Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Metrologi adalah ilmu yang mempelajari pengukuran besaran teknik,
sedangkan Metrologi Industri adalah ilmu yang mempelajari pengukuran
karakteristik geometrik suatu produk, menggunakan alat ukur tertentu dan cara
tertentu untuk mendapatkan hasil pengukuran yang mendekati nilai sebenarnya.
Pengukuran adalah membandingkan suatu besaran yang belum diketahui
dengan besaran yang distandarkan, sedangkan besaran adalah sesuatu yang
memiliki nilai dan satuan yang dijadikan sebagai standar yang digunakan dalam
pengukuran. Besaran standar ini biasanya terdapat atau terpasang pada alat ukur,
dan alat ukur ini harus di kalibrasikan agar bisa mengukur dengan baik dan tepat.
Satuan adalah suatu standar nilai untuk mendefinisikan sesuatu agar terdapat
perbedaan antara yang satu dengan yang lain.
1. Besaran
1.1 Jenis jenis besaran:
a. Besaran Pokok
Yaitu besaran yang sesuai dengan standar internasional, dimana
besaran pokok ini dapat berdiri sendiri, selain itu juga dapat dijadikan
sebagai acuan standar dalam pengukuran serta dapat mendefinisikan
dirinya sendiri.
Tabel 2.1 Tabel Besaran Pokok

Besaran

Nama Satuan Dasar

Simbol

Dimensi

Panjang

Meter

Massa

Kilogram

kg

[L]
[M]

Waktu

Detik

[T]

Arus Listrik

Ampere

[I]

Temperatur

Kelvin

[]

Jumlah Zat
Intensitas Cahaya

Mole
Candela

n
cd

[N]
[J]

b. Besaran Turunan
Yaitu besaran yang diperoleh dari beberapa variabel dalam bentuk
persamaan.
Tabel 2.2 Tabel Besaran Turunan
Besaran

Nama Satuan Dasar

Simbol

Luas Bidang

Meter persegi

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11
Volume

Meter kubik

Percepatan

Meter per detik

m/s

Gaya

Newton

N,kg m/s

Tekanan

Pascal

Pa,N/m,kg/(m s)

Energi

Joule

J,kg m/s

Daya

Watt

W,kg m/s

Potensial Listrik

Volt

V,kg m/(s A)

1.2 Syarat-syarat besaran adalah:


1. Dapat didefinisikan secara fisik
Suatu besaran tersebut dapat didefenisikan bentuk dan wujudnya
secara nyata dan dapat dibuktikan
2. Dapat digunakan dimana saja
Suatu besaran tersebut tidak dipengaruhi oleh tempat pengukuran,
misalnya massa di bumi sama dengan massa di luar angkasa karena
massa merupakan sebuah besaran yang tidak dipengaruhi oleh
gravitasi dan variabel yang lainnya.
3. Tidak berubah terhadap waktu
Nilai suatu besaran tidak akan berbuah dimakan oleh waktu.

2. Pengukuran
2.1 Cara-Cara Pengukuran Dalam Metrologi :
1.

Pengukuran langsung
suatu pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur
langsung, dimana hasil pengukuran dapat langsung diperoleh.
Contoh : Jangka Sorong.

Gambar 2.1 Jangka Sorong

Laboratorium Metrologi Industri 4

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
2.

Rahang ukur pengukuran luar


Rahang ukur pengukuran dalam
Lidah pengukur kedalaman (depth)
Skala utama mm
Skala utama inci
Skala nonius mm
Skala nonius inci
Kunci peluncur (untuk memblok gerakan peluncur sehingga

mempermudah pembacaan hasil)


Pengukuran tak langsung
suatu pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur
pembanding, alat ukur standar dan alat ukur bantu.

Contoh : menggunakan Dial Indicator.

Gambar 2.2 Dial Indicator

3.

Pemeriksaan kaliber batas


suatu pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur kaliber
batas, dimana tidak mengukur dimensi suatu produk tetapi untuk
memeriksa

apakah

suatu

produk

toleransinya.
Contoh : menggunakan Kaliber Batas.

Laboratorium Metrologi Industri 5

berada

didalam/diluar

daerah

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

Gambar 2.3 Kaliber Poros

Gambar 2.4 Kaliber Lubang

4.

Membandingkan dengan bentuk standar atau acuan


suatu pengukuran yang dilakukan dengan membandingkan bentuk
produk yang dihasilkan dengan bentuk standarnya/acuan.
Contoh : menggunakan Profile Proyector

Laboratorium Metrologi Industri 6

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

Gambar 2.5 Profile Proyector

5.

Pengukuran geometri khusus


suatu pengukuran yang mempunyai metoda dan alat ukur khusus.
Contoh : menggunakan Surface Roughness Tester.

Gambar 2.6 Surface Roughness Tester

1.

2.2 Beberapa jenis pengukuran dalam metrologi :


Pengukuran linear
Suatu pengukuran besaran panjang yang menggunakan alat ukur
langsung yang telah terkalibrasi dan hasil pengukuran dapat diperoleh
sacara langsung.
Contoh : menggunakan mikrometer.

Laboratorium Metrologi Industri 7

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

Gambar 2.7 Mikrometer

2.

Pengukuran sudut
Suatu pengukuran sudut yang menggunakan alat ukur sudut yang telah
terkalibrasi dan hasil pengukuran dapat diperoleh secara langsung.
Contoh : menggunakan busur bilah.

Gambar 2.8 Busur Bilah

3.

Pengukuran profil
Suatu pengukuran yang membandingkan bentuk suatu produk dengan
bentuk acuan (standar) pada layar dari alat ukur proyeksi.
Contoh : menggunakan profile proyector.

Laboratorium Metrologi Industri 8

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

Gambar2.9 Profile Proyector

4.

Pengukuran ulir
Suatu pengukuran yang mengukur jarak antar ulir pada suatu produk.
Contoh : menggunakan mikrometer ulir.

5.

Pengukuran roda gigi,


Suatu pengukuran yang mengukur jarak antar pitch pada roda gigi.
Contoh : menggunakan mikrometer roda gigi.

Gambar 2.10 Mikrometer Ulir

Laboratorium Metrologi Industri 9

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

Gambar 2.11 Mikrometer Roda Gigi

6.

Pengukuran posisi
Suatu pengukuran yang menggunakan sensor yang dapat digerakkan
dalam ruang yang digunakan untuk menentukan posisi.

Contoh : menggunakan coordinate measuring machine (CMM).

Gambar 2.12 Coordinate Measuring Machine

7.

Pengukuran kerataan dan kedataran


Suatu pengukuran yang mengukur kerataan dan kedataran permukaan
suatu produk.
Contoh : menggunakan square level dan spirit level.

Laboratorium Metrologi Industri10

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

Gambar 2.13 Square LeveL

8.

Gambar 2.14 Spirit Level

Pengukuran kekasaran permukaan, suatu pengukuran yang mengukur


kekasaran permukaan suatu produk.

Contoh : menggunakan surface roughness tester.

Gambar 2.15 Surface Roughness Tester

2.3 Pengukuran dapat ditinjau dari 3 aspek yaitu:


1. Aspek Fisik
Aspek fisik adalah aspek yang bisa dilihat dan diukur,dipelajari dalam
pengukuran teknik (engineering measurement), contohnya berat, massa,
temperatur, tekanan, densitas, kecepatan, kedalaman dan kekasaran.
2. Aspek Mekanik
Pengukuran aspek mekanik dipelajari dalam material teknik (materials
science and engineering), contohnya Kekuatan (strength), Keuletan
(ductility), Kekerasan (hardness), Ketangguhan, dll
3. Aspek Geometrik
Terdiri dari :
Dimensi, contoh : diameter, panjang, lebar, dll

Laboratorium Metrologi Industri11

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11
-

Posisi, Pengukuran letak atau koordinat dari sebuah objek (X,Y,Z)


Bentuk, contoh : kesejajaran, kelurusan, kedataran, kemiringan

atau sudut, kebulatan, ketegaklurusan, dll


Kekasaran permukaan, Pengukuran tingkat kasar atau tidaknya
permukaan benda. Jika sebuah permukaan kasar, maka benda tersebut
akan cepat aus dan gesekannya semakin besar.

2.4 Empat kemungkinan hasil pengukuran


1. Tepat dan teliti

2. Tepat dan tidak teliti

B
3. Tidak tepat dan teliti

4. Tidak tepat dan tidak teliti

Gambar 2.16 Hasil Pengukuran

3. Alat Ukur
3.1 Karateristik Alat Ukur
1. Ketelitian ( Accuracy ), kemampuan alat ukur untuk menghasilkan nilai
yang mendekati nilai sebenarnya.

Laboratorium Metrologi Industri12

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

Gambar 2.17 Ketelitian

(Accuracy)

2. Ketepatan

kemampuan

alat

Precition
ukur

),

untuk

menghasilkan nilai
yang

relatif

sama dari beberapa

pengukuran

pada

titik

yang

sama.

Gambar2.18 Ketepatan (Precition)

3. Kecermatan (Resolution), skala terkecil yang dimiliki oleh suatu alat ukur.
3.2 Jenis-jenis alat ukur:
3.2.1 Berdasarkan sifat aslinya, dapat dibedakan atas:
1. Alat Ukur Langsung
Yaitu alat ukur yang dilengkapi dengan skala ukur yang lengkap, sehingga
hasil pengukuran dapat langsung diperoleh.
Contohnya : menggunakan jangka sorong

Laboratorium Metrologi Industri13

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

Gambar 2.19 jangka sorong

2. Alat Ukur Pembanding


Yaitu alat ukur yang berfungsi untuk mengukur beda ukuran suatu produk
dengan ukuran dasar produk yang telah diperkirakan terlebih dahulu dengan
blok ukur.
Contoh : menggunakan dial indicator

Gambar 2.20 Dial Indicator

3. Alat Ukur Standar


Yaitu alat ukur yang hanya dilengkapi dengan satu skala nominal, tidak
dapat memberikan hasil pengukuran secara langsung, dan digunakan untuk
alat kalibrasi dari alat ukur lainnya.
Contoh : menggunakan blok ukur

Gambar 2.21 Satu set blok ukur

Laboratorium Metrologi Industri14

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11
4. Alat Ukur Kaliber Batas
Yaitu alat ukur yang berfungsi untuk menunjukkan apakah dimensi suatu
produk berada di dalam atau diluar dari daerah toleransi produk tersebut.

Contoh : menggunakan kaliber lubang

Gambar 2.22 Kaliber Lubang

5. Alat Ukur Bantu


Yaitu alat ukur yang berfungsi untuk membantu dalam proses pengukuran.
Sebenarnya alat ini tidak bisa mengukur objek, namun karena peranannya
yang sangat penting dalam pengukuran maka alat ini dinamakan juga dengan
alat ukur.
Contoh: menggunakan meja rata

Gambar 2.23 meja rata

Laboratorium Metrologi Industri15

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11
3.2.2

Berdasarkan sifat turunannya, dapat dibedakan atas :

1. Alat Ukur Khas


Yaitu alat ukur yang dibuat khusus untuk mengukur geometri yang khas,
misalnya kekasaran permukaan, kebulatan, profil gigi pada roda gigi. Alat
ukur jenis ini dapat dilengkapi skala dan dilengkapi alat pencatat atau
penganalisis data.
Contoh : menggunakan alat ukur roda gigi

Gambar 2.24 mikrometer roda gigi

2. Alat Ukur Koordinat


Yaitu alat ukur ysang memiliki sensor yang dapat digerakkan dalam ruang,
digunakan untuk menentukan posisi
Contoh: menggunakan alat ukur posisi

Gambar 2.25 alat ukur posisi

3.3 Sifat dari alat ukur :


1. Rantai Kalibrasi ( Trace Ability ), yaitu sifat mampu usut alat ukur berdasarkan
tingkatan kalibrasinya. Tingkatan kalibrasi alat ukur :
a.
Alat ukur kerja (contoh: Mikrometer) di kalibrasi dengan alat ukur
standar kerja (contoh: Blok ukur kualitas 3).
b.
Alat ukur standar kerja di kalibrasi dengan alat ukur standar.

Laboratorium Metrologi Industri16

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11
c.
d.

Alat ukur standar di kalibrasi dengan alat ukur standar nasional.


Alat ukur standar nasional di kalibrasi dengan alat ukur standar

internasional.
2. Kepekaan ( Sensitivity ), yaitu kemampuan alat ukur untuk merasakan suatu
perbedaan yang relatif kecil dari harga yang diukur.

3.

Gambar 3.26 Kurva Kepekaan (Sensitivity)


Kemudahan Baca ( Read Ability ), yaitu kemampuan dari sistem penunjuk
untuk menunjukkan hasil pengukuran dengan jelas dan benar.
4. Penyimpangan ( histerisis ), yaitu penyimpangan yang terjadi pada hasil
pengukuran, dimana pengukuran dilakukan secara kontinu dari dua arah
yang berlawanan.

Gambar 3.27 Kurva Histerisis


5. Kepasifan atau Lambat Bereaksi ( Passivity ), yaitu sensor telah merasakan
perubahan tetapi penunjuk belum mengisyaratkan adanya perubahan.

Laboratorium Metrologi Industri17

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11
6. Pergeseran ( Shifting ), yaitu sistem penunjuk telah menunjukkan adanya
perubahan tetapi sensor belum mengisyaratkan adanya perubahan.
7. Kestabilan Nol ( Zero Stability ), yaitu kemampuan dari sistem penunjuk
untuk kembali ke posisi semula (nol ) bila benda ukur diambil seketika,
setelah dilakukannya pengukuran.
8. Pengambangan ( Floating ), yaitu keadaan dimana jarum penunjuk
data/angka digital selalu berubah rubah yang diakibatkan perubahan
kecil pada sensor.
1.

3.4 Teori Dasar Alat Ukur


Mistar Ingsut (Jangka Sorong)
Mistar Ingsut atau Jangka Sorong adalah alat ukur dimensi linier atau
panjang yang memiliki dua skala yaitu Skala Utama dan Skala Nonius.
Skala Utama adalah skala panjang dan Skala Nonius adalah skala yang
digeser-geser.
Mistar Ingsut digunakan untuk mengukur:
Dimensi Luar.
Ketebalan.
Diameter Dalam.
Kedalaman Lubang.

1.
2.
3.
4.

2. Mikrometer sekrup
Mikrometer adalah alat ukur dengan prinsip kerja dengan informasi gerak
melingkar skala yang diputar menjadi gerak tranfersal pada sensornya.

1.
2.
3.

Mikrometer digunakan untuk mengukur:


Ketebalan dinding atas.
Ketebalan alas dari suatu produk.
Diameter dalam dan luar.

3. Mikrometer rahang luar Adalah mikrometer yang digunakan untuk


mengukur dimensi luar suatu benda.

Laboratorium Metrologi Industri18

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11
4. Mikrometer rahang dalam Adalah mikrometer yang digunakan untuk
mengukur dimensi dalam suatu benda.
5. Mikrometer kedalaman Adalah mikrometer yang digunakan untuk
mengukur kedalaman lubang.
4. Toleransi
Toleransi adalah batas maksimum dan minimum kesalahan yang
dilakukakan oleh suatu pekerjaan teknik.
Suaian adalah hubungan antara dua komponen yang akan dirakit, yang
ditimbulkan adanya perbedaan ukuran bagi pasangan elemen geometrik saat
mereka disatukan.
Kalibrasi adalah membandingkan suatu alat ukur (skala atau harga
nominalnya) dengan acuan yang dianggap lebih benar. Langkah-langkah
kalibrasi yaitu melakukan pengkalibrasian alat ukur dengan alat ukur yang
lebih tinggi tingkatannya pada rantai kalibrasi, sehingga alat ukur tersebut
dapat mempunyai aspek keterlacakkan (trace ability).
IT (Internasional Tolerance) adalah toleransi yang diakui oleh ISO. IT ini
digunakan untuk menyatakan toleransi geometrik suatu produk. Toleransi yang
diukur adalah lubang dan poros. Untuk menyatakan toleransi lubang digunakan
huruf besar, sedangkan toleransi poros digunakan huruf kecil.
Kualitas toleransi adalah sekelompok toleransi yang dianggap mempunyai
ketelitian yang setara di semua elemen dasar.

Laboratorium Metrologi Industri19

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

Gambar 2.28 Istilah Dalam Toleransi

Ada 18 kualitas toleransi yang disebut toleransi standar:


IT 01 s/d IT 4 :untuk pengerjaan yang sangat teliti, seperti alat ukur dan
instrumen.
IT 5 s/d IT 11 : dipakai dalam bidang pemesinan umum
IT 12 s/d 16

: dipakai untuk pengerjaan kasar.


i 0.45 3 D 0.0001D

Untuk IT 5 s/d IT 16 dipergunakan rumus


Tabel 2.3 Harga Toleransi Standar Untuk Kualitas 01 Sampai 4

Kualitas
Harga

IT 01
0,3+0.008

IT 0
0,5+0,012

IT 1
0,8+0,020

(m)

Tabel 2.4 Harga Toleransi Standar Untuk kualitas 5 sampai 16

Laboratorium Metrologi Industri20

IT 2
IT 1xIT 3

IT 3
IT 1xIT 5

IT 4
IT 3xIT 5

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

Gambar 2.29 Posisi Daerah Toleransi Linier

Posisi daerah toleransi untuk suatu ukuran dasar bagi poros dan lubang.
Pada gambar ini daerah toleransinya diiliustrasikan sebagai daerah terbuka
karena tutupnya yaitu batas lain dari toleransi ditentukan lokasinya oleh besar
kecilnya toleransi yang dalam hal ini akan diwakilkan kepada simbol angka.
Sesuai dengan simbol hurufnya, perhatikan perubahan penyimpangan terdekatnya
relatif terhadap garis nol. Bagi poros, mulai dari huruf a sampai dengan huruf g
daerah toleransinya membuka ke bawah dan terletak di bawah garis nol. Bagi
huruf h daerah toleransinya menempel pada garis nol. Selanjutnya sampai
dengan huruf zc daerah toleransinya membuka ke atas.

Sebaliknya untuk

lubang.
Dua benda yang berhubungan mempunyai ukuran-ukuran yang berbeda
sebelum dirakit. Suaian adalah hubungan yang terjadi antara komponen yang
berpasangan seperti poros dan lubang.
Jenis-jenis suaian :
1. Suaian longgar
Daerah toleransi lubang selalu terletak diatas daerah toleransi poros
2. Suaian paksa
Daerah toleransi lubang selalu terletak dibawah daerah toleransi poros
3. Suaian pas
Daerah toleransi poros dan toleransi lubang selalu berpotongan

Laboratorium Metrologi Industri21

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

Gambar 2.30 Sistem Suaian


Tabel 2.5 Toleransi Linier (Toleransi Umum)

ContohToleransi :
50H7

Laboratorium Metrologi Industri22

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11
Berarti

: Diameter lubang 50 mm ,suaian pas dalam sistim lubang dasar

dengan nilai toleransi dari tingkat IT7.


Penyelesaiannya : pertama mencari nilai toleransinya,dengan rumus ;
3
I = 0,45. D + 0,001 D
maka,i = 0,45

3 50 + 0,001.50

= 0,45.3,68 + 0,05
=1,7 m
Karena toleransi dari tingkat IT 7 , yang mana nilai IT 7 adalah 16i sehingga
nilai standar toleransi adalah 16.1,7m = 27,2 m sama dengan 0.02 mm
untuk penyimpangan atasnya dan karena pada kedudukan lubang H yang
mana untuk lubang pada kedudukan H adalah suaian pas yang berarti nilai
penyimpangan bawahnya nol(0).
Secara umum toleransi terbagi 2 yaitu :
a. Toleransi linear
adalah nilai maksimum dan minimum dari kesalahan alat yang berada
kesalahannya pada nilai atau angka. Contohnya panjang,lebar,tinggi dan luas
(pengukuran linier)
b. Toleransi Geometrik
Dalam proses pembuatan suatu produk (benda kerja) yang teliti,
penyimpangan bentuk, posisi, tempat, dan penyimpangan putar terhadap suatu
elemnen geometri (titik, garis, permukaan atau bidang tengah), harus secara
jelas dibatasi dengan nilai toleransi tertentu. Toleransi yang membatasi
penyimpangan bentuk, posisi tempat dan penyimpangan putar terhadap suatu
elemen geometris ini disebut sebagai toleransi geometrik.
Toleransi ukuran sesungguhnya membatasi juga beberapa penyimpangan
geometris. Oleh karena itu, apabila toleransi geometrik ditentukan secara rinci,
inaka tidak diharuskan pemberian toleransi ukuran yang sempit. Dengan kata
lain, toleransi geometrik memberikan kesempatan untuk memperlebar
persyaratan dari toleransi ukuran.
Perlu juga ditegaskan di sini bahwa pemakaian toleransi geometrik hanya
dianjurkan apabila memang perlu untuk meyakinkan ketepatan komponen

Laboratorium Metrologi Industri23

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11
mcnurut fungsinya, misalnya untuk membuat bagian-bagian yang mampu
tukar, atau bagian-bagian yang teliti lainnya. Pembuatan bendanya sendiri
dapat dilakukan dalam pabrik yang bcrbccla dengan peralatan dan pengalaman
yang berbeda pula.
Penggunaan simbol serta cara pencantuman toleransi geometrik pada
gambar telah direkomendasikan oleh ISO sejak tahun 1969. Bahkan dalam
standar lain scperti ANSI dan JIS, beberapa tahun terakhir ini sudah mengalami
sedikit perluasan.
Klasifikasi toleransi, bentuk dan posisi :
1. Bentuk suatu elemen

Kelurusan ( straightness )
Kerataan ( flatness )
Kebulatan ( noundness )
Kesilindrisan (cylindricity )
Ketelitian bentuk garis ( profilofanyline )
Ketelitian bentuk bidang ( profilof any surface )

2. Orientasi

Kesejajaran ( parallelism )
Ketidaklurusan ( prepenacularity )
kemiringan ( angularity )

3. Posisi

Posisi ( position )
Kesamaan sumbu ( cocentricity )
Kesimetrisan ( symmetry )

4. Putar

Putar tunggal
Putar penuh
Tabel 2.6 Toleransi Geometri

Laboratorium Metrologi Industri24

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11

5. Kesalahan dalam Pengukuran


Banyak sekali kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam melakukan sebuah
pengukuran, baik kesalahan yang disebabkan oleh faktor lingkungan, faktor
manusia ataupun faktor dari alat ukur tersebut. Berikut adalah kesalahankesalahan yang bisa terjadi saat melakukan pengukuran
1. Kesalahan Akibat Faktor Lingkungan
Saat melakukan sebuah pengukuran, hendaknya meninjau terlebih
dahulu lingkungan tempat akan melakukan pengukuran. Menurut
Budiyanto (2012)Kesalahan pengukuran yang disebabkan oleh kondisi
lingkungan disebut kesalahan acak. Adapun beberapa hal yang dapat
menyebabkan kesalahan pada pengukuran oleh faktor lingkungan
adalah kebisingan, getaran, suhu dan fluktuasi.

Laboratorium Metrologi Industri25

Presentasi Ilmiah
Kelompok 11
2. Kesalahan Akibat Faktor Manusia

Manusia adalah pelaku dalam pengukuran, banyak sekali


kesalahan-kesalahan yang bisa terjadi akibat dari manusia itu sendiri.
Yang berpengaruh dalam kesalahan ini adalah kemampuan (skill) dan
pengalaman dalam melakukan pengukuran. Kesalahan-kesalahan yang
sering terjadi adalah posisi mata pengamat yang tidak lurus saat
melakukan pembacaan skala, kesalahan dalam menggunakan alat ukur
dan kesalahan dalam membaca skala alat ukur.
3. Kesalahan Akibat Alat Ukur
Alat ukur merupakan buatan manusia, dan memerlukan sebuah
perawatan untuk menjaga ketelitian dari alat ukur tersebut. Perawatan
yang dimaksud adalah kalibrasi alat ukur. Menurut belajar-tekniksipil.blogpot.com (2011) umumnya kesalahan sistematik disebabkan
oleh alat-alat ukur sendiri. Beberapa kesalahan yang sering terjadi
yang disebabkan oleh alat ukur itu sendiri adalah titik nol dari skala itu
bergeser dari titik aslinya, keausan alat, kesalahan saat kalibrasi alat dan
pelemahan kekuatan komponen alat ukur.

Laboratorium Metrologi Industri26