Anda di halaman 1dari 8

Tugas Makro

PEMBENTUKAN KURVA IS DARI PERUBAHAN


KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL
Dosen : Pak

Gede Rama Dita Utama


108400013

INSTITUT MANAJEMEN TELKOM


YAYASAN PENDIDIKAN TELKOM
Komplek TTC
Jl. Gegerkalong Hilir No. 47 Bandung 40152, Telp 022-2011384, 85, 88 Fax.
022-2011387, www.imtelkom.ac.id

PEMBENTUKAN KURVA IS DARI PERUBAHAN


KESEIMBANGAN PENDAPATAN NASIONAL

Gambar pembentukan kurva IS

1. Pada tingkat bunga pada i1 maka kurva permintaan agregat adalah pada kurva a
+ bY + e f.i1, maka pendapatan nasional equilibrium pada Y1.
2. Titik E1 pada diagram pertama terbentuk dari perpotongan antara kurva a + bY +
e f.i1 dan garis 45o.
3. Titik E1 pada diagram kedua merupakan perpotongan garis yang ditarik dari titik
E1 pada diagram pertama dengan garis i1 pada diagram kedua.
4. Bila tingkat bunga pada i2, maka kurva permintaan agregat adalah pada kurva a +
bY + e f.i2, pendapatan nasional equilibrium pada Y2.
5. Titik E2 pada diagram pertama terbentuk dari perpotongan antara kurva a + bY +
e f.i2 dan garis 45o.
6. Titik E2 pada diagram kedua merupakan perpotongan garis yang ditarik dari titik

E2 pada diagram pertama dengan garis i2 pada diagram kedua.


7. Dengan menghubungkan titik E1 dan E2 pada diagram kedua, didapatkan kurva
IS.
Dari uraian ini kurva IS bukan kurva yang menerangkan hubungan fungsional antara
tingkat bunga dengan pendapatan, akan tetapi merupakan tempat kedudukan setiap
tingkat bunga yang menghasilkan pendapatan ekuilibrium di mana penawaran
agregat sama dengan permintaan agregat. Kurva IS dapat juga ditafsirkan sebagai
multiplier, yaitu perubahan pada pendapatan sebagai akibat pengurangan tingkat
bunga, Kurva IS dapat juga ditafsirkan sebagai elastisitas bunga yaitu % perubahan
pada pendapatan nasional sebagai akibat perubahan % tingkat bunga.

Sepanjang garis kurva IS maka pasar barang berada dalam keadaan


seimbang, artinya rencana pengeluaran agregat sama dengan income. Atau secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut:

C+I+G=Y=C+S+
T
Sebelah kiri persamaan adalah pengeluaran atau permintaan (AD) dan yang
sebelah kanan persamaan adalah income. Persamaan diatas bisa disederhanakan
menjadi:

I + G = S +
T
Bila anggaran pemerintah berimbang artinya pengeluaran sama dengan
penerimaan, yaitu pajak dan pemerintah tidak meminjam, maka saving akan sama
dengan investasi. Dengan demikian dapat juga dikatakan bahwa ssepanjang kurva
IS tersebut maka pasar barang seimbang yaitu tabungan sama dengan investasi (I =
S). Saving merupakan fungsi dari income dan investasi adalah fungsi dari tingkat
bunga sehingga persamaan menjadi:

I (i) =
S (Y)

Dalam bagian (a) ditunjukkan keseimbangan IS-LM, dan perubahan keseimbangan


tersebut sebagai akibat inflasi. Kurva LM yang asal adalah LM 0 (P0) dan maksudnya
adalah keluk LM yang dibentuk dengan memisalkan penawaran uang nominal
adalah Mo dan tingkat harga adalah P0. Kurva LM ini berpotongan dengan IS di E 0
dan berarti pada mulanya keseimbangan dicapai di E 0 yang menggambarkan suku
bunga adalah r0 dan pendapatan nasional adalah Y0.
Seterusnya misalkan perekonomian menghadapi masalah inflasi, yaitu tingkat harga
mengalami kenaikan dari P0 menjadi P1. Kenaikan tersebut menyebabkan
penawaran uang riil merosot dari M 0/P0 menjadi M0/P1. Kenaikan harga-harga ini
yang menyebabkan permintaan uang nominal untuk setiap tingkat pendapatan
nasional riil bertambah, akan memindahkan kurva LM 0 (P0) ke sebelah kiri menjadi
LM0 (P1). Kurva LM yang baru ini akan memotong IS di E 1. Keseimbangan yang baru
ini menunjukkan suku bunga meningkat dari r 0 menjadi r1 dan pendapatan nasional
(riil) merosot dari Y0 menjadi Y1.
Berdasarkan kepada keseimbangan IS-LM yang digambarkan di atas, telah dapat
ditunjukkan cirri hubungan diantara tingkat harga dengan pendapatan nasional riil
dan seterusnya kurva permintaan agregat AD dapat diwujudkan. Keseimbangan
pada E0 menunjukkan bahwa pada pendapatan nasional Y0 tingkat harga adalah P0
dan keseimbangan pada E1 menunjukkan pendapatan nasional adalah Y1 dan
tingkat harga adalah P1. Hubungan diantara tingkat harga dan pendapatan nasional
ini ditunjukkan kembali pada bagian (b) dari gambar 2.1. Kurva AD diperoleh dengan
menghubungkan titik E0 dengan titik E1. Dalam analisis permintaan agregat
penawaran agregat sumbu datar hanya menunjukkan pendapatan nasional riil dan
disingkat dengan notasi Y*. Dalam analisis IS-LM misalkan tingkat harga tidak
berubah, dan pemisalan ini menyebabkan sumbu datar diberi notasi Y yang
menggambarkan

pendapatan

mempunyai nilai yang sama.

nasional

nominal

dan

riil,

karena

keduanya

Bentuk AD seperti dalam gambar 2.1 adalah bentuk kurva AD yang tipikal, dan
keadaan itu disebabkan oleh dua perubahan penting yaitu :
1. Inflasi akan menyebabkan suku bunga meningkat. Kenaikan suku bunga ini
pertama-tama menyebabkan investasi turun yang selanjutnya akan
menurunkan permintaan agregat dan pendapatan nasional.
2. Inflasi menyebabkan kemerosotan ekspor dan kenaikan impor yang juga akan
menyebabkan pengurangan ke atas permintaan agregat dan pendapatan
nasional.
Analisis di atas menunjukkan bahwa titik-titik pada kurva AD menggambarkan
keseimbangan yang berlaku serentak di pasaran barang dan pasaran uang (karena
setiap titik pada AD menggambarkan keseimbangan IS-LM pada tingkat harga yang
berbeda). Berdasarkan kepada keadaan ini kurva AD dapat pula didefinisikan
sebagai : suatu kurva yang menunjukkan keseimbangan di pasar barang dan pasar
uang pada berbagai tingkat harga.

Gambar 2.1
Inflasi, Keseimbangan IS-LM dan Kurva AD

2.1.2 Kecondongan Kurva AD dan Faktor faktor Penyebabnya


Kecondongan kurva AD ditentukan oleh dua faktor yaitu kecondongan kurva LM dan
kecondongan kurva IS. Secara umum sifat pertalian diantara kecondongan AD
dengan kecondongan kurva LM atau IS adalah :
a. Kurva AD semakin landai apabila kurva LM semakin curam dan
b. Kurva AD semakin landai apabila kurva IS juga semakin landai.
Perhatikan gambar 2.2, menunjukkan kurva LM yang curam. Misalkan berlaku
penurunan harga, yaitu dari P0 menjadi P1. Perubahan ini menyebabkan kurva LM
bergerak dari LM (P0) menjadi LM (P1). Tanpa perubahan suku bunga keseimbangan
akan bergerak dari E0 menjadi E2 dan ini berarti pendapatan nasional akan berubah
sebanyak Y0 Y2. Perubahan keseimbangan yang sebenarnya adalah dari E 0 menjadi
E1 dan berarti suku bunga turun menjadi r1 dan peningkatan pendapatan nasional
hanyalah menjadi Y1. Berdasarkan perubahan keseimbangan ini kurva AD a dapat
dibentuk, dan kurva ADa tersebut relatif lebih landai.

Membentuk Kurva IS dengan pendekatan 4


Diagram

1. Kuadran (a) adalah kuadran yang menggambarkan keseimbangan antara S

dengan I dan antara T dengan G. Dalam perekonomian diasumsikan bahwa


semua saving diinvestasikan sehingga S = I, yaitu income dalam ekuilibrium.
Demikian juga penerimaan pajak (T) dikeluarkan oleh pemerintah (G), sehingga
akhirnya

I+G

S+T.

2. Kuadran (b) adalah kuadran investasi (I) dan pengeluaran pemerintah.


Diasumsikan bahwa investasi dipengaruhi tingkat bunga (I = e f.i), sedangkan
pengeluaran

merupakan

variabel

otonomus

(G

Go).

3. Kuadran (c) merupakan diagram penabungan tambah pajak (sebagai padanan


dari kuadran (b)). Persamaan penabungan S = -a + bY bT.
1.

Pada

tingkat

bunga

i1

didapatkan

titik

pada

kuadran

(d).

2.

Pada

tingkat

bunga

i2

didapatkan

titik

pada

kuadran

(d),

3. Melalui titik A dan titik B dapat dihubungkan kurva IS pada kuadran (d).

Definisi kurva IS pada pendekatan empat kuadran sama dengan dengan kurva IS
pada pendekatan dua kuadran. Kurva IS adalah kedudukan kombinasi tingkat
bunga dengan pendapatan di mana terjadi keseimbangan antara aggregate
demand

dan

supply,

yaitu

G.

Pada pendekatan empat kuadran memiliki kelebihan pada kuadran (c). Pada
kuadran (c) menjelaskan perubahan variabel penabungan dan perpajakan dapat
dianalisis pengaruhnya terhadap kurva IS. Kurva IS dengan pendekatan 2
diagram lebih ringkas dibandingkan dengan pendekatan 4 diagram.