Anda di halaman 1dari 14

A.

ANATOMI DAN FISIOLOGI


ANATOMI

Organ pernafasan berguna bagi transgportasi gas-gas dimana organ-organ


pernafasan tersebut dibedakan menjadi bagian dimana udara mengalir yaitu
rongga hidung, pharynx, larynx, trakhea, dan bagian paru-paru yang berfungsi
melakukan pertukaran gas-gas antara udara dan darah.
a. Saluran nafas bagian atas, terdiri dari:
Hidung yang menghubungkan lubang-lubang sinus udara paraanalis
yang masuk kedalam rongga hidung dan juga lubang-lubang naso
lakrimal yang menyalurkan air mata kedalam bagian bawah rongga
nasalis kedalam hidung
Parynx (tekak) adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar
tenggorokan sampai persambungannya dengan esophagus pada
ketinggian tulang rawan krikid maka letaknya di belakang hidung
(naso farynx), dibelakang mulut(oro larynx), dan dibelakang farinx
(farinx laryngeal)
b. Saluran pernafasn bagian bawah terdiri dari :

Larynx (Tenggorokan) terletak di depan bagian terendah pharnyx


yang memisahkan dari kolumna vertebra, berjalan dari farine-farine
sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakhea di
bawahnya.
Trachea (Batang tenggorokan ) yang kurang lebih 9 cm panjangnya
trachea berjalan dari larynx sampai kira-kira ketinggian vertebra
torakalis ke lima dan ditempat ini bercabang menjadi dua bronchus
(bronchi).
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian
kira-kira vertebralis torakalis kelima, mempunyai struktur serupa
dengan trachea yang dilapisi oleh jenis sel yang sama. Cabang utama
bronchus kanan dan kiri tidak simetris. Bronchus kanan lebih pendek,
lebih besar dan merupakan lanjutan trachea dengan sudut lancip.
Keanehan

anatomis

ini

mempunyai

makna

klinis

yang

penting.Tabung endotracheal terletak sedemikian rupa sehingga


terbentuk saluran udara paten yang mudah masuk kedalam cabang
bronchus kanan. Kalau udara salah jalan, makap tidak dapat masuk
kedalam paru-paru akan kolaps (atelektasis).Tapi arah bronchus
kanan yang hampir vertical maka lebih mudah memasukkan kateter
untuk melakukan penghisapan yang dalam. Juga benda asing yang
terhirup lebih mudah tersangkut dalam percabangan bronchus kanan
ke arahnya vertikal. Cabang utma bronchus kanan dan kiri
bercabang-cabang lagi menjadi segmen lobus, kemudian menjadi
segmen bronchus. Percabangan ini terusmenerus sampai cabang
terkecil yang dinamakan bronchioles terminalis yang merupakan
cabang

saluran

udara

terkecil

yang

tidak

mengandung

alveolus.Bronchiolus terminal kurang lebih bergaris tengah 1 mm.


Bronchiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan, tetapi di
kelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah, semua
saluran udara dibawah bronchiolus terminalis disebut saluran
pengantar udara karena fungsi utamanya dalah sebagai pengantar

udara

ketempat

pertukaran

gas

paru-paru.Diluar

bronchiolus

terminalis terdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru-paru,


tempat pertukaran gas. Asinus terdiri bronchiolus respiratorius, yang
kadang- kadang memiliki kantung udara kecil atau alveoli yang
bersal dari dinding mereka.Duktus alveolaris yang seluruhnya
dibatasi oleh alveolus dan sakus alveolaris terminalis merupakan
struktur akhir paru-paru.
Paru merupakan organ elastik berbentuk kerucut yang terletak dalam
rongga toraks atau dada. Kedua paru-paru saling terpisah oleh
mediastinum central yang mengandung jantung dan pembuluhpembuluh darah besar.Setiap paru mempunyai apeks (bagian atas
paru) dan dasar.Pembuluh darah paru dan bronchial, bronkus, saraf
dan pembuluh limfe memasuuki tiap paru pada bagian hilus dan
membentuk akar paru.Paru kanan lebih daripada kiri,paru kanan
dibagi menjadi tiga lobus dan paru kiri dibagi menjadi dua lobus.
Lobus-lobus tersebut dibagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai
dengan segmen bronchusnya. Paru kanan dibagi menjadi 10 segmen
sedangkan paru dibagi 10 segmen.Paru kanan mempunyai 3 buah
segmen pada lobus inferior, 2 buah segmen pada lobus medialis, 5
buah pada lobus superior kiri. Paru kiri mempunyai 5 buah segmen
pada lobus inferior dan 5 buah segmen pada lobus superior.Tiap-tiap
segmen masih terbagi lagi menjadi belahanbelahan yang bernama
lobules. Didalam lobolus, bronkhiolus ini bercabang- cabang banyak
sekali, cabang ini disebut duktus alveolus.Tiap duktus alveolus
berakhir pada alveolus yang diameternya antara 0,2- 0,3mm. Letak
paru dirongga dada dibungkus oleh selaput tipis yang bernama
selaput pleura. Pleura dibagi menjadi dua :1.) pleura visceral (selaput
dada pembungkus) yaitu selaput paru yang langsung membungkus
paru.2.) pleura parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada
sebelah luar. Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang
disebut kavum pleura.Pada keadaan normal, kavum pleura ini vakum

(hampa udara)sehingga paru dapat berkembang kempis dan juga


terdapat sedikit cairan (eksudat) yang berguna untuk meminyaki
permukaannya (pleura), menghindarkan gesekan antara paru dan
dinding sewaktu ada gerakan bernafas. Tekanan dalam rongga pleura
lebih rendah dari tekanan atmosfir, sehingga mencegah kolpas paru
kalau terserang penyakit, pleura mengalami peradangan, atau udara
atau cairan masuk ke dalam rongga pleura, menyebabkan paru
tertekan atau kolaps.
FISIOLOGI
a. Pernafasan paru (pernafasan pulmoner)
Fungsi paru adalah pertukaran gas oksigen dan karbondioksida pada
pernafasan melalui paru / pernafasan eksternal, oksigen di pungut melalui
hidung dan mulut, pada waktu bernafas oksigen masuk melalui trachea dan pipa
bronchial ke alveoli, dan erat hubungan dengan darah di dalam kapiler
pulmonaris. Hanya satu lapisan membrane yaitu membrane alveoli kapiler,
memisahkan oksigen dari darah, darah menembus dan dipungut oleh
hemoglobin sel darah merah dan dibawa ke jantung. Dari sini dipompa didalam
arteri kesemua bagian tubuh. Darah meninggalkan paru pada tekanan oksigen
mmHg dan pada tingkatan Hb 95% jenuh oksigen. Didalam paru,
karbondioksida salah satu buangan metabolisme menembus membrane kapiler
dan kapiler darah ke alveoli dan setelah melalui pipa bronchial dan trachea di
lepaskan keluar melalui hidung dan mulut. Empat proses yang berhubungan
dengan pernafasan pulmoner pernafasan eksterna:
Ventilasi pulmoner, gerakan pernafasan yang menukar udara dalam alveoli
dengan udara luar.
Arus darah melaui paru, darah mengandung oksigen masuk keseluruh tubuh,
karbondioksida dari seluruh tubuh masuk paru.
Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian sehingga jumlahnya yang
bisa dicapai untuk semua bagian.
Difusi gas yang membrane alveoli dan kapiler, karbondioksida lebih mudah
berdifusi daripada oksigen.
b. Pernafasan jaringan (pernafasn interna)
Darah
yang
menjenuhkan
hemoglobinnya

dengan

oksigen

(oksihemoglobin) mengitari seluruh tubuh dan mencapai kapiler, dimana darah

bergerak sangat lambat. Sel jaringan memungut oksigen dari hemoglobin untuk
memungkinkan oksigen berlangsung dan darah menerima sebagai gantinya hasil
buangan oksidasi yaitu karbondioksida.
Perubahan perubahan berikut terjadi dalam komposisi udara dalam
alveoli, yang disebabkan pernafasan eksterna dan pernafasan interna atau
pernafasan jaringan. Udara (atmosfer) yang dihirup:
Oksigen
: 20%
Karbondioksida
: 0-0,4%
Udara yang masuk alveoli mempunyai suhu dan kelembaban atmosfer.
Udara yang dihembuskan:
Nitrogen

:79%

Oksigen

:16%

Karbondioksida

:4-0,4%

Udara yang dihembuskan jenuh dengan uap air dan mempunyai suhunyang
sama dengan badan (20 persen panas badan hilang untuk pemanasan uadra yang
dikeluarkan ).
c. Daya muat paru
Besarnya daya muat udara dalam paru 4500 ml- 5000 ml (4,5 5
liter).Udara diproses dalam paru (inspirasi dan ekspirasi) hanya 10% kurang lebih
500 ml disebut juga udar a pasang surut (tidal air) yaitu yang dihirup dan yang
dihembuskan pada pernafasn biasa. Pada seorang laki- laki normal (4-5 liter) dan
pada seorang perempuan (3-4 liter). Kapasitas (h) berkurang pada penyakit paruparu) dan pada kelemahan otot pernafasan.
d. Pengendalian pernafasan
Mekanisme pernafasan diatur dan dikendalikan oleh dua faktor utama
yaitu kimiawi dan pengendalian saraf. Adanya faktor tertentu, merangsang pusat
pernafasan yang terletak didalam medulla oblongata, kalau dirangsang
mengeluarkan impuls yang disalurkan melalui saraf spiralis ke otot pernafasan
( otot diafragma atau interkostalis).
Pengendalian oleh saraf
Pusat pernafasan adalah suatu pusat otomatik dalam medulla
oblongata mengeluarkan impuls eferen ke otot pernafasan, melalui

radik saraf sevikalis diantarkan ke diafragma oleh saraf frenikus.


Impuls ini menimbulkan kontraksi ritmik pada otot diafragma dan
interkostalis yang kecepatannya kira- kira 15 kali setiap menit.
Pengendalian secara kimia
Pengendalian dan pengaturan secara kimia meliputi : Frekuensi
kecepatan dan dalamnya gerakan pernafasan, pusat pernafasan dalam
sumsum sangat peka sehingga kadar alkali harus tetap dipertahankan,
karbondioksida adalah produksi asam metabolisme dan bahan kimia
yang asam ini merangsang pusat pernafasan untuk mengirim keluar
impuls saarf yang bekerja atas otot pernafasan.
e. Kecepatan pernafasan
Kecepatan pernafasan secara normal, ekspirasi akan menyusul inspirasi
dan kemudian istirahat, pada bayi ada kalanya terbalik, inspirasi- istirahat
ekspirasi, disebut juga pernafasan terbalik.
Kecepatan normal setiap menit berdasarkan umur :
Bayi prematur : 40 90x/menit
Neonatus : 30 80 x/menit
1 Tahun : 20- 40x/ menit
Inspirasi atau menarik nafas adalah proses aktif yang diselenggarakan oleh kerja
otot. Kontraksi diafragma meluaskan rongga dada dari atas sampai bawah, yaitu
vertical. Kenaikan iga-iga dan sternum, yang ditimbulkan oleh kontaksi otot
interkostalis, meluaskan rongga dada kedua sisi dari belakang ke depan. Paru yang
bersifat elastis mengembang untuk mengisi ruang yang membesar itu dan udara
ditarik masuk kedalam saluran udara, otot interkostalis eksterna diberi peran
sebagai otot tambahan hanya bila inspirasi menjadi gerak sadar.
Pada ekspirasi, udara dipaksa oleh pengendoran otot dan karena paru
kempes kembali, disebakan sifat elastis paru itu gerakan ini adalah proses pasif.
Ketika pernafasan sangat kuat, gerakan dada bertambah, otot leher dan bahu
membantu menarik iga-iga dan sternum ke atas. Otot sebelah belakang dan
abdomen juga dibawa bergerak.
f. Kebutuhan tubuh akan oksigen

Dalam banyak keadaan, termasuk yang telah disebut oksigen dapat diatur
menurut keperluan orang tergantung pada oksigen untuk hidupnya, kalau tidak
mendapatkannya selam kurang lebih 4 menit dapat mengakibatkan kerusakan
pada otak yang tidak dapat perbaiki dan biasanya pasien meninggal. Keadaan
genting timbul bila misalnya seorang anak menutupi kepala dan mukanya dengan
kantong plastik menjadi lemas. Tetapi hanya penyediaaan oksigen berkurang,
maka pasien menjadi kacau pikirannya, ia menderita anoxia serebralis. Hal ini
terjadi pada orang yang bekerja dalam ruangan sempit tertutup seperti dalam
ruang kapal, oksigen yang ada mereka habiskan dan kalau mereka tidak diberi
oksigen untuk bernafas atau tidak dipindahkan ke udara yang normal, maka akan
meninggal karena anoxemia. Istilah lain adalah hypoxemia atau hipoksia. Bila
oksigen didalam darah tidak mencukupi maka warna merahnya hilang dan
berubah menjadi kebiru- biruan, bibir telinga, lengan dan kaki pasien menjadi
kebiru- biruan dan keadaan itu disebut sianosis (Pearce, C. Evelyn 2002).
B. DEFINISI
Bronchopneumoni adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai pola
penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam
bronchi dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. (Smeltzer &
Suzanne C, 2002 ). Bronchopneomonia adalah penyebaran daerah infeksi yang
berbercak dengan diameter sekitar 3 sampai 4 cm mengelilingi dan juga
melibatkan bronchi. (Sylvia A. Price & Lorraine M.W, 2006).
Bronkho pneumonia adalah salah satu peradangan paru yang terjadi pada
jaringan paru atau alveoli yang biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratus
bagian atas selama beberapa hari. Yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam
etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing lainnya. (Dep. Kes. 1996 :
Halaman 106).
C. KLASIFIKASI, ETIOLOGI, DAN PATOFISIOLOGI
KLASIFIKASI
Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001) :
a. Community Acquired Pneunomia dimulai sebagai penyakit pernafasan
umum dan bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal

merupakan organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya


menimpa kalangan anak-anak atau kalangan orang tua.
b. Hospital Acquired Pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial.
Organisme seperti ini aeruginisa pseudomonas. Klibseilla atau aureus
stapilococcus, merupakan bakteri umum penyebab hospital acquired
pneumonia.
c. Lobar dan Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi
infeksi. Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme,
bukan hanya menurut lokasi anatominya saja.
d. Pneumonia viral, bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen
penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan
organisme perusak.
ETIOLOGI
a. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram
posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus
pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella
pneumonia dan P. Aeruginosa.
b. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama
pneumonia virus.
c. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui
penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada
kotoran burung, tanah serta kompos.
d. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis

carinii

pneumonia

(CPC).

Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves,


2001)
FAKTOR PREDISPOSISI
Usia
Genetik
FAKTOR PRESIPITASI
Gizi buruk/kurang
Berat badan lahir rendah (BBLR)

Tidak mendapatkan ASI yang memadai


Imunisasi yang tidak lengkap
Polusi udara
Kepadatan tempat tinggal

D. TANDA DAN GEJALA


Terdengar adanya krekels di atas paru yang sakit dan terdengar ketika terjadi
konsolidasi (pengisian rongga udara oleh eksudat) (Sandra M. Nettina, 2001).
Tanda gejala yang muncul pada bronkopneumonia adalah:
a. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
Nyeri pleuritik
Nafas dangkal dan mendengkur
Takipnea
b. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
Mengecil, kemudian menjadi hilang
Krekels, ronki,
c. Gerakan dada tidak simetris
d. Menggigil dan demam 38,8 C sampai 41,1C, delirium
e. Diafoesis
f. Anoreksia
g. Malaise
h. Batuk kental, produktif Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi
kemerahan atau berkarat
i. Gelisah
j. Sianosis Area sirkumoral, dasar kuku kebiruan
k. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati (Martin
tucker, Susan. 2000).

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan
abses luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau
terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul
(virus). Pneumonia mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.
b. GDA : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

terlibat dan penyakit paru yang ada.


Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi
jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan
paru untuk mengatasi organisme penyebab.
JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi
pada infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya
pneumonia bakterial.
Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
LED : meningkat
Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan
kolaps alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain
menurun, hipoksemia.
Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah
Bilirubin : mungkin meningkat
Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear
tipikal dan keterlibatan sitoplasmik(CMV) (Doenges, 2000)

F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Keperawatan yang

dapat

diberikan

pada

klien

bronkopneumonia adalah:
a. Menjaga kelancaran pernapasan
b. Kebutuhan istirahat
c. Kebutuhan nutrisi dan cairan
d. Mengontrol suhu tubuh
e. Mencegah komplikasi atau gangguan rasa nyaman dan nyaman
Sementara Penatalaksanaan medis yang dapat diberikan adalah:
a. Oksigen 2 liter/menit (sesuai kebutuhan klien)
b. Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai makan eksternal bertahap melalui
selang nasogastrik dengan feeding drip
c. Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal
dan beta agonis untuk transpor muskusilier
d. Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit (Mansjoer A,
2000).
G. MASALAH KEPERAWATAN YANG PERLU DIKAJI
a. Fokus Pengkajian

Usia bronkopneumoni sering terjadi pada anak. Kasus terbanyak sering


terjadi pada anak berusia dibawah 3 tahun dan kematian terbanyak terjadi pada
bayi berusia kurang dari 2 bulan, tetapi pada usia dewasa juga masih sering
mengalami bronkopneumonia.
b. Keluhan Utama : sesak nafas
c. Riwayat Penyakit
Pneumonia Virus : didahului oleh gejala-gejala infeksi saluran nafas,
termasuk renitis (alergi) dan batuk, serta suhu badan lebih rendah
daripada pneumonia bakteri.
Pneumonia Stafilokokus (bakteri) : didahului oleh infeksi saluran
pernapasan akut atau bawah dalam beberapa hari hingga seminggu,
kondisi suhu tubuh tinggi, batuk mengalami kesulitan pernapasan.
d. Riwayat Kesehatan Dahulu
Sering menderita penyakit saluran pernapasan bagian atas riwayat
penyakit fertusis yaitu penyakit peradangan pernapasan dengan gejala
bertahap

panjang

dan

lama

yang

disertai

wheezing

(pada

Bronchopneumonia).
e. Pengkajian Fisik
Inspeksi : Perlu diperhatikan adanya takhipnea, dispnea, sianosis
sirkumoral, pernafasan cuping hidung, distensi abdomen, batuk semula
non produktif menjadi produktif, serta nyeri dada pada waktu menarik
nafas pada pneumonia berat, tarikan dinding dada akan tampak jelas.
Palpasi : Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membesar,
fremitus raba mungkin meningkat pada sisi yang sakit dan nadi
mengalami peningkatan.
Perkusi : Suara redup pada sisi yang sakit.
Auskultasi : Pada pneumoniakan terdengar stidor suara nafas berjurang,
ronkhi halus pada sisi yang sakit dan ronkhi pada sisi yang resolusi,
pernafasan bronchial, bronkhofoni, kadang-kadang terdenar bising gesek
pleura.
f. Data Fokus
Pernapasan
Gejala : takipneu, dispneu, progresif, pernapasan dangkal, penggunaan
obat aksesoris, pelebaran nasal.
Tanda : bunyi napas ronkhi, halus dan melemah, wajah pucat atau
sianosis bibir atau kulit

Aktivitas atau istirahat


Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : penurunan toleransi aktivitas, letargi
Integritas ego : banyaknya stressor
Makanan atau cairan
Gejala ; kehilangan napsu makan, mual, muntah
Tanda: distensi abdomen, hiperperistaltik usus, kulit kering dengan tugor
kulit buruk, penampilan kakeksia (malnutrisi)
Nyeri atau kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (pleritis), meningkat oleh batuk, nyeri
dada subternal (influenza), maligna, atralgia.
Tanda : melindungi area yang sakit (pasien umumnya tidur pada posisi
yang sakit untuk membatasi gerakan)(Doengos,2000).

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Masalah keperawatan yang lazim muncul, yaitu (Nurarif,2013):
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan produksi sputum
2. Ketidakefektifan pola napas b.d hiperventilasi
3. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membrane alveolus kapiler
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
yang berhubungan dengan toksin bakteri bau dan rasa sputum
5. Resiko ketidakseimbangan elektrolit b.d. kehilangan cairan berlebih
6. Intoleransi aktivitas b.d insufisiensi O2 untuk aktivitas sehari-hari
I. PRIORITAS TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan produksi sputum
2. Ketidakefektifan pola napas b.d hiperventilasi
3. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membrane alveolus kapiler
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
yang berhubungan dengan toksin bakteri bau dan rasa sputum

K. DAFTAR PUSTAKA
Ackley BJ, Ladwig GB. 2011. Nursing Diagnosis Handbook an EvidenceBased Guide to Planning Care. United Stated of America : Elsevier.
Bulechek GM, Butcher HK, Dochterman JM. 2009. Nursing Interventions
Classification (NIC) Fifth Edition. United States of America: Mosby Elsevier
Departemen Kesehatan RI.1996. Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat,
Jakarta :Depkes
Doenges, Marilynn.(2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakata :
EGC.
Mansjoer, Arif.2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke 3 Jilid ke 2. Jakarta:
Media Aesculapius.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Martin tucker, Susan. 2000. Standar Perawatan Pasien: Proses Keperawatan,
Diagnosis, Dan Evaluasi halaman 247.Jakarta: EGC
Moorhead S, Johnson M, Maas ML, Swanson E. 2009. Nursing Outcome
Classification (NOC) Fourth Edition. United States of America: Mosby
Elsevier.
Nurarif AH, Kusuma H. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan
Diagnosa Medis, NANDA, dan NIC-NOC. Yogyakarta : Media Action.
Pearce, C. Evelyn. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama
Reevers, Charlene J, et all .2001. Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta :
Salemba Medica.
Sandra M Nettina.2001. Lippincott Manual Praktik Keperawatan. Jakarta:
EGC
Smetlzer SC, Bare BG. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner dan Suddart . Jakarta: EGC

Sylvia A. Price & Lorraine M.W. 2006.Patofisiologi konsep klinis dan prosesproses penyakit. Jakarta: ECG
Wiley, Blackwell. 2009. Nursing Dianoses Definition and Classification 20092011. United States of America: Mosby Elsevier.