Anda di halaman 1dari 12

KAJIAN PUSTAKAPENETAPAN KADAR VITAMIN C dan TIMBAL dalam

KENTANG (Solanum tuberosum L)


Oleh :
Nurul Anggraeni (21121121)
Pembimbing : Dr. Aiyi Asnawi

ABSTRAK
Kenta
ABSTRACT
PENDAHULUAN
Kentang
(Solanum
tuberosum)
merupakan salah satu komoditas penting di
Indonesia yang mempunyai potensi dan
prospek untuk mendukung program
diversifikasi pangan dalam rangka
mewujudkan ketahanan pangan yang
berkelanjutan.
Kentang
termasuk
kelompok lima besar makanan pokok
dunia, selain gandum, jagung, beras, dan
terigu. Bagian utama tanaman kentang
yang menjadi bahan makanan adalah umbi.
Umbi
kentang merupakan
sumber
karbohidrat yang mengandung vitamin dan
mineral yang cukup tinggi (Laily, 2010).
Namun, penggunaannya sebagai makanan
diet, terutama sebagai sumber vitamin
sering diremehkan atau diabaikan (Dale,
dkk., 2003).
Ada dua bentuk utama vitamin C :
asam askorbat dan asam dehidroaskorbat .
Namun, istilah vitamin C dan asam
askorbat yang sering digunakan sebagai
sinonim. Vitamin C merupakan komponen
penting dari sebagian besar jaringan hidup.
AA adalah oksidator penting dari spesies
radikal bebas, seperti oksigen reaktif yang
dapat menyebabkan kerusakan jaringan
yang dihasilkan dari peroksidasi lipid,
kerusakan DNA, dan dapat menyebabkan
penyakit degeneratif seperti penyakit
jantung atau kanker (Bates, 1997).

Penggunaan pestisida yang melebihi


batas dan penggunaan traktor dalam
pengolahan tanah, dapat menyebabkan
akumulasi nitrat dan fosfat (Reddy, dkk.,
2013). Beberapa pupuk dan pestisida
diketahui mengandung logam berat
termasuk kadmium (Cd) dan timbal (Pb)
(Tsadilas, dkk., 2005).
Penelitian
yang
dilakukan
Kholidiyah (2010) menunjukkan adanya
respon biologis dari tanaman eceng
gondok meliputi tingkat nekrosis daun,
penurunan panjang akar, berat kering akar,
nisbah tajuk akar, berat kering batang, dan
kadar klorofil daun akibat adanya
akumulasi logam berat Cd dan Pb pada
tanaman tersebut. Selain itu penelitian
yang dilakukan oleh Susana dan Suswati
(2011) menunjukan gejala klorosis dan
kerdil (stunting) pada penggunaan
kadmium sebesar 32 mg/kg pada sawi
hijau dan sawi putih.
Karya tulis ilmiah ini bertujuan
untuk mengetahui adanya kandungan
vitamin C dan cemaran logam berat timbal
(Pb) pada umbi kentang (Solanum
tuberosum L.).
TINJAUAN PUSTAKA
I. Kentang
Solanum tuberosum atau yang lebih
dikenal sebagai kentang termasuk tanaman

berkeping dua (dikotil) dari keluarga


Solanaceae. Tanaman ini merupakan
tanaman semusim dan mempunyai
kemampuan
berkembangbiak
secara
vegetatif. Batangnya berbentuk segi empat,
panjang dapat mencapai 50 120 cm dan
tidak berkayu. Batang dan daun berwarna
hijau kemerah-merahan atau keunguunguan. Akar tanaman menjalar dan
berukuran sangat kecil bahkan sangat
halus. Selain mempunyai organ-organ di
atas, kentang juga mempunyai organ umbi.
Umbi tersebut berasal dari cabang samping
yang masuk ke dalam tanah. Cabang ini
merupakan tempat untuk menyimpan
karbohidrat sehingga membengkak dan
dapat dimakan. Umbi bisa mengeluarkan
tunas dan nantinya akan membentuk
cabang-cabang baru. Umbi kentang
merupakan ujung stolon yang membesar
dan merupakan organ penyimpanan yang
mengandung karbohidrat yang tinggi
(Setiadi , 1998).

Dalam
sistematika
tumbuhan,
tanaman kentang diklasifikasikan ke dalam
Divisio
: Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Ordo
: Solanales
Familia
: Solanaceae
Genus
: Solanum
Spesies
: Solanum tuberosum L.
(Setiadi, 2009).
Warna buah kentang bervariasi mulai
hijau tua sampai keunguan, berbentuk
bulat, berdiameter kurang lebih 2,5 cm dan
berongga dua. Buah mengandung sekitar
500 bakal biji, tetapi yang dapat
berkembang menjadi biji hanya berkisar
antara 10 300 biji. Biji kentang berwarna
coklat muda (krem), berdiameter kurang

lebih 0,5 mm dan mempunyai masa


dormansi lebih kurang 6 bulan (Hartus,
2001).
Kandungan Gizi Kentang
Karbohidrat merupakan zat gizi
terbesar yang dikandung kentang. Selain
itu, kentang juga mengandung protein
dalam jumlah yang cukup banyak serta
vitamin B1 dan B3 niasin. Dalam 100 g
kentang terkandung 83 kalori. Kandungan
gizi kentang per 100g BDD disajikan
dalam table berikut:
Tabel 1. Kandungan gizi kentang per 100g
BDD
Kandungan Gizi
Jumlah
Energi
83,00 kal
Protein
2,00 g
Lemak
0,10 g
Karbohidrat
19,10 g
Kalsium
11,00 mg
Fosfor
56,00mg
Serat
0,30 g
Besi
0,70 mg
Vitamin A
0,00 RE
Vitamin B1
0,09 mg
Vitamin B2
0,03 mg
Vitamin C
16,00 mg
Niacin
1,40 mg
Sumber: Dra. Emma S. Wirakusumah,
M.Sc., 2001 dalam Buah dan Sayur untuk
Terapi
II.

Vitamin C

Sumber vitamin C yang penting


dalam makanan terutama berasal dari
buah-buahan
dan
sayur-sayuran,
sedangkan bahan makanan yang berasal
dari hewani pada umumnya bukan
merupakan sumber yang kaya akan
vitamin C (Kumalaningsih, 2006). Vitamin
C paling banyak ditemukan pada buahbuahan, seperti jambu biji, nanas, jeruk,
tomat, mangga dan sirsak (Vitahealth,
2004). Vitamin C (Taylor, 1993) adalah
salah satu zat gizi yang berperan sebagai
antioksidan dan efektif mengatasi radikal

bebas yang dapat merusak sel atau


jaringan, termasuk melindungi lensa dari
kerusakan oksidatif yang ditimbulkan oleh
radiasi.
Food and Agriculture Organization
(FAO / WHO, 2001) menyatakan bahwa
asupan vitamin C yang dianjurkan adalah
berkisar 25-45 mg / hari, tergantung pada
usia. Namun, berdasarkan ketersediaan
biokimia, klinis, dan studi epidemiologi,
RDA untuk AA disarankan menjadi 100120 mg / hari untuk orang dewasa untuk
memenuhi
kebutuhan
seluler
dan
mengurangi risiko penyakit jantung, stroke
dan kanker pada orang sehat (Naidu,
2003).
Vitamin
C
diperlukan
pada
pembentukan zat kolagen oleh fibroblast
dan bagian dalam pembentukan zat
intersel. Keadaan kekurangan vitamin C
akan mengganggu integrasi dinding
kapiler. Vitamin C diperlukan juga pada
proses pematangan sel darah dan pada
pembentukan tulang dan dentin. Vitamin C
mempunyai peranan penting pada respirasi
jaringan (Pudjiadi, 2005).
III.

Logam Berat Pb (Timbal)

III.1. Timbal
Timbal merupakan suatu logam berat
berwarna abu-abu kebiruan dengan titik
leleh 327 C dan titik didih 1.620 C. Pada
suhu 550 600C timbal menguap dan
bereaksi dengan oksigen. Timbal dapat
larut dalam asam nitrit, asam asetat dan
asam sulfat pekat. Bentuk oksidasi yang
paling umum adalah timbal (II) dan
senyawa organometalik yang terpenting
adalah timbal tetra etil (TEL: tetra ethyl
lead), timbal tetra metil (TML : tetra
methyl lead) dan timbal stearat.
Merupakan logam yang tahan terhadap
korosi atau karat, sehingga sering
digunakan sebagai bahan coating (Saryan,
1994).
III.2. Sumber Timbal Dalam Tanaman

Tanah
secara
alami
telah
mengandung logam berat meskipun hanya
sedikit serta memiliki kamampuan untuk
mentolelir logam berat yang ada di
dalamnya. Hal tersebut tergantung pada
bahan
induk
penyusun
tanahnya.
Berdasarkan analisis Notohadiprawiro dkk
(1991) jenis tanah Vertisol Sragen,
Ferrassol Karanganyar (Solo), dan Regosol
kuningan Yogyakarta mengandung logam
berat 20,9- 49,8 (Zn), 18,7- 3,.4 (Cu), 5,615,1 (Pb), dan 6,4- 28,8 ppm (Ni).
Menurut standar umum kadar Pb dan Cd
yang boleh ada pada tanah adalah masingmasing 150 ppm dan 2 ppm (Charlena,
2004)). Akumulasi logam berat di tanah
antara lain berasal dari limbah pabrik
yang dibuang di sungai yang digunakan
untuk irigasi dan residu pestisida dan
pupuk sintetis dari usaha pertanian di lahan
itu sendiri maupun dari lahan lain yang
terbawa air irigasi. Pupuk dan pestisida
sintetis merupakan salah satu bahan
pencemar yang menyebabkan unsur logam
berat masuk ke lahan pertanian sehingga
menyebabkan lahan pertanian tersebut
mengandung banyak sekali logam berat
yang sebenarnya berada di atas ambang
toleransi yang bisa diterima tanah.
Timbal
(Pb)
sebagian
besar
diakumulasi pada organ tanaman, yaitu
daun, batang, akar dan akar umbiumbian
(bawang merah). Perpindahan timbal dari
tanah ke tanaman tergantung komposisi
dan pH tanah. Konsentrasi timbal yang
tinggi
(100-1000
mg/kg)
akan
mengakibatkan pengaruh toksik pada
proses fotosintesis dan pertumbuhan.
Timbal hanya mempengaruhi tanaman bila
konsentrasinya tinggi (Charlene, 2004).
Tanaman dapat menyerap logam Pb pada
saat kondisi kesuburan dan kandungan
bahan organik tanah rendah. Pada keadaan
ini logam berat Pb akan terlepas dari
ikatan tanah dan berupa ion yang bergerak
bebas pada larutan tanah. Jika logam lain
tidak mampu menghambat keberadaannya,
maka akan terjadi serapan Pb oleh akar
tanaman.

Persoalan yang muncul akibat


akumulasi logam berat yang terjadi di
tanah antara lain;
1) Masuknya logam berat ke tanah dapat
mepengaruhi seluruh kehidupan pada
tanah yang merupakan faktor penentu
produktivitas tanah. Dengan matinya
mikrobia dalam tanah atau makhluk
hidup yang ada ditanah akan ikut
mempengaruhi sifat tanah terutama sifat
biologi.
2) Masuknya logam berat tanah juga
menyebabkan penurunan kualitas sifat
kimia tanah. Karena unsur hara yang
ada di dalam tanah tidak tersedia bagi
tanaman dan menghambat penyerapan
unsur hara.
3)
Dengan menurunnya produktifitas
tanah maka hasil panen tanaman akan
menurun baik kualiatas maupun
kuantiatas (Notohadiprawiro, 1991).
III.3. Konsentrasi Paparan Maksimum
Timbal dalam Tubuh
Konsentrasi normal timbal dalam
darah 10 25 g/dL ( WHO, 1995).
Menurut Palar (2004) pada orang dewasa
terdapat perbedaan kandungan timbal
dalam darah, hal ini disebabkan oleh
faktor lingkungan dan geografis dimana
orang-orang itu berada. Kadar timbal
dalam darah merupakan indikator yang
paling baik untuk menunjukkan current
exposure (pemaparan sekarang). Hal ini
hanya berlaku pada steady state conditions
yaitu bila seseorang terpapar timbal secara
terus menerus. Untuk mencapai kondisi
steady state (keadaan tunak) tersebut
diperlukan waktu pemaparan selama 2
bulan secara terus menerus. Setelah
pemaparan berhenti, kadar timbal akan
turun secara perlahan-lahan (Siswanto,
1991).
IV.

Spektofotometri UV-Vis

Spektrofotometri
UV-Vis
merupakan salah satu teknik analisis
spektroskopi yangmemakai sumber radiasi

eleltromagnetik ultraviolet dekat (180350nm) dan sinar tampak (350-800nm)


dengan
memakai
instrumen
spektrofotometer (Mulja dan Suharman,
1995).
Penyerapan sinar UV-Vis terbatas
hanya pada sejumlah gugus fungsional
atau gugus kromofor yang mengandung
elektron valensi dengan tingkat eksitasi
rendah. Tiga jenis elektron yang terlibat
adalah sigma, phi, dan elektron bebas.
Kromofor-kromofor
organik
seperti
karbonil, alkena, azo, nitrat, dan karboksil
mampu menyerap sinar ultraviolet dan
sinar
tampak.
Panjang
gelombang
maksimumnya dapat
berubah sesuai
dengan
pelarut
yang
digunakan.
Auksokrom adalah gugus fungsional yang
mempunyai elektron bebas seperti
hidroksil, metoksi, dan amina. Terkaitnya
gugus kromofor akan mengakibatkan
pergeseran pita absorpsi menuju ke
panjang gelombang yang lebih besar dan
disertai dengan peningkatan intensitas.
Ketika cahaya melewati suatu
larutan
biomolekul,
terjadi
dua
kemungkinan. Kemungkinan pertama
adalah cahaya ditangkap dan kemungkinan
kedua adalah cahaya discattering. Bila
energi dari cahaya (foton) harus sesuai
dengan perbedaan energi dasar dan energi
eksitasi dari molekul tersebut. Proses
inilah yang menjadi dasar pengukuran
absorbansi
dalam
spektrofotometer
(Sutopo, 2006).
Spektrofotometer UV-Vis dapat
melakukan penentuan terhadap sampel
yangberupa larutan, gas, atau uap. Untuk
sampel yang berupa larutan perlu
diperhatikan pelarut yang dipakai antara
lain:
1. Pelarut yang dipakai tidak mengandung
sistem ikatan rangkap terkonjugasi
padastruktur molekulnya dan tidak
berwarna.

2. Tidak terjadi interaksi dengan molekul


senyawa yang dianalisis.
3. Kemurniannya harus tinggi atau derajat
untuk analisis (Mulja dan Suharman,
1995).
IV.1. Prinsip
UV-Vis

Kerja Spektrofotometri

Cahaya yang berasal dari lampu


deuterium maupun wolfram yang bersifat
polikromatis di teruskan melalui lensa
menuju
ke
monokromator
pada
spektrofotometer dan filter cahaya pada
fotometer. Monokromator kemudian akan
mengubah cahaya polikromatis menjadi
cahaya monokromatis (tunggal). Berkasberkas cahaya dengan panjang tertentu
kemudian akan dilewatkan pada sampel
yang mengandung suatu zat dalam
konsentrasi tertentu. Oleh karena itu,
terdapat cahaya yang diserap (diabsorbsi)
dan ada pula yang dilewatkan. Cahaya
yang dilewatkan ini kemudian di terima
oleh detector. Detektor kemudian akan
menyerap cahaya yang diteruskan dari
sampel dan mengubahnya menjadi arus
listrik. Radiasi yang melewati sampel
akan ditangkap oleh detektor yang akan
mengubahnya menjadi besaran terukur.
Cahaya yang diserap sebanding dengan
konsentrasi zat yang terkandung dalam
sampel
sehingga
akan
diketahui
konsentrasi zat dalam sampel secara
kuantitatif.
IV.2. Instrumen Spektrofotometri UVVis

Gambar 1. Instrumen Spektofotometri UV Vis

a. Sumber Cahaya
Sumber
cahaya
pada
spektrofotometer
harus
memiliki
panacaran radiasi yang stabil dan
intensitasnya tinggi. Sumber cahaya

pada spektrofotometer UV-Vis ada dua


macam :
1. Lampu Tungsten (Wolfram), lampu
ini digunakan untuk mengukur
sampel pada daerah tampak. Bentuk
lampu ini mirip dengan bola lampu
pijar biasa. Memiliki panjang
gelombang antara 350-2200 nm.
Spektrum radiasianya berupa garis
lengkung.
Umumnya
memiliki
waktu 1000jam pemakaian.
2. Lampu Deuterium, lampu ini dipakai
pada panjang gelombang 190-380
nm. Spektrum energi radiasinya
lurus,
dan
digunakan
untuk
mengukur sampel yang terletak pada
daerah
uv.
Memiliki
waktu
pemakaian 500 jam.
b. Monokromator
Monokromator adalah alat yang
akan memecah cahaya polikromatis
menjadi
cahaya
tunggal
(monokromatis) dengan komponen
panjang gelombang tertentu. Bagianbagian monokromator, yaitu :
1) Prisma, prisma akan mendispersikan
radiasi elektromagnetik sebesar
mungkin supaya di dapatkan resolusi
yang baik dari radiasi polikromatis.
2) Grating (kisi difraksi), kisi difraksi
memberi keuntungan lebih bagi
proses spektroskopi. Dispersi sinar
akan disebarkan merata, dengan
pendispersi yang sama, hasil dispersi
akan lebih baik. Selain itu kisi
difraksi dapat digunakan dalam
seluruh jangkauan spektrum.
3) Celah optis, celah ini digunakan
untuk
mengarahkan
sinar
monokromatis yang diharapkan dari
sumber radiasi. Apabila celah berada
pada posisi yang tepat, maka radiasi
akan dirotasikan melalui prisma,
sehingga
diperoleh
panjang
gelombang yang diharapkan.
4) Filter berfungsi untuk menyerap
warna
komplementer
sehingga

cahaya yang diteruskan merupakan


cahaya berwarna yang sesuai dengan
panjang gelombang yang dipilih.
c. Kompartemen Sampel
Kompartemen ini digunakan
sebagai tempat diletakkannya kuvet.
kuvet
merupakan
wadah
yang
digunakan untuk menaruh sampel yang
akan dianalisis. Pada spektrofotometer
double beam, terdapat dua tempat
kuvet. Satu kuvet digunakan sebagai
tempat
untuk
menaruh
sampel,
sementara kuvet lain digunakan untuk
menaruh blanko. Sementara pada
spektrofotometer single beam, hanya
terdapat satu kuvet.
Kuvet yang baik harus memenuhi
beberapa syarat sebagai berikut :
1) Permukaannya harus sejajar secara
optis
2) Tidak berwarna sehingga semua
cahaya dapat di transmisikan
3) Tidak ikut bereaksi terhadap bahanbahan kimia
4) Tidak rapuh
5) Bentuknya sederhana.
Terdapat berbagai jenis dan
bentuk kuvet pada spektrofotometer.
Umumnya pada pengukuran di daerah
UV, digunakan kuvet yang terbuat dari
bahan kuarsa atau plexi glass. Kuvet
kaca tidak dapat mengabsorbsi sinar uv,
sehingga tidak digunakan pada saat
pengukuran di daerah UV. Oleh karena
itu, bahan kuvet dipilih berdasarkan
daerah panjang gelombang yang
digunakan. Gunanya agar dapat
melewatkan daerah panjang gelombang
yang digunakan.

UV : fused silika, kuarsa


Visible : gelas biasa, silika atau
plastik
IR : KBr, NaCl, IRTRAN atau
kristal dari senyawa ion

d. Detektor
Detektor
berfungsi
untuk
menangkap cahaya yang diteruskan dari
sampel dan mengubahnya menjadi arus
listrik. Radiasi yang melewati sampel
akan ditangkap oleh detektor yang akan
mengubahnya menjadi besaran terukur.
Berikut jenis-jenis detektor dalam
sperktrofotometer UV-VIS.
1) Barrier layer cell (photo cell atau
photo voltaic cell)
2) Photo tube, lebih sensitif daripada
photo cell, memerlukan power suplai
yang stabil dan amplifier
3) Photo multipliers, sangat sensitif,
respons cepat digunakan pada
instrumen double beam penguatan
internal
Syarat-syarat sebuah detektor :
1) Kepekaan yang tinggi
2) Perbandingan isyarat atau signal
dengan bising tinggi
3) Respon konstan pada berbagai
panjang gelombang.
4) Waktu respon cepat dan signal
minimum tanpa radiasi.
5) Signal listrik yang dihasilkan harus
sebanding dengan tenaga radiasi.
e. Recorder
Radiasi yang ditangkap detektor
kemudian diubah menjadi arus listrik
oleh recorder dan terbaca dalam bentuk
transmitansi.
f. Read Out
1) Null balance, menggunakan prinsip
null balance potentiometer, tidak
nyaman, banyak diganti dengan
pembacaan langsung dan pembacaan
digital
2) Direct readers, %T, A atau C dibaca
langsung dari skala
3) Pembacaan digital, mengubah sinyal
analog ke digital dan menampilkan

peraga angka Light emitting diode


(LED) sebagai A, %T atau C.
Dengan pembacaan meter seperti
gambar, akan lebih mudah dibaca
skala
transmitannya,
kemudian
menentukan absorbansi dengan A = log T.
V. Spektrofotometri Serapan Atom
Spektrometri Serapan Atom (SSA)
adalah suatu alat yang digunakan pada
metode analisis untuk penentuan unsurunsur logam dan metalloid yang
pengukurannya berdasarkan penyerapan
cahaya dengan panjang gelombang tertentu
oleh atom logam dalam keadaan bebas
(Skoog, dkk., 2000).
V.1. Prinsip Kerja Spektrofotometi
Serapan Atom (SSA)
Metode AAS berprinsip pada
absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom
menyerap cahaya tersebut pada panjang
gelombang tertentu, tergantung pada sifat
unsurnya SSA meliputi absorpsi sinar oleh
atom-atom netral unsur logam yangmasih
berada dalam keadaan dasarnya. Sinar
yang diserap biasanya ialah sinar ultra
violet dan sinar tampak. Prinsip SSA pada
dasarnya sama seperti absorpsi sinar oleh
molekul atau ion senyawa dalam larutan.
Hukum absorpsi sinar (Lambert-Beer)
yang berlaku padas pektrofotometer
absorpsi sinar ultra violet, sinar tampak
maupun infra merah, juga berlaku pada
Spektrometri Serapan Atom (SSA).
Perbedaan analisis Spektrometri Serapan
Atom (SSA) dengan spektrofotometri
molekul adalah peralatan dan bentuk
spectrum absorpsinya.

Gambar 2. Instrumen Spektofotometri Serapan


Atom

Apabila cahaya dengan panjang


gelombang tertentu dilewatkan pada suatu
sel yang mengandung atom-atom bebas
yang bersangkutan maka sebagian cahaya
tersebut akan diserap dan intensitas
penyerapan akan berbanding lurus dengan
banyaknya atom bebas logam yang berada
pada sel. Hubungan antara absorbansi
dengan konsentrasi diturunkan dari:
Hukum Lambert : bila suatu sumber
sinar monkromatik melewati medium
transparan, maka intensitas sinar yang
diteruskan
berkurang
dengan
bertambahnya ketebalan medium yang
mengabsorbsi.
Hukum Beer : Intensitas sinar yang
diteruskan berkurang secarae ksponensial
dengan bertambahnya konsentrasi spesi
yang menyerap sinar tersebut. Dari kedua
hukum
tersebut
diperoleh
suatu
persamaan:
A= b c
Dimana :
= absortivitas molar ( satuan c dalam
Molar)
b = panjang medium / panjangnya jalan
sinar
c =
konsentrasi
atom-atom
yang
menyerap sinar
A = absorbansi
Dari persamaan di atas, dapat
disimpulkan bahwa absorbansi cahaya
berbanding lurus dengan konsentrasi atom
(Day &Underwood, 1989).
V.2. Instrumen dari Spektrofotometi
Serapan Atom (SSA)

a. Lampu Katoda
Lampu katoda merupakan sumber
cahaya pada AAS. Lampu katoda
memiliki masa pakai atau umur
pemakaian selama 1000 jam. Lampu
katoda pada setiap unsur yang akan
diuji berbeda-beda tergantung unsur
yang akan diuji, seperti lampu katoda
Cu, hanya bisa digunakan untuk
pengukuran unsur Cu. Lampu katoda
terbagi menjadi dua macam, yaitu :
1) Lampu
Katoda
Monologam:
Digunakan untuk mengukur 1 unsur
2) Lampu Katoda Multilogam :
Digunakan
untuk
pengukuran
beberapa logam sekaligus, hanya
saja harganya lebih mahal.
Lampu katoda berfungsi sebagai
sumber cahaya untuk memberikan
energi sehingga unsur logam yang akan
diuji, akan mudah tereksitasi. Selotip
ditambahkan, agar tidak ada ruang
kosong untuk keluar masuknya gas dari
luar dan keluarnya gas dari dalam,
karena bila ada gas yang keluar dari
dalam dapat menyebabkan keracunan
pada lingkungan sekitar.
b. Sumber Atomisasi
Atomizer terdiri atas nebulizer
(sistem pengabut), spray chamber dan
burner (sistem pembakar). Nebulizer
berfungsi untuk mengubah larutan
menjadi aerosol (butir-butir kabut
dengan ukuran partikel 15 20 m)
dengan cara menarik larutan melalui
kapiler (akibat efek dari aliran udara)
dengan pengisapan gas bahan bakar dan
oksidan,
disemprotkan
keruang
pengabut. Partikel-partikel kabut yang
halus kemudian bersama-sama aliran
campuran gas bahan bakar, masuk ke
dalamn yala, sedangkan titik kabut yang
besar
dialirkan
melalui
saluran
pembuangan. Spray chamber berfungsi

untuk membuat campuran yang


homogen antara gas oksidan, bahan
bakar dan aerosol yang mengandung
contoh sebelum memasuki burner.
Burner merupakan sistem tepat terjadi
atomisasi yaitu pengubahan kabut/uap
garam unsur yang akan dianalisis
menjadi atom-atom normal dalam
nyala.
c. Tabung Gas Etilen
Tabung gas pada AAS yang
digunakan merupakan tabung gas yang
berisi gas asetilen. Gas asetilen pada
AAS memiliki kisaran suhu 20000K,
dan ada juga tabung gas yang berisi gas
N2O yang lebih panas dari gas asetilen,
dengan kisaran suhu 30000K.
Regulator pada tabung gas asetilen
berfungsi untuk pengaturan banyaknya
gas yang akan dikeluarkan, dan gas
yang
berada
didalam
tabung.
Spedometer pada bagian kanan
regulator. Merupakan pengatur tekanan
yang berada di dalam tabung.
d. Ducting
Ducting
merupakan
bagian
cerobong asap untuk menyedot asap
atau sisa pembakaran pada AAS, yang
langsung dihubungkan pada cerobong
asap bagian luar pada atap bangunan,
agar asap yang dihasilkan oleh AAS,
tidak berbahaya bagi lingkungan
sekitar. Asap yang dihasilkan dari
pembakaran
pada
AAS,
diolah
sedemikian rupa di dalam ducting, agar
polusi yang dihasilkan tidak berbahaya.
Ducting berfungsi untuk menghisap
hasil pembakara yang terjadi pada AAS,
dan mengeluarkannya melalui cerobong
asap yang terhubung dengan ducting.
e. Burner
Burner merupakan bagian paling
terpenting di dalam mainunit, karena
burner berfungsi sebagai tempat
pancampuran
gas
asetilen,
dan
aquabides, agar tercampur merata, dan

dapat terbakar pada pemantik api secara


baik dan merata. Lobang yang berada
pada burner, merupakan lobang
pemantik api, dimana pada lobang
inilah awal dari proses pengatomisasian
nyala api.
f. Monokromator
Setelah radiasi resonansi dari
lampu katoda berongga melalui
populasi atom di dalam nyala, energi
radiasi ini sebagian diserap dan
sebagian lagi diteruskan. Fraksi radiasi
yang diteruskan dipisahkan dari radiasi
lainnya. Pemilihan atau pemisahan
radiasi
tersebut
dilakukan
oleh
monokromator.
Monokromator
berfungsi untuk memisahkan radiasi
resonansi yang telah mengalami
absorpsi tersebut dari radiasi-radiasi
lainnya. Radiasi lainnya berasal dari
lampu katoda berongga, gas pengisi
lampu katoda berongga atau logam
pengotor dalam lampu katoda berongga.
Monokromator terdiri atas sistem optik
yaitu celah, cermin dan kisi.
g. Detektor
Detektor
berfungsi
untuk
mengukur radiasi yang ditransmisikan
oleh sampel dan mengukur intensitas
radiasi tersebut dalam bentuk energi
listrik. Ada dua macam detektor yaitu
detektor cahaya atau detektor foton, dan
detektor infra merah dan detektor
panas.
PEMBAHASAN
Penetapan kadar vitamin C dengan
menggunakan metode spektrofotometri
UV-Vis dan penetapan kadar logam berat
Pb
dengan
menggunakan
metode
spektrofotometri
serapan
atom
ini
dilakukan dengan memodifikasi prosedur
yang telah dilakukan oleh Burgos, dkk.
(2007) untuk metode spektrofotometri UVVis dan Eva, dkk. (2014) untuk metode
spektrofotometri serapan atom

I. Penetapan Kadar Vitamin C


Menurut International Journal of
Basic & Applied Sciences IJBAS-IJENS
Vol: 11 No: 02 hal.110 bahwa penentuan
kadar vitamin c menggunakan metode
spektrofotometri sangat sensitif dengan
deviasi relatif sebesar 0,81%. Vitamin C
bersifat tidak stabil terhadap suhu,
oksigen, pH dan juga keberadaan ion
logam seperti Fe2+, Cu2+ atau Ca2+ sehingga
perlakuannya harus sangat memperhatikan
stabilitas asam askorbat tersebut agar tidak
terjadi degradasi asam askorbat menjadi
senyawa asam dehidroskorbat.
Pada penelitian penetapan kadar
vitamin C dalam kentang yang dilakukan
oleh Burgos, dkk. (2007), sebelum di
preparasi sampel yang baru dipanen
disimpan pada suhu 5C. Selanjutnya
setelah 2 minggu setelah panen sampel
dicuci dengan air kran kemudian dicuci
kembali dengan air deionisasi dan dikupas.
Kemudian sampel dipotong kecil-kecil dan
ditimbang sebanyak 15 g kemudian
disimpan pada wadah beaker.
Selanjutnya dilakukan pembuatan
larutan induk vitamin C 100 ppm dengan
cara vitamin C ditimbang sebanyak 50 mg
kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur
500 ml dan dilarutkan dengan aquabides
sampai tanda batas (Wardani, 2012).
Kemudian dilakukan penetapan panjang
gelombang maksimum. Penentuan panjang
gelombang maksimum dilakukan untuk
mengetahui ketika absorpsi mencapai
maksimum sehingga meningkatkan proses
absorpsi larutan terhadap sinar. Pemilihan
panjang gelombang maksimum sangat
menentukan dalam percobaan karena
apabila terjadi penyimpangan yang kecil
selama percobaan akan mengakibatkan
kesalahan yang kecil dalam pengukuran.
Jika pemilihan panjang gelombang
memiliki spektrum perubahan besar pada
nilai absorbansi saat panjang gelombang
sempit,
maka
apabila
terjadi
penyimpangan kecil pada cahaya yang

masuk akan mengakibatkan kesalahan


besar dalam pengukuran. Semakin besar
panjang gelombangnya maka akan
semakin kecil nilai absorbansinya. Hal ini
dapat diakibatkan sinar putih pada setiap
panjang gelombang dapat terseleksi lebih
detail oleh prisma. Dalam penentuan
panjang gelombang maksimum ini
digunakan larutan standar vitamin C yang
telah dibuat dan dilihat pada panjang
gelombang berapa yang menghasilkan
nilai absorbansi paling tinggi.
Selanjutnya dilakukan pembuatan
kurva kalibrasi vitamin C dengan cara
dipipet larutan vitamin C 100 ppm
kedalam labu ukur 50 ml masing-masing
sebesar 2 ml, 4 ml, 6 ml, dan 8 ml (4 ppm,
8 ppm, 12 ppm, dan 16 ppm). Kemudian
ditambahkan aquabides hingga tanda batas
lalu dihomogenkan, lalu diukur serapannya
pada panjang gelombang maksimum yang
diperoleh (Wardani, 2012). Dari data hasil
absorbansi dan konsentrsi larutan standar
didapatkan persamaan linier y=Ax+B.
Dimana (y) menyatakan nilai pengukuran
absorbansi dan (x) menyatakan kadar
vitamin C dalam sampel.
Pada penetapan kadar vitamin C
dalam sampel, 15gram sampel diekstraksi
dengan asam oksalat dan larutan aseton
menggunakan alat homogenisasi Sorvall
Omni Mixer selama 5 menit pada
kecepatan 4000 rpm. Ekstrak tersebut
disaring dengan kertas whatman no 2. 1mL
ekstrak direaksikan dengan 9ml 2,6dichloroindophenol (1,6%) selama 1 menit
dan
kemudian
di
ukur
dengan
spektrofotometeri UV-Vis pada panjang
gelombang maksimum 520nm. Selain pada
umbi kentang yang masih segar, penetapan
kadar vitamin C juga dilakukan pada umbi
kentang yang telah disimpan selama
26minggu setelah masa panen dan umbi
kentang yang telah mengalami proses
pemasakan. Hasil yang didapatkan dari
penelitian Burgos, dkk. (2007) adalah
umbi kentang yang masih segar (2minggu
setelah masa panen) memiliki kadar
vitamin C tertinggi dibandingkan dengan

yang telah disimpan selama 26minggu


setelah masa panen dan telah mengalami
proses pemasakan.
II.

Penetapan Kadar Timbal

Penetapan kadar logam berat timbal


dilakukan dengan menggunakan dengan
alat spektrofotometri serapan atom (SSA).
Spektrofotometri serapan atom adalah
suatu metode analisis untuk penentuan
konsentrasi suatu unsur dalam suatu
cuplikan yang didasarkan pada proses
penyerapan radiasi sumber oleh atom-atom
yang berada pada tingkat energi dasar
(ground state). Dengan mengukur tingkat
penyerapan
radiasi (absorbansi) atau
mengukur radiasi yang diteruskan
(transmitansi), maka konsentrasi unsur di
dalam cuplikan dapat ditentukan.
Preparasi sampel dilakukan dengan
mula-mula sampel kentang yang kotor
dicuci dengan aquades lalu dipotong tipistipis, kemudian ditimbang sebanyak 100
gr, kemudian dikeringkan dalam oven
sampai kandungan airnya hilang, lalu
sampel yang sudah dioven diblender dan
dihaluskan dalam lumpang penumbuk
hingga menjadi serbuk kemudian disaring
dengan ayakan 115 mesh.
Selanjutnya sama seperti halnya
pada penetapan kadar vitamin C dengan
spektrofotometri UV-Vis, pada penetapan
kadar Pb juga dilakukan pembuatan
larutan baku PbNO3 kemudian ditentukan
panjang gelombang maksimummnya dan
dibuat persamaan kurva kalibrasi PbNO3.
Selanjutnya penetapan kadar Pb
pada sampel dilakukan dengan cara
sebagai berikut: ditimbang sampel kering
yang sudah dihaluskan sebanyak 5 gr lalu
masukan ke dalam labu kjeldahl 100 ml,
lalu ditambahkan 70 ml HNO3 2M. Fungsi
penambahan HNO3 yaitu untuk mencegah
pengendapan dan melarutkan semua
logam-logam yang ada dalam larutan.
Campuran tersebut kemudian didestruksi
dengan cara dipanaskan hingga larutan

tersebut berwarna bening, kemudian hasil


destruksi disaring dan diencerkan hingga
volume 100 ml. Larutan ini kemudian
diukur dengan AAS pada panjang
gelombang maksimum yang telah didapat
(Elmer, 1996). Dan ditentukan kadarnya
dengan menggunakan persamaan kurva
kalibrasi yang telah didapat.

Burgos, G., Auqui, S., Amoros, W., Salas,


E.,
Bonierbale,
M.
(2008).
Ascorbic Acid Concentration Of
Native Andean Potato Varieties as
Affected by Environment, Cooking
and Storage. Journal of Food
Composition and Analysis 22
(2009) 533538.

Penelitian yang dilakukan oleh Eva


Tresnawati, dkk. (2014), menunjukan
bahwa adanya akumulasi logam berat
dalam tanah yang kemudian diserap oleh
tanaman akan menghambat pembentukan
klorofil pada daun tanaman, dan
pembentukan klorofil yang terhambat
dapat mempengaruhi biomassa dari
tanaman.

Dale, M.F., Griffiths, W., Todd, D., 2003.


Effects of Genotype, Environment,
and Postharvest Storage on The
Total Ascorbate Content of Potato
(Solanum tuberosum) Tubers. J.
Agri. Food Chem. 51, 244248.

KESIMPULAN
I.

Penetapan Kadar Vitamin C dalam


Kentang
Dapat disimpulakan bahwa lama
penyimpanan dan proses pemasakan dapat
mempengaruhi kadar vitamin C dalam
kentang, dimana umbi kentang yang telah
disimpan lebih lama dari masa panen dan
telah mengalami proses pemasakan
memiliki kadar vitamin C yang lebih
rendah dari umbi kentang yang masih
segar.

II. Penetapan Kadar Logam Berat dalam


Kentang
Dapat disimpulkan bahwa adanya
akumulasi logam berat dalam tanah yang
kemudian diserap oleh tanaman akan
menghambat pembentukan klorofil pada
daun tanaman, dan pembentukan klorofil
yang terhambat dapat mempengaruhi
biomassa dari tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Bates, C., (1997). Bioavailability of
vitamin C. Eur. J. Clin. Nutr. Suppl.
1, S28S33.

Deskripsi Tanaman Kentang. (2012).


(http://sativaamor.blogspot.com/20
12/04/solanum-tuberosum-atauyang-lebih.html). Diakses 23 Mei
2015.
Kandungan Yang Terdapat Pada Kentang.
(2012).
(http://newjoesafirablog.blogspot.c
om/2012/06/kandungan-yangterdapat-pada-kentang.html).
Diakses 24 Mei 2015.
Karinda, M., Gayatri, F., & Citraningtyas.
2013.
Perbandingan
Hasil
Penetapan Kadar Vitamin C
Mangga
Dodol
dengan
Menggunakan
Metode
Spektrofotometri
UV-Vis
dan
Iodometri. PHARMACON Jurnal
Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 2
Khatimah,H.(2006).Perubahan
Konsentrasi Timbal dan Kadmium
Akibat Perlakuan Pupuk Organik
dalam Sistem Budidaya Sayuran
Organik. Skripsi pada FMIPA. IPB.
Kholidiyah, N.(2010).Respon Biologis
Tumbuhan
Eceng
Gondok
(Eichornis
crassipes
Solms)
Sebagai
Biomonitoring
Pencemaran
Logam
Berat
Cadmium (Cd) dan Plumbum (Pb)
pada Sungai Pembuangan Lumpur

Lapindo. Skripsi Jurusan Biologi


Fakultas Sains dan Teknologi. UIN
Maulana Malik Ibrahim. Malang.
Laily. (2010). Olahan dari Kentang.
Yogyakarta: Kanisius. Mahmud, M.
K.. (2009). Table Komposisi
Pangan
Indonesia.
Jakarta:
Gramedia
Pramesti, Maulina Citra. 2011. Penetapan
Kandungan Vitamin C Dalam
Daging Buah Jambu Biji Merah
(Psidium guajava L.) Berdasarkan
Tingkat
Kematangan
Secara
Spektrofotometri cahaya Tampak.
Fakultas Farmasi: Universitas
Pancasila.
Reddy, M. V., Satpathy, D., Dhiviya, K. S.
2013. Assessment of Heavy Metals
(Cd and Pb) and Micronutrients
(Cu, Mn, and Zn) of Paddy (Oryza
sativa L.) Field Surface Soil and
Water in A Predominantly PaddyCultivated Area at Puducherry
(Pondicherry, India), and Effects of
The aAgricultural Runoff on The
Elemental Concentrations of A
Receiving Rivulet. Environ Monit
Assess (2013) 185:66936704
Setiadi. (2007). Kentang: Varietas dan
Pembudidayaan. Penebar Swadaya:
Jakarta.
Susana,
R.,
dan
Suswati,
D.
(2011).Ketersediaan Cd, Gejala

Toksisitas dan Pertumbuhan 3


Spesies Brassicaceae pada Media
Gambut
yang
Dikontaminasi
Kadmium
(Cd).
Jurnal
Perkebunan dan Lahan Tropika.1.916.
Teknologi Budidaya Kentang di Dataran
Medium.
(2014).
(http://balitsa.litbang.pertanian.go.
id/ind/images/isi_monografi/Mono
grafi%20No%2034%20Teknologi
%20Budidaya%20Kentang%20di
%20Dataran%20Medium.pdf).
Diakses 23 Mei 2015.
Teucher, B., Olivares, M., Cori, H., 2004.
Enhancers ofIiron Absorption:
Ascorbic Acid and Other Organic
Acids. Int. J. Vitam. Nutr. Res. 76,
403419.
Tresnawati, E., Kusdianti, R., Solihat, R.
(2014). Kandungan Klorofil dan
Biomassa Pada Tanaman Kentang
(Solanum tuberosum L)
Pada
Tanah Yang Terakumulasi Logam
Berat Cd. FMIPA. UPI
Tsadilas, C. D., Karaivazoglou, N. A.,
Tsotsolis, N. C., Stamatiadis, S., &
Samaras, V. (2005). Cadmium
Uptake by Tobacco as Affected by
Liming, N Form, and Year of
Cultivation.
Environmental
Pollution, 134, 239246.