Anda di halaman 1dari 24

TUGAS

MATA KULIAH MATERNITAS


BBL DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA
Dosen Pengampu : Dina Indrati

Disusun oleh :
Amalia Rizky Primadika

P17420213078

Andina Citra Nugraheni

P17420213079

Andriyanto

P17420213080

Annisatul Maqhfiroh

P17420213081

Anugrah Pinundhi IK

P17420213082

Apri Zulkhum A

P17420213083
KELAS 2 C

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN PURWOKERTO
TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan
hidayah Nya kami dapat menyelesaikan tugas terstruktur yang berjudul BBL DENGAN
HIPERBILIRUBIN dengan baik dan tanpa halangan sedikitpun.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Maternitas yang
diampu oleh Ibu Dina Indrati.
Keberhasilan penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan dari berbagai pihak.
Untuk itu ijinkan penyusun mengucapkan terimakasih kepada:
1. Ibu Dina Indrati , selaku dosen mata kuliah Keperawatan Maternitas.
2. Petugas perpustakaan yang telah memberi kemudahan pada kami untuk mencari
bahan referensi
3. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, yang telah memberi
dukungan baik secara moril maupun materiil.
Kami sadar bahwa makalah yang kami susun masih banyak kekurangannya, untuk itu kami
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak. Sehingga dalam
pembuatan makalah yang selanjutnya akan lebih baik lagi.

Puwokerto,

Februari 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu keadaan yang menyerupai penyakit hati yang terdapat pada bayi baru
lahir adalahterjadinya hiperbillirubin yang merupakan salah satu kegawatan pada bayi
baru lahir karenadapat menjadi penyebab gangguan tumbuh kembang bayi.Kelainan ini
tidak termasuk kelompok penyakit saluran pencernaan makanan, namun karena kasusnya
banyak dijumpai maka harusdikemukakan.Kasus ikterus ditemukan pada ruang neonatus
sekitar 60% bayi aterm dan pada 80 % bayiprematur selama minggu pertama kehidupan.
Ikterus tersebut timbul akibat penimbunan pigmenbilirubin tak terkonjugasi dalam
kulit. Bilirubin tak terkonjugasi tersebut bersifat neurotoksik bagi bayi pada tingkat
tertentu dan pada berbagai keadaan.Ikterus pada bayi baru lahir dapat merupakan suatu
gejala fisiologis atau patologis.Ikterusfisiologis terdapat pada 25-50% neonatus cukup
bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurangbulan sebesar 80%.Ikterus tersebut
timbul pada hari kedua atau ketiga, tidak punya dasarpatologis, kadarnya tidak
membahayakan, dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi.Ikterus patologis
adalah ikterus yang punya dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapaisuatu nilai
yang disebut hiperbilirubin.
Dasar patologis yang dimaksud yaitu jenis bilirubin,saat timbul dan hilangnya
ikterus, serta penyebabnya.Neonatus yang mengalami ikterus dapat mengalami
komplikasi

akibat

gejala

sisa

yang

dapatmempengaruhi

pertumbuhan

dan perkembangannya. Oleh sebab itu perlu kiranya penangananyang intensif untuk
mencegah hal-hal yang berbahaya bagi kehidupannya dikemudian hari.Perawat sebagai
pemberi perawatan sekaligus pendidik harus dapat memberikan pelayanan yangterbaik
dengan berdasar pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Oleh karena itu kami
mengangkat hiperbilirubin pada anak sebagai judul dari makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian, etiologi, klasifikasi dari penyakit hiperbilirubin pada bayi baru lahir?
2. Bagaimana pathofisiologi dan patway keperawatan dari penyakit hiperbilirubin pada
bayi baru lahir?

3. Apa saja manifestasi klinik, komplikasi, dan pemeriksaan penunjang dari penyakit
hiperbilirubin pada bayi baru lahir?
4. Bagaimana penatalaksanaan hiperbilirubin pada bayi baru lahir?
5. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada bayi baru lahir dengan hiperbilirubin?
6. Apa saja diagnosa keperawatan dan intervensi yang muncul pada bayi baru lahir
dengan hiperbilirubin?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian, etiologi, klasifikasi dari penyakit hiperbilirubin pada
bayi baru lahir.
2. Untuk mengetahui

pathofisiologi

dan

patway

keperawatan

dari

penyakit

hiperbilirubin pada bayi baru lahir.


3. Untuk mengetahui manifestasi klinik, komplikasi, dan pemeriksaan penunjang dari
penyakit hiperbilirubin pada bayi baru lahir.
4. Untuk mengetahui penatalaksanaan hiperbilirubin pada bayi baru lahir.
5. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada bayi baru lahir dengan
hiperbilirubin.
6. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan dan intervensi yang muncul pada bayi baru
lahir dengan hiperbilirubin.

LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERBILIRUBIN

A. PENGERTIAN
Hiperbilirubin adalah keadaan icterus yang terjadi pada bayi baru lahir, yang
dimaksud dengan ikterus yang terjadi pada bayi baru lahir adalah meningginya kadar
bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler sehingga terjadi perubahaan warna menjadi
kuning pada kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya. (Ngastiyah, 2000)
Nilai normal: bilirubin indirek 0,3 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 0,4 mg/dl.
Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum (hiperbilirubinemia)
yang disebabkan oleh kelainan bawaan, juga dapat menimbulkan ikterus. (Suzanne C.
Smeltzer, 2002).Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan
efek pathologis. (Markum, 1991:314).Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar
bilirubin dalam darah yang kadar nilainya lebih dari normal (Suriadi, 2001).
Ikterus adalah gambaran klinis gambaran klinis berupa perwarnaan kuning pada
kulit, mukosa, sklera, selaput lendir dan organ lain akibat penunmpukan bilirubin,
secara klinis ikterus pada neonatus akan tampak bila konsentrasi bilirubin serum lebih
dari 5 mg/dL2.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar
bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum. Untuk bayi yang
baru lahir cukup bulan batas aman kadar bilirubinnya adalah 12,5 mg/dl, sedangkan
bayi yang lahir kurang bulan, batas aman kadar bilirubinnya adalah 10 mg/dl.
B. ETIOLOGI
1. Peningkatan produksi :
a) Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian
golongan darah dan anak pada penggolongan Rhesus dan ABO.
b) Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran.

c) Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolik yang


terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis .
d) Defisiensi G6PD/ Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase.
e) Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa), 20 (beta) ,
f)

diol (steroid).
Kurangnya Enzim Glukoronil Transeferase, sehingga kadar Bilirubin Indirek

meningkat misalnya pada berat lahir rendah


g) Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin Hiperbilirubinemia
2. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya pada
Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine.
3. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksion
yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti Infeksi,
Toksoplasmosis, Siphilis.
4. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik.
5. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif
C. KLASIFIKASI
Ikterus neonatorum dibagi menjadi ikterus fisiologis dan patologis ( Ngastiyah,1997).
1. Ikterus Fisiologis
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah Ikterus
yang memiliki karakteristik sebagai berikut (Hanifa, 1987, Ngastiyah, ):
a. Timbul pada hari ke2 dan ke-3 dan tampak jelas pada hari ke-5 dan ke-6.
b. Kadar Bilirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada
c.
d.
e.
f.

neonatus cukup bulan dan 10 mg % per hari pada kurang bulan.


Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari
Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %
Ikterus hilang pada 10 hari pertama
Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis tertentu

2. Ikterus Patologis/Hiperbilirubinemia
Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai
yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak
ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang
patologis.

Karakteristik ikterus patologis (Ngastiyah,1997 ) sebagai berikut :


a. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama kehidupan. Ikterus menetap sesudah bayi
berumur 10 hari ( pada bayi cukup bulan) dan lebih dari 14 hari pada bayi baru
lahir BBLR.
b. Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg % pada bayi kurang bulan
(BBLR) dan 12,5 mg% pada bayi cukup bulan.
c. Bilirubin direk lebih dari 1mg%.
d. Peningkatan bilirubin 5 mg% atau lebih dalam 24 jam.
e. Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim
G-6-PD, dan sepsis).
Ada juga pendapat ahli lain tentang hiperbilirubinemia yaitu Brown menetapkan
Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup bulan, dan 15
mg % pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
Ikterus juga dapat dibedakan sebagai berikut :
a) Ikterus prehepatik disebabkan oleh produksi bilirubin yang berlebihan akibat
hemolisis sel darah merah. Kemampuan hati untuk melaksanakan konjugasi
terbatas terutama pada disfungsi hati sehingga menyebabkan kenaikan bilirubin
yang tidak terkonjugasi.
b) Ikterus hepatic disebabkan karena adanya kerusakan sel parenkim hati. Akibat
kerusakan hati maka terjadi gangguan bilirubin tidak terkonjugasi masuk ke
dalam hati serta gangguan akibat konjugasi bilirubin yang tidak sempurna
dikeluarkan ke dalam doktus hepatikus karena terjadi retensi dan regurgitasi.
c) Ikterus kolestatik disebabkan oleh bendungan dalam saluran empedu sehinga
empedu dan bilirubin terkonjugasi tidak dapat dialirkan ke dalam usus halus.
Akibatnya adalah peningkatan bilirubin terkonjugasi

dalam serum dan

bilirubin dalam urin, tetapi tidak didapatkan urobilinogen dalam tinja dan urin.
d) Ikterus Neonatus Fisiologis terjadi pada 2 4 hari setelah bayi lahir dan akan
sembuh pada hari ke 7. penyebabnya organ hati yang belum matang dalam
memproses bilirubin.
e) Ikterus Neonatus Patologis karena faktor penyakit atau infeksi. Biasanya
disertai suhu badan yang tinggi dan berat badan tak bertambah.

D. PATOFISIOLOGI
Pigmen kuning ditemukan dalam empedu yang terbentuk dari pemecahan
hemoglobin oleh kerja heme oksidase, biliverdin reduktase dan agen pereduksi
nonenzimatik dalam sistem retikuloendotelial.Setelah pemecahan hemoglobin, bilirubin
tak terkonjugasi diambil oleh protein intraseluler Y protein dalam hati.Pengambilan
tergantung pada alairan darah hepatik dan adanya ikatan protein.Bilirubin yang tidak
terkonjugasi dalam hati dirubah (terkonjugasi) oleh enzim asam uridin disfosfoglukuronat
(UDPGA; Uridin Diphospgoglucuronic Acid). Glukuronil transferase menjadi bilirubin
mono dan diglukuronida yang polar larut dalam air (bereaksi direk)Bilirubin yang
terkonjugasi yang larut dalam air dapat dieliminasi melalui ginjal. Dengan konjugasi,
bilirubin masuk dalam empedu melalui membran kanalikular.Akhirnya dapat masuk ke
sistem gastrointestinal dengan diaktifkan oleh bakteri menjadi urobilinogen dalam tinja
dan urine.Beberapa bilirubin diabsorbsi kembali menjadi sirkulasi enterohepti.Warna
kuning dalam kulit akibat dari akumulasi pigmen bilirubin yang larut lemak, tak
terkonjugasi, non-polar (bereaksi indirek).Pada bayi hiperbilirubinemia kemungkinan
merupakan hasil dari defisiensi atau tidak aktifnya glukuronil transferase.Rendahnya
pengambilan dalam hepatik kemungkinan karena penurunan protein hepatik sejalan
dengan penurunan aliran darah hepatic.Jaundice yang terkait dengan pemberian ASI
merupakan hasil dari hambatan kerja glukoronil transferase oleh pregnanediol atau asam
lemak bebas yang terdapat dalam ASI. Terjadi 4 sampai 7 hari setelah lahir. Dimana
terdapat kenaikan bilirubin tak terkonjugasi dengan kadar 25 sampai 30 mg/dl selama
minggu ke-2 sampai minggu ke-3. Biasanya dapat mencapai usia 4 minggu dan menurun
10 minggu.Jika pemberian ASI dilanjutkan, hiperbilirubinemia akan menurun berangsurangsur dan dapat menetap selama 3 sampai 10 minggu pada kadar yang lebih rendah.Jika
pemberian ASI dihentikan, kadar bilirubin serum akan turun dengan cepat., biasanya
mencapai normal dalam beberapa hari.Penghentian ASI selama 1 sampai 2 hari dan
penggantian ASI dengan formula menfakibatkan penurunan bilirubin serum dengan
cepat, sesudahnya pemberian ASI dapat dimulai lagi dan hiperbilirubin tidak kembali ke
kadar yang tinggi seperti sebelumnya.Bilirubin yang patologis tampak ada kenaikan
bilirubin dalan 24 jam pertama kelahiran. Sedangkan untuk bayi dengan ikterus
fisiologis, muncul antara 3 sampai 5 hari sesudah lahir.(Suriadi, 2001).

E. PATHWAY
Peningkatan destruksi eritrosit ( Gangguan konjugasi bilirubin / gangguan transport
bilirubin / peningkatan siklus entero hepatik )

Suplay bilirubin melebihi kemampuan hepar

Hepar tidak dapat melakukan konjugasi

Peningkatan bilirubin unconjugned dalam darah


obstruksi usus

pengeluaran meconium terlambat/

tinja berwarna pucat

Gangguan
integritas

Ikhterus pada schlera leher dan badan,

kulit

peningkatan bilirubin indirek > 12 mg/dl


Indikasi fototerapi
Sinar dengan intensitas tinggi
Resiko tinggi

Hipertermi

injury

Pemecahan bilirubin meningkatkan pengeluaran cairan empedu ke organ usus

Gerakan peristaltik usus meningkat

Diare

Ketidakseimbangan
cairan elektrolit

F. MANIFESTASI KLINIS
Adapun tanda dan gejala neonatus dengan hiperbilirubinemia adalah sebagai
berikut (AH Markum, 2002) :
1. Kulit jaundice (kekuningan).
2. Sklera ikterik.
3. Peningkatan konsentrasi bilirubin serum 10mg% pada neonatus yang cukup bulan
dan 12,5mg% pada neonatus yang kurang bula.

4. Kehilangan berat badan sampai 5% selama 24 jam yang disebabkan olehrendahnya


5.
6.
7.
8.
9.

intake kalori.
Asfiksia.
Hipoksia.
Sindrom gangguan pernafasan.
Pemeriksaan abdomen terjadi bentuk perut yang membuncit.
Peses berwarna seperti dempul dan pemerikasaan neurologist dapat ditemukan

adanya kejang.
10. Epistotonus (posisi tubuh bayi melengkung).
11. Terjadi pembesaran hati.
12. Tidak mau minum ASI.
13. Letargi.
14. Refleks Moro lemah atau tidak ada sama sekali.

Menurut Surasmi (2003) gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan menjadi :


1. Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada neonatus
adalah letargi, tidak mau minum dan hipotoni.
2. Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus dan
opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis
serebral dengan atetosis, gengguan pendengaran, paralysis sebagian otot mata dan
displasia dentalis).
Sedangakan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning (ikterik)
pada kulit, membrane mukosa dan bagian putih (sclera) mata terlihat saat kadar
bilirubin darah mencapai sekitar 40 mol/l.
Bayi baru lahir(neonatus) tampak kuning apabila kadar bilirubin serumnya kirakira 6mg/dl(Mansjoer at al, 2007). Ikterus sebagai akibat penimbunan bilirubin indirek

pada kulit mempunyai kecenderungan menimbulkan warna kuning muda atau jingga.
Sedangkan ikterus obstruksi(bilirubin direk) memperlihatkan warna kuning-kehijauan
atau kuning kotor. Perbedaan ini hanya dapat ditemukan pada ikterus yang
berat(Nelson, 2007).
Gambaran klinis ikterus fisiologis:
a) Tampak pada hari 3,4
b) Bayi tampak sehat(normal)
c) Kadar bilirubin total <12mg%
d) Menghilang paling lambat 10-14 hari
e) Tak ada faktor resiko
f)Sebab: proses fisiologis(berlangsung dalam kondisi fisiologis)(Sarwono et al, 1994)
Gambaran klinik ikterus patologis:
a) Timbul pada umur <36 jam
b) Cepat berkembang
c) Bisa disertai anemia
d) Menghilang lebih dari 2 minggu
e) Ada faktor resiko
f) Dasar: proses patologis (Sarwono et al, 1994)
G. KOMPLIKASI
Keadaan bilirubin yang tidak teratasi akan menyebabkan memperburuk keadaan,
dan menyebabkan komplikasi (Suriadi, 2001);
1. Bilirubin enchepalopathy (komplikasi serius)
2. Kernikterus; kerusakan neurologis, cerebral palsy, retardasi mental, hiperaktif,
bicara lambat, tidak ada koordinasi otot dan tangisan yang melengking.
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pengawasan antenatal dengan baik dan pemberian makanan sejak dini (pemberian
ASI).

2. Menghindari obat yang meningkatakan ikterus pada masa kelahiran, misalnya


sulfafurokolin.
3. Pencegahan dan pengobatan hipoksin pada neonatus dan janin.
4. Fenobarbital
Fenobarbital dapat mengeksresi billirubin dalam hati dan memperbesar
konjugasi.Meningkatkan sintesis hepatik glukoronil transferase yang mana dapat
meningkatkan billirubin konjugasi dan clereance hepatik pigmen dalam
empedu.Fenobarbital tidak begitu sering digunakan.
5. Antibiotik, bila terkait dengan infeksi.
6. Fototerapi
Fototerapi dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbillirubin patologis dan
berfungsi untuk menurunkan billirubin dikulit melalui tinja dan urine dengan
oksidasi foto pada billirubin dari billiverdin.

7.Transfusi tukar.
Transfusi tukar dilakukan bila sudah tidak dapat ditangani dengan foto terapi.
(Suriadi, 2001).
Atau bisa dilakukan hal sebagai berikut :
1.

Visual
a.

Pemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang cukup (di siang hari


dengan cahaya matahari) karena ikterus bias terlihat lebih parah bila dilihat
dengan pencahayaan yang kurang.

b.

Tekan kulit bayi dengan lembut dengan jari untuk mengetahui warna
dibawah kulit dan jaringan subkutan.

c.

Tentukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi dan bagian tubuh yang
tampak kuning.Bila kuning terlihat pada bagian tubuh manapun pada hari
pertama dan terlihat pada lengan , tungkai, tangan dan kaki pada hari kedua,
maka digoongkan sebagai ikterus sangat berat dan memerlukan terapi sinar
secepatnya. Tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan kadar bilirubin serum
untuk memulai terapi sinar.

I. PENATALAKSANAAN
Berdasarkan

pada

penyebabnya,

maka

manejemen

bayi

dengan

Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari


Hiperbilirubinemia.
Pengobatan mempunyai tujuan :
1.

Menghilangkan Anemia

2.

Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi

3.

Meningkatkan Badan Serum Albumin

4.

Menurunkan Serum Bilirubin

Metode therapi pada Hiperbilirubinemia meliputi : Fototerapi, Transfusi Pengganti,


Infus Albumin dan Therapi Obat.
1.Fototherapi
Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi Pengganti
untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus padacahaya dengan intensitas yang
tinggi (a bound of fluorencent light bulbs orbulbs in the blue-light spectrum) akan
menurunkan Bilirubin dalam kulit.Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara
memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang
diabsorsijaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yangdisebut
Fotobilirubin.Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darahmelalui mekanisme
difusi.Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan Albumin dan dikirim ke Hati.

Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk


dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984). Hasil
Foto degradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui
urine.Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar Bilirubin,
tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan
Anemia.
Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg /
dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di Fototherapi
dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. Beberapa ilmuan mengarahkan untuk
memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan
Berat Badan Lahir Rendah.
2. Tranfusi Pengganti
Transfusi Pengganti atau Imediat di indikasikan adanya faktor-faktor :
a. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu
b.Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir
c. Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama
d.Tes Coombs Positif
e. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg / dl pada minggu pertama
f. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama
g. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl
h. Bayi dengan Hidrops saat lahir
i. Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus.
Transfusi Pengganti digunakan untuk :

a. Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan) terhadap sel
darah merah terhadap Antibodi Maternal
b. Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan)
c. Menghilangkan Serum Bilirubin
d. Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatan dengan
Bilirubin Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O segera
(kurang dari 2 hari), Rh negatif whole blood. Darah yang dipilih tidak
mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. setiap 4 - 8 jam kadar
Bilirubin harus dicek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.
3. Therapi Obat
Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk menghasilkan enzim yang
meningkatkan konjugasi Bilirubin dan mengekresinya.Obat ini efektif, baik diberikan
pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan.
Penggunaan penobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek
sampingnya (letargi). Colistrisin dapat mengurangi Bilirubin dengan mengeluarkannya
lewat urine sehingga menurunkan siklus Enterohepatika.

ASUHAN KEPERAWATAN HIPERBILIRUBIN

A. PENGKAJIAN

Wawancara
a. Riwayat Penyakit
Terdapat riwayat gangguan hemolisis darah (ketidaksesuaian golongan Rh atau
golongan darah A,B,O). Polisistemia,infeksi,hematoma,gangguan metabolisme hepar
obstruksi saluran pencernaan ibu menderita DM.
b. Riwayat Kehamilan

Kurangnya

antenatal

care

yang

baik.

Penggunaan

obat

obat

yang

meningkatkanikterus. Contoh: salisilat sulkaturosic oxitosin yang dapat mempercepat


proses kon jungasi sebelum ibu partus.
c. Riwayat Persalinan
Lahir prematur / kurang bulan, riwayat trauma persalinan.
d. Riwayat Postnatal
Adanya kelainan darah tapi kadar bilirubin meningkat, sehingga kulit bayi tampak
kuning.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Seperti ketidak cocokan darah ibu dan anak Polycythenia, gangguan saluran cerna
dan hati ( hepatitis )
f. Riwayat Pikososial
Kurangnya kasih sayang karena perpisahan, perubahan peran orang tua
g. Pengetahuan Keluarga
Penyebab perawatan pengobatan dan pemahaman orang tua pada bayi yang ikterus

Pemeriksaan Fisik
Ikterus terlihat pada sklera selaput lendir,urin pekat seperti teh, letargi, hipotonus,
refleks menghisap kurang, peka rangsang, tremor, kejang, tangisan melengking. Selain
itu, keadaan umum lemah, TTV tidak stabil terutama suhu tubuh ( hipo / hipertemi ).
Reflek hisap pada bayi menurun, BB turun, pemeriksaan tonus otot ( kejang /tremor ).
Hidrasi bayi mengalami penurunan. Kulit tampak kuning dan mengelupas, sclera mata
kuning ( kadang kadang terjadi kerusakan pada retina ) perubahan warna urine dan
feses.

Laboratorium

Rh darah ibu dan janin berlainan. Kadar bilirubin bayi aterm lebih dari 12,5
mg\dl,prematur lebih dari 15 mg\dl.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototerapi.
2. Potensial ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan tranfusi tukar
3. Kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan ikterus dan diare
4. Diare berhubungan dengan efek fototerapi
5. Hipertermi berhubungan dengan paparan lingkungan panas (efek fototerapi),dehidrasi
C. INTERVENSI
a.

Dx . Resiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototerapi.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien tidak mengalami
komplikasi atau cedera karena fototerapi.
NOC : Safety Status : Physical Injury.
Kriteria Hasil :
1. Tidak ada iritasi mata.
2. Tidak ada tanda tanda dehidrasi.
3. Suhu stabil
4. Tidak terjadi kerusakan kulit
Skala penilaian:
1. Ekstrem
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada gangguan
NIC : Phototerapi : Neonatus

1.

Letakkan bayi dekat sumber cahaya.

2.

Tutup mata dengan kain yang dapat menyerap cahaya dan dapat
memproteksi mata dari sumber cahaya.

3.

Matikan lampu dan buka penutup mata bayi setiap 8 jam, lakukan
inspeksi warna sklera.

4.

Pada waktu menutup mata bayi, pastikan bahwa penutup tidak


menutupi hidung.

5.

Buka penutup mata waktu memberi makan bayi.

6.

Ajak bicara bayi selama perawatan.

b. Dx. Potensial ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan


tranfusi tukar
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan keseimbangan cairan dan
elektrolit bayi terpelihara dalam batas normal
NOC : Fluid balance
Kriteria Hasil:
1. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal
2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
3.Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas, turgor kulit, membran mukosa lembab,
tidak ada tasa haus yang berlebihan
Skala Penilaian :
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
NIC : fluid Management
1. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

2. Monitor vitall sign dan status hidrasi


3. Monitor status nutrisi

dan dorong masukan oral, berikan minum dengan

frekuensi sering, pantau asupan, bila perlu tingkatkan 25% dari kebutuhan
normal, pantau haluaran dan turgor kulit.
4. Kolaborasikan pemberian cairan intravena
5. Atur kemungkinan transfusi
6. Kolaborasi dengan Dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk.
c. Dx. Kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan ikterus dan diare
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan integritas kulit
baik/utuh
NOC : Pressure Management
Kriteria Hasil :
1. Suhu dalam rentang yang diharapkan ( 36 37 C )
2. Hidrasi dalam batas normal.
3. Elastisitas dalam batas normal.
4. Keutuhan kulit.
5. Pigmentasi dalam batas normal
Skala penilaian:
1. Ekstrem
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada gangguan
NIC : Pengawasan Kulit
1.

Anjurkan pasien untuk menggunkan pakaian yang longgar

2.

Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering,catat warna kondisi kulit tiap 8
jam dan pada saat perawatan

3.

Monitor kulit adanya kemerahan

4.

Oleskan lotion atau minyak atau baby oil pada daerah yang tertekan

5.

Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat

6.

Pantau area bokong dan feses

d. Dx Diare berhubungan dengan efek fototerapi


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan
diare berhenti atau sembuh.
Kriteria Hasil :
Skala penilaian:
1. Ekstrem
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada gangguan
NOC:Bowel elimination
1. Feses berbentuk BAB sehari sekali sampai tiga kali
2. Menjaga daerah sekitar rectal dari iritasi
3. Tidak mengalami diare
4. Menjelaskan penyebab diare dan rasional tindakan
5. Mempertahankan turgor kulit
NIC: Diarhea Management
1. Identifikasi faktor penyebab diare, ukur diare atau keluaran BAB
2. Evaluasi intake makanan yang masuk
3. Observasi turgor kulit secara rutin
4. Berikan minum dengan frekuensi sering

5. Instruksikan pada keluarga agar pasien makan rendah serat,tinggi protein dan
tinngi kalori jika memungkinkan
6. Monitor persiapan makanan yang aman

e. Dx Hipertermi berhubungan dengan paparan lingkungan panas (efek


fototerapi), dehidrasi
Tujuan

:Setelah dilakukan tindakan keperawatn selama proses keperawatan

diharapkan suhu badan pasien turun(normal)


Kriteria Hasil :
Skala Penilaian :
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
NOC : Thermolegulation
1.

Suhu tubuh dalam rentang normal

2.

Tak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

3.

Nadi dan RR dalam rentang normal

NIC : Fever treatment


1.

Monitur suhu sesering mungkin minimal 2 jam sekali

2.

Monitor warna dan suhu kulit

3.

Monitor TD, nadi, dan RR

4.

Tingkatkan intake cairan dan nutrisi

5.

Kompres pasien dengan air hangat pada daerah lipat paha, dan aksila.

6.

Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh, usahakan jangan


terlalu tebal.

7.

Berikan antipiretik jika perlu.

DAFTAR PUSTAKA

Cierohamham.2013. http://cierohamham.blogspot.com/2013/02/asuhan-keperawatanhiperbilirubinemia.html. Diakses pada tanggal 16 Januari 2015

Doengoes, E Marlynn & Moerhorse, Mary Fraces. 2001. Rencana Perawatan Maternal /
Bayi..Jakarta : EGC
Markum, H. (1991). Ilmu Kesehatan Anak. Buku I. Jakarta : FKUI,
Ngastiah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.
Surasmi, Asrining.2003.Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta : EGC.
Suriadi, dan Rita Y. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak . Edisi I. Jakarta: Fajar Inter
Pratama.