Anda di halaman 1dari 7

Kumbang Tanduk

Written by Administrator
Wednesday, 23 February 2011 23:38

Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros (L)) diklasifikasikan ke dalam ordo Coleoptera, famili
Scarabidae dan subfamili Dynastinae. Kumbang ini merupakan hama utama yang menyerang
kelapa sawit dan sangat merugikan di Indonesia, khususnya di areal
replanting
yang saat ini sedang dilakukan secara besar-besaran di Indonesia. Hal ini disebabkan karena
pada areal
replanting
, banyak tumpukan bahan organik yang sedang mengalami proses pembusukan sebagai
tempat berkembang biak hama ini.

Gambar. Kumbang tanduk dewasa

Siklus Hidup

Siklus hidup kumbang tanduk bervariasi tergantung pada habitat dan kondisi lingkungannya.

1/7

Kumbang Tanduk
Written by Administrator
Wednesday, 23 February 2011 23:38

Musim kemarau yang panjang dengan jumlah makanan yang sedikit akan memperlambat
perkembangan larva serta ukuran dewasa yang lebih kecil dari ukuran normal. Suhu
perkembangan larva yang sesuai adalah 27 o C-29 o C dengan kelembapan relatif 85-95%
(Bedford, 1980). Satu siklus hidup hama ini dari telur sampai dewasa sekitar 6-9 bulan.

Kumbang ini mempunyai telur yang berwarna putih kekuningan dengan diameter 3 mm. Bentuk
telur biasanya oval kemudian mulai membengkak sekitar satu minggu setelah peletakan dan
menetas pada umur 8-12 hari. Stadia larva terdiri atas 3 instar, dan berlangsung dalam waktu
82-207 hari. Larva berwarna putih kekuningan, berbentuk silinder, gemuk dan berkerut-kerut,
melengkung membentuk setengah lingkaran dengan panjang sekitar 60-100 mm atau
lebih (Ooi, 1988).
Prepupa terlihat menyerupai larva, hanya saja lebih kecil dari larva instar terakhir dan menjadi
berkerut serta aktif bergerak ketika diganggu. Lama stadia prepupa berlangsung 8-13 hari.
Pupa berwarna cokelat kekuningan, berukuran sampai 50 mm dengan waktu 17-28 hari.
Kumbang berwarna cokelat gelap sampai hitam, mengkilap, panjang 35-50 mm dan lebar 20-23
mm dengan satu tanduk yang menonjol pada bagian kepala (Wood, 1968). Jantan memiliki
tanduk yang lebih panjang dari betina sedangkan betina mempunyai banyak rambut pada ujung
ruas terakhir abdomen dan jantan tidak (Wood, 1968). Umur betina lebih panjang dari umur
jantan.

Biologi dan Ekologi

Kumbang akan meletakkan telur pada sisa-sisa bahan organik yang telah melapuk. Misalnya
batang kelapa sawit yang masih berdiri dan telah melapuk, rumpukan batang kelapa sawit,
batang kelapa sawit yang telah dicacah, serbuk gergaji, tunggul-tunggul karet serta tumpukan
tandan kosong kelapa sawit (Dhileepan, 1988). Adanya tanaman kacangan penutup tanah akan
menghalangi pergerakan kumbang dalam menemukan tempat berkembang biak. Liew dan
Sulaiman (1993) mengamati bahwa tanaman penutup tanah setinggi 0,6-0,8 m mengurangi
perkembangbiakan kumbang tanduk.

Batang kelapa sawit yang diracun dan masih berdiri sampai pembusukan pada sistem underpla
nting
merupakan tempat berkembangbiak yang paling baik bagi kumbang tanduk. Selama lebih dari 2
tahun masa dekomposisi, batang yang masih berdiri memberikan perkembangbiakan 39.000

2/7

Kumbang Tanduk
Written by Administrator
Wednesday, 23 February 2011 23:38

larva perhektar dibandingkan dengan batang yang telah dicacah dan dibakar (500 larva
perhektar) (Samsudin
et al.,
1993).

Kerusakan Dan Pengaruhnya Di Lapangan

Kumbang O.rhinoceros menyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam di lapangan
sampai berumur 2,5 tahun. Kumbang ini jarang sekali dijumpai menyerang kelapa sawit yang
sudah menghasilkan (TM). Namun demikian, dengan dilakukannya pemberian mulsa tandan
kosong kelapa sawit (TKS) yang lebih dari satu lapis, maka masalah hama ini sekarang juga
dijumpai pada areal TM.

Pada areal replanting kelapa sawit, serangan kumbang dapat mengakibatkan tertundanya
masa berproduksi sampai satu tahun, dan tanaman yang mati dapat mencapai 25%. Masalah
kumbang tanduk saat ini semakin bertambah dengan adanya aplikasi tandan kosong kelapa
sawit pada gawangan maupun pada sistem lubang tanam besar. Aplikasi mulsa tandan kosong
sawit (TKS) yang kurang tepat dapat mengakibatkan timbulnya masalah kumbang tanduk di
areal kelapa sawit tua.

Kumbang terbang dari tempat persembunyiannya menjelang senja sampai agak malam
(sampai dengan jam 21.00 WIB), dan jarang dijumpai pada waktu larut malam. Dari
pengalaman diketahui bahwa kumbang banyak menyerang kelapa pada malam sebelum turun
hujan.

Makanan kumbang dewasa adalah tajuk tanaman, dengan menggerek melalui pangkal batang
sampai pada titik tumbuh. Daun yang telah membuka memperlihatkan bentuk seperti huruf V
terbalik atau karakteristik potongan serrate (Sadakhatula dan Ramachandran, 1990). Serangan
yang berkali-kali pada tanaman dapat menyebabkan kematian dan menjadi rentan masuknya
kumbang Rhyncophorus bilineatus (Coleoptera: Curculionidae) (Sivapragasam et al., 1990),
juga bakteri ataupun jamur, sehingga terjadi pembusukan yang berkelanjutan. Dalam keadaan
seperti ini tanaman mungkin menjadi mati atau terus hidup dengan gejala pertumbuhan yang

3/7

Kumbang Tanduk
Written by Administrator
Wednesday, 23 February 2011 23:38

tidak normal. Tanaman dapat mengalami gerekan beberapa kali, sehingga walaupun dapat
bertahan hidup, pertumbuhannya terhambat dan mengakibatkan saat berproduksi menjadi
terlambat.

Pengendalian

Pengendalian Biologi

Pengendalian kumbang tanduk O. rhinoceros secara biologi menggunakan beberapa agensia


hayati diantaranya jamur
Metarhizium anisopliae
dan
Baculovirus oryctes.
Jamur
M. anisopliae
merupakan jamur parasit yang telah lama digunakan untuk mengendalikan hama
O. rhinoceros.
Jamur ini efektif menyebabkan kematian pada stadia larva dengan gejala mumifikasi yang
tampak 2-4 minggu setelah aplikasi. Jamur diaplikasikan dengan menaburkan 20 g/m
2

(dalam medium jagung) pada tumpukan tandan kosong kelapa sawit dan 1 kg/batang kelapa
sawit yang telah ditumbang.
Baculovirus oryctes
juga efektif mengendalikan larva maupun kumbang
O. rhinoceros
.

Pengendalian Kimia

4/7

Kumbang Tanduk
Written by Administrator
Wednesday, 23 February 2011 23:38

Pengendalian menggunakan insektisida kimia masih banyak dilakukan. Insektisida kimia yang
dahulu efektif di lapangan adalah organoklorin. Karena toksisisitas organoklorin yang tinggi,
maka insektisida tersebut diganti dengan karbofuran yang penggunaannya pada interval 4-6
minggu untuk mengendalikan kumbang dewasa.

Chung et al. (1993) mencatat beberapa jenis insektisida yang digunakan untuk mengendalikan
kumbang di pembibitan maupun stadia TBM kelapa sawit. Insektisida tersebut adalah lambda
sihalothrin, sipermetrin, venvalerate, monocrotophos dan chorphyrifos yang secara signifikan
mengurangi kerusakan
O. rhinoceros setelah 11 minggu. Insektisida kimia yang
paling efektif untuk mengurangi kerusakan adalah lambda sihalothrin. Ho (1996) melaporkan
bahwa dengan populasi hama yang tinggi, karbofuran semakin lama semakin tidak efektif.

Perangkap Feromon.

Upaya terkini dalam mengendalikan kumbang tanduk adalah penggunaan perangkap feromon.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) saat ini telah berhasil mensintesa feromon agregat untuk
menarik kumbang jantan maupun betina. Feromon agregat iniberguna sebagai alat kendali
populasi hama dan sebagai perangkap massal. Rekomendasi untuk perangkap massal adalah
meletakkan satu perangkap untuk 2 hektar (Chung, 1997). Pada harga komersial Rp. 60.000,per sachet, penggunaan feromon lebih menghemat dibanding dengan karbofuran dan manual
sekitar Rp. 117.200,-/ha/tahun. Pada populasi kumbang yang tinggi, aplikasi feromon
diterapkan satu perangkap untuk satu hektar.

Pemerangkapan kumbang O.rhinoceros dengan menggunakan ferotrap terdiri atas satu


kantong feromon sintetik (
Etil-4 metil oktanoate) yang
digantungkan dalam ember plastik kapasitas 12l. Tutup ember plastik diletakkan terbalik dan
dilubangi 5 buah dengan diameter 55 mm. Pada dasar ember plastik dibuat 5 lubang dengan
diameter 2 mm untuk pembuangan air hujan. Ferotrap tersebut kemudian digantungkan pada
tiang kayu setinggi 4 m dan dipasang di dalam areal kelapa sawit. Selain ember plastik dapat
juga digunakan perangkap PVC diameter 10 cm, panjang 2 m. Satu kantong feromon sintetik
dapat digunakan selama 2-3 bulan. Setiap dua minggu dilakukan pengumpulan kumbang yang
terperangkap dan dibunuh.

5/7

Kumbang Tanduk
Written by Administrator
Wednesday, 23 February 2011 23:38

Keefektifannya dapat menjadi lebih tinggi apabila tindakan pengendalian juga dilakukan seperti:

Penanaman tanaman kacangan penutup tanah pada waktu replanting.

Pengumpulankumbangsecara manual dari lubang gerekan pada kelapa sawit, dengan


menggunakan alat kait dari kawat. Tindakan ini dilakukan tiap bulan apabila populasi kumbang
3-5 ekor/ha, setiap 2 minggu jika populasi kumbang mencapai 5-10 ekor, dan setiap minggu
pada populasi kumbang lebih dari 10 ekor.

Penghancurantempatpeletakkan telur secara manual dan dilanjutkan dengan


pengumpulan larva untuk dibunuh, apabila jumlahnya masih terbatas.

Pemberantasan secara kimiawi dengan menaburkan insektisida butiran Karbosulfan


sebanyak (0,05-0,10 g bahan aktif per pohon, setiap 1-2 minggu) atau 3 butir kapur barus/
pohon, setiap 1-2 kali/bulan pada pucuk kelapa sawit.

Larva O. rhinoceros pada mulsa TKS di areal TM dapat dikendalikan dengan menaburkan
biakan murni jamur
Metarrhizium anisopliae sebanyak 20 g/m 2 .

6/7

Kumbang Tanduk
Written by Administrator
Wednesday, 23 February 2011 23:38

Gambar. Pemasangan perangkap feromon di areal replanting

7/7