Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN

PRAKTIKUM TEKNIK TENAGA LISTRIK


WINDING RESISTANCE MEASUREMENT
EXPERIMENT N.1

Oleh :
Wyananda Fiqi Fadlan Adhima
LT-2D / 3.39.13.3.23

DOSEN PEMBIMBING :
DJODI ANTONO, B.Tech. M.Eng
PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2015

JUDUL

:WINDING RESISTANCE MEASUREMENT

EXPERIMENT N.

: N.1

TANGGAL

: 6 Maret 2015

1. PENDAHULUAN
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan resistansi efektif dari stator dan
exciter belitan alternator. Perlu diketahui bahwasanya hampir semua energi listrik
dibangkitkan dengan menggunakan mesin sinkron. Mesin sinkron terbagi menjadi 2
yaitu generator sinkron dan motor sinkron. Generator sinkron (sering disebut
alternator) adalah mesin sinkron yang digunakan untuk mengubah daya mekanik
menjadi daya listrik. Generator sinkron dapat berupa generator sinkron tiga fasa atau
generator sinkron AC satu fasa tergantung dari kebutuhan. Sedangkan motor sinkron
adalah motor AC, bekerja pada kecepatan tetap pada sistim frekuensi tertentu. Motor
ini memerlukan arus searah (DC) untuk pembangkitan daya dan memiliki torque awal
yang rendah
Dalam pengoperasiannya, mesin sinkron dapat dioperasikan sebagai mesin
tunggal dan juga sebagai mesin tergabung. Namun, biasanya mesin ini tergabung
dalam suatu sistem interkoneksi, sehingga bekerja sejajar sinkron dengan alternator
lainnya. Untuk dapat beroperasi dengan baik dalam kondisi demikian, alternator harus
tetap berada dalam keadaan sinkron dengan sistem dan memikul bagiannya yang
tertentu dari beban keseluruhan yang terpasang.

2. DASAR TEORI
Pada mesin sinkron ini, mesin beroperasi dengan system operasi terisolasi.
Sistem terisolasi adalah system dimana alternator hanya feed oleh seorang konsumer
tunggal dan tidak terhubung ke sistem interkoneksi. Selain itu, pengamatan yang
dilakukan juga dibatasi stasioner yaitu steady state dan operasi simetris dari alternator
tiga fase.

Seperti yang kita ketahui, mesin sinkron terbagi menjadi 2 yaitu generator
sinkron dan motor sinkron. Berikut ini akan dijelaskan mengenai karakteristik, prinsip
kerja serta pengukuran resistansi dari mesin sinkron.
A. Karakteristik Generator Sinkron
Pada generator sinkron, arus DC diterapkan pada lilitan rotor untuk menghasilkan
medan magnet rotor. Rotor generator diputar oleh prime mover menghasilkan medan
magnet berputar pada mesin. Medan magnet putar ini menginduksi tegangan tiga fasa
pada kumparan stator generator. Rotor pada generator sinkron pada dasarnya adalah
sebuah elektromagnet yang besar. Kutub medan magnet rotor dapat berupa salient
(kutub sepatu) dan dan non salient (rotor silinder). Gambaran bentuk kutup sepatu
generator sinkron diperlihatkan pada gambar di bawah ini.

Gbr 1. Rotor salient (kutub sepatu) pada generator sinkron

B. Prinsip Kerja Generator Sinkron


Jika sebuah kumparan

diputar

pada kecepatan

konstan pada

medan

magnethomogen, maka akan terinduksi tegangan sinusoidal pada kumparan tersebut.


Medan magnet bisa dihasilkan oleh kumparan yang dialiri arus DC atau oleh magnet
tetap. Tegangan AC tiga fasa dibangkitan pada mesin sinkron kutub internal pada tiga
kumparan stator yang diset sedemikian rupa sehingga membentuk beda fasa dengan
sudut 120. Bentuk gambaran sederhana hubungan kumparan 3-fasa dengan tegangan
yang dibangkitkan diperlilhatkan pada gambar di bawah ini.

Gbr 2. Gambaran sederhana kumparan 3-fasa dan tegangan yang dibangkitkan)

C. Karakteristik Motor Sinkron


Mesin sinkron yang digunakan untuk mengubah energi listrik menjadi energi
mekanik. Mesin sinkron mempunyai kumparan jangkar pada stator dan kumparan
medan pada rotor. Kumparan jangkarnya berbentuk sama dengan mesin induksi,
sedangkan kumparan medan mesin sinkron dapat berbentuk kutub sepatu (salient)
atau kutub dengan celah udara sama rata (rotor silinder). Arus searah (DC) untuk
menghasilkan fluks pada kumparan medan dialirkan ke rotor melalui cincin dan sikat.

D. Prinsip Kerja Motor Sinkron

Gbr 3. Terjadinya torsi pada motor sinkron (a) tanpa beban (b) kondisi berbeban (c) kurva
karakteristik torsi

Gambar diatas memperlihatkan keadaan terjadinya torsi pada motor sinkron.


Keadaan ini dapat dijelaskan sebagai berikut: apabila kumparan jangkar (pada stator)
dihubungkan dengan sumber tegangan tiga fasa maka akan mengalir arus tiga fasa
pada kumparan. Arus tiga fasa pada kumparan jangkar ini menghasilkan medan putar
homogen (BS). Arus DC pada rotor ini menghasilkan medan magnet rotor (BR) yang
tetap. Kutub medan rotor mendapat tarikan dari kutub medan putar stator hingga turut
berputar dengan kecepatan yang sama (sinkron).

E. Pengukuran Resistansi
Tahanan jangkar dapat diukur dengan menerapkan tegangan DC pada kumparan
jangkar pada kondisi generator diam saat hubungan bintang (Y), kemudian arus yang
mengalir diukur. Selanjutnya tahanan jangkar perfasa pada kumparan dapat diperoleh
dengan menggunakan hukum ohm sebagai berikut.

Pada generator akan menghasilkan tegangan dan arus yang nilainya sebanding.
Besarnya nilai arus dan tegangan akan menghasilkan nilai hambatan pada belitan
antar fasa. Untuk memperoleh nilai resistansi dapat dihitung dengan :

Untuk menghitung nilai rata-rata masing-masing terminal :


RUV(av) =

.................. ()

RVW(av) =

.................. ()

RWU(av) =

.................. ()

Dan nilai rata-rata dari masing masing terminal

Rav =

= ........()

Menghitung nilai resistansi medan sebagai rata-rata nilai yang terukur dengan :

RE =

=.......... ()

Untuk tembaga berlaku untuk berhubungan resistance di 75 C menggunakan


koefisien. Penggunaan tegangan DC ini adalah supaya reaktansi kumparan sama
dengan nol pada saat pengukuran.

3. ALAT DAN BAHAN

DL 1055TT
Experiment Transformer
1buah
DL 1026A
Three-phase Altenator
1 buah
DL 2109T1AB
Moving-coil ammeter (100-1000mA) 1 buah
DL 2109T2VB
Moving-coil voltmeter (15-30 V)
1 buah
Kabel Jumper
20 buah
Multimeter Digital
1 buah

4. GAMBAR RANGKAIAN PERCOBAAN

5.

LANGKAH
5.1

KERJA
Merangkai rangkaian sesuai dengan gambar rangkaian 1.1 untuk mengukur

resistansi armature.
5.2 Menghidupkan catu daya.
5.3 Menaikkan arus pada stator sesuai tabel.
5.4 Mengamati nilai tegangan setiap kenaikkan arus.
5.5 Mencatat hasil pengukuran tegangan.
5.6 Mencatat hasil pengukuran resistansi.
5.7 Mengulangi langkah 1 sampai 5 untuk setiap fasa.
5.8 Mematikan catu daya.
5.9 Mengukur resistansi menggunakan multimeter.
5.10 Merangkai rangkaian sesuai dengan gambar rangkaian 1.2 untuk mengukur
5.11
5.12
5.13
5.14
5.15

resistensi medan.
Menaikkan arus pada medan sesuai tabel.
Mengamati nilai tegangan setiap kenaikkan arus.
Mencatat hasil pengamatan tegangan.
Mematikan catu daya.
Mengukur resistansi menggunakan multimeter

5.16 Hitung nilai resistansi

untuk percobaan winding resitance measurement

dan field resistance dan memasukkan hasilnya dalam tabel.


6.

HASIL DATA

Tabel Data 1. Resistansi Armature


Phases

UV

VW

WU

I (mA)

300

400

500

600

U (V)

5,4

6,7

8,1

R () dihitung

13,33

13,5

13,4

13,5

R () terbaca

12,3

12,3

12,3

12,3

U (V)

5,3

6,6

8,1

R () dihitung

13,33

13,25

13,2

13,5

R () terbaca

12,3

12,3

12,3

12,3

U (V)

5,4

6,8

8,1

R () dihitung

13,33

13,5

13,6

13,5

R () terbaca

12,3

12,3

12,3

12,3

Tabel Data 2. Resistansi Medan


I (mA)

30

40

50

60

70

U (VF1-F2)

10,6

13,9

17

20,2

23,6

R dihitung

353,3

347,5

340

336,7

337,1

R terbaca

343

343

343

343

343

7. PEMBAHASAN
Pada tabel data 1, pengukuran tegangan U (V) di antara fasa U V dengan arus 300
mA terukur sebesar 4 V, dengan arus 400 mA terukur 5,4 V, dengan arus 500 mA
terukur 6,7 V dan dengan arus 600 mA terukur 8,1 V. Untuk pengukuran resistansi
menggunakan multimeter didapatkan hasil sebesar 12.3 , sama untuk semua besar
arus. Sedangkan apabila menggunakan teori perhitungan R =

untuk arus 300 mA

dengan tegangan 4V maka hasil yang didapat adalah 13,3 , untuk arus 400 mA dengan
tegangan 5,4V maka hasil yang didapat adalah 13,5 , untuk arus 500 mA dengan
tegangan 6,7V maka hasil yang didapat adalah 13,4 dan untuk arus 600 mA dengan
tegangan 8,1V maka hasil yang didapat adalah 13,5 .
Pengukuran tegangan U (V) di antara fasa V W dengan arus 300 mA terukur
sebesar 4 V, dengan arus 400 mA terukur 5,3 V, dengan arus 500 mA terukur 6,6 V dan
dengan arus 600 mA terukur 8,1 V. Untuk pengukuran

resistansi

menggunakan

multimeter didapatkan hasil sebesar 12.3 , sama untuk semua besar arus. Sedangkan
apabila menggunakan teori perhitungan R =

, untuk arus 300 mA dengan tegangan

4V maka hasil yang didapat adalah 13,3 , untuk arus 400 mA dengan tegangan 5,3V
maka hasil yang didapat adalah 13,25 , untuk arus 500 mA dengan tegangan 6,6V
maka hasil yang didapat adalah 13,2 dan untuk arus 600 mA dengan tegangan 8,1V
maka hasil yang didapat adalah 13,5 .

Pengukuran tegangan U (V) di antara fasa W U dengan arus 300 mA terukur


sebesar 4 V, dengan arus 400 mA terukur 5,4 V, dengan arus 500 mA terukur 6,8 V dan
dengan arus 600 mA terukur 8,1 V. Untuk pengukuran

resistansi

menggunakan

multimeter didapatkan hasil sebesar 12.3 , sama untuk semua besar arus. Sedangkan
apabila menggunakan teori perhitungan R =

, untuk arus 300 mA dengan tegangan

4V maka hasil yang didapat adalah 13,3 , untuk arus 400 mA dengan tegangan 5,4V
maka hasil yang didapat adalah 13,5 , untuk arus 500 mA dengan tegangan 6,8V maka
hasil yang didapat adalah 13,6 dan untuk arus 600 mA dengan tegangan 8,1V maka
hasil yang didapat adalah 13,5 .
Pada tabel data 2, pengukuran tegangan pada belitan medan dengan arus 30 mA
terukur sebesar 10,6 V, dengan arus 40 mA terukur 13,9 V, dengan arus 50 mA terukur
17 V, dengan arus 60 mA terukur 20,2 V dan dengan arus 70 mA terukur 23,6 V. Untuk
pengukuran resistansi menggunakan multimeter (pada tabel dituliskan P) didapatkan
hasil sebesar 343 , sama untuk semua besar arus. Sedangkan apabila menggunakan
teori perhitungan R =

(pada tabel dituliskan T), untuk arus 30 mA dengan tegangan

10,6V maka hasil yang didapat adalah 353,3 , untuk arus 40 mA dengan tegangan
13,9V maka hasil yang didapat adalah 347,5 , untuk arus 50 mA dengan tegangan
17V maka hasil yang didapat adalah 340 , untuk arus 60 mA dengan tegangan 20,2V
maka hasil yang didapat adalah 336,7 dan untuk arus 70 mA dengan tegangan 23,6 V
maka hasil yang didapat adalah 337,1 .
8. JAWABAN PERTANYAAN
Berdasarkan data hasil pada tabel diatas diketahui bahwa pada belitan U V, belitan V - W, belitan U - W, dan juga pada exciter mengalami kenaikan tegangan
pada belitan setiap kali ada kenaikan nilai arus pada belitannya. Nilai ratarata pada masing masing belitan tersebut adalah sebagai berikut :

Dari ketiga nilai tersebut maka dapat diketahui nilai rata-rata hambatan
antar terminalnya adalah sebagai berikut :

Sedangkan hambatan rata-rata pada belitan eksitasinya adalah sebagai berikut :

Pada idealnya hambatan pada belitan U - V, V - W, dan U - W memiliki nilai yang


konstan pada setiap kenaikan arus yang tejadi. Ketidakkonstanan nilai hambatan yang
terjadi ini diakibatkan karena keterbatasan penglihatan mata pengukur karena
multimeter yang digunakan adalah analog dan juga akibat kenaikan panas yang terjadi
akibat kenaikan arus yang terjadi pada belitan.

9. KESIMPULAN
1. Resistansi yang dihasilkan antar fasa U V, V W dan W U besarnya stabil.
2. Nilai tegangan yang dihasilkan selalu berbanding lurus dengan nilai arus dengan
yang ditentukan, yaitu semakin besar arus maka semakin besar pula tegangannya,
dan begitu pula sebaliknya.
3. Apabila terjadi perbedaan antara hasil pengukuran dengan hasil dari perhitungan,
maka hal itu mungkin disebabkan karena suhu ruangan ketika melakukan
percobaan serta kesalahan pembacaan alat ukur ketika menggunakan voltmeter
dan amperemeter analog.
4. Selalu terjadi kenaikan tegangan yang cenderung konstan pada setiap kenaikan
arus yang terjadi baik pada belitan armatur maupun pada belitan eksitasi.
5. Selalu terdapat perbedaan nilai hambatan antara nilai hambatan terhitung
menggunakan rumus R=V/I dengan nilai hambatan terukur menggunakan
ohmmeter.
Daftar Pustaka
[1.] Delorenzo,Electrical Power Enginering (Alternator and parallel operation DL GTU101.1)
[2.] http://eko-pujianto.blogspot.com/2011/11/generator-ac-dan-dc.html
[3.] http://carapedia.com/kerja_generator_listrik_info2559.html

[4.] Politeknik UNDIP. 1984. Machine Laboratory Jurusan Teknik Listrik. Bandung:
PEDC Bandung.

LAMPIRAN