Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DIARE AKUT

OLEH:
Subhan, S.Kep
NIM 010030170B

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA 2002
0

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DIARE AKUT KARENA INFEKSI

KONSEP MEDIS
Pengertian
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau
setengah cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan
normal yakni 100-200 ml/sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).
Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga
kali sehari. Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat
dalam beberapa jam atau beberapa hari.
Penyebab
Diare akut karena infeksi (gastroenteritis) dapat ditimbulkan oleh:
1. Bakteri : Escherichia coli, Salmonella typhi, Salmonella para typhi A/B/C, Shigella
dysentriae, Shigella flexneri, Vivrio cholera, Vibrio eltor, Vibrio
parahemolyticus, Clostridium perfrigens, Campilobacter (Helicobacter)
jejuni, Staphylococcus sp, Streptococcus sp, Yersinia intestinalis,
Coccidiosis.
2. Parasit : Protozoa (Entamoeba hystolitica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis,
Isospora sp) dan Cacing ( A. lumbricodes, A. duodenale, N. americanus,
T. trichiura, O. velmicularis, S. stercoralis, T. saginata dan T. solium)
3. Virus

: Rotavirus, Adenovirus dan Norwalk.

Penelitian di RS Persahabatan Jakarta Timur (1993-1994) pada 123 pasien dewasa yang
dirawat di bangsal diare akut didapatkan hasil isolasi penyebab diare akut terbanyak
adalah E. coli (38 %), V. cholera Ogawa (18 %) dan Aeromonas sp. 14 %).

Patofisiologi
Sebanyak kira-kira 9-10 liter cairan memasuki saluran cerna setiap hari yang berasal dari luar
(asupan diet) dan dari dalam tubuh sendiri (sekresi cairan lambung, empedu dan sebagainya).
Sebagian besar jumlah tersebt diresorbsi di usus halus dan sisanya sebanyak 1500 ml
memasuki usus besar. Sejumlah 90% dari cairan usus besar akan diresorbsi sehingga tersisa
sejumlah 150-250 ml cairan ikut membentuk tinja.
Faktor-faktor fisiologis yang menyebabkan diare sangat erat hubungannya satu sama lain.
Misalnya, cairan dalam lumen usus yang mengkat akan menyebabkan terangsangnya usus
secara mekanis karena meningkatnya volume sehingga motilitas usus meningkat. Sebaliknya
bila waktu henti makanan di usus terlalu cepat akan menyebabkan gangguan waktu
penyentuhan makanan dengan mukosa usus sehingga penyerapan elektrolit, air dan zat-zat
lain terganggu. Bagan patofisiologi diare dan mekanisme kompensasi dengan larutan gula
garam secara sederhana dapat dilihat pada gambar berikut:
Dinding Epitel
Lumen Usus

Entero toksin

Sel Epitel Usus

AMP Siklik
Cl
(H2O, K+, Na+, HCO3)
Glukosa
Na+

Cl diiringi H2O, K+, Na+,


HCO3
Glukosa diiringi H2O,
Na+, K+, Cl-, HCO3
Na+ diiringi H2O, K+, Cl-,

Glukosa
HCO3
H2O
HCO3
ClNa+
K+
Vaskuler
Mekanisme Kerja Enterotoksin AMP Siklik
dan Cara Kompensasi dengan Larutan Gula Garam

Patogenesis
2

Dua hal umum yang patut diperhatikan pada keadaan diare akut karena infeksi adalah
faktor kausal (agent) dan faktor penjamu (host). Faktor penjamu adalah kemampuan tubuh
untuk mempertahankan diri terhadap organisme yang dapat menimbulkan diare akut yang
terdiri atas faktor-faktordaya tahan tubuh atau lingkungan intern traktus intestinalis seperti
keasaman lambung, motilitas usus dan juga mencakup flora normal usus.
Penurunan keasaman lambung pada infeksi shigella telah terbukti dapat menyebabkan
serangan infeksi yang lebih berat dan menyebabkan kepekaan lebih tinggi terhadap infeksi
V.cholera. Hipomotilitas usus pada infeksi usus memperlama waktu diare dan gejala penyakit
serta mengurangi kecepatan eliminasi agen sumber penyakit. Peran imunitas tubuh dibuktikan
dengan didapatkannya frekuensi Giardiasis yang lebih tinggi pada mereka yang kekurangan
Ig-A. Percobaan lain membuktikan bahwa bila lumen usus dirangsang suatu toksoid
berulangkali akan terjadi sekresi antibodi. Percobaan pada binatang menunjukkan
berkurangnya perkembangan S. typhi murium pada mikroflora usus yang normal.
Faktor kausal yang mempengaruhi patogenitas antara lain daya penetrasi yang dapat
merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan
usus halus serta daya lekat kuman pada lumen usus. Kuman dapat membentuk koloni-koloni
yang dapat menginduksi diare.
Berdasarkan kemampuan invasi kuman menembus mukosa usus, bakteri dibedakan
atas:
1. Bakteri non-invasif (enterotoksigenik)
Misalnya V. cholera/eltor, Enterotoxigenic E Coli (ETEC) dan C. perfringens tidak
merusak mukosa, mengeluarkan toksin yang terikat pada mukosa usus halus 15-30
menit sesudah diproduksi yang mengaktivasi sekresi anion klorida dari sel ke dalam
lumen usus yang diikuti air, ion bokarbonat, natrium dan kalium sehingga tubuh
akan kekurangan cairan dan elektrolit yang keluar bersama tinja.
2. Bakteri enterovasif
Misalnya Enteroinvasive E. Coli (EIEC), Salmonella, Shigella, Yersinia, dan C.
perfringens type CV. cholera/eltor, Enterotoxigenic E Coli dan C. perfringens.
Dalam hal ini, diare terjadi akibat nekrosis dan ulserasi dinding usus. Sifat diarenya
sekretorik eksudatif., dapat tercampur lendir dan darah. Walaupun demikian, infeksi
oleh kuman-kuman ini dapat juga bermanifestasi sebagai suatu diare koleriformis.
Manifestasi Klinis
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus,
hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang
berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang
menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik
yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang,
3

mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta
suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat
berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga
frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan
dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak
terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena
kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul
oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus
ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.
Prinsip Penatalaksanaan
Penatalaksanaan diare akut karena infeksi pada orang dewasa terdiri atas:
1.

Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.

2.

Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi.

3.

Memberikan terapi simtomatik

4.

Memberikan terapi definitif.

1.

Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.


Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan

akurat, yaitu:
1) Jenis cairan yang hendak digunakan.
Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup
banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila dibandingkan dengan kadar
kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya
ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik. Pada
keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk mencegah dehidrasi
dengan segala akibatnya.
2) Jumlah cairan yang hendak diberikan.
Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan
jumlah cairan yang keluar dari badan. Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat dihitung
dengan cara/rumus:
-

Mengukur BJ Plasma
Kebutuhan cairan dihitung dengan rumus:
BJ Plasma 1,025
---------------------- x BB x 4 ml
4

0,001
-

Metode Pierce
Berdasarkan keadaan klinis, yakni:

* diare ringan, kebutuhan cairan

= 5% x kg BB

* diare sedang, kebutuhan cairan

= 8% x kg BB

* diare ringan, kebutuhan cairan

= 10% x kg BB

Metode Daldiyono
Berdasarkan skoring keadaan klinis sebagai berikut:
* Rasa haus/muntah
* BP sistolik 60-90 mmHg
* BP sistolik <60 mmHg
* Frekuensi nadi >120 x/mnt
* Kesadaran apatis
* Kesadaran somnolen, sopor atau koma
* Frekuensi napas >30 x/mnt
* Facies cholerica
* Vox cholerica
* Turgor kulit menurun
* Washer womens hand
* Ekstremitas dingin
* Sianosis
* Usia 50-60 tahun
* Usia >60 tahun

=1
=1
=2
=1
=1
=2
=1
=2
=2
=1
=1
=1
=2
=1
=2

Kebutuhan cairan =
Skor
-------- x 10% x kgBB x 1 ltr
15
3) Jalan masuk atau cara pemberian cairan
Rute pemberian cairan pada orang dewasa meliputi oral dan intravena. Larutan orali
dengan komposisi berkisar 29 g glukosa, 3,5 g NaCl, 2,5 g NaBik dan 1,5 g KCl stiap liternya
diberikan per oral pada diare ringan sebagai upaya pertama dan juga setelah rehidrasi inisial
untuk mempertahankan hidrasi.
4) Jadual pemberian cairan
Jadual rehidrasi inisial yang dihitung berdasarkan BJ plasma atau sistem skor
diberikan dalam waktu 2 jam dengan tujuan untuk mencapai rehidrasi optimal secepat
mungkin. Jadual pemberian cairan tahap kedua yakni untuk jam ke-3 didasarkan pada
kehilangan cairan selama 2 jam fase inisial sebelumnya. Dengan demikian, rehidrasi
diharapkan lengkap pada akhir jam ke-3.
2.

Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi.


5

Untuk mengetahui penyebab infeksi biasanya dihubungkan dengan dengan keadaan


klinis diare tetapi penyebab pasti dapat diketahui melalui pemeriksaan biakan tinja disertai
dengan pemeriksaan urine lengkap dan tinja lengkap.
Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa diperjelas melalui
pemeriksaan darah lengkap, analisa gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin dan BJ plasma.
Bila ada demam tinggi dan dicurigai adanya infeksi sistemik pemeriksaan biakan
empedu, Widal, preparat malaria serta serologi Helicobacter jejuni sangat dianjurkan.
Pemeriksaan khusus seperti serologi amuba, jamur dan Rotavirus biasanya menyusul setelah
melihat hasil pemeriksaan penyaring.
Secara klinis diare karena infeksi akut digolongkan sebagai berikut:
1) Koleriform, diare dengan tinja terutama terdiri atas cairan saja.
2) Disentriform, diare dengan tinja bercampur lendir kental dan kadang-kadang darah.
Pemeriksaan penunjang yang telah disinggung di atas dapat diarahkan sesuai manifestasi klnis
diare.
3.

Memberikan terapi simtomatik


Terapi simtomatik harus benar-benar dipertimbangkan kerugian dan keuntungannya.

Antimotilitas usus seperti Loperamid akan memperburuk diare yang diakibatkan oleh bakteri
entero-invasif karena memperpanjang waktu kontak bakteri dengan epitel usus yang
seyogyanya cepat dieliminasi.
4.

Memberikan terapi definitif.


Terapi kausal dapat diberikan pada infeksi:

1) Kolera-eltor: Tetrasiklin atau Kotrimoksasol atau Kloramfenikol.


2) V. parahaemolyticus,
3) E. coli, tidak memerluka terapi spesifik
4) C. perfringens, spesifik
5) A. aureus : Kloramfenikol
6) Salmonellosis: Ampisilin atau Kotrimoksasol atau golongan Quinolon seperti
Siprofloksasin
7) Shigellosis: Ampisilin atau Kloramfenikol
8) Helicobacter: Eritromisin
9) Amebiasis: Metronidazol atau Trinidazol atau Secnidazol
10) Giardiasis: Quinacrine atau Chloroquineitiform atau Metronidazol
11) Balantidiasis: Tetrasiklin
12) Candidiasis: Mycostatin
13) Virus: simtomatik dan suportif
KONSEP KEPERAWATAN
6

Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:


Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji
adalah
4. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
-

Kelelelahan, kelemahan atau malaise umum

Insomnia, tidak tidur semalaman karena diare

Gelisah dan ansietas

5. Sirkulasi:
Tanda:
-

Takikardia (reapon terhadap dehidrasi, demam, proses inflamasi dan nyeri)

Hipotensi

Kulit/membran mukosa : turgor jelek, kering, lidah pecah-pecah

6. Integritas ego:
Gejala:
-

Ansietas, ketakutan,, emosi kesal, perasaan tak berdaya

Tanda:
-

Respon menolak, perhatian menyempit, depresi

7. Eliminasi:
Gejala:
-

Tekstur feses cair, berlendir, disertai darah, bau anyir/busuk.

Tenesmus, nyeri/kram abdomen

Tanda:
-

Bising usus menurun atau meningkat

Oliguria/anuria

8. Makanan dan cairan:


Gejala:
-

Haus

Anoreksia

Mual/muntah

Penurunan berat badan

Intoleransi diet/sensitif terhadap buah segar, sayur, produk susu, makanan


berlemak

Tanda:
-

Penurunan lemak sub kutan/massa otot

Kelemahan tonus otot, turgor kulit buruk

Membran mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mulut

9. Hygiene:
Tanda:
-

Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri

Badan berbau

10. Nyeri dan Kenyamanan:


Gejala:
-

Nyeri/nyeri tekan kuadran kanan bawah, mungkin hilang dengan defekasi

Tanda:
-

Nyeri tekan abdomen, distensi.

11. Keamanan:
Tanda:
-

Peningkatan suhu pada infeksi akut,

Penurunan tingkat kesadaran, gelisah

Lesi kulit sekitar anus

12. Seksualitas
Gejala:
-

Kemampuan menurun, libido menurun

13. Interaksi sosial


Gejala:
-

Penurunan aktivitas sosial

14. Penyuluhan/pembelajaran:
Gejala:
-

Riwayat anggota keluarga dengan diare

Proses penularan infeksi fekal-oral

Personal higyene

Rehidrasi
8

Tes Diagnostik
Lihat konsep medis.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
15. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta
intake terbatas (mual).
16. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan
peningkatan peristaltik usus.
17. Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
18. Kecemasan b/d perubahan status kesehatan, perubahan status sosio-ekonomis,
perubahan fungsi peran dan pola interaksi.
19. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan
informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Dx.1 Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta
intake terbatas (mual)
Intervensi dan Rasional:
20. Berikan cairan parenteral sesuai dengan program rehidrasi
-

Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.

21. Pantau intake dan output.


-

Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan


cairan pengganti.

22. Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium
-

Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa.

23. Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif.


-

Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui.

Dx.2 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan
peningkatan peristaltik usus.
Intervensi dan Rasional:
1. Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.
-

Menurunkan kebutuhan metabolik.

2. Pertahankan status NPO (puasa) selama fase akut/ketetapan medis dan segera mulai
pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan

Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk
menurunkan peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi. Pemberian makanan
sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan.

3. Kolaborasi pemberian roborantia seperti vitamin B 12 dan asam folat.


-

Diare menyebabkan gangguan fungsi ileus yang berakibat terjadinya malabsorbsi


vitamin B 12; penggantian diperlukan untuk mengatasi depresi sum sum tulang,
meningkatkan produksi SDM.

4.

Defisiensi asam folat dapat terjadi bila diare berlanjut akibat malabsorbsi.

Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi.


-

Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan


nutrisi lebih lanjut.

Dx.3

Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.

Intervensi dan Rasional:


1.

Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.
-

2.

Menurunkan tegangan abdomen.

Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase


punggung dan kompres hangat abdomen
-

Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan


kemampuan koping.

3.

Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan
perawatan kulit
-

4.

Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi.

Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi


-

Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme
traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis.

5.

Kaji keluhan nyeri (skala 1-10), perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan
non verbal
-

Dx.4

Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya.

Kecemasan b/d perubahan status kesehatan, perubahan status sosio-ekonomis,

perubahan fungsi peran dan pola interaksi.


Intervensi dan Rasional:
1.

Dorong klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang
mekanisme koping yang tepat.
-

Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan


masalah.

10

2.

Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang lain yang
mengalami masalah yang sama dengan klien.
-

Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satusatunya orang yang mengalami masalah yang demikian.

3.

Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam
membantu klien.
-

4.

Kolaborasi pemberian obat sedatif bila diperlukan.


-

5.

Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecamasan.


Dapat digunakan sebagai anti ansitas dan meningkatkan relaksasi.

Kaji perubahan tingkat kecemasan (misalnya dengan indeks HARS)


-

Mengevaluasi

perkembangan

kecemasan

untuk

menetapkan

intervensi

selanjutnya.
Dx.5

Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan

informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.


Intervensi dan Rasional:
1.

Kaji kesiapan klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan klien tentang


penyakit dan perawatannya.
-

Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar
belakang pengetahuan sebelumnya.

2.

Jelaskan tentang proses penyakit, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan


aktivitas sehari-hari.
-

Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi klien


dan keluarga dalam proses perawatan klien.

3.

Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta
efek samping yang mungkin timbul.
-

4.

Meningkatkan pemahaman dan partisipasi klien dalam pengobatan.

Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi.


-

Meningkatkan kemandirian dan kontrol klien terhadap kebutuhan perawatan diri.

11

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta
Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 1, Ed.4,
EGC, Jakarta
Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. Ke-3, BP FKUI, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai