Anda di halaman 1dari 7

Bunga Telang Pewarna Indigo Alami

Dosen Bidang Studi:


Salamah Agung, Ph.D
Disusun Oleh:
Widya Fitriani
1112016200046

Pewarna alami merupakan zat warna yang berasal dari ekstrak


tumbuhan (seperti bagian daun, bunga, biji), hewan dan mineral yang
telah digunakan sejak dahulu sehingga sudah diakui bahwa aman jika
masuk kedalam tubuh.
Penggunaan pewarna alami semakin berkurang, sejak ditemukan
pewarna sintetik, meskipun pewarna alami tidak hilang sama sekali. Salah
satu ciri khas pewarna sintetik antara lain memiliki warna yang cenderung
lebih cerah, dan warna tidak mudah pudar. Pewarna sintetik lebih disukai
karena lebih ekonomis dan praktis (Winarno 1997).

Kimia Pangan | 1

Di lain sisi pewarna sintetik mempunyai beberapa kelemahan, yaitu


bersifat karsinogenetik dan beracun. Menyadari pentingnya pewarnaan
pada makanan, maka disarankan agar konsumen lebih memilih pewarna
alami dari pada pewarna sintetik. Mengapa? Zat pewarna alami ini lebih
aman digunakan dari pada zat pewarna sintetis (Hidayat 2006).

Zat pewarna makanan telah digunakan sejak lama dalam industri


makanan terutama industry rumah tangga atau jajanan untuk
meningkatkan daya tarik produk makanan. Menurut Cahyadi (2009),
beberapa pewarna alami yang berasal dari tanaman dan hewan di
antaranya adalah klorofil, mioglobin dan hemoglobin, antosianin,
flavonoid, tanin, betalain, quinon dan xanthon, serta karotenoid.

Menurut Hary (2012), keberadaan bahan pengawet dan pewarna


sering menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian konsumen karena dapat
menimbulkan dampak negatif. Pewarna sintetis paling banyak ditemukan
pada jajanan sekolah jenis minuman, seperti sirup, jeli, es lilin, es cendol,
dan es teler. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah semakin
banyaknya penggunaan pewarna sintetis yang tidak aman yaitu dengan
pembuatan pewarna alami.
Salah satu pigmen alami yang berpotensi untuk digunakan sebagai
pewarna alami adalah antosianin yang berasal dari bunga telang (Clitoria
ternatea L.). Bunga telang merupakan sumber pewarna alami indigo (biru)
yang diperoleh dari mahkota bunga. Bunga telang juga memiliki sifat
antioksidan. Warna biru dari bunga telang termasuk dalam golongan
antosianin. Antosianin dan antoxhantin tergolong pigmen flavonoid dan
umumya larut dalam air (Anonim, 2012).

Kimia Pangan | 2

Penggunaan bunga telang di Indonesia sebagai pewarna makanan


belum populer di kalangan masyarakat. Bunga telang lebih dikenal
sebagai tanaman obat. Umumnya bunga telang dimanfaatkan sebagai
obat mata, sedangkan rebusan akarnya dapat digunakan sebagai obat
untuk menghilangkan dahak pada bronkitis kronis, menurunkan demam,
serta iritasi kandungan kemih dan saluran kencing. Clitoria ternatea L.
juga digunakan sebagai tanaman pakan dan tanaman penutup tanah
(Suarna, 2005).
Manusia sejak lama telah mengonsumsi antosianin bersamaan
dengan buah dan sayuran yang mereka makan. Selama ini tidak pernah
terjadi suatu penyakit atau keracunan yang disebabkan oleh pigmen
antosianin. Hal ini dapat menjadikan antosianin sebagai salah satu
sumber pewarna alami untuk makanan yang dapat menggantikan bahan
pewarna sintetis.
Antosianin dapat digunakan sebagai pewarna dalam minuman
penyegar, kembang gula, produk susu, roti dan kue, produk sayuran,
produk ikan, lemak dan minyak, selai, jeli, manisan, produk awetan, dan
sirup buah.
Antosianin memberikan warna pada bunga, buah, dan daun
tumbuhan hijau, dan telah banyak digunakan sebagai pewarna alami pada
berbagai produk pangan dan berbagai aplikasi lainnya. Warna diberikan
oleh antosianin berdasarkan susunan ikatan rangkap terkonjugasinya
yang panjang, sehingga mampu menyerap cahaya pada rentang cahaya
tampak. Sistem ikatan rangkap terkonjugasi ini juga yang mampu
menjadikan antosianin sebagai antioksidan dengan mekanisme
penangkapan radikal. Radikal bebas adalah atom atau senyawa yang
mengandung satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Senyawa
paling berbahaya dalam radikal bebas adalah hidroksil (OH) sebab

Kimia Pangan | 3

memiliki reaktivitas paling tinggi. Molekul tersebut sangat reaktif dalam


mencari pasangan elektronnya. Jika sudah terbentuk dalam tubuh, maka
akan terjadi reaksi berantai dan menghasilkan radikal bebas baru yang
akhirnya membentuk suatu radikal bebas dalam jumlah yang banyak
(Hartono, 2013).
Radikal bebas secara umum timbul akibat berbagai proses
biokimiawi dalam tubuh, berupa hasil samping dari proses oksidasi yang
berlangsung pada saat bernafas, metabolisme sel, olahraga yang
berlebihan, peradangan, atau saat tubuh terpapar polusi lingkungan
seperti asap kendaraan, asap rokok, bahan pencemar dan radiasi
matahari.
Antioksidan merupakan zat penghancur atau penangkal radikal
bebas. Menjadi masalah adalah ketika radikal bebas dari luar masuk
kedalam tubuh. Sel dalam tubuh akan diganggu oleh keberadaan radikal
bebas ini, sehingga terjadi mutasi sel yang radikal dan kelainan fungsinya.
Mutasi sel menyebabkan timbulnya penyakit kanker, gangguan sel saraf,
liver, gangguan pembuluh darah seperti jantung koroner, diabetes, katarak
dan penyebab timbulnya proses penuaan dini juga pemicu penyakit kronis
lainya (Hardoko dkk 2010).
Fungsi antosianin yaitu sebagai antioksidan di dalam tubuh
sehingga dapat mencegah terjadinya aterosklerosis, penyakit
penyumbatan pembuluh darah. Antosianin bekerja menghambat proses
aterogenesis dengan mengoksidasi lemak jahatdalam tubuh, yaitu
lipoprotein densitas rendah. Kemudian antosinin juga melindungi integritas
sel endotel yang melapisi dinding pembuluh darah sehingga tidak terjadi
kerusakan (Ginting 2011).

Kimia Pangan | 4

Kerusakan sel endotel merupakan awal mula pembentukan


aterosklerosis sehingga harus dihindari. Selain itu, antosianin juga
merelaksasi pembuluh darah untuk mencegah aterosklerosis dan penyakit
kardiovaskuler lainnya. Berbagai manfaat positif dari antosianin untuk
kesehatan manusia adalah untuk melindungi lambung dari kerusakan,
menghambat sel tumor, meningkatkan kemampuan penglihatan mata,
serta berfungsi sebagai senyawa anti-inflamasi yang melindungi otak dari
kerusakan. Selain itu, beberapa studi juga menyebutkan bahwa senyawa
tersebut mampu mencegah obesitas dan diabetes, meningkatkan
kemampuan memori otak dan mencegah penyakit neurologis, serta
menangkal radikal bebas dalam tubuh (Harborne 1987).
Untuk mendapatkan ekstrak dari bunga telang dapat dilakukan
dengan beberapa metode sederhana, yaitu:
Metode 1:
1. cuci bersih bunga telang
2. remas-remas atau tumbuk dengan sedikit air matang, lalu saring.

Metode 2:
1. rebus bunga talang hingga bunga layu dan airnya berwarna biru,
2. kemudian saring dan diambil airnya.

Metode 3:
1. rendam bunga telang dengan air panas hingga airnya berwarna
biru
2. remas-remas, saring, dan ambil airnya (Crist, 2014).

Kimia Pangan | 5

Dengan adanya pewarna alami sebagai bahan pewarna altenatif,


diharapkan dapat sedikit menekan penggunaan pewarna kimia atau
pewarna sintetis. Semoga pigmen pewarna alami yang terdapat pada
tumbuhan, buah, bunga, biji dan lain lain dapat diterapkan secara
konvensional. Agar dapat meminimalisir efek negative dari penggunaan
pewarna kimia yang beredar.

Daftar Pustaka
Anonim. 2012. Kembang Telang.
http://bebas.vlsm.org/v12/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku2/0
68.pf.

Kimia Pangan | 6

Cahyadi. W. (2009). Analisis & Aspek Kesehatan Bahan Tambahan


Pangan. Kedua. Jakarta: Bumi Aksara.
Crist, Cristopher. 2014. Ekstrak Bunga Telang.
http://kcnbgr.blogspot.com/2014_05_01_archive.html
Ginting, E. 2011. Potensi Ekstrak Ubi Jalar Ungu sebagai Bahan Pewarna
Alami Sirup. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Tanaman
Aneka Kacang dan Umbi. ISBN: 978-979-1159-56-2
Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern
Menganalisis Tumbuhan. Bandung: ITB
Hardoko, Hendarto, L., &Siregar, T. M. 2010. Pemanfaatan Ubi Jalar Ungu
(Ipomoea batatas L.Poir) sebagai Pengganti Sebagian Tepung
Terigu dan Sumber Antioksidan pada Roti Tawar.Jurnal Teknologi
dan Industri Pangan21 (1): 25 32.
Hartono. 2013. Bunga Telang Pewarna Alami.
http://ejournal.uajy.ac.id/4376/2/1BL01101.pdf
Hary, Y. 2012. Bahan Berbahaya Banyak Terkandung dalam Minuman Es.
http://jogja.tribunnews.com.
Hidayat.2006. Metode Perancangan Percobaan : untuk Ilmu-Ilmu
Pertanian, Ilmu-Ilmu Teknik, Biologi. CV. Armico. Bandung.
Suarna IW. 2005. Kembang telang (Clitoria ternatea) tanaman pakan
dan penutup tanah. Bogor (Indonesia): Puslitbang Peternakan
Winarno, F. G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Pustaka
Utama: Jakarta.

Kimia Pangan | 7