Anda di halaman 1dari 11

Rumusan Masalah Dermatomikosis

1. Masalah bagaimana diagnosis dermatomikosis dengan diagnosis banding dan gambaran


klinis yang tidak khas ?
2. Masalah bagaimana pemilihan obat yang yang tepat untuk dermatomikosis karena obat
yang semakin banyak ?
3. Masalah apakah faktor predisposisi / pencetus dapat diatasi ?
4. Masalah sumber penularan apakah dapat dapat dihilangkan atau dihindarkan ?

MIKOSIS
PENDAHULUAN
Insidens mikosis superficialis cukup tinggi di Indonesia karena menyerang masyarakat luas,
oleh karena itu akan dibicarakan secara luas. Sebaliknya mikosis profunda karena jarang
terdapat akan diuraikan secara singkat. Mengenai kandidosis yang disebabkan oleh Candida
spp. Akan dibicarakan secara terpisah. Alasannya karena jamur tersebut bersifat intermediate,
sehingga dapat memberi pelbagai bentuk klinis, baik sistemik maupun superficialis.
DEFENISI
Mikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur
SINONIM
Penyakit Jamur
KLASIFIKASI
Penyakit jamur atau mikosis dibagi menjadi :
a. Mikosis Profunda
b. Mikosis Superficialis
MIKOSIS PROFUNDA
Mikosis profunda terdiri atas beberapa penyakit yang disebabkan jamur, dengan gejala klinis
tertentu yang menyerang alat dibawah kulit, misalnya traktus intestinalis, traktus
respiratorius, traktus urogenitalis, susunan kardiovaskuler, susunan saraf sentral, otot, tulang,
dan kadang-kadang kulit. Kelainan kulit pada mikosis profunda dapat berupa afek primer,
maupun akibat proses dari jaringan di bawahnya (per kontinuitatum)
Dikenal beberapa penyakit jamur profunda yang klinis dan manifestasinya berbeda satu
dengan yang lain. CONANT dkk. (1977) misalnya mencantumkan dalam bukunya Manual of
Clinical Mycology pelbagai penyakit yaitu :
1. Aktinomikosis
2. Nokardiosis
3. Antinomikosis misetoma
4. Blastomikosis
5. Parakoksidiodomikosis
6. Lobomikosis
7. Koksidiodomikosis
8. Histoplasmosis
9. Histoplasmosis Afrika
10. Kriptokokosis
11. Kandidosis
12. Geotrikosis

13. Aspergillosis
14. Fikomikosis
15. Sporotrikosis
16. Maduromikosis
17. Rinosproridiosis
18. Kromoblastomikosis
19. Infeksi yang disebabkan jamur Dermatiaceae (berpigmen cokelat)
Diantara 19 macam penyakit profunda yang disebutkan di atas aktinomikosis menurut
RIPPON (1974) sudah bukan penyakit jamur asli. Ia cenderung memasukkan Actinomyces
dan Nocardia atau bacteriae-like fungi ini dalam golongan bakteri, walaupun masih
mempunyai sifat-sifat jamur, yaitu branching di dalam jaringan, membentuk anyaman luas
benang jamur pada jaringan maupun media biakan, dan menyebabkan penyakit kronik.
Namun Actinomyces dan Nocardia mempunyai sifat khas bakteri, yaitu adanya asam
muramik pada dinding sel, tidak mempunyai inti sel yang karakteristik, tidak mempunyai
mitokondria, besar mikroorganisme khas untuk bakteri, dan dapat dihambat oleh obat-obat
anti-bakterial.
Mikosis profunda biasanya terlihat dalam klinik sebagai penyakit kronik dan residif.
Manifestasi klinis morfologik dapat berupa tumor, infiltrasi peradangan vegetatif, fistel,
ulkus, atau sinus, tersendiri maupun bersamaan. Mengingat banyaknya penyakit yang dapat
memenuhi kedua syarat tersebut, misalnya tuberkulosis, lepra, sifilis, frambusia, keganasan,
sarkoidosis, dan pioderma kronik, maka pemeriksaan tambahan untuk verifikasi sangat
diperlukan.
Pemeriksaan tersebut adalah sediaan langsung dengan KOH, biakan jamur, pemeriksaan
histopatologik dan pemeriksaan imunologik termasuk tes kulit, maupun serologik dan
pemeriksaan imunologik yang lain. Pemeriksaan tambahan ini diperlukan untuk memastikan
atau menyingkirkan mikosis profunda dan penyakit yang disebut sebagai diagnosis banding.
Sebagai contoh, pemeriksaan lapangan gelap, histopatologik, dan pemeriksaan tes serologik
untuk sifilis (TSS) yang spesifik maupun yang nonspesifik dapat menyingkirkan sifilis bila
hasilnya negatif. Demikian pula pemeriksaan-pemeriksaan khusus lain untuk penyakit
tertentu.
Mengenai mikosis profunda akan dikemukakan beberapa penyakit jamur subkutis yang
kadang-kadang dijumpai di Indonesia.
MISETOMA
Misetoma adalah penyakit kronik, supuratif dan granulomatosa yang disebabkan bakteri
Actynomyces dan Nocardia, yang termasuk Schizomycetes dan Eumycetes atau jamur

berfilamin. Gejala klinis biasanya terdiri atas pembengkakan abses, sinus, dan fistel multipel.
Di dalam sinus ditemukan butir-butir (granules) yang berpigmen yang kemudian dikeluarkan
melalui eksudat.
Berhubungan dengan penyebabnya, misetoma yang disebabkan Actynomyces disebut
actinomycotic mycetoma yang disebabkan bakteri disebut botrymycosis dan yang disebabkan
jamur berfilamen disebut maduromycosis.
Gejala klinis biasanya merupakan lesi kulit yang sirkumskrip dengan pembengkakan seperti
tumor jinak dan harus disertai butir-butir. Inflamasi dapat menjalar dari permukaan sampai ke
bagian dalam dan dapat menyerang subkutis, fasia, otot, dan tulang. Sering berbentuk fistel
yang mengeluarkan eksudat. Butir-butir sering bersama-sama eksudat mengalir ke luar dari
jaringan.
Diagnosis dibuat berdasarkan klinis morfologi sesuai uraian di atas. Namun bila disokong
dengan gambaran histologik dan hasil biakan, diagnosis akan lebih mantap. Lagi pula
penentuan spesies penyebab sangat penting artinya untuk terapi dan prognosis.
Pengobatan misetoma biasanya harus disertai reseksi radikal, bahkan amputasi kadang perlu
dipertimbangkan. Obat-obat, misalnya kombinasi kotrimoksazol dengan streptomisin dapat
bermanfaat, bila penyakit yang dihadapi adalah misetoma aktinomikotik, tetapi pengobatan
memerlukan waktu lama (9 bulan-1 tahun) dan bila kelainan belum meluas benar. Obat-obat
baru

antifungal,

misalnya

itrakonazol

dapat

dipertimbangkan

untuk

misetoma

maduromikotik.
Prognosis quo ad vitam umumnya baik. Pada maduromikosis prognosis quo ad sanationam
tidak begitu baik bila dibandingkan dengan aktinomikosis/botriomikosis. Diseminasi
limfogen atau hematogen dengan lesi pada alat-alat dalam merupakan kecualian.
SPOROTRIKOSIS
Sporotrikosis adalah infeksi kronis yang disebabkan Sporotrichum schenkii dan ditandai
dengan pembesaran kelenjar getah bening. Kulit dan jaringan subkutis di atas nodus sering
melunak dan pecah membentuk ulkus yang indolen.
Penyakit jamur ini mempunyai insidens yang cukup tinggi pada daerah tertentu. Diagnosis
klinis umumnya mudah dibuat berdasarkan kelainan kulit yang multipel yang umumnya khas.
Penyakit ini umumnya ditemukan pada pekerja di hutan maupun petani.
Bila tidak terjadi diseminasi melalui saluran getah bening diagnosis agak sukar dibuat. Selain
gejala klinis, yang dapat menyokong diagnosis adalah pembiakan terutama pada mencit atau
tikus, dan pemeriksaan histopatologik. Pernah dilaporkan sekali-kali selain bentuk kulit yang

khas, beberapa bentuk di paru dan alat dalam lain. Pada kasus-kasus ini rupanya terjadi
infeksi melalui inhalasi.
Pengobatan yang memuaskan biasanya dicapai dengan pemberian larutan kalium yodida
jenuh oral. Dalam hal yang rekalsitran pengobatan dengan amfoteristin B atau itrakonazol
dapat diberikan.
Buku Marwali Harahap
DEFENISI
Sporotrikosis adalah infeksi jamur kronis pada kutis atau subkutis dengan ciri khas lesi
berupa nodus yang supuratif sepanjang aliran getah bening
ETIOLOGI
Penyebab penyakit ini adalah Sprotrichum schenkii yang dapat hidup di tanah, hewan,
tumbuh-tumbuhan, dan sayuran yang telah membusuk. Spora jamur masuk ke dalam tubuh
manusia melalui luka pada kulit dan sangat jarang melalui inhalasi. Keadaan imunitas
seseorang sangat berperan dalam mendapatkan infeksi sporotrikosis. Penyakit ini dapat
mengenai organ lain seperti paru, tulang, sendi, selaput lendir, dan susunan saraf pusat.
GAMBARAN KLINIK
Secara klinik ada 3 tipe sporotrikosis :
1. Tipe limfokutan
2. Fixed cutaneus sprotrichosis
3. Sporotrikosis disemanata
Tipe limfokutan. Bentuk ini paling sering dijumpai. Bentuk klasik dimulai dengan papula
merah muda dan tidak sakit, pustula dan nodus yang kemudian mengalami ulserasi dengan
dasar nekrtis di daerah inokulasi, disebut sebagai sporotrichosis chancre. Infeksi kemudian
meluas mengikuti aliran getah bening secara asenden dan membentuk satu rantai nodus
subkutan yang keras seperti tali dalam waktu beberapa minggu.
Pada tipe ini, infeksi terbatas pada kulit, pembuluh getah bening, dan jaringan subkutan. Bila
terjadi penurunan imunitas, akan terjadi infeksi sistemik. Infeksi primer terjadi pada daerah
ekstremitaas dan letaknya unilateral. Bila inokulasi primer terjadi pada daerah wajah, akan
terbentuk nodi satelit akibat penyebaaran melalui pembuluh darah getah bening yang arahnya
berbeda-beda.
Fixed cutanesus sprotrichosis. Infeksi hanya terbatas pada daerah inokulasi dan tidak
melibatkan pembuluh getah bening. Gambaran klinis sangat bervariasi, antara lain dapat
berupa krusta tebal yang menutupi ulkus, erosi, pioderma, papula yang mengalami infiltrasi
dan plakat menyerupai sarkoid, plakat verukosa, plakat psoriaris, dan selulitis muka. Sering

dijumpai lesi satelit kecil-kecil. Daerah yang paling sering terkena infeksi ialah muka, leher,
dan badan.
Sporotrikosis desiminata. Bentuk ini jarang dijumpai dan dapat mengenai tulang, sendi,
mukosa, dan susunan saraf pusat.
PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSIS
1. Kultur : sediaan diambil dari lesi atau bahan eksudat dengan kuret atau biopsi dan
dibiakkan dalam agar Sabouraud. Cara ini bermakna untuk menegakkan diagnosis
2. Pemeriksaan histopatologik : organisme jarang ditemukan pada jaringan, sehingga
cara ini sulit digunakan untuk membuat diagnosis
3. Tes imunofluresensi langsung : dengan cara ini cepat terdiagnosis sporotrikosis,
karena tes ini sensitif dan spesifik
4. Tes sporotrikin : kegunaan tes ini hanya bernilai untuk memastikan adanya pajanan
terhadap jamur.
5. Tes darah rutin
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik yang khas dan pemeriksaan penunjang
terutama kultur jamur.
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding adalah pioderma, tuberkulosis kutis, leishmaniasis, basalioma, dan erupsi
obat.
PENGOBATAN
Larutan KJ merupakan obat pilihan. Pemberiaan peroral dalam bentuk larutan jenuh dengan
dosis awal 3 x 5 tetes sehari dan dinaikkan sampai mencapai dosis toleransi 3 x 30-40 tetes
sehari. Lama pemberiaan 4-6 minggu atau sampai lesi menghilang. Pada anak-anak diberikan
3 x 3 tetes sehari dan dinaikkan 2 tetes setiap kali selama 2 minggu.
Mengingat efek samping obat ini, itrakonazole dan flukonazole dapat merupakan pilihan obat
alternatif
KROMOMIKOSIS
Kromomikosis atau kromoblastomikosis atau dermatitis verukosa adalah penyakit jamur yang
disebabkan bermacam-macam jamur berwarna (dermatiaceous). Penyakit ini ditandai dengan
pembentukan nodus verukosa kutan yang perlahan-lahan, sehingga akhirnya membentuk
vegetasi papilomatosa yang besar. Pertumbuhan ini dapat menjadi ulkus atau tidak, biasanya
ada di kaki dan tungkai, namun lokalisasi di tempat lain pernah ditemukan, misalnya pada

tangan, muka, telinga, leher, dada, dan bokong. Penyakit ini kadang-kadang dilihat di
Indonesia. Sumber penyakit biasanya dari alam dan terjadi infeksi melalui trauma.
Pernyakit tidak ditularkan dari manusia ke manusia dan belum pernah dilaporkan terjadi pada
binatang. Diseminasi dapat terjadi melalui autoinokulasi, ada juga kemungkinan penyebaran
melalui saluran getah bening. Penyebaran melalui darah dengan terserangnya susunan saraf
sentral pernah dilaporkan. Walaupun penyakit jamur ini biasanya terbatas pada kulit, bila
lesinya luas dapat mengganggu kegiatan penderita sehari-hari.
Pengobatannya sulit. Terapi sinar X pernah dilakukan dengan hasil yang berbeda-beda.
Kadang-kadang diperlukan amputasi. Pada kasus lain reseksi lesi mikotik disusul dengan skin
graft memberi hasil yang memuaskan. Obat-obatan biasanya memberikan hasil yang kurang
memuaskan dan harus diberikan dalam waktu yang lama.
Pada akhir-akhir ini hasil pengobatan yang memuaskan dicapai dengan kombinasi
amfoterisin B dan 5-fluorositosin. Demikian pula pengobatan dengan kantong-kantong panas
di Jepang. Prognosis, seperti diuraikan pada hasil terapi di atas, tidak begitu baik, kecuali
pada lesi yang baru. Itrakonazol pada akhir-akhir ini memberikan harapan baru pada penyakit
ini, terutama bila penyebabnya adalah Cladosporium carrionii.
Buku Marwali Harahap
DEFENISI
Kromomikosis adalah infeksi jamur kronis pada kulit dan subkutan, yang berbentuk noduli
verukosa.
ETIOLOGI
Penyakit ini disebabkan oleh jamur golongan dermatiacease, yaitu jamur yang berwarna
gelap. Ada beberapa jenis, yaitu : Cladosporium carrionii, Philaphora verrucosa, Fonsecae
perdrosoi, H. compactum
GAMBARAN KLINIK
Kromomikosis pada umumnya terdapat di daerah tropis dan subtropis, terutama mengenai
orang dewasa antara 30-50 tahun, pria lebih sering daripada wanita. Sebagian bear kasus
umumnya berhubungan dengan pekerjaan, terutama di daerah pedesaan seperti petani dan
pencari kayu di hutan.
Jamur hidup sebagai saprofit di tanah dan pada tumbuh-tumbuhan yang merupakan habitat
alamnya. Spora masuk ke kulit melalui trauma, seperti tertusuk duri atau tergores. Tidak
pernah dilaporkan penularan dari manusia ke manusia atau dari hewan ke manusia
Lesi dimulai sebagai papula kecil yang gatal, lalu berkembang lambat membentuk plakat
dengan tepi yang meninggi, batas iregular atau sebagai noduli dengan permukaan kasar dan

verukosa. Perabaab keras, kering, kasar dan tidak sakit. Warnanya cokelat, merah, ungu.
Setelah beberapa bulan atau tahun, akan timbul lesi baru. Beberapa lesi mengalami fusi
membentuk noduli kasae, verukosa seperti kembang kol. Kulit diantara nodul tetap sehat.
Dalam perkembangannya akan terjadi fibrosis yang ekstensif sampai ke jaringan yang lebih
dalam, sehingga dapat berakibat penyumbatan aliran limfe dan akhirnya terjadi elefantiasis.
Selanjutnya terjadi pustula multiple, ulserasi, infeksi sekunder dan tubuh menjadi berbau.
Lesi tidak mengenai otot dan pada pemeriksaan radiologi tidak didapatkan kerusakan tulang.
Penyebaran berlangsung limfogen, dan jarang hematogen.
Ada dua bentuk, yaitu kromomikosis kutan dan sisemik, meskipun manifestasi pada organ
visera jarang. Perjalanan penyakit sangat lambat, yakni antara 4 samapi 15tahun. Keadaan
umum penderita tetap baik. Lokalisasi infeksi terutama pada bagian tubuh yang terbuka yaitu
tungkai dan kaki.
PEMERIKSAAN PEMBANTU DIAGNOSIS
Pada pemeriksaan sediaan langsung berupa kerokan kulit, pus, biopsi jaringan didapatkan
elemen jamur berupa spora berbentuk oval atau sferis, berdinding tebal, berwarna hitam,
tunggal atauAda dua bentuk, yaitu kromomikosis kutan dan sisemik, meskipun manifestasi
pada organ visera jarang. Perjalanan penyakit sangat lambat, yakni antara 4 samapi 15tahun.
Keadaan umum penderita tetap baik. Lokalisasi infeksi terutama pada bagian tubuh yang
terbuka yaitu tungkai dan kaki.
PEMERIKSAAN PEMBANTU DIAGNOSIS
Pada pemeriksaan sediaan langsung berupa kerokan kulit, pus, biopsi jaringan didapatkan
elemen jamur berupa spora berbentuk oval atau sferis, berdinding tebal, berwarna hitam,
tunggal atau berkelompok. Kadang-kadang ditemukan hifa bersepta, berdinding tebal,
berwarna hitam. Biakan dengan agar Sabouraud yang mengandung antibiotika, didapat koloni
mould, berambut seperti buludru, berwarna cokelat gelap sampai hitam.
Pada pemeriksaan histopatologik, jamur penyebab dapat ditemukan baik pada bentuk
kutaneus maupun pada bentuk subkutan, yaitu pada sel raksasa atau bebas dalam jaringan.
Spora berbentuk ovoid atau sferis, berdinding tebal, berwarna cokelat gelap, ukuran 6-12
mikron, tunggal atau berkelompok. Juga dapat ditemukan hifa bersepta, pendek atau panjang,
berdinding tebal, berwarna gelap.
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding adalah tbc kutis vrukosa, sifilis, frambusia, karsinoma epidermoid, dan
infeksi jamur granlomatosa yang lain
DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang khas, pemeriksaan kultur jamur, dan
pemeriksaan histopatologi.
PENGOBATAN
Pengobatan pada lesi awal yang masih kecil dapat dilakukan dengan tindakan pembedahan,
dengan cara eksisi atau elektrokauterisasidan kuretase. Dapat diberikan obat anti jamur,
seperti : amfoterisin dosis 40 mg dalam 5 cc larutan prokain. Pemberian obat intralesi lebih
baik dari pemberiaan sistemik. Dapat juga diberikan derivat azol, seperti itrakonazole. Di
Jepang banyak dilakukan terpai panas sampai 60 oC. Kombinasi amfoterisin B dan 5
flusosotosin , atau itrakonazole dan 5 flusosotisin, serta terapi panas dapat dicoba.
ZIGOMIKOSIS, FIKOMIKOSIS, MUKORMIKOSIS
Penyakit jamur ini terdiri atas pelbagai infeksi jamur dan disebabkan oleh bermacam-macam
jamur pula yang taksonomi dan peranannya masih didiskusikan, oleh karena itu di dalam
buku-buku baru diberikan nama umum, yaitu zigomikosis.
Zygomicotes meliputi banyak genera, yaitu Mucor, Rhizopus, Absidia, Mortierella dan
Cuning-hamella. Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur ini dapat disebut sesuai
dengan

lokalisasi

atau

alat

dalam

yang

terserang.

Contohnya

rinozigomikosis,

otozigomikosis, zigomikosis subkutan, zigomikosis fasiale, atau zigomikosis generalisata.


Golongan penyakit jamur ini dapat dinamakan juga sesuai dengan jamur penyebabnya,
misalnya mukormikosis dan sebagainya.
Oleh karena penyakit ini disebabkan jamur yang pada dasarnya oputunistik, maka pada orang
sehat jarang ditemukan. Diabetes melitus, misalnya, merupakan faktor predisposisi.
Demikian pula penyakit primer berat yang lain.
Fikomikosis subkutan adalah salah satu bentuk penyakit golongan ini yang kadang-kadang
dilihat di Bagian Kult dan Kelamin. Penyakit ini untuk pertama kali dilaporkan di Indonesia
pada tahun 1956. Setelah itu banyak kasus dilaporkan di Indonesia, Afrika, dan India.
Kelainan timbul di jaringan subkutan antara lain di dada, perut atau lengan atas sebagai nodus
subkutan yang perlahan-lahan membesar setelah sekian waktu. Nodus tersebut konsistensinya
keras dan kadang-kadang dapat terjadi infeksi sekunder. Penderita pada umumnya tidak
demam dan tidak disertai pembesaran kelenjar getah bening regional.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologik dan biakan. Jamur agak khas, hifa
lebar 6 50 , seperti pita, tidak bersepta dan coenocytic.
Sebagai terapi fikomikosis subkutan dapat diberikan laritan jenuh kalium yodida. Mulai dari
10 15 tetes 3 kali sehari dan perlahan-lahan dinaikkan samapu terlihat gejala intoksikasi,
penderita mual dan muntah. Kemudian dosis diturunkan 1-2 tetes dan dipertahankan terus

sampai tumor menghilang. Itrakonazol berhasil mengatasi fikomikosis subkutan dengan baik.
Dosis yang diberikan sebanyak 200 mg sehari selama 2-3 bulan. Prognosis bentuk klinis ini
umumnya baik.
Buku Marwali Harahap
FIKOMIKOSIS SUBKUTIS
DEFENSI
Fikomikosis subkutis adalah infeksi jamur yang memberikan gejala-gejala peradangan kronis
dengan granuloma di bawah kulit yang teraba keras, kenyal dengan batas tegas.
ETIOLOGI
Penyakit ini disebabkan oleh Basidiobolus ranarum dari ordo Eteromoftora yang, dalam
medium agar Sabouraud pada suhu kamar, membentuk koloni filamen yang banyak
mengandung zigospora dengan bentuk khas.
GAMBARAN KLINIK
Jamur ini terdapat di tanah dan di dalam alat pencernaan beberapa binatang pemakan
serangga, misalnya kadal, lipas, cicak, tokek dan lain-lain. Peranan gigitan serangga dan
trauma tidak mutlak harus ada. Biasanya infeksi pada manusia terjadi akibat implantasi
traumatik dari bahan sayuran atau dari insekta yang suah terinfeksi oleh jamur.
Gambaran kliniknya berupa granuloma subkutan, nodular, dengan peradangan kronik,
penyakit ini dapat mengenai leher, dada, lengan atas, badan, dan kaki, yang dapat meluas
dalam jangka panjang. Bila mengenai kaki, bentuknya dapat menyerupai elefantiasis. Nodus
dapat digerakkan di atas muskulus tetapi melekat erat ada kulit dan biasanya berukuran garis
tengah anatara 10-20 cm. Bila penderita sehat, penyebaran ke alat dalam jarang terjadi,
namun dilaporkan ada yang meluas sampai otot, usus halus, dan hati dalam jangka lama.
DIAGNOSIS BANDING
Fikomikosis subkutis harus dibedakan dengan limfoma maligna, lipoma, osteomielitis TBC,
elfantiasis, dan ulkus Buruli dari Uganda.
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan preparat langsungserta
biakan dengan agar Sabouraud.
PENGOBATAN
Pengobatan dengan larutan KJ jenuh diberikan samapai timbul gejala jodism. Setelah itu,
dosis KJ diturunkan dan dipertahankan samapai lesi kulit hilang. Biasanya diperlukan waktu
selama 3-4 bulan. Itrakonazole 100-200 mg sehari, bergantung pada berat badan penderita,

dapat diberikan selam 2 bulan. Lesi kulit setelah 2 minggu sudah mengecil dan pengobatan
ini cukup aman.