Anda di halaman 1dari 4

Pengalaman OSP 2015 kedua kalinya

(by Maman Rukmana)

Rabu dan Kamis pada tanggal 18-19 Maret 2015 lalu saya mengikuti OSP
(Olimpiade Sains Nasional Tingkat Provinsi ) Jawa Barat 2015 yang bertempat di
BAKORWIL Wilayah II di Kab. Purwakarta. Ini merupakan kedua kalinya saya
mengikuti OSP setelah tahun lalu mengikuti OSP 2014 yang bertempat di Hotel
Bumi Makmur Indah Lembang, Kab. Bandung Barat.
Gagal lolos OSN 2014 membuat saya bertekad untuk OSN 2015.
Alhamdulillah setelah juara OSK, tentunya OSP. Tahu tidak bahwa OSP 2015
dilaksanakan ketika sedang UTS. Sempat bingung juga, tapi Alhamdulillah bisa
diatasi. Sehari sebelum saya berangkat ke Purwakarta, pada hari Selasa, 17 Maret
2015 saya diberi motivasi dari Pak Entris dan Pak Yayat serta diberi penjelasan lebih
lanjut mengenai teknis pemberangkatan dan diberi seragam OSP Kab. Cirebon
2015.
Keesokan pagi harinya, saya diantar Pak Heru ke Disdik Kab. Cirebon. Setelah
menunggu lama, akhirnya saya, Alfie Muharram (Astronomi-SMAN 1 Sumber),
Angga Kresnabayu (Komputer-SMAN 1 Submer), Pak Widodo (SMAN 1 Sumber), Pak
Sardi dan Pak Teddy (Disdik Kab. Ciebon) berangkat menuju Purwakarta.
Dalam perjalanan menuju Purwakarta, kami sempat tersesat karena Google
Maps dan petunjuk orang sekitar yang bertolak belakang. Jadi, siapa yang salah?
Namun, setelah bertanya kepada Polsek kami dapat melanjutkan perjalanan menuju
arah yang benar. Dan kocaknya, setiap belokan, baik Pak Widodo, Pak Sardi maupun
Pak Teddy selalu bertanya kepada orang sekitar. Mungkin karena takut tersesat lagi.
Terhitung ada sekitar 10 kali bertanya. Banyak kan? Iyalah kan ada pepatah, malu
bertanya sesat dijalan.
Sektiar pukul 14.00 kami sampai di lingkungan BAKORWIL tepatnya di salah
satu hotel yang tak jauh letaknya dari Aula Gedong Sigrong tempat OSP
berlangsung. Kami langsung menuju lantai dua, untuk check ini, namun ternyata
kontingen hari pertama masih berada di Aula Gedong Sigrong dan SMAN 1
Purwakarta. Lama menunggu, mereka datang. Ya, diantara meraka ada yang saya
kenal, diantaranya adalah Zuhdina Sabiqoh (Matematika) dan Evan Febriyantoro
(Biologi) yang keduanya dari SMAN 1 Sumber. Tak lupa, diantara mereka ada anak
dari SMAN 1 Babakan, Yudha Pradana (Biologi). Saya dan Yudha pun asyik
mengobrol tentang masa-masa SMP.
Setelah kontingen hari pertama siap untuk check out, kami pun saling
berjabat tangan. Dan kontingen hari kedua check in. Saya sekamar dengan Alfie
dan Angga. Jadwal semenjak check in sampai esok hari adalah free. Jadi bebas

melakukan apa saja. Saya lebih memilih untuk merefresh ulang soal-soal yang lama
telah dipahami, sedangkan Alfie dan Angga lebih memilih untuk bersantai-santai
melihat pertandingan Persib.
Lanjut pada tanggal 19 Maret 2015 sekitar pukul 3 pagi, saya terbangun dari
tidur dan langsung mempersiapkan diri untuk tes OSP. Setelah sholat dan sarapan
pagi, kami beres-beres barang bawaan karena setelah tes akan langsung pulang.
Tujuannya biar simple dan tidak ribet.
Eits, sebelum berangkat menuju tempat tes Aula Gedong Sigrong (Astronomi,
Komputer dan Kebumian) dan SMAN 1 Purwakarta (Ekonomi dan Geografi), tentunya
kami berfoto-foto terlebih dahulu di depan hotel. Setelah puas berfoto-foto, kami
berjalan menuju tempat tes karena letaknya yang dekat. Suasana jalannya indah
diiringi dengan danau buatan dan patung-patung.
Saat sampai di tempat tes, kami registrasi ulang untuk ditukar dengan ATK.
Biasa, namanya juga OSP. Dan jreng, Saya dan Alfie sempat kebingungan mengenai
tempat duduk, karena astronomi, komputer dan kebumian disatu ruangankan tapi
dipisah. Setelah dibantu pihak Dinas Provinsi Jawa Barat, akhirnya kursi dengan
nomor 30 ditemukan. Baru duduk di kursi seperti mahasiswa saja sudah terasa
atmosfer olimpiade sains yang sesungguhnya. Luar biasa.
Disitu saya melihat para calon scientis muda dari kabupaten dan kota lain.
Rata-rata memang memakai kacamata dan kelihatannya mereka adalah jenius.
Namun, itu tidak membuat saya jatuh. Malah membuat saya semangat di OSP
tahun ini.
Lama menunggu dengan berkhayal bahwa soal OSP tahun ini semakin
berkualitas dan semakin sulit serta ada feeling soal kosmologi. Luar biasa jika OSP
tahun ini ada soal kosmologi. Bagi saya, kosmologi adalah cabang ilmu astornomi
yang paling horror. Kenapa? Karena di kosmologi kita mempelajari alam semesta
baik dari isi, struktur maupun evolusi. Dan di kosmologi jelas ada relativitas yang
menjadi fundamental untuk Frieddmann Equation dan Einstein Field Equation. Tak
lupa, dalam kosmologi kita mempelajari alam semesta dengan model Spatially Flat
Universe, Curvature Only, Matter only, Radiation only dan Lambda only. Tak hanya
disitu saja, kita juga dapat menghitung Radius Curvature of Universe. Betapa
abstraknya kan kosmologi?
Akhirnya pengawas dari Direktorat Pembinaan SMA dan Dinas Pendidikan
Provinsi Jawa Barat membagikan biodata LJK bolak-balik. Hal yang paling
membosankan karena untuk mengisi biodata LJK ini memerlukan waktu sekitar 40
menit. Bayangkan betapa harus sabarnya! Setelah lama mengisi bidoata LJK,
pengawas menjelaskan bahwa hanya Kebumian yang diperbolehkan menggunakan
kalkulator. Lah, Astronomi bagaimana? Bisa-bisa abstrak hasilnya kalau tanpa
kalkulator. Spontan saya langsung interupsi kepada salah satu pengawas mengenai
penggunaan kalkulator boleh untuk bidang Astronomi. Lalu pengawas membacakan

lagi-lagi, hanya Kebumian yang diperbolehkan menggunakan kalkulator. Spontan


ruangan menjadi gaduh karena ulah seluruh anak Astronomi termasuk saya sendiri.
Akhirnya, setelah mempertimbangkan dengan pengawas lain, Astronomi boleh
menggunakan kalkulator.
Kegaduhan telah usai, saatnya mengisi identitas di lembar jawaban yang
telah dibagikan oleh pengawas. Dan lembar soalpun dibagikan. Saya langsung
melihat-lihat 20 soal PG maupun 7 soal Essay. Dan saya tersenyum saat itu, karena
soalnya sedang. Tidak terlalu sulit dan mudah. Soal PG memang membutuhkan
analisa dan logika yang kuat. Tapi, Alhamdulillah PG saya yakin benar 14 dari 20
soal. Mengapa hal itu bisa terjadi? Ada metode untuk olimpiade sains bidang
astronomi. Apa sajakah itu? Pertama, jawaban sudah ada di soal. Kedua, cari angka
yang mendekati dan masuk logika. Dan ketiga, mulai berimajinasi dan berfikir
maximal jika ada gambar maupun grafik. Bagaimana untuk soal essay?
Alhamdulillah dari 7, 5 soal diselesaikan dengan lancar serta 2 soal tentang okultasi
Juptier dan sistem bintang ganda dijawab dengan nyampah, haha karena saat itu
udah mentok. Setelah 3,5 jam (waktu terlama dari pada bidang lain) mengerjakan
soal tes OSP. Kami pun keluar ruangan. Tetapi, kemana para pendamping? Saya,
Alfie dan Angga saat itu seperti anak hilang. Ya sudah, kami memutuskan untuk
memakan makanan dan snack yang dibagikan saat tes berlangsung. Setelah makan
dan berhasil menemui para pendamping, kami melanjutkan untuk duduk santai di
persimpangan jalan karena ada pendamping lain sedang bersantai. Tak lama
kemudian, kami pulang menuju Kab. Cirebon kembali dengan optimis yang tinggi
bagi saya.
Lanjut pada 8 April 2015, pengumuman peserta OSN 2015. Setelah
mendownload berkas surat pemanggilan OSN 2015 yang diupload oleh Direktorat
Pembinaan SMA, dengan deg-degan setelah membaca surat, akhirnya lampiranlampiran peserta OSN. Namun, nama saya tidak tercantum seperti pengumuman
perserta OSN 2014 lalu. Yang berhasil lolos dari Jawa Barat adalah Idan Ramdan,
Nalendra Faraj, Narendra Putra, M. Dino Wibosono, Husnul Maab dan Aldi Alfarizi.
Tetapi, saya sama sekali tidak sedih dengan hasil ini. Mengapa? Karena saya sering
ikut lomba, sehingga menang atau kalah adalah suatu hal yang biasa. Dan yang
membuat saya tetap tersenyum dengan hasil ini adalah perjuangan saya selama ini
yang sangat berharga.
Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, dan terimakasih sebesar-besarnya
kepada semua pihak baik kedua orang tua, keluarga di rumah, keluarga SMA Negeri
1 Lemahabang, Hammam, Ka Via dan Ka Rizki. Semoga kisah OSP ini bermanfaat
dan dapat dijadikan motivasi bagi para generasi penerus saya di olimpiade sains
khususnya di Bidang Astronomi, Tak lupa, semoga SMA Negeri 1 Lemahbang
menjadi lebih berprestasi lagi di OSN, amin In everytime, I always learn and
reading everything about astronomy. Because astronomy is my life.

Ketika kita sudah melakukan perjuangan dan pengorbanan yang maksimal, maka
tentu kita akan tersenyum dan bahagia tanpa rasa sedih walau hasilnya tidak
sesuai harapan. Karena perjuangan itulah yang membuat kita selalu dalam keadaan
baik. Maman Rukmana, SMA Negeri 1 Lemahabang