Anda di halaman 1dari 2

ICW Desak Terapkan Sistem

Penggajian Tunggal Hindari


Pemberian Honor dan Fee BPD
Rabu, 17 Februari 2010 , 14:11:00

JAKARTA- Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Tama S. Langkun


mendesak agar single salary systematau sistem penggajian tunggal yang
digagas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera diterapkan. Menurutnya
penerapan sistem pengganjian tunggal itu untuk menghindari penerimaan
pendapatan ganda bagi kepala daerah maupun pimpinan daerah yang
tergabung dalam Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida).

"Supaya polemik mengenai honorarium, fee atau pendapatan lain dari pejabat
publik, baik di daerah maupun di pusat tidak berlarut-larut wacana mengenai
sistem penggajian tunggal yang diusulkan KPK layak untuk dipertimbangkan,"
kata Tama di kantor ICW, Jalan Kalibata Dalam Timur IV D, Jakarta, Rabu (17/2).

Tama mengatakan dengan penerapan sistem tersebut maka akan mendorong


kalkulasi yang lebih obyektif atas peerimaan pejabat negara, termasuk
pegawainya dengan menggunakan basis perhitungan kerja dan tanggung jawab.

"Semakin bagus kinerja dan semakin tinggi tingkat tanggung jawabnya, maka
pejabat atau pegawai akan mendapatkan gaji yang lebih tinggi dibandingkan
dengan pejabat atau pegawai yang kinerjanya buruk," ujarnya.

Menurut Tama, setidaknya ada tiga masalah hukum dalam pemberian honor dan
fee APBD. Pertama, landasan yuridis yang melarang pemberian honor dan fee
sesuai dengan pasal 5 PP No 109 tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang tidak dibenarkan menerima
penghasilan dan fasilitas rangkap negara.

Kedua, sesuai dengan Permendagri No 3 tahun 1998 yang mengatur bentuk


Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) berupa perusahaan daerah maupun
perseroan terbatas. "Artinya keuntungan yang diperoleh Bank Pembangunan
Daerah (BPD) seharusnya masuk ke kas daerah termasuk bunga dari APBD yang
disimpan dalam BUMD," katanya.

Yang ketiga adalah pemberian honor fee oleh BPD kepada kepala daerah jelas
menimbulkan konflik kepentingan. Di satu sisi kepala daerah merupakan pihak
yang memiliki kewenangan membentuk BUMD, di sisi lain kepala daerah
merupakan pihak yang mendapatkan kewenangan bertindak mewakili
pemerintah daerah sebagai pemegang saham.(awa/jpnn)
http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=58179

http://www.warsidi.com