Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Kehamilan kembar atau kehamilan multipel ialah suatu kehamilan dengan dua
janin atau lebih. Kehamilan multipel dapat berupa kehamilan ganda/ gemelli (2 janin),
triplet ( 3 janin ), kuadruplet ( 4 janin ), quintiplet ( 5 janin ) dan seterusnya dengan
frekuensi kejadian yang semakin jarang sesuai dengan hukum Hellin. Kehamilan
tersebut selalu menarik perhatian wanita itu sendiri, dokter dan masyarakat pada
umumnya.
Kehamilan kembar mempengaruhi ibu dan janin, di antaranya adalah
kebutuhan akan zat-zat ibu bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan
defisiensi zat-zat lainnya terhadap janin, yaitu usia kehamilan bertambah singkat
dengan bertambahnya jumlah janin pada kehamilan kembar: 25% pada kehamilan
gemelli, 50% pada triplet, 75% pada quadruplet, yang akan lahir 4 minggu sebelum
cukup bulan. Jadi kemungkinan terjadinya bayi prematur juga akan tinggi. Persalinan
dengan kehamilan kembar memiliki resiko lebih tinggi dari pada persalinan dengan
janin satu atau tunggal. Semakin banyak jumlah janin yang dikandung ibu, semakin
tinggi resiko yang akan ditanggung ibu.1
Insiden dari kehamilan multiple telah meningkat dengan pasti selama lebih
dari 30 tahun. Alasan untuk hal ini adalah kemajuan dalam bidang obat-obatan
reproduksi serta sejumlah besar ibu hamil berusia lanjut yang memiliki insiden
kehamilan multiple yang lebih tinggi. Morbiditas dan mortalitas mengalami
peningkatan yang nyata pada kehamilan dengan janin ganda, oleh karena itu
mempertimbangkan kehamilan ganda sebagai kehamilan dengan komplikasi bukanlah
hal yang berlebihan. Berat badan lahir rendah dan prematuritas adalah penyebab
utama dari tingginya morbiditas dan mortalitas prenatal pada kehamilan kembar.
Untuk alasan tersebut, kehamilan kembar dianggap sebagai kehamilan yang beresiko
tinggi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFENISI
Kehamilan kembar atau kehamilan multipel ialah suatu kehamilan dengan dua
janin atau lebih. Kehamilan multipel dapat berupa kehamilan ganda/ gemelli (2
janin), triplet ( 3 janin ), kuadruplet ( 4 janin ), Quintiplet ( 5 janin ) dan
seterusnya dengan frekuensi kejadian yang semakin jarang.1
2.2

EPIDEMIOLOGI

Hukum Hellin menyatakan bahwa perbandingan antara kehamilan ganda dan


tunggal

adalah

1:89,

untuk

triplet

1:892,

untuk

kuadruplet

1:893,

dan

seterusnya. Kehamilan tersebut selalu menarik perhatian wanita itu sendiri, dokter
dan masyarakat pada umumnya.
Morbiditas dan mortalitas mengalami peningkatan yang nyata pada kehamilan
dengan janin ganda, oleh karena itu mempertimbangkan kehamilan ganda sebagai
kehamilan dengan komplikasi bukanlah hal yang berlebihan.
Factor resiko kehamilan gemelli:
-

Usia ibu yang semakin tua

Factor keturunan

Obat yang menginduksi ovulasi: Profertil, Clomid dan hormon gonadotropin


dapat menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari dua

Paritas

2.3 ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI


1. Kembar Monozigotik

Kembar monozigotik atau identik, muncul dari suatu ovum tunggal yang
dibuahi yang kemudian membagi menjadi dua struktur yang sama, masing-masing
dengan potensi untuk berkembang menjadi suatu individu yang terpisah.
Hasil akhir dari proses pengembaran monozigotik tergantung pada kapan
pembelahan terjadi, dengan uraian sebagai berikut:
-

Apabila pembelahan terjadi didalam 72 jam pertama setelah pembuahan, maka


dua embrio, dua amnion serta dua chorion akan terjadi dan kehamilan
diamnionik dan di chorionik. Kemungkinan terdapat dua plasenta yang berbeda
atau suatu plasenta tunggal yang menyatu.

Apabila pembelahan terjadi antara hari ke-4 dan ke-8 maka dua embrio akan
terjadi, masing-masing dalam kantong yang terpisah, dengan chorion bersama,
dengan demikian menimbulkan kehamilan kembar diamnionik, monochorionik

Apabila terjadi sekitar 8 hari setelah pembuahan dimana amnion telah


terbentuk,maka pembelahan akan menimbulkan dua embrio dengan kantong
amnion bersama, atau kehamilan kembar monoamnionik, monochorionik.

Apabila pembuahan terjadi lebih belakang lagi, yaitu setelah lempeng embrionik
terbentuk, maka pembelahannya tidak lengkap dan terbentuk kembar yang
menyatu.

2. Kembar Dizigot
Dizigotik, atau fraternal, kembar yang ditimbulkan dari dua ovum yang
terpisah.
Kembar dizigotik terjadi dua kali lebih sering daripada kembar monozigotik
dan
insidennya dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain yaitu ras, riwayat
keluarga, usia maternal, paritas, nutrisi dan terapi infertilitas.3

2.4 PATOFISIOLOGI
2.4.1

Patofisiologi fetus multipel

Fetus multipel umumnya disebabkan oleh fertilisasi dua ovum yang terpisah
yang disebut double-ovum, dizigotik, atau kembar fraternal. Sedangkan sebagian
berasal dari ovum tunggal yang difertilisasi yang kemudian berkembang menjadi dua
struktur yang serupa yang masing-masing mempunyai potensi untuk menjadi individu
yang terpisah. Kembar ini disebut single-ovum, monozigotik atau kembar identik.
Kedua jenis proses kehamilan kembar ini dapat melibatkan pembentukkan fetus yang
lebih dari dua.1
Kembar dizigotik sebenarnya bukan merupakan kembar sejati karena
dihasilkan dari fertilisasi dua ovum yang berbeda dalam satu siklus ovulasi. Selain itu
juga kembar identik atau monozigotik tidak selalu identik karena pembelahan dari
satu ovum yang difertilisasi tidak selalu menghasilkan pembagian material
protoplasma yang seimbang. Proses pembelahan pada kembar monozigotik
merupakan suatu kejadian yang teratogenik sehingga insidensi terjadinya malformasi
meningkat.1
2.4.1.1 Kembar monozigotik
Terbentuknya kembar monozigotik diperkirakan merupakan hasil dari
keterlambatan perkembangan normal pada ovum yang sudah dibuahi. Hal ini dapat
disebabkan oleh keterlambatan transpor ovum melalui tuba fallopi karena penggunaan
agen progestasional dan kontrasepsi kombinasi serta karena trauma minor pada
blastocyst selama during assisted reproductive technology (ART).1
Hasil dari proses kembar ini tergantung kapan pembelahannya terjadi.1

Pembelahan terjadi dalam 72 jam setelah fertilisasi, morula belum terbentuk


dan blastocyst belum membentuk chorion. Terbentuklah dua embrio, dua
amnion dan dua chorion sehingga menjadi kehamilan kembar monozigotik,
diamnionik, dikhorionik. Plasenta dapat terbentuk tunggal maupun ganda.

Jika pembelahan terjadi antara hari keempat dan kedelapan morula sudah
terbentuk sedangkan sel yang akan menjadi chorion sudah berdiferensiasi
tetapi belum terbentuk amnion. Pada pembelahan ini terbentuklah dua embrio
yang berada pada dua kantung amnion yang dilapisi chorion sehingga
menghasilkan kehamilan kembar monozigotik, diamnionik, monokhorionik.

Jika sedemikian sehingga chorion dan amnion sudah berdiferensiasi pada


delapan hari setelah fertilisasi, pembelahan menghasilkan 2 embrio dalam satu
kantung

amnion,sehingga

menjadi

monoamnionik, monochorionik.

kehamilan

kembar

monozigotik,

Jika pembelahannya terjadi setelah diskus embrionik telah terbentuk,


pembelahannya menjadi tidak sempurna dan terbentuklah kembar siam /
conjoined twins.

Kembar monozigotik selalu mempunyai jenis kelamin yang sama, tetapi


perkembangannya lebih lanjut dapat berbeda tergantung dari waktu preimplantasinya.
Biasanya, kembar monozigotik mempunyai karakteristik fisik (kulit, warna mata dan
rambut, bentuk tubuh) serta genetik (golongan darah, grup serum, haptoglobin,
kecocokan pada skin graft) yang sama dan terkadang mereka merupakan gambaran
cermin dengan yang lain (dominansi tangan kanan dan kiri, dll). Meskipun demikian
sidik jari pada anak kembar monozigotik tidak sama. Triplet monozigot merupakan
hasil dari pembelahan berulang dari satu ovum yang disebut juga supertwinning. 3
Gambar 2.1 Mekanisme pembelahan kembar monozigotik

Sumber: Cunningham F.1


2.4.1.2 Kembar dizigotik
Kembar dizigotik merupakan produk dari dua ovum dan dua sperma. Kedua
ovum dilepaskan dari folikel yang berbeda, atau dari satu folikel tetapi sangat jarang,
pada waktu yang hampir bersamaan. Kembar dizigotik atau fraternal dapat
mempunyai jenis kelamin dan golongan darah yang sama ataupun berbeda. Kemiripan
diantara kembar dizigotik menyerupai kemiripan pada saudara kandung.4
2.4.1.3 Kehamilan multipel bentuk lain
2.4.1.3.1 Superfetasi
4

Pada Superfetasi diperlukan interval antara fertilisasi sepanjang atau lebih


panjang dari siklus menstruasi. Superfetasi memerlukan ovulasi dan fertilisasi pada
saat terjadinya kehamilan yang secara teori mungkin dapat terjadi sampai cavum uteri
mengalami obliterasi akibat terjadinya fusi antara desidua kapsularis dan vera. Namun
teori lain mengatakan bahwa Superfetasi tidak mungkin terjadi pada manusia karena
diperlukan 2 ovum yang dilepaskan dari dua siklus berbeda sedangkan hal ini tidak
mungkin terjadi karena adanya corpus luteum gravidarum. Meskipun sudah diketahui
dapat terjadi pada kuda, Superfetasi belum terbukti dapat terjadi pada manusia.2
2.4.1.3.2 Superfekudasi
Superfekudasi adalah fertilisasi dua ovum dalam satu siklus menstruasi tetapi
pada coitus yang berbeda, tidak diperlukan sperma dari laki-laki yang sama. Pada
Superfekudasi fetus yang dihasilkan mempunyai ukuran tubuh, warna kulit dan
golongan darah yang sesuai dengan ibu dan ayahnya masing-masing.2

Gambar 2.2 Kembar dizigotik yang merupakan Superfekudasi

Sumber: Cunningham F.1


2.4.1.3.3 Vanishing twin
Kemajuan teknologi telah memperbaiki kinerja ultrasonografi pada awal
kehamilan. Penelitian menunjukkan insidensi kehamilan kembar pada trimester
pertama lebih tinggi daripada saat kelahiran. Kembar monozigotik berisiko abortus
lebih tinggi daripada kembar dizigotik. Pada banyak kasus hanya satu fetus yang
meninggal sedangkan yang lainnya lahir sebagai kelahiran tunggal. Pada penelitian
oleh Doubilet M, dimana dilakukan pemantauan fetus dengan USG menunjukkan satu
dari fetus yang kembar menghilang umumnya terjadi pada trimester pertama.1
2.4.2 Adaptasi maternal
Secara umum perubahan fisiologis maternal pada kehamilan multipel lebih
besar daripada kehamilan tunggal. Pada awal trimester pertama wanita dengan
5

kehamilan multipel sering mengalami mual dan muntah serta peningkatan volume
darah pada kehamilan mutipel yang lebih berat yaitu sekitar 50-60% sedangkan pada
kehamilan tunggal hanya 40-50% (penambahan 500cc). Jumlah eritrosit juga
meningkat tetapi tidak setinggi pada kehamilan tunggal sehingga terjadi anemia
fisiologis. Perdarahan saat persalinan pervaginam lebih kurang 935ml atau lebih
banyak 500ml daripada persalinan pada kehamilan tunggal. Hal ini dikompensasikan
dengan peningkatan volume darah maternal, dan peningkatan kebutuhan zat besi dan
asam folat sehingga memperbesar risiko anemia maternal.1
Penelitian menurut Cunningham menunjukkan adanya peningkatan cardiac
output sebesar 20% dibandingkan kehamilan tunggal. Terutama disebabkan oleh
peningkatan stroke volume dan frekuensi denyut jantung. sedangkan fungsi paru
wanita dengan kehamilan multipel sama dengan kehamilan tunggal.1
Pertumbuhan uterus pada kehamilan multipel dapat mencapai volume 10L
dengan berat lebih dari 20 pon. Khususnya pada kembar monozigotik dapat terjadi
akumulasi cairan amnion yang tinggi (akut hidramnion). Pada keadaan seperti ini
organ abdomen dan paru-paru ibu dapat terkompresi oleh uterus. Pada kehamilan
multipel dengan komplikasi hidramnion, fungsi ginjal ibu dapat terganggu umumnya
akibat terjadinya obstructive uropathy sehingga terjadi oliguria dan azotemia. Urine
output dan level kreatinin plasma ibu akan kembali normal setelah persalinan. Pada
hidramnion yang berat dapat dilakukan amniocentesis terapeutik dapat membuat ibu
lebih nyaman, mengurangi obstructive uropathy, menurunkan risiko persalinan
prematur dan KPSW. Tetapi hidramnion umumnya cepat terjadi reakumulasi setelah
amniosentesis.1
2.5 PATOLOGI PADA KEHAMILAN KEMBAR
Secara umum patologi yang dapat terjadi pada kehamilan multipel dapat
dibagi berdasarkan waktu terjadinya yaitu:
Antepartum :
1. Kelahiran prematur
2. Kelainan kongenital
3. Tingkat abortus spontan yang tinggi
4. IUGR
5. Anemia maternal
6. Twin-to-twin transfusion syndrome
7. Hipertensi karena kehamilan
8. Hidramnion
Intrapartum
1. Placenta previa
2. Abruptio placenta
3. Vasa previa
4. Partus lama
5. Kelainan letak janin
6. Prolaps tali pusat
7. Insidensi seksio sesarea meningkat
Postpartum:
1. insidensi transfusi darah maternal meningkat
6

2. Perdarahan post partum / atonia uteri


Selain itu patologi yang dapat terjadi dapat dibagi tiga, yaitu patologi
maternal, plasenta dan tali pusat serta patologi fetal. Lebih jelasnya dibahas sebagai
berikut.
2.5.1 Patologi Maternal
Meskipun volume darah meningkat, pada kehamilan multipel sering terjadi
anemia maternal karena tingginya kebutuhan fetus akan zat besi serta peningkatan
volume plasma yang tidak sebanding dengan peningkatan sel darah merah
mengakibatkan kadar hemoblobin menjadi turun, keadaan ini berhubungan dengan
kejadian edema pulmonum pada pemberian tokolitik yang lebih tinggi dibandingkan
kehamilan kembar. Angka kejadian persalinan preterm ( umur kehamilan kurang 37
minggu ) pada kehamilan kembar 43,6 % dibandingkan dengan kehamilan tunggal
sebesar 5,6 %.5
Volume tidal respirasi meningkat tetapi wanita dengan kehamilan multipel
umumnya breathless (kemungkinan karena peningkatan progesteron). Distensi
uterus dan peninggian tekanan pada organ viseral sekitar dan vaskularisasi pelvis
umum terjadi pada kehamilan multipel. Terkadang kista lutein bahkan asites dapat
terjadi karena level hormon korionik gonadotropin yang meninggi secara abnormal.
Kemungkinan terjadinya plasenta previa lebih tinggi karena ukuran plasenta lebih
besar atau terdapat dua plasenta.3
Sistem kardiovaskuler, respirasi, gastrointestinal, renal dan muskuloskeletal
ibu mengalami stress dikombinasikan dengan tingginya kebutuhan nutrisi maternalfetal.3
Frekuensi terjadinya hipertensi yang diperberat kehamilan, preklamsia dan
eklamsia meningkat pada kehamilan kembar. Pendarahan antepartum oleh karena
solutio plasenta disebabkan permukaan plasenta pada kehamilan kembar jelek
sehingga plasenta mudah terlepas. Perdarahan postpartum dalam persalinan kembar
disebabkan oleh distensi uterus yang berlebihan, meningkatkan risiko terjadinya
atonia uterus.5
2.5.2 Placenta dan tali pusat
Pada kembar monozigotik keadaan plasenta dan membrannya dapat bervariasi,
tergantung waktu mulainya pembelahan dari diskus embrionik. Variasi yang dapat
terjadi antara lain sebagai berikut:
1. Pembelahan pada stadium morula dan diferensiasi trofoblas (hari ke-3)
menghasilkan plasenta yang terpisah atau bersatu (fusi), 2 korion, 2 amnion.
Proses ini secara umum menyerupai kembar dizigotik dan terjadi 1/3 dari
jumlah kehamilan kembar monozigotik. Hal ini mendukung manifestasi klinik
dimana kembar dizigotik berisiko komplikasi klinik.3

2. Pembelahan setelah diferensiasi trofoblas tetapi sebelum pembentukkan


amnion (hari ke 4-8) menghasilkan satu plasenta, korion dan 2 amnion. Hal ini
terjadi sekitar 2/3 dari jumlah kehamilan kembar monozigotik.3
3. Pembelahan yang terjadi setelah diferensiasi dari amnion (hari 8-13) akan
menghasilkan plasenta, korion, dan amnion tunggal, tetapi hal ini jarang
terjadi.3
4. Pembelahan pada usia kehamilan >15 hari dapat mengakibatkan kembar yang
inkomplit, jika pembelahan terjadi pada usia 13-15 hari akan menghasilkan
kembar siam (conjoined twins).3
Gambar 2.3 Variasi plasenta pada kehamilan multipel

Sumber: Melissa B.3


Saat persalinan, septum membranosa berbentuk T atau membran plasenta yang
membatasi antara kedua janin harus diinspeksi dan dipisahkan untuk menentukan tipe
kehamilan kembar. Kembar monozigotik umumnya memiliki septum transparan
(<2mm) yang tersusun dari 2 membran amnion (tanpa korion dan desidua). Kembar
dizigotik hampir selalu memiliki septum yang tebal dan opak yang terdiri dari 2
korion, 2 amnion dan desidua diantaranya.3
Pada plasenta monokorionik dapat diidentifikasi dengan memisahkan amnion
dengan amnion untuk melihat adanya korion tunggal dengan satu plasenta. Umumnya
plasenta monokorionik mempunyai anastomosis, sebaliknya pada plasenta dikorionik
jarang memiliki anastomosis di antara pembuluh darah fetus. Kembar monozigotik
jarang sekali memiliki fenotip jenis kelamin yang sama, hal ini dapat terjadi jika salah
satu janin berjenis kelamin wanita dengan sindrom Turner (45, XO) dan yang lain
laki-laki (46,XY).3
Plasenta monokorionik mempunyai masalah yang lebih rumit seperti
gangguan vaskularisasi plasenta yang dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan
janin. Masalah yang lebih berat adalah kemungkinan terjadinya kelainan yang disebut
twin-twin transfusion syndrome yang disebabkan oleh adanya anastomosis vaskuler
8

antara janin dapat berbentuk arteri-arteri, vena-vena atau kombinasi arteri-vena. Pada
kasus yang tidak terkompensasi, janin yang secara genetik identik berbeda jauh dalam
bentuk dan ukuran. Janin yang merupakan resipien mengalami plethoric, oedem,
hipertensi, kern ikterus, ascites, jantung, hati dan ginjal dapat membesar, hidramnion
dapat terjadi akibat poliuria. Meskipun terlihat sehat janin resipien dengan
hipervolemik dapat meninggal karena gagal jantung dalam 24 jam pertama
kehidupan. Janin donor berukuran lebih kecil dan dehidrasi karena pertumbuhan
terhambat, malnutrisi dan hipovolemia dapat pula disertai oligohidramnion, anemia
berat yang berkembang menjadi gagal jantung. Berbagai terapi untuk twin-twin
transfusion syndrome telah dikembangkan antara lain amnioreduction, amniotic
septotomy dan ablasi laser pada pembuluh darah yang berhubungan. Percobaan secara
acak menunjukkan ablasi dengan laser memberikan hasil yang lebih baik tetapi
prosedur ini masih mempunyai keterbatasan dalam pengadaan alat dan tenaga.3
Kedua janin kembar berisiko mengalami prolaps tali pusat. Janin ke-2
terancam karena pelepasan plasenta yang prematur, hipoksia, constriction ring
dystocia, manipulasi operatif atau prolonged anestesia.3
2.5.3 Fetus
Malformasi lebih banyak muncul pada bayi dengan kembar dibandingkan
kehamilan tunggal. Kembar monozigotik berisiko lebih besar dibandingkan kembar
dizigotik. Kembar siam atau conjoined merupakan hasil pembelahan yang tidak
sempurna dari satu ovum yang terjadi pada hari ke-13 dan ke-14. Jika pembelahan
setelah itu akan terbentuk kembar inkomplit (2 kepala, 1 badan). Kembar siam dapat
dibagi berdasarkan tempat bersatunya, yaitu: pygopagus (pada sacrum), thoracopagus
(pada thoraks), craniopagus (pada kepala), and omphalopagus (pada dinding
abdomen).3
Bayi kembar dan plasentanya umumnya lebih ringan dari pada bayi tunggal.
Semakin besar jumlah bayi kembar, semakin berat tingkat gangguan pertumbuhannya.
Berat badan lahir rendah pada bayi kembar kemungkinan merupakan suatu bukti
adanya nutrisi yang tidak adekuat. Hal ini merupakan salah satu penyebab kematian
bayi pada kehamilan kembar. Pada usia kehamilan lanjut, fetus dapat mengalami
kelahiran prematur, kelainan letak, dan hidramnion.3
Kematian satu janin pada kehamilan kembar dapat terjadi, penyebab kematian
yang umum adalah saling membelitnya tali pusat. Bahaya yang perlu
dipertimbangkan pada kematian satu janin adanya koagulopati konsumtif berat yang
dapat mengakibatkan terjadinya disseminated intravascular coagulopathy.5
Fetus acardiacus adalah fetus monozigotik parasitik yang tidak mempunyai
jantung dan berkembang mengandalkan reversed circulation yang disuplai oleh 1
anastomosis arteri-arteri dan 1 vena-vena. Hal ini disebut sindrom twin reversed
arterial perfusion (TRAP). Fetus donor berisiko mengalami hipertropi jantung bahkan
dapat terjadi gagal jantung dengan tingkat mortalitas 35%. Berbagai cara untuk
menimbulkan oklusi tali pusat dapat dilakukan dengan terapi in-utero.3
Fetus papiraseous merupakan fetus yang kecil, termumifikasi umumnya
ditemukan saat persalinan bayi yang sehat. Insidensinya secara umum 1 dalam
17.000-20.000 kehamilan. Fetus papyraceous disebabkan kematian salah satu fetus
9

yang kembar, kehilangan cairan amnion, atau resorpsi dan kompresi oleh janin yang
hidup.3

2.6

DIAGNOSA

2.6.1 Anamnesis dan manifestasi klinik


Riwayat kehamilan multipel dalam keluarga, usia ibu yang tua, paritas tinggi,
ukuran tubuh ibu yang besar dan riwayat kehamilan multipel pribadi merupakan
petunjuk yang mengarahkan diagnosis kehamilan multipel. Riwayat penggunaan
clomiphene citrate, gonadotropin dan kehamilan dengan ART semakin memperkuat
kemungkinan.1
Manifestasi klinik pada kehamilan multipel pada umumnya sama dengan
kehamilan tunggal tetapi dengan intensitas yang lebih berat, seperti penekanan berat
pada pelvis, mual, nyeri punggung, varikosis, konstipasi, haemorrhoid, distensi
abdominal dan kesulitan bernapas.3

2.6.2 Pemeriksaan fisik


Pemeriksaan fisik yaitu dengan pengukuran tinggi fundus yang akurat
merupakan salah satu petunjuk yang penting. Pada trimester ke-2 ukuran uterus
membesar lebih dari usia kehamilan yang ditentukan berdasarkan hari pertama haid
terakhir (HPHT). Menurut cunningham F tinggi fundus uteri pada 336 kehamilan,
pada usia kehamilan 20-30 minggu tinggi fundus pada kehamilan kembar rata-rata
lebih tinggi 5cm daripada kehamilan tunggal dengan usia kehamilan yang sama.1
Pada palpasi uterus teraba 2 kepala janin yang biasanya terdapat pada kuadran
uterus yang berbeda. Diagnosis dengan palpasi ini sulit ditegakkan sebelum trimester
ketiga, bahkan jika posisi janin bertumpuk, ibu obesitas dan adanya hidramnion
palpasi abdominal sulit untuk mengidentifikasi kehamilan multipel meskipun pada
usia kehamilan tua.1
Pada timester pertama, denyut jantung janin dapat dideteksi dengan USG
doppler. Pemeriksaan teliti dengan aural fetal stethoscope dapat mengidentifikasi
bunyi jantung janin pada usia 18-20 minggu.1
Secara umum pemeriksaan fisik yang dapat mengarahkan diagnosis kehamilan
multipel yaitu3:
1. Uterus yang lebih besar dari usia kehamilan.
2. Peningkatan berat badan ibu yang berlebihan tanpa adanya obesitas atau
oedem.
3. Polihidramnion.
4. Terdapat ballotement yang lebih dari satu fetus.
5. Bagian kecil yang multipel.

10

6. Bunyi jantung yang berbeda dengan denyut jantung janin dan ibu, dengan
perbedaan 8 denyut per menit.
2.6.3 Penemuan laboratorium
2.6.3.1 USG
USG merupakan pemeriksaan utama untuk mendiagnosis kehamilan multipel
dan dapat ditentukan pada usia kehamilan 4 minggu dengan probe intravaginal. Selain
itu dapat ditentukan keadaan plasenta. Untuk dapat mengidentifikasi kehamilan
multipel USG rutin sebaiknya dilakukan pada usia kehamilan 18-20 minggu.
Diagnosis kehamilan multipel pada trimester pertama harus dilakukan dengan hatihati sampai dengan pasti dapat dua embrio yang viabel. Kesalahan diagnosis dengan
bekuan darah intrauterin atau koleksi cairan sebagai janin non-viabel dapat
menimbulkan trauma pada pasien.1
USG pada trimester pertama kehamilan penting untuk menentukan sifat
korion. Pada janin dikorionik biasanya ditemukan jenis kelamin yang berbeda,
plasenta yang berbeda, membran pembagi yang tebal (>2mm) atau adanya tanda twin
peak yaitu berupa membran yang menyusup diantara 2 plasenta yang berfusi. Bila
salah satu plasenta berada pada dinding bagian depan uterus sedangkan plasenta yang
lain pada dinding belakang, saat pencitraan dengan USG akan terlihat plasenta yang
menumpuk seperti satu plasenta. Pada kasus seperti ini akan terlihat bentuk segitiga
pada pertemuan membran dan plasenta disebut tanda lambda. Menurut penelitian oleh
Sepulveda W dan teman-teman, pemeriksaan dengan USG pada usia kehamilan 10-14
dapat menentukan kehamilan multipel diklasifikasikan sebagai monokorionik atau
dikorionik. Kehamilan multipel diklasifikasikan sebagai monokorionik jika terdapat
satu plasenta tanpa tanda lambda pada hubungan membran-plasenta diantara janin dan
diklasifikasikan sebagai dikorionik jika terdapat satu plasenta dengan tanda lambda
atau terdapat dua plasenta. Cara ini merupakan cara yang dapat diandalakan dan
akurat dalam menentukan jenis kehamilan multipel.1
Pada janin multipel monokorionik diamnionik, terdapat satu plasenta dan janin
dipisahkan hanya dengan membran amnion yang tipis sehingga akan terbentuk tanda
berbentuk huruf T.11 Kriteria USG untuk mendiagnosis sifat koriondan amnion pada
kehamilan ganda dapat dilihat pada tabel berikut ini.4

Tabel 2. 1 Kriteria USG untuk mendiagnosis sifat koriondan amnion pada kehamilan
ganda
Gambaran USG

Sifat korion dan amnion

Jenis kelamin fetus berbeda

Dikorionik/diamniotik (dan dizigotik)

Plasenta yang terpisah

Dikorionik/diamniotik

Tanda lambda atau twin peak

Dikorionik/diamniotik
11

Membran pembatas yang tebal


(subjektif)

Dikorionik/diamniotik

Membran pembatas yang tipis


(subjektif)

Monokorionik/diamniotik

Tidak ada membran pembatas

Monokorionik/monoamniotik

Sumber: Duff P.4


Gambar 2.4 USG pada kehamilan 7 minggu, tampak dua kantong gestasi berisi fetus

Sumber: Cunningham F.1


Gambar 2.5 Gambaran USG dari tanda twin peak (A) dan diagram skematik tanda
twin-peak (B)

Sumber: Cunningham F.1


Gambar 2.6 Gambaran USG dari tanda berbentuk huruf T (T shape) pada kembar
monokorionik diamnionik

12

Keterangan gambar:
Panah pada sebelah kiri menujuk
pada septum membran interfetal
(<1,5 mm) pada kembar
monokorionik yang membentuk
huruf T pada dasarnya.

Pada kehamilan multipel yang lebih dari dua janin, evaluasi dengan USG
untuk menentukan jumlah janin dan posisinya terutama pada trimester pertama sulit
dilakukan. Pada 50% kasus kehamilan multipel ditemukan presentasi kepala untuk
kedua janin. Sedangkan 33% kasus presentasi janin A kepala dan janin B bokong,
pada 10% kasus kedua janin dalam presentasi bokong dan sisanya dapat salah satu
atau keduanya dalam posisi lintang.1
Gambar 2.7 Kiri: kedua janin presentasi kepala, kanan: presentasi kepala dan bokong

Sumber: Melissa B.3


2.6.3.2 Pemeriksaan darah
Nilai hematokrit, hemoglobin dan jumlah eritrosit biasanya menurun
berhubungan dengan peningkatan volume darah. Anemia hipokrom normositer sering
terjadi pada kehamilan multipel karena peningkatan kebutuhan zat besi pada trimester
kedua. Tes toleransi glukosa menunjukkan diabetes melitus gestasional dan
hipoglikemia gestasional meningkat pada kehamilan multipel daripada kehamilan
tunggal.3
Jumlah korionik gonadotropin dalam plasma dan urine rata-rata lebih tinggi
daripada kehamilan tunggal, level alfa-fetoprotein juga dapat meningkat.1 Jumlah
13

rata-rata serum alfa-fetoprotein maternal 2,5 kali lebih tinggi pada kehamilan multipel
dibandingan kehamilan tunggal.4 Hal ini diduga disebabkan tingginya tingkat protein
yang dilepaskan oleh hati janin yang multipel dan ditemukan pada darah ibu
dibandingkan janin tunggal.4

2.6.3.3 Pemeriksaan radiologi


Pemeriksaan dengan rontgen sudah jarang dilakukan untuk mendiagnosis
kehamilan ganda karena cahaya penyinaran berisiko menganggu perkembangan
janin.5
2.7 DIAGNOSA BANDING
Diagnosis banding wanita hamil dengan uterus yang lebih besar dari usia
kehamilan antara lain sebagai berikut:1,3
1. Fetus multipel
2. Elevasi uterus karena distensi vesica urinaria ataupun rektum yang penuh.
3. HPHT yang tidak akurat sehingga ukuran uterus tidak sesuai dengan usia
kehamilan.
4. Hydramnion
5. Mola hidatidosa, meskipun dan dibedakan dengan mudah dari kehamilan
multipel komplikasi ini harus dipikirkan pada usia kehamilan dini.
6. Myoma uteri
7. Tumor abdomen seperti tumor fibroid uterus dan tumor ovarium
8. Fetal macrosomia (pada kehamilan tua)
2.8 PENANGANAN PERSALINAN
2.8.1 Prenatal care
Untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas dalam kehamilan multipel perlu
diperhatikan:

Kontrol prenatal pada wanita dengan kehamilan multipel harus lebih sering
daripada kehamilan tunggal. Jadwal kontrol tergantung dari masalah obstetrik
pada masing-masing individu.4
Umumnya mulai umur kehamilan 24 minggu pemeriksaan antenatal dilakukan
tiap 2 minggu, dan sesudah usia kehamilan 36 minggu pemeriksaan dilakukan
tiap minggu.4

14

Wanita dengan kehamilan multipel harus mengurangi aktivitasnya sehari-hari


terutama pada usia kehamilan 5-9 bulan sehingga aliran darah ke plasenta
meningkat agar pertumbuhan janin baik .4

Untuk menghindari persalinan prematur, diagnosis dan pencegahannya harus


dilakukan sedini mungkin.4

Pemantauan dengan USG harus dilakukan setiap 3-6 minggu, tes antenatal
seperti Non-Stress Test (NST) dilakukan setiap minggu pada trimester ketiga.4

Pemeriksaan volume cairan amnion penting untuk mendeteksi adanya


oligohidramnion yang mengindikasikan adanya gangguan uteroplasenta.
Pengukurannya dapat menggunakan amnionic fluid index (AFI).1

Jika terdapat risiko kelahiran prematur, pada minggu ke-34 sebaiknya


diberikan kortikosteriod untuk mengurangi risiko respiratory distress
syndrome

pada

neonatus

dan

perdarahan

intraventrikular,

berupa

betamethsone 12 mg/hari , untuk 2 hari saja. Bila tak ada betamethasone dapat
diberikan

dexamethasone

serta

pemberian

tokolitik.

Kortikosteroid

mempercepat produksi surfaktan dari pneumosit dan mengurangi insidensi


kematian neonatus, perdarahan intraserebral, dan enterokolitis. Dosis
betametason yang dianjurkan adalah 12.0 mg intramuskular, diulang dalam 24
jam. Deksametason diberikan dalam dosis 5 mg dengan interval 6 jam hingga
tercapai dosis total 20 mg. Pemberian kortikosteroid harus dimulai 24-48 jam
sebelum persalinan.8 Kortikosteroid diberikan untuk menginduksi pematangan
paru janin pada kehamilan 24 sampai 34 minggu jika tidak ditemukan tandatanda infeksi. Pemberian kortikosteriod pada kehamilan kurang dari 23
minggu masih kontroversi. Pemberian kortikosteroid pada kehamilan kurang
dari 23 minggu tidak berguna untuk memperbaiki keadaan pernafasan karena
pada janin kurang dari 23 minggu belum terbentuk sel pneumosit yang
memproduksi surfaktan.4

Angka kelahiran prematur meningkat seiring dengan tingginya jumlah fetus,


sehingga reduksi pada kehamilan multipel yang lebih dari dua dapat
dipertimbangkan.4

Kebutuhan kalori, protein, mineral, vitamin dan asam lemak esensial sangat
meningkat pada wanita dengan kehamilan multipel. Konsumsi kalori harus
ditingkatkan 300Kcal/ hari. Menurut penelitian Brown dan Carlson pada tahun
15

2000 sebaiknya peningkatan berat badan wanita hamil disesuaikan dengan


berat badan sebelum hamil, tetapi wanita dengan kehamilan triplet (kembar
tiga) setidaknya mengalami peningkatan berat badan sebesar 50 pon.
Peningkatan kalori sebaiknya dilengkapi dengan suplemen zat besi 60100mg/hari dan asam folat 1mg/hari.4
2.8.3 Persalinan
Banyak komplikasi yang dapat terjadi pada kehamilan multipel, oleh karena
itu persiapan khusus diperlukan saat persalinan. Rekomendasi penanganan
intrapartum yang dapat dilakukan saat persalinan dengan janin lebih dari satu antara
lain: 1
1. Penolong persalinan yang terlatih harus mengawasi pasien selama proses
persalinan disertai observasi pembukaan serviks dan keadaan janin.
2. Pemasangan infus intravena harus dilakukan untuk memasukkan cairan secara
cepat. Bila tidak terdapat perdarahan atau gangguan metabolisme selama
persalinan diberikan cairan infus dengan dextrose atau ringer laktat sebanyak
60-120ml/jam.
3. Seorang dokter spesialis kandungan yang terampil dalam mengidentifikasi
bagian-bagian janin dan dapat melakukan manipulasi intrauteri harus ada.
4. Mesin USG tersedia untuk megevaluasi posisi dan status janin yang kedua
setelah janin yang pertama lahir.
5. Seorang dokter spesialis anestesi harus siap bila diperlukan persalinan dengan
seksio sesarea.
6. Terdapat orang yang terlatih melakukan resusitasi untuk masing-masing janin.
7. Ruangan bersalin harus cukup luas untuk semua anggota tim agar dapat
berkerja dengan baik.
Presentasi janin berperan besar dalam dilatasi serviks dan jalan lahir. Jika
presentasi janin pertama adalah kepala maka persalinan dapat dilakukan secara
spontan ataupun dengan forceps. Bila presentasi janin pertama adalah bokong,
masalah utama yang biasanya muncul adalah:1
1. Janin biasanya besar dan kemungkinan terjadi aftercoming head.
2. Janin kecil sehingga lahirnya ektremitas tidak menyebabkan dilatasi yang
adekuat pada serviks dan jalan lahir sehingga kepala sulit lahir.
3. Terjadi prolaps tali pusat.

16

Jika muncul masalah, biasanya persalinan dengan seksio sesarea dipilih,


kecuali pada bayi yang prematur dengan kemungkinan bertahan hidup yang rendah.
Pada janin dengan presentasi kepala dan bokong dapat terjadi fenomena lock twin.
Fenomena ini terjadi saat penurunan janin dengan presentasi bokong melalui jalan
lahir, dagu janin pertama dan kedua terkunci. Bila terjadi fenomena lock twin
teridentifikasi persalinan dengan seksio saesaria direkomendasikan.1
Gambar 2.8 Lock twin

Sumber: Melissa B.3


Persalinan pervaginam janin kedua harus dilakukan secara tepat dan cepat.
Setelah janin pertama dilahirkan, presentasi, ukuran, dan hubungannya dengan jalan
lahir harus setelah ditentukan dengan mengkombinasikan pemeriksaan abdominal,
vaginal dan terkadang intrauterin. Jika kepala atau bokong sudah terfiksasi jalan lahir,
dilakukan penekanan fundus moderat dan membrannya akan ruptur. Segera setelah
itu, pemeriksaan digital serviks diulang terus untuk mencegah prolaps tali pusat.
Persalinan akan segera dimulai dan denyut jantung janin harus dimonitor. Induksi
persalinan tidak perlu dilakukan kecuali jika terjadi penurunan denyut jantung janin
atau perdarahan. Perdarahan menandakan pelepasan plasenta mulai terjadi, hal ini
dapat membahayakan ibu dan bayinya. Bila tidak ada kontraksi dalam 10 menit harus
dilakukan stimulasi dengan oxytocin yang diencerkan.1
Bila presentasi occipital atau bokong sudah masuk ke pintu atas panggul tetapi
belum terfiksasi, bagian terendahnya dapat diarahkan dengan satu tangan dari dalam
vagina dan tangan yang lain menekan fundus uteri dari luar. Pada janin kedua dengan
letak non-cephalic dapat dilakukan versi luar intrauterin.1
Prinsip penanganan kehamilan ganda: 5
Bayi I
Cek persentasi
Bila verteks lakukan pertolongan sama dengan presentasi normal dan lakukan
monitoring dengan partograf
17

Bila persentasi bokong, lakukan pertolongan sama dengan bayi tunggal


presentasi bokong
Bila letak lintang lakukan seksio sesaria
Monitoring janin dengan auskurtasi berkala DJJ
Pada kala II beri oksitosis 2,5 IU dalam 500 ml dekstrose 5% atau ringer laktat/ 10
tts / mt.
Bayi II
Segera setelah kelahiran bayi I
-

Lakukan palpasi abdomen untuk menentukan adanya bayi selanjutnya

Bila letak lintang lakukan versi luar

Periksa DJJ

Lakukan pemeriksaan vaginal untuk : adanya prolaps funikuli, ketuban pecah


atau intak, presentasi bayi.

Bila presentasi verteks


-

Bila kepala belum masuk, masukan pada PAP secara manual

Ketuban dipecah

Periksa DJJ

Bila tak timbul konteraksi dalam 10 menit, tetesan oksitosin dipercepat sampai
his adekuat

Bila 30 menit bayi belum lahir lakukan tindakan menurut persyaratan yang
ada (vakum, forceps, seksio)

Bila presentasi bokong


-

Lakukan persalinan pervaginan bila pembukaan lengkap dan bayi tersebut


tidak lebih besar dari bayi I

Bila tak ada konteraksi sampai 10 menit, tetesan oksidosin dipercepat sampai
his adekuat

Pecahkan ketuban

Periksa DJJ

Bila gawat, janin lakukan ekstraksi

Bila tidak mungkin melakukan persalinan pervaginam lakukan seksio secarea.

Bila letak lintang


-

Bila ketuban intak, lakukan versi luar

Bila gagal lakukan seksio secarea

18

Pasca persalinan berikan oksitosin drip 20 IU dalam 1 liter cairan 60 tetes/menit atau
berikan ergometrin 0,2 mg IM 1 menit sesudah kelahiran anak yang terakhir dan
lakukan manajemen aktif kala II. Untuk mengurangi perdarahan pasca persalinan.
Interval antara janin kembar pertama dan kedua
Dulu umumnya interval persalinan antara janin kembar pertama dan kedua
adalah 30 menit. Menurut penelitian oleh Rayburn dan kelompoknya (1984), jika
monitoring fetus dilakukan terus-menerus interval yang lebih panjang akan
memberikan hasil yang lebih baik. American College of Obstetricians and
Gynecologists (1998) telah menetapkan bahwa interval antara kelahiran janin multipel
tidak mempengaruhi kesejahteraan janin. Leung dan kelompoknya (2002)
menggambarkan hubungan langsung antara penurunan nilai gas darah dari tali pusat
dengan interval persalinan.1
Versi podalik internal
Manuver ini dilakukan dengan cara memutar janin menjadi presentasi bokong
dengan tangan operator yang diletakkan didalam uterus. Operator memegang kaki
janin yang kemudian dilakukan persalinan dengan ekstraksi bokong. Penelitian oleh
Chauhan tahun 1995 yang membandingkan hasil persalinan kehamilan kembar
dengan versi podalic dan ekstraksi bokong dibandingkan dengan versi external
cephalic, menunjukkan persalinan dengan ekstraksi bokong lebih superior, karena
kejadian fetal distress yang lebih rendah.1
Gambar 2.9 Versi podalik internal

Sumber: Cunningham F.1


Seksio sesarea
Janin multipel dapat menimbulkan masalah intraoperatif yang tidak biasa.
Hipotensi umumnya muncul pada wanita dengan kehamilan multipel bila ditempatkan
pada posisi supine, maka penempatan pasien dalam posisi left lateral sangat penting
untuk mengurangi penekanan berat uterus pada aorta. Incisi pada uterus harus cukup
besar untuk mencegah persalinan traumatik pada kedua fetus. Pada beberapa kasus,
incisi vertikal pada segmen bawah rahim dapat lebih menguntungkan. 1
Kehamilan multipel lebih dari dua
Saat persalinan dimulai, monitoring denyut jantung janin penting dilakukan.
Pada persalinan pervaginam janin pertama biasanya dapat lahir spontan atau dengan
19

sedikit manipulasi, sedangkan janin selanjutnya dilahirkan sesuai presentasinya


umumnya membutuhkan manuver yang kompleks seperti ekstraksi bokong murni
dengan atau tanpa versi podalic internal bahkan seksio sesarea. Pada kehamilan
kembar tiga atau lebih, cara persalinan dengan seksio sesarea dianggap lebih baik.
Persalinan pervaginam dilakukan bila harapan hidup bayi rendah misalnya jika janin
imatur atau adanya komplikasi seksio sesarea terhadap ibu.1
Reduksi kehamilan
Pada beberapa kasus kehamilan multipel, reduksi jumlah janin menjadi dua
atau tiga dapat meningkatkan kemungkinan hidup janin yang tersisa. Reduksi
kehamilan dapat dilakukan melalui transservical, transvaginal, atau transabdominal,
transabdominal merupakan cara yang paling mudah. Umumnya reduksi
transabdominal dilakukan pada usia kehamilan 10-13 minggu. Usia ini dipilih karena
abortus spontan biasanya sudah terjadi, sehingga janin yang tersisa cukup besar untuk
dapat terdeteksi dengan USG. Janin yang dipilih untuk direduksi adalah janin terkecil
dan yang mempunyai anomali. Caranya dengan menginjeksikan kalium klorida ke
dalam jantung dan thoraks janin yang dipilih dengan panduan USG.1
Terminasi selektif
Jika pada kehamilan multipel yang sudah teridentifikasi memiliki kelainan
struktural atau genetik terdapat tiga pilihan: abortus, terminasi selektif janin abormal,
ataupun kehamilan dipertahankan. Umumnya kelainan anomali tidak diketahui
sampai trimester kedua, terminasi selektif dilakukan pada usia kehamilan lebih lanjut
daripada reduksi dan memiliki risiko lebih tinggi. Prosedur ini tidak dilakukan jika
anomali yang terjadi berat tetapi tidak letal atau risiko mempertahankan kehamilan
lebih dari risiko prosedurnya.1

2.9 KOMPLIKASI
Komplikasi pada ibu dan janin pada keadaan hamil kembar lebih besar
dibandingkan dengan kehamilan tunggal. Angka kematian parinatal pada
kehamilan kembar cukup tinggi. Kembar monozigotik 2,5 kali lebih tinggi dari
pada angka kematian kembar dizigotik. Risiko terjadinya abortus pada salah satu
fetus atau keduanya tinggi. Pada trimester pertama kehamilan reabsorbsi satu
janin atau keduanya mungkin terjadi. Anemia sering kali ditemukan pada
kehamilan kembar karena kebutuhan nutrisi yang tinggi serta peningkatan

20

volume plasma yang tidak sebanding dengan peningkatan sel darah merah
mengakibatkan kadar hemoglobin menjadi turun.
Frekuensi terjadinya hipertensi, preklamsia dan eklamsia meningkat pada
kehamilan kembar. Perdarahan antepartum karena permukaan plasenta yang jelek
pada kehamilan kembar sehingga plasenta mudah terlepas. Kematian yang paling
umum terjadi pada salah satu janin adalah membelitnya tali pusar. Bahaya yang
perlu diperhatikan pada kematian satu janin adalah koagulopati konsumtif berat
yang dapat mengakibatkan disseminated intravascular coaglopathy.
Berat badan lahir rendah lebih sering ditemukan pada kehamilan kembar
dari pada kehamilan tunggal. Sebanyak 59% dari kelahiran kembar memiliki
berat badan lahir rendah (< 2500 g). Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan janin
yang terbatas serta persalinan preterm. Pada kehamilan kembar juga
memungkinkan terjadi hambatan pertumbuhan intra urin.

Pada kehamilan

dizigotik, perbedaan ukuran yang mencolok biasanya disebabkan oleh plasentasi


yang tidak sama. Satu tempat plasenta menerima suplai darah yang lebih baik
dibandingkan yang lainnya.

Perbedaan ukuran juga bisa disebabkan oleh

abnormalitas umbilicius.4
Twin to twin transfusion syndrome (TTTS) adalah suatu keadaan dimana
terjadi transfusi darah intrauterin dari janin ke janin yang lain pada kehamilan
kembar. TTTS merupakan komplikasi dari kehamilan kembar monokorionik
dimana dari gambaran sonografi terlihat ditemukan polihidramnion pada satu
kantong dan oligohidramnion pada kantong yang lainnya pada suatu kehamilan
ganda monochorionik-diamniotik. TTTS merupakan akibat dari ketidakseimbangan yang kronis dari transfusi antar janin kembar yang terjadi melalui
anastomosis pembuluh plasenta pada kehamilan kembar monochorion. Janin

21

donor akan menjadi anemis, oligiri, dan mengalami pertumbuhan yang terhambat,
sedangkan janin penerima (resipien) menjadi polisitemia, poliuria, hipervolemia,
dan potensial menjadi hidropik.1

2.10 PROGNOSIS
Perbaikan hasil akhir dari kehamilan multipel dapat dicapai dengan
menurunkan tingkat kelahiran prematur, memberikan keadaan intrauterin yang
optimal untuk pertumbuhan janin, mengoptimalisasikan perawatan neonatus pada
kamar bersalin dan memberikan perawatan pada ICU neonatus (NICU) jika
diperlukan.1

BAB III
KESIMPULAN

Kehamilan kembar adalah kehamilan dengan 2 janin atau lebih. Kehamilan


kembar merupakan kehamilan dengan risiko yang tinggi, baik risiko untuk ibunya
seperti hipertensi, abrupsi, anemia, abortus, perdarahan postpartum, maupun risiko
untuk janinnya seperti terjadinya kelainan kongenital, pertumbuhan janin terhambat,
sindroma transfusi janin, stuck twin phenomenon, asfiksia, kelainan neurologis.
Walaupun kehamilan kembar memiliki banyak risiko, namun bukan berarti
setiap kehamilan kembar akan berakhir buruk. Hal ini dapat tercapai dengan adanya
cara diagnosis yang tepat dan sedini mungkin, yaitu dengan penggunaan
ultrasonografi yang dapat mendeteksi adanya kehamilan kembar pada usia 6-8
minggu dan juga dengan mempersiapkan segala sesuatunya seperti perawatan dalam
masa kehamilan sampai pemilihan cara persalinan yang tepat. Persiapan yang dapat
dilakukan untuk kehamilan kembar yang sehat diantaranya nutrisi yang mencukupi,
pemeriksaan antenatal care yang teratur, istirahat yang cukup.
Komplikasi pada kehamilan kembar biasanya lebih tinggi daripada kehamilan
tunggal. Oleh karenanya melakukan antenatal care yang teratur sangat membantu

22

dalam memonitor perkembangan kehamilan dan kesejahteraan janin, seperti


pemeriksaan tekanan darah, sonografi serial.
Melahirkan bayi kembar secara persalinan normal atau per vaginam adalah
mungkin dan aman, tetapi persalinan normal pada bayi kembar tergantung dari
banyak faktor, termasuk bagaimana posisi bayi pada saat kelahiran dan bagaimana
bayi melalui persalinan ini. Juga tergantung dari keadaan kesehatan ibu hamil.
Jika bayi berada dalam posisi yang tidak memungkinkan, atau posisi saling
mengunci maka persalinan melalui operasi seksio lebih dianjurkan. Jadi bila sudah
mengetahui memiliki kehamilan kembar, yang terpenting adalah melakukan
persiapan yang terbaik selama masa kehamilan dan juga pada saat persalinan.

DAFTAR PUSTAKA

23

24