Anda di halaman 1dari 1

Mendagri: Fee Dilarang, Honor

Boleh
Kamis, 04 Februari 2010

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi kembali


meluruskan tuduhan Indonesia Corruption Watch (ICW) tentang pemberian honor
pada kepala daerah. Menurut dia, tuduhan ICW itu tidak jelas, karena tidak bisa
membedakan antara fee dengan honor.

"Fee dilarang, itu tidak boleh. Tapi kalau honor, semua, BPK (Badan Pemeriksa
Keuangan) juga terima," kata Gamawan saat ditemui Tempo di ruang kerjanya,
Kamis (4/1) pagi. Pengertian honor, kata Gamawan, telah disalahartikan oleh
beberapa pihak, terutama ICW. "Honor kan namanya honorable, sama dengan
kehormatan," ujarnya.

Yang tidak diperkenankan, kata Gamawan, adalah komisi atau fee. Alasannya,
komisi tidak diberikan di atas meja, dan tidak ada administrasi. Sedangkan
honor, ada proses administrasinya. "Jadi kalau misalnya menyimpan uang disitu,
terus dikasih fee gara-gara menyimpan, itu tidak boleh," kata Gamawan.

Praktik pemberian honor ini, ujar Gamawan, sudah berlangsung sejak


diberlakukan Keputusan Presiden nomor 10 tahun 1986. Dalam pasal 8
keputusan tersebut, disebutkan bahwa biaya yang diperlukan bagi
penyelenggaraan administrasi musyawarah pimpinan daerah dibebankan kepada
Anggaran Pemerintah Daerah yang bersangkutan.

Dengan demikian, gubernur, bupati, atau wali kota, sebagai pemegang


kekuasaan punya otoritas untuk meletakkan uang. "Bisa saja tidak di Bank
Pembangunan Daerah," katanya. Karena BPD bukan satu-satunya kas daerah.

Namun, Gamawan menambahkan, sejak Bank Indonesia mengeluarkan surat


teguran, maka pemberian honor dihentikan. "Bahkan, saya sempat berdiskusi
dengan pak Haryono (Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi) di ruangan
ini”. Soal teguran KPK, Gamawan mensinyalir itu hanya masasah kode etik
pimpinan saja.

Febriana Firdaus

http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2010/02/04/brk,20100204-
223443,id.html

http://www.warsidi.com