Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN ANALISIS MASALAH LEGAL DAN ETIK PADA

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

Di susun oleh :
NAMA

NIM

:30.01.12.00

PEMBIMBING

: Ns. Venny Mayumi Gultom, S.Kep

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN PERDHAKI CHARITAS


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2015

KATA PENGANTAR
Segala puji serta rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas berkah
dan rahmat-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan ini
yang berjudul Laporan Analisis Masalah Legal dan Etik pada Keperawatan
Gawat Darurat . Dengan harapan laporan ini dapat membantu mahasiswa/i dalam
menganalisis dan mempelajari masalah legal dan etik yang terjadi di lapagan
dalam keperawatan gawat darurat
Laporan ini merupakan salah satu tugas yang di berikan kepada kami
dalam rangka pengembangan dasar ilmu keperawatan gawat darurat. Selain itu
tujuan dari penyusunan laporan ini juga untuk menambah wawasan tentang
analisis dan pemecahan masalah legal dan etik secara meluas.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini belum sempurna dan
masih perlu perbaikan serta penyempurnaan, baik dari segi materi maupun
pembahasan. Oleh sebab itu, penulis akan menerima kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi penyempurnaan laporan ini dimasa mendatang. Demikianlah,
semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat ikut memberikan
sumbangan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Palembang, Juni 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.........................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................

ii

DAFTAR ISI.....................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Pengertian konsep legal dan etik.........................................
1.2 Isi dan prinsip legal dan etik ..............................................
1.3 Masalah legal dalam keperawtan .......................................
1.4 Landasan aspek legal keperawtan gawat darurat................
1.5 Alikasi aspek legal dalam keperawatan gawat darurat........
1.6 Kerangka pemecahan masalah dilema etik.........................
BAB II PEMBAHSAN
2.1 Kasus...................................................................................
2.2 Identifikasi Masalah............................................................
2.3 Pemecahan masalah berdasarkan kerangka pemecahan
masalah menurut ( model Murphy atau Koizer) ......................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.........................................................................
3.2 Saran....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Konsep Legal Dan Etik


Etika keperawatan (nursing ethic) merupakan bentuk ekspresi bagaimana
perawat seharusnya mengatur diri sendiri, dan etika keperawatan diatur dalam
kode etik keperawatan.
Aspek Legal Etik Keperawatan adalah Aspek aturan Keperawatan dalam
memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung
jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk hak dan kewajibannya yang
diatur dalam undang-undang keperawatan.
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat baik
sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Perawat
sebagai profesi dan bagian integral dari pelayanan kesehatan tidak saja
membutuhkan kesabaran. Kemampuannya untuk ikut mengatasi masalah-masalah
kesehatan tentu harus juga bisa diandalkan.
International Council of Nurses (ICN) mengeluarkan kerangka kerja
kompetensi bagi perawat yang mencakup tiga bidang, yaitu bidang Professional,
Ethical and Legal Practice, bidang Care Provision and Management dan bidang
Professional Development Setiap profesi pada dasarnya memiliki tiga syarat
utama, yaitu kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan yang ekstensif,
komponen intelektual yang bermakna dalam melakukan tugasnya, dan
memberikan pelayanan yang penting kepada masyarakat. (Budi Sampurna, Pakar
Hukum Kesehatan UI 2006)
Praktik keperawatan yang aman memerlukan pemahaman tentang batasan
legal yang ada dalam praktik perawat. Sama dengan semua aspek keperawatan,
pemahaman tentang implikasi hukum dapat mendukung pemikiran kristis
perawat. Perawat perlu memahami hukum untuk melindungi hak kliennya dan
dirinya sendiri dari masalah. Perawat tidak perlu takut hukum, tetapi lebih melihat

hukum sebagai dasar pemahaman terhadap apa yang masyarakat harapkan dari
penyelenggara pelayanan keperawatan yang profesional.

1.2 Isi Dari Prinsip Prinsip Legal Dan Etis


Praktik keperawatan yang aman memerlukan pemahaman tentang batasan
legal yang ada dalampraktik perawat. Sama dengan semua aspek keperawatan,
pemahaman tentang implikasi hukumdapat mendukung pemikiran kristis perawat.
Perawat perlu memahami hukum untuk melindungihak kliennya dan dirinya
sendiri dari masalah. Perawat tidak perlu takut hukum, tetapi lebih melihathukum
sebagai dasar pemahaman terhadap apa yang masyarakat harapkan dari
penyelenggara pelayanan keperawatan yang profesional.
Isi dari prinsip prinsip legal dan etis adalah :
a. Autonomi (Otonomi)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu
berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap
kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki
berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip
otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai
persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan
hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek
profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam
membuat keputusan tentang perawatan dirinya.

b. Beneficience (Berbuat Baik)


Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan,
memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan
atau

kejahatan

dan

peningkatan

kebaikan

oleh

diri

dan

orang

lain.

Terkadang,dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini


dengan otonomi.

c. Justice (Keadilan)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk tercapai yang sama dan adil terhadap
orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai
inidirefleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk
terapiyang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk
memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.

d. Nonmal eficience ( Tidak Merugikan )


Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis
pada klien.

e. Veracity ( Kejujuran )
Prinsip ini berarti penuh dengan kebenaran. Nilai diperlukan oleh pemberi
pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk
meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip ini berhubungan dengan
kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran.

f. Fidellity (Metepati Janji)


Prinsip ini dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya
terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta
menyimpan rahasia pasien.

g. Confidentiality ( Kerahasiaan )
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus
dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan
kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien.

h. Accountability ( Akuntabilitas )
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang
professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.

i. Informed Consent
Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu informed yang berarti
telah mendapat penjelasan atau keterangan (informasi), dan consent yang berarti
persetujuan atau memberi izin. Jadi informed consent mengandung pengertian
suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi. Dengan demikian
informed consent dapat didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh
pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang
akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.

1.3 Masalah Legal Dalam Keperawatan


Hukum dikeluarkan oleh badan pemerintah dan harus dipatuhi oleh warga
negara. Setiap orang yang tidak mematuhi hukun akan terikat secara hukum untuk
menanggung denda atau hukuman penjara. Beberapa situasi yang perlu dihindari
seorang perawat :
a. Kelalaian
Seorang perawat bersalah karena kelalaian jika mencederai pasien dengan
cara tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan ataupun tidak
melakukan tugas dengan hati-hati sehingga mengakibatkan pasien jatuh dan
cedera.

b. Pencurian
Mengambil sesuatu yang bukan milik anda membuat anda bersalah karena
mencuri. Jika anda tertangkap, anda akan dihukum. Mengambil barang
yang tidak berharga sekalipun dapat dianggap sebagai pencurian.

c. Fitnah
Jika anda membuat pernyataan palsu tentang seseorang dan merugikan
orang tersebut, anda bersalah karena melakukan fitnah. Hal ini benar jika anda
menyatakan secara verbal atau tertulis.

d. False imprisonment
Menahan tindakan seseorang tanpa otorisasi yang tepat merupakan
pelanggaran hukum atau false imprisonment. Menggunakan restrein fisik atau
bahkan mengancam akan melakukannya agar pasien mau bekerja sama bisa juga
termasuk dalam false imprisonment. Penyokong dan restrein harus digunakan
sesuai dengan perintah dokter

e. Penyerangan dan pemukulan


Penyerangan artinya dengan sengaja berusahan untuk menyentuh tubuh
orang lain atau bahkan mengancam untuk melakukannya. Pemukulan berarti
secara nyata menyentuh orang lain tanpa ijin.Perawatan yang kita berikan selalu
atas ijin pasien atau informed consent. Ini berarti pasien harus mengetahui dan
menyetujui apa yang kita rencanakan dan kita lakukan.

f. Pelanggaran privasi
Pasien mempunyai hak atas kerahasiaan dirinya dan urusan pribadinya.
Pelanggaran terhadap kerahasiaan adalah pelanggaran privasi dan itu adalah
tindakan yang melawan hukum.

g. Penganiayaan
Menganiaya pasien melanggar prinsip-prinsip etik dan membuat anda
terikat secara hukum untuk menanggung tuntutan hukum. Standar etik meminta
perawat untuk tidak melakukan sesuatu yang membahayakan pasien. Setiap orang
dapat dianiaya, tetapi hanya orang tua dan anak-anaklah yang paling rentan.
Biasanya, pemberi layanan atau keluargalah yang bertanggung jawab terhadap
penganiayaan ini. Mungkin sulit dimengerti mengapa seseorang menganiaya
ornag lain yang lemah atau rapuh, tetapi hal ini terjadi. Beberapa orang merasa
puas bisa mengendalikan orang lain. Tetapi hampir semua penganiayaan berawal
dari perasaan frustasi dan kelelahan dan sebagai seorang perawat perlu menjaga
keamanan dan keselamatan pasiennya.

1.4 Landasan Aspek Legal Keperawatan


Landasan aspek legal keperawatan adalah undang-undang keperawatan.
Aspek legal Keperawatan pada kewenangan formalnya adalah izin yang
memberikan kewenangan kepada penerimanya untuk melakukan praktik profesi
perawat yaitu Surat Ijin Kerja (SIK) bila bekerja di dalam suatu institusi dan Surat
Ijin Praktik Perawat (SIPP) bila bekerja secara perorangan atau berkelompok.
Kewenangan itu, hanya diberikan kepada mereka yang memiliki
kemampuan. Namun, memiliki kemampuan tidak berarti memiliki kewenangan.
Seperti juga kemampuan yang didapat secara berjenjang, kewenangan yang
diberikan juga berjenjang.
Kompetensi dalam keperawatan berarti kemampuan khusus perawat dalam
bidang tertentu yang memiliki tingkat minimal yang harus dilampaui. Dalam
profesi kesehatan hanya kewenangan yang bersifat umum saja yang diatur oleh
Departemen Kesehatan sebagai penguasa segala keprofesian di bidang kesehatan
dan kedokteran. Sementara itu, kewenangan yang bersifat khusus dalam arti
tindakan kedokteran atau kesehatan tertentu diserahkan kepada profesi masingmasing.

1.5 Aplikasi Aspek Legal Dalam Keperawatan Gawat Darurat


Dalam pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun diluar rumah
sakit tidak tertutup kemungkinan timbul konflik. Konflik tersebut dapat terjadi
antara tenaga kesehatan dengan pasien dan antara sesama tenaga kesehatan (baik
satu profesi maupun antar profesi). Hal yang lebih khusus adalah dalam
penanganan gawat darurat fase pra-rumah sakit terlibat pula unsur-unsur
masyarakat non-tenaga kesehatan. Untuk mencegah dan mengatasi konflik
biasanya digunakan etika dan norma hukum yang mempunyai tolok ukur masingmasing. Oleh karena itu dalam praktik harus diterapkan dalam dimensi yang
berbeda. Artinya pada saat kita berbicara masalah hukum, tolok ukur norma
hukumlah yang diberlakukan.

Penderita gawat darurat adalah penderita yang oleh karena suatu penyebab
(penyakit, trauma, kecelakaan, tindakan anestesi) yang bila tidak segera ditolong
akan mengalami cacat, kehilangan organ tubuh atau meninggal. (Sudjito, 2003).
Kondisi emergency yang sebenarnya (frue emergency) yaitu setiap kondisi
yang secara klinik memerlukan penanganan medik segera. Kondisi seperti ini baru
dapat ditentukan setelah pasien diperiksa oleh petugas kesehatan yang berwenang.
Penderita gawat darurat ialah penderita yang tiba-tiba berada dalam anggota gerak
badannya akan menjadi cacat, bila tidak mendapat pertolongan secepatnya.
Diagnosa yang tepat dan pertolongan yang benar akan dapat mencegah kematian
atau kecatatan (to save life and limb)
1. UU No 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
Pasal 1
Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Kuasa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi Negara,
Hukum Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat
dan martabat manusia
Pasal 9

Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan


meningkatkan taraf hidupnya
Setiap orang berhak hidup tentram, aman, damai bukan lahir dan batin
Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat
o Landasan Hukum Perawat
o Dalam Pelayanan Emergency

2. UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan


Pasal 1
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun
sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis.

Sumber daya di bidang kesehatan adalah segala bentuk dana, tenaga, perbekalan
kesehatan, sediaan farmasi dan alat kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan
dan teknologi yang dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang
dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
Pasal 1
Alat kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin dan/atau implan yang
tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis,
menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit, memulihkan
kesehatan pada manusia, dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi
tubuh.
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan
untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif,
kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah,
dan/atau masyarakat.
Pasal 1
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan
yang dilakukan secara terpadu, terintregasi dan berkesinambungan untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk
pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan
pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.Pelayanan kesehatan
promotif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan
kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan.

Pasal 1
Pelayanan kesehatan preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap
suatu masalah kesehatan/penyakit.
Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan
pengobatan yang

ditujukan untuk penyembuhan penyakit,

pengurangan

penderitaan akibat penyakit, pengendalian penyakit, atau pengendalian kecacatan


agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin.
Pelayanan kesehatan rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau serangkaian
kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga
dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan
masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya.
Asas dan Tujuan
Pasal 2
Pembangunan

kesehatan

diselenggarakan

dengan

berasaskan

perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan terhadap


hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma
agama.
Pasal 3
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat
kesehatan

masyarakat

yang

setinggi-tingginya,

sebagai

investasi

bagi

pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.
Hak dan Kewajiban
Pasal 4
Setiap orang berhak atas kesehatan.
Pasal 5

Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas
sumber daya di bidang kesehatan.

Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan

yang aman, bermutu, dan terjangkau.


Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan
sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.

Pasal 6
Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian
derajat kesehatan.
Pasal 7
Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang
kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab.
Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya
termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari
tenaga kesehatan.
Kewajiban
Pasal 9
Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan, mempertahankan, dan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelaksanaannya meliputi upaya
kesehatan perseorangan, upaya kesehatan masyarakat, dan pembangunan
berwawasan kesehatan.
Pasal 10
Setiap orang berkewajiban menghormati hak orang lain dalam upaya
memperoleh lingkungan yang sehat, baik fisik, biologi, maupun sosial.

Pasal 11
Setiap orang berkewajiban berperilaku hidup sehat untuk mewujudkan,
mempertahankan, dan memajukan kesehatan yang setinggi-tingginya.
Pasal 12
Setiap orang berkewajiban menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan
bagi orang lain yang menjadi tanggung jawabnya.
Pasal 13
Setiap orang berkewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan
sosial. Program jaminan kesehatan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Tanggung Jawab Pemerintah
Pasal 14

Pemerintah

bertanggung

jawab

merencanakan,

mengatur,

menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya

kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat.


Tanggung jawab Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikhususkan pada pelayanan publik.

Pasal 15
Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan lingkungan, tatanan,
fasilitas kesehatan baik fisik maupun sosial bagi masyarakat untuk mencapai
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Pasal 16
Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya di bidang
kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya

Pasal 17
Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan akses terhadap informasi,
edukasi, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara
derajat kesehatan yang setinggitingginya.
Pasal 18
Pemerintah bertanggung jawab memberdayakan dan mendorong peran
aktif masyarakat dalam segala bentuk upaya kesehatan.
Pasal 19
Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan segala bentuk upaya
kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan terjangkau.
Pasal 20
Pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan
masyarakat melalui sistim jaminan sosial nasional bagi upaya kesehatan
perorangan.
Pelaksanaan sistim jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan per undang-undangan.
Sumber Daya Di Bidang Kesehatan
(Tenaga Kesehatan)
Pasal 22
Tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum. Ketentuan
mengenai kualifikasi minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan Peraturan Menteri.
Pasal 23

Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan


kesehatan.

Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang

dimiliki.
Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan wajib

memiliki izin dari pemerintah.


Selama memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) dilarang mengutamakan kepentingan yang bernilai materi.


Ketentuan mengenai perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur
dalam Peraturan Menteri.

Pasal 24

Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi


ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan,

standar pelayanan, dan standar prosedur operasional.


Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) diatur oleh organisasi profesi.


Ketentuan mengenai hak pengguna pelayanan kesehatan, standar
pelayanan, dan standar prosedur operasional sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 25

Pengadaan dan peningkatan mutu tenaga kesehatan diselenggarakan oleh


Pemerintah,pemerintah daerah, dan/atau masyarakat melalui pendidikan

dan/atau pelatihan.
Penyelenggaraan pendidikan dan/atau pelatihan sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) menjadi tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah.
Ketentuan mengenai penyelengaraan pendidikan dan/atau pelatihan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 32

Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan, baik pemerintah


maupun

swasta,

wajib

memberikan

pelayanan

kesehatan

bagi

penyelamatan nyawa pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu.


Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan, baik pemerintah
maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka.

Pasal 58

Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga


kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian
akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang

diterimanya.
Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku
bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau
pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.

Pasal 63

Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan diselenggarakan untuk


mengembalikan status kesehatan, mengembalikan fungsi tubuh akibat

penyakit dan/atau akibat cacat, atau menghilangkan cacat.


Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dilakukan dengan

pengendalian, pengobatan, dan/atau perawatan.


Pengendalian, pengobatan, dan/atau perawatan

dapat

dilakukan

berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang

dapat dipertanggungjawabkan kemanfaatan dan keamanannya.


Pelaksanaan pengobatan dan/atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran
atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu.

Pasal 27

Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan pelindungan hukum

dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.


Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya

berkewajiban

mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang

dimiliki.
Ketentuan mengenai hak dan kewajiban tenaga kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Upaya kesehatan
Pasal 46
Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi
masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh
dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat.
Pasal 47
Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan
pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara
terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan.
Ketentuan pidana
Pasal 190
Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang
melakukan praktik atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang dengan
sengaja tidak memberikan pertolongan pertama terhadap pasien yang dalam
keadaan gawat darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 dipidana dengan
pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak
Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
terjadinya kecacatan dan/atau kematian, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan
dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).

Pasal 201

Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 190 ayat (1),
Pasal 191, Pasal 192, Pasal 196, Pasal 197, Pasal 198, Pasal 199, dan Pasal
200 dilakukan oleh korporasi, selain pidana penjara dan denda terhadap
pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa
pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 190 ayat (1), Pasal 191, Pasal 192,

Pasal 196 , Pasal 197, Pasal 198,Pasal 199, dan Pasal 200.
Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), korporasi dapat
dijatuhi pidana tambahan berupa:
o pencabutan izin usaha; dan/atau
o pencabutan status badan hukum.

1.6 Kerangka Konsep Pemecahan Masalah Dilema Etik


Kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan
pada dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan/pemecahan masalah
secara ilmiah, antara lain :
a. Model Pemecahan Masalah (Megan,1989)
Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik
antara lain :
1)
2)
3)
4)
5)

Mengkaji situasi
Mendiagnosa masalah etik moral
Membuat tujuan dan rencana pemecahan
Melaksanakan rencana
Mengevaluasi hasil

b. Kerangka Pemecahan Dilema Etik (Kozier & Erb, 1989)


1) Mengembangkan data dasar. Untuk melakukan ini

perawat

memerlukan pengumpulan informasi sebanyak mungkin meliputi :


2) Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan keterlibatannya
3) Apa tindakan yang diusulkan
4) Apa maksud dari tindakan yang diusulkan

5) Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan


yang diusulkan.
6) Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut
7) Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang
direncanakan dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi
tindakan tersebut
8) Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut.
9) Mengidentifikasi kewajiban perawat
10) Membuat keputusan
c. Model Murphy dan murphy
1) Mengidentifikasi masalah kesehatan
2) Mengidentifikasi masalah etik
3) Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
4) Mengidentifikasi peran perawat
5) Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin
dilaksanakan
6) Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif
keputusan
7) Memberi keputusan
8) Mempertimbangkan bagaimana keputusan tersebut hingga sesuai
dengan falsafah umum untuk perawatan klien
9) Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan
menggunakan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan
berikutnya.
d. Model Curtin
1) Mengumpulkan berbagai latar belakang informasi yang menyebabkan
2)
3)
4)
5)
6)
7)

masalah
Identifikasi bagian-bagian etik dari masalah pengambilan keputusan
Identifikasi orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan
Identifikasi semua kemungkinan pilihan dan hasil dari npilihan itu
Aplikasi teori, prinsip dan peran etik yang relevan
Memecahkan dilema
Melaksanakan keputusan

e. Model Levine Ariff dan Gron


1) Mendefinisikan dilema
2) Identifikasi faktor-faktor pemberi pelayanan
3) Identifikasi faktor-faktor bukan pemberi pelayanan
4) Pasien dan keluarga
5) Faktor-faktor eksternal
6) Pikirkan faktor-faktor tersebut satu persatu

7) Identifikasi item-item kebutuhan sesuai klasifikasi


8) Identifikasi pengambil keputusan
9) Kaji ulang pokok-pokok dari prinsip-prinsip etik
10) Tentukan alternatif-alternatif
11) Menindaklanjuti
f. Menurut Purtillo dan Cassel (1981)
Purtillo dan Cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan
etik antara lain :
1)
2)
3)
4)

Mengumpulkan data yang relevan


Mengidentifikasi dilema
Memutuskan apa yang harus dilakukan
Melengkapi tindakan

g. Menurut Thompson & Thompson (1981)


Langkah-langkah model keputusan biotis Menurut Thompson &
Thompson (1981) di antaranya sebagai berikut:
1) Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan
2)
3)
4)
5)
6)
7)

yang diperlukan, komponen etis dan petunjuk individual


Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
Mengidentifikasi issue etik
Menentukan posisi moral
Menentukan posisi moral pribadi dan profesional
Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait
Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kasus
Tn Rudi adalah seorang perawat, pada waktu dinas dia bekerja dibawah
pengaruh alkohol, sehingga terjadi kesalahan dalam pemberian obat. Laporan dari
perawat lain yang bekerja pada shif yang sama, bahwa dari mulut Tn Rudi tercium
alkohol dari nafasnya.
Setelah ada laporan, perawat manajer (kepala ruangan) melakukan
pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan ditemukan minuman beralkohol dalam loker
Tn Rudi. Tindakan perawat manajer adalah menegur langsung kepada Tn Rudi
agar tidak mengkonsumsi alkohol selama dinas, dan membebas tugaskan Tn Rudi
selama 2 minggu dengan tidak dibayar. Selain itu perawat manajer juga membuat
jadwal rotasi ulang. Perawat manajer juga merencanakan adanya pertemuan
kelompok untuk membahas kasus Tn Rudi tersebut.
Reaksi Tn Rudi setelah ketemu dengan perawat manajer adalah berjanji
tidak akan minum alkohol lagi selama bertugas. Dia bereaksi defensif dan
mengatakan jika perawat manajer over akting. Selama pertemuan Tn Rudi tampak
sedih, dan minta untuk dapat bekerja lagi, karena ia mempunyai 4 orang anak.
Petunjuk untuk menyelesaikan tugas:
1. Saudara adalah teman dari Tn Rudi tersebut, melihat kasus yang dilakukan
Tn Rudi tersebut, bagaimana pendapat saudara?
2. Jika saudara diminta bantuan oleh perawat manajer untuk menyelesaikan
kasus Tn Rudi, bagaimana cara penyelesaiaan masalah kasus diatas!
3. Pertimbangkan nilai-nilai etik, prinsip-prinsip etik dan kode etik yang
saudara gunakan dalam menyelesaikan masalah tersebut.
4. Dalam penyelesaian masalah tersebut, kemukakan teori etik yang saudara
gunakan

2.2 Identifikasi masalah


Kasus Tn Rudi termasuk permasalahan etik yaitu dilema etik. Menurut
pendapat saya perbuatan Tn Rudi sebagai seorang perawat tidak manusiawi dan
tidak selayaknya dia minum minuman yang beralkohol sewaktu dinas di tempat
kerjanya. Karena segala sesuatu yang dilakukan seseorang yang berada di bawah
pengaruh minuman beralkohol bisa terjadi di luar kontrol kesadaran. Seperti
halnya Tn Rudi, dia tidak sadar saat memberikan obat yang salah kepada pasien,
yang bisa berakibat fatal pada keadaan pasien.
Jika saya diminta bantuan untuk menyelesaikan kasus Tn Rudi, saya akan
mencari tahu apa penyebab Tn Rudi minum minuman beralkohol. Serta
menasehati dan memberi tahu Tn Rudi bahwa apa yang dia lakukan itu salah dan
menyimpang dari etik keperawatan, karena saya sebagai teman sejawatnya
seharusnya mengingatkan jika ada teman yang melakukan pelanggaran atau
dilema etik.

2.3 Pemecahan Masalah Berdasarkan Kerangka Pemecahan Masalah


Menurut Murphy Dan Kozier
Penerapan penyelesaian dilema etik pada kasus Tn Rudi saya memakai
Kerangka Penyelesaian/Pemecahan Masalah Etik/Dilema Etik menurut Kozier &
Erb tahun 1989:
1. Mengembangkan data dasar.
a. Orang yang terlibat: Tn Rudi, perawat, pasien, perawat manager,
keluarga
b. Tindakan yang diusulkan: pemberian sanksi atas Tn Rudi karena telah
melanggar kode etik dan tidak membolehkan Tn Rudi minum minuman
beralkohol saat dinas.
c. Maksud dari tindakan tersebut: untuk mencegah kelalaian perawat akan
tugasnya saat sedang dinas atau berhubungan dengan pasien.

d. Konsekuensi yang munkin timbul dari tindakan yang diusulkan:


1) Bila tidak dibantu dalam menyelesaikan masalahnya: Tn Rudi akan
kesulitan untuk mengatasi masalahnya tersebut dan bisa stress
karena diberi sanksi oleh Perawat Manager.
2) Bila dibantu dalam menyelesaikan masalahnya: permasalahan Tn
rudi akan ringan dan saya sebagai teman sejawatnya sudah
memenuhi kode etik perawat dengan teman sejawat.
2. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut.
a. Konflik yang terjadi pada Perawat:
1) Merasa prihatin terhadap Tn Rudi karena telah melanggar prinsipprinsip keperawatan seperti, Non-maleficence (tidak merugikan),
beneficence (kemurahan hati).
2) Konflik yang mungkin timbul dengan apa yang dilakukan Tn Rudi
saat salah dalam pemberian obat kepada pasien karena bisa berakibat
fatal pada keadaan pasien.
b. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang
direncanakan dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi
tindakan tersebut.
c. Mengikuti sanksi yang diberikan Perawat Manager:
1) Mematuhi peraturan yang dibuat oleh Perawat Manager.
2) Mengingkari kode etik perawat dengan teman sejawat.
3) Sudah berbuat adil terhadap teman sejawat lainnya.
4) Tn Rudi di bebas tugaskan selama 2 minggu dengan tidak dibayar.
d. Mendiskusikan masalah dengan Perawat Manager dengan memberitahu
bahwa Tn Rudi mempunyai tanggungan 4 orang anak:
1) Perawat manager mungkin akan mempertimbangan sanksi yang
diberikan kepeda Tn Rudi.
2) Perawat manager mungkin tetap bersih kukuh dengan sanksi yang
diberikan kepada Tn Rudi karena menurut peraturan itu sesuai
dengan prosedur rumah sakit dan sudah bertindak adil dengan
konsekuensi yang ada.
3. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut.
Sebagai teman sejawat perawat tidak membuat keputusan terhadap kasus
Tn Rudi, tetapi perawat yang lain bisa membantu Tn Rudi menyelesaikan
permasalahannya. Dalam hal ini perlu dipikirkan:
a. Siapa yang sebaiknya terlibat dalam membuat keputusan dan mengapa?

b. Untuk siapa saja keputusan dibuat?


c. Apa kreteria untuk menetapkan siapa pembuat keputusan (sosial,
ekonomi, fisiologi, psikologi, budaya, politik, kesehatan,

peraturan

atau hukum)?
d. Sejauh mana keputusan perawat manager dibutuhkan?
e. Apa prinsip etik yang ditekankan atau diabaikan oleh tindakan yang
diusulkan?
4. Mengidentifikasi kewajiban perawat.
Dalam membantu Tn Rudi membuat keputusan, saya sebagai teman
sejawat perlu membuat daftar kewajiban perawat terhadap teman sejawat:
a. Perawat memelihara hubungan baik antar sesama perawat dan tenaga
kesehatan lainnya, baik dalam memelihara keserasian suasana
lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan perlayanan kesehatan
secara menyeluruh.
b. Perawat
menyebarluaskan

pengetahuan,

keterampilan,

dan

pengalamannya kepada sesama perawat, serta menerima pengetahuan


dan pengalaman dari profesi dalam rangka meningkatkan kemampuan
dalam bidang keperawatan.
5. Membuat keputusan.
a. Menasehati Tn Rudi untuk tidak meminum minuman beralkohol lagi
sewaktu dinas.
b. Mendiskusikan permasalahan Tn Rudi dengan perawat manager dan
perawat lainnya.
Nilai-nilai esensial yang saya gunakan untuk menyelesaikan permasalahan
Tn Rudi:
a. Altruism (mengutamakan orang lain): Kesediaan memperhatikan
kesejahteraan orang lain termasuk keperawatan atau kebidanan,
komitmen, arahan, kedermawanan atau kemurahan hati serta ketekunan.
b. Equality (kesetaraan): Memiliki hak atau status yang sama termasuk
penerimaan dengan sikap asertif, kejujuran, harga diri dan toleransi.
Prinsip-prinsip etik yang saya gunakan untuk menyelesaikan permasalahan
Tn Rudi:

a. Respek: dalam prinsip ini terkandung arti bahwa kehidupan merupakan


hak milik yang paling berharga dan mendasar pada manusia.
b. Beneficence (kemurahan hati/muslahat): kemurahan hati atau maslahat
berkaitan dengan kewajiban untuk melakukan hal yang baik dan tidak
membahayakan orang lain. Kesulitan biasanya muncul pada saat
menentukan siapa yang harus memutuskan hal yang terbaik untuk
seseorang.
Kode etik yang saya gunakan dalam menyelesaikan permasalahan Tn Rudi:
Perawat dan Teman Sejawat: perawat senantiasa memelihara hubungan
baik dengan perawat maupun denngan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam
memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun mencapai tujuan
pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
Teori etik yang saya gunakan untuk menyelesaikan permasalahan Tn Rudi:
Utulitarianism adalah posisi orientasi komunitas yang berfokus pada
konsekuensi dan lebih mempunyai hal-hal yang baik dalam jumlah besar dan
mendatangkan kebahagiaan untuk banyak orang serta mempunyai konsekuensi
kerugian yang sedikit atau minimal.

BAB III
PENUTUP

2.4 Kesimpulan
2.5 Saran

DAFTAR PUSTAKA
Ismani, Nila. 2001. Etika Keperawatan. Jakarta : Widya Medika
Amir, Amri. 1997. Hukum Kesehatan. Jakarta : Bunga Rampai
Lubis, Sofyan. 2009. Mengenal Hak Konsumen dan Pasien. Jakarta :Pustaka
Yusticia
Sumijatun. 2011. Membudayakan Etik dalam Praktik Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika
Bahtyar,

Lutfi

.2014.

Konsep

Legal

Etik

dan

Kasus

Keperawtan. di akses pada tanggal 29 Mei 2015


http://www.slideshare.net/nslutfi90/tugas-legal-etik-kelompok4-sp-ikd-1
Datus, Lovian. 2011. Aspek Legal Keperawatan Gawat
Darurat. di akses pada tanggal 29 Mei 2015
http://nsloviandatusskep.blogspot.com/2011/06/aspeklegal-keperawatan- gawat-darurat.html

Setyawan, Dody. 2012.

Etik, Dilema Etik dan Contoh Kasus

Dilema Etik. Di akses pada tanggal 01 Juni 2015.


http://nersdody.blogspot.com/2012/03/etik-dilema-etik-dancontoh-kasus.html