Anda di halaman 1dari 7

Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kreativitas Pada

Siswa SMK
Hepy Hapsari Kisti
Nur Ainy Fardana N.
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Abstract.
The purpose of this research was to know whether there was a relation between self efficacy and
creativity on Vocational High School students. This type of research, including explanotary
research, because it aimed to explain the relation between the variables through hypothesis. This
research was conducted on students of Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 8 Surabaya by the
number of the study subjects were 62 students who are XI grader Fashion Boutique Competency
Skills.The analysis of the research data obtained by the coefficient correlation between self
efficacy with creativity of 0,479 with the p value of 0,000. It has shown that there was a
significant relation between self efficacy with creativity on Vocational High School students, the
increase of self efficacy, followed by an increase in creativity.

Keywords: self efficacy, creativity


Abstrak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara self efficacy
dengan kreativitas pada siswa SMK. Tipe penelitian ini termasuk explanotary research, karena
bertujuan untuk menjelaskan hubungan antar variabel-variabel melalui uji hipotesis.
Penelitian ini dilakukan pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 8 Surabaya dengan
jumlah subyek penelitian sebanyak 62 siswa yang merupakan siswa kelas XI kompetensi
keahlian busana butik. Hasil analisis data penelitian diperoleh nilai koefisien korelasi antara
self efficacy dengan kreativitas sebesar 0,479 dengan nilai p sebesar 0,000. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan kreativitas
pada siswa SMK, semakin tinggi self efficacy yang dimiliki siswa SMK maka semakin tinggi juga
kreativitas pada siswa SMK.

Kata kunci: self efficacy, kreativitas

Korespondensi: Hepy Hapsari Kisti, Departemen Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Fakultas Psikologi Universitas
Airlangga, Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan Surabaya 60286, e-mail: hepy_me@yahoo.com

52

Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Vol. 1 No. 02, Juni 2012

Hepy Hapsari Kisti, Nur Ainy Fardana N.

Era globalisasi menuntut suatu bangsa


untuk meningkatkan kualitasnya, baik dalam
bidang ekonomi, politik, sosial, pendidikan
maupun budaya. Masalah-masalah utama yang
dihadapi negara-negara berkembang seperti
Indonesia dalam rangka mengiringi tuntutan
globalisasi adalah bagaimana mengembangkan
dan meningkatkan sumber daya manusia.
Berdasarkan alasan tersebut, maka tantangan
utama bagi dunia pendidikan saat ini adalah
bagaimana menyelenggarakan pendidikan untuk
membentuk sumber daya manusia yang
berkualitas di masa global. Tujuan pendidikan
pada umumnya ialah menyediakan lingkungan
yang memungkinkan peserta didik untuk
mengembangkan bakat dan kemampuannya
secara optimal, sehingga dapat mewujudkan
dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan
ke b u t u h a n p r i b a d i n y a d a n ke b u t u h a n
masyarakat.
Kemajuan pembangunan yang semakin
meningkat dalam era globalisasi, semakin
menuntut pendidikan untuk menghasilkan
tenaga kerja yang mempunyai kemampuan dan
keterampilan yang sesuai dengan kualifikasi
pekerjaan. Pemenuhan kebutuhan akan tenaga
kerja dengan mempertimbangkan juga variasi
bakat dan kemampuan siswa yang berbeda
diwujudkan dengan penyediaan alternatif
pendidikan yang mampu menjawab
permasalahan tersebut. Alternatif pendidikan
tersebut salah satunya adalah dengan membuka
Sekolah Menengah Kejuruan.
Berdasarkan penjelasan Pasal 15 UndangUndang Sisdiknas, di Sekolah Menengah Kejuruan
ini, siswa dengan bakat dan kemampuan di bidang
pilihan mereka akan dipersiapkan dan dibina
untuk menjadi tenaga kerja terampil dan siap latih,
mudah beradaptasi dengan lingkungan dan
perubahan, serta dapat mengembangkan diri
dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar kerja di
berbagai sektor yang selalu berkembang.
Besarnya tingkat persaingan era globalisasi
menimbulkan berbagai tantangan dalam bidang
ekonomi, politik, lingkungan, kesehatan, maupun
dalam bidang budaya dan sosial. Tantangan ini
bisa menjadi hambatan yang mengancam
kelangsungan hidup seluruh masyarakat, juga
kelangsungan hidup siswa SMK. Kondisi tersebut
membuat siswa SMK dituntut untuk memiliki
Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental
Vol. 1 No. 02, Juni 2012

kemampuan adaptasi secara kreatif dan piawai


mencari pemecahan imajinatif untuk semua
masalah-masalah yang dihadapinya (Munandar,
2002). Oleh karena itu siswa SMK diharapkan
memiliki pandangan yang terbuka, untuk melihat
alternatif-alternatif lain dan melihat peluangpeluang yang ada, dengan kata lain diharapkan
untuk menjadi kreatif.
Kreativitas yang sangat tinggi disertai
dengan rasa ingin tahu yang besar dan haus akan
tantangan berpikir membuat seseorang gemar
melakukan eksplorasi. Kreativitas merupakan
bakat yang secara potensial dimiliki oleh setiap
orang yang dapat diidentifikasikan dan dipupuk
melalui pendidikan yang tepat, salah satu masalah
yang kritis ialah bagaimana dapat menemukan
potensi kreatif siswa dan bagaimana dapat
mengembangkannya melalui pengalaman
pendidikan.
Munandar (2002) mengatakan kreativitas
atau berpikir kreatif merupakan suatu
kemampuan untuk melihat bermacam-macam
kemungkinan penyelesaian terhadap suatu
problema-problema yang semakin kompleks
dimana individu harus mampu memikirkan,
membentuk cara-cara baru atau mengubah caracara lama secara kreatif agar dapat bertahan dalam
persaingan yang semakin ketat. Bersibuk diri
secara kreatif tidak hanya bermanfaat bagi diri
pribadi dan lingkungan, tetapi telebih-lebih juga
memberikan kepuasan kepada individu. Di
samping itu kreativitas juga memungkinkan
manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam
era pembangunan ini, kesejahteraan dan kejayaan
masyarakat dan negara bergantung pada
sumbangan kreatif, berupa ide-ide baru,
penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru.
Untuk mencapai hal ini, sikap, pemikiran, dan
perilaku kreatif harus dipupuk sejak dini.
Pada dasarnya siswa SMK telah dilatih untuk
menghasilkan karya-karya kreatif, tetapi karyakarya yang dihasilkan tersebut belum dapat
dinikmati atau digunakan oleh masyarakat luas.
Seperti hasil wawancara peneliti pada bulan Maret
2012 dengan seorang guru SMK yang mengatakan
bahwa sekolah telah menerapkan sistem
pendidikan yang mendidik siswanya agar menjadi
kreatif tetapi potensi kreatif pada siswa tidak
dapat berkembang secara optimal, hal ini
dikarenakan siswa kurang memiliki keyakinan

53

Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kreativitas Pada Siswa SMK

dalam menciptakan karya yang menarik dan


menunjukkan hasil karya-karyanya kepada
masyarakat luas.
Pada kesempatan lain, peneliti juga
melakukan wawancara pada siswa SMK. Siswa
tersebut menyatakan bahwa dirinya seringkali
merasa minder dan pesimis ketika pihak sekolah
memintanya untuk mengikuti lomba-lomba serta
pameran-pameran karya kreatif (April, 2012).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pada
dasarnya siswa telah menciptakan sebuah karya
tetapi ia tidak memiliki keyakinan diri bahwa
karya yang dihasilkan merupakan karya-karya
kreatif dan menarik sehingga ia merasa pesimis
untuk mengenalkan hasil karyanya kepada
masyarakat.
Keyakinan diri yang dimaksud di sini adalah
self efficacy, dimana self efficacy merupakan
keyakinan atau kepercayaan individu mengenai
kemampuan dirinya untuk untuk mengorganisasi,
melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan,
menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi
tindakan untuk menampilkan kecakapan tertentu
(Bandura, 1997).
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti
tertarik untuk menguji hubungan antara self
efficacy dengan kreativitas pada siswa SMK.

METODE PENELITIAN
Tipe penelitian
Dilihat dari pendekatan analisisnya,
penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif yang menekankan analisisnya pada
data-data numerical (angka) yang diolah dengan
metode-metode statistika (Neuman, 2000).
Apabila ditinjau berdasarkan tujuannya,
penelitian ini tergolong dalam tipe penelitian
penjelasan (explanatory research) yaitu suatu tipe
penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan
hubungan suatu penyebab dan alasannya. Tipe
penelitian explanatory ini juga digunakan untuk
menguji prinsip atau prediksi dari sebuah teori,
serta mengaitkannya dengan topik-topik yang
aktual (Neuman, 2000).
Sedangkan berdasarkan metode yang
digunakan, penelitian ini termasuk dalam
penelitian survei. Menurut Singarimbun dan
Effendy (1989) yang dimaksud dengan penelitian
survei adalah penelitian yang mengambil sampel

54

dari populasi dan menggunakan kuesioner


sebagai alat pengumpulan data yang pokok.
Penelitian dengan metode survei ini digunakan
untuk berbagai macam maksud dan tujuan, salah
satunya adalah untuk explanatory, yaitu untuk
menjelaskan hubungan kausal dan pengujian
hipotesis.

Subjek penelitian
Populasi dalam penelitian ini memiliki
karakteristik yaitu berstatus sebagai siswa aktif di
Sekolah Menengah Kejuruan dan tercatat sebagai
siswa kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan
Program Keahlian Tata Busana. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah
sampling jenuh, sehingga sampel yang digunakan
adalah seluruh anggota populasi penelitian, yaitu
62 siswa SMK Negeri 8 Surabaya.

Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan alat Tes Kreativitas Figural (TKF)
yang telah terstandarisasi sebagai alat untuk
mengukur kreativitas dan kuesioner untuk
mengukur tingkat self eff icac y.Menurut
Singarimbun dan Effendi (1989) kuesioner digunakan
dengan alasan karena jawaban pada kuesioner dapat
dimanifestasikan ke dalam angka-angka, tabel analisis
statistik dan uraian serta kesimpulan hasil penelitian.
Pemilihan kuesioner ini didasarkan pada
pertimbangan kemudahan pelaksanaan dan tidak
memerlukan waktu yang lama, selain itu data lebih
cepat terkumpul dan analisa validitas dan
reliabilitasnya cukup sederhana. Kuesioner yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan
bentuk skala Likert yang dimodifikasi, dimana
pernyataan tengah (ragu-ragu) dihilangkan
dengan tujuan untuk menghindari respon yang
bermakna ganda dan kecenderungan subjek
penelitian memilih pernyataan yang netral. Butirbutir dalam kuesioner disusun dalam bentuk
pernyataan-pernyataan yang bersifat mendukung
(favorable) dan tidak mendukung (unfavorable).
Subjek memiliki 4 (empat) pilihan jawaban, yaitu:
Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS),
dan Sangat Tidak Sesuai (STS).
Instrumen pengumpulan data yang
digunakan untuk mengukur tingkat kreativitas
adalah Tes Kreativitas Figural (TKF) yang telah
distandardisasi oleh Fakultas Psikologi

Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Vol. 1 No. 02, Juni 2012

Hepy Hapsari Kisti, Nur Ainy Fardana N.

Universitas Indonesia. TKF mengukur aspek


kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan elaborasi
dari kemampuan berpikir kreatif. Selain aspekaspek tersebut, TKF juga memungkinkan
mendapat ukuran dari kreativitas sebagai
kemampuan untuk membuat kombinasi antara
unsur-unsur yang diberikan, yaitu dengan
mencari skor untuk bonus orisinalitas jika subjek
mampu menggabungkan dua lingkaran atau lebih
menjadi satu obyek. Makin banyak lingkaran yang
dapat digabung, makin tinggi skor yang diperoleh
(Munandar, 2002).

Analisis data
Analisis data dilakukan dengan
menggunakan teknik korelasi product moment
dari Pearson karena sesuai dengan tujuan
penelitian ini yaitu mengetahui hubungan antara
dua variabel dan data yang digunakan adalah
interval. Seluruh perhitungan dan analisis data ini
menggunakan komputer dengan program SPSS
versi 16.0 for windows pada taraf signifikansi 5% (p
value). Nilai p akan berfungsi untuk menguji
signifikansi hubungan antara kedua variabel.
Hubungan kedua variabel dinyatakan signifikan
bila p < 0,05 dan bila p > 0,05 maka hubungan
antara kedua variabel dinyatakan tidak signifikan.

HASIL DAN BAHASAN


Gambaran Subjek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswasiswi kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan Negeri
8 Surabaya Program Keahlian Tata Busana. Alasan
peneliti mengambil subyek penelitian hanya pada
kelas XI karena siswa yang duduk di kelas XI berada
pada tahap perkembangan remaja akhir dan usia
yang sedang mempersiapkan diri masuk ke dalam
dunia kerja. Di samping itu siswa kelas XI berada
dalam rentang masa periode kritis perkembangan
kreativitas dan menurut Torrance (1977) usia ini
juga merupakan tahap yang amat potensial bagi
perkembangan kreativitas karena pada usia ini
individu sudah mulai mampu berpikir secara
abstrak dan sistematis untuk memecahkan
berbagai permasalahan yang dihadapi.
Pertimbangan lain yang digunakan diperoleh
dari hasil survei awal sebelum penelitian. Pihak
sekolah juga menghimbau agar peneliti memakai
siswa kelas XI sebagai subyek penelitian bukan

Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Vol. 1 No. 02, Juni 2012

siswa kelas X dan XII. Hal ini dikarenakan siswa


kelas X akan mengikuti praktek kerja industri di
luar kota dan untuk siswa kelas XII tidak boleh
diganggu oleh kegiatan lain karena akan
menghadapi Ujian Nasional.
Di samping siswa-siswi kelas XI, peneliti juga
mengambil subyek yaitu siswa-siswi yang
mengambil Program Keahlian Tata Busana dengan
alasan Program Keahlian Tata Busana merupakan
salah satu Program Keahlian yang berhubungan
dengan desain. Pada Program Keahlian Tata
Busana siswa tidak hanya dituntut untuk memiliki
kreativitas dalam menghadapi tantangan dan
persaingan, melainkan juga kreativitas dalam
membuat desain-desain yang menarik dengan
memasukkan ide-ide serta kombinasi-kombinasi
baru guna menghasilkan karya atau produk yang
berbeda dan berguna untuk masyarakat.

Hasil Analisis Data


Hasil analisis data penelitian dengan
menggunakan teknik korelasi Product Moment
dari Pearson dengan bantuan program SPSS versi
16.0 for Windows. Dari
hasil perhitungan,
diketahui bahwa diperoleh nilai p value (Sig.)
sebesar 0,000 dan nilai tersebut kurang dari =
0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara self
efficacy dengan kreativitas. Nilai
koefisien
korelasi kedua variabel diketahui sebesar 0,479
dimana berada pada rentang antara 0,400,599.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kekuatan
hubungan antara kedua variabel adalah sedang
.

Diskusi
Data yang telah dianalisis menunjukkan
bahwa terdapat hubungan antara self efficacy
dengan kreativitas pada siswa SMK. Hal ini
tampak pada diperolehnya koefisien korelasi
sebesar 0,479 dengan signifikansi 0,000, ini berarti
terdapat hubungan antara self efficacy dengan
kreativitas yang memiliki arah hubungan positif.
Sehingga dapat dikatakan bahwa peningkatan self
efficacy akan diikuti dengan peningkatan
kreativitas. Dengan demikian semakin tinggi self
efficacy maka akan semakin tinggi kreativitas dan
sebaliknya semakin rendah self efficacy maka
akan semakin rendah pula kreativitasnya.
Sternberg dan Williams (1996) berpendapat

55

Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kreativitas Pada Siswa SMK

bahwa untuk memaksimalkan dan


mengembangkan kreativitas dibutuhkan suatu
keyakinan diri (dalam Chuang dkk., 2010).
Kreativitas tanpa diiringi oleh keyakinan diri tidak
dapat berkembang secara optimal. Individu
dengan self efficacy yang tinggi akan dapat
meningkatkan kreativitasnya dan dengan self
efficacy individu akan lebih kreatif dalam proses
pemecahan masalah (Amabile; Phelan dan Young
dalam Sweetman dkk., dalam penerbitan).
Yakin adalah suatu sikap yang amat penting
dalam diri setiap manusia. Seseorang yang tidak
memiliki self efficacy akan membuat banyak
pengandaian yang seharusnya tidak dilakukan
sebelum mencoba suatu pekerjaan. Untuk
menjadi siswa yang sukses tidak hanya dibidang
akademik tetapi juga dibidang yang lain seperti
kehidupan di masyarakat, diperlukan keyakinan
diri yang tinggi. Siswa harus merasa yakin dengan
apa yang akan dilakukan agar semua yang
dikerjakan mendapat hasil yang optimal. Begitu
pula dalam proses pengembangan kreativitas,
siswa harus yakin bisa melakukan sesuatu. Untuk
menjadi orang yang kreatif seseorang harus
memiliki self efficacy agar mempunyai keberanian
untuk mempertahankan pendapatnya.
Bandura (1997) menyebutkan beberapa hal
yang dapat mempengaruhi self efficacy individu,
yaitu pencapaian prestasi, pengalaman orang lain,
tingkat kesukaran tugas, status individu dalam
lingkungan, dan informasi mengenai kemampuan
yang dimiliki. Dengan demikian dapat diketahui
bahwa siswa-siswi SMK dengan self efficacy yang
tinggi akan berusaha untuk dapat melaksanakan
tugas, aktivitas atau tindakan tertentu dan terus
berusaha apabila menemui hambatan dalam
mencapai tujuan.
Di samping itu siswa SMK yang mempunyai
self efficacy tinggi akan dapat menciptakan karyakarya kreatif yang dapat dinikmati atau digunakan
oleh masyarakat luas. Dengan kata lain self
efficacy merupakan faktor yang penting untuk
mengoptimalkan kreativitas. Sehingga siswa SMK
tidak hanya membutuhkan kreativitas melainkan
juga self efficacy agar mampu menghadapi
tantangan dan persaingan era globalisasi dalam
bidang pasar produk kreatif.
Self efficacy pada individu mempengaruhi
proses kognitif. Tindakan yang diambil seseorang
pada umumnya berdasarkan pengaruh dari

56

pikirannya. Fungsi utama dari pikiran adalah


untuk memprediksi apa yang akan terjadi di
kemudian dan mengembangkan cara untuk
mengontrol serta mengantisipasi hal-hal yang
dapat mempengaruhi kehidupan individu
tersebut. Siswa SMK juga membutuhkan
pengembangan kreativitas yang menekankan
pada aspek kognitif, yaitu berpikir kreatif untuk
menghasilkan ide-ide baru dan orisinal dalam
karya-karyanya.
B e r p i k i r k re a t i f m e r u p a k a n s u a t u
kemampuan untuk melihat bermacam-macam
kemungkinan penyelesaian terhadap suatu
problema-problema yang semakin kompleks
dimana individu harus mampu memikirkan,
membentuk cara-cara baru atau mengubah caracara lama secara kreatif yang mencerminkan aspek
fluency, flexibility, originality, dan elaboration,
agar dapat bertahan dalam persaingan yang
semakin ketat. Pengaruh self efficacy pada proses
kognitif juga memungkinkan seseorang untuk
m e n ge m b a n g k a n ke m a m p u a n b e r p i k i r
kreatifnya. Siswa SMK dengan self efficacy tinggi
akan menjadi tangguh dan menantang diri mereka
sendiri untuk menggunakan cara berpikir analitis
dalam menghasilkan kinerja yang diharapkan,
dengan kata lain siswa SMK mampu menghasilkan
karya-karya kreatif dengan membuat desaindesain yang menarik dengan memasukkan ide-ide
serta kombinasi-kombinasi baru.

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan
yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka
didapatkan kesimpulan dari penelitian yaitu Ada
hubungan antara self efficacy dengan kreativitas
pada siswa SMK. Tingkat hubungan yang terjadi
antara variabel self efficacy dengan kreativitas
pada siswa SMK tergolong sedang yaitu sebesar
0,479. Arah korelasi bersifat positif, artinya
semakin tinggi self efficacy yang dimiliki siswa
SMK maka semakin tinggi juga kreativitas pada
siswa SMK.

Saran
Apabila ada kelanjutan dari penelitian ini,
disarankan pada peneliti yang selanjutnya untuk
m e m p e r h a t i k a n b e b e ra p a h a l b e r i k u t ,

Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Vol. 1 No. 02, Juni 2012

Hepy Hapsari Kisti, Nur Ainy Fardana N.

diantaranya: pertama, p enelitian selanjutnya


diharapkan lebih memperhatikan faktor-faktor lain
yang mungkin dapat mempengaruhi hubungan antara
kedua variabel, misalnya faktor eksternal dari subyek,
seperti kondisi budaya, lingkungan keluarga,
lingkungan masyarakat, dan kondisi sosial ekonomi
maupun faktor-faktor internal dari subyek, seperti
kondisi emosi, intelektual, motivasi, dan kemampuan
problem solving. Dengan harapan, penelitian
selanjutnya akan mendapatkan hasil yang lebih akurat
mengenai hubungan antara kedua variabel. Kedua,
untuk menunjang hasil penelitian yang lebih
berbobot, hendaknya ditambah dengan menggunakan
metode lain, yaitu metode observasi dan wawancara,
karena data yang diperoleh akan lebih mendalam dan
bervariasi. Ketiga, pada penelitian ini hanya
memfokuskan penelitian pada hubungan antara
self efficacy dengan kreativitas pada siswa SMK.
Penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti
dengan variabel yang berbeda dan bervariasi. Di
samping itu subyek dalam penelitian juga
membutuhkan variasi agar dapat
mengembangkan pengetahuan tentang self
efficacy maupun kreativitas.

Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Vol. 1 No. 02, Juni 2012

57

Hubungan Antara Self Efficacy dengan Kreativitas Pada Siswa SMK

PUSTAKA ACUAN
Bandura, A. (1997). Self Efficacy: the Exercise of Control. New York:Freeman.
Chuang, C. F., Shiu, S. C., & Cheng, C. J. (2010). The Relation of College Students' Process of Study and
Creativity: The Mediating Effect of Creative Self-Efficacy. World Academy of Science, Enginering
and Technology, 960-963.
Munandar, S. C. U. (2002). Kreativitas dan Keberbakatan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Neuman, W. L. (2000). Social Research Methods Qualitative and Quantitative Approaches. Boston:
Allyn and Bacon.
Singarimbun, M., & Effendy, S. (1989) Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES.
Sweetman, D., Luthans, F., Avey, J. B., & Luthans, B. C. (dalam penerbitan). Relationship Between
Positive Psychological Capital and Creative Performance. Canadian Journal of Administrative
Science.

58

Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Vol. 1 No. 02, Juni 2012