Anda di halaman 1dari 10

PENAMPUNGAN SEMEN SEGAR DENGAN ELEKTROEJAKULATOR

KAMBING
Tujuan
Tujuan penampungan semen adalah untuk menampung semen pada
kambing jantan menggunakan alat bantu elektroejakulator yang kemudian semen
di IB kan pada kambing betina.
Prekuensi
Praktikum dilakukan pada tanggal 3 November 2014 di laboratorium
reproduksi.
Prinsip
Penampungan semen dengan elektroejakulator dilakukan perangsangan
listrik melalui alat yang dimasukan ke dalam rektum hewan jantan.
Langkah Kerja
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah elektroejakulator, tabung penampung,
alumenium foil, kapas dan gunting.
Bahan yang digunakan adalah alkohol dan pelumas.
Prosedur Kerja
1. Siapkan alat penampungan semen dengan baik
2. Cukur bulu dibagian propetium dan cuci dengan alkohol
3. Rektum dikosongkan dan masukan rektal probe yang telah dioles bahan
pelicin bi bagian ujung sejauh 30-45 cm
4. Masukan perlahan-lahan alat dan kemudian tambah volt sampai
menunjunkan angka 5, lakukan sampai penis keluar dan penis
mengejakulasikan sperma
5. Setelah nampak sperma akan keluar siapkan penampung
6. Setelah penis mengejakulasikan seperma dan sperma tertampung,
kemudian sperma diencerkan dengan pengencer yang sudah dibuat.

Hasil Kegiatan:

1. Pengenceran semen

Gambar 1. Prosedur pembuatan pengenceran semen


menggunakan sitrat-kuning telur
2. Koleksi dan evaluasi semen dari kambing
Pemeriksaan secara makroskopis didapatkan hasil sebagai berikut:
Volume 0,5 ml, Volume sisa 0,2 ml, Konsistensi cair, Bau khas kambing,
Warna putih, pH 8. Secara mikroskopis dapat dilihat bahwa gerakan massa
sangat baik (+++), dan gerakan individu progresif.

Gambar . Hasil Pergerakan Sperma pada Kambing

Gambar . Pewarnaan Sperma


3. Pengenceran yang dibutuhkan
Pengenceran
yang

dibutuhkan

konsentrasi sperma motilitas ejak V . Ej sisa


dosis 1 kali IB /straw
=

0,2

1000 10 6 80 0,5
6
25 10

= 3,2 ml
Jadi pengencer yang dibutuhkan= 3,2 0,5 = 2,7 ml
4. Inseminasi buatan pada kambing

0,2

Diskusi
Semakin pesatnya perkembangan dunia teknologi di berbagai bidang
mempermudah manusia untuk melakukan pekerjaannya, salah satunya di bidang
instrumentasi dan elektronika. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk
menyelesaikan permasalahan maupun memenuhi kebutuhan manusia yang ada
dengan menggunakan instrumentasi ini mulai dari analog hingga digital. Bidang
instrumentasi dapat di gunakan dalam berbagai aplikasi, diantaranya sebagai alat
pengukuran, alat analisa dan alat kendali. Keadaan tersebut membuat banyak hal
dapat dilakukan dengan mudah dan efisien (Dradjat., 2001).
Dalam bidang peternakan perkembangan instrumentasi ini sangat
membantu dalam inseminasi buatan yaitu adanya alat elektroejekulator yang
digunakan untuk menampung semen. Penggunaaan alat elektroejakulator untuk
penampungan semen dikhususkan untuk pejantan unggul, namun tubuhnya cacat.
Pada kondisi tersebut semen dari pejantan yang cacat masih tetap dapat ditampung
meskipun tidak dapat menunggangi betina (Dradjat., 2001)
Alat elektroejakulator untuk hewan domba terdiri atas beberapa
komponen. Komponenkomponen tersebut adalah sebuah transformator yang
dihubungkan dengan suatu batang yang disebut rectal probe atau batang rektal.
Transformator berfungsi untuk merubah tenaga listrik 110 Volt, 60 cycle, menjadi
30 Volt. Rectal probe terdiri dari sebatang karet padat yang berdiameter kira-kira 2

cm dan mengandung satu seri cincin-cincin elektroda yang berjarak 2,5 cm antara
yang satu dengan yang lain (Tolihere,1985).
Suatu bentuk gelombang dilewatkan melalui batang rektal yang
dimasukkan ke dalam rektum pejantan. Tegangan dinaikkan dan diturunkan secara
ritmik ke nol setiap 3 sampai 5 detik. Peningkatan tegangan dilakukan setiap 2
volt dan setiap tegangan ditahan selama 3 sampai 5 detik (Tolihere,1985). Hal ini
akan merangsang organ reproduksi yang terletak persis di bawah dinding ventral
rektum dan menyebabkan timbulnya ejakulasi (Blakely,dkk. 1992).
Evaluasi Semen secara Makroskopis
1. Warna
Warna semen kambing yang normal adalah krem keputih-putihan dan
keruh. Derajat kekeruhan tergantung atas konsentrasi sprmatozoa yang dikandung.
Adanya ketidaknormalan dari warna semen yang diakibatkan karena kandungan
bakteri tertentu seperti Pseudomonas aeruginosa sehingga menyebabkan warna
semen kambing menjadi hijau kekuningan. Selain itu, warna kecoklatan karena
adanya darah yang telah mengalami dekomposisi.
2. Volume
Volume semen hewan tergantung pada spesies hewan tersebut. Pada
kambing, domba, dan sapi mempunyai volume semen ejakulat yang rendah. Pada
babi, kuda dan sapi umumnya memiliki ejakulat yang lebih tinggi. Volume semen
hewan dipengaruhi oleh bangsa, umur, ukuran badan, pakan, dan frekuensi
penampungan.
3. Konsistensi
Konsistensi atau kekentalan merupakan salah satu sifat semen yang erat
kaitannya dengan kepadatan atau konsentrasi sperma di dalamnya. Semakin kental
semen maka dapat diartikan semakin tinggi konsentrasi sperma.
4. pH
Keasaman atau pH semen perlu diukur untuk memastikan bahwa cairan
semen hasil penampungan memiliki karakteristik yang normal.
5. Bau

Semen yang normal memiliki bau khas disertai bau dari hewan itu sendiri.
Evaluasi Semen secara Mikroskopis
1. Gerakan Massa
Gerakan massa merupakan aktivitas gelombang massa spermatozoa
keseluruhan. Gerakan massa spermatozoa merupakan petunjuk derajat keaktifan
bergerak sperma dan dapat dijadikan sebagai indikator tingkat sperma hidup dan
aktif dalam semen serta dapat dilihat di mikroskop dengan pembesaran 10x10.
Ada beberapa katagori penilaian terhadap pergerakan sperma yaitu :
Skor
3

Kelas
Sangat bagus

Keterangan
Padat gelombang yang

(+++)

terbentuk

besar-besar

dan pergerakan sangat


cepat.

Tidak

sacara

tampak

individual.

Contoh semen tersebut


mengandung 90% atau
2

Bagus

lebih spermatozoa.
Gelombang
yang

(++)

terbentuk
kecil-kecil

berukuran
yang

bergerak atau berpindah


tempat dengan lambat.
Contoh semen tersebut
diperkirakan
mengandung

45-65%

atau lebih spermatozoa


1

Sedang

aktif.
Tidak ditemukan adanya

(+)

gelombang
terlihat
spermatozoa
individual.

tetapi
gerakan
secara
Contoh

semen

tersebut

diperkirakan

akan

mengandung

20-40%

atau lebih spermatozoa


0

Buruk

aktif.
Seluruh

(0)

mati,

spermatzoa
tidak

adanya

terlihat

spermatozoa

yang bergerak.
2. Gerakan Individual
Gerakan individual atau persentase motilitas merupakan daya gerak
spermatozoa yang dinilai setelah penampungan semen. Penilaian motilitas
digunakan sebagai kesanggupan spermatozoa dalam membuahi sel telur. Motilitas
spermatozoa dipengaruhi oleh penurunan suhu yang mendadak atau peningkatan
suhu yang berlebihan.
1. Konsentrasi spermatozoa (jumlah spermatozoa per ml semen)
Penilaian konsentrasi spermatozoa bertujuan untuk menghitung jumlah
spermatozoa per ml semen. Faktor ini menentukan kriteria kualitas semen dan
menggambarkan sifat-sifat semen untuk menentukan junlah betina yang dapat
diinseminasi menggunakan semen tersebut.
Penentuan konsentrasi spermaozoa dapat dilakukan dalam 4 cara, yaitu:
1. Menghitung jarak antara kepala spermatozoa.
Dilakukan dengan meneteskan setetes tipis pada gelas objek dan
mengamati di bawah mikroskop dengan pembersaran 10 x 40, dengan kriteria
sebagai berikut:

Densum (D) atau padat, jika jarak antara dua kepala sperma kurang
dari panjang satu kepala sperma, dapat diperkirakan bahwa

konsentrasi sekitar 1.000-2.000 juta sel sperma per ml semen.


Semidensum (SD) atau sedang, jika jarak antara dua kepala sperma
sama

dengan

panjang

1-1,5

kepala

sperma,

berkosentrasi antara 500-1.000 juta sel per ml semen.

konsentrasi

Rarum (R) atau jarang, jarak antara dua kepala sperma melebihi
panjang satu kepala atau sama dengan panjang seluruh sperma,

konsentrasi berkisar antara 200-500 juta sperma per ml semen.


Oligospermia (OS) atau sedikit sperma, jika jarak antara dua kepala
sperma memiliki panjang seluruh sperma dengan konsentrasi

kurang dari 200 juta sperma per ml semen.


Aspermi (A) atau tidak ada sperma, jika sama sekali tidak terdapat

spermatozoa di dalam semen.


2. Penghitungan dengan Haemositometer

dan

Kamar

Hitung

Neubauer
Metode ini dilakukan dengan menggunakan alat Haemositometer. Cara
penghitungan adalah sebagai berikut:

Semen dihisap dengan pipet eritrosit yang belum diencerkan

sampai tanda 0,5.


Kemudian larutan NaCl 3% sampai tanda 101.
Dihomogenkan dengan gerakan membentuk angka 8 selama 2-3

menit.
Tetesan pertama dibuang dan dihomogenkan lagi. Kemudian

siapkan kamar hitung Neubauer dan tutup dengan cover glass.


Teteskan semen pada sisi cover glass.
Hitunglah jumlah sel sperma dalam 5 kamar yang dihitung menurut

arah diagonal.
Setiap kamar memiliki 16 ruangan kecil, maka di dalam 5 kamar

terdapat 80 ruangan kecil.


Seluruh ruangan Haemositometer memiliki 400 ruangan kecil.
Dengan volume setiap ruangan kecil adalah 0,1 mm3. Dan

pengenceran 200x, maka dapat dihitung konsentrasi.


3. Persentase Spermatozoa yang Hidup
Semen yang berkualitas baik adalah semen yang memiliki kandungan
sperma hidup dan bergerak maju ke depan dalam jumlah yang banyak dengan
konsentrasi spermatozoa total yang dikenal dengan istilah motilitas psermatozoa.
Adapun cara penentuan motilitas spermatozoa dalam suatu contoh semen dapat
dilakukan dengan 2 cara:
1. Pewarnaan Differensial

Pewarnaan ini bertujuan untuk menghitung jumlah sperma yang hidup dan
mati, didasarkan pada prinsip perbedaan afinitas, zat warna, antara sel-sel sperma
yang hidup dan yang mati. zat warna yang dipakai adalah eosin atau eosin
negrosin. Sel-sel sperma yang hidup sedikit sekali atau tidak menghisap warna
(warna putih) sedangkan sel-sel yang mati pada sperma akan menghisap warna
merah karena permeabilitas dinding sel meningkat saat mati.
2. Penghitungan motilitas sperma dengan menggunakan pipet dan kamar
hitung Neubauer.
Penentuan konsentrasi sperma hidup dalam semen sama dengan prosedur
pada penentuan konsentrasi sperma total. Perbedaannya terletak pada cairan
pengencer yang digunakan, dimana pada penentuan konsentrasi sperma hidup
digunakan larutan NaCl fisiologis bukan NaCl 3%. Dengan menggunakan larutan
NaCl fisiologis sebagai pengencer maka sperma yang masih hidup akan tetap
hidup dan terus bergerak, begitu juga sebaliknya. Metode ini menggolongkan
sperma yang bergerak ditempat, bergerak mundur, bergerak melingkar dan sperma
yang tidak bergerak sama sekali.
4. Morfologi Sperma (Persentse Spermatozoa Normal dan Abnormal)
Abnormalitas sperma terdiri dari 2 kelompok yaitu abnormalitas primer
dan sekunder. Abnormalitas primer terjadi selama proses pembentukkan sperma di
dalam testes sedangkan abnormalitas sekunder terjadi setelah pembentukkan
sperma, setelah keluar dari tubuh ternak serta akibat pengolahan semen. Bentukbentuk abnormalitas primer meliputi:
1. ukuran kepala lebih besar atau lebih kecil dari ukuran normal.
2. kepala ganda atau ekor ganda.
3. bentuk kepala tidak normal.
Bentuk-bentuk abnormalitas sekunder meliputi:
1. kepala pecah.
2. ekor putus.
3. ekor melipat, terpilin atau tertekuk.

DAFTAR PUSTAKA
Blakely, J., Bada. D.H., 1992, Ilmu Peternakan Edisi keempat, Gadjah Mada
University Press, Jogjakarta.
Dradjat, A.S., 2001, Tatalaksana inseminasi buatan pada sapi Bali dalam
menghadapi millenium ke 3, Seminar Nasional Ruminansia, Jurnal
Pengembangan Peternakan Tropis, Special edition 2001 Semarang 10
April 2001.
Toelihere, M.R., 1985, Inseminasi Buatan Pada Ternak, Angkasa, Bandung.

Anda mungkin juga menyukai