan adanya gangguan pada pernafasan BBL
2) Pantau kecepatan, irama, kedalaman dan usaha respirasi Mengetahui perkembangan kondisi BBL
3) Auskultasi bunyi nafas, perhatikan area penurunan/tidak adanya ventilasi dan adanya bunyi nafas tambahan Mengetahui
adanya kelainan dalam pernafasan BBL
4) Lakukan pengisapan sesuai dengan kebutuhan untuk membersihkan sekresi Secret yang menumpuk dapat
mengakibatkan ketidakefektifan pola nafas Kolaborasi: Berikan Non re-breathing mask dengan oksigen Memenuhi
kebutuhan oksigen BBL.
b. Diagnosa 2: Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam BBL menunjukkan keefektifan jalan nafas Kriteria
hasil
1) BBL mudah untuk bernafas
2) Kegelisahan, sianosis, dan dispnea tidak ada
3) RR dalam batas normal
Intervensi :
1) Kaji keefektifan pemberian oksigen dan perawatan yang lain
2) Auskultasi bagian dada anterior dan posterior untuk mengetahui adanya penurunan atau tidak adanya ventilasi dan
adanya bunyi tambahan
3) Pantau status oksigen BBL Jika SaO < 80% mengindikasikan adanya ketidakefektifan jalan nafas
4) Jelaskan pada BBL dan keluarga tentang penggunaan peralatan: O2, suction, inhalasi
5) Lakukan fisioterapi dada sesuai kebutuhan Kolaborasi: Berikan udara/oksigen yang telah dihumidifikasi

c. Diagnosa 3 : Hipertermia
Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam setelah dilakukan intervensi keperawatan hipertermia tidak terjadi Kriteria hasil :
1) Suhu tubuh dalam rentang normal
2) Nadi dan RR dalam rentang normal
3) Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman
Intervensi :
1) Pantau suhu paling sedikit setiap 2 jam, sesuai kebutuhan Suhu tubuh bayi baru lahir mudah mengalami penurunan
2) Monitor warna dan suhu kulit
3) Monitor tekanan darah, nadi dan RR
4) Monitor penurunan tingkat kesadaran
5) Monitor WBC, Hb, dan Hct
6) Monitor intake dan output
7) Berikan anti piretik
8) Lakukan tapid sponge
9) Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh
10) Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
11) Tingkatkan sirkulasi udara
d. Diagnosa 4 : Hipotermia
Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam setelah dilakukan intervensi keperawatan hipotermia tidak terjadi Kriteria hasil :
1) BBL menunjukkan termoregulasi neonates (keseimbangan antara panas yang dihasilkan, peningkatan panas, dan
kehilangan panas selama periode neonatus)
Intervensi :
1) Pantau suhu paling sedikit setiap 2 jam, sesuai kebutuhan Suhu tubuh bayi baru lahir mudah mengalami penurunan
2) Pantau suhu bayi lahir sampai stabil Suhu tubuh bayi baru lahir mudah mengalami penurunan
3) Ajarkan indikasi hipotermia dan tindakan kedaruratan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan
4) Pemahaman tentang kondisi hipotermi dapat mencegah terjadinya hipotermi
5) Selimuti bayi segera setelah dilahirkan
6) Mencegah kehilangan panas
7) Gunakan tutup kepala pada bayi baru lahir
8) Mencegah kehilangan panas

9) Tempatkan bayi baru lahir dalam incubator atau dibawah penghangat sesuai kebutuhan
10) Menjaga suhu tubuh agar tetap hangat
e. Diagnosa 5 : Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka pada tali pusat
Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam resiko infeksi tidak menjadi aktual
Kriteria hasil :
1) BBL bebas dari tanda dan gejala infeksi
2) Jumlah leukosit dalam batas normal
3) Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam batas normal
Intervensi :
1) Pantau tanda/gejala infeksi (missal.suhu tubuh, denyut jantung, pembuangan, penampilan luka, sekresi, penampilan
urin, suhu kulit, lesi kulit, keletihan, malaise)
2) Mengetahui tanda infeksi secara dini memungkinkan pencegahan terhadap infeksi dan mengurangi keparahan infeksi
yg mungkin sudah terjadi
3) Kaji faktor yg meningkatkan serangan infeksi (missal.usia lanjut, tanggap imun rendah, dan malnutrisi)
4) Faktor pemberat dapat mengakibatkan infeksi berkembang leboh cepat
5) Pantau hasil laboratorium (DPL, hitung granulosit absolut, hasil-hasil yg berbeda, protein serum, dan albumin)
6) Perubahan hasil laboratorium mengidentifikasikan adanya infeksi
7) Ajarkan keluarga BBL teknik mencuci tangan yg benar
8) Cuci tangan dengan benar dapat mencegah transmisi organism
9) Ajarkan kepada keluarga BBL tanda/gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya ke pusat kesehatan
10) Perubahan hasil laboratorium dapat mengindikasikan adanya infeks
11) Berikan terapi antibiotic bila diperlukan
f. Diagnosa 6 : Resiko Cedera berhubungan dengan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien tidak mengalami cedera.
Kriteria hasil : Pasien terbebas dari cedera
Intervensi :
1) Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien

2) Identifikasi kebutuhan keamanan pasien, sesuai dengan kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien dan riwayat penyakit
terdahulu pasien
3) Menghindarkan lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan perabotan)
4) Menempatkan bayi di box bayi
5) Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
6) Menempatkan saklar lampu ditempat yang mudah dijangkau keluarga pasien.
7) Membatasi pengunjung
8) Menganjurkan keluarga agar menemani pasien
9) Mengontrol lingkungan dari kebisingan
10) Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan
g. Diagnosa 7 : Risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan refleks hisap tidak adekuat.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil:
1) Penurunan BB tidak lebih dari 10% BB lahir.
2) Intake dan output makanan seimbang.
3) Tidak ada tanda-tanda hipoglikemi.
Rencana tindakan:
1) Timbang BB setiap hari.
2) Auskultasi bising usus, perhatikan adanya distensi abdomen.
3) Anjurkan ibu untuk menyusui pada payudara secara bergantian 5-10 menit.
4) Lakukan pemberian makanan tambahan.

5) Observasi bayi terhadap adanya indikasi masalah dalm pemberian makanan (tersedak, menolak makanan, produksi
mukosa meningkat).
XIII. IMPLEMENTASI
Komponen pada tahap implementasi adalah :
a. Tindakan keperawatan mandiri
Tindakan keperawatan mandiri dilakukan tanpa pesanan dokter. Tindakan keperawatan mandiri ini ditetapkan dengan
standar praktek American Nurses Associatioin (1973) dan kebijakan institusi perawatan kesehatan.
b. Tindakan keperawatan kolaboratif
Tindakan keperawatan kolaborasi diimpelementasikan bila perawat bekerja dengan anggota tim perawat kesehatan yang
lain dalam membuat keputusan bersama yang bertujuan untuk mengatasi masalah klien.
c. Dokumentasi tindakan keperawatan dan respon klien terhadap tindakan keperawatan. Dokumentasi merupakan
pernyataan dari kejadian/identitas yang otentik dengan mempertahankan catatan-catatan yang tertulis. Dokumentasi
merupakan wahana untuk komunikasi dan suatu profesional ke profesional lainnya tentang kasus klien. Dokumen klien
merupakan bukti tindakan keperawatan mandiri dan kolaborasi yang diimplementasikan oleh perawat dan perubahanperubahan pada kondisi klien. Frekuensi dokumentasi tergantung pada kondisi klien dan terapi yang diberikan idealnya
therapi dilakukan setiap shift. Rekam medis klien merupakan dokumentasi yang legal, rekam medis tersebut diterima di
pengadilan. Pada tuntutan mal praktik, catatan perawatan memberikan bukti tindakan perawat. Perawat harus melindungi
catatan tersebut dari pembaca yang tidak berhak seperti pengunjung. Tanda tangan perawat di akhiri catatan perawat

merupakan akuntabilitas terhadap isi catatan. Mengubah dokumen legal tersebut merupakan suatu kejahatan adalah tidak
bisa di teruma untuk menghapus tulisan pada catatan menggunakan tipe x, penghapusan tinta atau lainnya.
XIV. EVALUASI
Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan.
Kemampuan yang harus dimiliki perawat pada tahap ini adalah memahami respon terhadap intervensi keperawatan.
Kemampuan mengembalikan kesimpulan tentang tujuan yang dicapai serta kemampuan dalam menghubungkan tindakantindakan keperawatan pada kriteria hasil. Pada tahap evaluasi ini terdiri 2 kegiatan yaitu:
a. Evaluasi formasi menyatakan evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan intervensi dengan respon segera.
b. Evaluasi sumatif merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan analisis status klien pada waktu tertentu berdasarkan
tujuan yang direncanakan pada tahap perencanaan. Disamping itu, evaluasi juga sebagai alat ukur suatu tujuan yang
mempunyai kriteria tettentu yang membuktikan apakah tujuan tercapai, tidak tercapai atau tercapai sebagian.
1) Tujuan Tercapai
Tujuan dikatakan teracapai bila klien telah menunjukkan perubahan kemajuan yang sesuai dengan keiteria yang telah
ditetapkan
2) Tujuan tercapai sebagian
Tujuan ini dikatakan tercapai sebagian apabila tujuan tidak
tercapai secara keseluruhan sehingga masih perlu dicari berbagai
masalah atau penyebabnya, seperti klien dapat makan sendiri tetapi masih merasa mual, setelah makan bahkan
kadang-kadang muntah.

3) Tujuan tidak tercapai


Dikatakan tidak tercapai apabila tidak menunjukkan adanya perubahan kearah kemajuan sebagaimana kriteria yang
diharapkan.
Evaluasi sumatif masing-masing diagnosa keperawatan secara teori adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pola nafas efektif


Bersihan jalan nafas efektif
Hipertermi tidak terjadi

Hipotermia tidak terjadi


Bayi aman
Infeksi tidak terjadi
Nutrisi seimbang

DAFTAR PUSTAKA
Bobak, Lowdermilk, Jansen. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Carpenito,1998. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis.EDISI 6, egc. Jakarta.
Doegus ME. Moorhause. MF.2001.Rencana Keperawatan Maternitas / bayi. EDISI 2. egc. JAKARTA.
Gordon M.et.all.2001. Nursing Diagnosis ; Definition & Clatification 2001- 2002. Nanda. Philadelphia.
Greeberg 15, 2000. Nursing Care Planning Guides, for Children. Bathimore USA.
MNH, JNPK-KR dan DepKes. 2003. Buku Acuan Persalinan Normal. Jakarta : DepKes
NANDA. 2012. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta : EGC

Sujono A, 1999. Penatalaksanaan Neonatrus Resti, Naus & Canarff,ECG. Jakarta.