Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH SISTEM PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT DAN

SISTEM RUJUKAN

DI SUSUN OLEH :
DEBY KURNIAWAN
201010420311058

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2015

PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupaan sehari-hari kita sering menemui pelayanan kesehatan
di tempat tertentu, seperti di Pustu, Puskesmas, dan rumah sakit. Pelayanan
kesehatan meliputi peningkatan, pencegahan, pengobatan, dan pemulihan, baik
pelayanan kesehatan konvensional maupun pelayanan kesehatan yang terdiri dari
pengobatan tradisional dan komplementer melalui pendidikan dan pelatihan dengan
selalu mengutamakan keamanan dan efektifitas yang tinggi.
Ruang lingkup pelayanan kesehatan masyarakat

menyangkut

kepentingan masyarakat banyak, maka peranan pemerintah dalam pelayanan


kesehatan masyarakat mempunyai bagian atau porsi yang besar. Namun karena
keterbatasan sumber daya pemerintah, maka potensi masyarakat perlu digali atau
diikutsertakan dalam upaya pelayanan kesehatan masyarakat tersebut.
Pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat yang dilakukan melalui
Puskesmas didasarkan pada misi dididrikannya Puskesmas sebagai pusat
pengembangan kesehatan (Centre for Health Development) di wilayah kerja
tertentu.
B. Rumusan masalah
1. Apakah itu Pelayanan Kesehatan ?
2. Seperti apakah pelayanan kesehahatan masyarakat ?
3. Apa sajakah program pelayanan kesehatan masyarakat ?
4. Bagaimana perkembangan program pelayanan kesehatan masyarakat di
Indonesia
5. Apa upaya untuk pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat
C. Tujuan dan Manfaat
a. Tujuan

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan


informasi tentang pelayanan kesehatan masyarakat dan mengetahui programprogram pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia.
b. Manfaat
Pembuatan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siapa saja yang
ingin menambah wawasan dan pengetahun tentang pelayanan kesehatan
masyarakat dan program pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia serta upaya
untuk pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pelayanan Kesehatan
1. Pengertian Pelayanan Kesehatan
Pengertian pelayanan kesehatan banyak macamnya. Menurut pendapat
Levey dan Loomba (1973), Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang
diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit
serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun
masyarakat.
2. Macam Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical services)


dan pelayanan kesehatan masyarakat (public health services). Jika dijabarkan dari
pendapat Hodgetts dan Cascio (1983) adalah :
1. Pelayanan kedokteran ditandai dengan cara pengorganisasian yang dapat
bersifat sendiri atau secara bersama-sama dalam satu organisasi, tujuan
utamanya ialaha untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan,
serta sasarannya terutama untuk perseorangan dan keluarga.
2. Pelayanan kesehatan masyarakat ditandai dengan cara pengorganisasian yang
umumnya bersama-sama dalam satu organisasi, tujuan utamanya ialah untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit, serta
sasarannya terutama untuk kelompok dan masyarakat.
3. Bentuk Pelayanan KesehatanSecara umum, ada 3 tingkat atau gradasi
penyakit yaitu sakit ringan (mild), sakit sedang (moderate), dan sakit parah
(severe) yang menuntut bentuk pelayanan kesehatan yang berbeda pula. Oleh
sebab itu, perlu dibedakan adanya 3 bentuk pelayanan, yakni :
1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (Primary health care) :
Pelayanan kesehatan ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan
masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi
kesehatan. Pelayanan yang diperlukan pada jenis ini bersifat pelayanan
kesehatan dasar (basic health services) atau juga merupakan pelayanan
kesehatan primer atau utama (primary health care). Bentuk pelayanan ini seperti
Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, dan Balkesmas.
2. Pelayanan kesehatan tingkat kedua (secondary health services) :
Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang
memerlukan perawatan nginap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan
kesehatan primer. Bentuk pelayanan ini misalnya Rumah Sakit tipe C dan D,
dan memerlukan tersedianya tenaga-tenaga spesialis.
3. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tertiary health services):

Pelayanan kesehatan ini diperlukan untuk kelompok masyarakat atau pasiaen


yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Pelayanan
kesehatan ini sudah komplek, dan memerlukan tenaga-tenaga super spesialis.
Contohnya Rumah sakit bertipe A dan B.
B. Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan
mencegah penyakit dengan sasaran utamanya adalah masyarakat. Oleh karena
ruang lingkup pelayanan kesehatan masyarakat menyangkut kepentingan
masyarakat banyak, maka peranan pemerintah dalam pelayanan kesehatan
masyarakat

mempunyai bagian atau porsi yang besar. Namun karena

keterbatasan sumber daya pemerintah, maka potensi masyarakat perlu digali


atau diikutsertakan dalam upaya pelayanan kesehatan masyarakat tersebut.
Mengalang potensi masyarakat mencakup 3 dimensi, yaitu :
1. Potensi masyarakat dalam arti komunitas (misalnya masyarakat RT, RW,
Kelurahan dan sebagainya). Bentuk-bentuk partisipasi dan penggalian potensi
masyarakat dalam pelayanan kesehatan masyarakat seperti adanya dana sehat,
iuran untuk PMT (Pembinaan Makanan Tambahan), untuk anak balita, dan
sebagainya.
2. Menggalang potensi masyarakat melalui organisasi-organisasi masyarakat atau
sering disebut Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Penyelenggaraan
pelayanan-pelayanan kesehatan masyarakat oleh LSM-LSM pada hakikatnya
merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam system pelayanan kesehatan
masyarakat.
3. Menggalang potensi masyarakat melalui perusahaan-perusahaan swasta yang
ikut membantu meringankan beban penyelenggara pelayanan kesehatan
masyarakat (Puskesmas, Balkesmas, dan sebagainya).

Ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam pelayanan


kesehatan masyarakat, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta,
antara lain:
a. Penanggung jawab; pengawasan, standar pelayanan, dan sebagainya dalam
pelayanan kesehatan masyarakat baik pemerintah (Puskesmas) maupun
swasta (Balkesmas) berada di bawah koordinasi penanggung jawab seperti
Departemen Kesehatan.
b. Standar pelayanan; pelayanan kesehatan masyarakat, baik pemerintah
maupun swasta harus berdasarkan pada suatu standar tertentu. Di Indonesia
standar ini telah ditetapkan oleh Departemene Kesehatan, dengan adanya
Buku Pedoman Puskesmas
c. Hubungan kerja; dalam hal ini harus ada pembagian kerja yang jelas antara
bagian satu dengan yang lain. Artinya fasilitas kesehatan harus mempunyai
struktur organisasi yang jelas yang menggambarkan hubungan kerja baik
horizontal maupun vertical.
d. Pengorganisasian potensi

masyarakat;

keikutsertaan

masyarakat

atu

pengorganisasian masyarakat ini penting, karena adanya keterbatasan sumbersumber daya penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat.
C. Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Untuk memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh kepada
seluruh masyarakat, maka berikut ini akan dipaparkan beberapa program pelayanan
kesehatana masyarakat.
1. Puskesmas
Usaha kesehatan masyarakat terutama dilakukan melalui peningkatan
pelayanan Puskesmas dan upaya kesehatan kerja. Upaya kesehatan Puskesmas
direncanakan terutama ditujukn kepada golongan ibu, anak, tenaga kerja, dan
masyarakat berpenghasilan rendah baik di pedesaan maupun di perkotaan.
Puskesmas akan dikembangkan menjadi pusat pembangunan kesehatan di wilayah
kerjanya. Pemerataan upaya kesehatan Puskesmas akan diusahakan, baik melalui

peningkatan fungsi Puskesmas maupun peran serta masyarakat dengan pendekatan


Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD).
2. Keluarga Berencana
Kegiatan kelurga berencana diarahkan pada pengembangan keluarga
sehat sejahtera, yaitu dengan makin diterimanya Norma Keluaga Kecil yang
Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) melalui kegiatan penyuluhan dan motivasi pada
pasangan usia subur, generasi muda serta pelayanan medic KB. Pelaksanaan
program KB dilaksanakan secara bertahap, mula mula program mempunyai
orientasi klinis. Kemudian berkembang dengan pesat, untuk mendapat liputan yang
lebih luas, beberapa tenaga pelaksana lapangan ditempatkan di klinik juga
diwajibkan mengadakan kunjungan ke rumah-rumah untuk memberikan motivasi
dan penerangan di mana dapat memperoleh pelayanan KB. Peningkatan peranan
masyarakat dalam program KB akan memungkinkan alih peran pengelolaan
program KB kepada masyarakat di masa yang akan datan, dengan demikian
perkembangan NKKBS juga akan menjadi kenyataan.
3. Kesejahteraan Ibu dan Anak
Pelayanan dan monitoring ibu hamil, ibu melahirkan, dan ibu menyusui
ditingkatkan melalui pemeriksaan kehamilan, imunisasi, identifikasi risiko tinggi
kehamilan dan tindak lanjutnya, pelayanan ibu menyusui dan pertolongan oleh
tenaga terlatih. Pelayanan bayi dan anak prasekolah termasuk murid Taman Kanakkanak dilakukan melalui penelitian dan pengamatan dari pertumbuhan dan
perkembangan secara berkala, imunisasi, identifikasi risiko tinggi dengan tindak
lanjutdan pencegahan dehidrasi. Peran serta masyarakat ditingkatkan melalui
penyuluhan yang terutama ditujukan kepada ibu dan dukun beranakserta guru TK.
Penyuluhan juga dilakukan melalui PKK.
4.

Kesehatan Sekolah

Melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) diharapkan dapat ditingkatkan


derajat kesehatan dan kemampuan untuk hidup sehat dari anak sekolah pada tingkat
Sekolah Dasar dan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), SMP, dan SMA termasuk
pondok pesantren melalui upaya peningkatan, pencegahan, pengobatan dan
pemeliharaan sehingga mempunyai dampak terhadap penurunan angka absensi
karena sakit.
5. Kesehatan Gigi dan Mulut
Dalam memperluas jangkauan, pemerataan dan peningkatan suatu
pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan kegiatan-kegiatan :
a. Pelayanan kesehatan gigi pada unit kelurga terutama ibu hamil, ibu menyusui
dan anak pra sekolah.
b. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara paripurna di sekolah dasar, kegiatan
promotif dan preventif di SD.
c. Pelayanan medic dasar kedokteran gigi dilakukan di puskesmas.
6. Kesehatan Jiwa
Tujuan pokok kesehatan ini adalah mencegah meningkatnya angka
penderita berbagai gangguan jiwa, seperti psikonerotik, psikomatik, retardasi
mental, kelainan perilaku dan penyalahgunaan narkotik, alcohol, obat, dan bahan
berbahaya lainnya. Pelayanan kesehatan jiwa dilakukan berdasarkan pendekatan
yang menyeluruh dan mendalam dari berbagai segi yang saling berkaitan, dan
melakukan pembinaan sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan jiwa,
terutama untuk dapat mendeteksi secara dini berbagai gangguan kesehatan jiwa.
7. Laboratorium sederhana
Sasaran pokok

kegiatan

ini

adalah

meningkatkan

kemampuan

pemeriksaan sediaan, untuk mencapai ini dilakukan penataran tenaga laboratorium.


Kegiatannya adalah melaksanakan pelayanan rutin, penyuluhan dan pengiriman
sediaan penyakit dalam rangka pengamatan kejadian penyakit.
8. Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD)
PKMD diselenggarakan oleh masyarkat sendiri yang pengelolaan di
lapangan memanfaatkan sumber-sumber setempat dalam penyelenggaraan secara

terus-menerus serta terorganisir hingga ikut merangkaikan hasil-hasil kegiatannya


secara tersambung dengan perpanjangan program-program Puskesmas di desanya
serta mampu terpadu dan menunjang system kesehatan nasional.
9. Program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
Tujuan pokok kegiatan ini adalah untuk mencegah timbulnya penyakit,
menurunkan angka kesakitan, kematian, dan akibt buruk dari penyakit menular.
Untuk mencapai tujuan tersebut diambil langkah-langkah untuk meningkatkan :
Pengamatan penyakit menular, termasuk pelabuhan.
Kualitas dan kuantitas tenaga di bidang epidemiologi, entomologi, ekologi,
sanitasi, dan laboratorium.
10. Pencegahan dan pemberantasan penyakit tak menular
Tujuan kegiatan ini adalah menurunkan angka kesakitan dan angka
kematian akibat penyakit jantung, dan pembuluh darah, kanker, kecelakaan, dan
lain-lain. Kegiatan pelayanan penyembuhan dan pemulihan diutamakan pada
pengobatan jalan melalui Puskesmas dan rujukannya.
Sebagai langkah pertama diadakan kegiatan pengumpulan data dan penelitian
tentang masalah penyakit tak menular, antara lain dengan mengadakan kegiatan
panduan dan penjaringan selektif pada Puskesmas di daerah tertentu.
11. Program perbaikan gizi
Program ini bertujuan bertujuan untuk menunjang upaya penurunan
angka kematian balita, dan meningkatkan kemampuan masyarakat guna
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, melalui peningkatan status gizi,
terutama bagi golongan rawan dan masyarakat berpenghasilan rendah baik di desa
maupun di kota. Pokok kegiatan yang dilaksanakan dalm program perbaikan gizi
adalah Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPKG), pencegahan dan penanggulangan
penyakit gangguan gizi terutama KKP, Kekurangan Vitamin A, gondok endemic
dan anemi gizi besi, peningkatan gizi anak sekolah, dan pelayanan gizi institusi.
12. Program peningkatan kesehatan lingkungan
Program ini bertujuan mencapai mutu lingkungan yang dapat menjamin
kesehatan menuju derajat kesehatan masyarakat yang optimal, serta untuk

mewujudkan keikutsertaan dan kesadaran masyarakat dan sector pemerintah yang


berkaitan dalam tanggung jawab upaya peningkatan dan pelestarian kesehatan
lingkungan. Program ini meliputi program peningkatan air bersih, program
penyehatan perumahan dan lingkungan, program pengawasan kualitas lingkungan,
dan pengembangan kegiatan instalasi pemeriksaan specimen kesehatan lingkungan.
D. Perkembangan Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat di Indonesia
Mengkaji perkembangan pelayanan kesehatan massyarakat di Indonesia
memang sejalan dengan perjuangan bangsa mensejahterahkan masyarakat
Indonesia. Beberapa catatan penting di bawah ini baik sebelum maupun sesudah
Indonesia merdekadapat dijadikan tonggak sejarah perkembangan program
kesehatan masyarakat di Indonesia.
Tahun 1942 : Mulai dirintis pengembangan program pendidikan kesehatan
masyarakat untuk peningkatan sanitasi lingkungan di wilayah pedesaan.
Tahun 1952 : Pengembangan upaya usaha Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
mulai dirintis dengan didirikannya Direktorat KIA di lingkungan Kementrian
Kesehatan
Tahun 1956 : Proyek UKS diperkenalkan di wilayah Jakarta.
Tahun 1959 : Program pemberantasan penyakit malaria di milai dengan bantuan
WHO.
Tahun 1960 : UU Pokok kesehatan dirumuskan
Tahun 1969 : Dengan mulai tersusunnya Repelita, sector kesehatan juga mulai
menata perencanaannya secara nasional
Tahun 1982 : Sistem Kesehatan Nasional (SKN) mulai diberlakukan.
Tahun 1988 : Penggunaan obat generic diperkenalkan
Tahun 1991 : Dokter sebagai pegawai tidak tetap (PTT) mulai diberlakukan.
Tahun 1992 : UU no. 23 mulai diterapkan untuk sector kesehatan.
Tahun 1994 : Keppres 36 tentang strategi penanggulangan AIDS Nasional dan
Daerah
Tahun 1995 : Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimulai untuk mencapai target
Indonesia bebas polio tahun 2000. Pembangunan Puskesmas di Indonesia mulai
dirintis dengan berbagai pertimbangan yang bersifat strategis. Untuk jangka
panjang pengembangan pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care/PHC)

melalui Puskesmas dinilai jauh lebih efisien dan efektif hasilnya dibandingkan
pengembangan pelayanan RS. Dari konsep pengembangan PHC lahirlah konsep
PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa) di Indonesia. PKMD saat
ini sudah berkembang menjadi model peran serta masyarakat di bidang
pelayanan kesehatan yang kemudian diberikan nama sesuai dengan muatan
lokalnya seperti muatan tambahan program gizi dikenal dengan nama UPKG
(Upaya Pelayanan Gizi Keluarga); Proyandu (Program Pelayanan Terpadu) yang
diberikan muatan program KIA, Gizi (Penimbangan Balita, pemberian vitamin
A untuk Balita, dan Sulfas Ferrosus untuk Ibu Hamil), P2M (Imunisasi dan
pemberantasan diare, cacingan), program KB (Konseling); POD (Pos Obat
Desa); DUKM (Dana Upaya Kesehatan Masyarakat) semacam ansuransi
kesehatan di desa; Bidan Desa dengan Polindes (Poliknik Persalinan);
pembinaan pengobatan tradisional, dan sebagainya. Globalisasi dan liberalisasi
perdagangan dunia (AFTA 2003 dan APEC 2010-2020) akan berpengaruh pada
kebijakan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Peningkatan
kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan untuk
memasuki persaingan global di bidang kesehatan. Setelah 25 tahun Indonesia
mengembangkan primary health care services, Indonesia sudah mencatat sukses
besar dengan turunnya tingkat kematian bayi (IMR), tingkat fertilitas (FR),
tingkat kematian ibu bersalin (MMR), kematian kasar (CDR), angka kesakitan
beberapa penyakit menular terutama yang bias dicegah dengan imunisasi dan
memperpanjang angka harapan hidup. Meskipun Indonesia sudah mencatat
sukses besar di bidang pembangunan kesehatan namaun globalisasi di bidang
jasa pelanyanan kesehatan juga akan ditandai dengan adanya investasi modal
asing di Indonesia untuk membangun pusatpusat pelayanan kesehatan seperti

RS dan laboratorium, termasuk di biidang farmasi dengan membangunpabrik


obat PMA . Akibatnya, persaingan tenaga kesehatan juga akan berlangssung
semakin ketat.

E. Berbagai Upaya untuk Pengembangan Pelayanan Kesehatan Masyarakat


Pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat yang dilakukan melalui
Puskesmas didasarkan pada misi dididrikannya Puskesmas sebagai pusat
pengembangan kesehatan (Centre for Health Development) di wilayah kerja
tertentu. Upaya pengembangannya dapat dilaksanakan melalui perluasan jangkauan
wilayah sesuai dengan tingkat kemajuan wilayah sesuai dengan tingkat kemajuan
transportasi, peningkatan rujukan, peningkatan mutu pelayanan dan keterampilan
staf, peningkatan manajemen organisasi dan peningkatan peran serta masyarakat.
Adapun upaya untuk pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat, antara lain:
1. Meluaskan jangkauan pelayanan kesehatan sampai ke desa-desa dengan
membangun Puskesmas yang baru, Puskesmas Pembantu, Pos Kesehatan,
Posyandu, dan penempatan Bidan di desa yang mengelola sebuah polindes
(Poliknik Persalinan Desa).
2. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, baik dengan meningkatkan
keterampilan dan motivasi kerja staf dengan memberikan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat maupun dengan cara mencukupi berbagai jenis kebutuhan
peralatan dan obat-obatan.
3. Pengadaan peralatan dan obat-obatan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Perencanaan pengadaan obat seharusnya didasarkan pada analisis epidemiologi
penyakit yang berkembang di wilayah kerjanya.
4. System rujukan di tingkat pelayanan kesehatan dasar lebih diperkuat dengan
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sampai ke tingkat desa. Rujukan
pelayanan kesehatan akan dapat terlaksana bila pembangunan sector lain di
tingkat Kecamatan juga mendukung yaitu tersedianya fasilitas transportasi yang
lebih memadai dan peningkatan pendapatan keluarga.
5. Peran serta masyarakat melalui pengembangan Pembangunan Kesehatan
Masyarakat Desa (PKMD). Kegiataan ini perlu dilakukan secara gotong-royong

dan swadaya sehingga masyarakat mampu mencapai mutu hidup yang sehat dan
sejahtera.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau
secara

bersama-sama

dalam

suatu

organisasi

untuk

memelihara

dan

meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta


memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat
(Levey dan Loomba,1973).
2. Pelayanan kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical services) dan
pelayanan kesehatan masyarakat (public health services)
3. Ketentuan yang perlu diperhatikan dalam pelayanan kesehatan masyarakat yaitu
Penanggung jawab, standar pelayanan, hubungan kerja; dan pengorganisasian
potensi masyarakat
4. Program-program pelayanan kesehatan masyarakat meliputi Puskesmas,
Keluarga Berencana, Kesejahteraan Ibu dan Anak, Usaha Kesehatan Sekolah
(UKS), Kesehatan Gigi dan Mulut, Kesehatan Jiwa, Laboratorium sederhana,
Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD), Program pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular, Pencegahan dan pemberantasan penyakit tak
menular, Program perbaikan gizi, dan Program peningkatan kesehatan lingkunga

SISTIM RUJUKAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelaksanaan sistem rujukan di Indonesia telah diatur dengan bentuk


bertingkat atau berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama, kedua dan
ketiga, di mana dalam pelaksanaannya tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada di
suatu sistem dan saling berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak
dapat melakukan tindakan medis tingkat primer maka ia menyerahkan tanggung
jawab tersebut ke tingkat pelayanan di atasnya, demikian seterusnya. Apabila
seluruh faktor pendukung (pemerintah, teknologi, transportasi) terpenuhi maka
proses ini akan berjalan dengan baik dan masyarakat awam akan segera tertangani
dengan tepat. Sebuah penelitian yang meneliti tentang sistem rujukan menyatakan
bahwa beberapa hal yang dapat menyebabkan kegagalan proses rujukan yaitu tidak
ada keterlibatan pihak tertentu yang seharusnya terkait, keterbatasan sarana, tidak
ada dukungan peraturan.
1.2 Rumusan Masalah
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Apakah pengertian rujukan ?


Apa itu sistem rujukan?
Apa yang menjadi latar belakang rujukan?
Sebutkan kasus kehamilan yang harus dirujuk?
Bagaimana cara merujuk?
Bagaimana alur rujuk?

1.3 Tujuan
Bisa menjelaskan pengertian rujukan,sistem rujukan,latar belakang
rujukan, cara cara merujuk, alur rujukan serta bisa menyebutkan kasus kehamilan
yamng harus di rujuk.

BAB II
PEMBAHASAN

Salah satu bentuk pelaksanaan dan pengembangan upaya kesehatan


dalam Sistem kesehatan Nasional (SKN) adalah rujukan upaya kesehatan. Untuk
mendapatkan mutu pelayanan yang lebih terjamin, berhasil guna (efektif) dan
berdaya guna (efesien), perlu adanya jenjang pembagian tugas diantara unit-unit
pelayanan kesehatan melalui suatu tatanan sistem rujukan. Dalam pengertiannya,

sistem

rujukan

upaya

kesehatan

adalah

suatu

tatanan

kesehatan

yang

memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas


timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik
secara vertikal maupun horizontal, kepada yang berwenang dan dilakukan secara
rasional.
2.1 Pengertian Rujukan
Rujukan adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas
kasus atau masalah kebidanan yang timbul baik secara vertikal (dari satu unit ke
unit yang lebih lengkap/Rumah Sakit) maupun horizontal (dari satu bagian ke
bagian lain dalam satu unit) (Muchtar, 1977).
Pelayanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem
pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh
bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga
layanan yang dilakukan oleh bidan ke tempat atau fasilitas pelayanan kesehatan
atau fasilitas kesehatan lain secara horizontal maupun vertikal.

2.2 Sistem Rujukan


Sistem rujukan adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dimana terjadi
pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau masalah kesehatan yang
timbul baik secara vertical (komunikasi antara unit yang sederajat) maupun secara
horizontal (komunikasi inti yang lebih tinggi ke unit yang lebih rendah).
Menurut hubungannya, sistem rujukan terdiri dari: rujukan internal dan
rujukan eksternal.

1. Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di
dalam institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas
pembantu) ke puskesmas induk.
2. Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang
pelayanan kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas
rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).
Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari : rujukan
Medik dan rujukan Kesehatan.
1. Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya
penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien
puskesmas dengan penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes
mellitus) ke rumah sakit umum daerah.
2. Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan dengan
upaya peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif).
Contohnya, merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok
gizi puskesmas), atau pasien dengan masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi
puskesmas (pos Unit Kesehatan Kerja).
TUJUAN RUJUKAN
Menurut Mochtar, 1998 Rujukan mempunyai berbagai macam tujuan antara lain
1. Agar setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan sebaik-baiknya
Menjalin kerja sama dengan cara pengiriman penderita atau bahan laboratoriumdari
unit yang kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap fasilitasnya
2. Menjalin perubahan pengetahuan dan ketrampilan (transfer of knowledge &
skill) melalui pendidikan dan latihan antara pusat pendidikan dan daerah perifer
Sedangkan menurut Hatmoko, 2000 Sistem rujukan mempunyai tujuan umum dan
khusus, antara lain :
1.
Umum

Dihasilkannya pemerataan upaya pelayanan kesehatan yang didukung kualitas


pelayanan yang optimal dalam rangka memecahkan masalah kesehatan secara
berdaya guna dan berhasil guna.
2.
Khusus
a. Menghasilkan upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan
rehabilitatif secara berhasil guna dan berdaya guna.
b. Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preveventif secara
berhasil guna dan berdaya guna.
C.
JENIS RUJUKAN
Menurut Hatmoko (2000) jenis rujukan secara konseptual menyangkut hal-hal
sebagai berikut :
1)
Rujukan medik, meliputi
a.
Konsultasi penderita untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan
operatif dan lain-lain.
b.
Pengiriman bahan (specimen) unutuk pemeriksaan laboratorium yang
lebih lengkap.
c.
Mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk
mutu pelayanan pengobatan
2)
Rujukan kesehatan
Adalah rujukan yang menyangkut masalah kesehatan masyarakat yang bersifat
preventif dan promotif yang antara lain meliputi bantuan :
a. Survey epidemiologi dan pemberantasan penyakit atas kejadian luar biasa
atau terjangkitnya penyakit menular
b. Pemberian pangan atas terjadinya kelaparan di suatu wilayah
c.
Pendidikan penyebab keracunan, bantuan teknologi penanggulangan
kerancunan dan bantuan obat-obatan atas terjadinya keracunan masal
d. Saran dan teknologi untuk penyediaan air bersih atas masalah kekurangan
air bersih bagi masyarakat umum
e. Pemeriksaan specimen air di laboratorium kesehatan dan lain-lain
D.

PERSIAPAN RUJUKAN
Mempersiapkan rujukan ke rumah sakit dengan melakukan BAKSOKUDa

yaitu:
B: Bidan Harus siap antar ibu ke rumah sakit;
A: Alat-alat yang akan di bawa saat perjalanan rujukan;
K: Kendaraan yang akan mengantar ibu ke Rumah Sakit;

S: Surat rujukan disertakan;


O: Obat-obat seperti oksitosin ampul, cairan infuse;
K: Keluarga harus diberitahu dan mendampingi ibu saat dirujuk;
U:Uang untuk pembiayaan di rumah sakit.
Da: Darah untuk tranfusi
E.
KEGIATAN RUJUKAN
1.
Rujukan dan pelayanan kebidanan
Kegiatan ini antara lain berupa :
a.
Pengiriman orang sakit dari unit kesehatan kurang lengkap ke unit yang
lebih lengkap
b.
Rujukan kasus-kasus patologik pada kehamilan, persalinan dan nifas
c.
Pengiriman kasus masalah reproduksi manusia lainnya, seperti kasuskasus ginekologi atau kontrasepsi, yang memerlukan penanganan spesialis
d.
Pengiriman bahan laboratorium
e.
Bila penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai,
kembalikan dan kirimkan lagi kepada unit semula, bilamana perlu disertai
dengan keterangan yang lengkap (surat balasan)
2.
Rujukan kesehatan yang meliputi permintaan bantuan atas :
a.
Kejadian luar biasa atau terjangkitnya penyakit menular
b. Terjadinya kelaparan dalam masyarakat
c.
Terjadinya keracunan masal
d.
Masalah lain yang menyangkut kesehatan masyarakat umum
3.
Rujukan informasi medis
Kegiatan ini antara lain berupa :
a.
Membahas secara lengkap data-data medis penderita yang dikirim dan
advis rehabilitas kepada unit yang mengirim
b.
Menjalin kerjasama sistem pelaporan data-data medis umumnya dan datadata parameter pelayanan kebidanan khususnya terutama mengenai kematian
maternal dan perinatal. Hal ini sangat berguna untuk memperoleh angka-angka
secara regional dan nasional.
4.
Pelimpahan pengetahuan dan ketrampilan
Kegiatan ini antara lain berupa :
a.
Pengiriman tenaga-tenaga ahli ke daerah perifer untuk memberikan
pengetahuan dan keterampilan melalui ceramah, konsultasi penderita, diskusi
kasus, dan demonstrasi
b.
Pengiriman petugas pelayanan kesehatan daerah untuk menambah
pengetahuan dan keterampilan mereka ke rumah sakit yang lebih lengkap atau

Rumah sakit pendidikan. Juga dengan mengundang tenaga medis dan paramedis
dalam kegiatankegiatan ilmiah yang diselenggarakan tingkat propinsi atau
institusi pendidikan
5.
Pusat Rujukan Antara (Puskesmas dengan 10 tempat tidur)
a.
Pengertian
Puskesmas yang diberi tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong
penderita gawat darurat baik berupa tindakan operatif terbatas maupun
perawatan sementara dengan 10 tempat tidur
b.
Kriteria

Puskesmas terletak kurang lebih dari 20 km dari rumah sakit

Puskesmas mudah dicapai dengan kendaran bermotor dari puskesmas


sekitarnya

Puskesmas dipimpin oleh dokter dan telah mempunyai tenaga yang


memadai

Jumlah kunjungan puskesmas minimal 100 orang per hari rata-rata.

Puskesmas masih mempunyai tanah kososng seluas 20mx30m

Penduduk wilayah kerja puskesmas dan penduduk di kelilingnya minimal


rata-rata 20.000/Puskesmas

Pemerintah daerah bersedia untuk menyediakan anggaran rutin yang


memadai
c.
Fungsi
Merupakan Pusat Rujukan Antara melayani penderita gawat darurat sebelum
dapat dibawa ke rumah sakit
d.
Kegiatan
1) Melakukan tindakan opertaif terbatas terhadap penderita gawat darurat
antara lain :

Kecelakaan lalu lintas

Persalinan dengan penyulit

penyakit lain yang mendadak dan gawat


2) Merawat sementara penderita gawat darurat atau untuk observasi penderita
dalam rangka diagnostik dengan rata-rata hari perawatan 3 hari atau maksimal 7
hari
3)

Melakukan pertolongan sementara untuk mempersiapkan pengiriman

penderita lebih lanjut ke Rumah sakit

4)

Memberi pertolongan persalinan bagi kehamilan dengan resiko tinggi dan

persalinan dengan penyulit


5) Melakukan metode operasi pria dan metode operasi wanita untuk keluarga
berencana
e.
Ruangan tambahan
Bangunan tambahan seluas 246m diatas tanah seluas 600m2 terdiri dari :

Ruang rawat tinggal untuk 10 tempat tidur

Ruangan operasi

Ruangan persalinan

Kamar perawatan jaga

Ruangan post operatif

Kamar linen

Kamar cuci

Dapur
f.
Peralatan medis

Peralat operasi terbatas

Peealatan obstetri patologis

Peralatan resusitasi

Peralatan vasektomi dan tubektomi

10 tempat tidur lengkap dengan peralatan perawatan


g. Tenaga

Dokter kedua di puskesmas yang telah mendapatkan latihan klinis di


Rumah Sakit 6 bulan dalam bidang : obstetri, gynekologi, pediatri dan interne

2 orang perawat yang telah dilatih selama 6 bulan dalam bidang perawatn
bedah, kebidanan, pediatri dan penyakit dalam

3 orang perawat kesehatan/ perawat/ bidan yang diberi tugas secara


bergilir

1 orang prakarya kesehatan


h. Alat komunikasi

Telepon atau radio komunikasi jarak sedang

1 buah ambulance
F.
ALUR RUJUKAN
Dalam rangka pelaksanaan rujukan diperhatikan hal-hal yang menyangkut
tingkat kegawatan penderita, waktu dan jarak tempuh sarana yang dibutuhkan
serta tingkat kemampuan tempat rujukan.
Dalam kaitan ini alur rujukan untuk kasus gawat darurat dapat dilaksanakan
sebagai berikut :
1. Dari kader
Kader dapat langsung merujuk ke :

a.
Puskesmas pembantu atau pondok bersalin atau bidan di desa
b.
Puskesmas atau puskesmas denga rawat inap
c.
Rumah sakit pemerintah atau swasta
2. Dari posyandu
Dari posyandu dapat langsung merujuk ke :
a.
Puskesmas pembantu atau
b.
Pondok bersalin atau bidan desa atau puskesmas atau puskesmas dengan
rawat inap atau rumah sakit pemerintah yang terdekat
3. Dari puskesmas pembantu
Dapat langsung merujuk ke rumah sakit kelas D/C atau rumah sakit swata
4. Dari pondok bersalin
Dapat langsung ke rumah sakit kelas D/C atau rumah sakit swasta
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merujuk pasien :
1.

Pada rujukan penderita gawat darurat, batas wilayah administrasi

(geografis) dapat diabaikan karena yang penting adalah penderita dapat


pertolongan yang cepat dan tepat
2. Sedangkan untuk penderita yang tidak termasuk gawat darurat dilaksanakan
sesuai dengan prosedur rujukan yang biasa sesuai hierarki fasilitas pelayanan
G.
MEKANISME
1.
Menentukan kegawatdaruratan penderita
a. Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih
Bila ditemukan penderita yang tidak dapat ditangani sendiri oleh keluarga/
kader/ dukun bayi, maka segera dirujuk kefasilitas pelayanan kesehatan terdekat,
oleh karena mereka belum tentu dapat menetapkan tingkat kegawatdaruratan.
b. Pada tingkat Bidan di desa
Puskesmas pembantu dan puskesmas tenaga kesehatan yang ada pada fasilitas
pelayanan

kesehatan

tersebut

harus

dapat

menentukan

tingkat

kegawatandaruratan kasus yang ditemui. Sesuai dengan wewenang dan


tanggung jawabnya, mereka harus menentukan kasus yang boleh ditangani
sendiri dan kasus yang harus dirujuk.
2.
Menentukan tempat tujuan rujukan
Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang
mempunyai kewenangan dan terdekat. Termasuk fasilitas pelayanan swata
dengan tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan penderita.

3.
Pemberian informasi kepada penderita dan keluarganya
Penderita dan keluarganya perlu diberi informasi tentang perlunya penderita
segera dirujuk untuk mendapat pertolongan fasilitas pelayanan kesehatan yang
lebih mampu
4.
Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju
Melalui telepon atau radio komunikasi disampaikan kepada tempat rujukan yang
tujuannya untuk :
a.
Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk
b.
meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan
selama dalam dalam perjalanan ke tempat tujuan
c.
Meminta petunjuk cara penanganan untuk menolong penderita bila
penderita tidak mungkin dikirim.
5.
a.

Persiapan penderita
Sebelum dikirim, keadaan umum penderita harus diperbaiki terlebih

dahulu. Keadaan umum perlu dipertahankan selama dalam perjalanan. Untuk itu
obat-obatan yang diperlukan untuk mempertahankan keadaan umum perlu
disertakan pada waktu pasien diangkut.
b.
Surat rujukan perlu disiapkan dengan format rujukan
c.
Dalam hal penderita gawat darurat maka seorang perawat/ bidan perlu
mendampingi penderita dalam perjalanan untuk menjaga keadaan umum
penderita
6.
Pengiriman penderita
Untuk mempercepat sampai ke tujuan, perlu diupayakan kendaraan/ sarana
transportasi untuk mengangkut penderita
7. Tindak lanjut penderita
a.
Untuk penderita yang telah dikembalikan, dan memerlukan tindak lanjut,
dilakukan tindakan dengan sarana yang diberikan
b.
Bagi penderita yang memerlukan tindak lanjut tapi tidak melapor, maka
dilakukan kunjungan rumah
H.
UPAYA PENINGKATAN MUTU RUJUKAN
Langkah-langkah dalam upaya meningkatkan mutu rujukan :

1. Meningkatkan mutu pelayanan di puskesmas dalam menampung rujukan


puskesmas pembantu dan pos kesehatan lain dari masyarakat.
2.
Mengadakan pusat rujukan antara lain dengan mengadakan ruangan
tambahan untuk 10 tempat tidur perawatan penderita gawat darurat di lokasi
strategis
3.
Meningkatkan sarana komunikasi antar unit pelayanan kesehatan
4.
Menyediakan Puskesmas keliling di setiap kecamatan dalam bentuk
kendaraan roda 4 atau perahu bermotor yang dilengkapi alat komunikasi
5.
Menyediakan sarana pencatatan dan pelaporan bagi sistem, baik rujukan
medik maupun rujukan kesehatan
6.
Meningkatkan upaya dana sehat masyarakat untuk menunjang pelayanan
kesehatan
2.5 Cara Merujuk
Langkah-langkah rujukan adalah :
1.
Menentukan kegawat daruratan penderita
a)
Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih ditemukan penderita yang tidak
dapat ditangani sendiri oleh keluarga atau kader/dukun bayi, maka segera
dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat,oleh karena itu mereka
belum tentu dapat menerapkan ke tingkat kegawatdaruratan.
b)
Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembatu dan puskesmas.
Tenaga kesehatan yang ada pada fasilitas pelayanan kesehatan tersebut harus
dapat menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus yang ditemui, sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawabnya, mereka harus menentukan kasus manayang
boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk.
2.
Menentukan tempat rujukan
Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang
mempunyai kewenangan dan terdekat termasuk fasilitas pelayanan swasta
dengan tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan penderita.
3.
Memberikan informasi kepada penderita dan keluarga
4.
Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju
a.
Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk.
b.
Meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan
selama dalam perjalanan ke tempat rujukan.

c.

Meminta petunjuk dan cara penangan untuk menolong penderita bila

penderita tidak mungkin dikirim.


5.
Persiapan penderita (BAKSOKUDA)
6.
Pengiriman Penderita
7. Tindak lanjut penderita :
a)
Untuk penderita yang telah dikembalikan
b)
Harus kunjungan rumah, penderita yang memerlukan tindakan lanjut tapi
tidak melapor
2.6 Alur Rujukan
Alur rujukan kasus kegawat daruratan :
1. Dari Kader
Dapat langsung merujuk ke :
a.
Puskesmas pembantu
b.
Pondok bersalin atau bidan di desa
c.
Puskesmas rawat inap
d.
Rumah sakit swasta / RS pemerintah
2. Dari Posyandu
Dapat langsung merujuk ke :
a)
Puskesmas pembantu
b)
Pondok bersalin atau bidan di desa

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Rujukan adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau
masalah kebidanan yang timbul baik secara vertikal (dari satu unit ke unit yang
lebih lengkap /Rumah Sakit) maupun horizontal (dari satu bagian ke bagian lain
dalam satu unit) (Muchtar, 1977).
Pelayanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan
yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan
sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan

yang dilakukan oleh bidan ke tempat atau fasilitas pelayanan kesehatan atau
fasilitas kesehatan lain secara horizontal maupun vertikal.