Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Pengertian Bendungan Beton


Bendungan beton adalah suatu bendungan yang dibuat dengan cara memasang

tulangan lalu ditambah campuran semen, pasir, kerikil sampai berbentuk struktur yang padat.
Bendungan beton seringkali diaplikasikan di negara-negara maju. Pengaplikasian tersebut
dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang menyebutkan bahwa untuk membangun sebuah
bangunan penampung air harus seefektif mungkin, dimana panjang dari sebuah bendungan
yang melintang sungai harus sependek mungkin selama hal tersebut memungkinkan.
Efisiensi pada perencanaan suatu bendungan beton sangatlah diperlukan untuk
meminimalisir anggaran biaya. Perencanaan bendungan beton memerlukan pertimbangan
dari banyak faktor. Faktor utama adalah keamanan bangunan, dimana akan memberikan nilai
keamanan terhadap keruntuhan.
Gaya-gaya yang bekerja pada sebuah bendungan beton antara lain :
1. Gaya statis
a. Vertikal
Massa bendungan
Air + sedimen yang mengendap di dalam reservoir
Gaya ke atas dari bagian bendungan yang terletak di bawah air
b. Horizontal

Tekanan lateral oleh air + sedimen di dalam reservoir

Tekanan pori-pori, yang bekerja pada pondasi

2. Gaya dinamis
Aksi gelombang oleh air di dalam reservoir
Banjir
Goncangan yang disebabkan oleh gempa bumi
1.2

Jenis Bendungan Beton


Pada umumnya, jenis bendungan beton dibagi berdasarkan bentuk dan sifat dari

bendungan beton tersebut, antara lain :


1. Bendungan Beton Berat Sendiri (Gravity Dam)
2. Bendungan Beton Dengan Penyangga (Buttress Dam)
3. Bendungan Lengkung (Arch Dam)

Gambar 1.1 Berbagai Tipe Bendungan


1.3

Kerusakan Pada Bendungan Beton


Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971 mensyaratkan bahwa dalam

setiap 1 m3 bendungan harus memiliki jumlah semen minimum sebanyak 275 375 kg dan
nilai FAS (Faktos Air Semen) minimum 0.57 untuk bendungan yang bersentuhan dengan air
tawar dan 0.52 untuk bendungan yang bersentuhan dengan air laut/bergaram. Pada kriteria
ini, pembelian dan pemilihan bahan di lapangan yang sesuai dengan kriteria akan menjaga
ketahanan bendungan terhadap air.
Kerusakan bangunan termasuk dalam kegagalan bangunan. Penyebab kegagalan
bangunan, tidak selalu berhubungan dengan alam atau faktor-faktor yang menimpa setelah
bengunan berdiri. Namun kegagalan bangunan dapat disebabkan oleh manusia dan kombinasi
antara manusia dan alam di dalam proses pembangunanya. Dalam jurnal Media Komunikasi
Teknik Sipil disebutkan bahwa tinjauan dalam kegagalan mencakup planning, desain, teknis,
ekonomi, dan lingkungan. Tingkatan kegagalan bendungan antara lain :
- Tingkat sederhana

: bangunan masih berdiri namun tidak

berfungsi optimal.
- Tingkat menengah

: bangunan masih berdiri namun kondisi

membahayakan jika difungsikan.


- Tingkat tertinggi
sekali.

: bangunan tidak bisa difungsikan sama

Kerusakan yang dapat terjadi pada bendungan beton mengikuti sifat-sifat dari material
penyusun utamanya, yaitu beton. Spesifikasi yang disyaratkan oleh Japanese Industrial
Standard (JIS) mencakup kualitas beton, material yang dipakai, proporsi campuran dan
proses pencampuranya. Peluang kerusakan dapat ditinjau dari batasan prosentase berat
bahan-bahan yang berbahaya bagi kualitas beton, macamnya yaitu
a. Tanah Liat, nilai prosentase maksimum : 0,25
b. Bagian Batu yang Lunak, nilai prosentase maksimum : 5,0
c. Bahan-bahan yang Hanyut oleh Pengujian Tuang, nilai prosentase maksimum : 1,0
d. Bahan-bahan yang Mengapung di Dalam Cairan dengan Specific Gravity 1,95; nilai
prosentase maksimum : 1,0
Peluang lain ada pada sifat susut dan rangkak beton. Susut adalah berubahnya volume
beton dikarenakan hilangnya air disebebkan proses hidrasi yang masih berlangsung.
Sedangkan rangkak adalah peristiwa timbulnya regangan atau perubahan volume karena
adanya beban menerus. Setelah mencapai 28 hari, beton mencapai tahap hidrasi sempurna
yang mengakibatkan penambahan kekuatan beton tidak signifikan setelahnya. Dalam
hitungan waktu lebih dari puluhan tahun, beton dapat mengalami kehancuran setelah tercapai
batas regangan bahan. Tercapainya batas regangan disebabkan pembebanan beton secara
menerus. Dalam hubunganya dengan bendungan beton, kejadian susut yang merubah volume
beton menyebabkan luas permukaan atau ketinggian bendungan ikut menyusut. Hal tersebut
dikarenakan rumus volume secara umum adalah luas dikalikan tinggi. Ketika bendungan
mengalami degradasi ketinggian, maka tinggi permukaan air akan menyamai atau melebihi
tinggi bendungan menurut pada fungsi waktu.
Kejadian susut dan rangkak mempunyai prosentase yang sangat kecil, namun dapat
lebih besar efeknya saat cuaca di lokasi lebih panas. Jika demikian,

pengerjaan dan

campuran material yang digunakan untuk beton harus disesuaikan dengan ketentuan yang
berlaku. Bila dikhawatirkan bahwasanya temperatur dari concrete placing akan melebihi
250C, maka cara-cara kerja dan penggunaan material untuk beton harus dilaksanakan secara
wajar sesuai dengan kondisi temperaturnya (Oehadijono, 1978 : 143).
Bendungan beton merupakan bahan yang relatif tahan lama dan kokoh (Irigasi dan
Bangunan Air, 1997 : 190). Hal tersebut dikarenakan nilai kuat tekanya yang meningkat dari
waktu ke waktu sampai masa tertentu. Namun ada potensi yang menyebabkan bendungan
beton mengalami kegagalan. Pada bendungan beton, masalah fondasi menjadi penyebab
utama kerusakan meliputi erosi internal dan tegangan geser fondasi yang mendominasi
kerusakan sebesar 21%.

Ditinjau dari letak-letak potensi penyebabnya, maka bendungan beton mempunyai


faktor penyebab kerusakan/kegagalan bangunan, di antaranya :
1. Lokasi bendungan beton memerlukan kondisi geologi yang baik (sesuai dengan
desain bentuk dan material campuran beton)
2. Faktor bencana alam, yaitu saat ada perubahan kondisi lingkunganseperti longsor
atau gempayang menyebabkan posisi bendungan tidak pada tempatnya semula.
3. Faktor manusia, yang dapat dibagi lagi menjadi :
-

Kesalahan dalam perencanaan dan desain struktur maupun material penyusun


bendungan.

Proses pengerjaan yang tidsk sesuai prosedur.

Pengadaan material yang tidak sesuai perencanaan.

Perhitungan di lapangan yang menyimpang jauh dari perencanaan awal.

Beberapa kasus kegagalan bendungan beton di seluruh dunia, antara lain adalah :

Gravity Dam Foundation Sliding


- Austin Dam, Pennsylvania (1911)
- Austin Dam, Texas (1935)
- Bouzey Dam, France (1895)
- Upper Stillwater Dam, Utah (1988)
- Morris Shepherd Dam, Texas (1986)
Kegagalan Akibat Gempa
- Koyna Dam, India (1967)
- Pacoima Dam, California (1994)
Kegagalan Pada Arch Dam
- Malpasset Dam, France (1959) Abutment Failure leading to sudden complete
destruction of the dam
- St. Francis Dam, South Carolina USA (1928) Abutment deformation leading to

sudden complete destruction of the dam


Kegagalan Akibat Longsor (Landslide)
- Vaiont Dam, Italy (1963) Landslide because of overtopping
Kegagalan Akibat Overtopping
- Gibson Dam, Montana USA (1964)