Anda di halaman 1dari 3

Inggrid_C111 11 161

NYERI KOLIK URETER DAN GINJAL


1. Patomekanisme
Nyeri yang terjadi akibat spasme otot polos ureter atau sistem kalises ginjal. Hal ini disebabkan
oleh karena gerakan peristaltiknya terhambat oleh batu, bekuan darah, atau oleh benda asing lain.
Nyeri ini dirasakan sangat sakit, hilang timbul sesuai dengan gerakan peristaltik otot polos.
Pertama-tama dirasakan di daerah sudut kostovertebra kemudian menjalar ke dinding depan
abdomen, ke regio inguinal, hingga ke daerah kemaluan. Tidak jarang nyeri kolik diikuti dengan
keluhan pada organ pencernaan seperti mual dan muntah.
(Purnomo, B.P. 2011. Dasar-dasar Urologi edisi ketiga. Jakarta: CV.Sagung Seto)
2. Penatalaksanaan
a. Farmakologi
Obat penghilang rasa sakit yang paling cocok untuk nyeri karena batu ginjal adalah golongan
narkotika seperti morfin, demerol, atau dilaudid. Namun standar saat ini untuk
menghilangkan nyeri akut karena batu ginjal adalah penyuntikan ketorolak melalui pembuluh
darah.
Special precaution:
- Morfin
Perhatian harus dilakukan pada pasien dengan riwayat jantung, hati atau penyakit
ginjal, tiroid, masalah abdomen, pembesaran prostat, kesulitan dalam berkemih,
penyakit Addison, hipoksia (kekurangan oksigen dalam tubuh), skoliosis
(kelengkungan tulang belakang), kejang, alkoholisme, pemikiran untuk bunuh diri,
masalah mental, cedera kepala, asma atau penyakit pernapasan lainnya, alergi apapun,
yang sedang mengkonsumsi obat lain, selama kehamilan dan menyusui.
Hal itu dapat menyebabkan pusing, mengantuk; jadi diharapkan aar tidak
mengendarai mobil atau mengoperasikan mesin. Hindari juga mengkonsumsi alcohol
saat mengkonsumsi obat ini, hal itu dapat menyebabkan sembelit; sehingga untuk
menghindari masalah ini yang dilakukan adalah melakukan diet serat dan meminum
banyak air.
Hindari penggunaan jangka panjang obat ini, karena dapat menyebabkan pasien
kecanduan terhadap obat ini. Terus memonitor keadaan fungsi hati, ginjal, dan paru-

paru serta jumlah sel darah lengkap rutin saat mengkonsumsi obat ini.
Demerol
Takikardia supraventrikuler - Meperidin harus digunakan dengan hati-hati
pada pasien dengan atrial flutter dan takikardia supraventricular karena tindakan
fagolitik kemungkinan yang dapat menibulkan peningkatan yang signifikan dalam
tingkat respons ventrikel .
Kejang - Meperidin dapat memperburuk kejang yang sudah ada sebelumnya
pada pasien dengan gangguan kejang . Jika dosis yang diberikan secara substansial di
atas tingkat yang direkomendasikan karena perkembangan toleransi, maka kejang
dapat terjadi pada individu tanpa riwayat gangguan kejang.
Kondisi perut akut - Pemberian meperidine atau narkotika lainnya dapat
mengaburkan diagnosis klinis pada pasien dengan kondisi perut akut.

Pasien Risiko Khusus - Meperidin harus diberikan dengan hati-hati dan dosis
awal harus dikurangi pada pasien tertentu seperti pasien yang lemah, dan orang-orang
dengan gangguan fungsi hati atau ginjal yang berat, hipotiroidisme, penyakit Addison
, dan hipertrofi prostat atau striktur uretra.
-

Dilaudid

Perhatian harus dilakukan pada pasien dengan riwayat penyakit hati atau
ginjal, alkoholisme, paru-paru atau penyakit tiroid, penyakit jantung,
pembesaran prostat, masalah berkemih, alergi apapun, siapapun yang
mengkonsumsi obat lain, orang tua, anak-anak, selama kehamilan dan
menyusui.
Hal itu dapat menyebabkan rasa kantuk, pusing, penglihatan kabur atau
ringan; tidak mengendarai mobil atau mengoperasikan mesin dan bangun
perlahan dari tempat tidur saat mengambil obat ini.
Hindari konsumsi alkohol, hal ini dapat menyebabkan sembelit; jika
demikian berkonsultasi dengan dokter. Hindari penggunaan jangka panjang
obat ini; karena pasien dapat kecanduan terhadap obat ini.
-

Ketorolac
Dapat membuat mengantuk atau pusing, sehingga jangan mengendarai mobil atau
mengoperasikan mesin. Tidak meminum alkohol saat mengkonsumsi obat ini.
Perhatian harus dilakukan pada pasien dengan riwayat gagal jantung, kecenderungan
untuk mengurangi volume darah atau aliran darah ginjal dapat mengakibatkan
penyakit ginjal ringan; memantau fungsi ginjal, orang dengan usia lanjut, berat di atas

50 kg, serta disfungsi hati.


b. Non-Farmakologi
Intervensi bedah:
-

Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)


Teknik ini menggunakan getaran gelombang untuk memecahkan batu dari luar sehingga
batu menjadi serpihan kecil yang pada akhirnya dapat keluar dengan sendirinya.
Percutaneus nephrolithotomy atau pembedahan terbuka
Dapat dilakukan pada batu ginjal yang besar atau yang mengalami komplikasi atau untuk

batu yang tidak berhasil dikeluarkan dengan cara ESWL.


3. Efek Samping dari Penatalaksanaan
- Morfin
Paling umum: konstipasi, pusing, sedasi, mual, muntah, gelisah, dan emosi.
Sistem Saraf Pusat: Kelemahan, sakit kepala, agitasi, tremor, gerakan otot tidak
terkoordinasi, kejang, perubahan mood, gugup, ketakutan, depresi, perasaan mengambang,
gangguan pengelihatan abnormal, dan sulit tidur.
Gastrointestinal: Mulut kering, hilang nafsu makan, diare, kram, perubahan rasa, konstipasi,
obstruksi intestinal, gangguan pencernaan, dan peningkatan enzim-enzim hati.
Jantung: Flushing, menggigil, takikardi/bradikardi, palpitasi, pusing, dan

hipertensi/hipotensi.
Genitourinari: Retensi urine, tidak adanya BAK, dan impotensi
Kulit: Gatal, ruam, berkeringat yang banyak
Lain-lain: Kesemutan, asma, dan pengelihatan ganda.
Demerol
Obat ini, bahkan dalam dosis terapi, dapat menyebabkan terhambatnya sistem pernafasan dan
terhentinya detak jantung. Demerol (Meperidin) tidak dianjurkan untuk digunakan dalam

jangka panjang dan dalam dosis besar karena hasil metabolismenya di hati, normeperidin,
dapat terakumulasi di dalam tubuh lalu menyebabkan tremor, kedutan, bahkan kejang. Efek
samping inilah yang juga menyebabkan meperidin jarang digunakan sebagai obat pilihan
-

diantara pereda rasa sakit golongan opioid lainnya.


Dilaudid
Dilaudid memiliki efek yang lebih kuat tetapi efek samping yang ditimbulkan lebih sedikit
daripada morfin. Dilaudid memiliki onset sekitar 15 menit, sering menyebabkan pasien bebas
rasa sakit dengan mengalami linglung euphoria selama 5-6 jam. Pasien dapat mengalami
muntah, mual, sembelit, pusing, atau anoreksia (kehilangan nafsu makan) walaupun reaksi
seperti itu jarang terjadi. Penggunaan dilaudid secara teratur pada jangka waktu yang lama
bisa menyebabkan kecanduan, namun manfaat dari penggunaan dilaudid jauh lebih besar

daripada resiko ketergantungan jika digunakan secara medis.


Ketorolac
Gastrointestinal: Ketorolac tromethamine dapat menyebabkan ulcerasi peptic, perdarahan
dan perlubangan lambung. Sehingga Ketorolac tromethamine dilarang untuk pasien yang
sedang atau mempunyai riwayat perdarahan lambung dan ulcerasi peptic.
Ginjal: Ketorolac tromethamine menyebabkan gangguan atau kegagalan depresi volume pada
ginjal, sehingga dilarang diberikan pada pasien dengan riwayat gagal ginjal.
Resiko perdarahan: Ketorolac tromethamine menghambat fungsi trombosit, sehingga terjadi
gangguan hemostasis yang mengakibatkan risiko perdarahan dan gangguan hemostasis.
Reaksi hipersensitivitas: Dalam pemberian Ketorolac tromethamine bias terjadi reaksi
hypersensitivitas dari hanya sekedar spasme bronkus hingga shock anafilaktik, sehigga dalam
pemberian Ketorolac tromethamine harus diberikan dosis awal yang rendah.

Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)


Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proksimal, atau batu buli-buli tanpa melalui
tindakan invasive dan tanpa pembiusan. Batu dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil
sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. Tidak jarang pecahan-pecahan batu yang
sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri kolik dan menyebabkan hematuria.