Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

MENENTUKAN UKURAN LENSA INTRAOKULER PADA ANAK-ANAK

Pembimbing
Dr. H. Moch. Djumhana, Sp.M

Penyusun :
Muchammad Nanang Qosim
Sonya Selly Hermawati
Saskia Ramadhani

2009.04.0.0083
2009.04.0.0097
2009.04.0.0146

ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH
RSAL DR RAMELAN SURABAYA
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
berkah dan rahmatNya, kami bisa menyelesaikan referat dengan judul
Menentukan Ukuran Lensa Intra Okuler pada Anak-Anak dengan lancar.
Referat ini disusun sebagai salah satu tugas wajib untuk menyelesaikan
kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kesehatan Mata RSAL Dr Ramelan
Surabaya, dengan harapan dapat dijadikan sebagai tambahan ilmu yang
bermanfaat bagi pengetahuan penulis maupun pembaca.
Dalam penulisan dan penyusunan referat ini tidak lepas dari bantuan
dan dukungan berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih
kepada:
a.
b.
c.

Dr. H. Moch. Djumhana, Sp.M, selaku Pembimbing Referat.


Para dokter Spesialis Mata RSAL dr Ramelan Surabaya.
Para perawat dan pegawai di Departemen Kesehatan Mata RSAL dr.
Ramelan Surabaya.
Kami menyadari bahwa referat yang kami susun ini masih jauh dari

kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun dari semua pihak
sangat diharapkan. Semoga referat ini dapat memberi manfaat.

Surabaya, November 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Anak merupakan aset bangsa. Sebagai generasi muda, anak

berperan strategis sebagai successor suatu bangsa. Dalam konteks


Indonesia, anak adalah penerus cita-cita perjuangan suatu bangsa. Selain itu,
anak merupakan harapan orang tua, harapan bangsa dan negara yang akan
melanjutkan tongkat estafet pembangunan serta memiliki peran strategis,
mempunyai ciri atau sifat khusus yang akan menjamin kelangsungan
eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. Oleh karena itu, sebagai
generasi pengerus bangsa, tentunya dibutuhkan kondisi kesehatan yang baik,
salah satunya yakni mata. Mata merupakan jendela dunia dan sangat perlu
dijaga jangan sampai jatuh kedalam kebutaan.
Terminologi kebutaan didefinisikan berbeda-beda di setiap negara. Di
bidang

ophtalmologi,

kebutaan

adalah

orang

yang

oleh

karena

penglihatannya menyebabkan ia tidak mampu melakukan aktivitas seharihari. Pada tahun 1972 WHO mendefinisikan kebutaan adalah tajam
penglihatan <3/60. Kemudian pada tahun 1979, WHO menambahkannya
dengan ketidaksanggupan menghitung jari pada jarak 3 meter. Menurut
Organisasi Kesehatan Sedunia ( WHO ), 1,5 juta anak di dunia mengalami
kebutaan dan 1 juta di antaranya terdapat di Asia dan sekitar 10%-40%
kebutaan itu disebabkan katarak kongenital. Katarak kongenital adalah
kekeruhan pada lensa yang timbul sejak lahir dan merupakan salah satu
penyebab kebutaan pada anak yang sering dijumpai. Hasil penelitian Haider
dkk tahun 2008, 60% yang dijumpai dengan leukokoria adalah katarak
kongenital (18% unilateral dan 42% bilateral). Tingginya angka prevalensi ini,
mencetuskan berbagai penelitian dan pengobatan untuk mengatasinya. Salah
satunya yakni teknik implantasi intraokuler. Akan tetapi, penanganan ini
agaknya menimbulkan masalah yang cukup rumit. Yakni karena rongga bola
mata pada anak akan terus berkembang hingga anak berusia sekitar 17
tahun. Oleh sebab itu, penentian IOL yang dibutuhkan untuk jangka panjang
harus diperhatikan agar mata tidak jatuh dalam keadaan ambliopia.
Kekurangan koreksi bisa dibantu dengan kacamata yang tidak mengabaikan
keadaan binokuler tunggal dengan batasan lensa kanan dan kiri sebesar

3Dioptri. Pada tugas baca kali ini, penulis ingin memaparkan penghitungan
rumus agar didapatkan penentuan kekuatan lensa yang akurat sehingga
dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang terjadi pada anak-anak
dengan penggunaan implantasi intraokular.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lensa
2.1.1 Anatomi
Lensa merupakan salah satu media refraksi mata berbentuk cakram
biconvex, transparan dan berkapsul yang terletak di antara iris dan corpus
vitreous. Di bagian posterior, lensa berhubungan dengan fossa hyaloid dari
corpus vitreous dan di bagian anterior, berhubungan dengan tepi bebas
dariiris. Dibagian perifer lensa difiksasi oleh processus ciliaris melalui
ligamentum suspensorium lentis (zonula zinii) (Gray, 2005).

Gambar 2.1 Topografi lensa mata


Lensa memiliki bentuk yang khas, di mana bagian posteriornya memilki
bentuk seperti parabola dan bagian anteriornya tidak begitu melengkung.
Lensa memiliki kutub anterior dan posterior, garis yang menghubungkan
kedua kutub ini disebut axis lensa. Lensa pada bayidan orang dewasa
avaskular, tidak berwarna dan transparan, pada usia tua permukaan anterior
menjadi sedikit lebih melengkung sehingga mendorong iris sedikit ke depan.
Pada katarak, lensa secara bertahap menjadi buram dan menyebabkan
kebutaan (Gray, 2005). Lensa memiliki bagian korteks yang letaknya lebih
luar sedangkan bagian tengahnya disebut nukleus. Korteks yang terletak
dibagian anterior lensa disebut sebagai korteks anterior, sedangkan di bagian

posterior lensa disebut korteks posterior. Nukleus lensa mempunyal


konsistensi lebih keras di banding korteks lensa yang lebih muda (Ilyas,
2004). Secara sistematis struktur lensa dibagi menjadi:
a) Kapsul lensa
Merupakan membrane hyaline tipis, transparan yang mengelilingi lensa
dengan

permukaan

anterior

lebih

tebal

dari

permukaan

posterior(Khurana, 2007).
b) Epitel anterior
Merupakan satu lapis sel kuboid yang terletak di kapsul anterior, selsel ini akan aktif mengisi rongga tengah vesikel lensa selama masa
perkembangan lensa.
c) Serat lensa
Tersusun dari sel sel epitel yang memanjang dan memiliki bentuk
struktural yang rumit. Serat lensa dewasa adalah serat yang
telahkehilangan intinya. Serat dalam masa perkembangannya akan
membentuk bagian yang padat yang disebut nucleus dan juga
membentuk korteks lensa. Nukleus memilki serat lensa yang paling
tua, sedangkan bagian korteks yang terletak di bagian tepi memilki
serat yang lebih muda.

Gambar 2.2 Anatomi lensa (Randall, 2003)


2.1.2 Histologi
Secara mikroskopis kapsul lensa merupakan membran basal paling
luar setelah epitel yang kaya akan kolagen tipe IV dan glikoprotein yang
melapisi seluruh lensa. Setelah kapsul, terdapat epitel subscapular. Epitel
subscapular terdiri dari epitel selapis kubis yang hanya terdapat pada bagian
anterior lensa. Pertumbuhan dan bertambahnya ukuran lensa membentuk

lens fibers yang baru akan meningkat selama hidup yang berasal dari sel-sel
yang berlokasi di ekuator lensa (Mescher, 2011).

Gambar 2.3 Bagian anterior dari lensa


2.1.3 Fisiologi
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina.
Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh, otot-otot siliaris
berelaksasi,

menegangkan

serat

zonula

dan

memperkecil

diameter

anteroposterior lensa sampai ukurannya yang terkecil; dalam posisi ini, daya
refraksi lensa diperkecil,sehingga berkas cahaya paralel akan terfokus ke
retina (Vaughan, 2007). Aspek fisiologis lensa meliputi: tranparansi lensa,
aktivitas metabolisme dan akomodasi lensa.
a) Tranparasansi lensa dipengaruhioleh:
Avascularitas, sel-sel lensa yang padat, susunan protein lensa, sifat
semi permeable kapsul lensa, mekanisme pompa serat dari membrane
lensa dan autooksidasi serta konsentrasi gluthatione pada lensa untuk
mempertahankan protein lensa tetap rendah dan menjamin integritas
pompa membrane sel.
b) Metabolisme lensa
Lensa

membutuhkan

ATP

untuk

transport

asam

amino,

mempertahankan dehidrasi lensa, dan menjaga kelanjutan sintesis


protein dan GSH. Sebagian besar produksi ATP terjadi di epitel yang
merupakan tempat terjadinya transport aktif.
c) Metabolisme glukosa

Glukosa merupakan bahan penting bagi lensa untuk dapat bekerja


secara normal. Di lensa 80% glukosa dimetabolisme secara anaerob
melalui jalur glikolisis. 15 persen heksosa pentose monofosfat (HMP)
dihasilkan sebagian kecilmelalui siklus Kreb. Jalur sorbitol tidak begitu
penting

untuk

lensa

normal,

namun

berperan

penting

dalam

pembentukan katarak (Khurana, 2007).


2.2 Katarak pada Anak
2.2.1 Katarak Kongenital
Katarak congenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau
segera setelah lahir dan bayi berusia kkurang dari 1 tahun. Katarak congenital
merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat
penanganannya yang kurang tepat. (sdiharta)
Sepertiga katarak congenital disebabkan oleh kelainan herediter,
sepertiga yang lain karena gangguan metabolism atau infeksi atau berkaiatan
dengan bermacam syndrome sedang sepertiga terakhir tidak dapat dipastikan
penyebabnya. Virus rubella yang menyerang kehamilan trimester pertama
dikatakan menghambat mitosis sel-sel beberapa jaringan janin. Pertumbuhan
vesikel lensa pada saati itu terjadi pemanjangan sel-sel epitel posterior yang
mengakibatkan perkembangan lensa menjadi abnormal (Vaughan dan PDT)
Untuk

mengetahui

penyebab

katarak

congenital

diperlukan

pemeriksaan riwayat prenatal infeksi ibu seperti rubella pada kehamilan


trimester pertama dan pemakaian obat selama kehamilan. Kadang- kadang
pada

ibu

hamil

terdapat

hepatosplenomegali.
homosisteinuria,

Selain

diabetes

riwayat
itu

mellitus,

juga

kejang,
bias

tetani,
karena

hipoparathyroidism,

ikterus

atau

galaktosemia,
toksoplasmosis,

inklusi sitomegalik, dan histoplasmosis. Sedangkan penyakit lain yang


meyertai katarak congenital biasanya merupakan penyakit-penyakit herediter
seperti mikroftalmus, aniridia, koloboma iris, keratokonus, iris heterokromia,
lensa ektopik, dysplasia retina, dan megalo kornea. Dan juga diperlukan
pemeriksaan darah pada katarak congenital seperti pada diabetes mellitus,
kalsium dan fosfor. (sidhartra)
Hampir 50% dari katarak congenital adalah sporadic dan tidak
diketahui penyebabnya.

Pada pupil mata bayi yang menderita katarak congenital akan terlihat
bercak putih atau suatu leukokoria. Pada setiap leukokoria diperlukan
pemeriksaan yang lebih teliti untuk menyingkirkan diagnosis banding lainnya.
Pemeriksaan leukokoria dilakukan dengan melebarkan pupil.(sidharta)
Katarak congenital yang menyebabkan gangguan penglihatan yang
bermakna harus dideteksi secara dini, sebaiknya di ruang bayi baru lahir oleh
dokter anak atau dokter keluarga. Katarak unilateral yang apdat, terletak
ditengah dan garis tengahnya lebih besar dari 2mm akan menimbulkan
ambliopia deprivasi permanen bila tidak diterapi 2 bulan pertama kehidupan
sehingga memerlukan tindakan bedah sesegera mungkin untuk menghindari
ambliopia. (vaguhan)
2.2.2 Katarak Didapat
Katarak didapat paling disebabkan oleh trauma, baik tumpul maupun
tembus. Penyebab lainnya adalah uveitis, infeksi mata didapat, diabetes, dan
obat-obatan. Katarak traumatika merupakan kekeruhan lensa yang umumnya
terjadi unilateral segera setelah masuknya benda asing dan rusaknya kapsul
akibat trauma tembus pada mata atau akibat trauma tumpul dan penyebab
lain yang jarang terjadi seperti trauma panas dan radiasi. Macam radiasi
penyebab katarak antara lain seperti inframerah dan ultraviolet (Vaughan,
2007). Trauma pada mata bias karena perforasikontusiotrauma listriktrauma
radiasi (inframerah, ultraviolet) (Lang, 2007).
Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh trauma tumpul pada
bola mata atau cedera benda asing di lensa. Selain itu katarak traumatic
dapat disebabkan karena sinar x, bahan radioaktif, anak panah, kabut,
terekspose panas (katarak glassblower). Lensa berubah menjadi putih
dengan segera setelah masuknya benda asiang, karena lubang pada lensa
menyebabkan aqueous humor dan terkadang vitreous humor masuk kedalam
lensa. (Graham, 2014).
Diagnosis katarak traumatic meliputi:
a.

Anamnesa

Riwayat dan mekanisme trauma, apakah tajam atau tumpul

Riwayat keadaan mata sebelumnya, apa ada riwayat operasi,


glaukoma, ablasio retina, atau penyakit mata lainya

Riwayat mengenai penyakit dahulu (missal diabetes)

Keluhan mengenai penglihatan, seperti visus, pandangan ganda


pada satu mata atau dua mata, nyeri pada mata. (RI Cho,
2009).

b.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan Visus

Pemeriksaan pupil
Dilihat ukuran, bentuk, simetris dan reaksi terhadap cahaya.
Trauma tumpul dapat menyebabkan pupil menjadi irregular atau
midriasis. (RI Cho, 2009).

Pemeriksaan tekanan intraokuler


Pada katarak traumatik dapat ditemukan peningkatan tekanan
intraocular. (RI Cho, 2009).

Pemeriksaan okuli eksterna


Inspeksi pada palpebra dan region periokular ( edema,
asimetris, laserasi, ekimosis, benda asing atau posisi palpebra
abnormal). (RI Cho, 2009).

Pemeriksaan segmen anterior mata


Pemeriksaan segmen anterior mata dilakukan menggunakan slit
lamp untuk dapat mendeteksi jejas pada konjungtiva, sclera,
kornea, iris, lensa. Pada kornea dan konjungtiva dilihat apa
terdapat injeksi, pendarahan, laserasi, kemosis. Inspeksi iris
(warna, defek serta apakah bentuknya irregular). Pada lensa
dapat ditemukan subluksasi, dislokasi, pembengkakan, katarak.
(RI Cho, 2009).

Pemeriksaan segmen posterior mata


Pemeriksaan segmen posterior mata menggunakan funduskopi
untuk melihat vitreous, diskus optikus dan retina. Refleks yang
abnormal mengindikasikan adanya edema, katarak, pendarahan
vitreous, atau ablasio retina. (RI Cho, 2009).

c.

Pemeriksaan penunjang

Foto x-ray, CT scan, Ultrasound, serta MRI dapat digunakan


pada kasus trauma okuli. CT scan orbita untuk mengetahui ada
tidaknya fraktur orbita, benda asing, pendarahan retrobulbar, dll.
Ultrasound dilakukan jika pemeriksaan okuli terhalangi oleh
media opaque (pendarahan intraokular). Ultrasound dapat
mendeteksi ablasio retina, benda asing intraokuli, pendarahan
koroid, pendarahan orbita dan pendarahan vitreous. (RI Cho,
2009).
A. Penatalaksanaan pembedahan
Merencanakan pertimbangan pembedahan sepenuhnya penting pada
kasus-kasus katarak traumatik. Integritas kapsular preoperatif dan stabilitas
zonular

harus

diketahui/

diprediksi.Indikasiuntuk

penatalaksanaan

pembedahan pada kasus-kasus katarak traumatik adalahsebagai berikut:


-

Penurunan visus yang berat (unacceptable).


Hambatan penglihatan karena proses patologis pada bagian posterior.
Inflamasi yang diinduksi lensa atau terjadinya glaukoma.
Ruptur kapsul dengan edema lensa.
Keadaan patologis okular lain yang disebabkan trauma dan
membutuhkan tindakan bedah.
Pemilihan teknik pembedahan tergantung dari kerusakan yang terjadi

akibat trauma. Extracapsular cataract extraction dilakukan jika kapsul lensa


masih intak dan masih disangga oleh zonula dengan baik.Intracapsular
cataract extraction dibutuhkan pada kasus dislokasi anterior lensa dan zonula
sangat tidak stabil. Dislokasi anterior lensa pada bilik mata depan
membutukan tindakan pembedahan segera karena dapat menyebabkan
glaucoma akibat tertutupnya pupil. Pars plana lancectomy dan vitrectomy
dilakukan pada kasus rupture kapsul posterior lensa, dislokasi posterior lensa
dan zonular yang sangat tidak stabil. Automed irrigation/aspiration dilakukan
pada pasien dengan umur kurang dari 35 tahun.(Graham, 2014).
Tergantung pada situasi klinis, manajemen bedah katarak traumatik
dilakukan baik menggunakan pendekatan limbal anterior standar atau pars
plana posterior.

Pendekatan anterior merupakan yang terbaik untuk katarak traumatik


kecuali jika ada dislokasi lensa yang komplit atau ruptur kapsuler dengan
material lensa yang terperangkap di vitreous. Dokter bedah harus melakukan
fakoemulsifikasi

standar

ekstraksi

katarak

dengan

menggunakan

kapsuloreksis yang besar dan dimulai di lokasi terbesar zonula yang stabil.
Pewarnaan kapsul dengan trypan blue pada kasus dengan visualisasi yang
buruk (tidak disetujui FDA)

dan hydrodissection untuk menghindari stres

pada zonula selama ekstraksi lensa juga merupakan langkah yang penting
untuk dilakukan. Teknik phacosupracapsular dengan low-flow dan low
vacuum dapat meminimalkan stress pada kapsul dan zonula. Jika ruptur
zonula dan prolaps vitreous terjadi selama operasi, tindakan pemotongan dan
aspirasi dapat dilakukan untuk mengangkat vitreous. Langkah operasi
berikutnya akan tergantung pada tingkat kerusakan zonula.(Zakrzewski,
2004).
Pada trauma perforasi pada mata dengan terjadi laserasi cornea dan
katarak traumatik, pengambilan lensa dapat dilakukan bersamaan dengan
penanganan atau perbaikan laserasi cornea atau dilakukan beberapa hari
setelah dilakuakan penanganan laserasi kornea.. Laserasi kornea diperbaiki
dengan jahitan nilon 10-0 untuk menghasilkan penutupan yang kedap air. Iris
atau korpus siliaris yang mengalami inkarserasi dan terpajan kurang dari 24
jam dapat dimasukkan ke dalam bola mata dengan viskoelastik atau dengan
memasukkan suatu spatula siklodialisis melalui insisi tusuk di limbus dan
menyapu jaringan keluar dari luka. Apabila hal ini tidak dapat dilakukan,
apabila jaringan telah terpajan lebih dari 24 jam, atau apabila jaringan
tersebut mengalami iskemia dan kerusakan berat, maka jaringan yang
prolaps harus dieksisi setinggi bibir luka.(Rappon, 2010).
Pendekatan posterior dengan vitrectomy dan lensectomy perlu
dijadikan langkah cadangan untukkasusruptur kapsul posteriordengan prolaps
vitreousataudislokasilensa ke posterior.
a. Teknik pembedahan :
ICCE (Intracapsular Cataract Extraction)
Prosedur ini mengeluarkan massa lensa serta kapsul.
Namun

cara

ini

mulai

ditinggalkan

karena

mempunyai

komplikasi yang relatif tinggi oleh karena lebar insisi yang

dibutuhkan cukup lebar.


ECCE (Extracapsular Cataract Extraction)
Pada prosedur ini, massa lensa dikeluarkan dengan
merobek kapsul bagian anterior dan meninggalkan kapsul
bagian posterior. Kapsul bagian posterior memungkinkan
menjadi tempat implantasi lensa buatan.

Gambar2.10 Teknikextracapsular cataract extraction

MSICS (Manual Small Incision Cataract Surgery)


Teknik ini adalah lanjutan dari ECCE, dimana seluruh
lensa dikeluarkan dari mata melalui scleral tunnel. Keuntungan

dari teknik ini adalah tidak dibutuhkannya penjahitan.


Phacoemulsification (Phaco)
Teknik inipaling sering digunakan di negara berkembang.
Dimana membutuhkan alat khusus untuk mengemulsifikasi
lensa. Setelah di emulsifikasi, lensa akan mudah di aspirasi.
Keuntungannya tentu lebar insisi lebih pendek. (Khurana, 2007).

Gambar 2.11Teknikpembedahankatarakphacoemulsification
b. Tipe lensa intraokuler (IOL)
Anterior chamber IOL
Lensatipeinidiletakkan di

depan

iris

dandisangga

di

sudutbilikmatadepan. ContohlensatipeiniadalahKelmanMultiflex.

Iris supported lenses


Lensatipeinidifiksasipada

iris.Contohlensatipeiniadalah

Singh

and Worsts iris claw lens.


Posterior chamber lenses
Lensatipeinidiletakkandibelakang iris dandisanggapada sulcus
siliaris.Lensatipeiniterdiridaribeberapamacamyaitu:
- Rigid : Penempatan lensa tipe ini membutuhkan insisi yang
lebih besar daripada diameter lensa (3mm). Keuntungan
-

adalah tersedia secara banyak dan relatif lebih murah.


Flexible : Lensa tipe ini bisa dilipat dengan forceps atau
injector, sehingga insisi yang dilakukan lebih kecil. Terbuat
dari silikon, atau akrilik, atau hidrogel. (Khurana, 2007).

c. Komplikasi operasi
Ruptur dari kapsul posterior : komplikasi ini bersifat serius
karena dapat terjadi resiko kehilangan vitreous body, yang bisa

menyebabkan perdarahan dan lepasnya retina.


Suprachoroidal Haemorrhage
Endophtalmitis

d. Prognosis pembedahan
Baik, pada 90% pasien yang menjalani pembedahan
menunjukkan peningkatan visus secara signifikan.
B. Komplikasi Intaokular lensa
Uveitis
Masalahutama yang sering terjadi setelah pemasangan IOL adalah
terjadinya inflamasi. Uveitis terjadi dalam 3-7 hari setelah operasi. Hal
ini dapat dikontrol dengan pemberian steroid topical (prednisolon 1%).
Pada Negara berkembang, sebaiknya pasien dibiarkan rawat inap
untuk beberapa hari setelah operasi.(Yorston, 2001)

Astimagtisma
IOL mengkoreksi aphakia tapi tidak dapat mengkoreksi astigmatisma,
sehingga

kacamata

masih

penglihatan.(Yorston, 2001)

perlu

digunakan

untuk

membantu

BAB III
Menentukan IOL pada anak
3.1 Komponen
Untuk menentukan ukuran daya intraoccular lensa diperlukan beberapa
komponen, yaitu:
3.1.1 Axial Length
Penentuan Axial Length dengan menggunakan ultrasound scan. Alat
akan mengirimkan gelombang ultrasound melewati bola mata dan akan
dipantulkan kembali dari retina ke alat pemeriksaan. Hasilnya bisa didapat
dalam hitungan mikrodetik. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, caranya :
1. Selalu menempatkan alat periksa sejajar sumbu horizontal mata
2. Mengidentifikasi kornea, lensa anterior, lensa posterior, dan retina
spikes
3. Manipulasi alat sampai korna dan retinal spikes setinggi mungkin

4. Lanjutkan manipulasi alat hingga retinal spikes. Tinggi dari retinal


spikes = tinggi dari korneal spikes.
3.1.1.2

Kekuatan Kornea

Pengukuran

kekuatan

kornea

menggunakan

keratometer

yang

menggunakan indeks refraksi untuk mengubah kelengkungan kornea dalam


dioptri. Keratometer yang akan digunakan harus dikalibrasi terlebih dahulu.
Selain

untuk

menentukan

kekuatan

lensa

intraokuler,

pemeriksaan

keratometer juga penting dalam menentukan insisi pembedahan pada


implantasi lensa sekunder. (Abrahamson, 1996)
3.1.1.3

Bilik Mata Depan

Saat ini, penghitungan dari kedalaman anterior chamber saat pre


operasi tidak digunakan lagi. (Abrahamson, 1996)
3.1.1.4

Formula

Setelah menghitung kekuatan kornea, axial length, perhintungan daya


lensa intraocular dapat dihitung melaluli rumus SRK (Sanders-Rezlaff-Kraff).
(Abrahamson,1986)
IOL = A 2.5AL 0.9K
A

: konstanta suatu lensa tertentu

AL

: Axial length

: rata-rata dari kekuatan kornea

Selain dari rumus SRK didapatkan rumus lain untuk menghitung daya lensa
intraocular, yaitu meliputi rumus SRK/T, Holladay, dan Hoffer Q. Hoffer Q
diindikasikan pada mata yang pendek (Panjang sumbu kurang dari 22mm),
Holladay untuk mata yang relative panjang (panjang sumbu 24,6mm-26mm),
dab SRK/T untuk mata yang sangat panjang (panjang sumbu lebih dari 26
mm). (Eva, Whitcher 2009 )
3.2 Menenentukan daya lensa Intraokular pada anak
Pada anak-anak jika perhitungan daya intraokular lensa yang
disesuaikan dengan daya saat anak-anak maka akan menimbulkan miopia

yag tinggi saat anak tumbuh menjdi dewasa. Oleh karena itu, perhitungannya
dibuat hypermetrop pada awal dan diharapkan pada anak tumbuh menjadi
dewasa menjadi emmetrop. (Trivedi et al, 2006)
Beberapa isu utama yang perlu diperhatikan adalah menetukan daya
lensa intraokular yang ditanamkan. Pertambahan panjang dari axial length
harus diperhatikan. Dan jika perlu pergeseran rabun diperhatikan, berapa
banyak, pada usia berapa dan apa yang target refraksi harus segera dicari
setelah implantasi .(Jasman et al, 2010)
Sebuah pilihan yang diinginkan adalah pembiasan pasca operasi untuk
pasien individu sangat penting dalam perhitungan kekuatan lensa intraokular.
Hal ini penting bahwa perhitungan kekuatan lensa intraokular harus seakurat
mungkin dalam memberikan refraksi pasca operasi yang dapat diprediksi.
Ketepatan perhitungan secara permanen akan meningkatkan kehidupan
visual pasien, sedangkan kesalahan bias pasca operasi dapat mengakibatkan
masalah seumur hidup.(jasman et al, 2010). The Sanders-Retzlaff-Kraff
(SRK) rumus daya, berorientasi pada masa ginally berasal dan diterbitkan
pada 1980-1981, telah menjadi formula yang paling banyak digunakan untuk
daya implan perhitungan teori di seluruh dunia. Namun, kita harus ingat kami
bahwa formula ini tidak mempertimbangkan perkembangan ukuran axial
legth, salah satu elemen penting dalam menghitung kekuatan lensa
intraokular pada kelompok usia anak.(Jasman et al, 2010).
Semua anak mengalami pertumbuhan sehingga axial legth juga akan
bertambah. Di mata normal anak-anak, panjang aksial meningkat pesat
hingga 2 sampai 3 tahun, lambat dan stabil di antara 8 dan 10 tahun.
Sebaliknya, kelengkungan kornea menurun dengan usia dan stabil pada
sekitar usia 1 tahun.(Jasman et al, 2010). Dalam Penilaian pilihan kekuatan
yang sesuai intraocular- lensa. Pediatric Intra-okular Lens (IOL) Kalkulator
adalah fikasi memodifikasi dari SRK II menggunakan algoritma Holladay.
Program ini mencoba untuk memprediksi pembiasan anak pseudofakia saat
ia tumbuh, menggunakan Holladay Model algoritma. Model ini didasarkan
pada surements refraksi mata-langkah aphakic anak. Pediatric IOL Kalkulator
menggunakan perangkat lunak komputer untuk perhitungan lensa intraokuler.
(Jasman et al, 2010).

Penghitungan rumus kekuatan lensa intraokular :

P = A 2.5 L 0.9 K
Keterangan :
P = Kekuatan lensa intraokular emmetropia dalam Dioptri
(D)
A = Konstanta yang mencerminkan posisi model implan di dalam mata
L = axial length dalam millimeter (mm)
K = Rerata keratometri dalam dioptri (D)
axial length < 20 mm; A1 = A + 3
20.00 mm axial length < 21.00 mm; A1 = A + 2

21.00 mm axial length < 22.00 mm; A1 = A + 1


22.00 mm axial length < 24.50 mm; A1 = A
Axial length 24.5 mm; A1 = A - 0.5
3.3 Biometri pada pediatri
Panjang axial bola mata diukur dengan alat A scan. Alat biometri yang
akurat saat ini adalah IOL Master (Carl Zeiss) dan Immersion biometri.
Biometri dengan indentasi oleh probe pada kornea mempunyai kesalahan
pada pembacaan AL. Setiap 1 mm AL identik dengan 2.50 D.
Biometri pada anak-anak adalah dengan mengurangi 60%-70% power
IOL tergantung umur anak, untuk antisipasipertumbuhan axial length.
Contoh Kasus

Umur 6 bulan. AL 18 mm power IOL 34.5 D.


AL dewasa normal 23 mm IOL 22.0 D
1 mm AL = 2.5 D
5 mm AL = 12.5 D
70% dari 12.50D = 8.75D
12.50 8.75 = 3.75D
IOL power adalah 22.00 D + 3.75D = 25.75
3.4 Kekuatan daya Intraokular Lensa
Pada anak-anak yang sudah lebih dari 5 tahun, biometry sudah dapat
digunakan untuk perhitungan yang mendekati emmetrop. Tetapi bila tidak
terdapat biometri dan informasi dari refraksi mata sebelumnya maka
digunakan standar intraocular lensa dengan ukuran 21-22 dioptri. (Yorston,
2001)
Pada anak-anak usia 2-5 tahun biasanya digunakan pengukurannya 12D dari hypertropinya untuk mendekati emmetrop, jika tidak ada biometri
ukuran standar yang digunakan adalah 23-24D. Pada anak-anak dibawah 2
tahun, belum ada consensus yang membicarakan untuk penentuan IOL.
Kekuatan daya intraocular lensa untuk bayi digunakan 28-30 D, hal ini
memungkinkan adanya myopia di kemudian hari, sehingga direkomendasikan
20% dari ukuran tersebut. Misalnya pada biometry pada anak menunjukan
30D jadi kekuatan lensa yang digunakan adalah 24D.(Yorston, 2001)

Kekurangan dari metode ini adalah terjadinya hypermetropi yang


signifikan sehingga menimbulkan gambaran retina kabur dan perkembangan
abnormal visual.(Yorston, 2001)

BAB IV
KESIMPULAN
Anak-anak adalah aset bangsa di masa depan yang mengalami
tumbuh kembang. Berbagai organ tubuh anak terus berkembang. Termasuk
di dalamnya adalah mata. Ukuran bola mata, rongga mata, dan axial length
pada anak dan dewasa tidaklah sama. Anak-anak memiliki ukuran bola mata,
rongga mata, dan axial length lebih kecil dari dewasa namun kekuatan lensa
pada anak-anak lebih besar dari dewasa. Hal ini menjadi pertimbangan untuk
menentukan kekuatan daya lensa intra okular pada anak. Saat akan
melakukan penanaman IOL pada anak, mata anak tersebut dibuat
Hypermetropi terlebih dahulu yang nantinya saat dewasa diharapkan menjadi
emmetrop. Penentuan IOL pada anak saat ini yang digunakan adalah dengan
mengurangi 60-70% power IOL pada anak sesuai umur dengan pendekatan
setiap 1mm axial length = 2.50D. Apabila ada kelebihan koreksi atau

kekurangan koreksi, diharapkan dapat diperbaiki di masa mendatang dan


harus diukur dengan teliti agar tidak terjadi kesenjangan koreksi sehingga
tidak menjatuhkan anak pada keadaan amblyopia.

DAFTAR PUSTAKA
Goodman, Randall L., 2003, Ophto Notes - The Essential Guide, Thieme,
New York.
Graham,
H.
Robert,
2014,
Traumatic
Cataract,
<http://emedicine.medscape.com/article/1211083-overview>.

Medscape,

Gray, Henry, 2005, Grays Anatomy, 39th ed, Churchill Livingstone,


Philadelphia.
Ilyas, Sidarta, 2004, Kelainan Refraksi dan Koreksi Penglihatan, Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

James C, Bobrow, 2012, 2011-2012 Basic and Xkinical Science Course,


Section 11: Lens and Cataract, American Academy of Opthalmology, Chicago.
Kuhn, F., Lens, 2002, Ocular trauma Principle and Practice, Thieme, New
York.
Khurana, A.K., 2007, Comprehensive Ophthalmology, 4thEd, New Age
International, New Delhi
Lang, Gerhard K., 2000, Ophthalmology a short textbook, George Thieme
Verlag, Stuttgart, Jerman
Mescher, A.N., 2011, Histologi Dasar Junqueira Ed. 12, EGC, Jakarta.
Nurwasis, dkk, 2006, Pedoman Diagnosis dan Terapi BAG/SMF Ilmu Penyakit
Mata, Edisi ke 3, Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo, Surabaya.
Olver, Jane, Cassidy, Lorraine., 2005, Ophthalmology At a Glance, Blackwell
Publishing, Massachusettes, USA.
Rappon, Joseph, M., 2010, Primary Care Ocular Trauma Management,
<www.pacificu.edu/optometry>
Robert H, Graham, Brian C, Mulrooney, 2014,Traumatic
<www.emedicine.medscape.com/article/1211083-author>

Cataract,

Vaughan, D.G., Asbury T, Riordan, Eva P., 2007, General Ophthalmology .


17th edition, The McGraw-Hill Companies.
Wilson, E.M., 2009, Pediatric Ophthalmology Current Thougt and A Practical
Guide, Springer, USA.
Zakrzewski, P.A., Ahmed, I.K., 2004, Surgical Management of the Traumatic
Cataract, Cataract & Refractive Surgery Today.