Anda di halaman 1dari 2

Sejumlah DPRD Bentuk Pansus

Fee BPD
Tuesday, 16 February 2010

SEJUMLAH anggota DPRD di beberapa daerah membentuk panitia khusus


(pansus) guna mengungkap aliran fee BPD yang diterima kepala daerah.Di
antaranya DPRD Jatim (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), Jawa Barat (Jabar),dan
Sulawesi Selatan (Sulsel).

Bahkan di DPRD Jatim, pansus telah menyelidiki dugaan aliran fee senilai Rp71, 4
miliar. Komisi C DPRD Jatim telah mengunjungi Bank Indonesia (BI) dan
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Anggota Komisi C DPRD Jatim Thoriqul
Haq menuturkan, Kemendagri dan BI tak memperbolehkan adanya fee. Karena
itu, dugaan adanya aliran dana sebesar Rp71,4 miliar ke pemda memiliki
konsekuensi hukum.

“Ini sudah jelas tentang aturan hukum yang dipakai. Jangan sampai pejabat
pemprov menerima marketing fee,”ujar Thoriq kemarin.
KomisiCDPRDsendirimenjadikan referensi penting aturan yang dibuat
Kemendagri terkait aturan fee. Pihaknya akan mengembangkan penyelidikan
masalah ini kepada pihak yang diduga menerimanya. Sementara itu, sumber
harian Seputar Indonesia (SI) di lingkungan DPRD Jatim mengatakan,

Komisi C juga mempersiapkan diri untuk memanggil pejabat di lingkungan KONI


Surabaya sehingga pemanggilan tidak hanya dilakukan pada mantan Gubernur
Jatim Saja. Upaya itu dilakukan untuk mengetahui aliran fee yang masuk ke
pejabat di lingkungan pemprov maupun kabupaten/kota di Jatim.

Adapun di Jabar,Pansus DPRD telah memanggil jajaran kinerja BPD Jabar.Pansus


mempersoalkan dugaan adanya fee kepada pejabat kepala daerah. Selain itu
juga mempersoalkan kecilnya persentase dividen dari laba bersih Bank Jabar
Banten untuk pendapatan asli daerah (PAD) Jabar . Pada 2009, Bank Jabar
Banten mengalokasikan 50% dari laba bersih yang diperkirakan sebesar Rp1,35
triliun untuk masuk ke kas daerah Pemprov Jabar dan pemerintah
kabupaten/kota.

Sisanya, sebanyak 20%,dialokasikan untuk penguatan modal, 20% untuk jasa


produksi yang dibagikan pada karyawan, direksi, dan dewan komisaris,
sementara sisanya 10% untuk corporate social responsibility (CSR) dan lain-lain.
“Angka 50% itu terlalu kecil, idealnya 70% untuk dividen yang masuk ke kas
daerah, dan jasa produksi disusutkan lagi,” ujar anggota Pansus dari Fraksi PDIP
Dadan Darmansah.
Pada kesempatan itu,Direktur Bank Jabar Banten Agus Ruswendi membantah
pihaknya pernah memberikan fee kepada pejabat daerah seperti yang
ditudingkan selama ini.Menurutnya,pada 2005 Bank Indonesia mengeluarkan
aturan yang tidak memperbolehkan pemberian feekepada pejabat daerah.

Agus meminta agar jangan hanya Bank Jabar Banten yang diobok-obok.Dia
menjelaskan,ada beberapa daerah di Jabar yang memindahkan rekening
tabungannya kepada bank lain. “Padahal bunga kami lebih besar. Nah, yang
harus ditelusuri adalah ada indikasi apa,apakah di bank lain ada penawaran lain
yang menguntungkan kedua belah pihak,”papar Agus.

Sementara itu, Ketua Pansus DPD Jabar Achdar Sudrajat mengungkapkan,


pihaknya akan memanggil Komisaris Bank Jabar Banten untuk memperjelas hal
ini. “Kami akan panggil para komisaris untuk menjelaskan. Misalnya, Pak Agus
(Ruswendi) tadi menjelaskan adanya SK terkait pemberian dana rutin untuk
pejabat,” tandasnya. (aan haryono/krisiandi sacawisastra)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/304939/

http://www.warsidi.com