Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Survei statistik saat ini menunjukan bahwa beban kanker global terus
meningkat terutama karena penuanan dan pertumbuhan penduduk di dunia
dengan adaptasi meningkatnya penyebab kanker, khususnya merokok, di
negara- negara ekonomi berkembang. Meskipun angka kejadian kanker secara
keseluruhan di negara berkembang setengah yang dilihat di Negara maju pada
kedua jenis kelamin, tingkat kematian kanker secara menyeluh umumnya
sama. Silbermann et al (2012)
WHO dan Bank Dunia, 2005 memperkirakan setiap tahun, 12 juta
orang di seluruh dunia menderita kanker dan 7,6 juta diantaranya meninggal
dunia. Jika tidak dikendalikan, diperkirakan 26 juta orang akan menderita
kanker dan 17 juta meninggal karena kanker pada tahun 2030. Ironisnya,
kejadian ini akan terjadi lebih cepat di Negara miskin dan berkembang
(international Union Against Cancer/UICC, 2009).
Di Indonesia kanker urutan ke enam dari penyebab kematian utama
(SKRT) dan meningkat ke urutan ketiga pada tahun 2008. Pasien yang
menderita penyakit kanker yang datang ke RSUD Ulin Banjarmasin
kebanyakan sudah stadium lanjut. Penyakit kanker stadium lanjut sering
berakhir pada kematian sehingga berdampak stress pada pasien.
Stress biasanya merupakan pengalaman dari peristiwa hidup yang
negative atau terjadinya peristiwa semacam bersama dengan evaluasi subjektif
dari ketidakmampuan untuk mengatasi secara efektif. Diagnosis dengan
penyakit yang mengancam jiwa seperti kanker hampir secara universal
mengalami stress. Selain itu, diagnosis kanker dan pengobatan yang disertai
oleh sejumlah stress akut dan kronis yang dapat mempengaruhi kualitas hidup.
Costanzo et al (2011).
Perawat mempunyai kesempatan yang lebih besar dalam berhubungan
dengan pasien dan keluargannya jika di bandingkan dengan profesi kesehatan

lainnya, sehingga perawat menyadari bahwa pasien dan keluargannya sangat


membutuhkan akses khusus terutama yang terkait dengan masalah informasi.
Pemberian informasi yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup
pasien, sedangkan pemberian informasi yang kurang tepat dapat memicu
stress pada pasien dan keluarga khususnya pada pasien dan keluarga penderita
kanker.
Praktek saat pemberian informasi oleh dokter diselidiki oleh penelitian
di Australia dan Belanda, dengan audio yang merekam terlebih dahulu
berkonsultasi pasien kanker tidak dapat disembuhkan dengan ahli onkologi. Di
Australia dan Belanda , mayoritas pasien diberitahu tenta ng adanya obat
(75% dan 84%, masing-masing). Namun, informasi tentang harapan hidup
atau prognosis dikomunikasikan hanya 58% dan 39% dari pasien Australia
dan Belanda. Hanya setengah dari pasien di kedua negara diberitahu tentang
alternative pengobatan aktif, perawatan suportif terbaik (BSC). Ketika BSC
disebutkan di Belanda, setengah dari waktu itu disebutkan dalam satu kalimat.
Jelas, tidak semua masalah informasi tertutup dalam setiap konsultasi pertama.
Para ahli onkologi mungkin intuitif disesuaikan dengan jumlah dan isi
informasi kepada pasien. Namun, sedangakan pada penelitian telah
menunjukan bahwa lebih dari 80% pasien menginginkan semua informasi,
persentase pasien Australia dan Belanda menerima semua informasi yang
terasa lebih rendah. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah ahli onkologi
mungkin telah meremehkan jumlah informasi yang diinginkan oleh pasien
mereka. Dalam penelitian ini, kami akan menilai apakah ahli onkologi medis
dapat menilai keinginan informasi pasien. Oostendrop et al (2011)
Mengingat pentingnya cara penyampaian informasi yang tepat
terhadap pasien penderita kanker perawat harus memahami bagaimana etika
komunikasi serta dapat meberikan informasi yang dapat dipahami pasien
maupun keluarga pasien.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut : Apakah ada hubungan pemberian informasi dengan tingkat
stress pada pasien kanker

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisa hubungan
pemberian informasi dengan tingkat stress pada pasien kanker.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pemberian informasi pada pasien kanker di rumah
sakit di Banjarmasin
b. Mengidentifikasi tingkat stress pada pasie kanker di rumah sakit di
Banjarmasin
c. Menganalisis hubunagn pemberian informasi dengan tingkat stress
pada pasien kanker di rumah sakit di Banjarmasin.
D. Manfaat Penelitian
1. Teoritis
Hasil penelitian ini dari segi teriotis diharapkan sebagai acuan untuk
mengembangkan strategi efektif untuk menyampaikan informasi pada
pasien

kanker

terhadap

penurunan

tingkat

stress

dengan

etika

penyampaian informasi yang tepat.


2. Praktis
a. Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi
untuk mengetahui hubungan pemberian informasi dengan tingkat
stress padaasien kanker ada pengaruhnya atau tidak.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan akan berguna untuk menambah ilmu
pengetahuan pengembangan kesehatan dan data dasar bagi penelitian
selanjutnya.
c. Bagi Pelaksana Keperawatan
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan dan informasi
kepada pasien kanker mengenai pengaruh pemberian tingkat
informasi terhadap tingkat stress pada pasien kanker.
d. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan sebagai data primer yang berguna bagi
dosen, tenaga kesehatan, dokter, dan perawat yang dapat digunakan
dalam satu perencanaan kebijakan dan penyelesaian masalah.
E. Penelitian Terkait
Tabel 1.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terkait

No Judul , dan ringkasan penelitian Persamaan

perbedaan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Konsep Stres

a. Pengertian Stres
1) Stress adalah respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang
memicu stres (stresor), yang mengancam dan mengganggu
kemampuan seseorang untuk menanganinya atau coping. (santrock,
2003)
2) Stress adalah keseluruhan proses yang meliputi stimulasi, kejadian,
peristiwa dan respons, interpretasi individu yang menyebabkan

timbulnya ketegangan yang di luar kemampuan individu untuk


mengatasinya. (Safaria dan Rahardi, 2004)
3) Stress adalah stimulus atau situasi yang menimbulkan distres dan
menciptakan tuntunan fisik dan psikis pada seseorang. Stres
membutuhkan koping dan adaptasi. Sindrom adaptasi umum atau
teori selye, menggambarkan stres sebagai kerusakan yang terjadi
pada tubuh tanpa mempedulikan apakah penyebab stres tersebut
positif atau negatif. Respons tubuh dapat diprediksi tanpa
memerhatikan stresor atau penyebab tertentu. (Isaacs, 2004)
Dari beberapa pengertian yang diugkapkan oleh para ahli,
maka peneliti menyimpulkan bahwa yang dinamakan stres itu
adalah suatu respon individu terhadap kejadian, peristiwa, dan
stimulasi yang mengancam dan menggangu seseorang individu
tidak bisa menanganinya karena diluar kemampuannya.
b. Jenis Stres
Orang menggunakan kata stres untuk mengungkapkan
pengalaman yang menyedihkan , mengecewakan, menyakitkan, dan
ketakutan yang ada dalam dirinya. Tetapi pada kenyataannya ada 2
jenis stres yang terdapat pada diri manusia, yaitu eustres dan distres
(Safari dan Rahardi, 2004). Kedua jenis stres tersebut adalah :
1) Eustres
Eustres adalah stres ini menimbulkan tegangan dalam hidup, tetapi
dampak yang ditimbulkan menyenangkan dan diimpikan semua
orang. Contoh stres ini adalah wawancara kerja, promosi kenaikan
jabatan, seleksi pekerjaan. Stres ini dikatan positif karena
ketegangan yang dialami individu akan membuahkan hasil yang
bermanfaat jika sudah dicapai.
2) Distres
Distres muncul ketika seseorang

membenci

pekerjaannya,

mengeluhkan berbagai tekanan hidup, dan seseorang merasa tidak


berdaya dalam menjalani hidupnya (Covey, 2005). Contoh stres ini
adalah di PHK dari pekerjaannya, kehiangan orang yang dicintai,
sakit keras, dirampok, dan sebagainya.

Kedua jenis stres ini jika tidak dikelola dengan baik dan
terlalu berlebihan maka akan menimbulkan dampak negative,
seperti sakit jantung, stroke, sakit maag, migraine, kelelahan, dan
kejenuhan. (Safari dan Rahardi, 2004).

c. Sumber Stres
Sumber stres adalah kondisi stimulasi yang berbahaya dan
menghasilkan reaksi stres. Stress reaction acute (reaksi stres akut )
adalah gangguan sementara yang muncul pada seseorang individu
tanpa adanya gangguan mental lain yang jelas, terjadi stress fisik dan
atau mental yang sangat berat, biasanya mereda dalam beberapa jam
atau

hari.

memainkan

Kerentanan
peran

dan

dalam

kemampuan

terjadinya

mengatasi

reaksi

stress

seseorang
akut

dan

keparahannya (Sunaryo, 2004).


Maramis (2009) dalam bukunya, menerangkan ada empat
sumber atau penyebab stress yaitu :
1) Frustasi
Frustasi dapat terjadi apabila usaha untuk mencapai sasaran
tertentu mendapat hambatan atau hilangnya kesempatan dalam
mendapatkan hasil situasi yang diinginkan. Frustasi dapat juga
diartikan

sebagai

efek

psikologis

terhadap

situasi

yang

mengancam, seperti timbul reaksi marah, penolakan maupun


depresi.
2) Konflik
Konflik terjadi ketika individu berada dalam tekanan dan
merespon langsung terhadap dua atau lebih dorongan, juga muncul
dua kebutuhan langsung terhadap dua atau lebih dorongan, juga
munculnya dua akibat kebutuhan maupun motif yang berbeda
dalam waktu bersamaan. Ada 3 jenis konflik yaitu :
a) Approach-approach conflict, terjadi apabila individu harus
memilih satu diantara dua alternatif yang sama-sama disukai.
Stress muncul akibat hilangnya kesempatan untuk menikmati

alternatif yang tidak diambil. Jenis konflik ini biasanya sangat


mudah dan cepat diselesaikan.
conflict,

b) Approach-avoidance

terjadi

bila

individu

diharapankan pada dua pilihan yang sama-sama tidak


disenangi.

Konflik

jenis

ini

lebih

sulit

diputuskan

menyelesaikan karena masing-masing alternatif memiliki


konsekuensi yang tidak menyenangkan.
c) Approach-approach conflict, adalah situasi dimana individu

merasa tertarik

sekaligus

tidak menyukai

atau ingin

menghindari dari seseorang atau suatu objek yang sama.


3) Tekanan
Tekanan terjadi karena adanya suatu untuk mencapai sasaran atau
tujuan tertentu maupun tuntutan laku tertentu. Secara umum
tekanan mendorong individu untuk meningkatkan ferforma,
mengintensifkan usaha atau mengubah sasaran tingkah laku.
Tekanan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki
bentuk yang berbeda-beda pada setiap individu. Tekanan dalam
beberapa kasus tertentu dapat menghabiskan sumber-sumber daya
yang dapat mengarah pada perilaku maladaftif. Tekanan dapat
berasal dari sumber-sumber internal atau eksternal atau kombinasi
dari keduanya. Tekanan internal misalnya adalah sistem nilai,
konsep diri dan komitmen personal. Tekanan eksternal misalnya
berupa tekanan bila waktu atau pun peran yang harus dijalani
seseorang, atau juga dapat berupa kompetiso dalam kehidupan
sehari-hari di masyarakat antara lain dalam pekerjaan sekolah dan
mendapatkan pasangan hidup.
4) Krisis
Krisis yaitu keadaan mendadak yang menimbulkan stress pada
individu, misalnya kematian orang yang disayangi, kecelakan dan
penyakit yang harus dioperasi.
d. Klasifikasi Tingkat Stres
Saat muncul keadaan eksternal yang tidak diharapkan, maka
seseorang dapat menilai apakah kejadian tersebut membuat seseorang

dapat atau tidak menimbulkan stres. Pertama seseorang mendekteksi


suatu kejadian yang berpotensial menyebabkan stres. Peristiwa tersebut
dibagi menjadi tiga keadaan, yaitu : positif, netral, dan negatif. jika
seseorang menilai peristiwa tersebut negatif maka dicari kemungkinan
adanya harm, threat, atau challenge. Lalu, seseorang menilai
kemampuannya untuk melakukan coping terhadap situasi yang
dihadapi dan sumber daya yang dimiliki, serta individu menilai apakah
dia cukup mampu menghadapi harm, threat, atau challenge dalam
peristiwa yang terjadi : peristiwa-peristiwa tersebut kemudian akan
berdampak pada aspek fisik dan aspek psikologis seseorang.
Sarafino (2008) mengklasifikasikan 3 tingkatan stres yaitu :
1) Stres tingkatan ringan, terjadi ketika seseorang dengan
kemampuan lebih dari cukup untuk menghadapi situasi
sulit, ,maka seseorang akan merasakan sedikit stres dan merasa
tidak memiliki tantangan.
2) Stres tingkat sedang, terjadi ketika seseorang merasa cukup
mungkin akan kemampuannya untuk menghadapi suatu
kejadian tetapi dia harus berusaha keras, maka seseorang akan
merasakan perasaan stres dengan tingkatan menengah atau
sedang. Pada tahap ini, seseorang masih bisa beradaptasi
terhadap stressor yang dihadapi.
3) Stres tingkat berat, terjadi ketika seseorang merasakan bahwa
kemampuannya mungkin tidak akan mencukupi pada saat
berurusan dengan stressor dari dalam diri dan lingkungannya,
maka akibatnya seseorang akan mengalami perasaan stres.
e. Tahapan stres
Seseorang yang stres akan mengalami beberapa tahapan stres.
Menurut Amberg (1979), sebagaimana dikemukakan oleh Dadang
Hawari (2001) bahwa tahapan stres adalah sebagai berikut:
1) Stres tahap pertama (paling ringan), yaitu stres yang disertai
perasaan nafsu bekerja yang besar dan berlebihan, mampu
menyelesaikan pekerjaan tanpa memperhitungkan tenaga yang
dimiliki, dan penglihatan menjadi tajam.

2) Stres tahap kedua, yaitu stres yang disertai keluhan, seperti bangun
pagi tidak segar atau letih, cepat lelah pada saat menjelang sore,
mudah lelah sesudah makan, tidak dapat rileks, lambung dan perut
tidak nyaman (bowel discomfort), jantung berdebar, otot tengkuk
dan punggung tegang. Hal tersebut karena cadangan tenaga tidak
memadai.
3) Stres tahap ketiga, yaitu tahapan stres dengan keluhan seperti
defekasi tidak teratur, otot semakin tegang, emosional, insomnia,
mudah terjaga dan susah tertidur lagi, bangun terlalu pagi dan sulit
tidur lagi, koordinasi tubuh terganggu, akan jatuh pingsan.
4) Stres tahap keempat, yaitu tahapan stres dngan keluhan, seperti
tidak mampu bekerja sepanjang hari, aktivitas pekerjaan terasa sulit
dan menjenuhkan, respon tidakadekuat, kegiatan rutin terganggu,
gangguan pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya
ingat menurun, serta timbul ketakutan dan kecemasan.
5) Stres tahap kelima, yaitu tahapan stres yang ditandai dengan
kelelahan fisik

dan

mental,

ketidakmampuan menyelesaikan

pekerjaan yang sederhana dan ringan, gangguan pencernaan berat,


meningkatnya rasa takut dan cemas, bingung dan panik.
6) Stres tahap keenam (paling berat), yaitu tahapan stres dengan
tanda- tanda, seperti jantung berdebar keras, sesak napas, badan
gemetar, dingin dan banyak keluar keringat, lemah, serta pingsan.
2. Konsep pasien terminal
a. Pengertian
1) Penyakit terminal

adalah

suatu

penyakit

yag

tidak

bisa

disembuhkan lagi. Kematian adalah tahap akhir kehidupan.


Kematian bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan atau mengikuti
priode sakit yang panjang.Terkadang kematian menyerang usia
muda tetapi selalu menunggu yang tua.
2) Kondisi Terminal adalah: Suatu proses yang progresif menuju
kematian berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik ,
psikososial dan spiritual bagi individu. (Carpenito ,1995 )

3) Pasien Terminal adalah : Pasien psien yang dirawat , yang sudah


jelas bahwa mereka akan meninggal atau keadaan mereka makin
lama makin memburuk. (P.J.M. Stevens, dkk ,hal 282, 1999 )
Pendampingan dalam proses kematian adalah Suatu
pendampingan dalam kehidupan , karena mati itu termasuk bagian
dari kehidupan . Manusia dilahirkan , hidup beberapa tahun , dan
akhirnya mati. Manusia akan menerima bahwa itu adalah
kehidupan, dan itu memang akan terjadi, kematian adalah akhir
dari kehidupan ( P.J.M. Stevens, dkk, 282,1999 ).
b. Jenis Jenis Penyakit Terminal
1) Diabetes Militus
2) Penyakit Kanker
3) Congestik Renal Falure
4) Stroke.
5) AIDS
6) Gagal Ginjal Kronik
7) Akibat Kecelakaan Fatal
c. Respon Kehilangan
1) Rasa takut diungkapkan dengan ekspresi wajah, ketakutan, cara
tertentu untuk mengulurkan tangan.
2) Cemas dengan cara menggerakkan otot rahang kemudian mengendor
d. Fase-fase Menjelang Kematian
1) Denial (Fase Penyangkalan/pengingkaran dan Pengasingan
Diri)
Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal
dan dia tidak dapat menerima informasi ini sebagai kebenaran dan
bahkan mungkin mengingkarinya.

Reaksi pertama setelah

mendengar, bahwa penyakitnya diduga tidak dapat disembuhkan


lagi adalah, "Tidak, ini tidak mungkin terjadi dengan saya."
Penyangkalan ini merupakan mekanisme pertahanan yang biasa
ditemukan pada hampir setiap pasien pada saat pertama
mendengar berita mengejutkan tentang keadaan dirinya. Hampir
tak ada orang yang percaya, bahwa kematiannya sudah dekat, dan
mekanisme ini ternyata memang menolong mereka untuk dapat

mengatasi shock khususnya kalau peyangkalan ini periodik.


Normalnya, pasien itu akan memasuki masa-masa pergumulan
antara menyangkal dan menerima kenyataan, sampai ia dapat
benar-benar menerima kenyataan, bahwa kematian memang harus
ia hadapi.
2) Anger (Fase Kemarahan)
Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari
kenyataan bahwa ia akan meninggal. Jarang sekali ada pasien yang
melakukan penyangkalan terus menerus. Masanya tiba dimana ia
mengakui, bahwa kematian memang sudah dekat. Tetapi
kesadaran ini seringkali disertai dengan munculnya ketakutan dan
kemarahan. "Mengapa ini terjadi dengan diriku?", "Mengapa
bukan mereka yang sudah tua, yang memang hidupnya sudah tidak
berguna lagi?" Kemarahan ini seringkali diekspresikan dalam
sikap rewel dan mencari-cari kesalahan pada pelayanan di rumah
sakit atau di rumah. Bahkan kadang-kadang ditujukan pada orangorang yang dikasihinya, dokter, pendeta, maupun Tuhan.
Seringkali anggota keluarga menjadi bingung dan tidak mengerti
apa yang harus dilakukan. Umumnya mereka tidak menyadari,
bahwa tingkah laku pasien tidak masuk akal, meskipun normal,
sebagai ekspresi dari frustasi yang dialaminya. Sebenarnya yang
dibutuhkan

pasien

adalah

pengertian,

bukan

argumentasi-

argumentasi dari orang-orang yang tersinggung oleh karena


kemarahannya.
3) Bargaining (Fase Tawar Menawar).
Ini adalah fase di mana pasien akan mulai menawar untuk
dapat hidup sedikit lebih lama lagi atau dikurangi penderitaannya.
Mereka bisa menjanjikan macam-macam hal kepada Tuhan,
"Tuhan, kalau Engkau menyatakan kasih-Mu, dan keajaiban
kesembuhan-Mu, maka aku akan mempersembahkan seluruh
hidupku untuk melayaniMu."
4) Depresion (Fase Depresi)

Setelah ternyata penyakitnya makin parah, tibalah fase


depresi. Penderita merasa putus asa melihat masa depannya yang
tanpa harapan. Sebagai orang percaya memang mungkin dia
mengerti adanya tempat dan keadaan yang jauh lebih baik yang
telah Tuhan sediakan di surga. Namun, meskipun demikian
perasaan putus asa masih akan dialami.
5) Acceptance (Fase Menerima)
Tidak semua pasien dapat terus menerus bertahan menolak
kenyataan yang ia alami. Pada umumnya, setelah jangka waktu
tertentu mereka akan dapat menerima kenyataan, bahwa kematian
sudah dekat, sehingga mereka mulai kehilangan kegairahan untuk
berkomunikasi dan tidak tertarik lagi dengan berita dan persoalanpersoalan di sekitarnya. Pasien-pasien seperti ini biasanya
membosankan dan mereka seringkali dilupakan oleh teman-teman
dan keluarganya, padahal kebutuhan untuk selalu dekat dengan
keluarga pada saat- saat terakhir justru menjadi sangat besar
e. Rentang Respon
Rentang respon seseorang terhadap peyakit terminal dapat
digambarkan dalam suatu rentang yaitu harapan ketidakpastian dan
keputusasaan .
Respon adaptif

Harapan

ketidakpastian
1) Respon Adaptif
a) Masih punya harapan
b) Berkeyakinan bisa sembuh
2) Respon Mal Adaptif
a) Keputusasaan
b) Pasrah
3) Respon Ketidakpastian

Respon maladaptif

putus asa

Respon antara adaptif dan mal adaptif


f. MANIFESTASI KLINIK
1) Fisik
a) Gerakan pengindraan menghilang secara berangsur angsur
dari ujung kaki dan ujung jari
b) Aktifitas dari GI berkurang
c) Reflek mulai menghilang
d) Kulit kebiruan dan pucat
e) Denyut nadi tidak teratur dan lemah
f) Nafas berbunyi keras dan cepat ngorok
g) Penglihatan mulai kabur
h) Klien kadang-kadang kelihatan rasa nyeri
i) Klien dapat tidak sadarkan diri
2) Psikososial
Sesuai fase-fase kehilangan menurut seorang ahli E.Kubbler Ross
mempelajari respon-respon atas menerima kematian dan maut
secara mendalam dan hasil penelitiannya yaitu :
a) Respon kehilangan
(1) Rasa takut diungkapkan dengan ekspresi wajah , keakutan, cara
tertentu untuk mengatur tangan
(2) Cemas diungkapkan dengan cara menggerakan otot rahang dan
kemudian mengendor
(3) Rasa sedih diungkapkan dengan mata setengah terbuka /
menangis
b) Hubungan dengan orang lain
Kecemasan timbul akibat ketakutan akan ketidakmampuan
untuk berhubungan secara interpersnal serta akibat penolakan
B. Kerangka Teori
Informasi
pengobatan
dan tindakan

Kaji tingkat
strees dan
penyebab

Pasien
Terminal

C. Kerangka Konsep
pemberian informasi

tingkat stress pada


pasien kanker

D. Hipotesis Penelitian
Ada hubungan pemberian informasi dengan tingkat stress pada pasien kanker

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Penentuan Lokasi dan Sasaran Penelitian


1. Penentuan Lokasi
Lokasi penelitian adalah rencana tentang tempat yang akan dipilih
oleh peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitian (Hidayat, 2007).
Dalam penelitian ini lokasi yang dipilih adalah di RS XXX.
2. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian adalah pernyataan operasional dari keinginan
yang lebih jelas sekaligus menjadi tanda-tanda spesifik untuk menjadi
tujuan tertentu. Dalam penelitian ini sasaran penelitian yang dipilih oleh
peneliti adalah pasien dengan penyakit terminal (kanker)
3. Metode Penelitian
Penelitian

ini

menggunakan

studi

penelitian

deskriptif

kuantitatif dengan metode studi korelasi dan rancangan panelitian ini


dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang bermaksud

mencari hubungan antara satu keadaan dengan keadaan yang lain dalam
satu yang sama yaitu dengan cara pendekatan, observasi, pengumpulan
data sekaligus bertujuan menganalisis hubungan pemberian informasi
dengan tingkat stress pada pasien kanker (Azwar, 2010).
3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
a. Variabel Penelitian
Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota
anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh
kelompok

lain

(Notoatmodjo,

2010).

Berdasarkan

hubungan

fungsional antara variabel-variabel suatu dengan yang lainnya, variabel


dibedakan menjadi dua yaitu variabel dependen dalam penelitian ini
adalah pemberian informasi dan variabel independen dalam penelitian
ini adalah tingkat stress pada pasien kanker.
b. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisi variabel secara
operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan
peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat
terhadap suatu objek atau fenomena. Definisi operasional ditentukan
berdasarkan parameter yang dijadikan ukuran dalam penelitian
(Hidayat, 2007).
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No. Variabel
1.

Definisi
Operasional

Pemberian Prosedur
Informasi

Alat
Ukur
untuk Kuesioner

Hasil ukur

Skala

Ordinal

Ordinal

meningkatkan
penetahuan pasien
tentang

gejala,

penyebab beserta
2.

Tingkat

pengobatanya
Tekanan

strees

psikologis

yang

pada

dialami

oleh

pasien

pasien kanker

kuesioner

kanker

4. Populasi dan sampel penelitian


a. Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah keseluruhan subjek atau objek dengan
karakteristik tertentu yang akan diteliti (Hidayat, 2007). Populasi dalam
penelitian adalah seluruh pasien kanker.
b. Sampel Penelitian
Menurut Notoatmodjo (2005), sampel adalah bagian dari populasi
yang dipilih dengan cara tertentu hingga dianggap mewakili populasi.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan
accidental sampling.
5. Jenis dan Sumber Data
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Data kuantitatif adalah data
yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan bentuknya, data
kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan
matematika atau statistika dan sumber data dalam penelitian ini dengan
menggunakan data primer dan data sekunder
6. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dengan pengisian kuesioner yang berisi daftar pertanyaan.
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada
responden untuk dijawabnya (Sugiono, 2010).
7. Analisis
Dapat dibagi menjadi :
a. Analisis Univariat

Analisis yang dilakukan untuk variabel atau pervariabel. Pada


penelitian analisis univariat digunakan untuk mendapatkan
frekuensi variabel dengan mengumpulkan masing-masing variabel
yaitu :
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang dilakukan terhadap
dua variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi.