Anda di halaman 1dari 35

Unit

STRUKTUR FONOLOGI DAN MORFOLOGI


BAHASA INDONESIA

Muh. Faisal

ada unit IV dalam bahan ajar cetak mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia
SD ini dibahas mengenai Struktur Fonologi dan Morfologi Bahasa
Indonesia. Unit ini terdiri atas 2 subunit yaitu: (1) Struktur Fonologi Bahasa
Indonesia, dan (2) Struktur Morfologi Bahasa Indonesia.
Saudara, mungkin ada yang bertanya, untuk apa mempelajari struktur
fonologi dan morfologi bahasa Indonesia. Pemahaman struktur fonologi dan
morfologi bahasa Indonesia bagi guru, selain dapat menjadi bekal dalam
pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari
juga dapat bermanfaat dalam pembinaan kemampuan berbahasa siswa.
Dalam kaitannya dengan materi Kajian Bahasa Indonesia SD yang lain,
pemahaman mengenai struktur fonologis dan morfologis akan bermanfaat untuk
mempelajari materi sintaksis, semantik dan apresiasi bahasa dan sastra.
Untuk itu, maka setelah mempelajari uni ini, Anda diharapkan mampu:
1. menjelaskan pengertian fonologi;
2. membedakan ilmu-ilmu bahasa yang tercakup dalam fonologi;
3. mengidentifikasi fonem-fonem bahasa Indonesia;
4. menjelaskan pengertian morfologi bahasa Indonesia;
5. mengidentifikasi morfem bahasa Indonesia.
6. mengidentifikasi jenis kata ulang bahasa Indonesia
7. menjelaskan makna kata ulang.
Untuk mencapai kemampuan yang diharapkan di atas, maka pelajarilah
dengan baik materi yang disajikan pada setiap subunit. Setiap subunit disertai
dengan latihan/tugas. Kerjakanlah latihan/tugas itu dengan cermat, sehingga

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 1

Anda dapat mengukur sejauh mana pemahaman Anda terhadap materi yang baru
Anda pelajari.
Selanjutnya, ada rangkuman yang dapat membantu Anda memahami
garis besar dari uraian yang telah Anda pelajari. Pada akhir unit, juga
disediakan tes formatif. Silakan kerjakan. Periksa jawaban Anda dan cocokkan
dengan kunci jawaban.
Selamat belajar, semoga sukses.

4 - 2 Unit 4

Subunit 1
Struktur Fonologi Bahasa Indonesia

alau kita perhatikan dengan baik, dalam kehidupan sehari-hari masih


banyak masyarakat kita yang memakai bahasa Indonesia tetapi
tuturan/ucapan daerahnya terbawa ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Tidak
sedikit seseorang yang berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan lafal
atau intonasi Jawa, Batak, Bugis, Sunda dan lain sebagainya. Hal ini
dimungkinkan karena sebagian besar bangsa Indonesia memposisikan bahasa
Indonesia sebagai bahasa kedua. Sedangkan bahasa pertamanya adalah bahasa
daerah masing-masing. Bahasa Indonesia hanya digunakan dalam komunikasi
tertentu, seperti dalam kegiatan-kegiatan resmi.
Selain itu, dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya di Sekolah
Dasar, istilah yang dikenal dan lazim digunakan guru adalah istilah huruf
walaupun yang dimaksud adalah fonem. Mengingat keduanya merupakan
istilah yang berbeda, untuk efektifnya pembelajaran, tentu perlu diadakan
penyesuaian dalam segi penerapannya.
Oleh karena itu, untuk mencapai suatu ukuran lafal/fonem baku dalam
bahasa Indonesia, sudah seharusnya lafal-lafal atau intonasi khas daerah itu
dikurangi jika mungkin diusahakan dihilangkan; begitu pula pemakaian istilah
huruf dan fonem perlu dibedakan, lebih-lebih bagi Anda karena akan
memberikan pengaruh kepada siswa. Ingat, Anda adalah model dalam berbahasa
bagi siswa.

Pengertian Fonologi
Sebelum diuraikan mengenai fonologi, terlebih dahulu apa yang dimasud
dengan struktur. Yang dimaksud dengan struktur di sini adalah penyusunan atau
penggabungan unsur-unsur bahasa menjadi suatu bahasa yang berpola. Apakah
yang dimaksud dengan fonologi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997)
dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki
bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian, fonologi adalah
merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatan bahwa
fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 3

Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian yakni


(a) fonetik dan
(b) fonemik.
Fonetik yaitu ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran
yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap
manusia. Sedangkan menurut Samsuri (1994), fonetik adalah studi tentang
bunyi-bunyi ujar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997),
fonetik diartikan: bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar
atau fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi
bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan.
Selanjutnya, fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi
bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Terkait dengan pengertian
tersebut, fonemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) diartikan: (1)
bidang linguistik tentang sistem fonem; (2) sistem fonem suatu bahasa; (3)
prosedur untuk menentukan fonem suatu bahasa.
Selain pengertian fonetik dan fonemik, Anda perlu pula memahami apa
yang dikasud dengan fonem. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi kekeliruan
dalam penggunaan istilah fonem dan huruf. Supriyadi (1992) berpendapat
bahwa yang dimaksud fonem adalah satuan kebahasaan yang terkecil. Pendapat
tersebut dibuktikan dengan dengan cara menganalisis struktur fonologis kata
dasar baca dengan menggunakan diagram pohon seperti berikut.
buku
bu

ku

atau
kata dasar
suku
fonem

4 - 4 Unit 4

suku
fonem

fonem

fonem

Selain pendapat di atas, Santoso (2004) menyatakan bahwa setiap bunyi


ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaran
yang membedakan arti ini disebut fonem. Fonem tidak dapat berdiri sendiri
karena belum mengandung arti. Tidak berbeda dengan pendapat tadi, dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) tertulis bahwa yang dimaksud fonem:
satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna, misalnya /b/
dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena bara dan para beda maknanya.
Terjadinya perbedaan makna hanya karena pemakaian fonem /b/ dan /p/ pada
kata tersebut. Contoh lain: mari, lari, dari, tari, sari jika satu unsur diganti
dengan unsur lain, maka akan membawa akibat yang besar yakni perubahan arti.
Hal ini dapat pula terjadi jika diucapkan dengan salah, maka akan
mengakibatkan perubahan arti juga.
Lalu, apa yang dimaksud dengan huruf? Dalam bidang linguistik, huruf
sering diistilahkan dengan grafem. Untuk membantu Anda dalam memahami
struktur fonem, dan perbedaan antara fonem dan huruf (grafem) perhatikan
contoh yang tertera dalam tabel berikut.

Susunan
Fonem
/adik/
/iat/
/Nani/
/pantay/

Jumlah Fonem

Susunan Huruf

Jumlah Huruf

4
4
4
5

Adik
Ingat
Nyanyi
Pantai

4
5
6
6

Kata yang
Terbentuk
Adik
Ingat
Nyanyi
Pantai
(Santoso, 2004)

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa antara fonem dan huruf (grafen)
berbeda. Sudah dikemukakan bahwa fonem adalah satuan bunyi bahasa yang
terkecil yang dapat membedakan arti. Sedangkan huruf (grafem) adalah
gambaran dari bunyi (fonem), dengan kata lain, huruf adalah lambang fonem.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) bahwa huruf adalah tanda aksara
dalam tata tulis yang merupakan anggota abjaad yang melambangkan bunyi
bahasa.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 5

Untuk lebih memantapkan pemahaman Anda mengenai perbedaan fonem


dengan huruf, perhatikan kata-kata yang tercetak miring pada kalimat berikut
(Supriyadi, dkk, 1992).
(1) Andi sedang belajar menyanyi.
(2) Anak itu menganga di depan dokter gigi.
(3) Dia sangat bersyukur atas prestasi yang diraihnya.
(4) Orang itu sedang berkhotbah.
Kata-kata yang dicetak miring pada kalimat di atas berkata dasar nyanyi,
nganga, syukur, dan khotbah. Struktur fonologis keempat kata dasar itu sebagai
berikut.
(1)

nyanyi
nya

nyi

ny

(2)

ny
nganga

nga

nga

ng

(1)

ng

syukur
syu

kur

sy

(2)

khotbah
khot
kh

4 - 6 Unit 4

bah
o

Dari tabel di atas jelas bahwa a, i, u, k, r, o, t, b, h tidak dapat diuraikan


lagi atas unsur-unsurnya yang lebih kecil. Karena itu, masing-masing adalah
fonem. Bagaimana halnya dengan ny, ng, sy, dan kho? Dapatkah masing-masing
diuraikan lagi atas unsur-unsurnya? Anda pasti tahu jawabannya, bukan? Kalau
perlu, cobalah ucapkan atau dengarkan bunyi bahasanya. Bukankah ternyata ny,
ng, sy, dan kho masing-masing terjadi dalam satu peristiwa ucapan? Karena itu,
ny, ng, sy, dan kho tidak dapat diuraikan lagi atas peristiwa ucapan yang lebih
kecil.

Sistem Fonologi dan Alat Ucap


Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, yang terdiri
atas: (a) fonem vokal 6 buah, (b) fonem diftong 3 buah, dan fonem konsonan 23
buah.
Sebelum lanjut membaca uraian selanjutnya, kerjakan dahulu tugas
berikut:

Latihan
Tuliskanlah semua fonem resmi bahasa Indonesia!

Rambu-rambu pengerjaan latihan.


Tugas di atas akan mudah Anda kerjakan jika menghafal urutan abjad
bahasa Indonesia. Tuliskan semua abjad tersebut, kemudian kelompokkan
(dapat menggunakan tabel berikut.

Vokal
Diftong
Konsonan

...................................................................................................
...
...................................................................................................
...
...................................................................................................
...

Selanjutnya, pelajari baik-baik uraian mengenai fonetik berikut ini.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 7

Sebagaimana yang sudah dikemukakan pada bagian awal subunit ini


bahwa bentuk-bentuk fonem suatu bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap
manusia dibahas dalam bidang fonetik. Terkait dengan hal itu, Samsuri (1994)
menyatakan bahwa secara fonetis bahasa dapat dipelajari secara teoritis dengan
tiga cara atau jalan, yaitu:
(a) bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia,
(b) bagaiamana arus bunyi yang telah keluar dari rongga mulut dan/atau
rongga hidung si pembicara merupakan gelombang-gelombang
bunyi udara, dan
(c) bagaimana bunyi itu diinderakan melalui alat pendengaran dan
syaraf si pendengar.
Cara pertama disebut fisiologis atau artikuler, yang kedua disebut
akustis, dan yang ketiga impresif atau auditoris (menurut pendengaran).
Dalam bahasan struktur fonologis cara pertamalah yang paling mudah,
praktis, dapat diberikan bukti-bukti datanya. Mengapa? Hampir semua gerakan
alat-alat ucap itu dapat kita periksa, paru-paru, sekat rongga dada, tenggorokan,
lidah, dan bibir.
Alat ucap dibagi menjadi dua macam:
(1) Artikulator; adalah alat-alat yang dapat digerakkan/digeser ketika
bunyi diucapkan.
(2) Titik Artikulasi; adalah titik atau daerah pada bagian alat ucap yang
dapat disentuh atau didekati.

4 - 8 Unit 4

Untuk mengetahui alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bahasa,


perhatikan bagan berikut.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

paru-paru
batang tenggorokan
pangkal tenggorok
pita-pita suara
rongga kerongkongan
akar lidah
pangkal lidah
tengah lidah
daun lidah
ujung lidah
anak tekak
langit-langit lunak,
langit-langit tekak

13. langit-langit keras


14. lengkung gigi, gusi
15. gigi atas
16. gigi bawah
17. bibir atas
18. bibir bawah
19. mulut
20. rongga mulut
21. hidung
22. rongga hidung
(Verhaar, dalam Supriyadi, dkk,
1992).

Fonem-fonem dihasilkan karena gerakan organ-organ bicara terhadap


aliran udara dari paru-paru sewaktu sewaktu seseorang mengucapkannya. Jika
bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan, maka bunyi
Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 9

atau fonem yang dihasilkan adalah vokal. Fonem vokal yang dihasilkan
tergantung dari beberapa hal berikut.
(a) Posisi bibir (bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi).
(b) Tinggi rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika
mengucapkan bunyi.
(c) Maju-mundurnya lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan lengkung
kaki gigi).
Berdasarkan gerakan lidah ke depan dan ke belakang, vokal dibedakan
atas:
(a) vokal depan: /i/ dan /e/,
(b) vokal tengah /a/ dan //,
(c) vokal belakang: /o/ dan /u/.
Berdasarkan tinggi rendahnya gerakan lidah, vokal dibedakan atas:
(a) vokal tinggi: /i/ dan /u/,
(b) vokal madya: /e/, //, dan /o/;
(c) vokal rendah: /a/.
Menurut bundar tidaknya bentuk bibir, vokal dibedakan atas:
(a) vokal bundar: /a/, /o/, dan /u/;
(b) vokal tak bundar: /e/, //, dan /i/.
Menurut renggang tidaknya ruang antara lidah dengan langit-langit,
vokal dibedakan atas:
(a) vokal sempit: //, /i/, dan /u/;
(b) vokal lapang: /a/, /e/, /o/.
Jadi /a/ misalnya, adalah vokal tengah, rendah, bundar, dan lapang.
Selanjutnya, jika bunyi ujaran ketika udara ke luar dari paru-paru
mendapat halangan, maka terjadilah bunyi konsonan. Halangan yang dijumpai
bermacam-macam, ada halangan yang bersifat seluruhnya, dan ada pula yang
sebagian yaitu dengan menggeser atau mengadukkan arus suara sehingga
menghasilkan konsonan bermacam-macam pula. Karena itu, dikenal klasifikasi
konsonan seperti berikut.
(a) Konsonan bibir (bilabial): /p/, /b/, /m/.
(b) Konsonan bibir gigi (labiodental): /f/, /v/, /w/.
(c) Konsonan gigi (dental): /t/, /d/, /s/, /z/, /l/, /r/, /n/.
(d) Konsonan langit-langit (palatal): /c/, /j/, //, /y/, //

4 - 10 Unit 4

(e) Konsonan langit-langit lembut (velar): /g/, /k/, /x/, //


(f) Konsonan pangkal tenggorok (laringal): /h/.
Selain di atas, berikut ini klsifikasi lain dari konsonan adalah:
(a) Konsonan letupan atau eksplosif, apabila aliran udara tertutup
rapat, konsonan yang dihasilkan adalah: /p/, /t/, /c/, /k/, /b/, /d/, /j/,
/g/.
(b) Konsonan geseran atau spiran, bila udara masih bisa keluar dalam
aliran yang demikian sempit, konsonan yang muncul adalah: /f/, /s/,
//, /z/, /x/.
(c) Konsonan sengau atau nasal, jika udara keluar sebagian melalui
hidung: /m/, /n/, / /, //
(d) Konsonan lateral, kalau udara yang keluar melalui bagian kiri dan
kanan lidah serta mengenai alur gigi: /l/.
(e) Konsonan getar, bila terjadi letupan berturut-turut: /r/.
Ada juga yang dinamakan konsonan bersuara dan konsonan tak
bersuara. Konsonan bersuara terjadi karena bergetarnya selaput suara: /b/, /m/,
/w/, /d/, /n/, /z/, /j/, //, /g/, /x/, /y/, //. Sedangkan konsonan tak bersuara adalah
konsonan yang terjadi tampa bergetarnya selaput suara: /p/, /t/, /s/, /c/, /k/, /h/,
/r/, /l/ (Samsuri, 1994, Supriyadi, dkk. 1992, Santoso, 2004 dan Depdikbud,
1988).
Berdasarkan klasifikasi di atas, /b/ misalnya, termasuk konsonan bibir,
letupan, dan bersuara. Coba Anda sebutkan sifat konsonan lainnya berdasarkan
klsifikasi di atas.
Sekarang, coba perhatikan kata-kata berikut:
pulau
pantai
amboi
kicau
belai
sepoi
lampau
cerai
sekoi
Bagaimana pengucapan akhir kata-kata di atas? Fonem tersebut ditulis
dengan dua buah huruf (grafem). Walaupun demikian, masing-masing
dinyatakan sebagai sebuah fonem. Inilah yang disebut diftong. Diftong dalam
Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan sebagai vokal yang
berubah kualitasnya. Dalam sistem tulisan, diftong dilambangkan oleh dua huruf
vokal. Kedua huruf vokal itu tidak dapat dipisahkan. Bunyi /aw/ pada kata pulau
adalah diftong, sehingga <au> pada suku kata lau tidak dapat dipisahkan
menjadi la-u seperti pada kata mau.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 11

Bagaimana? Anda sudah memahami uaraian di atas? Kalau sudah, untuk


lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi ini cobalah kerjakan
latihan berikut.

Latihan
Jelaskan setiap vokal bahasa Indonesia menurut atau sifat fonetisnya.

Rambu-rambu pengerjaan latihan.


Latihan tersebut dapat Anda lakukan dengan langkah-langkah berikut.
1. Buat kolom berdasarkan klasifikasi vokal menurut gerak lidah ke depan dan
ke belakang.
2. Buatlah baris tabel berdasarkan klasifikasi vokal menurut gerak lidah ke
atas dan ke bawah.
3. Bagilah setiap kolom berdasarkan klasifikasi vokal menurut bentuk bibir.
4. Bagilah setiap baris berdasrkan klasifikasi vokal menurut segi
kerenggangan lidah dengan langit-langit.
5. Bentuk tabel yang akan diperoleh seperti berikut.
Sifat Vokal
Tinggi
Madya
Rendah

Depan
B
TB
S
L
S
L
S
L

Tengah
B
TB

Belakang
B
TB

/a/*

6. Masukkan setiap vokal bahasa Indonesia ke dalam baris dan kolom yang
sesuai dengan sifat vokal. Contoh: /a/(*).

4 - 12 Unit 4

Rangkuman
Struktur adalah penyusunan atau penggabungan unsur-unsur bahasa
menjadi suatu bahasa yang berpola. Fonologi adalah merupakan sistem bunyi
dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatan bahwa fonologi adalah ilmu
tentang bunyi bahasa.
Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian yakni (a) fonetik
dan (b) fonemik. Fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi
bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan.
Selanjutnya, fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa
yang berfungsi sebagai pembeda makna. Sedangkan yang dimaksud dengan
fonem satuan kebahasaan yang terkecil yang dapat membedakan arti.
Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, yang terdiri
atas: (a) fonem vokal 6 buah, (b) fonem diftong 3 buah, dan fonem konsonan 23
buah.
Secara fonetis, bahasa dapat dipelajari secara teoritis dengan tiga cara
atau jalan, yaitu:
(a) bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia
(fisiologis atau artikuler),
(b) bagaiamana arus bunyi yang telah keluar dari rongga mulut
dan/atau rongga hidung si pembicara merupakan gelombanggelombang bunyi udara (akustis), dan
(c) bagaimana bunyi itu diinderakan melalui alat pendengaran dan
syaraf si pendengar (impresif atau auditoris).
Alat ucap dibagi menjadi dua macam:
(1) artikulator; adalah alat-alat yang dapat digerakkan/digeser ketika
bunyi diucapkan dan
(2) titik artikulasi; adalah titik atau daerah pada bagian alat ucap yang
dapat disentuh atau didekati.
Fonem-fonem dihasilkan karena gerakan organ-organ bicara terhadap
aliran udara dari paru-paru sewaktu sewaktu seseorang mengucapkannya. Jika
bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan, maka bunyi
atau fonem yang dihasilkan adalah vokal. Selanjutnya, jika bunyi ujaran ketika
udara ke luar dari paru-paru mendapat halangan, maka terjadilah bunyi
konsonan.
Fonem vokal yang dihasilkan tergantung dari beberapa hal yaitu:
(a) posisi bibir,
(b) tinggi rendahnya lidah, dan

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 13

(c) maju-mundurnya lidah.


Atas dasar itu dikenal istilah: vokal depan, vokal belakang, vokal tinggi,
vokal rendah, vokal bundar, vokal tak bundar, vokal sempit dan vokal lapang.
Vokal yang yang memiliki perubahan kualitas diklasifikasikan sebagai diftong;
misalnya au, ai, dan oi pada kata harimau, pantai, dan amboi.
Klasifikasi konsonan adalah:
(a) konsonan bibir (bilabial),
(b) konsonan bibir gigi (labiodental),
(c) konsonan gigi (dental),
(d) konsonan langit-langit (palatal),
(e) konsonan langit-langit lembut (velar),
(f) konsonan pangkal tenggorok (laringal).
Selain itu, klsifikasi lain dari konsonan adalah:
(a) konsonan letupan atau eksplosif,
(b) konsonan geseran atau spiran,
(c) konsonan sengau atau nasal,
(d) konsonan lateral, dan
(e) konsonan getar.
Ada juga yang dinamakan konsonan bersuara dan konsonan tak
bersuara. Konsonan bersuara terjadi karena bergetarnya selaput suara.
Sedangkan konsonan tak bersuara adalah konsonan yang terjadi tampa
bergetarnya selaput suara.

4 - 14 Unit 4

Tes Formatif 1
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang
disediakan!
1. Satuan fonologis yang terkecil adalah ...
A. suku.
B. kata.
C. fonem.
D. huruf.
2. Ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam
tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia disebut ...
A. fonem.
B. fonetik.
C. fonemik.
D. fonologi.
3. Perbedaan bentuk-bentuk setiap fonem dapat dimati dengan cara bagaimana
bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia. Cara tersebut dipelajari
dalam fonetik ...
A. akustis
B. auditoris
C. artikuler
D. impresif
4. Kata pantai pada kalimat Mereka rekreasi di pantai Losari terdiri atas ...
fonem.
A. 5
B. 6
C. 7
D. 8
5. Yang termasuk artikulator adalah...
A. gigi atas
B. bibir atas
C. langit-langit lunak
D. lidah
6. Bagian dari alat ucap manusia yang menjadi tujuan sentuh disebut ...
A. titik artikulator
B. artikulator
C. titik artikulasi
D. batang tenggorok

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 15

7. Fonem vokal yang termasuk vokal atas dan depan adalah ...
A. /e/
B. /u/
C. /o/
D. /i/
8. Bila udara masih bisa keluar dalam aliran yang demikian sempit, konsonan
yang muncul adalah...
A. konsonan letupan
B. konsonan geseran atau spiran
C. konsonan sengau atau
D. konsonan lateral
9. Konsonan yang terjadi karena bergetarnya selaput suara disebut...
A. konsonan tak bersura
B. konsonan lateral
C. konsonan spiran
D. konsonan bersuara
10. Fonem pertama pada kata dasar tari, duduk, sukses, dan zakat, termasuk
fonem ...
A. dental
B. labiodental
C. palatal
D. velar

4 - 16 Unit 4

Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau Anda telah mempelajari
materi dengan baik, pasti tidak akan sukit menjawab soal-soal tes formatif sub
unit 1. Nah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes
formatif subunit 1 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit IV ini. Hitunglah
jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk
mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 1.
Rumus:
Jumlah jawaban Anda yang benar
Tingkat penguasaan =
x 100%
10
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 100% = baik sekali
80 89%
= baik
70 79%
= cukup
< 70%
= kurang
Apakah tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda
sukses! Anda dapat meneruskan mempelajari unit berikutnya. Bila tingkat
penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah
mempelajari subunit 1, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 17

Subunit 2
Struktur Morfologi Bahasa Indonesia

audara, pada subunit ini Anda akan mempelajari tataran bahasa yang
setingkat lebih kompleks daripada fonem yakni morfologi. Morfologi
merupakan bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata.
Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan bahwa dalam
bahasa ada bentuk (seperti kata) yang dapat dipotong-potong menjadi bagian
yang lebih kecil yang kemudian dapat diceraikan menjadi bagian yang lebih
kecil lagi sampai ke bentuk yang, jika dipotong lagi, tidak mempunyai makna.
Kata memperhalus, misalnya, dapat dipotong sebagai berikut.
mem-perhalus
per-halus
Jika halus diceraikan lagi, maka ha- dan lus secara terpisah tidak mempunyai
makna. Bentuk seperti mem-, per- dan halus disebut morfem. Selain itu, dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa morfem adalah satuan
bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak
dibagi atas bagian bermakna lebih kecil.
Sudah jelas? Kalau belum, perhatikan paparan Supriyadi (1992) berikut
ini yang dapat lebih memudahkan Anda memahami morfem. Perhatikan katakata bergaris pada kalimat di bawah ini.
(1) Bajunya putih.
(2) Baju ini sudah memutih.
(3) Putihkan baju itu.
(4) Ia memutihkan baju itu.
Kata putih, adalah unsur gramatis (telah mengandung makna tersendiri)
yang sama yang terdapat pada setiap kalimat di atas. Unsur itu merupakan unsur
gramatis yang terkecil. Artinya, unsur ini tidak dapat dibagi lagi menjadi unsurunsurnya yang bermakna. Unsur pu dan tih tidak bermakna. Karena itu, putih
merupakan unsur gramatis yang terkecil, sedangkan pu dan tih bukan unsur
gramatis terkecil. Berdasarkan perangkat satuannya, putih merupakan satuan
morfologis, sedangkan pu dan tih adalah satuan fonologis. Selain terdapat pada
kata-kata di atas, unsur atau satuan putih tentu sering dijumpai pula kata-kata

4 - 18 Unit 4

lainnya, misalnya: pemutih, diputihkan, memperputih, diperputih, keputihan,


terputih, seputih, dan sebagainya. Unsur atau satuan morfologis seperti itu
diklasifikasikan sebagai morfem.
Bagaimana dengan me- atau kan pada kata-kata di atas, apakah
termasuk morfem juga? Satuan ini belum mengandung makna tersendiri, karena
itu, tidak dapat langsung membentuk kalimat. Satuan seperti ini menurut
Santoso (2004) disebut satuan non-gramatis. Untuk membentuk kalimat, maka
satuan nongramatis seperti me- dan kan harus digabung dengan satuan gramatis
lain. Kedua macam satuan itu yakni gramatis dan non-gramatis disebut morfem.
Mengapa yang non-gramatis termasuk juga morfem? Karena, me- dan kan
mempunyai makna juga yang biasa disebut dengan istilah makna struktural.
Morfem seperti ini berfungsi sebagai pembentuk kata dasar dan hanya akan
berfungsi atau bermakna bila dimbuhkan kepada kata dasar. Karena itu, morfem
semacam ini disebut: tambahan, imbuhan, atau afiks.
Morfem dalam bahasa Indonesia berdasarkan bentuknya ada dua macam
yaitu:
(1) morfem bebas, dan
(2) morfem terikat.

Morfem Bebas dan Morfem Terikat


Menurut Santoso (2004), morfem bebas adalah morfem yang mempunyai
potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk
kalimat. Dengan demikian, morfem bebas merupakan morfem yang diucapkan
tersendiri; seperti: gelas, meja, pergi dan sebagainya.
Morfem bebas sudah termasuk kata. Tetapi ingat, konsep kata tidak
hanya morfem bebas, kata juga meliputi semua bentuk gabungan antara morfem
terikat dengan morfem bebas, morfem dasar dengan morfem dasar. Jadi dapat
dikatakan bahwa morfem bebas itu kata dasar.
Morfem terikat merupakan morfem yang belum mengandung arti, maka
morfem ini belum mempunyai potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata,
morfem ini harus digabung dengan morfem bebas. Menurut Samsuri (1994),
morfem terikat tidak pernah di dalam bahasa yang wajar diucapkan tersendiri.
Morfem-morfem ini, selain contoh yang telah diuraikan pada bagian awal,
umpanya: ter-, per-, -i, -an. Di samping itu ada juga bentuk-bentuk seperti
juang, -gurau, -tawa, yang tidak pernah juga diucapkan tersendiri, melainkan
selalu dengan salah satu imbuhan atau lebih. Tetapi sebagai morfem terikat,

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 19

yang berbeda dengan imbuhan, bisa mengadakan bentukan atau konstruksi


dengan morfem terikat yang lain.
Morfem terikat dalam bahasa Indonesia menurut Santoso (2004) ada dua
macam, yakni morfem terikat morfologis dan morfem terikat sintaksis. Morfem
terikat morfologis yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem dasar, adalah
sebagai berikut:
(a) prefiks (awalan): per-, me-, ter-, di-, ber- dan lain-lain
(b) infiks (sisipan): -el-, -em, -er(c) sufiks (akhiran): -an, kan, -i
(d) konfiks (imbuhan gabungan senyawa) mempunyai fungsi macammacam sebagai berikut.
(a) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata kerja, yaitu: me-, ber-,
per-, -kan, -i, dan ber-an.
(b) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata benda, yaitu: pe-, ke-,
-an, ke-an, per-an, -man, -wan, -wati.
(c) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata sifat: ter-, -i, -wi, -iah.
(d) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata bilangan: ke-, se-.
(e) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata tugas: se-, dan se-nya.
Dari contoh di atas menunjukkan bahwa setiap kata berimbuhan akan
tergolong dalam satu jenis kata tertentu, tetapi hanya imbuhan yang merupakan
unsur langsung yang dapat diidentifikasi fungsinya sebagai pembentuk jenis
kata. Untuk lebih jelasnya unsur langsung pembentuk kata dapat dilihat pada
diagram berikut.
Pakaian

benda

Berpakaian

kerja

Ber

Berkemauan

kerja

Kemauan
Ber-

ke-an

keterangan
(Santoso, 2004)
Dari diagram di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan imbuhan yang
berbeda, morfem dasar yang sama, akan berbeda maknanya. Tetapi bagaimana
jika imbuhannya sama, morfem dasarnya berbeda, apa yang dapat terjadi?

4 - 20 Unit 4

mau

benda

Contoh, akhiran an pada morfem dasar tepi, darat, lapang; membentuk kata
tepian, daratan, lapangan; ternyata menunjukkan persamaan makna imbuhan,
yaitu tempat. Berarti dengan imbuhan yang sama, morfem dasarnya berbeda,
dapat menghasilkan persamaan makna imbuhan yaitu menghasilkan jenis benda.
Morfem terikat sintaksis adalah morfem dasar yang tidak mampu berdiri
sendiri sebagai kata. Perhatikan contoh berikut.
Anak yang pintar dan sabar itu membaca buku.
Dari deretan morfem yang menjadi unsur kata dalam kalimat di atas, jika
diklasifikasikan berdasarkan morfemnya adalah: anak, pintar, sabar, baca,
buku, adalah morfem bebas. Mem- adalah morfem terikat morfologis.
Sedangkan morfem yang, dan morfem dan dalam kalimat di atas belum dapat
berdiri sendiri sebagai kata karena tidak mengandung makna tersendiri. Gejala
inilah yang tergolong morfem terikat sintaksis (Santoso, 2004).

Latihan
Kerjakanlah latihan berikut!
Lukiskan struktur morfologis kata-kata pada kalimat berikut.
Dia memperlakukan teman sepermainannya seperti saudaranya.

Rambu-rambu pengerjaan latihan.


Latihan tersebut dapat Anda lakukan dengan langkah-langkah berikut.
1. Uraikan kata-kata menurut unsur langsungnya.
2. Bila salah satu di antaranya merupakan satuan yang dapat diuraikan
atas unsur-unsur morfologisnya, lakukanlah sehingga ditemukan unsur
morfologis terkecilnya.
3. Lukiskan struktur kata-kata yang ditemukan pada langkah 2 dengan
jalan:
a. menuliskan kata yang diuraikan
b. menuliskan unsur-unsur morfologis terkecil kata itu dengan jarak
yang diperhitungkan menurut banyaknya uraian yang Anda lakukan
pada butir 1 dan 2
c. menghubungkan unsur-unsur dari bawah ke atas hingga akhirnya
bertemu pada kata yang diuraikan dengan menggunakan diagram

Proses Perulangan Bahasa Indonesia


Proses perulangan atau reduplikasi adalah pengulangan bentuk, baik
seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak.
Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 21

Hasil pengulangan disebut kata ulang, sedangkan bentuk yang diulang


merupakan bentuk dasar (Ramlan, 1980). Pengulangan merupakan pula suatu
proses morfologis yang banyak terdapat pada bahasa Indonesia. Perhatikan
pemakaian kata yang tercetak miring berikut.
(1) Dia membeli rumah di Makassar.
(2) Rumah-rumah di perkampungan itu akan digusur.
(3) Anak itu membuat rumah-rumahan untuk adiknya.
(4) Perumahan-perumahan yang dibangun oleh pengembang banyak
yang tidak layak huni.
Berpatokan pada pendapat Ramlan di atas, maka jelas bahwa kata ulang
yang terdapat pada kalimat (2), (3), dan (4) semuanya dibentuk dari bentuk atau
unsur dasar rumah. Makna kata pada kalimat (1) dengan kalimat berikutnya
berbeda. Pada kalimat (1) kata rumah berarti satu. Kata rumah-rumah dan
perumahan-perumahan pada kalimat (2) dan (4) berarti banyak atau jamak.
Sedangkan kata rumah-rumahan pada kalimat (3) berarti menyerupai.
Perbedaan makna ini disebabkan oleh adanya rumah dan perumahan sebagai
morfem pertama dan rumah, rumahan, dan perumahan pada morfem kedua.
Morfem rumah adalah morfem yang bermakna leksis, sedangkan morfem kedua
merupakan morfem yang bermakna struktural.
Berdasarkan fungsinya, morfem rumah dan perumahan merupakan unsur
dasar atau morfem dasar kata rumah-rumah, rumah-rumahan, dan perumahanperumahan. Morfem kedua merupakan unsur pembentuk kata atau morfem
pembentuk rumah-rumah, rumah-rumahan, dan perumahan-perumahan.
Contoh yang disajikan di atas memang mudah untuk menetukan bentuk
dasarnya, tetapi perlu diingat bahwa tidak semua kata ulang dapat dengan
mudah ditentukan bentuk dasarnya. Beberapa prinsip yang dapat digunakan
dalam menentukan bentuk dasar kata ulang sebagai berikut.
(1) Pengulangan pada umumnya tidak mengubah jenis kata. Unsur dasar kata
ulang sejenis dengan kata ulangnya. Dengan prinsip ini, dapat diketahui
bahwa bentuk dasar kata ulang yang termasuk jenis kata benda berupa kata
benda, bentuk dasar kata ulang yang termasuk jenis kata kerja berupa kata
kerja, demikian pula bentuk dasar kata ulang kata sifat juga berupa kata
sifat.

4 - 22 Unit 4

Contoh:
anak-anak
benda)

(kata

bentuk
benda)

dasarnya

anak

(kata

perumahan-perumahan
(kata benda)

bentuk dasarnya
(kata benda)

melempar-lempar
(kata kerja)

bentuk dasarnya melempar (kata


kerja)

menari-nari (kata kerja)

bentuk dasarnya menari (kata


kerja)

cepat-cepat (kata sifat)

bentuk
sifat)

kecil-kesil (kata sifat)

dasarnya

perumahan

cepat

(kata

bentuk dasarnya sifat (kata sifat)


(2)

Bentuk dasar dapat berdiri sendiri sebagai kata yang terdapat dalam
penggunaan bahasa Indonesia yang benar.
Contoh:
rumah-rumahan

bentuk dasarnya rumah bukan rumahan

mengatangatakan

bentuk dasarnya mengatakan


mengata bukan ngatakan

berdesakdesakan

bentuk dasarnya berdesakan bukan


berdesak

memegangmegang

bentuk dasarnya
megang

memegang

atau

bukan

Kata-kata ulang yang dicontohkan di atas tidak sulit menentukan bentuk


dasarnya, tetapi coba perhatikan contoh-contoh berikut.
(1) tanam-tanaman
lempar-melempar
karang-mengarang
tembak-menembak
tulis-menulis
(2) membagi-bagikan
berkejar-kejaran
bersalam-salaman
dipanas-panasi

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 23

Pada contoh (1), bentuk dasar kata ulang tanam-tanaman bukan tanam
tetapi tanaman, perulangan diucapkan di muka bentuk dasarnya. Dengan kata
lain, bentuk dasarnya berada pada unsur kedua. Begitu pula dengan contoh kata
ulang yang berikutnya
Kata Ulang
lempar-melempar
karang-mengarang
tembak-menembak
tulis menulis

Bentuk Dasar
melempar
mengarang
menembak
menulis

Sedangkan kata ulang pada contoh (2) bentuk dasarnya bukan pada unsur
kedua tetapi pada unsur pertama ditambah akhiran (sufiks) yang terdapat pada
unsur kedua, yaitu seperti berikut.
Kata Ulang
membagi-bagikan
berkejar-kejaran
bersalam-salaman
dipanas-panasi

Bentuk Dasar
membagikan
berkejaran
bersalaman
dipanasi

Macam-macam Kata Ulang


Berdasarkan macamnya, menurut Keraf (1978) bentuk perulangan dalam
bahasa Indonesia terdiri atas empat bentuk seperti berikut.
(1) Kata ulang suku kata awal. Dalam bentuk perulangan macam ini, vokal dari
suku kata awal mengalami pelemahan bergeser ke posisi tengah menjadi
(pepet).
Contoh:
tangga
tanaman
pohon
laki
luhur

4 - 24 Unit 4

tatangga
tatanaman
popohon
lalaki
luluhur

tetangga
tetanaman
pepohonan
lelaki
leluhur

(2) Kata ulang seluruh kata dasar. Bentuk kata ulang terjadi dengan mengulang
seluruh unsur dasar secara utuh. Kata ulang seperti ini biasa disebut kata
ulang utuh.
Contoh:
buku
bangku
rumah
pedagang
rumah sakit
pasangan

buku-buku
bangku-bangku
rumah-rumah
pedagang-pedagang
rumah sakit-rumah sakit
pasangan-pasangan

(3) Kata ulang yang terjadi atas seluruh suku kata, tetapi pada salah satu unsur
kata ulang tersebut mengalami perubahan bunyi fonem. Kata ulang
semacam ini biasa disebut kata ulang salin suara atau kata ulang berubah
bunyi.
Contoh:
gerak-gerik
gerak-gerak
gerak
sayur-mayur
sayur-sayur
sayur
bolak-balik
balik-balik
balik
porak-parik
porak-porak
porak
(4) Kata ulang yang mendapat imbuhan atau kata ulang berimbuhan.
Contoh:
anak-anakan
anak
main-mainan
main
serajin-rajinnya
rajin
kuda-kudaan
kuda
tergila-gila
gila
Makna Kata Ulang
Sesuai dengan fungsi perulangan dalam pembentukan jenis kata, makna
struktural kata ulang menurut Keraf (1978) adalah sebagai berikut.
(1) Perulangan mengandung makna banyak yang tak tentu. Perhatikan contoh
berikut:
- Kuda-kuda itu berkejaran di padang rumput.
- Buku-buku yang dibelikan kemarin telah dibaca.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 25

(2) Perulangan mengandung makna bermacam-macam.


Contoh:
- Pohon-pohonan perlu dijaga kelestariannya. (banyak dan bermacammacam pohon)
- Daun-daunan yang ada dipekarangan sekolah sudah menumpuk.
(banyak dan bermacam-macam daun)
- Ibu membeli sayur-sayuran di pasar. (banyak dan bermacam-macam
sayur)
- Harga buah-buahan sekarang sangat murah. (banyak dan bermacammacam buah)
(3) Makna lain yang dapat diturunkan dari suatu kata ulang adalah menyerupai
atau tiruan dari sesuatu.
Contoh:
- Anak itu senang bermain kuda-kudaan. (menyerupai atau tiruan kuda)
- Mereka sedang bermain pengantin-pengantinan di pekarangan rumah.
(menyerupai atau tiruan pengantin)
- Andi berteriak kegirangan setelah dibelikan ayam-ayaman.
(menyerupai atau tiruan ayam)
(4) Mengandung makna agak atau melemahkan ari.
Contoh:
- Perilakunya kebarat-baratan sehingga tidak disenangi oleh temantemanya.
- Sifatnya masih kekanak-kanakan.
- Mukanya kemerah-merahan.
(5) Menyatakan makna intensitas. Makna intensitas terdiri dari:
(a) intensitas kualitatif, contohnya:
- Pukullah kuat-kuat.
- Anak itu belajar sebaik-baiknya.
- Burung itu terbang setinggi-tingginya.
- Agar tidak terlambat, ia berjalan secepat-cepatnya.
(b) intensitas kuantitatif, contohnya:
- Kuda-kuda itu berlari kencang.
- Anak-anak bermain bola di pekarangan sekolah.
- Ayah membawa buah-buahan dari Malang.
- Rumah-rumah di kampung itu tertata dengan rapi.
(c) Intensitas frekuentatif. Contoh:
- Ia mengeleng-gelengkan kepalanya.

4 - 26 Unit 4

- Ia mondar-mandir saja sejak tadi.


- Anak itu menyanyi sambil memukul-mukul meja.
(6) Perulangan pada kata kerja mengandung makna saling atau pekerjaan yang
berbalasan.
Contoh:
- Kita harus tolong-menolong.
- Tentara sedang tembak-menembak dengan seru.
- Mereka tendang-menendang dan tinju-meninju saat sedang berkelahi.
- Saat pertama kali bertemu mereka bersalam-salaman lalu berpelukpelukan dengan eratnya.
(7) Perulangan pada kata bilangan mengandung makna kolektif.
Contoh:
- Anak-anak berbaris dua-dua sebelum masuk kelas.

Rangkuman
Morfologi merupakan bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang
bentuk-bentuk kata. Sedangkan morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil
yang mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas bagian
bermakna lebih kecil.
Dalam bahasa Indonesia dikenal adanya morfem yang disebut satuan
non-gramatis. Satuan ini belum mengandung makna tersendiri, karena itu, tidak
dapat langsung membentuk kalimat. Untuk membentuk kalimat, maka satuan
nongramatis seperti me- dan kan harus digabung dengan satuan gramatis lain.
Morfem semacam ini disebut: tambahan, imbuhan, atau afiks. Morfem
dalam bahasa Indonesia berdasarkan bentuknya ada dua macam yaitu: (1)
morfem bebas, dan (2) morfem terikat.
Morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri
sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk kalimat. Morfem terikat
merupakan morfem yang belum mengandung arti, maka morfem ini belum
mempunyai potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata, morfem ini harus
digabung dengan morfem bebas.
Morfem terikat dalam bahasa Indonesia ada dua macam, yakni morfem
terikat morfologis dan morfem terikat sintaksis. Morfem terikat morfologis
yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem dasar. Morfem ini meliputi
prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks. Sedangkan morfem terikat sintaksis adalah
morfem dasar yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kata, misalnya dan,
yang, dari, di dan sebagainya.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 27

Proses perulangan atau reduplikasi adalah pengulangan bentuk, baik


seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak.
Beberapa prinsip yang dapat digunakan dalam menentukan bentuk dasar
kata ulang adalah:
(1) Pengulangan pada umumnya tidak mengubah jenis kata.
(2) Bentuk dasar dapat berdiri sendiri sebagai kata yang terdapat dalam
penggunaan bahasa Indonesia yang benar.
Berdasarkan macamnya, bentuk perulangan dalam bahasa Indonesia
terdiri atas empat bentuk, yaitu:
(1) Kata ulang suku kata awal.
(2) Kata ulang seluruh kata dasar kata ulang utuh.
(3) Kata ulang salin suara atau kata ulang berubah bunyi.
(4) Kata ulang yang mendapat imbuhan atau kata ulang berimbuhan.
Sesuai dengan fungsi perulangan dalam pembentukan jenis kata, makna
struktural kata ulang adalah:
(1) Mengandung makna banyak yang tak tentu.
(2) Mengandung makna bermacam-macam.
(3) Mengandung makna menyerupai atau tiruan dari sesuatu.
(4) Mengandung makna agak atau melemahkan arti.
(5) Menyatakan makna intensitas. Makna intensitas terdiri dari: (a) intensitas
kualitatif, (b) intensitas kuantitatif, dan (c) intensitas frekuentatif.
(6) Perulangan pada kata kerja mengandung makna saling atau pekerjaan yang
berbalasan.
(7) Perulangan pada kata bilangan mengandung makna kolektif.

4 - 28 Unit 4

Tes Formatif 2
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang
disediakan!
1. Bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata adalah
pengertian ...
A. semantik
B. sintaksis
C. morfem
D. morfologi
2. Satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relatif stabil
dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil, pengertian dari ...
A. semantik
B. sintaksis
C. morfem
D. morfologi
3. Kata berikut yang di dalamnya terdapat satuan non-gramatis, adalah ...
A. kemudian
B. pengemudi
C. perawan
D. kelelawar
4. Morfem dasar yang bersifat terikat, terdapat pada kata ...
A. perjuangan
B. bertemu
C. berlalu
D. permintaan
5. Kata berimbuhan yang bermorfem dasar tua, terdapat pada kata ...
A. tua-tua
B. tertua
C. ketua
D. bantuan
6. Yang tidak termasuk morfem bebas adalah ...kecuali:
A. pergi
B. dia
C. telah
D. mandi
7. Contoh kalimat yang didalamnya terdapat morfem terikat sintaksis adalah ...

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 29

A. Anak yang pintar dan sabar itu membaca buku.


B. Anak pintar senang membaca buku.
C. Ani anak sabar.
D. Ani membaca buku.
8. Konfiks di bawah ini yang berfungsi membentuk kata benda ...
A. ke an
B. per an
C. ber an
D. se nya
9. Anak yang pintar dan sabar itu membaca buku.
Morfem terikat morfologis yang terdapat dalam kalimat tersebut adalah ...
A. anak
B. yang
C. pintar
D. mem10. Kata ulang berikut yang mengandung makna intensitas kualitatif...
A. Belajarlah sebaik-baiknya sebelum mengikuti ujian.
B. Buah-buahan sangat baik manfaatnya bagi tubuh.
C. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat perilaku anaknya
yang nakal.
D. Anak itu menangis saat kuda-kudaannya hilang.

4 - 30 Unit 4

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut


Bagaimana? Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau sudah,
sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit
2 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 4 ini. Hitunglah jawaban Anda yang
benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat
pemahaman Anda terhadap materi subunit 2.
Rumus:
Jumlah jawaban Anda yang benar
Tingkat penguasaan =
x 100%
5
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 100% = baik sekali
80 89%
= baik
70 79%
= cukup
< 70%
= kurang
Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda
sukses! Anda dapat meneruskan mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat
penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah
mempelajari subunit 2, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 31

Kunci Jawaban Tes Formatif


Tes Formatif 1
1. C:
2. B:

3. C:
4. A:
5. D:
6. C:
7. D:
8. B:
9. D:
10.A:

Fonem adalah satuan fonologis yang terkecil.


Fonetik ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran
yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh
alat ucap manusia
Secara artikuler setiap fonem dapat diamati dengan cara
bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Diftong ditulis dengan dua buah huruf (grafem tetapi dinyatakan
sebagai sebuah fonem.
Artikulator adalah alat-alat yang dapat digerakkan/digeser ketika
bunyi diucapkan.
Titik artikulasi adalah titik atau daerah pada bagian alat ucap yang
dapat disentuh atau didekati.
/i/ vokal yang termasuk vokal atas dan depan.
Bila udara masih bisa keluar dalam aliran yang demikian sempit,
konsonan yang muncul adalah geseran atau spiran.
Konsonan bersuara terjadi karena bergetarnya selaput suara
Konsonan gigi (dental): /t/, /d/, /s/, /z/, /l/, /r/, /n/.

Tes Formatif 2
1. D: Morfologi adalah bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang
bentuk-bentuk kata
2. C: Morfem merupakan satuan bentuk bahasa terkecil yang
mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas
bagian bermakna lebih kecil
3. B: Pengemudi mendapat imbuhan pe-, pe- belum mengandung makna
tersendiri, karena itu, tidak dapat langsung membentuk kalimat
(termasuk satuan non-gramatis).
4. A: Perjuangan di dalamnya terdapat morfem dasar yang bersifat
terikat yaitu juang yang tidak dapat berdiri sendiri.
5. B: Tertua bermorfem dasar tua.

4 - 32 Unit 4

6. C: Yang tidak dapat berdiri sendiri hanya morfem telah.


7. A: Morfem yang, dan dan itu dalam kalimat tidak dapat berdiri
sendiri
8. C: Konfiks yang berfungsi membentuk kata kerja, yaitu: me-, ber-,
per-, -kan, -i, dan ber-an.
9. D: mem- termasuk morfem terikat morfologis.
10. A: sebaik-baiknya: intensitas kualitatif
buah-buahan: intensitas kuantitatif
menggeleng-gelengkan: intensitas frekuentatif
kuda-kudaan: menyerupai atau tiruan dari sesuatu

(8) Menyatakan makna intensitas. Makna intensitas terdiri dari:


(d) intensitas kualitatif, contohnya:
- Pukullah kuat-kuat.
- Anak itu belajar sebaik-baiknya.
- Burung itu terbang setinggi-tingginya.
- Agar tidak terlambat, ia berjalan secepat-cepatnya.
(e) intensitas kuantitatif, contohnya:
- Kuda-kuda itu berlari kencang.
- Anak-anak bermain bola di pekarangan sekolah.
- Ayah membawa buah-buahan dari Malang.
- Rumah-rumah di kampung itu tertata dengan rapi.
(f) Intensitas frekuentatif. Contoh:
- Ia mengeleng-gelengkan kepalanya.
- Ia mondar-mandir saja sejak tadi.
- Anak itu menyanyi sambil memukul-mukul meja.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 33

Glosarium

afiks

fonologi
fonologi
fisiologis
gramatikal
prefiks
sufiks

4 - 34 Unit 4

: imbuhan; bentuk terikat yang apabila ditambahkan


pada kata dasar atau bentuk dasar akan mengubah
makna gramatikal
: bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi
bunyi bahasa menurut fungsinya
: mengenai (berdasarkan, secara) fonologi
: bersifat fisiologi; berkenaan dengan fisiologi
: sesuai dengan tata bahasa; menurut tata bahasa
: awalan; imbuhan yang ditambahkan pada bagian
awal sebuah kata dasar atau bentuk dasar
: akhiran; afiks yang ditambahkan pada bagian
belakang kata dasar

Daftar Pustaka

Depdikbud. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Depdiknas. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Samsuri. 1994. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga
Santoso, Puji. 2004. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta:
Pusat Penerbitan UT
Supriyadi, dkk. 1992. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 4. Jakarta:
Depdiknas

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 35