Anda di halaman 1dari 12

REVIEW KOMIK KOLONI #9 - TIAP DETIK

May 21, 2015 at 9:39am


Sebagai pembaca, tak ada salahnya lah saya mencoba-coba mereview komik.

Saya tidak menjanjikan bahasan yang tidak bias, tapi akan saya usahakan seobyektif mungkin
dalam membahas sebuah judul. Saya tidak akan memberi nilai. Saya hanya akan membahas poin
yang menonjolkan judul tersebut.

TIAP DETIK
Pengarang: Renato Reimundo Jr.
Rating: 13+
Bagusnya: Kekonsistenan untuk mengerjakannya. Bisa terbit.(?)
Buruknya: Pengkarakterisasian, dialog, alur cerita, dan tentu saja, gambar(!)
Genre: Drama Romantis, Slice of Life, Harem, Komedi
Publisher: KOLONI

Cerita:

TD bercerita soal bagaimana kesalahpahaman seorang Siswa SMU bernama Teo yang alih-alih
mengirimi surat cinta kepada seorang siswi tuna daksa bernama Riya, malah salah kirim ke
temannya yang terkenal sebagai Ratu Es paling judes di sekolah bernama Erina.
Kesalahpahaman pun berlanjut sehingga Teo sendiri bingung bagaimana akan bersikap. Apakah
dia akan melanjutkan kebohongan statusnya atau dia akan meluruskannya?

Bahasan:

.................................. mari wa permudah jalan ceritanya dalam skala spoiler paling mudah
dibaca.

1) Teo salah kirim surat cinta melalui loker sepatu sehingga keburu dibaca oleh ratu judes
sekolah bernama Erina. Yang dia incar adalah Riya, gadis tuna daksa yang ramah nan baik hati.
Di tengah usahanya menarik surat cinta, dia mendadak berurusan dengan gang terong dan
membereskan mereka secara instan, sehingga dia dinobatkan menjadi ketua geng sekolah.
Komplit khan?

2) Perversi kamar mandi dimana Erina dan Riya bercurhat ria sementara Teo menutup wajahnya
dengan celana terbalik karena takut ketahuan. Bagaimana Teo bisa masuk kamar mandi wanita
yang harusnya JELAS tempatnya? ENTAH.

3) Lagi ada ujian yang susah ditangani Teo dkk, tapi berkat surat Erina yang disalah-kira Teo jadi
surat kiriman Riya, Teo bersemangat mengalahkan sang juara kelas. Apakah nilainya jadi bagus?
ENTAH.

4) Pesan kertas penyemangat yang dijanjikan sebagai kencan dan disalahtanggapi Teo akhirnya
malah jadi Teo jalan-jalan dengan Riya. Bagus sih. Senang dong? Erina gimana? Ditinggal tanpa
pesan? ENTAH.

Ye
eeey, saingan Gary Stu pirang SisCon yang serba sempurna. Mana jeritannya, kaum cewek?

5) Mendadak kakaknya Erina datang ngasih tahu kalau Erina harus pindah ke Eropa. Teo yang
kebetulan kesana akhirnya ngaku dia pacarnya Erina biar dia nggak jadi pergi. Lho, Riya-nya
gimana? Perasaannya dia sendiri ke Erina gimana? ENTAH.

6) Jadi untuk mencegah Erina pergi ke Eropa, teman-temannya langsung mengajukan ide untuk
membuat dia tidak jadi pindah. Teo kemana? ENTAH. Dia ngawatirin Riya bakal ditindas dan

disuruh pergi karena angan-angan kegeerannya dan akhirnya jadi bumerang bahwa ternyata dia
yang ditunjuk menjadi penjaga Erina. Komplit deh kesalahpahamannya.

7) Kakaknya diberitahu bahwa ayahandanya merestui adindanya untuk tetap tinggal di sana.
Jadilah dia melamar menjadi guru disana. HAH? DIA SUDAH TUA TOH? Bukannya wajahnya
seumuran Teo? ENTAHLAH MENEKETEHE!

BERSAMBUNG

TAMBAHAN
a - flashback Riya yang niat bunuh diri menjelang smp tapi ditolong dengan gagahnya oleh Teo
yang berandalan
b - seputar gadis penggemar alien teman Erina dan Riya yang mungkin nanti bakal bisa satu jadi
jalur NTR.
c - omake ketua geng terong yang nggak penting tapi ada adegan yang sangat penting dalam
chapternya.

Ehm... Pembahasannya, Pus?

O... oh, oke! Mulai dari mana pembant... pembahasannya?

Beberapa hal yang perlu diingat. Wa nggak akan membahas apakah ini apakah ini komik
Indonesia atau bukan. Wa ngga akan membahas kenapa si Erina rambutnya pirang atau twin tail.
Wa ngga akan menanyakan kenapa di iklim Indonesia yang anget ini Riya masih make sarung
tangan. Nggak. Ini komik bikinan orang Indonesia berbahasa Indonesia yang diterbitkan di
Indonesia. Ngerti? Bagus.

TAPI, dimohonlah kepada komikusnya untuk kejelasan setting. Riset. Plis, riset. Ini beneran mau
ngambil setting di Indonesia apa Jepang? Karena sepanjang wa sekolah, wa ngga tahu apa ada
yang punya loker sepatu mewah begitu sampai bisa kasus ketukeran surat. Kalo tempat sepatu
mushalla, masih bisa dimaklumi. Ini loker sepatu yang minimal kamu tahu si anu loker
sepatunya mana, di Indonesia nggak ada. Terus klab tenis. KLAB. TENIS. Ada ngga ya sekolah
privat Indonesia yang segitu mewah dan borjunya sampe ada klab tenis sendiri? Kalau memang
mau Jepang sepenuhnya, ngga pa-pa. Sok. Silakan. Terserah. Tapi tolonglah, buat apa kamu
kasih tokohnya baju OSIS kalo setting sekolahnya ngga believable di Indonesia? Oke? Kenapa
BG-nya kayaknya cuman template manga studio? Apa memang capek digambar sendiri ya? Tapi
yah gimana ya, itulah kerja, itulah riset, itulah mengamati gedung yang settingannya di Indonesia
kayak apa. Oke?

Dan kamu tahu? Kasus salah kirim surat cinta bisa diawali dengan SALAH NARUH SURAT DI
LACI karena ada sistem PERGANTIAN MEJA/BANGKU. Kelihatan lebih wajar, karena di
Indonesia, kamu bisa tukaran bangku. Kelihatan lebih wajar. Bisa juga SALAH TARUH SURAT
DI TAS/BUKU, apapunlah! Mesti ya loker sepatu?!

Kemudian, soal pengkarakterisasian. TOKOH UTAMANYA BRENGSEK! Ngga bisa


disimpatikan. Oke, dia simpati dan naksir sama seorang gadis ramah yang tuna daksa, itu nggak
masalah. Tapi seenaknya ngeloyor dan ninggalin si cewek tanpa ngomong ba-bi-bu tanpa
ngelurusin perkara, dan konyolnya yang namanya ratu es ini cuman bisa ngomong TSUNDEREMODE?! Itu bukan pengkarakterisasian namanya, tapi maksa.

Dan coba wa ingatin dalam dua adegan. Satu, adegan dia mau kencan dia capek-capek nyari tips
lewat ponsel. Oke? Nah, kemudian adegan dia SKYPE-an sama bapaknya dengan temantemannya. Canggih ya? Oke. KENAPA DIA NGGAK KONFIRMASI JANJI KENCAN
MINIMAL PAKE SMS?! Setidaknya ada konfirmasi dari Riya lewat LINE kek, kayak, "Eh gua
jalan sama cowok lu, mau nyusul nampar dia disini nggak?". Wa sebagai penulis cerita drama aja
harus tahu gimana orang mikir pada posisi tertentu. Bahkan wa harus dibantu ilustrator untuk
tahu sudut pandang tertentu pengkarakterisasian sebuah tokoh sehingga wa sadar dan kadang
harus mengubah jalur cerita biar berasa wajar dan nggak maksa. Bukannya cerita ini ngga punya
potensi buat jadi bagus tapi harusnya kamu punya semacam beta-reader buat merembukkan ide
cerita. Dalam komik ini berasa banget kalau kamu berasa sangat ingin ini cepat selesai dengan
ide yang masih mentah.

Jujur, kalo di manga harem yang wa baca, suasana yang wajar terbangun tidak hanya dalam satu
chapter, tapi LEBIH bahkan sampai tiga sampai empat tankohbon (tergantung populernya komik
itu apa enggak sih). Itu namanya yang membangun suasana dan pengkarakterisasian sehingga

kamu bisa bersimpati ataupun menyukai cewek-cewek yang ada di dalam manga itu. Mereka
punya karakter yang kalau ditarik keluar dari cerita bakal bikin pembaca kehilangan. Apa yang
membuat dia bisa dikangenin sama teman-temannya itu yang harusnya dieksplorasi lebih jauh.
Kamu suka sebuah karakter karena dia berbagi cerita dengan teman-teman atau lingkungannya,
BUKAN dari dia blonde twin tail apa nggak.

Coba deh wa ambil sampel. Tahu ToraDora 'kan? Taiga yang benar-benar cewek BITCHy gitu
sebenarnya bagus kalo dia ditendang keluar kurang dari 2 episode. Tapi begitu dia dibangun
karakternya, maka akan ada keterikatan dengan pembaca/pemirsa sehingga ya efeknya dia pergi
jelas berasa. (Wa ngga ngerasa --for obvious reason--, tapi ya wa ngertilah).

Justru yang dibangun itu pengkarakterisasian yang mustahil dibangun hanya kurang dari lima
chapter! Kalo ini, apa yang mau disukai dari cewek bawel nan judes hanya kurang dari sepuluh
chapter? Kalo dia pindah ya minggat sana! Selesai, habis perkara!

...itulah masalahnya kalo kamu ngerancang cerita macam ini hanya dalam satu tankohbon. Kamu
terlalu cepat untuk membuatnya. Dan BTW, iya wa tahu soal guyon "Ini sudah teruji di IPB dan
ITB". Tapi keseringan dipake kayak gitu bakal bikin leluconnya cepat basi. Asli, garing! Dan
adegan konyol bukan berarti kamu bisa langsung bikin chibi. NGGAK LUCU!

...oke, wa bukan pembaca komikmu di web. Tapi ya, kalau memang ini aslinya komik web, maka
kamu bisa 'kan ngelihat gimana bedanya bukan dalam penataan alur cerita? Lain kali tolong
pikirkan masak-masak dalam pencanangan ceritanya. Belum dihitung sense penamaan yang...
...akh nggak apa-apa, wa pernah juga terjebak dalam sindrom ngasih nama blasteran. Tapi mbok
ya... gini. Erina, masih bisa. Teo? Oke. KEY FRAS ANGGREK? RIYA MELATI? Oke "Ria
Melati" lebih kena, karena Riya itu bisa disalah artikan sebagai resapan bahasa Arab yang artinya
"PAMER". Ini settingannya Indonesia khan? Bukan sekolah blasteran, khan?

Begini ya, membangun karakterisasi nggak cuma hanya soal bercerita dengan model info dump
lewat omongan dan dialog. Kamu mau membangun karakter Erina? Tunjukkan dengan adegan
bahwa emang dia jago dan lihai bertenis, tapi juga pintar ngajarin orang main tenis! Kamu mau
membangun empati pada karakter Riya? Tunjukkan dengan kemampuan Riya menjahit atau
menyulam hiasan untuk riasan kelas. Kamu mau membangun karakter si cewek occult? Beri dia
si cewek yang jarang ngomong, tapi sekali ngomong itu kena sasaran omongan yang minimal
berguna karena visinya beda.

.
SHOW, DON'T TELL!.
DRAW, DON'T EXPLAIN!.
.
Itulah caranya kamu membangun karakter, tentu pada bab tersendiri, sehingga pembaca bisa
menyukai dan mungkin lebih variatif memilih cewek yang mereka suka! Biar penilaiannya
diserahkan pada pembaca, dan itu tugas kamu sebagai komikus untuk membangunnya!

Selanjutnya apa ya? Oh iya. GAMBAR!

Maunya komik komedi tapi ya...


Mungkin kesalahan bagi wa untuk membaca komik ini karena pada dasarnya yang dijual adalah
sampul. Khas banget deh visual novelnya. Tapi isi gambar di dalamnya? Sekurang-kurangnya
komikus kalau nggambar jender yang nggak dia suka bukan berarti tokoh tambahan itu dibikin
ASAL GAMBAR. Kamu demen nggambar cewek bukan berarti yang cowok bisa diabaikan!
Kita nggak ngomong soal FAP MATERIAL yang karakter cowoknya bisa diabaikan. Kamu
nggambar komik yang masih membutuhkan tokoh cowok, minimal sebagai penghubung cerita.
Kalaupun kamu ngga bisa nggambar cowok detil, gambarlah secara wajar, bahkan tokoh ngga
penting juga jangan dibuat asal gambar dan asal jelek saja!

Sudah jelas mereka tokoh sampingan. Ngapain digambar serius?

Dan adegan aksinya, ya ampun. Nggak. Nggak kena sama sekali. Kamu niat nggambar berantem
nggak. Nggak bisa? Jangan maksa, jangan dimasukkan adegannya, jangan bikin cerita yang
begitu dulu kalau memang nggak mampu. Alih-alih efek dramatis, akhirnya yang kelihat cuman
gambar yang bisa masuk Quality Page-nya FB.
.

Niat berantem nggak sih?.

Dan tolong koreksi wa, yang akan jadi guru di penghujung cerita itu kakaknya Erina bukan?
Kalau iya, dengan tampang gitu bukannya dia harusnya seusia Teo, atau paling setahun dua
tahun lebih tua? Dan kemudian dia mendadak jadi guru dengan tinggi yang... mendadak
'nambah? Konsistensi kamu dalam menggambar itu harusnya dipelihara dulu.

Ap
a?! Mereka orang yang sama? Dan... KEY FRAS ANGGREK? Seriously?! Kalo dibilang "Mas
Pras" masih kena sih...

Ngga adil kalau hanya kamu yang diomeli dalam hal ini. Komiknya juga sudah keburu terbit,
jadi mari ditanyakan kepada penerbitnya; pada editornya selaku wali.

WHAT THE HELL, KOLONI?! Ini bukan kasus sekedar kasus kayak Kind*imaru (walau
bukan keluaran KOLONI) dulu. Tapi juga mirip kasus komik Sweetheart. Kalo boleh ditanyakan,
apa yang menjadi dasar komik ini terbit mungkin bisa menjadi kontroversi, tapi apakah memang
kontroversi yang dicari KOLONI dalam menerbitkan komik Indonesia? Apakah KOLONI mulai
lebih loose dalam kualitas dan lebih memilih sesuatu yang sekedar populer, tanpa quality
control? Oke, coba sekarang terlepas dari apa yang lagi populer, apakah editor benar-benar ingin
meluluskan komik ini (terlepas komik ini sudah terbit atau belum) dengan pertimbangan
kualitas? Seriously?

Editor KOLONI jauh lebih baik dari ini, sih, tapi ini perlakuan yang sepantasnya kok.

Kesimpulan, Pesan-Pesan, dan lain-lain:

Orang bisa bertanya, "Kalau kamu ngga suka komik ini, kenapa dibeli? Bukannya artinya kamu
mendukung?". Mungkin saja artinya wa mendukung perkomikan lokal. Tapi dengan wa membeli
ini artinya wa berhak untuk mengkritik sebagai konsumen. Kalau wa ngga beli, paling juga
ditanyai, "Nggak beli nggak baca aja kok banyak bacot?". Wa sudah beli, dan artinya wa berhak
untuk mengkritik sebagai bentuk "tough love", alias cambuk kasih sayang (level MAX). Komik
ini dibeli bukan hanya karena sampulnya. Wa ngga beli komik hanya untuk melihat sampul
(memang dengan begitu lebih baik nggak usah beli). Ingat: 38000 perak itu BUKAN HANYA
SAMPUL, tapi juga 200-an halaman isinya. Wa sudah menerapkan nilai "JANGAN MENILAI
BUKU HANYA DARI SAMPUL!".

Wa ngga bilang kritik sekedar bashing "kebanyakan moe desain moe tipikal visual novel harem
wannabe" segala macam. Wa ngeritik dengan konten apa yang bisa diperbaiki, dan di luar
dugaan komik ini terlalu banyak yang harus diperbaiki untuk lewat tahap terbit. Wa tahu kalo

dulu wa coba kirim yang kayak gini nggak bakalan lolos! Bahkan komik lain dengan genre
komedi dan humor lainnya pun minimal kestabilitasan gambar bisa dipertahankan. Setidaknya,
itu konsep menggambar komik yang dasar.

Apakah Indonesia akan menjadi sasaran musim "Visual Novel"


wannabe?
Oke, komik ini mungkin populer dalam hitungan web karena sifatnya yang praktis, tapi apa itu
artinya kepopuleran mengalahkan quality control? Kalau memang demikian yah, apa yang bisa
dikatakan, kalau memang kualitas bisa let loose begini, mungkin memang dengan niat siapapun
dan apapun kualitas gambarnya bisa submit kesana, asal populer. Mungkin ini memang
pergeseran nilai, sebagaimana orang ngga bisa protes kenapa lagu Nicky Minaj berjudul
Anaconda bisa sebegitu terkenalnya. Siapa peduli lagunya? Siapa peduli kontennya? Asal
pelakunya seksi, bisa goyang bokong dan fappable dan laku dan terkenal dengan
kontroversialnya, ngga masalah khan?