Anda di halaman 1dari 12

Peraturan dan Kebijakan terkait dengan Implementasi Sekolah Aman di

Indonesia 2010-2015
Oleh:
Yuniarti Wahyuningtyas/UNESCO-Unit PRB dan Informasi Tsunami, Kantor UNESCO
Jakarta
I. LATAR BELAKANG
Sekolah merupakan salah satu fasilitas umum yang seringkali terkena dampak
bencana alam. Berdasarkan data dari Direktori Sekolah Aman BNPB tahun 2013,
menunjukkan dampak bencana terhadap sektor sebagai berikut:
Diagram 1. Dampak Bencana terhadap Sektor Pendidikan

Dampak yang dimaksud, mencakup: korban jiwa, terganggunya kegiatan belajar


dan mengajar, kerusakan pada fasilitas sekolah, kerusakan pada dokumen
pendidikan, timbulnya trauma, terjadinya gangguan di sekolah dan terbatasnya
akses menuju ke sekolah. Dampak terbesar ditimbulkan dari gempa bumi dan
erupsi gunung berapi. Berdasarkan pada data BNPB Tahun 2012, menunjukkan
adanya kerusakan terhadap 2,696 sekolah dari berbagai bencana alam yang terjadi
dalam kurun waktu tersebut.
Diagram 2. Jumlah Sekolah Rusak Akibat Bencana pada Tahun 2012

II. INSTRUMEN HUKUM NASIONAL


Mengacu pada kondisi diatas, Pemerintah Indonesia melalui beberapa kementerian
telah mengeluarkan beberapa kebijakan dan peraturan terkait dengan pelaksanaan
pengurangan resiko bencana di sektor pendidikan, termasuk diantaranya:
1. Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 72 Tahun
2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus
Berdasarkan pada peraturan ini, menyebutkan mengenai Sekolah darurat
sebagai bentuk satuan pendidikan formal yang didirikan pada saat situasi
bencana alam dan/atau bencana sosial yang bersifat sementara.
Bentuk layanan khusus yang diberikan kepada pesertra didik, mencakup:
a. pemindahan peserta didik ke daerah lain dengan fasilitas bantuan
pendanaan dan/atau asrama;
b. bantuan dana tranportasi;
c. kunjungan pendidik;
d. pendidikan jarak jauh yang menyelenggarakan layanan pendidikan
tertulis, radio, audio, video, TV, dan/atau berbasis IT; dan/atau
e. layanan lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan
perundangundangan
Layanan ini diberikan kepada peserta didik yang menjadi korban di daerah
bencana alam ataupun sosial dengan kriteria, sebagai berikut:
a. minimnya fasilitas perlindungan keamanan, baik fisik maupun nonfisik;
b. hilangnya fasilitas sarana pelayanan umum berupa fasilitas pendidikan,
fasilitas kesehatan, fasilitas listrik, fasilitas informasi dan komunikasi,
dan sarana air bersih; dan/atau
c. ditetapkan sebagai daerah bencana alam, bencana sosial, atau daerah
yang berada dalam keadaan darurat lain oleh pejabat pemerintah yang
berwenang
2. Nota Kesepahaman Sekretaris Jenderal/Sekretaris Utama/Sekretaris
Kementerian Tanggal 20 Agustus 2013 antara Kementerian Agama,
Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Lingkungan Hidup,
Kementerian Kesehatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana,
dan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun
2013,Nomor 02/PKS/SJ/2013, Nomor 09/SES/LH/08/2013, Nomor
HK.05.01/IV/1657/2013, Nomor 38A/BNPB/08/2013, dan Nomor
9/SKB-100/VIII/2013 tentang Pembangunan dan Pengembangan
Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia di Indonesia sebagai
landasan hukum untuk mewujudkan Madrasah Aliyah Negeri Insan
Cendekia di Indonesia yang nyaman, aman bencana, sehat, hijau,
inklusi, dan ramah anak, termasuk anak yang memerlukan
pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus
Berdasarkan
pada
nota
kesepahaman
ini,
Pembangunan
dan
Pengembangan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia di Indonesia
memasukkan konsep pendidikan aman bencana. MAN Insan Cendekia
didirikan oleh BPPT sebagai Magnet School di Serpong dan Gorontalo dan
melaksanakan program IPTEK STEP (Science and Technology Equity
Program) bagi sekolah-sekolah yang berada dilingkungan pondok
pesantren
2

3. Peraturan
Menteri
Negara
Pemberdayaan
Perempuan
dan
Perlindungan Anak Nomor 12 Tahun 2011 tentang Indikator
Kabupaten/Kota Layak Anak
Berdasarkan pada peraturan ini, menyinggung adanya mekanisme
penanggulangan bencana yang memperhatikan kepentingan anak yang
termasuk dalam klaster hak anak untuk perlindungan khusus
Perlindungan khusus ini diberikan bagi anak dalam situasi darurat, yakni
anak yang mengalami situasi darurat dikarenakan kehilangan orang
tua/pengasuh/tempat tinggal dan fasilitas pemenuhan kebutuhan dasar
(sekolah, air bersih, bahan makanan, sandang, kesehatan dan sebagainya)
perlu mendapatkan prioritas dalam pemenuhan dan perlindungan hak-hak
dasarnya. Bagi pengungsi anak: memastikan bahwa setiap anak yang
harus berpindah dari tempat asalnya ke tempat yang lain, harus
mendapatkan jaminan pemenuhan hak tumbuh kembang dan
perlindungan secara optimal.
Beberapa indikator terkait dengan pemenuhan kebutuhan hak anak dalam
konteks bencana yang dimaksud, diantaranya:
a. Tersedia fasilitas informasi layak anak (Indikator 9) . Fasilitas dapat
berupa pojok baca, taman cerdas, perpustakaan, layanan informasi
daerah, dan sebagainya, yang menyediakan informasi sesuai
kebutuhan dan usia anak, termasuk informasi penanggulangan
bencana.
b. Adanya mekanisme penanggulangan bencana yang memperhatikan
kepentingan anak (Indikator 30).
Penjabaran lebih lanjut terkait dengan pengurangan resiko bencana di
sektor pendidikan, dijabarkan dalam Petunjuk Teknis Penerapan
Sekolah Ramah Anak yang dikeluarkan oleh Deputi Tumbuh Kembang
Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Tahun 2012
4. Peraturan
Kepala
BNPB
Nomor
4
Tahun
2012
tentang
Sekolah/Madrasah Aman
Berdasarkan pada peraturan ini, Sekolah/Madrasah Aman Bencana,
haruslah memenuhi aspek-aspek mendasar, sebagai berikut:
(1) Kerangka Kerja Struktural
o Lokasi aman
o Struktur bangunan aman
o Desain dan penataan kelas aman
o Dukungan sarana dan prasarana aman
(2) Kerangka Kerja Non Struktural
o Peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan
o Kebijakan sekolah/madrasah aman
o Perencanaan kesiapsiagaan
o Mobilitasi sumberdaya
Diterapkannya Sekolah/Madrasah Aman Bencana ini ditujukan
agar dapat mewujudkan hal-hal sebagai berikut:
a. Mengurangi gangguan terhadap kegiatan pendidikan, sehingga
memberikan jaminan kesehatan, keselamatan, kelayakan termasuk bagi
3

anak berkebutuhan khusus, kenyamanan dan keamanan di sekolah dan


madrasah setiap saat;
b. Tempat belajar yang lebih aman memungkinkan identifikasi dan
dukungan terhadap bantuan kemanusiaan lainnya untuk anak dalam
situasi darurat sampai pemulihan pasca bencana;
c. Dapat dijadikan pusat kegiatan masyarakat dan merupakan sarana
sosial yang sangat penting dalam memerangi kemiskinan, buta huruf
dan gangguan kesehatan;
d. Dapat menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam mengkoordinasi
tanggap dan pemulihan setelah terjadi bencana;
e. Dapat menjadi rumah darurat untuk melindungi bukan saja populasi
sekolah/madrasah tapi juga komunitas dimana sekolah itu berada.
Kaidah-kaidah pelaksanaan Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman
dari Bencana dengan menekankan pada peran dari kementerian/lembaga
terkait, diantaranya:
1. Kementerian Pekerjaan Umum (KemPU) menyusun kebijakan dan
standar-standar bangunan sekolah/madrasah aman dari ancaman
bencana khususnya gempabumi dan tsunami dan menyiapkan standar
lainya yang terkait dengan standar tata ruang dan tata wilayah yang
aman dari bencana;
2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyusun
kebijakan
dan
mengalokasikan
anggaran
bagi
perencanaan,
penyelenggaraan, pemantauan dan evaluasi penerapan sekolah aman
dari bencana;
3. Kementerian
Agama
(Kemenag)
menyusun
kebijakan
dan
mengalokasikan anggaran perencanaan, penyelenggaraan, pemantauan
dan evaluasi penerapan madrasah aman dari bencana;
4. Kementerian Keuangan (KemKeu) menyusun kebijakan perencanaan,
pemantauan dan evaluasi alokasi anggaran dalam pelaksanaan
Pedoman Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana.
5. Kementerian Dalam Negeri menyusun Kebijakan Pelaksanaan Pedoman
sebagai acuan pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi oleh Pemerintah
Daerah.
6. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyusun Pedoman
penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana, serta mengkoordinasi
pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan penerapan
sekolah/madrasah aman dari bencana di tingkat nasional melalui suatu
tim yang dibentuk bersama dengan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Pekerjaan Umum,
Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan, serta dibantu
oleh profesional dan unsur masyarakat madani. Pembentukan tim ini
sesuai Juknis yang disepakati antara Badan Nasional Penanggulangan
Bencana, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian
Agama, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian Dalam Negeri
7. Pemerintah
Daerah
melaksanakan
Pedoman
Penerapan
Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana sesuai dengan Kebijakan yang
digaris Pemerintah Pusat c/q Kementerian Dalam Negeri.
Dalam rencana Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana dengan
jangka panjang, Pedoman ini menggunakan tiga tema strategis, yaitu:
1. Sinkronisasi Kebijakan
4

Pemetaan kebijakan dari berbagai K/L/D/I menjadi bahan pertimbangan


utama dalam tema strategi sinkronisasi kebijakan. Dasar hukum dalam
pedoman ini disusun berdasarkan hasil sinkronisasi kebijakan yang
menjunjung
tinggi
nilai-nilai
dan
prinsip-prinsip
penerapan
sekolah/madrasah aman dari bencana
2. Peningkatan Partisipasi Publik termasuk anak
Tema strategis peningkatan partisipasi publik termasuk anak dalam
pedoman ini adalah menjadikan anak dan kaum muda mitra dalam
Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana. Kegiatan penerapan
sekolah/madrasah aman terintegrasi dengan pengetahuan dan
keterampilan yang sudah dimiliki warga sekolah seperti Sekolah Sehat,
Sekolah Hijau, Sekolah Adiwiyata, Lingkungan Inklusi dan Ramah
Pembelajaran serta model-model Pendidikan Ramah Anak lainnya
3. Pelembagaan
Penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana sejalan dengan peran
dan fungsi masing-masing K/L/D/I terkait melalui pembentukan
kelembagaan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku
Terkait
dengan
peranserta
pemangku
kepentingan
dalam
Sekolah/Madrasah
Aman
dari Bencana, berikut ini merupakan
penjabarannya:
1. Peran peserta didik
a. Peserta didik melembagakan aktivitas pengurangan risiko bencana
b. Peserta didik menjadi tutor sebaya bagi sekolah yang belum
memenuhi standar sekolah aman.
2. Peran orangtua
a. Membantu merumuskan program Sekolah/Madrasah Aman dengan
Komite sekolah.
b. Orangtua membantu menyebarluaskan penerapan Sekolah/Madrasah
aman
3. Peran Pendidik dan Profesional Lainnya
a. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai bahaya,
kerentanan dan kapasitas sekolah/madrasah termasuk anak dalam
upaya pengurangan risiko bencana.
b. Melakukan usaha-usaha terencana guna mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif dalam penerapan
sekolah/madrasah aman dari bencana secara non-struktural
c. Bekerja sama dengan warga sekolah lainnya termasuk anak dalam
upaya penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana secara
struktural maupun non-struktural
4. Peran Komite Sekolah/Madrasah
a. Membentuk forum orangtua dan guru dalam upaya penerapan
sekolah/madrasah aman dari bencana melalui pengenalan materi PRB
kepada para peserta didik, pembuatan jalur evakuasi dan upayaupaya untuk mewujudkan sekolah/madrasah yang lebih aman, sehat
dan nyaman termasuk bagi anak berkebutuhan khusus.
b. Komite Sekolah/Madrasah melakukan Pemantauan, pemeriksaan
Kelayakan Gedung, Pemeliharaan dan perawatan Gedung.
5. Peran Organisasi Non-pemerintah, Nasional, Internasional
5

a.

Membantu sekolah/madrasah dalam melakukan upaya pengurangan


risiko bencana termasuk anak didik berkebutuhan khusus.
b. Mendukung kemitraan dan membangun jejaring pengetahuan antar
sekolah/madrasah.
c. Mengembangkan dan menyediakan materi-materi pendidikan,
pengurangan risiko bencana.
d. Memberikan bantuan teknis penerapan sekolah/madrasah aman dari
bencana secara struktural maupun nonstructural
e. Membantu pemerintah dan pemerintah daerah dalam penerapan
sekolah/madrasah aman dari bencana secara struktural maupun nonstruktural
6. Peran Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah
a. Melakukan kegiatan-kegiatan penerapan sekolah/madrasah aman dari
bencana sejalan dengan ketiga tema strategis, prinsip-prinsip, nilainilai dan kerangka kerja.
b. Memperkuat mekanisme pemantauan, evaluasi dan pelaporan
penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana termasuk
pemutahiran data rehabilitasi sekolah, baik secara elektronik maupun
manual
c. Menyediakan pedoman dan petunjuk teknis yang diperlukan oleh
sekolah/madrasah dalam penerapan sekolah/madrasah aman dari
bencana secara structural dan non-struktural.
d. Mendorong pembinaan berkelanjutan dengan mengintegrasikan
penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana kedalam revisi SKB
4 Menteri mengenai Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan
Sekolah
f. Memastikan perencanaan Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari
Bencana sebagai bagian dari Rencana Penanggulangan Bencana.
7. Peran Media Massa
a. Media massa melakukan Sosialisasi dan advokasi
penerapansekolah/madrasah aman dari bencana kepada masyarakat
luas.
b. Media massa berperan sebagai alat kontrol dalam penerapan
sekolah/madrasah aman dari bencana
5. Surat
Edaran
Kementerian
Pendidikan
Nasional
Nomor
70a/MPN/SE/2010 tentang Pengarusutamaan Pengurangan Resiko
Bencana di Sekolah
Berdasarkan surat edaran ini, pelaksanaan strategi pengarusutamaan
pengurangan resiko bencana di sekolah dilakukan baik secara struktural
maupun non-struktural guna mewujudkan budaya kesiapsiagaan dan
keselamatan terhadap bencana di sekolah melalui:
a. Pemberdayaan peran kelembagaan dan kemampuan komunitas
sekolah
Pemberdayaan tersebut berkenaan dengan peningkatan kapasitas,
dengan mengukur terlebih dahulu kapasitas lembaga maupun
komunitas sekolah, serta menggali dan membangun pengetahuan dan
kearifan lokal, termasuk adanya contoh-contoh praktis dan pengalaman
yang berkaitan dengan implementasi pengurangan risiko bencana.
Pendidikan pengurangan risiko bencana kepada komunitas sekolah
6

dilaksanakan dengan memberikan life skills (pengetahuan, sikap, dan


keterampilan) mengenai ancaman, bahaya, kerentanan, dan risiko
bencana, dalam upaya perwujudan budaya sadar bencana dan
keselamatan bagi seluruh unsur pendidik dan tenaga kependidikan,
peserta didik, pengawas, komite sekolah, dan orang tua peserta didik.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan:
1. Kerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
dan organisasi non-pemerintah di tingkat provinsi dan kabupaten/
kota yang memiliki kapasitas terkait dengan kebencanaan untuk
penyusunan modul dan penyelenggaraan pelatihan.
2. Peningkatan ketahanan dan kesiapsiagaan sekolah terhadap ancaman
bencana, baik secara struktur maupun secara non-struktur.
b. Pengintegrasian
pengurangan
resiko
bencana
kedalam
kurikulum satuan pendidikan formal, baik intra maupun
ekstrakurikuler
Integrasi PRB ke dalam kurikulum dan ekstra kurikuler bertujuan agar
siswa memperoleh pemahaman yang mendalam dari lintas mata
pelajaran yang dihubunghubungkan melalui tema yang sedang
dipelajari, dan keterkaitannya dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Pengintegrasian materi pembelajaran PRB ini dapat dilakukan melalui
model berikut:
1. Integrasi materi pembelajaran pendidikan PRB ke dalam mata
pelajaran pokok, sesuai dengan karakteristik bencana di daerah
setempat
2. Integrasi materi pembelajaran pendidikan PRB ke dalam mata
pelajaran muatan lokal sesuai dengan karakteristik bencana di daerah
setempat
3. Integrasi pengurangan risiko bencana ke dalam ekstra-kurikuler
sesuai dengan karakteristik bencana di daerah setempat.
c. Pembangunan kemitraan dan jaringan antar berbagai pihak
untuk mendukung pelaksanaan pengurangan resiko bencana di
sekolah
Pembangunan kemitraan dan jaringan adalah upaya untuk memperkuat
kerjasama dan menyebarkan informasi mengenai berbagai kegiatan
pengurangan risiko bencana, baik yang dilaksanakan oleh sekolah
secara mandiri maupun atas bantuan teknis dari Kementerian
Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan pada tingkat provinsi dan
kabupaten/kota.
Strategi ini dapat dilakukan melalui:
1. Pertukaran informasi antara sekolah dalam pelaksanaan pendidikan
pengurangan risiko bencana.
2. Kerjasama kegiatan antar sekolah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan pengurangan risiko bencana di sekolah masing-masing.
3. Penyediaan data dan informasi pendidikan kebencanaan yang dapat
diakses oleh sekolah guna mendukung pendidikan pengurangan risiko
bencana di sekolah.

4. Mendokumentasikan hasil-hasil penelitian mengenai kebencanaan


yang dapat mendukung proses pembelajaran pengurangan risiko
bencana.
5. Melakukan berbagai penelitian untuk meningkatkan kualitas
pelaksanaan pendidikan pengurangan risiko bencana.
6. Menyebarluaskan data dan informasi mengenai upaya pengurangan
risiko bencana dalam berbagai bentuk dan metoda komunikasi.
7. Membangun kemitraan dan jaringan informasi dengan dengan BPBD
dan organisasi non-pemerintah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota
yang memiliki kapasitas terkait dengan kebencanaan.
Peranserta
beberapa
pelaku
kepentingan
dalam
memastikan
pengarusutamaan pengurangan resiko bencana di sekolah, antara lain:
a. Peran Sekolah
1. menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif untuk
meningkatkan mutu sekolah antara lain dengan membentuk
budaya sadar bencana dan mengintegrasikan pengurangan risiko
bencana ke dalam kurikulum sekolah;
2. membantu dan mendorong peserta didik untuk mengembangkan
potensi dirinya secara optimal, dengan memberikan life skills
pengurangan risiko bencana;
3. melaksanakan proses pembelajaran pendidikan pengurangan risiko
bencana secara efektif, menyenangkan, dan kontekstual;
4. mengajak
stakeholders
untuk
bekerja
bersama
dalam
meningkatkan mutu sekolah, khususnya berkenaan dengan
implementasi strategi pengurangan risiko bencana; dan
5. melibatkan seluruh warga sekolah dalam pengambilan keputusan
untuk implementasi strategi pengarusutamaan pengurangan risiko
bencana di sekolah.
b. Peran Komite Sekolah dan Orangtua Murid
1. menjaga kehidupan sosial masyarakat yang harmonis, memelihara
keseimbangan, keserasian, keselarasan, dan kelestarian fungsi
lingkungan hidup;
2. melakukan kegiatan penanggulangan bencana; dan
3. memberikan informasi yang benar kepada publik tentang
penanggulangan bencana.
c. Peran Pemerintah
1. Menyiapkan perangkat kebijakan dan pedoman terhadap usaha
penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana,
penanganan tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi secara
adil dan setara, yang dijadikan sebagai acuan pendidikan
pengurangan risiko bencana di sekolah.
2. Menetapkan standarisasi dan kebutuhan penyelenggaraan
penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana,
penanganan tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi secara
adil dan setara.
3. Menyusun, menetapkan, dan menginformasikan peta rawan
bencana;
4. Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana;
5. Melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada
wilayahnya;
8

6. Memberikan dana hibah dan fasilitas lainnya bagi sekolah yang


melaksanakan pendidikan pengurangan risiko bencana.
7. Melaksanakan berbagai pelatihan pengurangan risiko bencana
secara berkelanjutan bagi para pengawas, kepala sekolah, guru,
dan peserta didik.
8. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap implementasi strategi
pengarusutamaan pengurangan risiko bencana.
9. Memberikan informasi kegiatan kepada masyarakat, termasuk
komunitas sekolah
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007
tentang
Standar
Sarana
dan
Prasarana
untuk
Sekolah
Dasar/Madrasah
Ibtidaiyah
(SD/MI),
Sekolah
Menengah
Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) dan Sekolah Menengah
Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA)
Berdasarkan pada peraturan ini, disebutkan bahwa bangunan gedung
sekolah haruslah dilengkapi sistem keamanan berikut.
a. Peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur
evakuasi jika terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya.
b. Akses evakuasi yang dapat dicapai dengan mudah dan dilengkapi
penunjuk arah yang jelas.
7. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional
Undang-undang ini menyebutkan tentang Pendidikan layanan khusus,
termasuk pendidikan bagi peserta didik di daerah yang mengalami
bencana alam. Lebih lanjut dijabarkan dalam Peraturan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 72 Tahun 2013 tentang
Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus
8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Undang-undang ini menyebutkan tentang Perlindungan Khusus bagi Anak
dalam Situasi Darurat, termasuk anak korban bencana alam, dimana
perlindungan khusus diberikan sesuai dengan ketentuan hukum
humaniter dengan pemenuhan kebutuhan akan perlindungan khusus,
diantaranya:
a. pemenuhan kebutuhan dasar yang terdiri atas pangan, sandang,
pemukiman, pendidikan, kesehatan, belajar dan berekreasi, jaminan
keamanan, dan persamaan perlakuan; dan
b. pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak yang menyandang cacat dan
anak yang mengalami gangguan psikososial.
Dalam konteks kebutuhan akan pendidikan, dijabarkan dalam Peraturan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 72 Tahun 2013
tentang Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus
III. GERAKAN GLOBAL DALAM MENDUKUNG PRB DI SEKTOR PENDIDIKAN
1. Inisiatif Global untuk Pendidikan
Secara global, suatu gerakan bersama yang dilakukan oleh berbagai lembaga
internasional dan Badan Perserikatan Bangsa (PBB) melalui Inisiatif Global
dalam Pendidikan (Global Initiative on Education) pada tanggal 23 September
9

2013 di New York, Amerika Serikat, dalam rilis pers menyerukan bahwa
perlu ditingkatkannya anggaran dan efektivitas dalam pendidikan di situasi
darurat dan meningkatkan koordinasi antar pemerintah, lembaga bantuan
dan lembaga kemanusiaan. Para pemimpin dari gerakan tersebut membuat
suatu aksi dalam:
1) meningkatkan perencanaan dalam pencegahan kedaruratan dan integrasi
kesiapsiagaan kedaruratan dan pemulihan di perencanaan sektor
pendidikan dan anggaran nasional,
2) mengutamakan pendidikan di situasi darurat dengan meningkatkan
bantuan kemanusiaan untuk pendidikan dan pelayanannya ditingkat lokal,
serta
3) melindungi anak-anak, guru dan fasilitas pendidikan dari serangan
bencana
2. Piagam Anak
Terkait dengan sekolah dan peran serta anak dalam upaya Pengurangan
Resiko Bencana (PRB), pada tahun 2011, suatu Piagam Anak (Children
Charter for DRR)disusun dalam rangka membangun kesadaran akan
mengutamakan kebutuhan anak sebelum terjadinya bencana dan
memperkuat komitmen pemerintah, lembaga bantuan dan lembaga
kemanusiaan dalam melindungi anak-anak dan menggunakan pengetahuan
dan sumberdaya yang mereka punyai dalam berperan serta dalam PRB dan
Adaptasi Perubahan Iklim. Piagam ini memiliki 5 (lima) Prioritas, yakni:
1) sekolah haruslah menjadi tempat yang aman,
2) perlindungan anak haruslah menjadi prioritas sebelum, saat, dan sesudah
bencana,
3) anak memilik hak untuk berpartisipasi dan akses terhadap informasi yang
mereka perlukan,
4) infrastruktur komunitas haruslah aman, dan bantuan serta rekonstruksi
haruslah dapat mengurangi resiko bencana, dan
5) PRB haruslah meraih mereka yang terentan
3. Kelima komponen Piagam Anak ini sinergi dengan Deklarasi Yogyakarta yang
dihasilak dalam Konferensi Asia dalam Pengurangan Resiko Bencana ke-5
atau the 5th Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction
(5th AMCDRR) yang dilaksanakan di Yogyakarta pada tahun 2012 dan
menghasilkan seruan aksi sebagai berikut:
1) Memasukkan PRB dan API pada kurikulum pendidikan terminologi PRB dan
API terlokalisasi dan disederhanakan
2) Unit Pemerintah Daerah harus bekerjasama dengan anak-anak untuk
mengalamatkan isu PRB, perbaikan rekonstruksi. Memberikan ruang dan
kesempatan bagi anak untuk berdiskusi dan berbagi pandangan dengan
para pembuat keputusan
3) Pemenuhan sumberdaya secara mandiri untuk mendukung ide anak dalam
membantu sekolah dan komunitas mereka agar lebih aman dan kuat
4) Memberikan perhatian dan perlindungan bagai anak yang memiliki
keterbatasan di sekolah. Pengadaan latihan simulasi secara rutin turun ke
tingkat desa dan mendukung paska bencana dan sistem peringatan dini
yang dapat dimengerti oleh anak-anak
10

5) Pemerintah harus membangun kembali sekolah-sekolah yang rusak oleh


bencana sesegera mungkin
6) Membangun jaringan dengan anak-anak dunia melalui forum anak
4. Di tahun yang sama dengan pelaksanaan 5th AMCDRR, lebih dari 20
pemerintah dan lembaga kemanusiaan global, pelaku pembangunan dan
pendidikan, beserta kementerian pendidikan, badan PBB, lembaga donor dan
LSM berkumpul bersama untuk mengesahkan Seruan Aksi: Pendidikan
Tidak Dapat Menanti (Education Cannot Wait) dan menrangkum 3 poin
untuk memastikan anak-anak dan pemuda tidak tergangu haknya untuk
pendidikan yang layak dalam situasi konflik dan darurat kemanusiaan,
dengan seruan aksi sebagai berikut:
1) Perencanaan untuk pencegahan kedaruratan, persiapan dan tindak
tanggap darurat pad asektor pendidikan dan anggara
2) Pengarusutamaan pendidikan dalam kedaruratan dengan meningkatkan
pembagian anggaran untuk pendidikan dari lembaga kemanusiaan dari 2%
hingga 4%
3) Perlindungan terhadap anak, guru dan fasilitas pendidikan terhadap
serangan atau ancaman
5. Pada bulan Maret 2015, melalui Konferensi Pengurangan Resiko
Bencana Sedunia Ketiga, yang akan diadakan di Sendai, Jepang. UNISDR
dan para pemangku kepentingan yang tergabung dalam Aliansi Global
untuk PRB dan Ketangguhan di Sektor Pendidikan mengidentifikasikan
4 (empat) komponen kunci program yang diharapkan dapat dilaksanakan
oleh pemerintah di seluruh Negara dalam pengembangan strategi nasional
sekolah aman. Komponen program ini, diantaranya:
1) Fasilitas Belajar yang Aman-dilakukan oleh World Bank/GFDRR, UNESCO,
dan pemangku kepentingan ditingkat nasional
2) Manajemen Bencana di Sekolah-dilakukan oleh Save the Children, Plan dan
IFRC
3) Pengurangan Resiko dan Ketangguhan di Sektor Pendidikan-dilakukan oleh
UNESCO dan UNICEF
4) Membangun Advokasi Kebijakan dan Keseluruhan Fasilitasi Monitoring dan
Pelaporan akan Sekolah Aman-dilakukan oleh UNISDR
Dalam promosi Global Inisiatif untuk Sekolah Aman

11

IV. KERANGKA KERJA INTERNASIONAL PRB DI SEKTOR PENDIDIKAN


Mengacu pada perangkat kerja Sekolah Aman Komprehensif dan Standar
Minimum
Pendidikan
di
Situasi
2.Akses dan Lingkungan
Darurat
Belajar

P3: Sistem Peringatan


Dini

Pilar 1-Fasilitas
Sekolah Aman

P4: Mobilisasi Sumber


Daya
5. Kebijakan
Pendidikan
P1: Pengetahuan dan
Sikap
P2: Rencana Tanggap
Darurat
P5: Kebijakan dan
Panduan

Pilar 2Manajeme
n
Bencana
di Sekolah

3. Belajar
dan
Mengajar

Pilar 3Pengurang
an Resiko
Pendidikan

4. Guru dan
Tenaga
Kependidikan

1.Partisipasi
MasyarakatKoordinasi-Analisis

CATATAN:
INEE EIE
UNESCOLIPI

CS
S

12