Anda di halaman 1dari 7

Lembar Tugas Mandiri 4

TINITUS
Oleh Ghany Hendra Wijaya, 0806451385
Tinitus berasal dari kata latin tinnire yang berarti dering. Dilaporkan, penderita gangguan
pada telinga 85% mengalami tinitus ini. Kejadian tinitus berkembang seiring usia. Perlu
diketahui, tinitus adalah gejala, bukan penyakit, sehingga pada dasarnya mencerminkan
terdapat suatu abnormalitas yang mendasarinya.
Tinitus adalah salah satu bentuk gangguan pendengaran berupa sensasi suara tanpa adanya
rangsangan dari luar, dapat berupa sinyal mekanoakustik maupun listrik. Keluhan ini dapat
berupa bunyi mendenging, menderu, mendesis atau bunyi lain. Penyebab tinitus sampai
sekarang masih belum diketahui pasti.
TABLE 1
Selected Causes of Tinnitus
Subjective tinnitus
Otologic: hearing loss, Meniere's disease, acoustic neuroma
Ototoxic medications or substances
Neurologic: multiple sclerosis, head injury
Metabolic: thyroid disorder, hyperlipidemia, vitamin B12 deficiency
Psychogenic: depression, anxiety, fibromyalgia
Objective tinnitus
Vascular: arterial bruit, venous hum, arteriovenous malformation,
vascular tumors
Neurologic: Palatomyoclonus, idiopathic stapedial muscle spasm
Patulous eustachian tube
Tinitus dapat dibagi atas (a) tinitus objektif dan (b) tinitus subyektif.
a. TINITUS OBJEKTIF. Dikatakan tinitus objektif jika suara tersebut dapat didengar juga
dengan pemeriksa atau dengan auskultasi di sekitar telinga. Tinitus objektif bersifat
vibratorik, berasal dari transmis vibrasi sistem muskuler atau kardiovaskuler di
sekitar telinga. Tinitus ini umumnya disebabkan kelainan-kelainan vaskuler sehingga
tinitus berdenyut seirama denyutan jantung. Tinitus berdenyut dapat ditemukan pada
pasien dengan malformasi arteriovena, tumor glomus jugular, atau aneurisma. Tinitus
objektif juga dapat dijumpai sebagai suara klik (clicking sound) yang berhubungan
dengan penyakit sendi temporomandibular (TMJ) dan karena kontraksi spontan dari
otot telinga tengah dan mioklonus palatal. Patensi tuba eustachius (terbukanya tuba,
sehingga ketika bernapas membran timpani bergerak) dapat menimbulkan tinitus
akibat hantaran suara dari nasofaring ke rongga telinga tengah.
b. TINITUS SUBYEKTIF. Dikatakan subjektif jika suara tersebut hanya dapat didengar
oleh pasien sendiri. Kelainan otologis, terutama hearing loss (tuli), merupakan kausa
paling sering pada tinitus subjektif. Tuli dapat dibagi dua: konduktif (disebabkan oleh
inhibisi transimisi suara ke telinga dalam) dan sensorineural (karena abnormalitas pada
telinga dalam atau gangguan lain pada saraf kranial VIII, co.NIHL dan presbiakusis).
Sifat tinitus nonvibratik, disebabkan proses iritatif atau perubahan degeneratif traktus
auditorius mulai dari rambut getar, koklea, sampai pusat pendengaran. Tinitus subjektif
bervariasi dalam intensitas dan frekuensi kejadiannya. Tinitus subjektif dapat
1

ditimbulkan pada kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius serta
otot-otot palatum.
NIHL adalah jenis kausa terbanyak pada tuli didapat. Sifatnya irreversible namun
dapat dicegah dengan menghindari paparan yang lama terhadap bising.
Accoustic neuroma tumor jinak yang jarang, timbul dari sel-sel schwann yang
membungkus cabang vestibuler N VIII. Sel saraf vestibuler akan dihancurkan perlahan
oleh sel tumor sehingga gejala vestibuler, seperti vertigo, dapat minimal atau transien.
Gejala yang pertama muncul justru tinitus. Tinitus terjadi unilateral pada 95% kasus.
Obat-obat ototoksik dapat merusak sel-sel rambut atau sel-sel N VIII yang kemudian
menimbulkan tinitus. Risiko diperberat dengan faktor-faktor usia, gangguan fungsi hati
atau ginjal, kehamilan, atau riwayat hearing loss sebelumnya.
Penyakit Meniere mendasari kejadian tinitus bersama episode rekuren vertigo dan
hearing loss. Tinitus dapat terjadi pada saat dia antara dua serangan (berdenging) dan
selama serangan (gemuruh).
TABLE 2
Medications and Substances that Can Cause Tinnitus
Analgesics
Aspirin
Nonsteroidal antiinflammatory drugs
Antibiotics
Aminoglycosides
Chloramphenicol
(Chloromycetin)
Erythromycin
Tetracycline
Vancomycin (Vancocin)
Chemotherapeutics
Bleomycin (Blenoxane)
Cisplatin (Platinol)
Mechlorethamine (Mustargen)
Methotrexate (Rheumatrex)
Vincristine (Oncovin)
Loop diuretics
Bumetanide (Bumex)
Ethacrynic acid (Edecrin)
Furosemide (Lasix)
Others
Chloroquine (Aralen)
Heavy metals: mercury, lead
Heterocyclic antidepressants
Quinine

PATOFISIOLOGI
Pada tinitus terjadi aktivitas elektrik pada area auditorius yang menimbulkan perasaan
bunyi, namun impuls yang ada bukan berasal dari bunyi eksternal, tetapi dari sumber impuls
abnormal di dalam tubuh pasien sendiri. Impuls abnormal dapat ditimbulkan oleh beberapa
2

kelainan telinga. Tinitus dapat terjadi dalam berbagai intensitas, bergemuruh pada tinitus
nada rendah dan berdenging pada tinitus nada tinggi. Tinitus dapat hilang timbul dan terus
menerus. Jika ada gangguan vaskuler telinga tengah, seperti tumor karotis, maka suara aliran
darah akan mengakibatkan tinitus.
Tinitus dihubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga pada tuli konduktif. Tinitus
karena gangguan konduksi biasanya berupa bunyi dengan nada rendah. Jika disertai
inflamasi, bunyi dengung akan terasa berdenyut (tinitus pulsasi). Tinitus ini terjadi pada kasus
sumbatan liang telinga karena serumen atau tumor, otitis media, otosklerosis, dll. Tinitus
dengan nada rendah berpulsasi tanpa gangguan pendengaran merupakan gejala dini yang
penting pada tumor jugulare. Pada tuli sensorineural biasanya timbul tinitus subjektif nada
tinggi (4000 Hz). Intoksikasi obat dapat menimbulkan tinitus nada tinggi, terus menerus atau
hilang timbul.
Pada hipertensi endolimfatik, seperti pada penyakit meniere, dapat terjadi tinitus nada rendah
atau tinggi, sehingga bergemuruh atau berdenging. Gangguan ini disertai vertigo dan tuli
sensorineural.
Gangguan vaskuler koklea terminal yang terjadi pada pasien yang stress akibat gangguan
keseimbangan endokrin, seperti menjelang menstruasi, hipometabolisme, atau saat hamil
dapat menimbulkan tinitus juga.

PENJELASAN LAIN
Aging
Penuaan (aging) dapat menyebabkan hilangnya sel-sel yang mensekresi neurotransmitter
inhibitor glisin. Glisin membawa sinyal inhibisi dari satu neuron ke neuron lain. Kehilangan
saraf pembawa glisin akibat penuaan, misalnya, akan menghilangkan sinyal off sehiingga
saraf akan terpicu secara spontan (spontaneus fire) dan menimbulkan tinitus.
Muscle spasm
Spasme otot kepala dan leher dapat menimbulkan tinitus, menyumbang 80% pasien. Pada
kasus ini, torsi pada lehernya (seperti memakai bantal untuk tidur, melihat mikroskop, atau
bentukan torsi leher lainnya) yang menyebabkan spasme otot akan menimbulkan tinitus.
Salah satu teori yang dikemukakan oleh Robert A. Levine menyatakan bahwa ini tidak terjadi
karena kompresi saraf atau pembuluh darah di telinga, melainkan karena adanya konvergensi
3

input sensori dan muscle spindle di leher dan kepala bersama input suara dari koklea di
nukleus koklea dorsal (DCN). Hal ini dapat menjelaskan bagaimana tinitus pun dapat terjadi
bahwa pada orang tunarungu. Karakteristik tinitus ini adalah (a) otot yang terkait dan tinitus
ipsilateral; (b) tidak ada kelainan vestibuler atau neurologis; (c) tonus dan audiometri selalu
simetris dan dalam rentang normal. Otot sternokleidomastoid sering terlibat di banyak
kasus. Palpasi pada otot ini terbukti dapat memperburuk tinitus pada kebanyakan pasien.
Middle ear infection
Suatu studi menunjukkan bahwa lebih dari 2/3 penyebab tinitus pada pasien di bawah 35
tahun adalah akibat infeksi. Infeksi telinga tengah yang sering terjadi pada anak-anak, otitis
media, dapat disebabkan oleh virus atau bakteri. Infeksi virus varicella, misalnya, yang dapat
dorman di sistem saraf jika teraktivasi akan menyerang N VIII dan ganglion genikulatum
nervus fasialis, menimbulkan Ramsay Hunt Syndrome dengan ciri telinga nyeri, tinitus,
lumpuh nervus fasialis, dan rash di mulut dan telinga.

Neural pathways involved in tinnitus. All pathways and nuclei are bilaterally symmetric.

Jaras Saraf yang berperan dalam terjadinya Tinitus


Berikut akan dibahas struktur dan anatomi pada sistem saraf yang diduga berperan dalam
terjadinya tinitus
Ventral cochlear nucleus (VCN)
VCN adalah titik relay di batang otak yang meneruskan impuls, berupa informasi seberapa
kuat kontraksi, dari otot-otot (wajah, kepala, dan leher) melalui ganglion trigeminus dan
dorsal root ganglia ke otak dan nukleus koklea dorsal.
Inferior colliculus
Saraf di kolikulus inferior tercetus sangat cepat ketika tinitus terjadi. Kolikulus inferior
merupakan titik relay yang cukup penting di midbrain yang meneruskan data dari batang otak
di bawahnya (seperti nukleus ventral dan dorsal) ke otak. Sinyal dari lidah dan
4

temporomandibular joint (TMJ) melalui nukleus koklea dorsal juga melewati struktur ini. Ini
mungkin dapat menjelaskan kenapa syndrom TMJ sering menimbulkan tinitus.
Dorsal cochlear nucleus (DCN)
DCN merupakan area batang otak yang berperan sangat penting dalam relay sinyal auditori
ke otak. DCN menerima baik sinyal suara dari sel-sel rambut di koklea maupun sinyal-sinyal
yang berhubungan dengan gerakan mata melalui sistem vestibuler. Selain itu, sinyal sensor
posisi di otot wajah, leher, kepala, batang tubuh, tangan lidah, dan TMJ juga relay ke struktur
ini melalui dorsal root ganglia. Jadi, relay antara input akustik di telinga dan input dari otototot adalah sangat berdekatan di batang otak ini.
Inhibitory signals
DCN dan VCN memproses baik sinyal eksitatorik maupun inhibitorik. Sinyal inhibisi
memainkan peranan penting juga, dengan menekan saraf yang lain terus dalam keadaan
tereksitasi. Jika sinyal inhibitorik ini diblok akibat dari jejas atau faktor-faktor lain, nukleus
koklea akan memutuskan bahwa suara ada walaupun sumber eksternalnya tidak ada ->
tinitus.
Sinyal inhibisi ini dibawa oleh neurotransmitter glycine. Kerusakan pada neuron glisin akan
menimbulkan kekacauan-kekacauan; sejumlah saraf beradaptasi dengan menurunkan
reseptor glisin, namun ada pula yang menambah reseptornya -> kesemuanya akan kacau dan
sinyal-sinyal palsu pun akan mulai bermunculan dan mencetuskan tinitus.
Pemeriksaan
Anamnesis.
Anamnesis merupakan hal yang utama dan sangat penting dalam penegakan diagnosis
tinitus. Perlu diptanyakan kualitas dan kuantitas tinitus, lokasinya, sifatnya mendenging,
menderu, atau berdetak, gemuruh, atau riak air, dan tanya juga lamanya. Ditanyakan apakah
tinitusnya mengganggu atau bertambah berat pada waktu siang atau malam hari. Tanyakan
juga gejala-gejala lain yang menyertai, seperti vertigo, gangguan pendengaran, atau gejala
neurologik lain. Tentukan apakah bilateral atau unilateral. Perlu diketahui bahwa lama
serangan tinitus 1 menit biasanya akan hilang sendiri dan biasanya bukan patologis. Bila
berlangsung dalam 5 menit dapat dicurigai patologik. Berikut tabel yang menggambarkan
interpretasi yang dapat ditarik berdasarkan hasil anamnesis.
TABLE 3
Tinnitus and Significant Medical History
History
Onset
Location
Pattern
Characteristics (i.e., pitch,
complexity)

Comments
Progressive hearing loss with tinnitus and advancing age
suggests presbycusis. Precipitous onset can be linked to
excessive or loud noise exposure or head trauma.
Unilateral tinnitus can be caused by cerumen impaction, otitis
externa, and otitis media. Tinnitus associated with unilateral
sensorineural hearing loss is the hallmark of acoustic neuroma.
Continuous tinnitus accompanies hearing loss. Episodic tinnitus
suggests Meniere's disease. Pulsatile tinnitus suggests a
vascular origin.
Low-pitched rumbling pattern suggests Meniere's disease,
high-pitched pattern suggests sensorineural hearing loss.
5

History
Comments
Associated vertigo, aural
Meniere's disease
fullness, hearing loss
Exposure to ototoxic
Noise-induced or medication-induced hearing loss
medications/factors
Exacerbating/alleviating
Tinnitus of patulous eustachian tube is alleviated by lying
factors
down with head in dependent position.
Hyperlipidemia, thyroid
Can be potential contributing causes.
disorder, vitamin B12deficiency,
anemia
Other
Significance to the patient. Management depends on how the
tinnitus affects the patient's quality of life.
Algoritma diagnosis pada tinitus dapat dilakukan melalui pedoman berikut

Kesimpulan
Tinitus merupakan gejala umum pada gangguan telinga dengan kemungkinan etiologi yang
banyak. Kebanyakan tinitus bersifat subjektif. Etiologi tinitus akibat tuli konduktif dapat
berupa infeksi telinga, impaksi serumen, dan efusi telinga tengah. Tuli konduktif dapat
disebabkan oleh paparan suara-suara bising/keras, presbiakusis, medikasi ototoksik, atau
penyakit Meniere. Tinitus subjektif biasanya disebabkan oleh gangguan neurologis, metabolik,
atau psikogenik. Tinitus objektif biasanya disebabkan abnormalitas vaskuler pada arteri
karotis atau sistem vena jugularis. Evaluasi awal tinitus meliputi anamnesis riwayat
menyeluruh, pemeriksaan kepala dan leher, dan tes audiometri untuk mengidentifikasi
penyakit yang mendasarinya.
Referensi
1.

Benson
AG,
et
al.
Inner
Ear,
Tinnitus.
Available
on
http://emedicine.medscape.com/article/856916-overview.htm, last updated nov 17,
2009 [7 Mar 2011]

2.

Bashiruddin J, Sosialisman. Tinnitus. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi ke enam. Editor: Soepardi EA, Iskandar N,
Bashiruddin J, Restuti RD. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.2009.hlm;111-2

3.

Collins RD. Algorithmic diagnosis of symptoms and signs: a cost-effective approach. 2d ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins, 2003:5689.

4.

Crummer

RW,

Hassan

GA.

Diagnostic

Approach

to

Tinnitus.

Available

on

http://www.aafp.org/afp/2004/0101/p120.html. [7 mar 2011]


5.

Nelson
TJ.
Tinnitus:
Causes
and
http://brneurosci.org/tinnitus.html [7 mar 2011]

Treatment.

Available

on