Anda di halaman 1dari 24

STATUS PENDERITA

I. IDENTITAS PENDERITA
Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Agama
Tanggal masuk RS
No.CM

: An. F
: 7 tahun
: Laki-laki
: Bumiayu 5/3
: Islam
: 27 Januari 2015
: 283438

II. ANAMNESIS
1. Keluhan utama

: Sesak nafas
2. Keluhan tambahan

: Badan lemas,

nyeri pada perut


3. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang ke IGD RS PKU Muhammadiyah Gombong pada
tanggal 27 Januari 2015 pukul 12.00 rujukan Puskesmas Tambak II post
terserempet mobil saat perjalanan pulang dari sekolah. Pasien mengeluh
sesak nafas yang hebat, badan lemas, dan nyeri pada perut. Mual (-),
muntah (-).
4. Riwayat Penyakit Dahulu
a.
b.
c.
d.
e.

Riwayat trauma pada thorax


Riwayat post KLL sebelumnya
Riwayat penyakit Asma/ Alergi
Riwayat TB
Riwayat Mondok dg keluhan serupa

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga


a. Riwayat penyakit Asma
b. Riwayat TB

: disangkal
: disangkal

6. Riwayat Sosial Ekonomi.


a. Diet
Sebelum pasien mengalami kejadian ini, dalam sehari makan 3kali
sehari dan kadang disertai konsumsi makanan ringan.
b. Drug
Pasien tidak rutin minum obat apapun selama ini.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
: Tampak sesak
Kesadaran
: Composmentis (E4 M6 V5)
Vital Sign
: N : 104 x/menit
RR : 36 x/menit
S
: 36,70C
Tinggi Badan
: 75 cm
Berat Badan
: 16 kg
Status Gizi
: Cukup
A. Status Generalis
1. Pemeriksaan kepala
Bentuk kepala : Mesocephal, Simetris, Venektasi Temporal (-)
Rambut
: Warna hitam, tidak mudah dicabut, distribusi
Mata

merata.
: simetris, Konjungtiva Anemis +/+, Sklera Ikterik
-/-, Refleks Pupil +/+ Normal, Isokor, diameter 3/3

Telinga
Hidung
Mulut

mm, Edema Palpebra -/: discharge -/-, deformitas -/: discharge -/-, deformitas -/: bibir sianosis +

2. Pemeriksaan leher
Deviasi trakea (-), tidak teraba pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar
lymponodi.
3. Pemeriksaan Toraks
a. Paru
Inspeksi
: dada asimetris, ketinggalan gerak (+/ normal)
Palpasi
: Ketinggalan gerak dada kanan (+)
Perkusi
: hipersonor pada paru kanan, pekak sampai ICS IX
Auskultasi
: SD vesikuler paru kanan menurun/ kiri normal,
RBH -/-, RBK -/-, Wh -/b. Jantung
Inspeksi
: Ictus Cordis tampak SIC V 2 jari Medial LMCS
Palpasi
: Ictus Cordis tampak SIC V 2 jari Medial LMCS
Perkusi
: Batas Jantung
Kanan atas SIC II LPSD
Kiri atas SIC II LPSS
Kanan bawah SIC IV LMCD
Kiri bawah SIC V 2 jari medial LMCS
Auskultasi : S1>S2, Regular
4. Pemeriksaan Abdomen
Inspkesi
: Cembung

Auskultasi
Perkusi
Palpasi
Hepar
Lien

: BU (+) N
: Timpani
: Nyeri Tekan (+)
: tidak teraba
: tidak teraba

5. Pemeriksaan ekstermitas
Superior
: Edema (-/-),Pucat (+/+), Sianosis +/+
Inferior
: Edema (-/-),Pucat (+/+), Sianosis +/+
6. Status neurologi : Dalam batas normal
IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil laboratorium tanggal 27 Januari 2015 (Pre OP)

Darah Lengkap
Leukosit
Eritrosit
Haemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
Hitung Jenis
Basinofil
Eosinofil
Neutrofil
Limfosit
Monosit
Golongan Darah

19.59
3.32
8.6
26.1
78.6
25.9
33.0
102

10x3/uL
10x3/Ul
g/Dl
%
Fl
pg
g/Dl
10x3/Ul

0.1
1.0
50.3
44.5
3.6
B

%
%
%
%
%

H
L
L
L

Hasil laboratorium tanggal 28 Januari 2015 (Post OP)


Leukosit
Eritrosit
Haemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit

12.56
3.13
8.7
26.6
78.6
27.8
35.7
233

10x3/uL
10x3/Ul
g/Dl
%
Fl
pg
g/Dl
10x3/Ul

H
L
L
L

Hasil Pemeriksaan RO-THORAX dan RO BNO ABDOMEN

HASIL PEMERIKSAAN RO THORAX


Thorax

: Tampak corakan bronchovascular pulmo sinistra normal

Deskripsi

: Gambaran

area lusen (+) di hemithorax dextra


Sudut costo-frenicus dextra et sinistra lancip
Deviasi trachea (-)
CTR < 0.5
Tak tampak discontinuitas tulang
Kesan

Gambaran

pneumothorax

mediastinum
HASIL PEMERIKSAAN RO BNO ABDOMEN
Kesan

: Udara didalam usus merata


Udara didalam gaster normal
Free air ( - )
Air Fluid level ( - )
Cupula sign ( - )
Foot ball sign ( - )
Dilatasi usus (-)
Gambaran pneumoperitoneum (-)

dextra

dan

pneumo-

V. RESUME
1. Anamnesis
a. Sesak nafas
b. Badan lemas
c. Nyeri perut
d. RPD: riwayat trauma sebelumnya, post KLL, asma, TB disangkal
e. RPK: riwayat asma, TB disangkal
2. Pemeriksaan Fisik
a. KU/Kes
: Tampak sesak
b. Vital Sign
: N: 104 x/mnt, S: 36,7 , RR : 36 x/mnt.
c. Status gizi
: Cukup
d. Mata
: simetris, Konjungtiva Anemis +/+
e. Mulut
: bibir sianosis +
f. Pemeriksaan Toraks : Paru
Inspeksi
: dada asimetris, ketinggalan gerak (+/ normal)
Palpasi
: Ketinggalan gerak dada kanan (+)
Perkusi
: hipersonor pada paru kanan, pekak sampai ICS IX
Auskultasi
: SD vesikuler paru kanan menurun/ kiri normal,
RBH -/-, RBK -/-, Wh -/g. Abdomen
: Nyeri tekan (+)
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium Darah lengkap PRE-OP : peningkatan Leukosit,
penurunan Haemoglobin Eritrosit Hematokrit dan Trombosit.
b. Laboratorium Darah Lengkap POS-OP : Leukosit mengalami sedikit
peningkata dan Hemoglobin, Hematokrit dan TRombosit mengalami
penurunan.
c. HASIL PEMERIKSAAN RO THORAX
Gambaran pneumothorax dextra dan pneumo-mediastinum
VI.

DIAGNOSIS
Diagnosis kerja : Pneumothorax dextra
Diagnosis Post OP : Hematopneumothorax dextra

VII.

PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan di IGD
a. IVFD RL 12 tpm (TS)
Konsultasi dr.Yudi Sp.BA

VIII. CATATAN PERKEMBANGAN


Tanggal
27/1/15

Cat perkembangan
Terapi ( P )
S: Post terserempet mobil, Konsul dr Yudi SpBA :

12.30
IGD

sesak +, nyeri perut


O: KU/Kes:sesak/CM
RR 30 x/mnt
Th/
C: S1>S2 reg
P: SD Ves menurun/

Ro thorax dan

Ro abdomen
Cek
Darah

Lengkap
Pro ICU post

normal, ronkhi -, wheezing

OP

Abd: NT +
A: Trauma Thorax susp

27/1/2015
13.30
IBS
ICU

Pneumothorax
Trauma abdomen
S: sesak nafas
O: KU/Kes:sesak/CM
TD 123/70
Th/
A: SDVes menurun/+
A: Pneumothorax dextra

WSD cito
Inj ceftriaxon 2x700mg
Inj Kalnex 2x100mg
Inj Ranitidin 2 x amp
Inj Ketorolac 3 x
amp

28/1/15
RUANG

29/1/2015
RUANG
30/1/2015
RUANG

30/1/2015
23.00
RUANG

31/1/2015
RUANG

S: sesak
O: KU/Kes : sedang/CM
Th/
P: SDVes +/+ ,undulasi +/A: Hematopneumothoraks
S : sedikit sesak
O : baik/ CM
P : SDVes +/+
A : Hematopneumothoraks
S : sedikit sesak
O : Anemia
A :Post pasang WSD e.c

Transfusi PRC 150 cc


Pindah Ruang
Terapi lanjut
Diet bubur
Terapi lanjut
Diet bubur
Transfusi PRC 170 cc
Terapi lanjut

Diet bubur
Hematopneumothorax
S : muntah 1kali warna Inj Ondansentron 2 x
kuning
O : Baik
A:
Post

amp
WSD

Hematopneumothorax
S : tidak ada keluhan
O : I : Simetris
P : Sonor +/+
P : Nyeri Tekan -/-

e.c
BLPL
Cefixime 2 x cth
Ibuprofen 3 x cth I

A : vesikuler +/+ N
A : Hematopneumothorax
IX.

PROGNOSIS
Ad Vitam
Ad Sanationam
Ad Functionam

Elkan cl 1 x cth I
Aff WSD

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

TRAUMA THORAKS
I.

DEFINISI
Trauma thoraks adalah abnormalitas yang disebabkan oleh trauma
pada thoraks yang mengenai tulang pada thoraks, pleura, diafragma
ataupun isi mediastinal baik oleh benda tajam maupun tumpul yang dapat
menyebabkan gangguan system pernafasan. Trauma thoraks adalah
masalah utama yang paling sering terjadi pada bagian emergency.

II.

EPIDEMIOLOGI
Trauma adalah penyebab kematian terbanyak pada dekade 3
kehidupan diseluruh kota besar didunia dan diperkirakan 16.000 kasus
kematian akibat trauma per tahun yang disebabkan oleh trauma toraks di
Amerika. Sedangkan insiden penderita trauma toraks di Amerika Serikat
diperkirakan 12 penderita per seribu populasi per hari dan kematian yang
disebabkan oleh trauma toraks sebesar 20-25% dan hanya 10-15%
penderita trauma tumpul toraks yang memerlukan tindakan operasi, jadi
sebagian besar hanya memerlukan tindakan sederhana untuk menolong
korban dari ancaman kematian. Canadian Study dalam laporan
penelitiannya selama 5 tahun pada "Urban Trauma Unit" menyatakan
bahwa insiden trauma tumpul toraks sebanyak 96.3% dari seluruh trauma
toraks, sedangkan sisanya sebanyak 3,7% adalah trauma tajam.

III.

KLASIFIKASI
Trauma Tembus
Terjadi diskontinuitas dinding toraks (laserasi) langsung akibat penyebab
trauma. Terutama akibat tusukan benda tajam (pisau, kaca, dsb) atau
peluru. Sekitar 10-30% memerlukan operasi torakotomi.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pneumothoraks terbuka
Hemothoraks
Trauma tracheobronkial
Contusio Paru
Ruptur diafragma
Trauma Mediastinal

Trauma Tumpul
Tidak terjadi diskontinuitas dinding toraks. Terutama akibat kecelakaan
lalu-lintas, terjatuh, olahraga, crush atau blast injuries. Kelainan tersering
akibat trauma tumpul toraks adalah kontusio paru. Sekitar <10% yang
memerlukan operasi torakotomi
1. Tension pneumothoraks
2. Trauma tracheobronkhial
3. Flail Chest
4. Ruptur diafragma
5. Trauma mediastinal
6. Fraktur kosta
IV.

KELAINAN YANG TIMBUL PADA TRAUMA TORAKS DAN


PENATALAKSANAANNYA
PNEUMOTHORAX
Adalah kelainan pada rongga pleura ditandai dengan adanya udara
yang terperangkap dalam rongga pleura sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan negatif intrapleura dan mengganggu proses
pengembangan paru. Trauma tumpul sering terjadi akibat adanya penetrasi
fraktur iga pada parenkim paru dan laserasi paru. Pneumothoraks bisa juga
terjadi akibat decelerasi atau barotrauma pada paru tanpa disertai adanya
fraktur iga. Pasien mengeluhkan adanya nyeri atau dispnea dan nyeri pada
daerah fraktur. Pada pemeriksaan fisik didapatkan melemahnya suara
pernapasan.
Berdasarkan mekanisme terjadinya pneumothoraks dibagi dua, yaitu:
1. PNEUMOTHORAKS SPONTAN
Pneumotoraks yang terjadi tanpa riwayat penyakit paru
sebelumnya ataupun trauma, kecelakaan dan dapat terjadi pada
individu yang sehat. Postur tubuh yang tinggi, astenik dan kebiasaan
merokok maupun bekas perokok, penderita TB paru merupakan faktor
predisposisi Pneumothoraks spontan. Pada perokok atau bekas perokok
mudah terjadi pengumpulan sekret atau mukus sehingga terjadi
obstruksi atau atelektasis.

Faktor keturunan juga ikut mempengaruhi timbulnya Pneumothoraks


spontan. Paru kanan lebih sering (55%) daripada paru kiri, sedang
pneumotoraks bilateral ditemukan hanya 2%.
Pathogenesis
Terjadinya Pneumothoraks spontan dimulai dari masuknya udara
ke dalam interstisial paru karena terjadi ruptur dinding alveoli. Bila
udara tersebut menyusup antara septa lobuler kearah sentral akan
terjadi pneumomediastinum, sedang bila udara mengumpul ke perifer
akan terbentuk bleb. Pecahnya bleb akan terbentuk pneumotoraks.
Bleb sering terdapat pada paru bagian atas (apeks) karena tekanan
transpulmoner di apeks lebih besar dibandingkan paru bagian bawah.
Hematotoraks yang menyertai biasanya terjadi karena putus / robeknya
pembuluh darah yang melekat antara pleura viseral dengan pleura
parietal.
Manifestasi klinis
Pneumothoraks spontan biasanya tanpa didahului keluhan dan bisa
timbul pada keadaan istirahat. Keluhan bertambah berat saat
melakukan aktivitas. Keluhan yang sering dijumpai adalah dispneu
(sesak) dan nyeri dada pada sisi yang sakit.
Diagnosis
Anamnesis ditemukan keluhan sesak napas dan/atau nyeri dada pada
sisi yang sakit. Penderita tidak mempunyai penyakit paru sebelumnya.
Keluhan timbul mendadak ketika tidak sedang aktivitas.
Pemeriksaan fisik didapatkan penderita sesak sekali atau biasa saja
tergantung luasnya pneumotoraks. Sisi yang sakit lebih menonjol dan
tertinggal pada pernapasan.
Pada perkusi didapatkan suara hipersonor dan pergeseran mediastinum
ke sisi yang sehat.
Auskultasi didapatkan suara napas melemah atau jauh dan kadang
didapatkan suara amforik.
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah foto toraks. Umumnya
didapatkan garis penguncupan paru (pleural line) yang sangat halus.
Bila disertai darah atau cairan lainnya akan tampak garis mendatar
yang merupakan batas antara udara dan cairan (air-fluid level),
keadaan ini disebut hidropneumotoraks.
2. PNEUMOTHORAKS TRAUMATIK
Berdasarkan jenis trauma Pneumothoraks terbagi tiga yaitu: simple,
open, dan tension pneumothorax.
1. Simple Pneumothoraks

Pneumotoraks yang tidak disertai peningkatan tekanan intra toraks


yang progresif.
Ciri:
Paru pada sisi yang terkena akan kolaps (parsial atau total)
Tidak ada mediastinal shift
PF: bunyi napas , hyperresonance (perkusi), pengembangan
dada
Penatalaksanaan: WSD
2. Open Pneumothoraks
Terjadi karena luka terbuka yang cukup besar pada dada sehingga
udara dapat keluar dan masuk rongga intra toraks dengan mudah.
Tekanan intra toraks akan sama dengan tekanan udara luar. Dikenal
juga sebagai sucking-wound. Terjadi kolaps total paru.
Penatalaksanaan:
1.
Luka tidak boleh ditutup rapat (dapat menciptakan
mekanisme ventil)
2.
Pasang WSD dahulu baru tutup luka
3.
Singkirkan adanya perlukaan/laserasi pada paru-paru atau
organ intra toraks lain.
Umumnya disertai dengan perdarahan (hematotoraks)
3. Tension Pneumothoraks
Pneumotoraks yang disertai peningkatan tekanan intra toraks yang
semakin lama semakin bertambah (progresif). Pada tension
pneumotoraks ditemukan mekanisme ventil (udara dapat masuk
dengan mudah, tetapi tidak dapat keluar).
Ciri:

Terjadi peningkatan intra toraks yang progresif, sehingga


terjadi : kolaps paru total, mediastinal shift (pendorongan
mediastinum ke kontralateral), deviasi trakhea venous return
hipotensi & respiratory distress yang berat.

Tanda dan gejala klinis: sesak yang bertambah berat dengan


cepat, takipneu, hipotensi, JVP , asimetris statis & dinamis

Merupakan keadaan life-threatening tdk perlu Ro


Penatalaksanaan:
1.
Dekompresi segera: large-bore needle insertion (sela iga II,
linea mid-klavikula)
2. WSD
Tension pneumotoraks

Tanda : dispnoe, hilangnya bunyi napas, sianosis, asimetri


toraks, mediastinal shift

Ro toraks (hanya bila pasien stabil) : pneumotoraks,


mediastinal shift

FLAIL CHEST
Flail chest adalah area thoraks yang melayang (flail) oleh sebab
adanya fraktur iga multipel berturutan 3 iga , dan memiliki garis
fraktur 2 (segmented) pada tiap iganya dapat tanpa atau dengan
fraktur sternum. Akibatnya adalah: terbentuk area flail segmen yang
mengambang akan bergerak paradoksal (kebalikan) dari gerakan
mekanik pernapasan dinding dada.
Area tersebut akan bergerak masuk saat inspirasi dan bergerak keluar
pada ekspirasi, sehingga udara inspirasi banyak memasuki paru
kontralateral dan banyak udara ini akan masuk pada paru ipsilateral
selama fase ekspirasi, keadaan ini disebut dengan respirasi pendelluft.
Fraktur pada daerah iga manapun dapat menimbulkan flail chest.
Dinding dada mengambang (flail chest) ini sering disertai dengan
hemothoraks, pneumothoraks, hemoperikardium maupun hematoma
paru yang akan memperberat keadaan penderita. Komplikasi yang
dapat ditimbul yaitu insufisiensi respirasi dan pneumonia.
Karakteristik
-

Gerakan "paradoksal" dari (segmen) dinding dada saat


inspirasi/ekspirasi
Menunjukkan trauma hebat
Biasanya selalu disertai trauma pada organ lain (kepala, abdomen,
ekstremitas)

Komplikasi utama adalah gagal napas, sebagai akibat adanya


ineffective air movement, yang seringkali diperberat oleh
edema/kontusio paru, dan nyeri. Pada pasien dengan flail chest tidak
dibenarkan melakukan tindakan fiksasi pada daerah flail secara
eksterna, seperti melakukan splint/bandage yang melingkari dada, oleh
karena akan mengurangi gerakan mekanik pernapasan secara
keseluruhan.
Penatalaksanaan
-

Sebaiknya pasien dirawat intensif bila ada indikasi atau tandatanda kegagalan pernapasan atau karena ancaman gagal napas yang
biasanya dibuktikan melalui pemeriksaan secara berkala dan
takipneu
Stabilisasi area flail
Fisioterapi agresif
Tindakan bronkoskopi untuk bronchial toilet

Indikasi Operasi (stabilisasi) pada flail chest:


1.
Bersamaan dengan Torakotomi karena sebab lain (cth:
hematotoraks masif, dsb)
2.

Gagal/sulit weaning ventilator

3.

Menghindari prolong ICU stay (indikasi relatif)

4.

Menghindari prolong hospital stay (indikasi relatif)

5.

Menghindari cacat permanen

Tindakan operasi adalah dengan fiksasi fraktur iga sehingga tidak


didapatkan lagi area "flail"
Flail chest berat dengan kontusio paru

Tanda: dispnoe, syok, asimetris toraks, sianosis

Ro toraks: fraktur iga multipel, kontusio paru, pneumotoraks,


effusi pleura
HEMOTORAKS
Penyebab utama dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi
dari pembuluh darah interkostal atau arteri mamaria internal yang
disebabkan oleh trauma tajam atau trauma tumpul. Dislokasi fraktur
dari vertebra torakal juga dapat menyebabkan terjadinya hematoraks.
Biasanya perdarahan berhenti spontan dan tidak memerlukan
intervensi operasi.
Hemotoraks akut yang cukup banyak yang terlihat pada foto
toraks, sebaiknya diterapi dengan WSD, sehingga wsd akan
mengeluarkan darah dari rongga pleura, mengurangi resiko
terbentuknya bekuan darah di dalam rongga pleura, dan dapat dipakai
dalam memonitor kehilangan darah selanjutnya. Evakuasi darah atau
cairan juga memungkinkan dilakukannya penilaian terhadap
kemungkinan terjadinya ruptur diafragma traumatik.

HEMATOTHORAKS
Terakumulasinya darah pada rongga toraks akibat trauma tumpul
atau tembus pada dada.

Sumber perdarahan umumnya berasal dari A. interkostalis atau A.


mamaria interna. Perlu diingat bahwa rongga hemitoraks dapat
menampung 3 liter cairan, sehingga pasien hematotoraks dapat syok
berat (kegagalan sirkulasi) tanpa terlihat adanya perdarahan yang
nyata, oleh karena perdarahan masif yang terjadi terkumpul di dalam
rongga toraks.
Gejala klinis yang ditemukan sesuai dengan besarnya
perdarahan atau jumlah darah yang terakumulasi. Perhatikan adanya
tanda dan gejala instabilitas hemodinamik dan depresi pernapasan
Pemeriksaan

Ro toraks (yang boleh dilakukan bila keadaan pasien stabil)

Terlihat bayangan difus radio-opak pada seluruh lapangan paru

Bayangan air-fluid level hanya pada hematopneumotoraks

Indikasi Operasi
Adanya perdarahan masif (setelah pemasangan WSD):

Ditemukan jumlah darah inisial > 750 cc, pada pemasangan


WSD < 4 jam setelah kejadian trauma.
Perdarahan 3-5 cc/kgBB/jam dalam 3 jam berturut-turut
Perdarahan 5-8 cc/kgBB/jam dalam 2 jam berturut-turut
Perdarahan > 8cc/kgBB/jam dalam 1 jam

Bila berat badan dianggap sebagai 60 kg, maka indikasi operasi, bila
produksi WSD:

200 cc/jam dalam 3 jam berturut-turut


300 cc/jam dalam 2 jam berturut-turut
500 cc dalam 1 jam

Penatalaksanaan
Tujuan:

Evakuasi darah dan pengembangan paru secepatnya.


Penanganan hemodinamik segera untuk menghindari kegagalan
sirkulasi.

Tindakan Bedah : WSD (pada 90% kasus) atau operasi torakotomi


cito (eksplorasi) untuk menghentikan perdarahan.

TAMPONADE JANTUNG
Tamponade jantung disebabkan oleh luka tembus. Walaupun
demikian, trauma tumpul juga dapat menyebabkan perikardium terisi
darah baik dari jantung, pembuluh darah besar maupun dari pembuluh
darah perikard. Perikard manusia terdiri dari struktur jaringan ikat
yang kaku dan walaupun relatif sedikit darah yang terkumpul, namun
sudah dapat menghambat aktivitas jantung dan mengganggu pengisian
jantung.
Diagnosis tamponade jantung tidak mudah. Diagnosis klasik
adalah adanya Trias Beck yang terdiri dari peningkatan tekanan vena,
penurunan tekanan arteri, dan suara jantung yang menjauh. Penilaian
suara jantung menjauh sulit dinilai jika ruang UGD dalam keadaan
berisik, distensi vena leher tidak ditemukan jika keadaan penderita
hipovolemi dan hipotensi sering disebabkan oleh hipovolemia. Pulsus
paradoksus yaitu keadaaan fisiologis dimana terjadi penurunan tekanan
darah sistolik selama inspirasi spontan. Bila penurunan tersebut lebih
dari 10 mmHg, maka ini merupakan tanda lain dari tamponade
jantung. Tanda Kusssmaul (peningkatan vena pada saat inspirasi biasa)
adalah kelainan paradoksal tekanan vena yang sesungguhnya dan
menunjukkan adanya tamponade jantung. Pemeriksaan USG dengan
Echocardiography merupakan metode invasif yang dapat membantu
penilaian perikardium, tetapi banyak penelitian yang melaporkan
angka negatif yang tinggi yaitu sekitar 50%.
Evakuasi cepat darah dari perikard merupakan indikasi bila
penderita dengan syok hemoragik tidak memberikan respon pada
resusitasi cairan dan mungkin ada tamponade jantung. Tindakan ini
menyelamatkan nyawa dan tidak boleh diperlambat untuk mengadakan
pemeriksaan diagnostik tambahan. Metode sederhana untuk
mengeluarkan cairan dari perikard adalah dengan perikardiosintesis.
Kecurigaan yang tinggi adanya tamponade jantung pada penderita
yang tidak memberikan respon terhadap usaha resusitasi, merupakan
indikasi untuk melakukan tindakan perikardiosintesis melalui metode
subskifoid. Tindakan alternatif lain, adalah dengan melakukan operasi
jendela perikard atau torakotomi dengan perikardiotomi oleh seorang
ahli bedah. Prosedur ini akan lebih baik dilakukan di ruang operasi jika
kondisi penderita memungkinkan.
Walaupun kecurigaan besar akan adanya tamponade jantung
pemberian cairan infus awal masih dapat meningkatkan tekanan vena
dan cardic output untuk sementara, sambil melakukan persiapan untuk

tindakan perikardiosintesis melalui subksifoid. Pada tindakan ini


menggunakan plastic-sheated-needle atau insersi teknik Seldinger
merupakan cara yang paling baik, tetapi dalam keadaan yang lebih
gawat, prioritas utama adalah aspirasi darah dari kantung perikard.
Monitoring EKG dapat menunjukkan tertusuknya miokard
(peningkatan voltase gelombang T, ketika jarum perikardiosintesis
menyentuh epikardium) atau terjadinya disritmia.

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan foto toraks
Pemeriksaan ini mempunyai nilai diagnostik pada pasien dengan
trauma toraks. Pemeriksaan klinis harus selalu dihubungkan dengan
hasil pemeriksaan foto toraks. Lebih dari 90% kelainan serius trauma
toraks dapat terdeteksi hanya dari pemeriksaan foto toraks.
CT Scan
Sangat membantu dalam membuat diagnose pada trauma tumpul
toraks, seperti fraktur kosta, sternum dan sterno clavikular dislokasi.
Adanya retro sternal hematoma serta cedera pada vertebra torakalis
dapat diketahui dari pemeriksaan ini. Adanya pelebaran mediastinum
pada pemeriksaan toraks foto dapat dipertegas dengan pemeriksaan ini
sebelum dilakukan Aortografi
Ekhokardiografi
Transtorasik dan transesofagus sangat membantu dalam
menegakkan diagnose adanya kelainan pada jantung dan esophagus.
Hemoperikardium, cedera pada esophagus dan aspirasi, adanya cedera
pada dinding jantung ataupun sekat serta katub jantung dapat diketahui
segera. Pemeriksaan ini bila dilakukan oleh seseorang yang ahli,
kepekaannya meliputi 90% dan spesifitasnya hampir 96%.
Elektrokardiografi
Sangat membantu dalam menentukan adanya komplikasi yang
terjadi akibat trauma tumpul toraks, seperti kontusio jantung pada
trauma . Adanya abnormalitas gelombang EKG yang persisten,
gangguan konduksi, tachiaritmia semuanya dapat menunjukkan
kemungkinan adanya kontusi jantung. Hati hati, keadaan tertentu
seperti hipoksia, gangguan elektrolit, hipotensi gangguan EKG
menyerupai keadaan seperti kontusi jantung.
Angiografi
Gold Standard untuk pemeriksaan aorta torakalis dengan dugaan
adanya cedera aorta pada trauma tumpul toraks.

VI.

KOMPLIKASI TRAUMA THORAKS


a. Surgical Emfisema Subcutis
Kerusakan pada paru dan pleura oleh ujung patahan iga yang tajam
memungkinkan keluarnya udara ke dalam cavitas pleura dari jaringan
dinding dada, paru. Tanda-tanda khas: penmbengkakan kaki, krepitasi.
b. Cedera Vaskuler
Di antaranya adalah cedera pada perikardium dapat membuat
kantong tertutup sehingga menyulitkan jantung untuk mengembang dan
menampung darah vena yang kembali. Pembulu vena leher akan
mengembung dan denyut nadi cepat serta lemah yang akhirnya membawa
kematian akibat penekanan pada jantung.
c. Pneumothorak
Adanya udara dalam kavum pleura. Begitu udara masuk ke dalam
tapi keluar lagi sehingga volume pneumothorak meningkat dan mendorong
mediastinim menekan paru sisi lain
d. Pleura Effusion
Adanya udara, cairan, darah dalam kavum pleura, sama dengan
efusi pleura yaitu sesak nafas pada waktu bergerak atau istirahat tetapi
nyeri dada lebih mencolok. Bila kejadian mendadak maka pasien akan
syok.
Akibat adanya cairan udara dan darah yang berlebihan dalam rongga
pleura maka terjadi tanda tanda :
1) Dypsnea sewaktu bergerak/ kalau efusinya luas pada waktu istirahatpun
bisa terjadi dypsnea.
2) Sedikit nyeri pada dada ketika bernafas.
3) Gerakan pada sisi yang sakit sedikit berkurang.
4) Dapat terjadi pyrexia (peningkatan suhu badan di atas normal).
e. Flail Chest
Pada trauma yang hebat dapat terjadi multiple fraktur iga dan
bagian tersebut. Pada saat insprirasi bagian tersebut masuk sedangkan saat
ekspirasi keluar, ini menunjukan adanya paroxicqalmution (gerakan
pernafasan yang berlawanan)

f. Hemopneumothorak
Hemopneumothotak yaitu penimbunan udara dan darah pada
kavum pleura.
g. Hipoksemia
Akibat gangguan jalan napas, cedera pada parenkim paru, dinding
thoraks dan otot pernapasan, kolaps paru, dan pneumotoraks.
h. Hipovolemia
Akibat kehilangan cairan massif dari pembuluh besar, ruptur
jantung, atau hemotoraks.
i. Gagal jantung akibat tamponade jantung, kontusio jantung, atau tekanan
intratoraks yang meningkat.

VII.

PENATALAKSANAAN TRAUMA THORAKS


Prinsip
1. Penatalaksanaan mengikuti prinsip penatalaksanaan pasien trauma
secara umum (primary survey - secondary survey)
2. Tidak
dibenarkan
melakukan
langkah-langkah:
anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, penegakan diagnosis dan
terapi secara konsekutif (berturutan)
3. Standar pemeriksaan diagnostik (yang hanya bisa dilakukan bila pasien
stabil), adalah : portable x-ray, portable blood examination, portable
bronchoscope. Tidak dibenarkan melakukan pemeriksaan dengan
memindahkan pasien dari ruang emergency.
4. Penanganan pasien tidak untuk menegakkan diagnosis akan tetapi
terutama untuk menemukan masalah yang mengancam nyawa dan
melakukan tindakan penyelamatan nyawa.
5. Pengambilan anamnesis (riwayat) dan pemeriksaan fisik dilakukan
bersamaan atau setelah melakukan prosedur penanganan trauma.
PRIMARY SURVEY
Airway
Assessment :
Perhatikan patensi airway
Dengar suara napas
Perhatikan adanya retraksi otot pernapasan dan gerakan dinding dada

Management :
Inspeksi orofaring secara cepat dan menyeluruh, lakukan chin-lift dan
jaw thrust, hilangkan benda yang menghalangi jalan napas
Re-posisi kepala, pasang collar-neck
Lakukan cricothyroidotomy atau traheostomi atau intubasi (oral /
nasal)

Breathing
Assesment

Periksa frekwensi napas


Perhatikan gerakan respirasi
Palpasi toraks
Auskultasi dan dengarkan bunyi napas

Management:

Lakukan bantuan ventilasi bila perlu


Lakukan tindakan bedah emergency untuk atasi tension
pneumotoraks, open pneumotoraks, hemotoraks, flail chest

Circulation
Assesment

Periksa frekwensi denyut jantung dan denyut nadi

Periksa tekanan darah

Pemeriksaan pulse oxymetri

Periksa vena leher dan warna kulit (adanya sianosis)

Management

Resusitasi cairan dengan memasang 2 iv lines

Torakotomi emergency bila diperlukan

Operasi Eksplorasi vaskular emergency

PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
a. Pemberian analgetik

b. Pemasangan plak/plester
c. Jika perlu antibiotika
Antibiotika yang digunakan disesuaikan dengan tes
kepekaan dan kultur. Apabila belum jelas kuman penyebabnya,
sedangkan keadaan penyakit gawat, maka penderita dapat diberi
broad spectrum antibiotic, misalnya Ampisillin dengan dosis 250
mg 4 x sehari.
d. Fisiotherapy
2. Operatif/invasif
a. Pamasangan Water Seal Drainage (WSD).
WATER SEALED DRAINAGE
Fungsi WSD sebagai alat:
1. Diagnostik
2. Terapeutik
3. Follow-up
Tujuan:
Evakuasi darah/udara
Pengembangan paru maksimal
Monitoring
Indikasi pemasangan:
Pneumotoraks
Hematotoraks
Empiema
Effusi pleura lainnya
Pasca operasi toraks
Monitoring perdarahan, kebocoran paru atau bronkhus, dsb.
Tindakan :
Lokasi di antara garis aksilaris anterior dan posterior pada sela iga
V atau VI.
Pemasangan dengan teknik digital tanpa penggunaan trokard.
Indikasi pencabutan WSD :
i. Tercapai kondisi: produksi < 50 cc/hari selama 3 hari
berturut-turut, dan undulasi negatif atau minimal, dan
pengembangan paru maksimal.
ii. Fungsi WSD tidak efektif lagi (misal: adanya sumbatan,
clot pada selang, dsb.)
b. Pemasangan alat bantu nafas.
c. Pemasangan drain.
d. Aspirasi (thoracosintesis).
e. Operasi (bedah thoraxis)
f. Tindakan untuk menstabilkan dada:Miring pasien pada daerah
yang terkena, Gunakan bantal pasien pada dada yang terkena,
Gunakan ventilasi mekanis dengan tekanan ekspirai akhir positif,
didasarkan pada kriteria sebagai berikut:
i. Gejala contusio paru

ii. Syok atau cedera kepala berat.


iii. Fraktur delapan atau lebih tulang iga.
iv. Umur diatas 65 tahun.
v. Riwayat penyakit paru-paru kronis.
g. Pasang selang dada dihubungkan dengan WSD, bila tension
Pneumothorak mengancam.
h. Oksigen tambahan.

PEMBAHASAN
I. DIAGNOSIS
Diagnosis kerja pasien ketika masuk IGD adalah trauma
thoraks suspek pneumothoraks. Hal ini didapatkan dari
riwayat pasien terserempet mobil beberapa saat sebelumnya.

Kemudian pasien di bawa ke Puskesmas dan dirujuk ke IGD.


Sesampainya di IGD pasien tampak sangat sesak dan lemas.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak
anemis, bibir sianosis, thoraks tampak asimetris, dinding
dada kanan tampak cembung dan ketinggalan gerak. Pada
perkusi didapatkan paru kanan hipersonor dan pekak, dan
pada auskultasi suara dasar vesikuler paru kanan menurun
dibandingkan

suara

dasar

vesikuler

kiri.

Kemudian

dikonsultasikan ke dokter spesialis Bedah Anak dan dilakukan


pemasangan WSD segera. Tampak darah keluar dari selang
WSD, sehingga pasien didiagnosis Hematopneumothoraks.
II. PENATALAKSANAAN
Tatalaksana yang diberikan di IGD berupa pemberian
cairan intravena RL 12 tpm (TS), mengusulkan untuk
dilakukan Ro thoraks dan Ro abdomen, dan segera di
konsultasikan ke dokter spesialis Bedah Anak. Kemudian
disarankan untuk segera di lakukan pemasangan WSD di
kamar operasi dan perawatan post operasi di ICU. Setelah
kondisi pasien stabil pasien di pindahkan ke ruangan.
Setelah dilakukan pemasangan WSD di kamar operasi
kemudian pasien di pindah ke ICU dan diberikan terapi
berupa inj ceftriaxon 2 x 700 mg, inj kalnex 2 x 100 mg, inj
ranitin 2 x ampul, inj ketorolac 3 x ampul, dan transfuse
PRC 150 cc. Hari selanjutnya kondisi pasien cukup stabil,
mengeluh sedikit sesak dan

di pindah ke ruangan dengan

terapi lanjut dan diet bubur. Pada hari ke 5 perawatan di Rs,


kondisi pasien membaik, tidak sesak nafas, dari selang WSD
tidak mengeluarkan darah seperti hari sbelumnya kemudian
pasien dianjurkan untuk pulang dan di berikan terapi Cefixime
2 x cth , Ibuprofen 3 x cth I, Elkan cl 1 x cth I, aff WSD.
PRESENTASI KASUS

PNEUMOTHORAKS

Disusun oleh :
dr. Lina Handayani
Dokter Internsip RS PKU Muhammadiyah Gombong

Narasumber :
dr. Yudi Suryana, Sp.BA

Pembimbing:
Dr. Mardiati Rahayu

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG
KEBUMEN JAWA TENGAH
2015

DAFTAR PUSTAKA

American College of Surgeons Committee on Trauma (ACSCOT).


2008. Rujukan. Dalam: Advanced Trauma Life Support for
Doctors, ATLS Student Course Manual . Eight Edition.
Chicago.
Augustin Besson and Frederic Saegesser,Color Atlas of Chest
Trauma

and

Associated

injuries,volume1,Oradell,New

Jersey,1983
Bruncardi,F.Charles.Schwartzs Principles of surgery.8th

edition

McGraw Hill.Amerika Serikat,2005


Dr.Halim Danusantoso,buku saku ilmu penyakit paru.jakarta,2000
Eyolfson, D. 2010. Thoracic Injuries.Paramedic Association of
Canada.4-18.
Lukitto, P., K.B. Rachmad, dan T.W. Manuaba. 2004. Dinding
Thoraks dan Pleura.Hal. 4040-14. Dalam : W. Karnadihardja,
R. Sjamsuhidajat. Dan W. de Jong (Eds.). Buku Ajar Ilmu
Bedah.EGC, Jakarta.
Martini, Ric. 2000. Fundamentals of Anatomy and Physiology.
Pearson Company.
Wanek, S. and J.C. Mayberry. 2008. Blunt Thoracic Trauma.
Critical Care Clinics. 20: 71-81.

http://www.dokterbedahherryyudha.com/2012/08/traumathoraks-dan-kegawatdaruratan_2.html (diakses tanggal 19


sep 2013).

BERITA ACARA PRESENTASI KASUS

Pada hari Jumat , 6 Maret 2015 telah dipresentasikan kasus portofolio oleh :
Nama

: dr. Lina Handayani

Judul/topik

: Pneumothoraks

Nama Pendamping

: dr. Mardiati Rahayu

Nama wahana

: RS PKU Muhammadiyah Gombong

Daftar peserta yang hadir :


No.
1.
2.
3.
4.
5.

Nama peserta presentasi


dr. Lina Handayani
dr. Herlin Ajeng N
dr. Natalia Dyah M
dr. Naila Shulya E
dr. Nian Puspita K

Keterangan
Presentan
Dokter internship
Dokter internship
Dokter internship
Dokter internship

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan sesungguhnya.


Dokter Pendamping

Presentan

dr. Mardiati Rahayu

dr. Lina Handayani

Tanda tangan