Anda di halaman 1dari 6

FRAKTUR COLLUM FEMUR DENGAN AUSTIN-MOORE

PROSTHESIS DAN CONTOH KASUS


KAJIAN TEORI FRAKTUR COLLUM FEMUR DENGAN
AUSTIN-MOORE PROSTHESIS
2.1 Fraktur Colum Femur
Collum Femur adalah tempat yang paling sering terkena pada manula sebagian besar adalah wanita
berusia 60 Th keatas dan kaitannya dengan osteoporosis demikian nyata sehingga insidensi fraktur
columna femur digunakan sebagai ukuran osteoporosis yang berkaitan dengan umur dalam pengkajian
dalam kependudukan. Namun hal ini bukan semata mata akibat penuaan, fraktur cenderung cendrung
terjadi pada penderita osteopenia diatas rata rata, banyak diantaranya mengalami kelainan yang
menyebabkan kehilangan dan kelemahan jaringan tulang misalnya osteomalacia, diabetes militus, stroke,
alkoholisme, dan penyakit kronis lain.
2.1.1. Mekanisme cidera
Cidera sering terjadi akibat jatuh (atau pukulan) pada trohanter mayor. Atau kaki wanita manula
tersandung karpet dan pinggulnya terpuntir kearah ekstensi rotasi. Beberapa pasien mempunyai riwayat
terkena fraktur compresi colum femur dimasa lalu.
Sekali mengalami fraktur, caput dan colum bergeser kestadium yang semakin berat (Garden, 1961).
Stadium I adalah fraktur yang tak sepenuhnya terinfeksi. Stadium II adalah fraktur lengkap tapi tidak
bergeser. Stadium III adalah fraktur lengkap dengan pergeseran sedang. Dan Stadium IV adalah fraktur
berubah dengan cepat menjadi stadium IV.
2.1.2. Patologi
Caput femoris mendapat persendiaan darah dari tiga sumber (1) pembuluh intermedula pada colum
femur. (2) Pembuluh cervical asendens pada retikulum capsular, dan (3) pembuluh darah pada
ligamentum capitis femoris. Pasokan intramedula selalu tergantung oleh fraktur, pembuluh retinakular
juga dapat robek, kalau terdapat banyak pergeseran. Pada manula pasokan yang tersisa dalam
ligamentum teres sangat kecil dan, pada 20% kasus tidak ada. Itulah yang menyebabkan tingginya
insidensi cecrosis avaskuler pada fraktur colum femur yang disertai dislokasi.
Fraktur transcervical, menurut definisi, bersifat intracapsular. Fraktur ini penyembuhannya buruk
karena (1) robekan pembuluh capsul, cidera itu melenyapkanpersendian darah utama pada caput, (2)
tulang intraarticular hanya mempunyai periosteum yang tipis dan tak ada kontak dengan jaringan lunak
yang dapat membantu pembentukan callus, dan (3) cairan sinovial mencegah pembentukan hematome
akibat fraktur itu. Karena itu ketetapan aposisi dan infaksi fragmen tulang menjadi lebih penting dari
biasanya. Terdapat bukti bahwa aspirasi hemartrosis dapat meningkatkan aliran darah dalam caput
femoris dengan mengurangi temponade (Harper, Barnes and Gregg, 1991).
2.1.3.

Gambaran Klinis
Biasanya terdapat riwayat jatuh, yang diikuti nyeri pinggul. Tungkai pasien terletak pada posisi
eksternal rotasi dan kaki tampak pendek. Tetapi, hati-hati, tidak semua fraktur pinggul sedemikian jelas.

Pada fraktur yang terinpaksi pasien mungkin masih dapat berjalan, dan pasien yang sangat lemah atau
cacat mental tidak mengeluh sekali pun mengalami fraktur bilateral.
2.2. Anatomi dan Biomekanik Hip Joint
Hip joint merupakan sendi yang arah gerakannya sangat luas atau yang biasa disebut dengan Ball
and Socked joint. Hip joint juga bagian terpenting dalam pembentuk postur seseorang dan berperan
penting dalam setiap aktivitas terutama dalam berjalan. Hip joint ini terbentuk atas beberapa tulang,
ligamen, dan otot dimana kesemuanya itu saling berhubungan dan saling menguatkan.
Beberapa tulang pembentuk hip joint :
1. Acetabulum
Acetabulum merupakan pertemuan antara os ilium, os ischium, dan os pubis yang bertugas sebagai
mangkuk sendi. Dilapisi hyalin cartilage dan tertutup lagi acetabulum labrium yang merupakan fibro
cartilage, keduanya tebal ditepi dan tipis di center
2. Os Femur
Pada bagian Os femur terdapat dua bagian yang sangat terkait dalam pergerakan sendi Hip Joint,
bagian itu adalah :
A. Caput femur
Caput femur merupakan tulang yang berbentuk setengah bola dilapisi hyalin cartilage, kedistal
sebagai collum femoris (sering fraktur), kedistal terdapat trochanter mayor dan minor, selanjutnya kedistal
sebagai (shaff of) femur.
B. Collum Femur
Collum femur merupakan processus tulang yang berbentuk piramidal yang menghubungkan corpus
dengan caput femur dan membentuk sudut pada bagian medial. Sudut terbesar terjadi pada saat bayi
dan akan berkurang seiring dengan pertumbuhan, sehingga pada saat pubertas akan membentuk suatu
kurva pada aksis corpus kurva. Pada saat usia dewasa, collum femur membentuk sudut sebesar
1250 dan bervariasi tergantung pada perkembangan pelvis wanita lebih besar.
2.2.1. Ligamen
Ada beberapa ligament pembentuk hip joint, dimana ligamen-ligament ini sangat kuat sebagai
penyambung antara acetabulum dan caput femur. Ada lima ligament terkuat pada hip joint, antara lain :
1. Ligamentum Capitis Femoris
Ligament ini diliputi oleh membran sinovial yang terbentang dari fosa acetabuli dimana terdapat
bantalan lemak menuju ke caput femoris, selain itu ligament ini mengandung arteria yang menuju caput
femoris yang datang dari r.acetabuli arteria abturatoria. Caput femoris disuplai oleh A circumfleksa
medialis dan A circumfleksa lateralis.
2. Ligamentum Pubofemoral
Berasal dari crista obturatoria dan membrana obturatoria yang berdekatan. Ligament ini memamcar
kedalam capsula articularis zona orbicularis pada khususnya melanjukan diri melalui jalan ini ke femoris.
3. Tranverse Acetabulum Ligament

Ligament ini berfungsi menjembatani incisura acerabuli dan seluruh permukaan caput femoris.
4. Iliofemoral Ligament
Berasal dari spina iliaca anterior inferior dan pinggiran acetabulum serta membentang ke linea
intertrochanterica. Ligament ini mempunyai daya rengang sebesar 350 kg.
5. Ischiofemoral Ligament
Berasal dari ischium di bawah dan berjalan hampir horizontal melewati collum femoris menuju ke
perlekatan pars lateralis ligament iliofemoral. Ligamnet ini mencegah rotasi medial paha.
2.2.2. Osteokinematik Hip Joint
Hip merupakan sendi Ball and Socked joint sehingga gerakan sendinya sangat luas kesegala arah,
adapun gerakan yang terjadi pada hip joint adalah :
2.

Fleksi
Otot penggerak utamanya adalah :
2.2.Iliacus :
Origonya : Superior 2/3 dari fossa iliaca crest, anterior crest, anterior sacroiliaca, dan iliolumbal ligament,
ala of sacrum.
Insersionya : tendon dari psoas major, dan body of femur
2.3.Psoas mayor :
Origo : sides of vertebral bodies dan conesponding intervertebralis disc of T12-L5 dan procesus
transversus dari L1-L5.
Insersio : Leser trochanter of femur
Sedangkan otot lain yang berhubungan dengan gerak fleksi adalah
2.4.Sartorius :
Origo : anterior superior iliac spine, upper aspec of iliac notch
Insersio : Proksimal aspec of medial surface tibia
3.
ekstensi
3.2.Gluteus Maksimus
Origo : Posterior gluteal line of ilium, iliac crest, dorsum of sacrum dan cocyx, saerotuberous ligament
Insersio : iliotibial tract, gluteal tuberositas femur

Semitendinosus :

Origo : ishial tuberositas


Insersio : Proksimal aspect of medial surface tibia
Semimembrannosus

Origo : ischial tuberositas


Insersio : Medial condilus tibia
Biceps Femoris :

Origo : Ischial tuberositas, lateral tip of linea aspec femur dan lateral intermuscular septum
Insersio : Lateral aspect of head fibula
Abduksi
Gluteus medius

4.

Origo : outer surface ilium antara dan posterior dan anterior gluteal lines

Insersio : Greater trohanter femur


Gluteal Minimus :

Origo : outer surface ilium antara anterior dan posterior gluteal lines
Insersio : greater trohanter femur
Sedangkan otot lain yang berhubungan dengan gerakan ini adalah :
Tensor Facia Latae

Origo : anterior superior iliac spine, anterior aspect of auterlip ofiliac crest
Insertio: illiotibial tractus aproximately 1/3 dwon the tight
4. Adduksi

Adductor Magnus

Origo : inferior rami of pubis dan ischium ischial tuberosity


Insertio:a line fro great trochanter to linea aspera femur,linea aspera ,adductor tubercole ,medil supra
condilare line of femur
Adductor longus

Origo : Anterior aspec of pubis


Insersio : Linea aspera along middle 1/3 femur
Adductor brevis

Origo : Inferior ramus of pubis


Insersio : line lesser trohanter to linea aspera, upper portion of linea aspera
Pectineus

Origo : pectineal line of pubis


Insersio : Line from lesser trohanter to linea aspera
Gracilis
Origo : Body and ramus of pubis
Insersio : proksimal aspecct of medial surface tibia

5. Medial rotasi

Tensor facia latae

Gluteaus minimus

Gluteus medius
6.

Lateral rotasi
Piriformis

Origo : anterior suface sacrum, sacrotuberous ligament


Insersio : Freater trohanter femur
Gemellus superior

Origo : iscial tuberositas


Insersio : Greater trohanter femur
Obturator internus :

Origo : Obturatory membran dan forament, inner surface of pelvis, inferior rami of pubis dan ischium
Insersio : greater trohanter femur
Obturator Eksternus :

Origo : rami of pubis dan ischium, outer surface of obturatory membran


Insersio : Greater trohanter femur
Quadrratus femoris

Origo : ischial tubrosity


Insersio : quadrate tuberosity femur
2.3. Austin-moore Prothesis
2.3.1 Definisi Austin-Moore Prothesis
Austin Moore Prothesis adalah operasi dengan mengganti atau memindahkan hanya satu dari
permukaan sendi dengan bentuk yang sama, sedangkan pada fraktur collum femur yang diganti adalah
caput femur. Dengan cara memasukkan batang protese kedalam saluran tulang sumsum (medularycanal)
dari tulang femur, biasanya juga menggunakan semen sebagai fiksasi sehingga permukaan sendi yang
normal tidak terganggu.
2.3.2. Indikasi Pemasangan Austin-Moore Prothesis
1. Kondisi Lokal
a. Trauma akut seperti: Fraktur sub capital
b. Trauma terdahulu (fraktur, dislokasi yang tidak direduksi atau reposisi )
c. Infeksi arthritis (Pyogenic)
d. Artritis seperti remathoid dan osteoartrosis
e. Tuberculosis sendi Hip
f. Tumor Jaringan lunak sebagaimana atau menyeluruh
Indikasi yang mutlak seperti :
a. Kekakuan kedua sendi Hip
b. Keterbatasan salah satu fungsi tungkai karena nyeri dan kaku pada sebagaimana atau seluruh sendi
(multiple stiff Joint)
2. Kondisi Umum
Luasnya nyeri, gerak dan keterbatasan fungsi atau mungkin ketiganya dan salah satunya menjadi
pertimbangan operasi.
2.3.3. Kontra Indikasi Operasi Austin-Moore Prothese
Sepsis yang tersembunyi atau laten adalah kontra indikasi utama terhadap pergantian sendi.
Arthroplasti yang terinfeksi merupakan bencana. Pasien dibawah usia 60 Tahun dipertimbangkan hanya
kalau operasi lain tidak dapat dilakukan.
2.3.4. Tata Pelaksanaan Operasi Austin-Moore Prothesis
1. Letak sayatan (incision)
2. anterolateral : antara tensor fasia latae gluteus
3. Posterolateral : melalui bagian belakang kapsul
4. Lateral : dengan charnley mendekati trocahnter mayor memotong dan fiksasi dengan wire
5. Caput femur dipindahkan dan diganti dengan protese
6. Fiksasi dengan semen atau jiak keseluruhan tulang telah tanpa menggunakan semen, tapi dengan pressfit fiksasi.
2.3.5. Komplikasi Post Operasi Austin-Moore Prosthesis
1. Dislokasi

a.
b.
2.

3.
4.

5.

6.

7.

8.

9.

Posisi terpenting yang sering terjadi dislokasi tergantung sayatan operasi :


Anterolateral dan lateral : Hip dislokasi apabila ekstensi berlebihan, eksternal rotasi dan adduksi atau
kombinasi dari ketiganya.
Posterolateral : Hip dislokasi apabila fleksi berlebihan, internal rotasi dan adduksi atau kombinasi dari
ketiganya.
Pembendungan (wear)
Bahan yang dapat menyebabkan pembendungan adalah bahan pits dan holes atau penggalan dari
runtuhan serpihan dari bahan dengan pengulangan beban pada permukaan.
Trombus Vena
Banyak kasus program prophylactic warfirin atau aspirin memberikan resiko penggumpalan vena.
Fraktur
Fraktur dapat terjadi pada bagian distal sampai dengan ujung bawah batang protese atau pada
bagian bawah dari batang dapat menonjol keluar melalui dinding lateral dari femur.
Nyeri pada Post Operasi.
Nyeri dapat terjadi pada daerah yang telah dilakukan operasi yang timbul karena adanya bekas luka
sayatan operasi.
Kegagalan
Pada operasi total Hip replacement yang dilakukan 0,5 1 % mengalami kegagalan (Dandy 1993).
Penyebab dari ini adalah kehilangan (loosening) atau karena infeksi dalam (deep infection).
Infeksi
Infeksi dapat terjadi pada tiap saat setelah operasi dilakukan, walaupun operasi telah mendapatkan
penanganan (pencegahan dini untuk mencegah agar infeksi tidak terjadi). Infeksi sekunder dapat
menyerang bagian tubuh yang telah ataubekas di operasi.
Oedema
Oedema dapat terjadi pada saat setelah operasi dilakukan, karena adanya bekas luka sayatan
operasi yang dapat menyebabkan terganggunya sirkulasi darah.
Kekuatan Otot
Biasanya terjadi karena bagian hip yang dioperasi jarang sekali digerakan sehingga otot yang berada
disekitarnya menjadi tidak berkontraksi atau beraktifitas jika terus didiamkan akan mengakibatkan atropi
dan kekuatan dari otot tersebut menjadi berkurang.