Anda di halaman 1dari 7

POTENSI DAN KONTRIBUSI SUMBER DAYA JERUK PAMELO (Citrus

Maxima Merr ) TERHADAP PEMBANGUNAN PERTANIAN DI


KABUPATEN MAGETAN

TUGAS PENGANTAR ILMU PERTANIAN

Oleh :
Anugrah Tamam Basroni
23020112100003

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


JURUSAN PERTANIAN
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara asal dan tempat penyebaran tanaman jeruk. Di
negara Indonesia buah jeruk merupakan salah satu buah utama yang dikonsumsi
masyarakat Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia suka dengan buah
jeruk. Karena buah jeruk memiliki kandungan vitamin C yang tinggi, citarasa
yang enak dan menyegarkan serta mudah dalam mengkonsumsinya. Di Indonesia
kebutuhan akan jeruk dari tahun 2005 sampai tahun 2007 meningkat yakni
berturut-turut 2.214.019 ton, 2.565.543 ton, 2.625.884 ton jeruk (Biro Pusat
Statistik (2007). Hal tersebut bersamaan meningkatnya permintaan pasar baik
dalam negeri maupun luar negeri. Meningkatnya permintaan pasar akan
kebutuhan buah-buahan disebabkan karena meningkatnya pendapatan perkapita
masyarakat indonesia dan kesadaran masyarakat akan kebutuhan sumber gizi.
Jeruk merupakan komoditas unggulan nasional yang memiliki peran penting
dalam peningkatan devisa negara. Produksi jeruk Indonesia pada tahun 2003
mencapai 1.529.824 ton/ha atau meningkat 58,02 persen dari tahun 2002 sebesar
968.132 ton. (Ditjen BP Hortikultura, 2004). Berbagai jenis jeruk telah ditemukan
tumbuh dari dataran rendah sampai daratan tinggi. Salah satu jenis jeruk yang
sudah lama dikenal di Indonesia yaitu jeruk pamelo. Kota penghasil jeruk pamelo
di Indonesia adalah Kabupaten Magetan. Daerah magetan berada di daratan tinggi
tepatnya di kaki gunung lawu sehingga sangat cocok untuk menanam jeruk
pamelo. Sebagian besar penduduk di Kabupaten Magetan mata pencahariannya
adalah petani. Kecamatan Sukomoro, Bendo, Takeran dan Kawedan merupakan
kawasan yang mengembangkan jeruk pamelo, hampir seluruh lahan pertanian di
kecamatan tersebut digunakan warga untuk menanam buah jeruk pamelo. Melihat
akan kebutuhan jeruk meningkat dan jenis jeruk pamelo yang dapat memenuhi
kebutuhan akan gizi serta strategisnya Kabupaten Magetan untuk menanam jeruk
pamelo diharapkan dapat meningkatkan pembangun pertanian di daerah Magetan.

PENDEKATAN

Jeruk besar atau yang sering disebut jeruk pamelo berasal dari Asia
tenggara, yaitu Indonesia, India, Cina Selatan. Di negara Indonesia salah satu kota
penghasi jeruk pamelo yaitu Kabupaten Magetan. Di Kabupaten Magetan
tepatnya di empat kecamatan antara lain kecamatan Sukomoro, Bendo, Takeran
dan Kawedan di wilayah tersebut banyak ditanami jeruk pamelo. Tanaman jeruk
pamelo mempunyai ciri-ciri pohon berkayu dengan tinggi tanaman 5-15 m. Tajuk
pohon agak rendah dan melebar dengan percabangan tidak teratur. Ujung
percabangan biasanya merunduk. Kulit batang agak tebal dan berwarna coklat
kekuningan. Batang jeruk pamelo ada yang berduri dan ada yang tidak berduri,
biasanya duri tersebut ada pada tanaman yang berasal dari biji dan masih muda.
Setelah dewasa duri tersebut akan hilang. Daun tanaman ini berwarna hijau
kuning dan berbulu, tetapi daun yang muda umumnya tidak berbulu. Daun jeruk
pamelo berbentuk bulat telur dengan ujung tumpul dan letaknya terpencarpencar.
Bunga jeruk pamelo berupa bunga majemuk atau bunga tunggal yang bertandan.
Bentuknya agak besar dan berbau harum. Tanaman jeruk pamelo mulai
bereproduksi pada umur 4-6 tahun dan produktivitasnya bervariasi sesuai dengan
varietas, umur dan kondisi lingkungan. Sebagai patokan biasanya jeruk pamelo
dapat menghasilkan buah 75-100 buah.
Jeruk pamelo mempunyai buah berbentuk bulat, sedikit pipih, kurang
simetris dengan dasar agak tegak, warna kulit buah hijau kekuningan, warna
daging kemerahan, tekstur buah agak lunak, aroma kuat dan rasa buah manis
segar, asam dengan sedikit rasa getir dan jumlah bijinya tidak banyak atau bahkan
tidak ada sama sekali. Daging buah jeruk pamelo mengandung banyak air yang
dapat dikonsumsi langsung dengan mengupas buahnya. Selain buahnya yang
bermanfaat, bagian dalam kulit buah yang berwarna putih dapat dijadikan
manisan. Sedangkan kulit luarnya banyak mengandung kelenjar minyak. Di
Vietnam, bunga pada jeruk pamelo dapat digunakan untuk membuat parfum. Dan
kayunya dapat di gunakan untuk ganggang perkakas. Daya simpan jeruk pamelo

cukup lama yaitu antara 2-4 bulan. Jeruk pamelo dapat dipanen sekitar enam
hingga delapan bulan setelah bunga pertama mekar. Biasanya panen raya dimulai
pada bulan Mei 30 % hingga Juni 70 %. Kandungan gizi yang terdapat pada jeruk
pamelo yakni kalori sebesar 48 kal, Protein 0,6 g, Lemak 0,3 g, Karbohidrat 12,4,
Kalsium 23 mg, Fosfor 27 mg, Zat besi 0,5 mg, Vitamin C 43 mg dan Air 86,3
%.
Jeruk pamelo (Citrus maxima ) merupakan jenis jeruk yang potensial untuk
dikembangkan. Renstra Badan Litbang Pertanian 2005-2009 juga menyebutkan
bahwa jeruk pamelo merupakan salah satu jenis buah-buahan yang mendapatkan
prioritas utama untuk dikembangkan. Karena jeruk pamelo mempunyai
karakteristik yang khas yaitu buahnya berukuran besar, memiliki rasa segar dan
daya simpan lama sampai empat bulan (Susanto 2004) dan beberapa kultivar
pamelo mengandung 105 mg vitamin C per 100g bagian yang dapat dimakan (Ara
et al. 2008). Disamping itu pamelo memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi bagi
petani karena harga per buahnya dapat mencapai Rp. 5.000 sampai Rp. 15.000,
sedangkan rata-rata produksinya dapat mencapai 200 buah/pohon per tahun.
Di Kabupaten Magetan terdapat empat kecamatan yang disingkat"Betasuka"
yaitu Kecamatan Bendo, Takeran, Sukomoro, dan Kawedanan. Empat kecamatan
tersebut terkenal dengan penghasil jeruk pamelo. Rata-rata lahan di wilayah
tersebut ditanami 400 pohon per hektar dengan rata-rata per pohon menghasilkan
sekitar 60 buah jeruk pamelo. Dalam hektar omset yang dapat diraup mencapai Rp
60 juta. Omset tersebut diperoleh dengan mengasumsikan harga jual terendah
sekitar Rp2.500 per buah jeruk. Menurut data Dinas Pertanian Pemerintah
Kabupaten Magetan tahun 2003 lahan sekitar 745 hektar dapat memproduksi
mencapai Rp 44,7 miliar. Sementara peluang produksi tanaman pada tahun 2005
diperkirakan bisa mencapai Rp 65,6 miliar.
Pengembangan komoditas Jeruk Pamelo menyebar di seluruh wilayah di
Indonesia. Sifat tanaman jeruk pamelo yang relatif cepat berbuah, produksi dan
produktivitas yang cukup tinggi, daya adaptasi yang luas serta serapan pasar yang
cukup tinggi. Di Indonesia seluruh wilayah dapat ditanami jeruk pamelo namun

yang terbaik penanaman pada ketinggian dibawah 400 m dpl. Salah satu kota yang

cocok untuk menanam jeruk pamelo yaitu Kabupaten Magetan karena kabupaten
Magetan terletak di bawah kaki gunung lawu yang memiliki ketinggian 60 sampai
dengan 1.660 meter di atas permukaan laut. Kabupaten Magetan memiliki luas
wilayah 688,85 km2 atau 1,48 persen dari total luas wilayah Provinsi Jawa Timur.
Sedangkan jeruk pamelo di Kabupaten Magetan ditanam pada lahan dengan luas
sekitar 972 ha. Tanah di Kabupaten Magetan sangat subur mengingat daerah
Magetan yang terletak dibawah kaki gunung lawu sedangakan jeruk pamelo
memerlukan jenis tanah yang ringan sampai sedang, gembur, subur, banyak
mengandung oksigen dan memiliki kisaran pH antara 5-6. Jika pH di bawah 5
daun jeruk akan menguning dan buah tidak berkembang dengan baik. Jika pH di
atas 5-6 tanaman jeruk seperti kekurangan unsur borium pada pucuk daun. Selain
itu jeruk pamelo tidak tahan dengan genangan air sehingga drainase harus
diperhatikan. Oleh sebab itu, sebaiknya tanah banyak mengandung pasir dan jika
lahan kurang subur harus dilakukan pemupukan. Suhu udara rata-rata di
Kabupaten Magetan berkisar antara 16- 20 C di daerah pegunungan dan 22 - 26o
C di dataran rendah. Suhu tersebut sangat cocok untuk pertumbuhan jeruk pamelo
karena jeruk pamelo dapat tumbuh optimal pada suhu antara 25-30C. Aktivitas
pertumbuhan jeruk sangat terganggu bila suhu kurang dari 13oC namun masih
dapat bertahan pada suhu 38C. Kemudian rata-rata curah hujan di Kabupaten
Magetan per bulan tertinggi tercatat 487 mm pada bulan Maret dan hari hujan
sebanyak 305 hari pada tahun 2010. Pada tanaman jeruk pamelo curah hujan yang
cocok pertumbuhan yakni berkisar antara 1000-1200 mm per tahun. Sedangkan
kelembaban udara rata-rata yang cocok untuk ditanami jeruk adalah 70-80 %.
Jenis jeruk terutama pamelo tidak menyukai tempat yang terlindung atau
ternaungi. Cahaya matahari harus penuh supaya pertumbuhan jeruk pamelo dapat
optimal. Cahaya matahari yang cukup akan mendorong terbentuknya tunas-tunas
dan buah serta membuat batang jeruk menjadi lebih kuat.

PENUTUP

Simpulan
Dari uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa jeruk pemelo
merupakan salah satu komoditas unggulan nasional yang memiliki peran penting
dalam peningkatan pembangunan pertanian. Jeruk pamelo berpotensi untuk
dikembangkan di Indonesia tepatnya di Kabupaten Magetan yang terletak di
Provinsi Jawa Timur. Jeruk pamelo mempunyai karakteristik yang khas yaitu
buahnya berukuran besar, memiliki rasa segar dan daya simpan lama sampai
empat bulan dan mengandung 105 mg vitamin C per 100g. Disamping itu pamelo
memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi karena harga per buahnya dapat
mencapai Rp. 5.000 sampai Rp. 15.000, sedangkan rata-rata produksinya dapat
mencapai 200 buah/pohon per tahun. Di Kabupaten Magetan pada tahun 2003
lahan sekitar 745 hektar dapat memproduksi mencapai Rp 44,7 miliar. Sementara
peluang produksi tanaman pada tahun 2005 diperkirakan bisa mencapai Rp 65,6
miliar.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Litbang Pertanian. 2005. Prospek dan arah Pengembangan Agribisnis


Jeruk. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen
Pertanian. 39 h.
Departemen Pertanian . 1994. Penuntun Budiddaya Buah-buahan (Jeruk).
Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan. 269 h.
Departemen Pertanian. 2007. Statistik Produksi HortiKultura Tahun 2006. Dirjen
Hortikultura. Jakarta.
Online. http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Magetan diakses pada tanggal 18
Oktober 2013.
Suharijanto. 2011. Tesis: Induksi Tunas jeruk Pamelo (Citrus Maxima Merr.)
Kultivar Bageng secara Invitro dengan pemberian jenis dan konsentrsi
sitokinin. Universitas Sebelas Maret.