Anda di halaman 1dari 14

A.

Latar Belakang
Cacing pita, taenia solium kebanyakan merupakan parasit yang mana pada
tingkat dewasanya hidup dalam saluran pencernaan manusia. Spesies lain yang
hampir mirip adalah taeniarinychus (taenia) saginata yang juga merupakan
parasit pada manusia. Setiap cacing pita dewasa merupakan flatform yang terdiri
dari sebuah kepala sebagai holdfast organ. Scolex dan sebagian besar tubuhnya
disusun oleh segmen-segmen dalam garis lurus yang berentet. Hewan ini melekat
pada dinding saluran pencernaan inangnya menggunakan alat pelekat dan
penghisap yang ada pada scolexnya, bagian belakag scolex disebut leher dengan
ukuran yag pendek yang diikuti oleh sebuah benang proglotid dimana ukurannya
secara berangsur-angsur bertambah dari anterior dan berakhir pada posterior.
Cacing ulat panjangnya mungkin mencapai 1 kaki dan mengandung 800-900
segmen. Sejak itu proglotid tumbuh dari leher posterior dan berakhir setelah
sangat tua. Proglotid yang dihasilkan mungkin sebanding dengan pembentukan
ephyrae oleh scyphistom, aurelia dan disebut dengan strobilisasi.
Anatomi dari cacing pita ini disesuaikan dengan kebiasaannya sebagai parasit,
dimana dia tidak punya saluran pencernaan sehingga makanannya akan langsung
diserap

oleh

dinding

tubuhnya.

Sistem

syarafnya

mirip

dengan planaria dan faciola hepatica tetapi tidak berkembang dengan baik
Saluran pengeluarannya membujur, bercabang dan berakhir didalam sel api.
Ujung posteriornya terbuka sehingga zat-zat sisa langsung di eksresikan keluar
tubuh.
Setiap lembar segmen pada cacing pita dewasa hampir semua memiliki organ
reproduksi. Spermatozoa mula-mula dalam spherical testis yang mana tersebar
dan dibentuk terus pada setiap segmen yang dikumpulkan dalam sebuah tabung
kemudian di bawa ke genital pori melaui vas deferens. Telur berasal dari ovari
yang didorong masuk kedalam saluran rahim. Dimana nantinya telur tersebut
masuk pada proses pembuahan oleh spermatozoa yang mungkin datang dari
proglotid yang sama dan turun pada vagina seperti proglotid tua. Uterus menjadi
di gembungkan dengan telur dan dikirimkan pada cabang yang mati, dimana
1

organ reproduksinya istirahat pada saat diserap. Ketika proglotid matang maka
proglotid tersebut akan dihancurkan dan dikeluarkan bersama feces.
Telur pada taenia akan berkembang menjadi embrio dengan 6 alat pelekat
ketika ada diluar segmen. Jika mereka dimakan oleh babi mereka akan masuk
kedalam saluran pencernaannya kemudian akan berkembang biak didalam tubuh
babi tersebut, dimana larvanya akan dikeluarkan bersama dengan feces.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian cestoda ?
2. Pengertian dan siklus hidup taenia saginata & taenia solium?
3. Bagaimana daur ulang?
4. Apa patologi dan gejala klinis taenia saginata & taenia solium?
5. Apa diagnosis dan bagaimana pemeriksaan laboratorium?
6. Apa dampak terhadap kesehatan?
7. Apa pengobatan dan pencegahan?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian cestoda
2. Untuk mengetahui pengertian taenia saginata & taenia solium
3. Untuk mengetahui daur ulang
4. Untuk mengetahui patologi dan gejala klinis pada taenia saginata & taenia
solium
5. Untuk mengetahui diagnosa dan pemeriksaan laboratorium
6. Untuk mengetahui dampak terhadap kesehatan
7. Untuk mengetahui pengobatan dan pencegahan

BAB II
PEMBAHASAN

Cestoda adalah salah satu klass dari phyllum Plathyehelminthes, yang


merupakan salah satu kelompok parasit pada ikan dan juga pada manusia. Parasit ini
menyebabkan kerugian secara ekonomi terutama pada penurunan kualitas hasil

perikanan, dan dapat merugikan kesehatan manusia. Studi tentang parasit cestoda
pada ikan yang berhubungan dengan siklus hidupnya dan kesehatan manusia telah
banyak dilakukan di negara maju yang berada di daerah sub tropis.
Taenia saginata atau cacing pita sapi baru dapat teridentifikasi secara jelas setelah
pada tahun 1782 berkat Goeze dan Leuckart. Pada saat itu diketahui adanya
hubungan antara infeksi cacing Taenia saginata dengan larva sistisercus bovis yang
ditemukan pada daging babi dan daging sapi. Hospes definitive dari cacing pita
Taenia saginata adalah manusia, sedangkan hewan memamah biak dari keluarga
Bovidae, seperti sapi dan kerbau adalah hospes perantaranya . Nama penyakitnya
disebut taeniasis Taenia saginata . Taenia saginata bersifat kosmopolit. Paling banyak
terdapat di daerah Afrika, Timur Tengah, Eropa Barat, Meksiko dan Amerika Selatan .
Ukuran cacing ini tergolong dalam kategori besar. Ukuran tubuhnya yang panjang
dapat mencapai 4 s.d. 12 meter. Terdiri dari kepala yang disebut skoleks, leher dan
strobila yang merupakan rangkaian ruas-ruas proglotid sebanyak 1000 s.d. 2000 buah.
Skoleks hanya berukuran 1 s.d. 2 milimeter, mempunyai empat batil isap dengan otototot yang kuat tanpa kait-kait. Bentuk leher sempit, ruas-ruas tidak jelas dan di
dalamnya tidak terlihat struktur tertentu. Strobilus terdiri rangkaian proglotid yang
teribagi menjadi tiga bagian, proglotid yang belum dewasa (immature), dewasa
(mature) dan yang mengandung telur (gravid). Cacing pita termasuk sub kelas
cestoda, kelas cestoidean, filum platyhelminthes. Cacing dewasanya menempati
saluran usus vertebrata dan larvanya hidup di jaringan vertebrata dan invertebrate.
Bentuk badan cacing dewasa memanjang menyerupai pita. Bentuknya pipih
dorsoventral, tidak mempunyai alat cerna atau saluran askular dan biasanya terbagi
menjadi segmen-segmen yang disebut proglotid yang apabila dewasa nanti, akan
berisi alat-alat reproduksi baik jantan maupun betina. Ujung-ujung bagian anterior
berubah menjadi sebuah alat pelekat, disebut skoleks. Skoleks dilengkapi dengan alat
penghisap dan kait-kait. Spesies penting yang dapat menimbulkan kelainan pada
manusa umumnya adalah: Diphyllobothrium latum, Hymenolepis nana, Echinococcus

granulosus, Echinococcus multilocularis, Taenia saginata, dan Taenia solium.Sifatsifat umum untuk sub kelas ini antara lain, badan cacing dewasa yang terdiri dari
skoleks, leher dan strobila. Skoleks yaitu kepala yang merupakan alat untuk
melekatkan, dilengkapi dengan batil isap atau dengan lekuk isap. Leher yaitu tempat
pertumbuhan badan. Dan strobila merupakan badan yang terdiri atass segmen-segmen
yang disebut proglotid. Tiap proglotid dewasa mempunyai susunan alat kelamin
jantan dan betina yang lengkap, keadaan ini disebut hermafrodit.

1.1

Pengertian dan Siklus Hidup Taenia Saginata & Taenia Solium


Cacing pita adalah parasit pada manusia maupun hewan ternak. Ada dua jenis
cacing pita yang menjadikan manusia sebagai inang antara maupun inang
permanen:
a. Taenia saginata (cacing pita sapi)
Taenia saginata adalah raksasa di antara
semua

cacing

saginata bisa

parasit.

mencapai

Panjang taenia
meter,

hampir

sepanjang saluran pencernaan manusia dewasa.


Cacing pita ini berwarna putih pucat, tanpa
mulut,

tanpa

anus

dan

tanpa

saluran

pencernaan. Badannya tidak berongga dan


terdiri dari segmen-segmen berukuran 1x1,5
cm. Taenia saginata bisa hidup sampai 25
tahun di dalam usus inangnya.

Siklus hidup Taenia Saginata:


Cacing pita sapi memiliki siklus yang rumit dan berakhir pada
manusia sebagai inang tetapnya. Cacing pita dewasa melepaskan telurtelurnya bersama segmen badannya. Segmen ini bila mengering di udara luar
4

akan melepaskan telur-telur cacing yang dapat termakan oleh sapi saat
merumput. Enzim pencernaan sapi membuat telur menetas dan melepaskan
zigot yang kemudian menembus lapisan mukosa saluran pencernaan untuk
memasuki sirkulasi darah. Dari pembuluh darah, zigot akan menetap di otot
membentuk kista, seperti pada cacing cambuk. Bila daging sapi berisi kista
tersebut dimakan manusia dalam keadaaan mentah atau setengah matang,
enzim-enzim pencernaan akan memecah kista dan melepaskan larva cacing.
Selanjutnya, larva cacing yang menempel di usus kecil akan berkembang
hingga mencapai 5 meter dalam waktu tiga bulan. Selain masalah gizi,
kehadiran cacing pita umumnya menyebabkan gejala perut ringan sampai
sedang (mual, sakit, dll).
b. Taenia solium (cacing pita babi)
Taenia solium (cacing pita babi) adalah cacing pita pipih seperti taenia
saginata yang berwarna putih. Taenia solium adalah kerabat dekat Taenia
saginata yang memiliki siklus hidup hampir sama, namun inang perantaranya
adalah babi. Manusia terinfeksi dengan memakan daging babi berisi
kista Taenia solium. Cacing ini sedikit lebih kecil dari Taenia saginata (3-4 m
panjangnya), tetapi lebih berbahaya. Berbeda dengan Taenia saginata yang
hanya membentuk kista di daging sapi, Taenia solium juga mengembangkan
kista di tubuh manusia yang menelan telurnya. Kista tersebut dapat terbentuk
di mata, otak atau otot sehingga menyebabkan masalah serius. Selanjutnya,
jika tubuh membunuh parasit itu, garam kalsium yang terbentuk di tempat
mereka akan membentuk batu kecil di jaringan lunak yang juga mengganggu
kesehatan. Skoleks taenia solium memiliki 4 pengisap besar dengan dua baris
pengait. Cacing pita dewasa tumbuh menjadi sekitar 6 mm lebar dan 2-7 m
panjangnya, dengan sekitar 800 segmen yang disebut proglotida. Saat cacing
pita tumbuh di usus, proglotida matang yang disebut proglotida gravid akan
dilepas keluar tubuh manusia. Setiap proglotida gravid berisi organ
reproduksi jantan dan betina dan 30-40 ribu rumah telur berisiembrio.Taenia

solium memiliki pola penularan yang sangat mirip dengan taenia saginata.
Manusia adalah inang definitif dengan babi sebagai hospes perantara. Infeksi
pada manusia dimulai dengan mengkonsumsi daging babi mentah atau
2.1

kurang matang yang terinfeksi.


Daur Hidup
Sebuah proglotid gravid berisi kira-kira 100.000 buah telur. Pada saat

proglotid terlepas dari rangkaiannya dan menjadi koyak, terdapat cairan putih susu
yang mengandung banyak telur mengalir keluar dari sisi anterior proglotid
tersebut, terutama jika proglotid berkontraksi pada saat bergerak. Telur-telur ini
akan melekat pada rumput bersama dengan tinja, bila orang berdefekasi di padang
rumput atau karena tinja yang hanyut dari sungai pada saat banjir. Ternak yang
makan rumput ini akan terkontaminasi dan dihinggapi cacing gelembung, karena
telur yang tertelan bersama rumput tersebut akan dicerna dan embrio heksakan
akan menetas di dalam tubuh ternak. Embrio heksakan yang menetas di saluran
pencernaan ternak akan menembus dinding usus, masuk ke saluran getah bening
atau darah dan ikut dengan aliran darah ke jaringan ikat di sela-sela otot untuk
tumbuh menjadi cacing gelembung yang disebut sistiserkus bovis, yaitu larva
Taenia saginata yang terbentuk setelah 12 s.d. 15 minggu.
Bila cacing gelembung yang ada di otot hewan ini termakan oleh manusia,
karena proses pemasakan yang tidak atau kurang matang, maka skoleknya akan
keluar dari cacing gelembung dengan cara evaginasi. Skolek akan melekat pada
mukosa usus halus seperti jejunum. Cacing Taenia saginata dalam waktu 8 s.d. 10
minggu akan menjadi dewasa.
Telur dilepaskan bersama proglotid atau tersendiri melalui lubang uterus.
Embrio di dalam telur disebut onkosfer berupa embrio heksakan yang tumbuh
menjadi bentuk infektif dalam hospes perantara. Infeksi terjadi jika menelan larva
bentuk infektif atau menelan telur. Pada Cestoda dikenal dua ordo, yang pertama
Pseudophyllidea dan yang kedua adalah Cyclopyllidea.
3.1
Patologi dan Gejala Klinis
Telur taenia solium (cacing pita babi) bisa menetas di usus halus, lalu
memasuki tubuh atau struktur organ tubuh., sehingga muncul penyakit
6

Cysticercosis, cacing pita cysticercus sering berdiam di jaringan bawah kulit dan
otot, gejalanya mungkin tidak begitu nyata ; tetapi kalau infeksi cacing pita
Cysticercus menjalar ke otak, mata atau ke sumsum tulang akan menimbulkan
efek lanjutan yang parah.
Infeksi oleh cacing pita genus Taenia di dalam usus biasanya disebut
Taeniasis. Ada dua spesies yang sering sebagai penyebab-nya, yaitu Taenia
solium dan Taenia saginata. Menurut penelitian di beberapa desa di Indonesia,
angka infeksi taenia tercatat 0,823%., frekuensinya tidak begitu tinggi. Namun
demikian, cara penanganannya perlu mendapat perhatian, terutama kasus-kasus
taeniasis Taenia solium yang sering menyebabkan komplikasi sistiserkosis.
Cara infeksinya melalui oral karena memakan daging babi atau sapi yang
mentah atau setengah matang dan me-ngandung larva cysticercus. Di dalam usus
halus, larva itu menjadi dewasa dan dapat menyebabkan gejala gastero- intestinal
seperti rasa mual, nyeri di daerah epigastrium, napsu makan menurun atau
meningkat, diare atau kadang-kadang konstipasi. Selain itu, gizi penderita bisa
menjadi buruk se-hingga terjadi anemia malnutrisi. Pada pemeriksaan darah tepi
didapatkan eosinofilia. Semua gejala tersebut tidak spesifik bahkan sebagian
besar kasus taeniasis tidak menunjukkan gejala (asimtomatik).
Cacing dewasa taenia saginata (cacing pita sapi) biasanya menyebabkan
gejala klinis yang ringan, seperti sakit ulu hati, perut merasa tidak enak, mual,
muntah, mencret, pusing atau gugup. Gejala-gejala tersebut disertai dengan
ditemukannya proglotid cacing yang bergerak-gerak lewat dubur bersama dengan
atau tanpa tinja. Gejala yang lebih berat dapat terjadi, yaitu apabila proglotid
menyasar masuk apendiks, atau terdapat ileus yang disebabkan obstruksi usus
oleh strobilla cacing. Berat badan tidak jelas menurun. Eosinofilia dapat
ditemukan di darah tepi.
Meskipun infeksi ini biasanya tidak menimbulkan gejala, beberapa penderita
merasakan nyeri perut bagian atas, diare dan penurunan berat badan. Kadang4.1

kadang penderita bisa merasakan keluarnya cacing melalui duburnya.


Diagnosis dan Pemeriksaan Laboratorium

Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan ditemukannya cacing di dalam


tinja. Sepotong selotip ditempelkan di sekeliling lubang dubur, lalu dilepas dan
ditempelkan pada sebuah kaca obyek dan diperiksa dibawah mikroskop untuk
melihat adanya telur parasit. Melalui mikroskop memeriksa sample tinja apakah
ada telur cacing parasit, ookista protozoa dan takizoit.
Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan atas anamnesis dan pemeriksaan
laboratorium. Anamnesis: penderita pernah mengeluarkan benda pipih berwarna
putih seperti ampas nangka bersama tinja atau keluar sendiri dan bergerakgerak. Benda itu tiada lain adalah potongan cacing pita (proglotid). Cara
keluarnya proglotid Taenia solium berbeda dengan Taenia saginata. Proglotid
Taenia solium biasanya keluar bersama tinja dalam bentuk rangkaian 56
segmen. Sedangkan Taenia saginata, proglotidnya keluar satu-satu bersama tinja
5.1

dan bahkan dapat bergerak sendiri secara aktif hingga keluar secara spontan.
Pemeriksaan laboratorium
Secara makroskopis (melihat tanpa menggunakan alat), yang diperhatikan
dalam hal ini adalah bentuk proglotidnya yang keluar bersama tinja. Bentuknya
cukup khas, yaitu segiempat panjang pipih dan berwarna putih keabu-abuan.
Pemeriksaan secara mikroskopis untuk mendeteksi telurnya dapat dikerjakan
dengan preparat tinja langsung (directsmear) memakai larutan eosin. Cara ini
paling mudah dan murah, tetapi derajat positivitasnya rendah. Untuk
mendapatkan hasil positivitas yang lebih tinggi, pemeriksaan dikerjakan dengan
metoda konsentras (centrifugal flotation) atau dengan cara perianal swab
memakai cellophane tape.
Jika hanya menemukan telur dalam tinja, tidak bisa dibedakan taeniasis Taenia
solium dan taeniasis Taenia saginata. Agar dapat membedakannya, perlu
mengadakan pemeriksaan scolex dan proglotid gravidnya. Scolex dan proglotid
gravid dibuat preparat permanen diwarnai dengan borax carmine atau trichrome,
kemudian dilihat di bawah mikroskop. Dengan memperhatikan adanya kait-kait
(hooklet) pada scolex dan jumlah percabangan lateral uterusnya, maka dapat
dibedakan spesies Taenia solium dan Taenia saginata. Pada scolex Taenia solium

terdapat rostellum dan hooklet, sedangkan pada Taenia saginata tidak terdapat.
Percabangan lateral uterus Taenia solium jumlahnya 712 buah pada satu sisi,
dan Taenia saginata 15-30 buah.
Ada cara yang lebih sederhana untuk memeriksa proglotid gravid, yaitu
dengan memasukkan proglotid itu ke dalam larutan carbolxylol 75%. Dalam
waktu satu jam, proglotid menjadi jernih dan percabangan uterusnya tampak
jelas. Cara lainnya yang paling sederhana dan gampang dikerjakan ialah dengan
menjepitkan proglotid yang masih segar di antara dua objek gelas secara pelan
dan hati-hati. Proglotid akan tampak jernih dan percabangan uterusnya yang
penuh berisi telur tampak keruh. Pemeriksaan bisa gagal apabila percabang- an
6.1

uterusnya robek dan semua telurnya keluar .


Dampak Terhadap Kesehatan
Cacing pita Taenia dapat menimbulkan penyakit yang disebut taeniasis dan
sistiserkosis. Gejala klinis terbanyak yang dikeluhkan adalah:
Pengeluaran segmen tubuh cacing dalam fesesnya (95%)
Gatal-gatal pada anus (77%)
Mual (46%)
Pusing (42%)
Peningkatan nafsu makan (30%)
Sakit kepala (26%)
Diare (18%)
Lemah (17%)
Merasa lapar (16%)
Sembelit (11%)
Penurunan berat badan (6%)
Rasa tidak enak di lambung (5%)
Letih (4%)
Muntah (4%)
Tidak ada selera makan saat lapar (1%)
Pegal-pegal pada otot (1%)
Nyeri di perut, mengantuk, serta kejang-kejang, gelisah, gatal-gatal
di kulit dan gangguan pernapasan (masing-masing <1%).
Sistiserkosis

menimbulkan

gejala

dan efek

yang

beragam

sesuai

dengan lokasi parasit dalam tubuh. Manusia dapat terjangkit satu sampai ratusan
9

sistiserkus di jaringan tubuh yang berbeda-beda. Sistiserkus pada manusia paling


sering ditemukan di otak (disebutneurosistiserkosis), mata, otot dan lapisan
bawah kulit.Dampak kesehatan yang paling ditakuti dan berbahaya akibat larva
cacing Taenia yaitu Neurosistiserkosis yang

dapat

menimbulkankematian.

Neurosistiserkosis adalah infeksi sistem saraf pusat akibat sistiserkus dari


larvaTaenia

solium.

penyebab stroke baik

Neurosistiserkosis
pada manusiayang

merupakan
muda

faktor

maupun

risiko
setengah

baya, epilepsi dan kelainan pada tengkorak. Sistiserkosis merupakan penyebab


1%

kematian

pada rumah

sakit umum

di Meksiko City

dan

penyebab

25% tumor dalam otak.


7.1

Pengobatan Dan Pencegahan


Cara pengobatan berbagai penyakit parasit usus berbeda, harus memakai obat
cacing menurut resep dokter. Obat-obat untuk memberantas cacing pita dapat
digolongkan menjadi dua, yaitutaeniafuge dan taeniacide. Taeniafuge ialah
golongan obat yang menyebabkan relaksasi otot cacing sehingga cacing menjadi
lemas. Contohnya: kuinakrin hidroklorid (atabrin), bitionol dan aspidium
oleoresin. Pemakaian obat ini mutlak memerlukan purgativa untuk mengeluarkan
cacingnya. Sedangkan taeniacide adalah golongan obat yang dapat membunuh
cacing. Contohnya: niklosamid (yomesan), mebendazol dan diklorofen.
Pemakaian obat ini tidak mutlak memerlukan purgativa.
Tujuan pengobatan taeniasis ialah untuk mengeluarkan semua cacing beserta
scolex-nya dan juga mencegah terjadinya sistiserkosis, terutama pada kasus
taeniasis Taenia solium. Obat-obat yang kini lazim dipakai adalah niklosamid
dan mebendazol. Sedangkan kuinakrin hidroklorid dan aspidium oleoresin
walaupun cukup efektif, tetapi karena bersifat toksik maka sekarang jarang
dipakai. Selain itu, ada beberapa obat tradisional yang cukup ampuh buat
membasmi cacing pita, yaitu biji labu merah dan getah buah manggis muda.

10

Niklosamid hingga saat ini masih dianggap obat paling baik untuk taeniasis
dari segi efektivitasnya. Obat tersedia dalam bentuk tablet 500 miligram. Dosis
dan cara pemberian: 2 gram dibagi dua dosis dengan interval pemberian 1 jam.
Obat harus dikunyah sebelum diminum. Dua jam setelah pemberian obat,
penderita diberi minum purgativa magnesiumsulfat 30 gram untuk mencegah
terjadinya sistiserkosis. Keuntungan dari obat ini ialah tidak memerlukan
persiapan diet ataupun puasa, dan efek sampingnya juga ringan. Namun menurut
pengalaman penulis, efektivitas obat ini akan lebih baik apabila penderita
dipuasakan sebelum meminumnya. Angka kesembuhan tercatat 95% lebih.
Kerugiannya: obat ini tidak beredar resmi di pasaran sehingga sulit didapatkan.
Di samping itu harganya pun mahal.
Agaknya mebendazol merupakah salah satu taeniacide yang mempunyai masa
depan cerah dan kini masih dalam penyelidikan. Mebendazol adalah anthelmintik
berspektrum lebar. Dosisnya 300 miligram dua kali sehari selama tiga hari
berturut-turut. Dua hari setelah pengobatan, penderita diberi minum purgativa
magnesiumsulfat 30 gram, terutama pada kasus taeniasis Taenia solium untuk
mencegah terjadinya sistiserkosis. Menurut beberapa hasil penelitian, angka
kesembuhan tercatat 50 100%. Dilaporkan pula bahwa efek samping obat ini
sangat ringan. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, beberapa peneliti
menganjurkan dosis lebih tinggi (sampai 1200 miligram per hari selama lima
hari). Praktek pengobatan taeniasis dengan mebendazol cukup memuaskan.
Namun beberapa peneliti masih menyangsikan keampuhan mebendazol, bahkan
ada yang melaporkan gagal sama sekali. Dengan demikian, efektivitas
mebendazol pada taeniasis masih perlu diselidiki lebih lanjut (Ketut Ngurah,
1987). Tinja diperiksa kembali setelah 3 dan 6 bulan untuk memastikan bahwa
infeksi telah terobati.
Obat alternative untuk infeksi tenia ada yang dalam bentuk obat alami. Obat
alami atau obat tradisional ini antara lain dengan mengkonsumsi biji labu merah,
biji pinang dan lain-lain.
11

Pencegahan
Cara untuk mencegah agar tidak menderita gangguan yang disebabkan oleh
Taenia saginata antara lain sebagai berikut:

Tidak makan makanan mentah (sayuran, daging babi, daging sapi dan
dagiikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.

Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.

Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan


menjelang makan atau sesudah buang air besar.

Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja
segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak
mencemari sumber air.

Di Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan
pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit
dan mengobatinya dengan obat cacing.

Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke
rumah sakit.

Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama sekali,
tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan telur cacing
akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya diperiksa sekali
mungkin tidak ketahuan, maka sebaiknya secara teratur memeriksa dan
mengobatinya.

12

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Taenia merupakan

salah

satu marga cacing

pita yang

termasuk

dalam Kerajaan Animalia,Filum Platyhelminthes, Kelas Cestoda, Bangsa Cycloph


yllidea, Suku Taeniidae.

Anggota-anggotanya

sebagai parasit vertebrata penting

yang

dikenal

menginfeksi manusia, babi, sapi,

dan kerbau.

13

Cestoda atau cacing pita kebanyakan darinya adalah parasit. Hampir semua
merupakan endoparasit dengan hidup dalam sistem pencernaan pada vertebrata dan
larvanya ada di dalam jaringan vertebrata dan invertebrata. Tidak ada sistem
pencernaan yang didalamnya terdapat termatoda sederhana seperti cacing pita dan
nutrisi diserapnya melalui permukaan tubuhnya. Kebanyakan cacing pita berbentuk
seperti pita dan terdiri dari banyak segmen yang disebut proglotid. Walau
bagaimanapun segmen-segmen tersebut tidak seperti segmen yang terdapat pada
segmen

hewan

tak

bertulang

belakang

yang

lebih

tinggi

tingkatannya,

seperti anelida.Cacing pita dewasa biasanya terdiri atas kepala/scolex, leher yang
pendek, dan deretan proglotid yang disebut strobila.
B.

SARAN

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu saya sangat membutuhkan saran serta kritik dari pembaca agar penulisan
makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Atas perhatiannya saya ucapkan terima
kasih.

DAFTAR PUSTAKA
http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/06/cacing-pita.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Taenia_%28cacing_pita%29
Http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_taeniasisdansistiserkosis.pdf/10_taeniasisda
nsistiserkosis.html
http://totokanaliskesehatan.blogspot.com/2010/05/taenia-saginata.html
http://www.cdc.gov.tw/public/attachment/821314143071.pdf.
http://naganartikel.blogspot.com/2013/04/makalah-cacing-pita.html

14