Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

Kepribadian adalah totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai kehidupan
seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya; kepribadian relatif stabil dan dapat
diramalkan. Gangguan kepribadian adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut yang di luar
rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang.(1)
Gangguan kepribadian dikelompokkan ke dalam 3 kelompok dalam Diagnostic and
Statistical manual of Mental Disorder edisi empat (DSM-IV). Kelompok A terdiri dari gangguan
kepribadian paranoid, schizoid dan skizotipal; orang dengan gangguan ini seriang kali tampak
aneh dan ekstrensik. Kelompok B terdiri dari gangguan kepribadian dissosial, ambang,
histrionik, dan narsistik; orang dengan gangguan ini sering tampak dramatik, emosional dan
tidak menentu. Kelompok C terdiri dari gangguan kepribadian menghindar, dependen dan
obsesif kompulsif dan satu kategori yang dinamakan gangguan kepribadian yang tidak
ditentukan (contohnya adalah gangguan kepribadian pasif-agresif dan gangguan kepribadian
depresif); orang dengan gangguan ini tampak cemas dan ketakutan.(1)
Gangguan kepribadian antisosial adalah ditandai oleh tindakan antisosial atau kriminal
yang terus-menerus, tetapi tidak sinonim dengan kriminalitas. Malahan, gangguan ini adalah
ketidakmampuan untuk memenuhi norma sosial yang melibatkan banyak aspek perkembangan
remaja dan dewasa pasien. Dalam International Classification of Disease revisi ke-10 (ICD-10),
gangguan dinamakan gangguan kepribadian dissosial. (1, 2)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINESI
Gangguan kepribadian antisosial adalah ditandai oleh tindakan antisosial atau kriminal
yang terus-menerus, tetapi tidak sinonim dengan kriminalitas. Malahan, gangguan ini adalah
ketidakmampuan untuk memenuhi norma sosial yang melibatkan banyak aspek perkembangan
remaja dan dewasa pasien. Dalam International Classification of Disease revisi ke-10 (ICD-10),
gangguan dinamakan gangguan kepribadian dissosial. (1, 2)
2.2 EPIDEMIOLOGI
Prevalensi gangguan kepribadian antisosial adalah 3 persen pada laki-laki dan 1 persen
pada wanita. keadaan ini paling sering ditemukan pada daerah perkotaan yang miskin dan di
antara penduduk yang berpindah-pindah dalam daerah tersebut. Anak laki-laki dengan gangguan
berasal dari keluarga yang lebih tinggi dibandingkan anak perempuan dengan gangguan. Onset
gangguan adalah sebelum usia 15 tahun. Anak perempuan biasanya memiliki gejala sebelum
pubertas, dan anak laki-laki bahkan lebih awal. Dalam populasi penjara prevalensi gangguan
kepribadian anti sosial mungkin setinggi 75 persen. Suatu pola familial ditemukan di mana
gangguan lima kali lebih sering sering pada anak saudara derajat pertama dari laki-laki dengan
gangguan dibandingkan kontrol.(2)
2.3 ETIOLOGI
Perilaku antisosial berkembang dan terbentuk dari hubungan sosial dalam rumah tangga
yang penuh dengan kekerasan, komunitas masyarakat dan lingkungan pendidikan yang penuh
kekerasan juga ikut mempengaruhi terbentuknya gangguan antisosial. Hal ini akan
mempengaruhi temperamen dan sikap lekas marah pada anak, kemampuan berpikir, keterlibatan
dalam kenakalan remaja, terlibat dalam kekerasan dan kriminalias dan rendahnya penyelesaian
permasalahan. Perilaku antisosial berhubungan erat dengan berbagai bentuk perilaku lainnya dan
masalah perkembangan seperti hiperaktif, depresi, kesulitan belajar dan impulsif.(3)

Kontribusi genetik ikut pula mengambil peran dari penyebab gangguan ini. Penururn
kadar inhibisi perilaku kemungkinan dimediasi gangguan serotonin pada sistem septohipokarpal.
Penyebab lain seperti kelainan sistem otak prefrontal dan penurunan fungsi otonom.(4)
2.4 GAMBARAN KLINIS
Gejala-gejala kepribadian antisosial sudah dimulai pada masa anak (sebelum umur 12-15
tahun). Seorang dewasa yang didiagnosis kepribadian antisosial biasanya pada masa anak
terdapat : pencurian ,tidak dapat dikoreksi (sangat tidak mematuhi, biasanya terhadap orang
tuanya), bolos sekolah, lari dari rumah sampai bermalam, teman-temannya terkenal tidak baik,
pulang kerumah nanti jauh malam, agresi fisik, impulsife, semborono dan tidak
bertanggungjawab, enuresis malam hari, tak ada rasa salah, berdusta patologik (dusta bukan
untuk menutupi atau mengecilkan kesalahan). Pasien gangguan kepribadian antisosial
mengesankan klinisi dengan jenis kelamin yang berlawanan dengan aspek kepribadian mereka
yang bermacam-macam dan menggoda.(5)
2.5 DIAGNOSIS
Gangguan kepribadian ini biasa menjadi perhatian disebabkan adanya perbedaan yang besar
antara perilaku dan norma sosial yang berlaku, dan ditandai oleh:(6)
a) Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain;
b) Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus-menerus (persisten), serta tidak
peduli terhadap norma, peraturan dan kewajiban sosial.
c) Tidak mampu memeliharan suatu hubungan agar belangsung lama, meskipun tidak ada kesulitan
untuk mengembangkannya.
d) Toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang yang rendah untuk melampiaskan.
e) Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman, khusunya dari
f)

hukuman;
Sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan rasionalisasi yang masuk akal,
untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan masyarakat.
Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari di atas.

2.6 DIAGNOSIS BANDING


Gangguan kepribadian disosial dapat dibedakan dari perilaku ilegal dimana gangguan
kepribadian antisosial melibatkan banyak bidang kehidupan seseorang. Jika perilaku antisosial

hanya merupakan manifestasi satu-satunya, pasien dimasukkan dalam kategori DSM-IV kondisi
tambahan yang mungkin merupakan pusat perhatian klinis secara spesifik, perilaku antisosial
dewasa. Dorothy Lewis menemukan banyak orang tersebut memiliki gangguan neurologis atau
mental yang terlewatkan atau tidak didiagnosis. Lebih sukar adalah membedakan antara
gangguan kepribadian antisosial dari penyalahgunaan zat. Jika penyalahgunaan zat maupun
perilaku antisosial dimulai dari masa anak-anak dan terus memasuki kehidupan dewasa, kedua
gangguan harus didiagnosis. Tetapi jika perilaku antisosial

jelas sekuder terhadap

penyalahgunaan alkohol atau panyalahgunaan zat lain pramorbid, diagnosis gangguan


kepribadian antisossial tidak diperlukan.(7)
Dalam mendiagnosis gangguan kepribadian antisosial, klinis harus mempertimbangkan
efek yang mengganggu dari status sosioekonomi, latar belakang, kultural, dan jenis kelamin pada
manifestasinya. Selain itu, diagnosis gangguan kepribadian antisosial tidak diperlukan jika
retardasi mental, skizofrenia atau mania dapat menjelaskan gejala.

(2, 7)

2.7 PENATALAKSANAAN
1. Farmakoterapi
Farmakoterapi digunakan untuk menghadapi gejala yang diperkirakan akan timbul
seperti kecemasan, penyerangan dan depresi tetapi pasien seringkali merupakan penyalahgunaan
zat, obat harus digunakan secara bijaksana. Jika pasien menunjukkan bukti-bukti adanya
gangguan defisit-atensi/hiperaktivasi, psikostimultan seperti methylphenidate (Ritalin), mungkin
digunakan. Harus dilakukan usaha untuk mengubah metabolisme katekolamin dengan obatobatan dan untuk mengendalikan perilaku impulsif dengan obat antiepileptik, khususnya jika
bentuk gelombang abnormal ditemukan pada EEG.(1, 2, 7)
2. Psikoterapi
Jika pasien gangguan kepribadian antisosial dimobilisasi (sebagai contohnya,
dimasukkan dalam rumah sakit), mereka sering kali menjadi mampu menjalani psikoterapi. Jika
pasien merasa bahwa mereka berada di antara teman-teman sebayanya, tidak adanya motivasi
mereka untuk berubah menghilang. Kemungkinan karena hal itulah kelompok yang menolong
diri sendiri (self help group) adalah lebih berguna dibandingkan di penjara dalam menghilangkan
gangguan. (2, 3, 7)
Sebelum terapi dimulai, batas-batas yang kuat adalah penting. Ahli terapi harus
menemukan suatu cara untuk menghadapi perilaku merusak diri sendiri pada pasien. Dan untuk

mengatasi rasa takur pasien gangguan kepribadian dissosial terhadap keintiman, ahli terapi harus
menggagalkan usaha pasien untuk melarikan diri dapi perjumpaan dengan orang lain. Dalam
melakukan hal itu, ahli terapi menghadapi tantangan memisahkan kendali dari hukuman dan
memisahkan pertolongan dan konfrontasi dari isolasi sosial dang anti rugi.(2, 3, 7)
2.8 PENCEGAHAN
Karena kemunculan awal diagnosa gangguan kepribadian pada masa remaja, maka
diperlukan intervensi secara dini sebelum terbentuk kepribadian antisosial pada awal masa
dewasa nantinya.(2, 7)
Kurangilah hukuman untuk mengontrol perilaku, penegasan terhadap aturan dan
menerapkan disiplin pada anak, kurangi kesalahan-kesalahan dalam dunia pendidikan terhadap
cara mengajar guru, belajar berbagai permasalahan sosial dan penerapan EQ terutama pada
keahlian interpersonal, konsisten terhadap konsekuensi dari perilaku-perilaku yang buruk, belajar
menghormati orang lain, perbedaan etnis, budaya dan sebagainya.(2, 7)
2.9 PROGNOSIS
Jika gangguan kepribadian antisosial berkembang, perjalanan penyakitnya tidak
mengalami remisi, dan puncak perilaku antisosial biasanya terjadi pada masa remaja akhir.
Prognosisnya adalah bervariasi. Beberapa laporan menyatakan bahwa gejala menurun saat pasien
menjadi semakin bertambah umur. Banyak pasien memiliki gangguan somatisasi dan keluhan
fisik multipel. Gangguan depresif, gangguan penggunaan alkohol dan penyalahgunaan zat laiinya
adalah sering.(2, 3)

BAB III
KESIMPULAN

Gangguan kepribadian antisosial secara klinis merupakan gangguan karakter kronis seperti
sifat menipu, pemaksaan dan cenderung berlawanan dengan orang-orang secara umumnya.
Penderita gangguan kepribadian antisosial ini pada umumnya adalah perilaku kriminal. Individu
pengidap gangguan kepribadian antisosial kurang peduli dengan moralitas dan standar hukum
yang berlaku di dalam masyarakat, bahkan mereka cenderung untuk melawan hukum-hukum
sosial yang berlaku. Perilaku antisosial berkembang dan terbentuk dari hubungan sosial dalam
rumahtangga yang penuh dengan kekerasan, komunitas masyarakat dan lingkungan pendidikan
yang penuh kekerasan juga ikut mempengaruhi terbentuknya gangguan antisosial. Hal ini akan
mempengaruhi temperamen dan sikap lekas marah pada anak, kemampuan berpikir, keterlibatan
dalam kenakalan remaja, terlibat dalam kekerasan dan kriminalias dan rendahnya penyelesaian
permasalahan. Perilaku antisosial berhubungan erat dengan pelbagai bentuk perilaku lainnya dan
masalah perkembangan seperti hiperaktif, depresi, kesulitan belajar dan impulsif.

DAFTAR PUSTAKA
1.
Smallwood P. Personality Disorder. Massachusetts General Hospital Psychiatry Update
and Board Preparation. Massachusetts: Mc graw-hill; 2000. p. 187-92.

2.
Kaplan, Shadock. Gangguan Kepribadian. Sinoposis Psikiatri. Edisi Ketujuh. New York,
USA: the Univ. of the new York Univ. medical Centre; 2003. h. 253-5.
3.
Kay J. Personality Disorder. In: Tasman, Kay, Lieberman, editors. Phychiatry behaviour
Science and Clinical Essential. Philadelphia: W.B. Saunders Company; 2000. p. 485-8.
4.
Bienenfeld D. Personality Disorder. Wright State, USA; 2006 [cited 2010 16 Februari
2010]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/294307-overview.
5.
Maramis Willy F. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press; 2005. h.
293-5.
6.
Association WH. Mental and Behaviour Disorder. New York, USA; 2006 [cited 2010 16
Ferbuari 2010]. Available from: http://apps.who.int/classifications/apps/icd/icd10online/.
7.
Puri BK. Personality Disorder. Textbook of Psychiatry. London, UK: Churchill
Livingstone; 2002. p. 304-7.