Anda di halaman 1dari 21

1

LONG CASE

MENINGIOMA
Marthen Danniel Jourdan Nyola, S.Ked
Pembimbing
dr. Donny Argie, Sp. BS
SMF ILMU BEDAH
Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang
RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang
I. PENDAHULUAN
Meningioma adalah tumor yang berasal dari meningens yang berfungsi sebagai
membran pelindung yang menutupi otak. Meningioma berasal dari sel induk arachnoid
yang terletak di lapisan arachnoid yang menutupi permukaan dari otak yang dapat
terjadi intrakranial atau antara saluran spinal.(1)
Angka kejadian meningioma 20% dari seluruh tumor primer otak. Tumor ini
lebih sering dialami wanita daripada pria dan biasanya terjadi pada usia 50-60 tahun,
tetapi tidak menutup kemungkinan dapat muncul pada masa kanak-kanak atau pada usia
lanjut dan memperlihatkan kecenderungan untuk ditemukan pada beberapa anggota di
satu keluarga. Korelasinya dengan trauma kapitis masih dalam pencarian karena belum
cukup bukti untuk memastikannya. Pada umumnya meningioma dianggap sebagai
neoplasma yang berasal dari glioblas di sekitar vili arachnoid. Sel di medulla spinalis
yang sebanding dengan sel tersebut ialah sel yang terletak pada tempat pertemuan antara
arachnoid dengan dura yang menutupi radiks.(2,3)
Meningioma dapat tumbuh di mana saja di sepanjang meningen. Sekitar 25 %
mengenai falx dan parasagital yang dapat dibedakan menjadi sepertiga anterior, tengah,
dan posterior. Tumor ini tertutup oleh korteks di atasnya dan cenderung tumbuh
mayoritas pada satu hemisfer tetapi bisa bilateral. Pada beberapa pasien, tumor tumbuh
ke tepi inferior sinus sagital. (3)
Meskipun kebanyakan meningioma bersifat jinak (benigna) tumor ini bisa
mengalami kekambuhan setelah diangkat. Manifestasi klinis yang ditimbulkan sangat
bervariasi sesuai dengan bagian otak yang terganggu yang dapat mengakibatkan kondisi
serius dan berpotensi mengakibatkan kematian. (3)

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1.

Definisi
Meningioma adalah tumor pada meninx, yang merupakan selaput pelindung
yang melindungi otak dan medulla spinalis. Di antara sel-sel meningen itu belum dapat
dipastikan sel mana yang membentuk tumor tetapi terdapat hubungan erat antara tumor
ini dengan villi arachnoid. Tumbuhnva meningioma kebanvakan di tempat ditemukan
banyak villi arachnoid. Meningioma dapat timbul pada tempat manapun di bagian otak
maupun medulla spinalis, tetapi, umumnya terjadi di hemisphere otak di semua
lobusnya. Kebanyakan meningioma bersifat jinak (benign). Meningioma malignant
jarang terjadi. (2)

2.2.

Insidensi
Meningioma merupakan neoplasma intracranial nomor 2 dalam urutan
frekuensinya yaitu mencapai angka 20% dan 12 % dari semua tumor medulla spinalis.
Meningioma biasanya jinak, tetapi bisa kambuh setelah diangkat. Tumor ini lebih sering
ditemukan pada wanita dan biasanya muncul pada usia 50-60 tahun, tetapi tidak tertutup
kemungkinan muncul pada masa kanak-kanak atau pada usia yang lebih lanjut, dan
memperlihatkan kecenderungan untuk ditemukan pada beberapa anggota di satu
keluarga. Paling banyak meningioma tergolong jinak (benign) dan 10 % malignant.
Perbandingan antara wanita dan laki-laki adalah 3 : 2 , namun ada pula sumber yang
menyebutkan 7 : 2. (2)

Gambar 1. Tumor Otak yang Berasal dari Saraf

Tempat predileksi di ruang cranium supratentorial ialah daerah parasagital. Yang


terletak di krista sphenoid, parasellar, dan baso-frontal biasanya gepeng atau kecil
bundar. Bilamana meningioma terletak infratentorial, kebanyakan didapati di samping
medial os petrosum di dekat sudut serebelopontin. Meningioma spinalis mempunyai
kecenderungan untuk memilih tempat di bagian T.4 sampai T.8. Meningioma yang bulat
sering menimbulkan penipisan pada tulang tengkorak sedangkan yang gepeng justru
menimbulkan hyperostosis. (3)
Meningioma dapat tumbuh di mana saja di sepanjang meningen dan dapat
menimbulkan manifestasi klinis yang sangat bervariasi sesuai dengan bagian otak yang

terganggu. Sekitar 40% meningioma berlokasi di lobus frontalis dan 20% menimbulkan
gejala sindroma lobus frontalis. Sindroma lobus frontalis sendiri merupakan gejala
ketidakmampuan mengatur perilaku seperti impulsif, apati, disorganisasi, defisit
memori dan atensi, disfungsi eksekutif, dan ketidakmampuan mengatur mood. (3)

2.3.

Anatomi
Meninx adalah suatu selaput jaringan ikat yang membungkus enchepalon dam
medulla spinalis. Terdiri dari duramater, arachnoid dan piamater, yang letaknya
berurutan dari superficial ke profunda. Bersama-sama, araknoid dan piamater disebut
leptomening (4)
Dura mater terdiri dari jaringan fibrous yang kuat, berwarna putih, terdiri dari
lamina meningialis dan lamina endostealis. Pada medulla spinalis lamina endostealis
melekat erat pada dinding canalis vertebralis, menjadi endosteum (periosteum),sehingga
di antara lamina meningialis dan lamina endostealis terdapat spatium extraduralis
(spatium epiduralis) yang berisi jaringan ikat longgar, lemak dan pleksus venosus.
Antara dura mater dan archnoid terdapat spatium subdurale yang berisi cairan lymphe.
Pada enchepalon lamina endostealis melekat erat pada permukaan interior cranium,
terutama pada sutura, basis crania dan tepi foramen occipital magnum. Lamina
meningialis mempunyai permukaan yang licin dan dilapisi oleh suatu lapisan sel, dan
membentuk empat buah septa, yaitu (4) :
1. Falx cerebri
2. Tentorium cerebella
3. Falx cerebella
4. Diaphragm sellae

Gambar 2. Lapisan Meningen

Arachnoid bersama-sama dengan pia mater disebut leptomeninges. Kedua


lapisan ini dihubungkan satu sama lain oleh trabekula arachnoideae.Arachniod adalah
suatu selubung tipis, membentuk spatium subdurale dengan dura mater. Antara archnoid
dan pia mater terdapat spatium subarachnoideum yang berisi liquor cerebrospinalis.
Arachnoid yang membungkus basis serebri berbentuk tebal sedangkan yang
membungkus facies superior cerebri tipis dan transparant. Arachnoid membentuk
tonjolan-tonjolan kecil disebut granulation arachnoidea, masuk kedalam sinus venosus,
terutama sinus sagitallis superior. (4)
Lapisan disebelah profunda, meluas ke dalam gyrus cerebri dan diantara folia
cerebri.Membentuk tela chorioidea venticuli. Dibentuk oleh serabut-serabut reticularis
dan elastic,ditutupi oleh pembuluh-pembuluh darah cerebral. Pia terdiri dari lapisan sel
mesodermal tipis seperti endothelium. Berlawanan dengan arachnoid, membrane ini ini
menutupi semua permukaan otak dan medulla spinalis. (4)

2.4.

Etiologi

Penyebab terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum diketahui.


Berbagai penelitian dilakukan untuk menemukan penyebab meningioma. Penyebab
yang tersering adalah paparan radiasi antara 132-315 rontgen, dimana dosis ini sama
dengan 1-3 Gy. Karakteristik dari radiasi adalah radiasi yang memiliki periode laten 3638 tahun bagi pasien yang mendapatkan dosis radiasi yang rendah pada kepala, dimana
pasien yang menderita meningioma setelah terpapar dosis radiasi tinggi akan
menimbulkan tanda paling cepat 5 tahun sesudahnya. Meningioma yang terjadi akibat
adanya paparan radiasi lebih sering terjadi, dimana angka kejadiannya mencapai 80%.(5)
Para ahli tidak memastikan apa penyebab tumor meningioma, namun beberapa
teori telah diteliti dan sebagian besar menyetujui bahwa kromoson yang jelek yang
menyebabkan timbulnya meningioma. Para peneliti sedang mempelajari beberapa teori
tentang kemungkinan asal usul meningioma. Di antara 40% dan 80% dari meningiomas
berisi kromosom 22 yang abnormal pada lokus gen neurofibromatosis 2 (NF2). NF2
merupakan gen supresor tumor pada 22Q12, ditemukan tidak aktif pada 40%
meningioma sporadik. Pasien dengan NF2 dan beberapa non-NF2 sindrom familial
yang lain dapat berkembang menjadi meningioma multiple, dan sering terjadi pada usia
muda. Disamping itu, deplesi gen yang lain juga berhubungan dengan pertumbuhan
meningioma. (5)
Kromosom ini biasanya terlibat dalam menekan pertumbuhan tumor. Penyebab
kelainan ini tidak diketahui. Meningioma juga sering memiliki salinan tambahan dari
platelet diturunkan faktor pertumbuhan (PDGFR) dan epidermis reseptor faktor
pertumbuhan (EGFR) yang mungkin memberikan kontribusi pada pertumbuhan tumor
ini. Berbagai macam jaringan normal dan neoplastik mengekspresikan EGFR,
overekspresi dari EGFR ditemukan pada sejumlah tumor termasuk payudara, paru-paru,
kepala, leher, glioblastoma, dan karsinoma kolorektal. Baru-baru ini, sebuah dugaan
muncul dalam menilai ekspresi EGFR dalam sejumlah keganasan SSP seperti
meningioma dan glioma.Wernicke dkk melaporkan tingginya ekspresi EGFR pada
penderita meningioma. Overekspresi EGFR diduga terlibat dalam proliferasi dan
diferensiasi meningothelial sel. (3)

Meningioma memiliki reseptor yang berhubungan dengan hormone estrogen,


progesterone, dan androgen, yang juga dihubungkan dengan kanker payudara. Hal ini
dibuktikan dengan adanya perubahan ukuran tumor pada fase lutheal siklus haid dan
kehamilan. Ekspresi progesteron reseptor dilihat paling sering pada jinak meningiomas,
baik pada pria dan wanita. Fungsi reseptor ini belum sepenuhnya dipahami, dan
demikian, sering kali menantang bagi dokter untuk menasihati pasien perempuan
mereka tentang penggunaan hormon jika mereka memiliki sejarah suatu meningioma.
Meskipun peran tepat hormon dalam pertumbuhan meningioma belum ditentukan,
peneliti telah mengamati bahwa kadang-kadang mungkin meningioma tumbuh lebih
cepat pada saat kehamilan. (3)
Pada umumnya meningioma dianggap sebagai neoplasma yang berasal dari
glioblas di sekitar vili arachnoid. Sel di medulla spinalis yang sebanding dengan sel
tersebut ialah sel yang terletak pada tempat pertemuan antara arachnoid dengan dura
yang menutupi radiks. (3)

2.5.

Faktor Resiko
Selain peningkatan usia, faktor lain yang dinilai konsisten berhubungan dengan
risiko terjadinya meningioma yaitu sinar radiasi pengion; faktor lingkungan berupa gaya
hidup dan genetik telah dipelajari namunnya perannya masih dipertanyakan. Faktor lain
yang telah diteliti yaitu penggunaan hormon endogen dan eksogen, penggunaan elepon
genggam, dan variasi genetik atau polimorfisme. Faktor lain yang dinilai berperan
adalah keadaan penyakit yang sudah ada seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan
epilepsi; pajanan timbale, pemakaian pewarna rambut; pajanan gelombang micro atau
medan magnet, merokok; trauma kepala; dan alergi. Sebagian faktor risiko diatas dinilai
tidak signifikan atau tidak konsisten bila dihubungkan dengan risiko yang ditemukan
pada pasien meningioma, hal ini dapat disebabkan jumlah sampel penelitian yang
sedikit, waktu follow up yang singkat, dan adanya perbedaan kriteria dan pajanan. (6)

1.

Radiasi Pengion
Faktor yang dinilai memiliki bukti kuat ilmiah dalam meningkatkan risiko
kejadian meningioma adalah pajanan radiasi pengion. Penelitian mengenai radiasi
pengion sebagai factor risiko dilakukan pada cohort tinea capitis di Israel, korban
bom atom yang masih hidup, dan pasien dengan pajanan radiasi terapeutik atau
diagnostik. Bukti terkuat radiasi pengion dosis tinggi mempengaruhi insidensi
meningioma ditemukan pada indiviu yang mendapatkan pajanan radiasi dosis tinggi
dalam pengobatan tumor leher dan kepala, sedangkan contoh radiasi pengion dosis
rendah sebagai faktor risiko meningioma dapat diketahui dalam penilitian cohort
tinea kapitis. (6)
Periode laten munculnya meningioma setelah pajanan radiasi pengion
bergantung pada dosis radiasi; sekitar 35,2 tahun untuk dosis rendah, 26,1 tahun
untuk dosis menengah, dan 19,5 tahun untuk radiasi pengion dosis tinggi. Dengan
kata lain, usia saat ditemukannya meningioma pada seseorang semakin rendah bila
dosis pajanan radiasi pengion semakin besar; selain itu dosis radiasi yang semakin
tinggi memili kecendrungan akan munculnya tumor multipel atau sifat meningioma
yang atipikal atau malignant. (6)

10

2.

Hormon
Melihat dari dominannya insidensi meningioma pada wanita dibanding pria,
adanya ekspresi hormone pada beberapa tumor tertentu, kemungkinan adanya hubungan
dengan kanker payudara dan laporan perubahan ukuran tumor saat kehamilan, siklus
menstruarsi, dan menopause; beberapa peneleti menyatakan adanya hubungan antara
hormone sebagai faktor risiko meningioma.(3)
Pada sebuah penelitian telah meneliti mengenai hubungan antara pemakaian
kontrasepsi oral dan terapi pengganti hormone pada wanita pre-menopause dan postmenopause untuk melihat risiko kemungkinan meningioma; secara umum data-data
tidak memperlihatkan bukti yang kuat bahwa kontrasepsi oral sebagai faktor risiko
meningioma namun sebaliknya pemakaian terapi pengganti hormone mengindikasikan
kemungkinan hubungan sebagai faktor risiko. Wigertz dan kawan-kawan menemukan
bahwa terdapat peningkatan signifikan risiko meningioma pada wanita post-menopause
di Swedia yang pernah menggunakan terapi pengganti hormone (OR [95% CI] 1.7 [1.0
2.8]), hasil ini mengkonfirmasi penemuan Jhawar dan kawan-kawan dalam penelitian
Nurse health study. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua penelitian menunjukkan
hubungan antara pemakaian terapi pengganti hormone dengan meningioma.6

3.

Pemakaian telepon genggam


Pertanyaan mengenai penggunaan telepon genggam dapat menyebabkan
meningioma sangat marak di masyarakat namun sampai sekarang bukti yang
menunjukkan hal tersebut masih sedikit. Berbagai penelitian kasus kontrol sudah
dilakukan di populasi Amerika Serikat, Eropa, dan Israel untuk mencari hubungan
pemakaian telepon genggam dengan risiko tumor otak; semua penelitian di atas tidak
menunjukkan hubungan yang signifikan. Namun demikian beberapa penelitian
menunjukkan bahwa pemakaian telepon genggam jangka panjang (> 10 tahun)
menunjukkan peningkatan risiko neuroma akustik, suatu tipe glioma high grade.

4.

Genetik

11

Sebagian besar meningioma merupakan tumor sporadik; pasien dengan lesi


sporadic tidak memilii riwayat tumor otak pada keluarganya. Sindrom genetik yang
diketahui menjadi faktor risiko pertumbuhan meningioma hanya sedikit dan jarang.
Meningioma dapat ditemukan pada pasien dengan NF2, sebuah kelainan autosom
dominan yang disebabkan oleh mutasi pada gen NF2 di 22q12; kelainan ini memiliki
insidensi 1 per 30.000 40.000 di Amerika Serikat. 3 Namun demikian, terdapat
kemungkinan banyak gen disamping NF2 yang terlibat dalam meningioma familial.
Dilaporkan meningioma pada keluarga-keluarga di Swedia tanpa ditemukan adanya gen
NF2, terdapat hubungan signifikan antara diagnosis meningioma dengan riwayat
meningioma pada orang tua ([95% CI] 3.06 [1.844.79]).3 Penelitian cohort tinea
capitis, pasien meningioma yang sebelumnya mendapat radiasi pengion lebih banyak
insidensinya pada pasien yang memliki orang tua dengan riwayat pajanan radiasi
pengion; hal ini menggambarkan kerentanan genetik. Selain itu, sekitar 50% pasien
meningioma sporadic juga memiliki mutasi pada gen NF2 atau mutasi gen lain yang
melibatkan lengan kromosom 22q12. (6)

2.6.

Patofisiologi
Seperti banyak kasus neoplasma lainnya, masih banyak hal yang belum
diketahui dari meningioma. Tumor otak yang tergolong jinak ini secara histopatologis
berasal dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi
dan perubahan bentuk. Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih
belum jelas. Kaskade eikosanoid diduga memainkan peranan dalam tumorogenesis dan
perkembangan edema peritumoral. (3)
Meningioma juga berhubungan dengan hormon seks dan seperti halnya faktor
etiologi lainnya mekanisme hormon sex hingga memicu meningioma hingga saat ini
masih menjadi perdebatan. Pada sekitar 2/3 kasus meningioma ditemukan reseptor
progesterone. Tidak hanya progesteron, reseptor hormon lain juga ditemukan pada
tumor ini termasuk estrogen, androgen, dopamine, dan reseptor untuk platelet derived
growth factor. Beberapa reseptor hormon sex diekspressikan oleh meningioma. Dengan
teknik imunohistokimia yang spesifik dan teknik biologi molekuler diketahui bahwa

12

estrogen diekspresikan dalam konsentrasi yang rendah. Reseptor progesteron dapat


ditemukan dalam sitosol dari meningioma. Reseptor somatostatin juga ditemukan
konsisten pada meningioma. (2)
Pada meningioma multiple, reseptor progesteron lebih tinggi dibandingkan pada
meningioma soliter. Reseptor progesteron yang ditemukan pada meningioma sama
dengan yang ditemukan pada karsinoma mammae. Jacobs dkk melaporkan meningioma
secara bermakna tidak berhubungan dengan karsinoma mammae, tapi beberapa
penelitian lainnya melaporkan hubungan karsinoma mammae dengan meningioma. (2)
Meningioma merupakan tumor otak yang pertumbuhannya lambat dan tidak
menginvasi otak maupun medulla spinalis. Stimulus hormon merupakan faktor yang
penting dalam pertumbuhan meningioma. Pertumbuhan meningioma dapat menjadi
cepat selama periode peningkatan hormon, fase luteal pada siklus menstruasi dan
kehamilan. (2)
Trauma dan virus sebagai kemungkinan penyebab meningioma telah diteliti, tapi
belum didapatkan bukti nyata hubungan trauma dan virus sebagai penyebab
meningioma. Philips et al melaporkan adanya sedikit peningkatan kasus meningioma
setelah trauma kepala.

2.7.

Klasifikasi
WHO mengembangkan sistem klasifikasi untuk beberapa tumor yang telah
diketahui, termasuk meningioma. Tumor diklasifikasikan melalui tipe sel dan derajat
pada hasil biopsi yang dilihat di bawah mikroskop. Penatalaksanaannya pun berbedabeda di tiap derajatnya. (7)
1. Grade I
Meningioma tumbuh dengan lambat . Jika tumor tidak menimbulkan gejala,
mungkin pertumbuhannya sangat baik jika diobservasi dengan MRI secara periodic.
Jika tumor semakin bverkembang, maka pada akhirnya dapat menimbulkan gejala,

13

kemudian

penatalaksanaan

bedah

dapat

direkomendasikan.

Kebanyakan

meningioma grade I diterapi dengan tindakan bedah dan observasi yang continue.
2. Grade II
Meningioma grade II disebut juga meningioma atypical. Jenis ini tumbuh lebih cepat
dibandingkan dengan grade I dan mempunyai angka kekambuhan yang lebih tinggi
juga. Pembedahan adalah penatalaksanaan awal pada tipe ini. Meningioma grade II
biasanya membutuhkan terapi radiasi setelah pembedahan .
3. Grade III
Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut meningioma malignant
atau meningioma anaplastik. Meningioma malignant terhitung kurang dari 1 % dari
seluruh kejadian meningioma. Pembedahan adalah penatalaksanaan yang pertama
untuk grade III diikuri dengan terapi radiasi. Jika terjadi rekurensi tumor, dapat
dilakukan kemoterapi 7.
Meningioma juga diklasifikasikan ke dalam subtype berdasarkan lokasi dari
tumor (3)
1. Meningioma falx dan parasagital (25% dari kasus meningioma). Falx adalah
selaputyang terletak antara dua sisi otak yang memisahkan hemisfer kiri dan kanan.
Falx cerebri mengandung pembuluh darah besar. Parasagital meningioma terdapat di
sekitar falx
2. Meningioma Convexitas (20%). Tipe meningioma ini terdapat pada permukaan atas
otak.
3. Meningioma Sphenoid (20%) Daerah Sphenoidalis berlokasi pada daerah belakang
mata. Banyak terjadi pada wanita.
4. Meningioma Olfactorius (10%). Tipe ini terjadi di sepanjang nervus yang
menghubungkan otak dengan hidung.

14

5. Meningioma fossa posterior (10%). Tipe ini berkembang di permukaan bawah


bagian belakang otak.
6. Meningioma suprasellar (10%). Terjadi di bagian atas sella tursica, sebuah kotak
pada dasar tengkorak dimana terdapat kelenjar pituitary.
7. Spinal meningioma (kurang dari 10%). Banyak terjadi pada wanita yang berumur
antara 40 dan 70 tahun. Akan selalu terjadi pda medulla spinbalis setingkat thorax
dan dapat menekan spinal cord. Meningioma spinalis dapat menyebabkan gejala
seperti nyeri radikuler di sekeliling dinding dada, gangguan kencing, dan nyeri
tungkai.
8. Meningioma Intraorbital (kurang dari 10%). Tipe ini berkembang pdaa atau di
sekitar mata cavum orbita.
9. Meningioma Intraventrikular (2%). Terjadi pada ruangan yang berisi cairan di
seluruh bagian otak.

15

Gambar 3. Lokasi Umum Meningioma

2.8.

Diagnosis
Gejala meningioma dapat bersifat umum (disebabkan oleh tekanan tumor pada
otak dan medulla spinalis) atau bisa bersifat khusus (disebabkan oleh terganggunya
fungsi normal dari bagian khusus dari otak). Secara umum, meningioma tidak bisa
didiagnosa pada gejala awal (3).
Gejala umumnya seperti (3);
1. Sakit kepala, dapat berat atau bertambah buruk saat beraktifitas atau pada pagi hari.
2. Perubahan mental
3. Kejang
4. Mual muntah
5. Perubahan visus, misalnya pandangan kabur.
Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi (3) :
1. Lobus frontal
o Menimbulkan gejala perubahan kepribadian
o Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese kontra lateral,
kejang fokal
o Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia
o Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom foster kennedy
o Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia
2. Lobus parietal
o Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal hemianopsi homonym
o Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan pada girus
angularis menimbulkan gejala sindrom gerstmanns
3. Lobus temporal
o Akan menimbulkan gejala hemianopsi, bangkitan psikomotor, yang didahului
dengan aura atau halusinasi

16

o Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan hemiparese
o Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat diketemukan gejala
choreoathetosis, parkinsonism.
4. Lobus oksipital
o Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului dengan gangguan penglihatan
o Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat quadranopia berkembang
menjadi hemianopsia, objeckagnosia
5. Tumor di ventrikel ke III
o Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan kepala menimbulkan
obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi peninggian tekanan intrakranial
mendadak, pasen tiba-tiba nyeri kepala, penglihatan kabur, dan penurunan
kesadaran
6. Tumor di cerebello pontin angie
o Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma
o Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena gejala awalnya berupa
gangguan fungsi pendengaran
o Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari daerah pontin
angel
7. Tumor Hipotalamus
o Menyebabkan gejala TIK akibat oklusi dari foramen Monroe
o Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala: gangguan perkembangan
seksuil pada anak-anak, amenorrhoe,dwarfism, gangguan cairan dan elektrolit,
bangkitan
8. Tumor di cerebelum
o Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TIK akan cepat erjadi disertai
dengan papil udem
o Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar keleher dan spasme dari
otot-otot servikal
9. Tumor fosa posterior
o Diketemukan gangguan berjalan, nyeri kepala dan muntah disertai dengan
nystacmus, biasanya merupakan gejala awal dari medulloblastoma.

2.9.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaaan untuk menunjang diagnosis adalah sebagai berikut :

17

1.

Foto polos.
Hiperostosis adalah salahsatu gambaran mayor dari meningioma pada foto polos.
Dinidikasikan untuk tumor pada meninx. Tampak erosi tulang dan dekstruksi sinus
sphenoidales, kalsifikasi dan lesi litik pada tulang tengkorak. Pembesaran pembuluh
darah meninx menggambarkan dilatasi arteri meninx yang mensuplai darah ke tumor.
Kalsifikasi terdapat pada 20-25% kasus dapat bersifat fokal maupun difus.

2.

CT-Scan.
CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling banyak
meningioma. Tanpa kontras gambaran meninioma 75% hiperdens dan14,4% isodens.
Gambaran spesifik dari meninioma berupa enchancement dari tumor dengan
pemberian kontras. Meninioma tampak sebagai masa yang homogen dengan densitas
tinggi, tepi bulat dan tegas. Dapat terlihat juga adanya hiperostosis kranialis,
destruksi tulang, udem otak yang terjadi sekitar tumor, dan adanya dilatasi ventrikel.

3.

MRI
MRI merupakan pencitraan yang sangat baik digunakan untuk mengevaluasi
meningioma. MRI memperlihatkan lesi berupa massa, dengan gejala tergantung pada
lokasi tumor berada.

4.

Angiografi
Umumnya meningioma merupakan tumor vascular. Dan dapat menimbulkan
gambaran spoke wheel appearance. Selanjutnya arteri dan kapiler memperlihatkan
gambaran vascular yang homogen dan prominen yang disebut dengan mother and
law phenomenon .

2.10.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan meningioma terganting darilokasi dan ukuran tumor itu sendiri.
Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama.
Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini antara lain lokasi

18

tumor, ukuran dan konsistensi, vaskularisasi dan pengaruh terhadap sel saraf, dan pada
kasus rekurensi, riwayat operasi sebelumnya dan atau radioterapi. Lebih jauh lagi,
rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkan faktor resiko, pola, dan rekurensi
tumor. Tindakan operasi tidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk
dura, jaringan lunak, dan tulang untuk menurunkan kejadian rekurensi. (2,3)
1. Rencana Preoperative
Pada pasien dengan meningioma supratentorial, pemberian antikonvulsan
dapat segera diberikan, deksametason diberikan dan dilindungi pemberian H2
antagonis beberapa hari sebelum operasi dilaksanakan. Pemberian antibiotik
perioperatif digunakan sebagai profilaksis pada semua pasien untuk organisme
stafilokokkus, dan pemberian cephalosporin generasi III yang memiliki aktifitas
terhadap organisem pseudomonas, serta pemberian metronidazol (untuk organisme
anaerob) ditambahkan apabila operasi direncanakan dengan pendekatan melalui
mulut, sinus paranasal, telinga, atau mastoid.(3)
Klasifikasi Simptom dari ukuran reseksi pada meningioma intracranial (3).
-

Grade I Reseksi total tumor, perlekatan dural dan tulang abnormal

Grade II Reseksi total tumor, koagulasi dari perlekatan dura

Grade III Reseksi total tumor, tanpa reseksi atau koagulasi dari
perlekatan dura, atau mungkin perluasan ekstradural ( misalnya sinus yang
terserang atau tulang yang hiperostotik)

Grade IV Reseksi parsial tumor

Grade V Dekompresi sederhana (biopsy)

19

2. Radioterapi
Penggunaan external beam irradiation pada meningioma semakin banyak
dipakai untuk terapi. External beam irradiation dengan 4500-6000 cGy dilaporkan
efektif untuk melanjutkan terapi operasi meningioma reseksi subtotal, kasus-kasus
rekurensi baik yang didahului dengan operasi sebelumnya ataupun tidak. Pada
kasus meningioma yang tidak dapat dioperasi karena lokasi yang sulit, keadaan
pasien yang buruk, atau pada pasien yang menolak dilakukan operasi, external
beam irradiation masih belum menunjukkan keefektifitasannya. Teori terakhir
menyatakan terapi external beam irradiation tampaknya akan efektif pada kasus
meningioma yang agresif (atyppical, malignan), tetapi informasi yang mendukung
teori ini belum banyak dikemukakan (3).
Efektifitas dosis yang lebih tinggi dari radioterapi harus dengan
pertimbangan komplikasi yang ditimbulkan terutama pada meningioma. Saraf
optikus sangat rentan mengalami kerusakan akibat radioterapi. Komplikasi lain
yang dapat ditimbulkan berupa insufisiensi pituitari ataupun nekrosis akibat
radioterapi. (3)
3. Radiasi Stereotaktik
Terapi radiasi tumor menggunakan stereotaktik pertama kali diperkenalkan
pada tahun 1960an menggunakan alat Harvard proton beam. Setelah itu
penggunaan stereotaktik radioterapi ini semakin banyak dilakukan untuk
meningioma. Sumber energi yang digunakan didapat melalui teknik yang
bervariasi, yang paling sering digunakan adalah sinar foton yang berasal dari Co
gamma (gamma knife) atau linear accelerators (LINAC) dan partikel berat (proton,
ion helium) dari cyclotrons. Semua teknik radioterapi dengan stereotaktik ini dapat
mengurangi komplikasi, terutama pada lesi dengan diameter kurang dari 2,5 cm. (3)
4. Kemoterapi
Modalitas kemoterapi dengan regimen antineoplasma masih belum banyak
diketahui efikasinya untuk terapi meningioma jinak maupun maligna. Kemoterapi

20

sebagai terapi ajuvan untuk rekuren meningioma atipikal atau jinak baru sedikit
sekali diaplikasikan pada pasien, tetapi terapi menggunakan regimen kemoterapi
(baik intravena atau intraarterial cis-platinum, decarbazine (DTIC) dan adriamycin)
menunjukkan hasil yang kurang memuaskan (DeMonte dan Yung), walaupun
regimen tersebut efektifitasnya sangat baik pada tumor jaringan lunak. Laporan dari
Chamberlin pemberian terapi kombinasi menggunakan cyclophosphamide,
adriamycin, dan vincristine dapat memperbaiki angka harapan hidup dengan ratarata sekitar 5,3 tahun. Pemberian obat kemoterapi lain seperti hydroxyurea sedang
dalam penelitian. Pertumbuhan sel pada meningioma dihambat pada fase S dari
siklus sel dan menginduksi apoptosis dari beberapa sel dengan pemberian
hydroxyurea. Dan dilaporkan pada satu kasus pemberian hydroxyurea ini
memberikan efek pada pasien-pasien dengan rekurensi dan meningioma yang tidak
dapat direseksi. Pemberian Alfainterferon dilaporkan dapat memperpanjang waktu
terjadinya rekurensi pada kasus meningioma yang agresif. Dilaporkan juga terapi
ini kurang menimbulkon toksisitas dibanding pemberian dengan kemoterapi. (3)

21

Gambar 4. Algoritma penanganan meningioma

2.11.

Prognosis
Pada umumnya prognosa meningioma adalah baik, karena pengangkatan tumor
yang sempurna akan memberikan penyembuhan yang permanen. Pada orang dewasa
snrvivalnya relatif lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak, dilaporkan survival rate
lima tahun adalah 75%. Pada anak-anak lebih agresif, perubahan menjadi keganasan
lebih besar dan tumor dapat menjadi sangat besar. Pada penyelidikan pengarangpengarang barat lebih dari 10% meningioma akan mengalami keganasan dan
kekambuhannya tinggi. (2,3)
Sejak 18 tahun meningioma dipandang sebagai tumor jinak, dan bila letaknya
mudah dapat diangkat seluruhnya. Degenerasi keganasan tampak bila ada (2):

Invasi dan kerusakan tulang

Tumor tidak berkapsul pada saat operasi

Invasi pada jaringan otak.


Angka kematian (mortalitas) meningioma sebelum operasi jarang dilaporkan,
dengan kemajuan teknik dan pengalaman operasi para ahli bedah maka angka kematian
post operasi makin kecil. (2)