Anda di halaman 1dari 43

19

BAB II
KONSEP EFIKASI DIRI DAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA

A. Efikasi Diri
1. Sejarah dan Pengertian Efikasi diri
Dasar teori efikasi diri (self efficacy) dikembangkan dari teori kognitif sosial
oleh presiden APA (1974) dan profesor dari Universitas Stanford, Albert Bandura
(1977). Teori kognitif sosial berasumsi, setiap orang mampu menjadi agensi manusia,
atau pekerjaan yang disengaja dari berbagai tindakan, dan beberapa agensi beroperasi
dalam satu proses yang disebut hubungan segitiga timbal balik. Penyebab timbalbalik adalah model multi arah yang memberi kesan hasil agensi di masa mendatang
sebagai fungsi tiga gaya yang saling berhubungan : pengaruh kondisi lingkungan,
tingkah laku manusia dan faktor pribadi seperti kognitif, afektif, dan proses biologi.
Bandura (1997) mengatakan, efikasi diri secara eksplisit berhubungan dengan diri
dalam arah hubungan kemampuan yang dicapai dalam menyelesaikan tugas khusus,
sebagai prediktor kuat tentang perilaku.
Dalam Kamus besar bahasa Indonesia kata efikasi (efficacy) diartikan sebagai
kemujaraban atau kemanjuran. Maka secara harfiah, Efikasi diri dapat diartikan
sebagai kemujaraban diri.
Secara kontekstual, Bandura dan Wood (1989: 806) menyatakan efikasi diri
(self-efficacy) sebagai : beliefs in ones capabilities to mobilize the motivation,
cognitive resources, and courses of action needed to meet given situational
demands. Efikasi diri

adalah keyakinan terhadap kemampuan seseorang untuk


19

20

menggerakkan motivasi, sumber-sumber kognitif, dan serangkaian tindakan yang


diperlukan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dari situasi yang dihadapi.
Dalam kehidupan manusia memiliki keyakinan diri itu merupakan hal yang
sangat penting. Keyakinan diri mendorong seseorang untuk memahami secara
mendalam atas situasi yang dapat menerangkan tentang mengapa seseorang ada yang
mengalami kegagalan dan atau yang berhasil. Dari pengalaman itu, ia akan mampu
untuk mengungkapkan keyakinan diri, yang menurut Kurniawan (Maryati, 2008: 47)
keyakinan diri merupakan panduan untuk tindakan yang telah dikonstruksikan dalam
perjalanan pengalaman interaksi sepanjang hidup individu.
Efikasi diri yang berasal dari pengalaman tersebut yang akan digunakan untuk
memprediksi perilaku orang lain dan memandu perilakunya sendiri. Lebih lanjut lagi
Crick & Dodge (Maryati, 2008: 48) menjelaskan efikasi diri merupakan representasi
mental individu atas realitas, terbentuk oleh pengalaman-pengalaman masa lalu dan
masa kini, dan disimpan dalam memori jangka panjang. Dimana skema-skema
spesifik, keyakinan-keyakinan, ekspektasi-ekspektasi yang terintregrasi dalam sistem
keyakinan akan mempengaruhi intrepertasi individu terhadap situasi spesifik. Proses
intrepretasi individu terhadap situasi spesifik ini pada gilirannya diprediksi akan
mempengaruhi perilaku seseorang.
Definisi efikasi diri pun terus berkembang, Bandura (1997: 3) mengartikan
efikasi diri sebagai keyakinan akan kemampuan individu untuk dapat mengorganisasi
dan melaksanakan serangkaian tindakan yang dianggap perlu untuk mencapai suatu
hasil yang diinginkan.

21

Secara Kontekstual, Bandura memberikan definisi bahwa efikasi diri adalah


keyakinan seseorang mengenai kemampuan yang dimilikinya untuk menghasilkan
tingkatan performa yang terrencana, dimana kemampuan tersebut dilatih, digerakkan
oleh kejadian-kejadian yang berpengaruh dalam hidup seseorang.
Bagaimana individu itu bersikap, bertingkah laku, dan memotivasi diri dapat
menjadi salah satu sumber kekuatan individu dalam memunculkan efikasi diri,
sehingga dijelaskan pula oleh Wicaksono (2008) efikasi diri adalah sebuah unsur
yang bisa mengubah getaran pemikiran biasa; dari pikiran yang terbatas, menjadi
suatu bentuk padanan yang masuk ke dalam koridor spiritual; dan merupakan dasar
dari semua "mukjizat", serta misteri yang tidak bisa dianalisis dengan cara-cara ilmu
pengetahuan. Keyakinan itu merupakan sebuah media tunggal dan satu-satunya, yang
memungkinkan untuk membangkitkan suatu kekuatan dari sumber energi tanpa batas
di dalam diri dan mengendalikannya untuk dimanfaatkan demi kebaikan manusia itu
sendiri, serta merupakan suatu keadaan pikiran, yang bisa dirangsang atau diciptakan
oleh perintah peneguhan secara terus menerus lewat pikiran dan perkataan positif,
sampai akhirnya meresap ke dalam pikiran bawah sadar.
Berangkat dari asumsi-asumsi di atas bahwa efikasi diri seseorang dapat
mengarahkan tindakan-tindakan seseorang bukan hanya dengan orang lain tetapi juga
dengan lingkungan yang lebih luas. Efikasi diri memiliki fungsi adaptif yang
memungkinkan individu memenuhi persyaratan-persyaratan sosiokultural dan
tuntutan kognitif. Efikasi diri juga memungkinkan Individu untuk dapat
mengorganisasikan dunianya dalam cara-cara yang konsisten secara psikologis,

22

melakukan prediksi, menemukan kesamaan, dan menghubungkan pengalamanpengalaman baru dengan pengalaman-pengalaman masa lalu, bahkan memunculkan
kekuatan pikiran yang dapat dibawa hingga kedalam alam bawah sadarnya. Dari halhal tersebut McGillicuddy-DeLisi (Maryati, 2008: 49) mendefinisikan efikasi diri
sebagai alat dalam menetapkan prioritas, mengevaluasi kesuksesan, maupun alat
untuk memelihara efikasi diri .
Tidak jauh berbeda Nuron, dkk (Maryati, 2008: 49) menyatakan bahwa efikasi
diri mencakup kontrol diri, dimana efikasi diri merupakan keyakinan diri bahwa
mereka memilki keterampilan-keterampilan yang dituntut dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan spesifik. Efikasi diri sendiri menurut Robbin (Hambawany,
2007) adalah keyakinan atau kemampuan yang dimiliki seseorang untuk meraih
sukses dalam tugas.
Efikasi diri yang telah dijelaskan adalah merupakan keyakinan diri seperti
dijelaskan dan diperkuat pula oleh Spears dan Jordon (Maryati, 2008: 50) yang
mengistilahkan keyakinan sebagai efikasi diri yaitu kenyakinan seseorang bahwa
dirinya akan mampu melaksanakan tingkah laku yang dibutuhkan dalam suatu tugas.
Pikiran individu terhadap efikasi diri menentukan seberapa besar usaha yang akan
dicurahkan dan seberapa lama individu akan tetap bertahan dalam menghadapi
hambatan atau pengalaman yang tidak menyenangkan.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa inti dari efikasi diri
adalah keyakinan atas kemampuan diri. Efikasi diri merupakan keyakinan seseorang

23

untuk mengkoordinir kemampuan dirinya sendiri yang dimanifestasikan dengan


serangkaian tindakan dalam memenuhi tuntutan-tuntutan dalam hidupnya.

2. Proses Terjadinya Efikasi diri


Menurut Bandura (1997) efikasi diri berakibat pada suatu tindakan manusia
melalui beberapa jenis proses, antara lain yaitu:
a. Proses Motivasional
Individu yang memiliki efikasi diri tinggi akan meningkatkan usahanya untuk
mengatasi tantangan dengan menunjukkan usaha dan keberadaan diri yang positif.
Hal tersebut memerlukan perasaan keunggulan pribadi (sense of personal-efficacy).
b. Proses Kognitif
Efikasi diri yang dimiliki individu akan berpengaruh terhadap pola pikir yang
bersifat membantu atau menghambat. Bentuk-bentuk pengaruhnya, yaitu:
1) Jika efikasi diri semakin tinggi maka semakin tinggi pula penetapan suatu tujuan
dan akan semakin kuat pula komitmen terhadap tujuan yang ingin dicapai.
2) Ketika menghadapi situasi-situasi yang kompleks, individu mempunyai keyakinan
diri yang kuat dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan mampu
mempertahankan efisiensi berpikir analitis. Sebaliknya, jika individu bersifat raguragu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya maka biasanya tidak efisien
dalam berpikir analitis.
3) Efikasi diri berpengaruh terhadap antisipasi tipe-tipe gambaran konstruktif dan
gambaran yang diulang kembali. Individu yang memiliki efikasi diri tinggi akan

24

memiliki gambaran keberhasilan yang diwujudkan dalam penampilan dan perilaku


yang positif dan efektif. Sebaliknya individu yang merasa tidak mampu cenderung
merasa mempunyai gambaran kegagalan.
4) Efikasi diri berpengaruh terhadap fungsi kognitif melalui pengaruh yang sama
dengan proses motivasional dan pengolahan informasi. Semakin kuat keyakinan
individu akan kapasitas memori, maka semakin kuat pula usaha yang dikerahkan
untuk memproses memori secara kognitif dan meningkatkan kemampuan memori
individu tersebut.
c. Proses Afektif
Efikasi diri berpengaruh terhadap seberapa banyak tekanan yang dialami oleh
individu dalam situasi-situasi yang mengancam. Individu yang percaya bahwa dirinya
dapat mengatasi situasi-situasi yang mengancam yang dirasakannya, tidak akan
merasa cemas dan terganggu dengan ancaman tersebut.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efikasi diri


Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi efikasi diri. Menurut
Greenberg dan Baron (Hambawany, 2007) mengatakan ada dua faktor yang
mempengaruhi efikasi diri , yaitu:
a. Pengalaman langsung, sebagai hasil dari pengalaman mengerjakan suatu tugas
dimasa lalu (sudah pernah melakukan tugas yang sama dimasa lalu).
b. Pengalaman tidak langsung, sebagai hasil observasi pengalaman orang lain dalam
melakukan tugas yang sama (pada waktu individu mengerjakan sesuatu dan

25

bagaimana individu tersebut menerjemahkan pengalamannya tersebut dalam


mengerjakan suatu tugas).
Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan pula oleh Bandura (2007) bahwa
efikasi diri seseorang dipengaruhi pula oleh:
a. Pencapaian prestasi. Faktor ini didasarkan oleh pengalaman-pengalaman yang
dialami individu secara langsung. Apabila seseorang pernah mengalami
keberhasilan dimasa lalu maka dapat meningkatkan efikasi diri nya.
b. Pengalaman orang lain. Individu yang melihat orang lain berhasil dalam
melakukan aktivitas yang sama dan memiliki kemampuan yang sebanding dapat
meningkatkan efikasi diri nya. Individu yang pada awalnya memiliki efikasi diri
yang rendah akan sedikit berusaha untuk dapat mencapai keberhasilan seperti yang
diperoleh orang lain.
c. Bujukan lisan. Individu diarahkan dengan saran, nasehat, bimbingan sehingga
dapat meningkatkan keyakinan bahwa kemampuan-kemampuan yang dimiliki
dapat membantu untuk mencapai apa yang diinginkan.
d. Kondisi emosional. Seseorang akan lebih mungkin mencapai keberhasilan jika
tidak terlalu sering mengalami keadaan yang menekan karena dapat menurunkan
prestasinya dan menurunkan keyakinan akan kemampuan dirinya.
Keempat faktor diatas didukung oleh pendapat Ivancevich dan Matteson
(Maryati, 2008) yang menyatakan bahwa pencapaian prestasi, pengalaman orang lain,
bujukan

lisan,

kondisi

emosional

memegang

peranan

penting

didalam

mengembangkan efikasi diri, faktor tersebut dianggap penting sebab ketika seseorang

26

melihat orang lain berhasil maka akan berusaha mengikuti jejak keberhasilan orang
tersebut.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi keyakinan diri yang diungkap dalam efikasi diri yaitu Pengalaman
langsung, pengalaman tidak langsung, pencapaian prestasi, pengalaman orang lain,
bujukan lisan, kondisi emosional.

4. Aspek-aspek Efikasi Diri


Selain faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efikasi diri, adapula aspekaspek yang terdapat dalam efikasi diri. Menurut Bandura (2007) ada tiga aspek
efikasi diri :
a. Magnitude. Aspek ini berkaitan dengan kesulitan tugas. Apabila tugas-tugas yang
dibebankan pada individu disusun menurut tingkat kesulitannya, maka perbedaan
efikasi diri secara individual mungkin terbatas pada tugas-tugas yang sederhana,
menengah atau tinggi. Individu akan melakukan tindakan yang dirasakan mampu
untuk dilaksanakannya dan akan tugas-tugas yang diperkirakan diluar batas
kemampuan yang dimilikinya.
b. Generality. Aspek ini berhubungan dengan luas bidang tugas atau tingkah laku.
Beberapa

pengalaman

berangsur-angsur

menimbulkan

penguasaan

terhadap

pengharapan pada bidang tugas atau tingkah laku yang khusus sedangkan
pengalaman yang lain membangkitkan keyakinan yang meliputi berbagai tugas.

27

c. Strength. Aspek ini berkaitan dengan tingkat kekuatan atau kemantapan seseorang
terhadap keyakinannya. Tingkat efikasi diri yang lebih rendah mudah digoyangkan
oleh pengalaman-pengalaman yang memperlemahnya, sedangkan orang yang
memilki efikasi diri yang kuat akan tekun dalam meningkatkan usahanya meskipun
dijumpai pengalaman yang memperlemahnya.
Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa aspek-aspek
dalam efikasi diri

yaitu magnitude, generality, strength, keyakinan terhadap

kemampuan mengahadapi situasi yang tidak menentu yang mengandung unsur


kekaburan, tidak dapat diprediksikan, dan penuh tekanan, keyakinan terhadap
kemampuan menggerakkan motivasi, kemampuan kognitif dan melakukan tindakan
yang diperlukan untuk mencapai suatu hasil, keyakinan mencapai target yang telah
ditetapkan. Individu menetapkan target untuk keberhasilannya dalam melakukan
setiap tugas, keyakinan terhadap kemampuan mengatasi masalah yang muncul,
kognitif, motivasi, afeksi, seleksi.

5. Pengaruh Efikasi Diri pada Tingkah Laku


Menurut Bandura, efikasi diri akan mempengaruhi bagaimana individu
merasakan, berpikir, memotivasi diri sendiri, dan bertingkah laku. Efikasi diri atau
kapabilitas yang dimiliki individu akan mempengaruhi tingkah lakunya dalam
beberapa hal, seperti:
a.

Tindakan

Individu,

efikasi

diri

menentukan

kesiapan

individu

dalam

merencanakan apa yang harus dilakukannya. Individu dengan keyakinan diri

28

tinggi tidak mengalami keragu-raguan dan mengetahui apa yang harus


dilakukannya.
b.

Usaha, efikasi diri mencerminkan seberapa besar upaya yang dikeluarkan


individu untuk mencapai tujuannya. Individu dengan keyakinan terhadap
kemampuan diri tinggi akan berusaha maksimal untuk mengetahui cara-cara
belajar serta kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan minatnya. Individu dengan
keyakinannya terhadap kemampuan diri tinggi akan berusaha mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.

c.

Daya tahan individu dalam menghadapi hambatan atau rintangan dan kegagalan,
individu dengan efikasi diri tinggi mempunyai daya tahan yang kuat dalam
menghadapi rintangan atau kegagalan, serta dengan mudah mengembalikan rasa
percaya diri setelah mengalami kegagalan. Individu juga beranggapan bahwa
kegagalan dalam mencapai tujuan adalah akibat dari kurangnya pengetahuan,
bukan karena kurangnya keahlian yang dimilikinya. Hal ini membuat individu
berkomitmen terhadap tujuan yang ingin dicapainya. Individu akan menganggap
kegagalan sebagai bagian dari proses, dan tidak menghentikan usahanya.

d.

Ketahanan individu terhadap keadaan tidak nyaman, dalam situasi tidak nyaman,
individu dengan efikasi diri diri tinggi menganggap sebagai suatu tantangan,
bukan merupakan sesuatu yang harus dihindari. Ketika individu mengalami
keadaan tidak nyaman dalam usaha untuk mencapai tujuan yang diminati, ia akan
tetap berusaha bertahan dengan mengabaikan ketidaknyamanan tersebut dan
berkonsentrasi penuh.

29

e.

Pola pikir, situasi tertentu akan mempengaruhi pola pikir individu. Individu
dengan efikasi diri tinggi, pola pikirnya tidak mudah terpengaruh oleh situasi
lingkungan dan tetap memiliki cara pandang yang luas dari beberapa sisi. Cara
pandang individu yang luas memungkinkan individu memiliki alternatif pilihan
kegiatan belajar yang banyak dari bidang yang diminati.

f.

Stress dan depresi, bagi individu yang memiliki efikasi diri rendah, kecemasan
yang terbangkitkan oleh stimulus tertentu akan membuatnya mudah merasa
tertekan.

Jika

perasaan

tertekan

tersebut

berkelanjutan,

maka

dapat

mengakibatkan depresi. Dalam upaya memilih karir yang sesuai dengan


minatnya, jika individu menganggap realitas sulitnya jalur yang harus ditempuh,
prospek dunia kerja di masa depan dan sebagainya sebagai sumber kecemasan,
dan individu meragukan kemampuannya, maka individu akan menjadi lebih
mudah tertekan.
g.

Tingkat pencapaian yang akan terealisasikan, Individu dengan efikasi diri tinggi
dapat membuat tujuan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki serta mampu
menentukan bidang pendidikan sesuai dengan minat dan kemampuannya
tersebut.

30

B. Kemandirian Belajar
1.

Konsep Belajar
Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan

manusia pada umumnya dan pendidikan pada khususnya baik sengaja maupun tidak
sengaja. Hal ini sesuai dengan kodrati manusia ingin selalu maju ke arah optimalisasi
menurut tuntutan perkembangan zaman.
Untuk mencapai semua itu, maka belajar sangat mutlak diperlukan. Belajar
adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan
lingkungan (Hamalik, 2001: 28). Menurut W.S. Winkel (1997) bahwa belajar adalah
suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan
lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,
keterampilan, dan nilai-sikap.
Belajar adalah suatu tahapan perubahan tingkah laku individu yang relatif
menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan
proses kognitif (Syah, 2003:68).
Cronbach (Djamarah, 2002:12) berpendapat bahwa learning is shown by
change in behavior as a result of experience. Belajar diartikan sebagi suatu aktivitas
yang ditunjukan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Whiterington (Sukmadinata, 2003:155) mengungkapkan bahwa belajar
merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola
respons yang baru yang berbentuk keterampilan sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan
kecakapan.

31

Piaget (Dimyati&Mudjiono, 2002:13) berpendapat bahwa pengetahuan


dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan
lingkungan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek
semakin berkembang. Perkembangan intelektual menurut Piaget melalui empat
tahapan sebagai berikut ; sensori motor (0;0-2;0), pra-operasional (2;0-7;0),
operasinal konkret (7;0-11;0), operasional formal (11;0- ke atas).
Carl Rogers (Dimyati&Mudjiono, 2002:116) bahwa proses pendidikan
(belajar) bukan terfokus pada pengajaran saja, akan tetapi pada siswa yang belajar.
Rogers berpendapat bahwa manusia tidak harus mempelajari hal-hal yang tak ada
artinya, akan tetapi mempelajari apa yang bermakna pada dirinya
Dari pendapat-pendapat di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan
belajar merupakan sebuah proses panjang yang dilakukan oleh individu yang di
dalamnya terdapat perubahan tingkah laku, sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Proses perubahan ini terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan di
sekitarnya serta dari pengalaman yang didapatkan melalui proses tersebut. Selain itu
individu

juga

mendapatkan

sebuah

kebermaknaan

dalam

proses

belajar,

kebermaknaan itulah yang mendorong perubahan dalam diri individu.

2.

Ciri-ciri Belajar
Dari definisi belajar di atas, terdapat tiga kata kunci yang merupakan ciri

belajar, yaitu proses, perubahan perilaku dan pengalaman.

32

a. Proses
Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan
merasakan. Seseorang dikatakan belajar bila pikiran dan perasaannya aktif. Aktivitas
pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi terasa oleh
yang bersangkutan.
b. Perubahan Perilaku
Hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku. Seseorang yang
belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan,
keterampilan motorik atau penguasaan nilai-nilai (sikap). Terkait dengan perubahan
perilaku dalam belajar, Syamsudin (2003: 158) menjelaskan bahwa ciri perubahan
yang merupakan perilaku belajar diantaranya:
1) Intensional, yaitu pengalaman atau praktik tersebut dengan sengaja dan disadari
dilakukan dan bukan secara kebetulan. Dengan demikian perubahan yang
disebabkan oleh kemantapan dan kematangan atau keletihan atau karena penyakit
tidak dipandang sebagai hasil belajar.
2) Positif, yaitu sesuai seperti yang diharapkan (normatif) atau kriteria keberhasilan
(criteria of success) baik dipandang dari segi siswa (tingkat kemampuan, bakat
khusus, tugas perkembangan dan sebagainya) maupun dari segi guru (tuntutan
masyarakat orang dewasa sesuai dengan tingkat standar kulturalnya).
3) Efektif, yaitu membawa pengaruh dan makna tertentu bagi pelajar itu (sampai
batas waktu tertetu perubahan tersebut relatif menetap dan setiap saat diperlukan
dapat direproduksi dan dipergunakan seperti dalam pemecahan masalah (problem

33

solving), baik dalam ujian, ulangan dan sebagainya maupun dalam penyesuaian
diri dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mempertahankan kelangsungan
hidupnya.
c. Pengalaman
Belajar adalah mengalami, bahwa dalam belajar terjadi interaksi antar
individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

3.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar


Meskipun para guru telah berusaha melancarkan segala kompetensinya,

namun tat kala sampai pada suatu saat harus melakukan evaluasi berdasarkan data
dan informasi hasil pengukuran proses dan hasil belajar, maka para guru dihadapkan
kepada beberapa kenyataan adanya perbedaan pencapaian hasil belajar siswanya.
Djamarah (2002: 141) memandang bahwa belajar bukanlah aktivitas yang
berdiri sendiri. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa,
yaitu:
1.

Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor internal
terdiri dari 1) Faktor fisiologis, berupa penglihatan, pendengaran, penciuman,
struktur tubuh, cacat tubuh, dan lain-lain; 2) Faktor psikologis, terdiri dari faktor
intelektual (inteligensi, bakat khusus, dan lain-lain) dan faktor non-intelektual
(konsep diri, sikap, motivasi, penyesuaian diri, kemandirian, dan lain-lain).

b) Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor eksternal
terdiri dari 1) Faktor lingkungan sosial, terdiri dari: keluarga, sekolah,

34

masyarakat dan kelompok; 2) Faktor lingkungan budaya, terdiri dari: adat


istiadat, IPTEK dan kesenian; 3) Faktor lingkungan fisik, terdiri dari: fasilitas
rumah, fasilitas belajar, dan lain-lain; 4) Faktor lingkungan spiritual yaitu faktor
keagamaan.

4.

Teori-teori Belajar

a.

Teori Belajar Sosial (Albert Bandura)


Teori belajar sosial Bandura dikembangkan dari tiga asumsi yaitu : 1) individu

melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungannya terutama


tingkah laku- tingkah laku orang lain; 2) terdapat hubungan yang kuat antara pelajar
dengan lingkungannya; 3) hasil pembelajaran adalah berupa kode tingkah laku visual
dan verbal yang diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari.
Bandura (Ratna Wilis Dahar, 1996: 27) mengemukakan bahwa dalam
pandangan belajar sosial manusia itu tidak didorong oleh kekuatan-kekutan dari
dalam, dan juga tidak dipukul oleh stimulus-stimulus lingkungan. Tetapi, fungsi
psikologi diterangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbal balik dari
determinan-determinan pribadi dan determinan-determinan lingkungan.
Terdapat empat konsep dasar dalam teori belajar sosial, yaitu seperti
dipaparkan oleh Ratna Wilis Dahar (1996: 28-30) berikut ini.
1) Pemodelan (modelling) : Bandura memperhatikan bahwa penganut-penganut
Skinner memberi penekanan pada efek-efek dari konsekuensi-konsekuensi pada
perilaku dan tidak mengindahkan fenomena pemodelan, yaitu meniru perilaku

35

orang lain dan pengalamaan vicarious, yaitu belajar dari keberhasilan dan
kegagalan orang lain. Bandura berpendapat bahwa sebagian besar belajar yang
dialami manusia tidak dibentuk dari konsekuensi-konsekuensi, melainkan
manusia itu belajar dari suatu model.
2) Fase belajar, menurut Bandura terdapat empat fase belajar dari model yaitu (a)
fase perhatian (attentional phase) yaitu memberikan perhatian pada model. Untuk
dapat menarik perhatian siswa model belajar harus menarik, menimbulkan minat
dan populer; fase retensi (retention phase) yaitu fase penyajian simbolik dari
penampilan model dalam memori jangka panjang. Dalam hal ini peranan katakata, nama-nama, atau bayangan kuat yang dikaikan dengan kegiatan-kegiatan
yang dimodelkan dalam mempelajari dan mengingat perilaku menjadi sangat
penting; fase reproduksi (reproduction phase) dalam fase ini bayangan (imagery)
atau kode-kode simbolik verbal dalam memori membimbing penampilan yang
sebenarnya dari perilaku yang baru diperoleh; fase motivasi (motivational phase)
yaitu fase terakhir dalam belajar observasional, dimana siswa akan meniru suatu
model, karena siswa berasumsi dengan meniru suatu model akan meningkatkan
kemungkinan untuk mendapatkan penguatan (reinforcement).
3) Belajar vicarious, yaitu proses belajar dengan memperlihatkan penguatan (baik
positif atau negatif) terhadap perilaku tertentu, dengan tujuan memberikan proses
pembelajaran bagi siswa yang tidak mau melihat model secara langsung.
4) Pengaturan sendiri, pengaturan sendiri ( self regulation) menurut Bandura
didasarkan pada hipotesis bahwa manusia mengamati perilakunya sendiri,

36

mempertimbangkan perilaku itu terhadap kriteria yang disusunnya sendiri, dan


kemudian memberi penguatan pada dirinya sendiri.

b. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Gestalt


Gestalt adalah sebuah teori belajar yang dikemukakan oleh Koffka dan Kohler
dari Jerman. Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari bagianbagian. Sebab keberadaan bagian-bagian itu didahului oleh keseluruhan. Misalnya
seorang pengamat yang mengamati aeaeorang dari kejauhan. Orang yang jauh itu
pada mulanya hanyalah satu titik hitam yang terlihat semakin dekat dengan si
pengamat. Semakin dekat orang itu dengan si pengamat maka semakin jelas terlihat
bagian-bagian atau unsur-unsur anggota tubuh orang tersebut. Si pengamat dapat
berkata bahwa orang itu mempunyai kepala, tangan , kaki, dahi, mata, hidung, mulut,
telinga, baju, celana, kaca mata, jam tangan, ikat pinggang, dan sebagainya.
Dalam belajar menurut teori gestalt, yang terpenting adalah penyesuaian
pertama, yaitu mendapatkan respon atau tanggapan yang tepat. Belajar yang
terpenting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau
memperoleh insight. Belajar dengan pengertian lebih dipentingkan daripada hanya
memasukkan sejumlah kesan. Prinsip-prinsip belajar menurut teori gestalt :
1) belajar berdasarkan keseluruhan;
2) belajar adalah suatu proses perkembangan;
3) anak didik sebagai organisme keseluruhan;
4) terjadi transfer;

37

5) belajar adalah reorganisasi pengalaman;


6) belajar harus dengan insight;
7) belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan, dan tujuan; dan
8) belajar berlangsung terus menerus.

c.

Teori Systematic Behavior ( Clark C Hull)


Prinsip-prinsip yang digunakan oleh Hull pada dasarnya sama dengan yang

digunakan oleh para Behaviorist

yaitu dasar stimulu-respon dan adanya

reinforcement.
Hull (Purwanto, 2000:97) mengemukakan bahwa suatu kebutuhan atau
keadaan terdorong (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi dan ambisi) harus ada
dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar
pengurangan kebutuhan itu.
Menurut teori ini efisiensi belajar akan tergantung pada besarnya tingkat
pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar berupa
respon-respon yang dibuat oleh individu yang belajar. Dua hal yang sangat penting
dalam proses belajar dari Hull ialah adanya incentive motivation ( motivasi insentif)
dan drive stimulus reduction (pengurangan stimulus pendorong) (Purwanto, 2000:98)

38

d. Teori Belajar Gagne


Menurut Gagne (Willis, 1996: 134) belajar adalah suatu proses untuk
memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku
serta pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi
Menurut Gagne segala sesuatu yang dipelajari oleh manusia dapat dibagi
menjadi lima kategori yang disebut the domainds of learning, yaitu sebagai berikut:
1) keterampilan motoris (motor skill)
2) informasi verbal
3) kemampuan intelektual
4) strategi kognitif
5) sikap

5.

Definisi Kemandirian Belajar


Para ahli psikologi menggunakan dua istilah yang berkaitan dengan

kemandirian yaitu independence dan autonomy (Steinberg, 1993: 286). Seiring


dengan pertambahan usia seseorang maka terjadilah perubahan pada tugas
perkembangannya. Begitu pula perubahan dalam penggunaan istilah-istilah yang
menunjukan kemandirian.
Dalam kamus psikologi kata autonomy (otonomy) diartikan sebagai keadaan
pengaturan diri, atau kebebasan individu manusia untuk memilih, menguasai dan
menentukan dirinya sendiri (Chaplin, 2001).

39

Istilah independence dan autonomy sering dipertukarkan secara bergantian


(interchangeable). Secara umum kedua istilah tersebut memiliki arti yang sama yaitu
kemandirian tetapi secara konseptual kedua istilah tersebut berbeda dengan perbedaan
yang sangat tipis. Lebih lanjut Steinberg menegaskan bahwa independence
menunjukan pada kapasitas seseorang memperlakukan dirinya sendiri, sehingga anak
yang sudah memiliki independence akan mampu melakukan sendiri aktivitas dalam
kehidupan tanpa adanya pengaruh pengawasan orang lain.
Kemandirian yang mengarah pada konsep independence merupakan bagian
dari perkembangan autonomy selama masa remaja, namun autonomy mencakup
aspek yang lebih luas lagi, yaitu aspek emosional, behavioral dan nilai. Steinberg
(1993: 265) membagi kemandirian menjadi 3 bagian yaitu kemandirian emosional
yang berhubungan dengan interaksi remaja dengan orang tua, kemandirian perilaku
yaitu kemandirian dalam mengambil keputusan dan melaksanakannya, dan
kemandirian nilai yaitu kemandirian yang berhubungan dengan seperangkat prinsip
dan nilai tentang benar dan salah, penting dan tidak penting.
Chaplin (2004) kemandirian berasal dari kata mandiri yang berarti keadaan
pengaturan diri. Sejalan dengan pengertian diatas Ryan & Lynch (Ara, 1998: 17)
mengemukakan bahwa Kemandirian adalah kemampuan untuk mengatur tingkah
laku menseleksi dan membimbing keputusan serta tindakan seseorang tanpa
pengawasan dari orang tua.

40

Conell (Ara 1998: 17) menyatakan bahwa Autonomy is experience of choice


in the intuition maintenance and regulation of behavior and the experience of
connectedness between ones action and personal goals and values.
Kemandirian adalah pengalaman melalui pengaturan dan pemeliharaan intuisi
serta perilaku yang menghubungkan antara tujuan, tindakan seseorang dan nilai-nilai.
Artinya bahwa dengan adanya kesempatan untuk mengawali, menseleksi, menjaga
dan mengatur tingkah laku, menunjukan adanya suatu kebebasan pada setiap individu
yang mandiri untuk menentukan sendiri perilaku yang hendak ia tampilkan,
menentukan langkah hidupnya, tujuan hidupnya dan nilai-nilai yang akan dianut serta
diyakininya.
Wrightsman dan Deaux (Ara, 1998: 18) memberikan pengertian kemandirian
sebagai suatu tingkah laku yang tidak conformity maupun anti conformity yang
menunjukan bahwa orang yang mandiri mampu mempertahankan hak dan
kepentingannya sebagai individu tanpa menginjak hak dan kepentingan orang lain.
Berkaitan dengan definisi kemandirian, Kartadinata (1988: 78) menyatakan
kemandirian sebagai kekuatan motivasional dalam diri individu untuk mengambil
keputusan dan menerima tanggung jawab atas konsekuensi keputusan itu. Lebih
lanjut Barnadib (Sukoco, 2009) mengemukakan bahwa kemandirian meliputi perilaku
mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan atau masalah, mempunyai rasa
percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.
Kemandirian sebagai kerpribadian atau sikap mental harus dimiliki oleh setiap
orang yang didalamnya terkandung unsur-unsur dengan watak-watak yang ada dan

41

perlu dikembangkan agar tumbuh menyatu dalam menentukan sikap dan perilaku
seseorang menuju karah kewiraswastaan artinya kemampuan yang tumbuh dan
berkembang seiring dengan pemahaman dan konsep hidup yang mengarah pada
kemampuan, kemauan, keuletan, ketekunan dalam bidangnya.
Penjelasan di atas menjelaskan mengenai kemandirian lalu bagaimana
kaitannya kemandirian dalam hal belajar? Belajar sebenarnya merupakan kegiatan
individual dan berlanjutan, yang mana dalam prosesnya memerlukan totalitas dari
kepribadian individu yang menjalaninya. Kemandirian adalah aspek esensial dari
perkembangan kepribadian individu. Kecakapan mengambil keputusan dan
keberanian menerima tanggung jawab adalah esensi kemandirian, sehingga agar
proses belajar ini membuahkan kesuksesan dalam memperoleh hasil belajar yang baik
maka kemandirian dalam belajar ini perlu dimiliki.
Berkaitan dengan definisi dari kemandirian belajar, lebih lanjut Burtiham
(1999: 12) mengemukakan bahwa kemandirian belajar adalah perilaku siswa yang
bebas (otonom) dan bertanggung jawab dalam menentukan tujuan belajar,
merencanakan dan melaksanakan, memelihara serta menilai hasil aktivitas belajarnya
tanpa ada ketergantungan pada orang lain.
Menurut Setiawan (2004) kemandirian belajar adalah aktivitas yang
berlangsung lebih didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri dan tanggung jawab
sendiri dari belajar.
Karnita (2007) berpendapat bahwa kemandirian belajar merupakan suatu
keadaan atau kondisi aktivitas belajar dengan kemampuan sendiri, tanpa bergantung

42

kepada orang lain. Ia selalu konsisten dan bersemangat belajar dimanapun dan
kapanpun. Dalam dirinya sudah melembaga kesadaran dan kebutuhan belajar
melampaui tugas, kewajiban dan target jangka pendek; nilai dan prestasi. Dengan
kata lain merupakan kondisi sadar pada belajar sepanjang hayat (long life education).
Kemandirian belajar merupakan salah satu ciri kepribadian yang penting yang
dapat membantu individu untuk mencapai tujuan belajar, serta untuk menyelesaikan
tugas-tugas belajarnya.
Jika disimpulkan dari keseluruhan pengertian diatas maka kemandirian
belajar dapat dipahami sebagai rangkaian aktivitas dalam belajar yang dilakukan
untuk mencapai tujuan tertentu, atas dasar tanggung jawab, kesadaran serta
kemampuan sendiri tanpa ketergantungan dengan orang lain.

6.

Aspek-aspek Kemandirian Belajar


Konsep kemandirian belajar pada penelitian ini mengambil konsep

kemandirian steinberg. Steinberg (1993: 265) menyatakan bahwa kemandirian terdiri


dari tiga aspek yaitu kemandirian emosional, kemandirian perilaku dan kemandirian
nilai yang dipaparkan sebagai berikut:
a) Kemandirian emosional, yaitu aspek kemandirian yang terkait dengan perubahan
dalam hubungan dekat dari seorang individu, terutama dengan orang tua.
Kemandirian dalam hal emosional ini ditandai dengan: (1) De-idealize yaitu tidak
menganggap orang tuanya sebagai sosok yang ideal dan sempurna dalam artian
bahwa orang tuanya tidak selamanya benar dalam menentukan sikap dan

43

kebijakan, (2) Parent as people yaitu mampu melihat orang tuanya seperti orang
lain pada umumnya, (3) Non-dependency yaitu kemampuan untuk tidak
bergantung pada orang tua maupun orang dewasa pada umumnya dalam
mengambil keputusan, menentukan sikap dan bertanggung jawab dengan
keputusan yang diambil dan (4) Individuation yaitu kemampuan untuk menjadi
pribadi yang utuh terlepas dari pengaruh orang lain. (Steinberg, 1993: 290).
a) Kemandirian perilaku diartikan sebagai kemampuan dalam mengambil keputusan
dan melaksanakannya. Kemandirian perilaku ini ditandai dengan (1) kemampuan
seseorang dalam mengambil keputusan yaitu dengan mengidentifikasi alternatif
pemecahan masalah untuk jangka panjang, mampu menemukan akar masalah,
sadar akan resiko yang akan diterima, merubah tindakan yang akan diambil
berdasarkan informasi baru, mengenal dan memperhatikan kepentingan orangorang yang memberikan nasihat dan mampu mengevaluasi kemungkinan dalam
mengatasi masalah; (2) tidak rentan terhadap pengaruh orang lain yaitu memiliki
inisiatif dalam mengambil keputusan serta memiliki ketegasan diri terhadap
keputusan yang diambil; dan (3) memiliki kepercayaan diri yang ditandai dengan
memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan dan yakin terhadap potensi
dimiliki. (Steinberg, 1993: 295).
b) Kemandirian nilai, yaitu kemandirian yang memiliki seperangkat prinsip tentang
benar-salah, penting dan tidak penting. Kemandirian nilai ini ditandai dengan: (1)
abstrack belief yaitu memiliki keyakinan moral, isologi dan keyakinan agama

44

yang abstrak yang hanya didasarkan pada kognitif saja, benar dan salah, baik dan
buruk; (2) principal belief yaitu memiliki keyakinan yang prinsipil bahwa nilai
yang dimiliki diyakini secara ilmiah dan kontekstual yang memiliki kejelasan
dasar hukum sehingga jika nilai yang dianut dipertanyakan oleh orang lain, maka
ia akan memiliki argumentasi yang jelas sesuai dengan dasar hukum yang ada; (3)
independent belief yaitu yakin dan percaya pada nilai yang dianut sehingga
menjadi jati dirinya sendiri dan tidak ada seorang pun yang mampu merubah
keyakinan yang ia miliki. (Steinberg, 1993: 303)

7.

Karakteristik Individu Yang Memiliki Kemandirian Belajar


Untuk memberikan gambaran mengenai individu yang memiliki kemandirian

belajar, maka kita perlu memahami karakteristik atau ciri dari individu yang memiliki
kemandirian berdasarkan aspek-aspek kemandirian yang telah diuraikan diatas.
Adapun karakteristik individu yang mandiri menurut Ara (1998: 28), yaitu:
a. Memiliki kebebasan untuk bertingkah laku, membuat keputusan dan tidak merasa
cemas, takut atau malu bila keputusan yang diambil tidak sesuai dengan pilihan
atau keyakinan orang lain.
b. Mempunyai kemampuan untuk menemukan akar masalah, mencari alternatif
pemecahan masalah, mengatasi masalah dan berbagai tantangan serta kesulitan
lainnya, tanpa harus mendapat bimbingan dari orang tua atau orang dewasa
lainnya dan juga dapat membuat keputusan dan mampu melaksanakan yang
diambil.

45

c. Mampu mengontrol dirinya atau perasaannya sehingga tidak memiliki rasa takut,
ragu, cemas, tergantung dan marah yang berlebihan dalam berhubungan dengan
orang lain.
d. Mengandalkan diri sendiri untuk menjadi penilai mengenai apa yang terbaik bagi
dirinya serta berani mengambil resiko atas perbedaan kebutuhan dan nilai-nilai
yang diyakininya serta perselisihan dengan orang lain.
e. Menunjukan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain, yang
diperlihatkan dalam kemampuannya membedakan kehidupan dirinya dengan
kehidupan orang lain, namun tetap menunjukan loyalitas.
f. Memperlihatkan

inisitif

yang

tinggi

melalui

ide-idenya

dan

sekaligus

mewujudkan idenya tersebut. Juga ditunjukan dengan kemauannya untuk


mencoba hal yang baru.
g. Memiliki kepercayaan diri yang kuat dengan menunjukan keyakinan atas segala
tingkah yang ia lakukan dan menunjukan sikap yang tidak takut menghadapi
suatu kegagalan.
Sedangkan karakteristik orang yang mandiri menurut Surya (2008), yaitu:
a. Mengenal diri sendiri dan lingkungannya sebagaimana adanya. Individu yang
mandiri

memiliki

kemampuan

pengenalan

terhadap

keadaan,

potensi,

kecenderungan, kekuatan dan kelemahan diri sendiri seperti apa adanya,


mengenal kondisi objektif yang ada diluar diri sendiri.
b. Menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamik.

46

c. Mampu menetapkan satu pilihan dari berbagai kemungkinan yang ada


berdasarkan pertimbangan yang matang terutama dalam mengambil keputusan.
d. Mengarahkan diri sendiri, menuntut kemampuan individu untuk mencari dan
menempuh berbagai jalan raya agar apa yang menjadi kepentingan dirinya dapat
terselenggara secara positif dan dinamik.
e. Mewujudkan diri sendiri, mampu merencanakan dan menyelenggarakan
kehidupan diri sendiri baik sehari-hari maupun dalam jangka panjang sehingga
segenap potensi dan kemampuan yang dimiliki dapat berkembang secara optimal.
Burtiham (1999: 42) anak yang telah memiliki kemandirian belajar
menunjukan sikap dan kebiasaan dalam belajarnya baik itu menyangkut aspek emosi,
perilaku maupun nilai. Kemandirian belajar dalam aspek emosi ditandai dengan
dimilikinya motivasi intrinsik dalam belajar. Kemandirian belajar pada aspek perilaku
ditandai dengan munculnya penampilan belajar yang mampu mendisiplinkan dirinya
tentang belajar yang baik. Sedangkan dalam aspek nilai ditandai dengan adanya
orientasi belajar yang jelas.

8.

Perkembangan Kemandirian Belajar Siswa SMP


Ditilik dari segi usia, siswa Sekolah Menegah Pertama (SMP) termasuk

kedalam fase remaja awal (13-14 tahun). Konopka dalam Pikunas (1976)
mengemukakan bahwa masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting
dalam siklus perkembangan siswa dan merupakan masa transisi (dari masa anak ke

47

masa dewasa) yang diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat.
(Yusuf, 2006: 7).
Sementara Salzman (Yusuf, 2006: 184) mengemukakan bahwa remaja
merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua
kearah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri dan
perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.
Secara psikologis, menurut Piaget (Hurlock, 1996: 206) masa remaja adalah
masa dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak
tidak lagi merasa di bawah tingkatan-tingkatan orang dewasa yang lebih tua
melainkan dalam tingkatan yang sama sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
Salah satu isu yang menarik untuk dikaji pada masa remaja adalah mengenai
masalah kemandirian (autonomy). Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa bagi
remaja, pencapaian kemandirian merupakan dasar untuk menjadi orang dewasa yang
sempurna. Kedewasaan yang ingin dicapai oleh remaja dapat mendasari dalam
menentukan sikap, mengambil keputusan secara tepat, serta keajegan dalam
menentukan dan melakukan prinsip-prinsip kebenaran dan kebaikan (Budiman,
2008).
Perkembangan

kemandirian

remaja

diawali

dengan

perkembangan

kemandirian emosional. Hal tersebut ditandai dengan pemutusan ikatan infantile anak
kepada orangtua. Kesulitan remaja dalam meutuskan keterikatan emosional dengan
orangtua seringkali ditunjukkan dengan sikap menentang keinginan atau aturan
orangtua yang pada akhirnya disebut sebagai pemberontakkan terhadap orangtua.

48

Sementara itu, budaya keterikatan antara anak dan orangtua masih banyak dibiasakan
pada keluarga-keluarga di Indonesia, tidak seperti budaya barat yang telah
memberikan kebebasan (dari segi tempat tinggal) kepada anak remajanya.
Lepasnya ikatan-ikatan emosional remaja akan menentukan pengambilan
keputusan bagi remaja tanpa harus mendapat dukungan dari orangtua merupakan
kemandirian yang bersifat independence.
Setelah siswa mandiri secara emosional, maka siswa akan mandiri secara
perilaku. Sebagai konsekuensi dari lepasnya ikatan emosional dari orang lain. Begitu
pula dalam hal belajar, perkembangan kemandirian belajar siswa diawali dengan
lepasnya keterikatan emosional antara siswa dengan orang lain, terutama dengan
orangtua. Siswa dapat melakukan kegiatan belajarnya tanpa harus tergantung kepada
orang lain, siswa dapat memilih aktivitas ekstrakurikuler sesuai dengan minatnya,
serta dapat menentukkan strategi belajarnya sendiri.
Perkembangan kemandirian belajar siswa yang terakhir adalah kemandirian
yang berkaitan dengan nilai atau prinsip yang diyakininya. Kemandirian perilaku
ditandai dengan kemampuan siswa untuk memaknai seperangkat prinsip atau aturan
tentang benar dan salah, penting dan tidak penting, misalnya siswa akan memiliki
keyakinan untuk tidak mencontek pada saat ulangan, memilih hadir ke sekolah tepat
waktu daripada membolos dengan teman-teman yang lain. Tindakan tersebut didasari
oleh prinsip atau nilai yang tertanam dalam keyakinan diri siswa.
Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif
selama perkembangan. Dalam hal ini, remaja akan terus belajar untuk bersikap

49

mandiri dalam menghadapi berbagai tuntutan peran di lingkungan belajarnya


sehingga akhirnya mampu berpikir dan bertindak sendiri. Bernadib (Mutadin, 2002)
mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian
belajar remaja yaitu:
Faktor dalam diri siswa, diantaranya: 1) memiliki hasrat bersaing untuk maju
demi kebaikannya sendiri; 2) mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk
mengatasi masalah yang dihadapi; 3) memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan
tugas-tugasnya; dan 4) bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya.
Faktor dari luar diri siswa, diantaranya: 1) lingkungan keluarga yang meliputi
pola pengasuhan, serta hubungan harmonis dalam keluarga; 2) lingkungan sekolah
meliputi kebijakan sekolah dalam sistem pembelajaran yang mendukung keberhasilan
siswa mencapai prestasi belajar, ketersediaan sarana dan prasarana sebagai media dan
sumber belajar, serta hubungan harmonis antar anggota sekolah; dan 3) lingkungan
teman sebaya yang biasanya ditandai dengan adanya sikap konformitas terhadap
teman sebaya.

C. Peran Bimbingan dan Konseling dalam meningkatkan Efikasi Diri dan


Mengembangkan Kemandirian Belajar Siswa
Pendidikan di sekolah dilaksanakan sebagai upaya untuk memberikan
perubahan-perubahan positif terhadap tingkah laku dan sikap diri siwa yang sedang
berkembang menuju kedewasaannya dimana proses ini dipengaruhi oleh berbagai
faktor seperti pembawaan, kematangan, dan lingkungan. Sekolah sebagai salah satu

50

faktor lingkungan yang mempengaruhinya ikut memberikan pengaruh dalam


membimbing siswa agar pribadinya berkembang secara optimal sesuai dengan
potensi yang dimilikinya. Namun dalam proses perkembangannya itu siswa tidak
dapat lepas dari berbagai tuntutan lingkungan, salah satunya adalah tugas-tugas
belajar yang harus dicapainya.
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu bantuan yang diberikan
kepada individu sebagai upaya untuk membantu individu dalam mengatasi
permasalahan yang timbul di dalam hidupnya agar pertumbuhan serta perkembangan
fisik dan psikis individu dapat berjalan secara maksimal dan optimal. Bimbingan itu
sendiri seperti yang dikemukakan oleh Abin Syamsudin (1996: 188) adalah proses
pemberian bantuan yang diberikan kepada agar yang bersangkutan dapat mencapai
taraf perkembangan dan kebahagiaan secara optimal, dengan melalui proses
pengenalan, pemahaman, penerimaan, pengarahan, perwujudan, serta penyesuaian
diri, baik dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya. .
Adapun selain dari istilah bimbingan yang telah dipaparkan sebelumnya, ada
satu istilah lagi yang sangat erat kaitannya dengan bimbingan yakni konseling.
Keduanya baik bimbingan maupun konseling merupakan satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan karena konseling merupakan bagian integral dari bimbingan bahkan
menjadi inti dari keseluruhan layanan bimbingan. Winkel (1997: 64) menyatakan
bahwa konseling adalah suatu proses yang berorientasikan belajar, yang dilaksanakan
dalam suatu lingkungan sosial antara seorang konselor yang memiliki kemampuan
professional dalam keterampilan psikologis berusaha membantu seorang konseli

51

dengan metode yang tepat untuk kebutuhan konseli tersebut dalam hubungannya
dengan keseluruhan program ketenagakerjaan supaya dapat mempelajari lebih baik
tentang dirinya sendiri, belajar bagaimana memanfaatkan pemahaman tentang dirinya
untuk realistis sehingga konseli dapat menjadi individu yang lebih produktif.
Setiap individu, mulai dari kanak-kanak, remaja sampai dewasa termasuk
siswa sekolah menengah atas tidak akan terlepas dari suatu masalah, baik itu masalah
yang berhubungan dengan pribadi, sosial, pendidikan, karier dan nilai. Dalam
hubungannya belajar, siswa yang memiliki efikasi diri yang rendah akan
menampilkan aktivitas belajar yang tidak maksimal. Diantaranya, tidak memiliki
keyakinan dalam menjawab soal-soal sehingga lebih memilih untuk mencontek,
mudah putus asa saat menemui tugas yang sulit serta selalu bergantung pada
kemampuan orang lain karena tidak yakin akan kemampuan yang dimilikinya sendiri.
Perilaku-perilaku tersebut akan menjadi penghambat proses perkembangan siswa,
sementara itu proses perkembangan yang paling sering menjadi isu adalah
perkembangan kemandirian. Jika perilaku siswa tersebut tidak tertangani maka akan
mempengaruhi siswa dalam mengembangkan dirinya menjadi individu yang mandiri.
Pada akhirnya, hambatan tersebut nantinya akan berpengaruh pada keberhasilan
siswa di sekolah.
Secara khusus, layanan bimbingan dan konseling di sekolah bertujuan untuk
membantu siswa agar mereka dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan yang
meliputi aspek pribadi sosial, belajar dan karir. Berdasarkan uraian di atas, maka

52

remaja memerlukan bimbingan yang lebih fokus pada pribadi dan hubungannya
dengan belajar. Oleh karena itu disinilah bimbingan dan konseling berperan.
Bimbingan belajar di sekolah ditujukan supaya siswa dapat mencapai prestasi
belajar dan menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Melalui layanan
bimbingan dan konseling, diharapkan siswa dapat memahami potensi yang
dimilikinya, mampu meyakini akan kemampuan dirinya, mampu mengambil
keputusan dan inisiatif, serta mampu melakukan serangkaian aktivitas yang sesuai
dengan tujuan pribadinya sendiri tanpa pengaruh dari orang lain. Dengan demikian,
siswa mampu menampilkan perannya baik di lingkungan sosial maupun di
lingkungan belajarnya.
Bantuan yang diberikan oleh pihak bimbingan dan konseling jika
dihubungkan dengan efikasi diri dan kemandirian belajar siswa, menitikberatkan pada
penjelasan dan pemahaman tentang bagaimana menanamkan keyakinan diri siswa
agar siswa mampu melihat potensi yang dimilikinya dapat mendukung proses
belajarnya di sekolah yang pada akhirnya, siswa mampu melakukan aktivitas belajar
sendiri atas keyakinan sendiri sehingga mengembangkan kemandirian siswa dalam
belajar.
Permasalahan yang telah diuraikan di atas, dapat difasilitasi oleh konselor
sesuai dengan fungsi bimbingan dan konseling itu sendiri. Bimbingan dan konseling
tidak hanya berfungsi sebagai pemahaman dan pencegahan maka fungsi lainnya pun
harus dilakukan. Fungsi dari bimbingan dan konseling itu sendiri harus bersifat

53

melengkapi satu sama lain agar tujuan dari bimbingan akan tercapai dengan baik.
Adapun fungsi bimbingan konseling secara keseluruhan adalah:
1) Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bertujuan
memberikan pemahaman pada siswa tentang diri dan lingkungannya sesuai
dengan kebutuhan perkembangan siswa.
2) Fungsi pencegahan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bertujuan
membantu siswa terhindar dari berbagai permasalahan yang dapat mengganggu,
menghambat maupun menimbulkan kesulitan bagi proses penyesuaian diri siswa.
3) Fungsi perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bertujuan
mengatasi berbagai permasalahan yang dialami siswa.
4) Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling
yang bertujuan memelihara dan mengembangkan berbagai potensi dan kondisi
positif siswa dalam rangka pengembangan diri secara mantap dan berkelanjutan.
Masalah keyakinan diri siswa akan kemampuannya merupakan hambatan
besar bagi siswa untuk mengembangkan diri. Keterikatan dengan sebaya dapat
menjadi media untuk mengembangkan efikasi diri siswa. Salah satu upaya bimbingan
dan konseling dalam meningkatkan efikasi diri ialah dengan konseling teman sebaya.
Penelitian Fathiyah dan Farida Harahap (2008) menunjukkan efektivitas
konseling sebaya untuk meningkatkan efikasi diri remaja terhadap perilaku berisiko.
Secara kuantitatif hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya kecenderungan
peningkatan efikasi diri siswa yang diberi konseling sebaya. Secara kualitatif hasil
penelitian menunjukkan peningkatan efikasi diri subjek penelitian ditinjau dari

54

kognitif, motivasi, afektif, dan kecenderungan perilakunya. Dengan demikian, adanya


teman sebaya sebagai media konseling diharapkan siswa dapat meningkatkan efikasi
dirinya, sehingga berdampak pada perilaku-perilaku yang dapat mendukung
perkembangan kemandirian belajarnya di sekolah.
Burtiham (1999: 14) menyatakan bahwa kemandirian belajar merupakan salah
satu bentuk perilaku yang dapat dikembangkan konselor sebagai fasilitator bagi siswa
untuk mengembangkan diri. Adapun disini peran konselor untuk menjalankan
fungsinya yaitu melalui kegiatan bimbingan dan konseling.
Berkaitan dengan upaya bimbingan dan konseling, Lowry (Euis, 2007)
mengemukakan

upaya-upaya

yang

dapat

dilakukan

untuk

memfasilitasi

perkembangan kemandirian belajar pada siswa, yaitu:


1.

Membantu

siswa

mengidentifikasi

langkah

awal

untuk belajar dan mengembangkan bentuk ujian dan laporan yang relevan.
2.

Mendorong siswa untuk memandang pengetahuan dan kebenaran secara


kontekstual, memandang nilai kerangka kerja sebagai konstruk sosial, dan
memahami bahwa mereka dapat bekerja secara perorangan atau dalam
kelompok.

3.

Menciptakan suasana kemitraan dengan siswa melalui negosiasi tujuan,


strategi, dan kriteria evaluasi.

4.

Jadilah seorang manajer belajar daripada sebagai penyampai informasi.

5.

Membantu siswa menyusun kebutuhannya untuk merumuskan tujuan


belajarnya.

55

6.

Mendorong siswa menyusun tujuan yang dapat dicapai melalui berbagai cara
dan menawarkan beberapa contoh performan yang berhasil.

7.

Menyiapkan contoh-contoh pekerjaan yang sudah berhasil.

8.

Meyakinkan siswa agar menyadari tujuan, strategi, sumber, dan kriteria


evaluasi belajar yang telah ditetapkan.

9.

Melatih

siswa

berinkuiri,

mengambil

keputusan, mengembangkan dan

mengevaluasi diri.
10.

Bertindak sebagai pembimbing dalam mencari sumber-sumber belajar.

11.

Membantu menyesuaikan sumber belajar dengan kebutuhan siswa.

12.

Membantu siswa mengembangkan sikap dan perasaan positif.

13.

Memahami tipe personality dan jenis belajar siswa.

14.

Menggunakan teknik pengalaman lapangan dan pemecahan masalah sebagai


dasar pengalaman belajarorang dewasa.

15.

Mengembangkan pedoman belajar yang

berkualitas

tinggi

termasuk

kiat belajar terprogram.


Oleh karena itu, diharapkan melalui layanan bimbingan dan konseling dapat
meningkatkan efikasi diri siswa sehingga siswa dapat mengembangkan sikap-sikap
yang mendukung perkembangan kemandirian belajarnya. Hal tersebut dapat
mendorong siswa dalam menghadapi tantangan dan hambatan dalam kehidupan
sekarang dan di masa yang akan datang.

56

Sebagaimana uraian di atas, jelaslah kiranya bahwa melalui pemberian


layanan bimbingan dan konseling, individu diharapkan dapat memecahkan
masalahnya sendiri, memahami dan menyesuaiakan diri dengan lingkunagnnya
sebagai upaya tetap dapat hidup serasi dan harmonis bersama lingkungan dimanapun
individu itu berada.

D. Kerangka Berpikir Mengenai Hubungan Antara Efikasi Diri dengan


Kemandirian Belajar
Keyakinan akan kemampuan yang dimiliki (efikasi diri) memegang peran
penting dalam menggerakkan aktivitas remaja dalam perkembangan kemandiriannya,
efikasi diri yang kuat akan menjadi dasar bagi remaja untuk melepaskan diri dari
ketergantungan terhadap orang lain terutama terhadap orangtua. Remaja mulai
memiliki keyakinan bahwa dirinya dapat mencapai keberhasilan dengan segenap
kemampuan yang dimilikinya. Keyakinan yang kuat akan mendorong remaja untuk
lebih mandiri dengan mengandalkan kemampuannya sendiri. Demikian pula
sebaliknya, kemandirian yang terbentuk pada remaja akan memicu dirinya untuk
melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan kemampuan diri yang
berujung pada meningkatnya efikasi diri.
Efikasi diri merupakan perantara bagi proses perkembangan dari masa kanakkanak menuju kedewasaan. Remaja akan mengarahkan dirinya berdasarkan
kemampuan-kemampuan yang ia yakini mampu untuk ditampilkan dalam rangka

57

mencapai tujuan-tujuan hidup yang telah ia rencanakan (Zimmerman dan Cleary,


2006: 45).
Berhubungan dengan aktivitas belajar, siswa dengan efikasi diri yang baik
akan melakukan perencanaan yang matang serta memiliki ketekunan untuk
menyelesaikan tugas-tugas belajarnya. Siswa yang memiliki keyakinan bahwa dirinya
dapat menyelesaikan tugas dengan kemampuannya sendiri cenderung lebih matang
dalam merencanakan waktu-waktu belajarnya, memiliki inisiatif untuk mencari
sumber-sumber belajar tanpa instruksi orang lain, serta lebih percaya diri ketika ujian.
Sehingga pengalaman dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut akan mendorong
remaja untuk mengerahkan kemampuan dirinya dalam rangka mencapai tujuan dalam
hidupnya. Adapun menurut (Mustaqim, 2009: 41), dengan efikasi diri seseorang
akan terdorong untuk menjalani pilihan-pilihan hidup yang telah ia tentukan sendiri,
menjadi seorang individu yang mandiri.
Siswa yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan terdorong untuk tidak
tergantung pada orang lain, seperti mengerjakan tugas rumah ketika diingatkan oleh
orangtua, mencari sumber belajar ketika diperintah oleh guru, dan sebagainya.
Sehingga pada akhirnya cenderung menjadi individu yang mandiri dalam belajar,
yaitu remaja yang selalu penuh inisiatif untuk menyelesaikan tugas-tugas belajar atas
dorongan kesadaran dan kemampuan sendiri tanpa ketergantungan dengan orang lain.
Apabila seseorang memiliki efikasi diri yang tinggi, maka cenderung akan
memiliki perencanaan yang matang, memiliki ketekunan, berinisiatif dalam mencari
sumber-sumber belajar, percaya diri dan tidak mudah merasa tertekan, mampu

58

menetapkan target prestasinya, dapat berpikir positif serta keinginan untuk tidak
tergantung dengan orang lain.
Dengan perilaku-perilaku yang ditampilkan oleh individu yang memiliki
efikasi diri yang tinggi tersebut, maka segenap keyakinan tersebut menjadi dasar bagi
siswa untuk tidak selalu mengandalkan orang lain yang pada akhirnya mendorong
siswa untuk lebih mandiri dalam belajarnya dan tidak menggantungkan diri pada
orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Sebaliknya, apabila seseorang
mempunyai efikasi diri yang rendah maka kecenderungan senantiasa selalu
memandang diri tidak mampu akan berpengaruh pada tingkah laku yang ditampilkan
dengan tidak baik, begitu pula dalam mengembangkan kemandiriannya dalam belajar.
Untuk menguji hubungan antara kemandirian belajar dengan efikasi diri, maka
dalam penelitian ini peneliti merumuskan efikasi diri sebagai variabel independen
atau variabel bebas (X) sedangkan kemandirian belajar sebagai variabel dependen
atau variabel terikat (Y).
Variabel X yaitu efikasi diri merupakan variabel bebas, yang di dalamnya
terdapat aspek-aspek magnitude, generality, dan strength. Variabel Y yaitu
kemandirian belajar merupakan variabel, yang didalamnya terdapat aspek-aspek
kemandirian emosional, kemandirian perilaku dan kemandirian nilai.
Maka berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui bagaimana
hubungan antara kemandirian belajar dengan efikasi diri yang selanjutnya alur
kerangka berpikir tersebut dituangkan dalam grafik berikut ini :

59

Variabel X
(efikasi diri)

Variabel Y
(Kemandirian Belajar)

Skema 2.1
Kerangka Berpikir

E. Kajian Temuan Terdahulu


Adapun kajian temuan terdahulu yang menyajikan data dan berhubungan
dengan penelitian yang berjudul Hubungan Antara Kemandirian Belajar dengan
Efikasi diri Siswa adalah sebagai berikut :
1. Berg, Silbereisen, dan Vondracek (1997) menunjukkan ada hubungan yang positif
antara separasi (kemandirian emosional) dengan Self-Efficacy (efikasi diri )
vokasional. Keyakinan atas kemampuannya untuk mengeksplorasi lingkungan di luar
keluarga dan membuat pilihan-pilihan yang sesuai dirinya akan memberi dasar untuk
merasa nyaman saat memisahkan diri secara emosional dengan orangtuanya.
2. Penelitian Maryati (2008) diperoleh rerata empiric tentang aspek Efikasi diri pada
subjek penelitian yang tergolong tinggi ditunjukkan oleh rerata empirik (RE) =
88,260 dan rerata hipotetik (RH) = 186. Rerata empiric (RE) kreativitas = 104,000.
Kondisi ini dapat diartikan aspek-aspek yang ada pada variabel keyakinan diri yaitu:
a) aspek keyakinan terhadap kemampuan mengahadapi situasi yang tidak menentu
yang mengandung unsur kekaburan, tidak dapat diprediksikan, dan penuh tekanan, b)
keyakinan terhadap kemampuan menggerakkan motivasi, kemampuan kognitif dan
melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai suatu hasil, c) keyakinan

60

mencapai target yang telah ditetapkan. Pada dasarnya sudah menjadi bagian dari
karakter subjek dalam berperilaku.
3. Penelitian Hadi Warsito (2004) yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan
kausal yang positif dan signifikan antara self-efficacy (efikasi diri ) dengan
penyesuaian akademik mahasiswa. Artinya bahwa seseorang yang memiliki efikasi
diri yang tinggi akan memiliki penyesuaian akademik yang tinggi juga, sedangkan
seseorang yang memiliki efikasi diri rendah akan memiliki penyesuaian akademik
rendah.
4. Hasil penelitian Indriani (2006) diketahui bahwa skor maksimal (ideal) untuk mata
pelajaran Akuntansi siswa kelas XI-IPS adalah 6,5. Dari nilai hasil ulangan diketahui
ada sebanyak 35 siswa (39,33%) yang mendapat nilai diatas skor ideal, sedangkan 54
siswa (60,67%) masih mendapatkan nilai dibawah 6,5 atau dibawah skor ideal. Dari
54 siswa yang mendapat nilai dibawah skor ideal tersebut dimungkinkan siswa
tersebut memiliki kemandirian belajar yang relatif rendah. Hal ini disebabkan
kebanyakan siswa menganggap bahwa setiap mata pelajaran relatif sulit, sehingga
setiap tugas yang diberikan oleh guru tidak dikerjakan sendiri terlebih dahulu, tetapi
kebanyakan dari mereka hanya mencontek pekerjaan dari temannya.
5. Data lain yang tentang kemandirian belajar remaja adalah hasil penelitian Nurrani
(2009) yang menunjukkan bahwa secara umum siswa SMK memiliki tingkat
kemandirian belajar yang tersebar pada setiap kategori pencapaian yaitu tinggi sekali
1.39 %, tinggi 38,2 %, sedang 41 %, rendah 17,4 % dan rendah sekali 2.08 %; dari
data penelitian diketahui bahwa siswa SMK belum mencapai kemandirian belajar

61

yang optimal yakni 60.5 % sedangkan siswa yang telah mencapai kemandirian belajar
secara optimal sebesar 39.6 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat kemandirian
belajar siswa secara umum belum mencapai taraf optimal.
Hasil temuan di atas merupakan salah satu bukti bahwa betapa pentingnya
mengembangkan kemandirian belajar di sekolah dengan meningkatkan Efikasi diri
siswa. Sehingga dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar siswa dapat
mencapai prestasi dan memenuhi standar keberhasilan belajar yang telah ditetapkan
dalam Undang-Undang Pendidikan.