Anda di halaman 1dari 2

Bakteri streptococcus grup A merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan faringitis akut.

Faringitis streptokokal akut adalah penyakit pada anak, dengan insiden paling sering terjadi pada usia 5
sa,pai 6 tahun, namun bisa juga terjadi pada anak usia dibawah 3 tahun dan di dewasa di atas 50 tahun.
penyebaran penyakit ini dapat terjadi dalam bentuk epidemi di sebuah fasilitas umum atau pusat
komunitas.
Manifestasi tonsilitis akut berupa tenggorokan kering, malaise, demam, tenggorokan terasa penuh, nyeri
telan, kesulitan menelan, nyeri telinga, nyeri kepals, nyeri punggung, adenopati servikal, maupun
menggigil. Hasil pemeriksaan menunjukkan lidah kering, tonsil membesar dan kemerahan, dan bintik
bintik putih kekuningan pada tonsil. Pada kasus yang berat, dapat timbul membran pada tonsil atau faring,
atau juga adanya eksudat purulen disertai pembesatan limfonodi jugulodigastrik.
Diagnosis tonsilitis akut utamanya ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis. Manifestasi klinis faringitis
streptokokal dan nonstreptokokal sering timbul bersamaan, sehingga sulit didiagnoss secara pasti. Karena
alasan inilah kebanyakan lembaga kesehatan pemerintah merekomendasikan bahwa diagnosis farigitis
beta hemolitik streptokokal grup A (GABHS) harus dipastikan dengan tes mikrobiologi pada pasien
pasien yg memiliki kecenderungan menderita penyakit ini, baik secara klinis maupun epidemis.
Kultur trnggorok merupakan metode diagnosis yg paling sering digunakan. Kultur tenggorok ini
merupakan tes yg mudah dan berguna, namun harus dilakukan dengan teknik yg benar, yaitu swab pada
dinding faring postrrior dan tonsil. Keterlambatan dalam mendapatkan hasil kultur merupakan hambatan
utama dalam penggunaan metode ini. Keterlambatan selama 18-48 jam sangatlah tidak wajar dan dapat
berdampak pada keterlambatan penatalaksanaan.
Jika faringitis streptokokal grup A diobati secara dini secara klinis, masa penularannya dapat berkurang.
Karbohidrat dari streptokokus grup A dapat terdeteksi menggunakan rapid detection test dalam hitungan
menit, meskipun sangat spesifik, namun masih kurang selektif dibandingkan dengan kultur tenggorok.
Hasil uji cepat yg negatif dapat mengisyaratkan kepada dokter untuk menunda pemberian antibiotik selagi
menunggu hasil kultur keluar. Mayoritas guideline menyarankan bahwa kultur tenggorok harus dilakukan
jika suhutubuh diatas 38,3 C atau gejala yg timbul didominasi oleh radang tenggorokan.
Metode paling akurat dan efektif secara biaya untuk mendiagnosa infeksi GABHS akut adalah
menggunakan rapid strep test. Pemeriksaan ini kemudian diikuti dengan kultur tenggorok pada pasien
dengan hasil strep test negatif dan kecurigaan besar tonsilitis streptokokal
Kultur tenggorok memiliki kekurangan tersendiri, yaitu tidak dapat membedakan infeksi akut dan kronis.
Terkadang terdapat hasil false-negatif (10% dari seluruh kasus), meskipun ada 1 laporan menemukan
bahwa pasien dengan hasil false negative kemungkinan besar carrier yg tidak memerlukan terapi lebih
lanjut. Studi melaporkan bahwa satu kultur tenggorok 90%-97% sensitif dan 90% spesifik untuk
pertumbuhan GABHS. Bukti adanya infeksi ditunjukkan oleh hasil kultur tenggorok yg positif dan
setidaknya dua peningkatan dilusi pada antistreptolysin-O titer. Carrier GABHS tanpa infeksi akut
memiliki hasil kultur yang positif namun tanpa adanya perubahan pada titer dilusi. Membedakan
diagnosis dari faringitis streptokokal grup A sangatlah penting karena kebanyakan pasien dengan
faringitis akut tidak mengalami radang tenggorokan.
Di kebanyakan kasus, golongan penisilin merupakan antibiotik pilihan. Bakteri anaerob berkontribusi
secara signifikan terhadap komplikasi yang berhubungandengan tonsilitis, jadi bakteri jenis tsb juga
mungkin berperan dalam tonsilitis rekuren. Sebuah studi sudah menunjukkan prevalensi Bacteroides yg
dihasilkan dari kultur tonsil yg mengalami inflamasi kronis.. Bakteri anaerob juga berhubungsn dengan
tonsilitis akut. Kegagalan terapi penisilin dapat mengarah pada organisme yg memproduksi beta
laktamase. Sehingga ssbagai alternatif penggunaan penisilin adalah penggunaan penisilin ditambah beta

laktamass inhibitor seperti asam klavulanat (ct: amoxicillin/as. Klavulanat). Alternatif lain meliputi
clindamycin dan kombinasi dari eritromisin dan metronidazole.
Terapi antibiotik dimulai pada 24 hingga 48 jam sejak timbulnya gejala yg menunjukkan hasil penurunan
gejala yg brhubungan dengan radang tenggorokan, demam, dan adenopati 12 sampai 24 jam lebih cepat
dari terapi tanpa anribiotik. Scwarz dan kolega melaporkan bahwa penggunaan antibiotik selama 10 hari
penuh itu diperlukan. Studi melaporkan bahwa anak yg mendapatkan terapi selama 10 hari memiliki rata
rata rekurensi klinis dan bakteriologis lebih rendah daripada anak yg hanya mendapatkan terapi selsma 7
hari.