Anda di halaman 1dari 146

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN DOSEN PEMULA

ANALISIS PERGESERAN STRUKTUR EKONOMI DAN IDENTIFIKASI


SEKTOR BASIS UNTUK MEMAKSIMALKAN DAYA SAING
PEREKONOMIAN WILAYAH KOTA AMBON

TIM PENELITI
KETUA
NIDN

: SEFNAT KRISTIANTO TOMASOA, SE., M.Si


: 1211067201

ANGGOTA : SAMIE LAMBERT JACOBS, SE., M.Si


NIDN
: 1218107201

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MANAJEMEN


(STIEM) RUTU NUSA AMBON
NOVEMBER 2014

DIBIAYAI OLEH :
DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA)
DIREKTORAT PENELITIAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
NOMOR DIPA-023.04.1.673453, TANGGAL 5 DESEMBER 2013
DIPA REVISI

ABSTRAK

S. Kristianto Tomasoa dan Samie L. Jacobs, Analisis Pergeseran Struktur


Ekonomi Dan Identifikasi Sektor Basis Untuk Memaksimalkan Daya Saing
Perekonomian Wilayah Kota Ambon.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik struktur dan
pola pertumbuhan ekonomi, sektor/subsektor basis dan daya saing perekonomian
wilayah Kota Ambon. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu
analisis Shift Share, analisis Tipology Klassen, analisis Location Quotient (LQ)
dan analisis Model Dong Sung Cho.
Hasil analisis Shift Share menunjukkan bahwa sektor yang merupakan
sektor kompetitif dan spesialisasi, yaitu: sektor angkutan dan komunikasi, sektor
keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. Hasil analisis
Tipology Klassen menunjukkan sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat yaitu
sektor sektor Angkutan dan Komunikasi, Sektor Keuangan, Persewaan & Jasa
Perusahaan dan Sektor Jasa-jasa. Hasil analisis LQ menunjukkan sektor listrik,
gas dan air bersih, sektor angkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan
dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa merupakan sektor basis di Kota Ambon.
Hasil analisis sektor/subsektor basis yang memiliki daya saing di Kota
Ambon adalah subsektor perikanan dengan komoditi ikan. Hasil analisis Model
Dong Sung Cho menunjukkan komoditi ikan Kota Ambon memiliki indeks daya
saing permintaan domestik sebesar 8,66 berada pada rangking satu.

Kata Kunci : Sektor Basis, Daya Saing, Perekonomian Wilayah.

iii

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan Kuasanya menuntun

penulis sehingga

dapat menyelesaikan

penelitian ini dengan judul Analisis Pergeseran Struktur Ekonomi Dan


Identifikasi Sektor Basis Untuk Memaksimalkan Daya Saing Perekonomian
Wilayah Kota Ambon.
Pembahasan utama dalam penelitian ini adalah mengetahui gambaran
tentang karakteristik struktur dan pola pertumbuhan ekonomi, sektor basis dan
daya saing perekonomian wilayah dan diharapkan hasilnya dapat dimanfaatkan
sebagai bahan informasi dan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan di
Kota Ambon.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan penulisan ini tak lepas
dari hambatan-hambatan yang penulis temui, meski demikian penulis dapat lalui
dan mengatasi hambatan tersebut secara baik, berkat bantuan dari berbagai pihak
yang berkompoten. Oleh karena itu, selayaknya penulis mengucapkan terima
kasih atas bantuan berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung kepada:
Ditlitabmas, Kampus STIEM Rutu Nusa Ambon, Kepala Kantor Dinas Kelautan
dan Perikanan Provinsi Maluku dan jajarannya, Kepala Kantor DKP Kota Ambon
dan jajarannya, Kepala Kantor DKP Kabupaten Maluku Tengah dan jajarannya
dan Kepala Kantor DKP Kabupaten Seram Bagian Barat dan jajarannya yang
telah membantu selama proses pengumpulan data penelitian. Secara khusus
penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga yang selama ini selalu
mendampingi dan memberikan semangat serta perhatian dan Doa sehingga
penulisan ini dapat diselesaikan.
Akhirnya dengan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga
tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Ambon,

November 2014

Penulis

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

HALAMAN PENGESAHAN

ii

ABSTRAK

iii

PRAKATA

iv

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vii

DAFTAR LAMPIRAN

viii

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN

1.1.
1.2.
1.3.
1.4.

1
2
3
3

2.2.
2.3.
2.4.
2.5.
2.6.
2.7.

BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

BAB III

Latar Belakang .....................................................................iii


Permasalahan ........................................................................
Tujuan Penelitian
Output Penelitian ..................................................................

Pergeseran Struktur Ekonomi Dalam


Proses Pembangunan ............................................................
Teori Basis Ekonomi ............................................................
Konsep Daya Saing ..............................................................
Daya Saing Sektor Basis Sebagai
Strategi Pembangunan Daerah .............................................
Penelitian Terdahulu ............................................................
Kerangka Pikir Penelitian ....................................................
Hipotesis ...............................................................................

4
5
6
6
8
8
9

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

10

3.1.
3.2.

10
10

Tujuan Penelitian .................................................................


Manfaat Penelitian ...............................................................

METODE PENELITIAN

12

4.1.
4.2.

12
12
12
12
13

4.3.

Lokasi Penelitian ..................................................................


Jenis dan Sumber Data .........................................................
4.2.1. Jenis Data.. .............................................................
4.2.2. Sumber Data...........................................................
Teknik Pengumpulan Data ...................................................
v

4.4.

4.5.
BAB V

Teknik Analisis Data ............................................................


4.4.1. Analisis Deskriptif .................................................
4.4.2. Analisis Shift Share ..............................................
4.4.3. Analisis Tipologi Klassen.................................
4.4.4. Analisis Location Quotient (LQ) ......................
4.4.5
Analisis Model Dong Sung Cho ......................
Definisi Operasional.............................................................

14
14
15
20
22
23
24

HASIL DAN PEMBAHASAN

27

5.1.

27
27
28
29
29
29
30
31
32
33
33
35

5.2.
5.3.

5.4.

5.5.
5.6.
.

5.7.
5.8.

Deskriptif Wilayah Penelitian ..............................................


5.1.1. Keadaan Geografis .................................................
5.1.2. Keadaan Iklim ........................................................
5.1.3. Pemerintahan..........................................................
5.1.4. Kependudukan .......................................................
5.1.4.1. Penduduk ...............................................
5.1.4.2. Ketenagakerjaan ....................................
5.1.4.3. Mata Pencaharian ..................................
Potensi Sumber Daya Alam .................................................
Kondisi Ekonomi Wilayah Kota Ambon .............................
5.3.1. Pendapatan Perkapita .............................................
5.3.2. Pertumbuhan Ekonomi...........................................
Karakteristik Struktur Dan Pola Pertumbuhan
Perekonomian .......................................................................
5.4.1. Karakteristik Struktur Perekonomian ....................
5.4.2. Pola Pertumbuhan Perekonomian ..........................
5.4.2.1. Analisis Shift Share ................................
5.4.2.2. Analisis Tipologi Klassen.......................
Penentuan Sektor/Subsektor Basis ........................................
Potensi Ekonomi Sektoral Kota Ambon ...............................
5.6.1. Analisis Sektor Pertanian .......................................
5.6.2. Analisis Sektor Pertambangan dan Penggalian......
5.6,3. Analisis Sektor Industri Pengolahan ......................
5.6.4. Analisis Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih...........
5.6.5. Analisis Sektor Bangunan dan Kontruksi ..............
5.6.6. Analisis Sektor Perdagangan, Hotel dan
Restoran .................................................................
5.6.7. Analisis Sektor Angkutan dan Komunikasi ...........
5.6.8. Analisis Sektor Keuangan, Persewaan dan
Jasa Perusahaan ......................................................
5.6.9. Analisis Sektor Jasa-Jasa .......................................
Daya Saing Sektor/Subsektor Basis Di Kota Ambon ..........
Daya Saing Terhadap Permintaan Domestik .......................

42
42
47
64
75
84
84
86
87
88
89
90
92
93
95
102
108

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

112

6.1.
6.2.

112
114

Kesimpulan ..........................................................................
Saran .....................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

No.

Halaman

4.1.

Analisis Shift Share Esteban Marquilass .........................................

20

4.2.

Klasifikasi Sektor PDRB menurut Tipolgi Klassen .........................

22

5.1.

Letak dan Batas Wilayah Kota Ambon ............................................

28

5.2.

Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk di Kota Ambon................

29

5.3.

Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan di


Kota Ambon Tahun 2012 .................................................................

31

Penduduk Usia Kerja (15 Tahun Keatas) Yang Bekerja Menurut


Lapangan Usaha Utama dan Jenis Kelamin di Kota Ambon
Tahun 2012 ......................................................................................

31

5.5.

Pendapatan Perkapita Kota Ambon Tahun 2003-2012 ....................

34

5.6.

Laju Pertumbuhan PDRB Kota Ambon Atas Dasar Harga


Konstan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2003-2010 ....................

37

Tingkat Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha


Atas Dasar Harga Konstan Kota Ambon dan Provinsi
Maluku Tahun 2003 2010 .............................................................

39

Presentase Kontribusi PDRB Kota Ambon Atas Dasar


Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha Tahun 2003-2010..........

44

Rasio Pertubumhan ekonomi Kota Ambon dan Provinsi Maluku


(Rn, Rin, Rij) ....................................................................................

49

Komponen Pertumbuhan Ekonomi Kota Ambon


Tahun 2003 2012 ..........................................................................

51

Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Maluku


Terhadap Perekonomian Kota Ambon .................................

54

Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Provinsi Maluku


Terhadap Peningkatan PDRB Kota Ambon
Tahun 2003 dan 2012 .......................................................................

57

Identifikasi Keunggulan Kompetitif Terhadap Perekonomian


Kota Ambon Tahun 2003 2012 .....................................................

59

5.4.

5.7.

5.8.

5.9.

5.10.

5.11.

5.12.

5.13.

vi

5.14.

Indentifikasi Spesialisasi Terhadap Perekonomian Kota Ambon


Tahun 2003-2012 .............................................................................

61

Pengaruh Alokasi Terhadap Perekonomian Kota Ambon


Tahun 2003-2012 .............................................................................

63

Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan perKapita Penduduk


Provinsi Maluku dan Kota Ambon Tahun 2003-2012 .....................

65

Identifikasi Sektor/Subsektor Ekonomi Menurut Tipologi


Klassen di Kota Ambon Tahun 2003-2012 ......................................

68

Klasifikasi Sektor/Subsektor Ekonomi Menurut Tipology


Klassen di Kota Ambon Tahun 2003-2012 ......................................

69

Nilai Location Quotient Kota Ambon Dirinci


Persektor/Subsektor Ekonomi Tahun 2003-2012 ............................

76

5.20.

Potensi Sektor Pertanian ..................................................................

85

5.21.

Potensi Sektor Pertambangan dan Penggalian .................................

87

5.22.

Potensi Sektor Industri Pengolahan .................................................

87

5.23.

Potensi Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih ......................................

89

5.24.

Potensi Sektor Bangunan dan Kontruksi..........................................

90

5.25.

Potensi Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran ............................

91

5.26.

Potensi Sektor Angkutan dan Komunikasi ......................................

93

5.27.

Potensi Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan.............

95

5.28.

Potensi Sektor Jasa-Jasa ...................................................................

97

5.29.

Perkembangan Nilai Produksi dan Nilai Ekspor Subsektor


Perikanan Kota Ambon Tahun 2003-2012 ......................................

107

Indeks Daya Saing Permintaan Domestik Komoditi Ikan dan


Komoditi Udang ...............................................................................

108

5.15.

5.16.

5.17.

5.18.

5.19.

5.30.

vii

DAFTAR GAMBAR

No.

Halaman

2.1.

Kerangka Pikir ................................................................................

5.1.

Perkembangan Kontribusi Subsektor Perikanan Terhadap


Sektor Pertanian Tahun 2003-2012 ..................................................

103

Perkembangan Kontribusi Subsektor Perikanan Terhadap


PDRB Kota Ambon Tahun 2003-2012 ............................................

104

5.2.

vii

DAFTAR LAMPIRAN

No.
A.

Halaman
Instrumen Penelitian
1. Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas
Dasar Harga Konstan Tahun 2003 - 2012
2. Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas
Dasar Harga Konstan Tahun 2003 - 2012
3. Hasil Perhitungan Shfit Share Tahun 2003 - 2012
4. Nilai Produksi dan Nilai Ekspor Komoditi Udang dan Komoditi
Ikan Kabupaten/Kota Tahun 2003 -2012

B.

Laporan Penggunaan Dana 100 Persen Penelitian Dosen Pemula


Tahun Anggaran 2014

C.

Catatan Harian (Log Book)

D.

Personalia Tenaga Peneliti Beserta Kualifikasinya.

E.

Evaluasi Atas Capaian Luaran Kegiatan

F.

Poster

viii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Beralihnya pemerintahan Indonesia dari Orde Baru ke Orde
Reformasi membuat perekonomian yang terkena krisis ekonomi mulai
dibenahi kembali dengan mengubah kebijakan yang pernah ditempuh
sebelumnya, antara lain dengan memberlakukan azas desentralisasi dalam
pembangunan daerah dengan wujud otonomi yang luas, nyata dan
bertanggungjawab.

Daerah

lebih

leluasa

untuk

melaksanakan

pembangunannya, ketergantungan terhadap pemerintah pusat dikurangi dan


daerah bebas mengelola dan memanfaatkan sumberdaya yang ada. Artinya
pembangunan yang akan dilaksanakan berpusat di daerah. Untuk itu
perencanaan pembangunan daerah mutlak diperlukan dan identifikasi awal
(kegiatan pre-planning) mengenai kondisi daerah atau wilayah harus
dilaksanakan.
Kota Ambon memiliki potensi sumberdaya yang beragam untuk
dapat dikembangkan yang tentunya akan dikelola sesuai dengan ketersediaan
dan faktor-faktor yang dimiliki. Berkedudukan sebagai ibu kota provinsi
yang merupakan pusat berkembangnya industri dan perdagangan perlu
mendapat perhatian dalam mengerakan sektor-sektor perekonomian.
Pemanfaatan dan pengembangan sumberdaya dengan baik secara tidak
langsung akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu daerah.
Demi pencapaian hasil pembangunan ekonomi sebagaimana yang
disebutkan terdahulu kita perlu menganalisis sektor basis dan sektor non
basis. Jika sektor-sektor tersebut dapat kita analisis dan diketahui,
selanjutnya dibutuhkan langkah-langkah kebijakan dan perlu mendapat
perhatian atau prioritas dari pemerintah untuk dikembangkan.
Selanjutnya untuk melaksanakan kegiatan ekonomi terlebih dahulu
membuat perencanaan secara matang, dengan menetapkan skala prioritas.
Mengidentifikasi dan mengetahui sektor-sektor ekonomi yang merupakan
sektor basis dan non basis sangat dibutuhkan agar dapat menentukan sektor

basis yang memiliki daya saing. Hal ini sangatlah penting, karena dengan
alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang terarah, maka
jumlah sektor basis yang memiliki daya saing dapat dikelola dan
ditingkatkan sehingga akan mendorong peningkatan pendapatan daerah itu
sendiri. Setiap perubahan yang terjadi akan menimbulkan efek ganda
(multiplier effect) dalam perekonomian yang pada akhirnya terjadi
penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan.
Permasalahan

pembangunan

daerah

tersebut

dapat

diatasi

apabila didukung oleh masyarakat di daerah itu sendiri. Selain itu,


dibutuhkan kebijakan ekonomi daerah yang diarahkan untuk mencapai
pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan, melalui
pengembangan kegiatan utama yang berdasarkan potensi lokal untuk
meningkatkan kesejahteraan serta mengurangi disparitas pembangunan
antar wilayah. Oleh karena itu, diperlukan adanya informasi akurat yang
memberikan gambaran tentang pergeseran struktur dan laju pertumbuhan,
sektor basis dan daya saing sektor-sektor perekonomian di Kota Ambon
yang dapat dikembangkan sesuai dengan potensi daerahnya.
Dari latar belakang permasalahan yang diuraikan, maka penulis
tertarik untuk melakukan penelitian tentang Analisis Pergeseran Struktur
dan Identifikasi Sektor Basis Untuk Memaksimalkan Daya Saing
Perekonomian Wilayah Kota Ambon.
1.2. Permasalahan
Atas dasar latar belakang masalah tersebut, dapat dirumuskan
permasalahan penelitian sebagai berikut:
1.

Bagaimanakah karakteristik pergeseran struktur dan pola pertumbuhan


ekonomi di Kota Ambon.

2.

Sektor/subsektor apakah yang menjadi basis untuk dikembangkan guna


mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Kota Ambon.

3.

Seberapa besar tingkat daya saing sektor/subsektor basis di Kota


Ambon.

1.3. Tujuan Penelitian


Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.

Menganalisis karakteristik struktur dan pola pertumbuhan ekonomi di


Kota Ambon.

2.

Menganalisis sektor/subsektor basis untuk dikembangkan guna


mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Kota Ambon.

3.

Menganalisis tingkat daya saing sektor/subsektor basis di Kota Ambon


terhadap permintaan domestik.

1.4. Output Penelitian


1.

Dapat diterbitkan pada jurnal Akreditasi Nasional di Indonesia

2.

Hasil Penelitian dapat dijadikan bahan pengembangan buku ajar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pergeseran Struktur Ekonomi Dalam Proses Pembangunan


Berkaitan dengan struktur ekonomi wilayah, Todaro (2008:82)
menyatakan bahwa proses pertumbuhan ekonomi mempunyai kaitan
erat dengan perubahan struktural dan sektoral yang tinggi. Beberapa
perubahan komponen utama struktural ini mencakup pergeseran secara
perlahan-lahan dari aktivitas pertanian ke sektor non pertanian dan dari
sektor industri ke sektor jasa. Suatu wilayah yang sedang berkembang
proses pertumbuhan ekonominya akan tercermin dari pergeseran sektor
ekonominya, yaitu peran sektor pertanian dalam PDB atau PDRB akan
mengalami pertumbuhan lebih lambat atau mengalami penurunan,
sedangkan peran sektor non pertanian pertumbuhannya lebih cepat atau
semakin meningkat.
Mengambil arti pembangunan menurut Meir dalam Kuncoro
(2006:112) bahwa pembangunan adalah suatu proses di mana pendapatan
perkapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang panjang,
dengan catatan bahwa jumlah penduduk yang hidup di bawah garis
kemiskinan absolut tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak
semakin timpang.
Proses pembangunan menghendaki adanya pertumbuhan ekonomi
yang diikuti dengan perubahan dalam hal:
1.

Perubahan struktur ekonomi dari pertanian ke industri atau jasa.

2.

Perubahan dalam kelembagaan baik melalui regulasi maupun


reformasi kelembagaan itu sendiri.
Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya perubahan dalam

struktur ekonomi suatu negara antara lain pertama, disebabkan oleh sifat
manusia dalam kegiatan konsumsinya, yaitu apabila pendapatan naik,
elastisitas permintaan yang diakibatkan oleh perubahan pendapatan (income
elasticity of demand) adalah rendah untuk konsumsi bahan makanan.
Sedangkan permintaan terhadap bahan-bahan pakaian, perumahan, dan

barang-barang konsumsi hasil industri adalah sebaliknya. Sifat permintaan


masyarakat tersebut sesuai dengan hukum Engels, di mana teori Engels
mengatakan bahwa, makin tinggi pendapatan masyarakat maka akan
semakin sedikit proporsi pendapatan yang digunakan untuk membeli bahan
pertanian, sebaliknya proporsi pendapatan yang digunakan untuk membeli
produksi barang-barang industri menjadi bertambah besar.
Faktor kedua, yaitu perubahan struktur ekonomi disebabkan pula
oleh perubahan teknologi yang terus-menerus berlangsung. Perubahan
teknologi yang terjadi di dalam proses pembangunan akan menyebabkan
perubahan pada struktur produksi yang bersifat cumpolsory dan inducive.

2.2. Teori Basis Ekonomi


Aktivitas perekonomian regional digolongkan dalam dua sektor
kegiatan, yaitu aktivitas basis dan non basis. Kegiatan basis merupakan
kegiatan yang berorientasi ekspor (barang dan jasa) keluar batas wilayah
perekonomian yang bersangkutan, sedangkan kegiatan non basis merupakan
kegiatan berorientasi lokal yang menyediakan barang dan jasa untuk
kebutuhan

masyarakat

dalam

batas

wilayah

perekonomian

yang

bersangkutan.
Aktivitas basis memiliki peranan sebagai penggerak utama (primer
mover) dalam pertumbuhan suatu wilayah. Semakin besar ekspor suatu
wilayah ke wilayah lain akan semakin maju pertumbuhanan wilayah
tersebut, dan demikian sebaliknya. Setiap perubahan yang terjadi pada
sektor basis akan menimbulkan efek ganda (multiplier effect) dalam
perekonomian regional (Adisasmita, 2005:28).
Sektor basis adalah sektor yang menjadi tulang punggung
perekonomian

daerah

karena

mempunyai

keuntungan

kompetitif

(Competitive Advantage) yang cukup tinggi. Sedangkan sektor non basis


adalah sektor-sektor lainnya yang kurang potensial tetapi berfungsi sebagai
penunjang sektor basis atau service industries (Sjafrizal, 2008:89).

2.3. Konsep Daya Saing


Kajian mengenai daya saing berawal dari pemikiran Adam Smith
mengenai konsep penting tentang spesialisasi dan perdagangan bebas
melalui teori keunggulan absolut (absolute advantage). Teori keunggulan
absolut menyatakan bahwa sebuah negara dapat melakukan perdagangan
jika relatif lebih efisien (memiliki keunggulan absolut) dibanding negara
lain, keuntungan akan diperoleh jika negara tersebut melakukan spesialisasi
dalam memproduksi komoditi yang memiliki keunggulan absolut tersebut.
Konsep daya saing dalam perdagangan internasional sangat terkait
dengan keunggulan yang dimiliki oleh suatu komoditi atau kemampuan
suatu negara dalam menghasilkan suatu komoditi tersebut secara efisien
dibanding negara lain. Daya saing atas suatu komoditi sering diukur
dengan menggunakan pendekatan keunggulan komparatif dan kompetitif.
Menurut Abdullah P. Dkk, (2002) yang dimuat dalam Sutikno
(2007;7):

Analisis

Development

daya

(IMD)

saing menurut

dengan

publikasinya

Institute
Word

of

Management

Competitiveness

Yearbook melihat daya saing merupakan kemampuan suatu negara dalam


menciptakan nilai tambah dalam rangka menambah kekayaan nasional
dengan cara mengelola aset dan proses, daya tarik dan agresivitas, globality
dan proximity, serta dengan mengan mengintegrasikan hubungan-hubungan
tersebut ke dalam suatu model ekonomi dan sosial.
Dengan perkataan yang lebih sederhana, daya saing nasional adalah
suatu konsep untuk mengukur dan membandingkan seberapa baik suatu
negara dalam menyediakan suatu iklim tertentu yang kondusif untuk
mempertahankan daya saing domestik maupun global kepada perusahaanperusahaan yang berada di wilayahnya.

2.4. Daya Saing Sektor Basis Sebagai Strategi Pembangunan Daerah


Perbedaan tingkat pembangunan yang di dasarkan atas potensi
suatu daerah, berdampak terjadinya perbedaan sektoral dalam pembentukan
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Secara hipotesis dapat
dirumuskan bahwa semakin besar peranan potensi sektor ekonomi yang

memiliki nilai tambah terhadap pembentukan atau pertumbuhan PDRB di


suatu daerah, maka semakin tinggi laju pertumbuhan PDRB daerah tersebut.
Berdasarkan pengalaman negara-negara maju, pertumbuhan yang
cepat dalam sejarah pembangunan suatu bangsa biasanya berawal

dari

pengembangan beberapa sektor primer. Pertumbuhan cepat tersebut


menciptakan efek bola salju (snow ball effect) terhadap sektor-sektor
lainnya, khususnya sektor sekunder.
Pembangunan ekonomi dengan mengacu pada sektor basis yang
berdaya saing selain berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi
juga akan berpengaruh pada perubahan mendasar dalam struktur ekonomi.
Pengertian sektor basis pada dasarnya dikaitkan dengan suatu
bentuk perbandingan, baik itu perbandingan berskala internasional,
regional

maupun nasional. Pada lingkup internasional, suatu sektor

dikatakan basis jika sektor tersebut mampu bersaing dengan sektor yang
sama dengan negara lain. Sedangkan pada lingkup nasional, suatu sektor
dapat di kategorikan sebagai sektor basis apabila sektor di wilayah
tertentu mampu bersaing dengan sektor yang sama yang dihasilkan oleh
wilayah lain, baik di pasar nasional ataupun domestik.
Penentuan sektor basis yang berdaya saing menjadi hal yang
penting sebagai dasar perencanaan pembangunan daerah sesuai era otonomi
daerah saat ini, di mana daerah memiliki kesempatan dan kewenangan untuk
membuat kebijakan yang sesuai dengan potensi daerah demi mempercepat
pembangunan ekonomi daerah untuk peningkatan kemakmuran masyarakat.
Manfaat mengetahui daya saing sektor basis, yaitu mampu
memberikan indikasi bagi perekonomian secara nasional dan regional.
Sektor basis dipastikan memiliki potensi lebih besar untuk tumbuh lebih
cepat dibandingkan sektor lainnya dalam suatu daerah terutama adanya
faktor pendukung terhadap sektor basis tersebut yaitu akumulasi modal,
pertumbuhan tenaga kerja yang terserap, dan kemajuan teknologi
(technological progress). Penciptaan peluang investasi juga dapat dilakukan
dengan memberdayakan potensi sektor basis yang dimiliki oleh daerah yang
bersangkutan.

2.5. Penelitian Terdahulu


Keseluruhan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh
peneliti terdahulu dalam literatur jrnal dapat dijadikan dasar dan bahan
pertimbangan dalam mengkaji penelitian ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Sri Kusreni, 2009 dengan judul
Pengaruh Perubahan Struktur Ekonomi Terhadap Spesialisasi Sektoral Dan
Wilayah Serta Struktur Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral Untuk Daerah
Perkotaan Di Jawa Timur. Menyimpulkan bahwa pengaruh perubahan
struktur ekonomi berpengaruh terhadap fungsi spesialisasi dan struktur
penyerapan tenaga kerja sektoral untuk daerah perkotaan di Jawa Timur.
Hanya saja secara keseluruhan perubahan struktur yang ada berjalan secara
tidak sehat artinya polanya tidak mengikuti teori yang ada.
Penelitian Amir Hidayat dan Riphat Singgih, 2005 dengan judul
Analisis Sektor Basis untuk Evaluasi Kebijakan Pembangunan Jawa Timur
menggunakan Tabel Input-Output 1994 dan 2000. Menyimpulkan bahwa,
berdasarkan analisis sektor basis menggunakan angka pengganda (output,
pendapatan dan lapangan kerja) dan keterkaitan sektoral direkomendasikan
untuk menjadikan Jawa Timur sebagai pusat industri, pusat perdagangan,
dan pusat pertanian.
Penelitian Imam Asngari tahun 2008, dengan judul Analisis Sektor
Unggulan dan Daya Saing Wilayah Komoditas di Wilayah Oku Timur.
Penelitian ini menggunakan alat analisis analisis Location Quotient (LQ)
dan analisis Competitive Productivity of Labour Index atau Indeks CLI.
Menyimpulkan bahwa, hasil analisis persektor menunjukan bahwa terdapat
sektor yang merupakan sektor basis namun tidak tergolong di dalam sektor
yang yang memiliki daya saing.

2.6. Kerangka Pikir Penelitian


Berdasarkan

tinjauan

pustaka,

penelitian

sebelumnya

serta

hubungan antara variable di atas maka penulis membuat kerangka pemikiran


penelitian sebagai berikut :

Kerangka Pikir
Pertumbuhan Ekonomi
Wilayah Kota Ambon
Sektor-Sektor Perekonomian
Kota Ambon

Karakteristik Struktur
dan Pola Pertumbuhan
Ekonomi Kota Ambon

Shift Share

Tipologi
Klassen

Sektor Basis dan


Non Basis
Kota Ambon

Daya Saing SektorSektor Perekonomian


Kota Ambon

LQ

Daya Saing
Permintaan
Domestik

Sektor Basis
Kota Ambon

Analisis
Dong Sung Cho

Relevansi Kebijakan
Pembangunan Kota Ambon

2.7. Hipotesis
Dari latar belakang dan rumusan masalah tersebut di atas, maka
dapat dibuat suatu hipotesis sebagai berikut:
1.

Diduga telah terjadi perubahan karakteristik struktur perekonomian dan


pola pertumbuhan ekonomi di Kota Ambon.

2.

Diduga sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor jasa-jasa dan


sektor angkutan dan komunikasi merupakan sektor basis di Kota
Ambon.

3.

Diduga sektor/subsektor basis di Kota Ambon memiliki daya saing


terhadap permintaan domestik.

BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1. Tujuan Penelitian


Kota Ambon memiliki potensi sumberdaya yang beragam untuk
dapat dikembangkan yang tentunya akan dikelola sesuai dengan ketersediaan
dan faktor-faktor yang dimiliki. Berkedudukan sebagai ibu kota provinsi
yang merupakan pusat berkembangnya industri dan perdagangan perlu
mendapat perhatian dalam mengerakan sektor-sektor perekonomian.
Pemanfaatan dan pengembangan sumberdaya dengan baik secara tidak
langsung akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu daerah.
Berdasarkan pada alasan di atas maka, penelitian ini secara umum
bertujuan untuk menganalisis sektor/subsektor basis dan non basis yang
memiliki keunggulan dan daya saing di Kota Ambon. Secara rinci tujuan
penelitian adalah sebagai berikut:
1.

Menganalisis karakteristik struktur dan pola pertumbuhan ekonomi di


Kota Ambon.

2.

Menganalisis sektor/subsektor basis untuk dikembangkan guna


mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Kota Ambon.

3.

Menganalisis tingkat daya saing sektor/subsektor basis di Kota Ambon


terhadap permintaan domestik.

3.2. Manfaat Penelitian


Dalam melakukan peneletian ini suatu manfaat yang diharapkan
dari hasil penelitian ini adalah :
1.

Sebagai bahan masukan atau informasi bagi para pejabat pengambilan


keputusan

di

Kota

Ambon,

dan

dinas-dinas

terkait

dengan

permasalahan di atas, agar dapat merumuskan kebijakan pembangunan


secara tepat dalam mengoptimalkan sumberdaya yang dimilikinya.
Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan PDRB per sektor
dari masing-masing daerah yang merupakan indikator keberhasilan
pembangunan ekonomi daerah.

2.

Sebagai bahan informasi bagi dunia usaha yang berkeinginan


menanamkan investasi pada berbagai sektor/subsektor ekonomi di Kota
Ambon.

3.

Sebagai bahan refrensi dan informasi bagi para peneliti selanjutnya


yang dapat dijadikan rujukan penelitian yang berkaitan dengan
perekonomian wilayah dan khususnya yang berhubungan dengan
pengembangan ekonomi sektoral.

11

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Kota Ambon. Pilihan terhadap lokasi
ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa, Kota Ambon memeliki sumber
yang lengkap, sehingga hal ini akan memudahkan dalam pencaharian data.

4.2. Jenis dan Sumber Data


4.2.1. Jenis Data
Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
kuantitatif dan data kualitatif.
-

Data kuantitatif yaitu, data dalam bentuk angka-angka seperti data


besaran PDRB Kota Ambon dan PDRB Provinsi Maluku.

Data kualitatif yaitu data yang diperoleh berupa interaksi dan regulasi
Peraturan Daerah Kota Ambon dan sebagainya.

4.2.2. Sumber Data


Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini ada bentuk, yaitu
terdiri dari data primer dan data sekunder.
-

Data primer dalam penelitian ini untuk memperoleh informasi yang


lebih luas dari berbagai pejabat instansi yang terkait misalnya Dinas
Perikanan Kota Ambon, Dinas Perikanan Provinsi Maluku, Pelabuhan
Perikanan Nusantara, dan Lembaga Pembinaan dan Pengujian Mutu
Hasil Perikanan.

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari beberapa sumber


data yang dipublikasi, yaitu dari BPS Kota Ambon, serta instansiinstansi terkait lainnya yang dapat mendukung kelengkapan data yang
peneliti butuhkan. Data yang tercakup dalam penelitian ini adalah data
berupa time series mulai pada tahun 2003 sampai dengan 2012. Data
tersebut adalah data aspek Geografis, topografis dan administrasi

pemerintahan, Aspek demografis (kependudukan), Indikator Ekonomi


(PDRB, PDRB Perkapita, Pendapatan Perkapita), Potensi dan
perkembangan kegiatan sektoral yang menonjol dalam perekonomian
dan pembangunan daerah, Kota Ambon Dalam Angka, Data ekonomi
dan sosial lainnya yang terkait serta berhubungan dengan permasalahan
yang diteliti dalam penelitian ini.
Data sekunder dalam penelitian ini meliputi:
1.

Data nilai produksi subsektor perikanan Provinsi Maluku dari tahun


2003 sampai dengan tahun 2012.

2.

Data nilai produksi subsektor perikanan Kota Ambon dari tahun 2003
sampai dengan tahun 2012.

3.

Data Ekspor terdiri dari:


a.

Data nilai ekspor dan total ekspor subsektor perikanan Provinsi


Maluku dari tahun 2003 sampai dengan 2012.

b.

Data nilai ekspor dan total ekspor subsektor perikanan Kota


Ambon dari tahun 2003 sampai dengan 2012.

c.

Data nilai ekspor dan total ekspor subsektor perikanan Kabupaten


Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Barat dan Kabupaten
Maluku Tengah dari tahun 2003 sampai dengan 2012.

4.3. Teknik Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dilakukan
adalah sebagai berikut:
1.

Pengumpulan data langsung pada Badan Pusat Statistik Kota Ambon,


BPS Provinsi Maluku, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon,
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku dan Pelabuhan
Perikanan Nusantara.

2.

Wawancara, yaitu pengumpulan data dengan cara mengajukan


pertanyaan secara lisan untuk mendapatkan informasi dari pihak-pihak
yang berhubungan dengan masalah penelitian. Wawancara untuk
mendapatkan informasi ini langsung kepada Kepala Bidang Pesisir dan
Sumber Daya Manusia Dinas Kelautan dan Perianan Kota Ambon,
13

Manajer Pemasaran PT. PLN Wilayah Ambon dan

Kepala Unit

Pelaksana Teknis Pelabuhan Perikanan Nusantara Maluku.


3.

Dokumentasi adalah cara memperoleh data dengan melihat dokumen


terkait.

4.4. Teknik Analisis Data


Untuk menjawab tujuan penelitian dan pengujian hipotesis yang
telah dikemukakan, maka digunakan model analisis deskriptif, analisis Shift
Share, analisis Location Quotient (LQ), analisis Tipologi Klassen dan
analisis model Dong Sung Cho.

4.4.1. Analisis Deskriptif


Penelitian dengan menggunakan analisis deskriptif merupakan
penelitian yang terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah atau
keadaan atau peristiwa sebagaimana adanya sehingga bersifat sekedar untuk
mengungkapkan

fakta

(fact

finding).

Jadi

hasil

penelitian

yang

menggunakan metode deskriptif ini ditekankan pada memberikan gambaran


secara obyektif tentang keadaan sebenarnya dari obyek yang di selidiki.
Disamping itu agar mendapatkan manfaat penelitian yang lebih luas dalam
penelitian melalui metode deskriptif, seringkali selain mengungkapkan fakta
sebagaimana adanya juga dilakukan pemberian interpretasi-interpretasi yang
memadai.
Untuk mengetahui tingkat sumbangan atau kontribusi sektoral dan
laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara sektoral
yaitu dengan menggunakan teknik analisis (Widodo, 1990:36) :
a.

Analisis Kontribusi Sektoral


Distribusi persentase sektoral dihitung berdasarkan perbandingan
persentase antara besarnya nilai tiap-tiap sektor/subsektor dengan
PDRB.

Persentase Kontribusi =

PDRBit
---------------- . 100%
PDRBt
14

Di mana:
PDRBit

nilai PDRB sektor i tahun bersangkutan

PDRBt

Total jumlah PDRB tahun bersangkutan

b. Analisis Pertumbuhan Sektoral


Laju pertumbuhan sektoral digunakan untuk menunjukan pertumbuhan
masing-masing

sektor/subsektor

dari

tahun

ke

tahun

dengan

memperbandingkan perubahan pendapatan suatu sektor dengan


pendapatan sektor tersebut pada sebelumnya.
PDRBit - PDRBit-1
Laju Pertumbuhan = ---------------------------- . 100%
PDRBit-1
Dimana :

c.

PDRBit

nilai PDRB sektor i tahun bersangkutan

PDRBit-1

nilai PDRB sektor i tahun sebelumnya

Mengukur pertumbuhan rata-rata per tahun


r=

tn
n - 1 -----1
t0

. 100%

Di mana:
r

Pertumbuhan ekonomi setiap tahun

Jumlah tahun (dihitung mulai dengan sampai akhir)

tn

Tahun terakhir periode PDRB

t0

Tahun awal periode PDRB

4.4.2. Analisis Shift Share (Shift Share Analysis = SSA)


Menurut Robinson Tarigan, 2007, Analisis Shift Share juga
membandingkan perbedaan laju pertumbuhan berbagai sektor (industri) di
wilayah Kota Ambon dengan wilayah Provinsi Maluku. Akan tetapi metode
ini lebih tajam dibandingkan dengan metode LQ dimana metode LQ tidak
memberikan penjelasan atas faktor penyebab perubahan sedangkan metode
shift share memperinci penyebab perubahan atas beberapa variabel. Analisis
ini menggunakan metode pengisolasian berbagai faktor yang menyebabkan
perubahan struktur industri suatu daerah dalam pertumbuhannya dari satu
15

kurun waktu ke kurun waktu berikutnya. Hal ini meliputi penguraian faktor
penyebab pertumbuhan berbagai sektor di Kota Ambon tetapi dalam
kaitannya dengan ekonomi Provinsi Maluku. Ada juga yang menamakan
model analisis ini sebagai indutrial mix analysis karena komposisi industri
yang ada sangat mempengaruhi laju pertumbuhan Kota Ambon tersebut.
Artinya apakah industri yang berlokasi di Kota Ambon termasuk ke dalam
kelompok industri Provinsi Maluku yang memang berkembang pesat dan
bahwa industri tersebut cocok berlokasi di Kota Ambon atau tidak.
Teknik analisis shift share ini membagi pertumbuhan sebagai perubahan (D)
suatu variabel wilayah, seperti kesempatan kerja, nilai tambah, pendapatan
atau output selama kurun waktu tertentu menjadi pengaruh-pengaruh
pertumbuhan Provinsi Maluku (N), industry mix (bauran industri) (M) dan
keunggulan kompetitif (C). Pengaruh pertumbuhan di Provinsi Maluku
disebut pengaruh pangsa (share), pengaruh bauran industri disebut
proportional shift atau bauran komposisi dan akhirnya pengaruh keunggulan
kompetitif dinamakan differential shift atau regional share.
Data yang digunakan dalam analisis shift share ini adalah PDRB
Kota Ambon dan Provinsi Maluku tahun 2003-2012 menurut lapangan
usaha atas dasar harga konstan tahun 2000. Penggunaan data harga konstan
dengan tahun dasar yang sama agar bobotnya (nilai riilnya) bisa sama dan
perbandingan menjadi valid (Tarigan, 2007:86).
Bentuk umum dan persamaan dari analisis Shift-Share dan
komponen-komponennya adalah sebagai berikut:
Dij = Nij + Mij + Cij
Keterangan:
i

Sektor-sektor ekonomi yang diteliti

Wilayah ekonomi yang diteliti

Variabel wilayah

Pertumbuhan ekonomi daerah Propinsi Maluku

Bauran industri (industry mix)

Keunggulan kompetitif

16

Bila analisis itu diterapkan pada pendapatan (value adde) maka:


Dij

E*ij Eij

Nij

Eij . rn

Mij =

Eij . (rin - rn)

Cij

Eij . (rij rin)

Di mana:
Dij

Perubahan variabel output i di wilayah j

Nij

Pertumbuhan ekonomi nasional sektor i wilayah j

Mij =

Bauran industri sektor i di wilayah j

Cij

Keunggulan kompetitif sektor i di wilayah j

Di mana rij, rin, dan rn mewakili laju pertumbuhan wilayah Kota Ambon
dan laju pertumbuhan daerah Propinsi Maluku yang masing-masing
didefinisikan sebagai:
rij

(E*ij Eij) /Eij

rin

(E*in Ein) /Ein

rn

(E*n En) / En

Di mana:
rij

Laju Pertumbuhan sektor i di wilayah j (Kota Ambon)

rin

Laju pertumbuhan sektor i wilayah n (Propinsi Maluku)

rn

Laju pertumbuhan PDRB di wilayah n (Propinsi Maluku)

Eij

Nilai tambah sektor i di wilayah j (Kota Ambon)

Ein =

Nilai tambah sektor i wilayah n (Propinsi Maluku)

Pendapatan (nilai tambah) pada tahun akhir analisis

En

Nilai tambah PDRB di wilayah n (Propinsi Maluku)

Untuk suatu daerah pertumbuhan propinsi, bauran industri, dan keunggulan


kompetitif dapat dijumlahkan untuk semua sektor sebagai keseluruhan
daerah, sehingga nantinya akan didapat persamaan Shift-Share untuk

sektor i di wilayah j adalah:


Dij = Eij (rn) + Eij (rin rn ) + Eij (rij rin)
Persamaan Shift-Share ini membebankan tiap sektor wilayah (Kota Ambon)
dengan laju pertumbuhan yang setara dengan laju pertumbuhan yang dicapai

17

oleh perekonomian yang menjadi acuan (Propinsi Maluku) selama kurun


waktu analisis.
Melalui analisis shift share, maka pertumbuhan ekonomi dan
pergeseran struktural perekonomian wilayah Kota Ambon ditentukan oleh
tiga komponen, yaitu:
a.

Provincial Share (PS atau Nij), yang digunakan untuk mengetahui


pertumbuhan atau pergeseran struktur perekonomian Kota Ambon
dengan melihat nilai PDRB Kota Ambon sebagai daerah pengamatan
pada periode awal yang dipengaruhi oleh pergeseran pertumbuhan
perekonomian Provinsi Maluku. Hasil perhitungan Provincial Share
akan menggambarkan peranan wilayah Provinsi Maluku yang
mempengaruhi

pertumbuhan

pertumbuhan Kota Ambon

perekonomian
sama dengan

Kota

Ambon.

pertumbuhan

Jika

Provinsi

Maluku maka peranannya terhadap provinsi tetap.


b.

Proportional Shift (P atau Mij) adalah pertumbuhan nilai tambah bruto


suatu sektor i pada Kota Ambon dibandingkan total sektor di tingkat
Provinsi Maluku.

c.

Differential Shift (D atau Cij) adalah perbedaan antara pertumbuhan


ekonomi Kota Ambon dan nilai tambah bruto sektor yang sama di
tingkat Provinsi Maluku.
Selanjutnya untuk memecahkan masalah pengaruh-pengaruh yang

saling terkait di atas, Esteban-Marquillas melakukan modifikasi yang


meliputi pendefinisian kembali kedudukan atau keunggulan kompetitif
sebagai komponen ketiga dan menciptakan komponen ke empat yaitu
pengaruh alokasi.
Persamaan Shift Share yang direvisi ini mengandung suatu unsur
baru yaitu homothetic employment di sektor i di Kota Ambon j, diberi
notasi Eij dan dirumuskan sebagai berikut :
Eij = Ej (Ein / En)
Eij : employment atau output atau pendapatan atau nilai tambah yang
dicapai sektor i di Kota Ambon j bila struktur nilai output di wilayah itu
sama dengan struktur Provinsi Maluku.

18

Dengan mengganti nilai output nyata Eij dengan homothetic employment


Eij maka persamaannya menjadi :
Cij = Eij (rij rin)
Cij mengukur keunggulan atau ketidakunggulan kompetitif di sektor i di
perekonomian Kota Ambon.
Bagian yang belum dijelaskan dari perubahan suatu variabel wilayah
(employment, misalnya) atau D N M C disebut allocation effect.
Untuk sektor i di Kota Ambon j, pengaruh alokasi Aij dirumuskan sbb :
Aij = (Eij Eij) (rij rin)
Aij adalah bagian dari pengaruh (keunggulan) kompetitif tradisional (klasik)
yang menunjukkan adanya tingkat spesialisasi di sektor i di Kota Ambon j.
Dengan perkataan lain, Aij adalah perbedaan antara nilai output nyata di
sektor i di Kota Ambon j dan nilai output di sektor Kota Ambon itu (rij) bila
struktur nilai output itu sama dengan struktur nilai output Provinsi Maluku
dan nilai perbedaan itu dikalikan dengan perbedaan antara laju pertumbuhan
sektor di Kota Ambon (rij) dan laju pertumbuhan sektor di Provinsi Maluku
(rin).
(EijEij) : menunjukkan adanya spesialisasi di sektor tersebut didapat dari
variabel nyata dengan variabel diharapkan, jika :
1. Eij Eij < 0

maka sektor tersebut bukan spesialisasi (Not Specialize)

2. Eij Eij > 0

maka sektor tersebut spesialisasi (Specialized).

(rij rin) menunjukkan adanya keunggulan kompetitif di sektor tersebut


yang didapat dari laju pertumbuhan sektor Kota Ambon dengan laju
pertumbuhan sektor Provinsi Maluku, jika:
rij rin < 0

maka sektor tersebut tidak mempunyai keunggulan


kompetitif (Competitive Disadvantage).

rij rin > 0

maka sektor tersebut mempunyai keunggulan kompetitif


(Competitive Advantage).

Persamaan (12) menunjukkan bahwa bila Kota Ambon mempunyai


spesialisasi di sektor/subsektor tertentu, maka sektor/subsektor itu juga
menikmati keunggulan kompetitif yang lebih baik. Maksudnya efek alokasi
Aij itu dapat positif atau negatif.

19

Efek alokasi yang positif mempunyai 2 kemungkinan :


1.

Eij Eij < 0 dan rij rin < 0

2.

Eij Eij > 0 dan rij rin > 0

Dengan sendirinya, efek alokasi yang negatif mempunyai dua kemungkinan


yang berkebalikan dengan efek alokasi yang positif tersebut di atas.
Modifikasi Esteban-Marquillas terhadap analisis S-S adalah :
Dij = Eij (rn) + Eij (rij- rin) + Eij (rij- rin) + (Eij Eij ) (rij- rin)
Menurut Olsen dan Herzog (1997, 445) dalam Sofwin Hardiati (2002:68),
Efek Alokasi ini mempunyai 4 kemungkinan :
Tabel 4.1. Analisis Shift Share Esteban Marquilass
No.

1
2
3
4

rij rin

>
>
<
<

0
0
0
0

EijE*ij

>
<
>
<

0
0
0
0

Keunggulan
Kompetitif

Spesialisasi

x
x

4.4.3. Analisis Tipologi Klassen


Tipologi Klassen merupakan alat analisis ekonomi regional yang
digunakan untuk mengetahui klasifikasi sektor/subsektor perekonomian
wilayah Kota Ambon. Analisis Tipologi Klassen digunakan dengan tujuan
mengidentifikasi posisi sektor/subsektor perekonomian Kota Ambon
dengan memperhatikan sektor/subsektor perekonomian Provinsi Maluku
sebagai daerah referensi.
Analisis Tipologi Klassen menghasilkan empat klasifikasi sektor
dengan karakteristik yang berbeda sebagai berikut (Sjafrizal, 2008:180):
a.

Sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat (developed sector)


(Kuadran I). Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan
sektor tertentu dalam PDRB (si) yang lebih besar dibandingkan laju
pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi
referensi (s) dan memilki nilai kontribusi sektor terhadap PDRB
(ski) yang lebih besar dibandingkan kontribusi sektor tersebut
20

terhadap PDRB daerah yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini


dilambangkan dengan si > s dan ski > sk.
b.

Sektor maju tapi tertekan (stagnant sector) (Kuadran II). Kuadran ini
merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu dalam
PDRB (si) yang lebih kecil dibandingkan laju pertumbuhan sektor
tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi referensi (s), tetapi memilki
nilai kontribusi sektor terhadap PDRB (ski) lebih besar dibandingkan
kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB daerah yang

menjadi

referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan dengan si < s dan ski > sk.
c.

Sektor potensial atau masih dapat berkembang (developing sector)


(Kuadran III). Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan
sektor tertentu dalam PDRB (si) yang lebih besar dibandingkan laju
pertumbuhan sektor tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi
referensi (s), tetapi memilki nilai kontribusi sektor terhadap PDRB (ski)
yang lebih kecil dibandingkan kontribusi sektor tersebut terhadap
PDRB daerah yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan
dengan si > s dan ski < sk.

d.

Sektor relatif tertinggal (underdeveloped sector) (Kuadran IV).


Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan sektor tertentu
dalam PDRB (si) yang lebih kecil dibandingkan laju pertumbuhan
sektor tersebut dalam PDRB daerah yang menjadi referensi (s) dan
sekaligus memilki nilai kontribusi sektor terhadap PDRB (ski) yang
lebih kecil dibandingkan kontribusi sektor tersebut terhadap PDRB
daerah yang menjadi referensi (sk). Klasifikasi ini dilambangkan
dengan si < s dan ski < sk.
Klasifikasi sektor PDRB menurut Tipologi Klassen sebagaimana
tercantum pada Tabel 3.2.

21

Tabel 4.2. Klasifikasi Sektor PDRB menurut Tipolgi Klassen


Laju
Pertumbuhan

Pendapatan
Perkapita
Pendapatan Perkapita
Diatas Rata-Rata

Pendapatan Perkapita
Dibawah Rata-Rata

Laju Pertumbuhan
Diatas Rata-Rata

Laju Pertumbuhan
Dibawah Rata-Rata

Kuadran I
Sektor yang maju dan
tumbuh dengan pesat
(developed sector)
si > s dan ski > sk
Kuadran III
Sektor potensial atau
masih dapat berkembang
(developing sector)
si > s dan ski < sk

Kuadran II
Sektor maju tapi
tertekan (stagnant
sector)
si < s dan ski > sk
Kuadran IV
Sektor relatif tertinggal
(underdeveloped sektor)
si < s dan ski < sk

Sumber: Sjafrizal, 2008:180

4.4.4. Analisis Location Quotient (LQ)


Untuk menentukan sektor/subsektor basis dan non basis di Kota
Ambon digunakan metode analisis Location Quotient (LQ). Metode LQ
merupakan salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam model
ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan dari
PDRB Kota Ambon yang menjadi pemacu pertumbuhan. Metode LQ
digunakan untuk mengkaji kondisi perekonomian, mengarah pada
identifikasi spesialisasi kegiatan perekonomian. Sehingga nilai LQ yang
sering digunakan untuk penentuan sektor/subsektor basis dapat dikatakan
sebagai

sektor/subsektor

yang

akan

mendorong

tumbuhnya

atau

berkembangnya sektor/subsektor lain serta berdampak pada penciptaan


lapangan kerja. Untuk mendapatkan nilai LQ menggunakan metode yang
mengacu pada formula yang dikemukakan oleh (Arsyad, 2004:316)
sebagai berikut:

LQ =

PDRBiKA / PDRBKA
--------------------------------PDRBiPM / PDRBPM

22

Dimana:
PRDBiKA

PDRB sektor i di Kota Ambon pada tahun tertentu.

PDRBKA

Total PDRB di Kota Ambon pada tahun tertentu.

PDRBiPM

PDRB sektor i di Provinsi Maluku pada tahun tertentu.

PDRBPM

Total PDRB di Provinsi Maluku pada tahun tertentu.

Berdasarkan formulasi yang ditunjukkan dalam persamaan di


atas, maka ada tiga kemungkingan nilai LQ yang dapat diperoleh
(Tarigan, 2007:82), yaitu:
a.

Nilai LQ = 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor/subsektor i


di daerah Kota Ambon adalah sama dengan sektor/subsektor yang sama
dalam perekonomian Provinsi Maluku.

b.

Nilai LQ > 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor/subsektor i


di

daerah

Kota

Ambon

lebih

besar

dibandingkan

dengan

sektor/subsektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Maluku.


c.

Nilai LQ < 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor/subsektor i


di

daerah

Kota

Ambon

lebih

kecil

dibandingkan

dengan

sektor/subsektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Maluku.


Apabila nilai LQ > 1, maka dapat disimpulkan bahwa
sektor/subsektor tersebut merupakan sektor basis dan potensial untuk
dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kota Ambon. Sebaliknya
apabila nilai LQ < 1, maka sektor/subsektor tersebut bukan merupakan
sektor basis dan kurang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak
perekonomian Kota Ambon.
Data yang digunakan dalam analisis Location Quotient (LQ) adalah
PDRB Kota Ambon dan Provinsi Maluku tahun 2003-2012 menurut
lapangan usaha atas dasar harga konstan tahun 2000.
4.4.5. Analisis Model Dong Sung Cho
Salah satu faktor penting dari model Dong Sung Cho adalah
mengukur Daya Saing Permintaan Domestik. Tingkat permintaan domestik
yang lebih besar mencerminkan daya saing yang lebih tinggi dari suatu
komoditas. Untuk mengukur daya saing permintaan domestik, berdasarkan
23

konsep dan ukuran-ukuran yang dikemukakan oleh Dong sung Cho, maka
digunakan model yang dimodifikasi dari model Euro W. Arto dan model
Dong Sung Cho seperti yang dinotasikan oleh Junaidin (2009:12) yaitu
sebagai berikut:
Ij = Indeks Tingkat Permintaan Domestik = (1 - Tingkat ekspor)
atau:

Fd ij =

x 100

Di mana:
1

angka absolut

nilai ekspor

nilai produksi

jumlah tahun

Fd ij

indeks tingkat permintaan domestik rata-rata sektor/subsektor i


di daerah j

Dalam penelitian ini, untuk mengukur tingkat daya saing dari


sektor/subsektor basis yang ada di Kota Ambon terhadap permintaan pasar
domestik, yaitu dengan membandingkan indeks permintaan domestik yang
sama dari Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Barat dan
Kabupaten Maluku Tenggara.
Jika

koefisien

indeks

permintaan

domestik

rata-rata

dari

sektor/subsektor basis suatu daerah menunjukan tingkat yang lebih tinggi


dibandingkan dengan indeks permintaan domestik terhadap sektor/subsektor
basis yang sama dari daerah lain maka sektor/subsektor unggulan dari
daerah tersebut mempunyai daya saing yang lebih tinggi pada pasar
domestik.
4.5. Definisi Operasional Variabel
Untuk memudahkan dan menghindari salah pengertian dalam
penelitian ini, peneliti memberi batasan (defenisi operasional) terhadap

24

istilah-istilah (judul) dalam penelitian ini sebagai berikut :


1. Pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan melihat Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) daerah yang diteliti yang dalam penyajiannya
dikelompokkan menjadi 9 (sembilan) kelompok lapangan usaha
(sektor). Dalam penelitian ini PDRB dihitung berdasarkan harga tetap
(harga konstan), yaitu harga-harga yang berlaku pada tahun dasar yang
dipilih yakni tahun dasar 2000, perhitungan dari harga konstan dipilih
karena dalam hal ini sudah dibersihkan dari unsur inflasi. Pengukuran
pertumbuhan ekonomi adalah dengan menggunakan angka ratio atau
persentase.
PDRB dalam konteks ini adalah PDRB Kota Ambon berdasarkan
lapangan usaha tahun 2003 sampai dengan tahun 2012 atas dasar harga
konstan tahun 2000, dengan satuan rupiah.
2. Sektor-sektor ekonomi yaitu, sektor pembentuk angka PDRB Tahun
2003-2012 Menurut Sektor Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 di
Kota Ambon yang berperan dalam menentukan laju pertumbuhan
ekonomi, adapun sektor ekonomi ini terdiri dari sembilan sektor utama,
yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor
industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor
bangunan/kontruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor
pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan, dan sektor jasa-jasa.
3. Karakteristik struktur dan pola pertumbuhan ekonomi adalah terjadinya

pergeseran atau perubahan baik pertumbuhan maupun penurunan


kontribusi perekonomian wilayah Kota Ambon dari waktu ke waktu
pada sektor-sektor ekonomi terhadap PDRB.
Karakteristik struktur dan pola pertumbuhan ekonomi menunjukkan
suatu pola dan posisi relatif suatu wilayah atau sektor dan subsektor
ekonomi berdasarkan struktur dan pertumbuhannya jika dibandingkan
dengan wilayah lainnya atau sektor dan subsektor ekonomi di wilayah
lainnya. Biasanya untuk melihat karakteristik struktur atau pergeseran
struktur digunakan kontribusi dari sektor-sektor ekonomi. Sedangkan
25

pola pertumbuhan ekonomi baik regional maupun sektoral digunakan


klasifikasi dari klassen (Tipologi Klassen).
4. Penentuan Sektor/subsektor Ekonomi Basis, dalam penelitian ini

diartikan sebagai sektor/subsektor yang menjadi prioritas utama untuk


terus ditingkatkan dalam memacu pertumbuhan ekonomi daerah guna

meningkatkan PDRB Kota Ambon secara umum.


5. Pendekatan Model Basis Ekonomi merupakan suatu pendekatan yang

membagi perekonomian wilayah Kota Ambon menjadi dua sektor yaitu


kegiatan-kegiatan basis dan kegiatan bukan basis. Kegiatan basis (basic
activities) adalah kegiatan-kegiatan yang mengekspor barang-barang dan
jasa-jasa ke tempat-tempat di luar batas perekonomian masyarakat
bersangkutan, atau yang memasarkan barang-barang dan jasa-jasa
mereka kepada orang-orang yang datang dari luar perbatasan
perekonomian masyarakat. Kegiatan-kegiatan bukan basis (non basis
activities) adalah kegiatan-kegiatan yang menyediakan barang-barang
yang dibutuhkan oleh orang-orang yang bertempat tinggal di dalam
batas-batas perekonomian masyarakat bersangkutan. Kegiatan-kegiatan
ini tidak mengekspor barang-barang, jadi luas lingkup produksi mereka
dan daerah pasar mereka yang terutama adalah bersifat lokal.
6. Daya saing dalam penelitian ini adalah dalam hal meningkatkan

efektivitas dan efisiensi pengelolaan sektor/subsektor ekonomi unggulan


Kota Ambon, termasuk dalam hal tataran kebijakan yang terkait
investasi, pemasaran maupun promosi daerah. Pada gilirannya,
sektor/subsektor ekonomi basis tersebut memiliki daya saing dan
diharapkan mampu memenuhi permintaan di tingkat domestik maupun
global.

26

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Deskripsi Wilayah Penelitian


5.1.1.

Keadaan Geografis
Ambon ibukota Provinsi Maluku, terletak dalam Teluk Ambon

yang indah permai. Sering disebut juga dengan Amboina. Kota ini terletak
di pulau yang sama namanya yang dalam bahasa daerah disebut Nusa
Yapono yang artinya Pulau Embun.
Kota Ambon terletak di jasirah Leitimur dan memanjang melalui
pesisir pada teluk dalam bagian luar. Di belakang pulau ini menjulang
pegunungan soya dengan uncak seperti gunung Nona dan gunung Sirimau
yang ditutupi oleh hutan dan padang rumput yang hijau subur. Dari puncak
tersebut ke arah utara dan timur laut menantang pegunungan jasirah leihitu
dengan puncak gunung salahutu dan gunung kerbau dan dilatar belakangi
pula oleh puncak tertinggi di pulau ibu yaitu pulau Seram. Kearah selatan
dan barat daya terhampar laut banda dan laut buru laksana permadani biru
yang

berkilau-kilauan.

Sungguh

suatu

pemandangan

alam

yang

mengasyikan.
Kota Ambon secara astronomis terletak antara 3 - 4 LS dan 128
- 129 BT (Kota Ambon Dalam Angka 2012). Total luas kawasan laut dan
darat Kota Ambon adalah 786 Km2, terbagi atas luas daratan 377 Km2 (48
persen) sedangkan luas perairan 4 mil laut sebesar 409,0 Km2 (52 persen),
dengan garis pantai sepanjang 102,7 Km. Kawasan pesisir dan perairan
Kota Ambon dihadapkan kepada dinamika laut Banda, terdapat dalam
bentuk teluk yang relatif tertutup (Teluk Ambon) dan yang lebih terbuka
(Teluk Baguala) serta perairan terbuka (Pantai Selatan Kota Ambon).
Adapun letak Kota Ambon secara geografis menurut Badan Pusat
Statistik Kota Ambon (2013) dibatasi, antara lain :

Tabel 5.1. Letak dan Batas Wilayah Kota Ambon


Kota

Letak Posisi

Batas Wilayah
Sebelah Utara dengan:
Desa Hitu, Hila, Kaitetu
Kecamatan Leihitu
Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Selatan dengan:


Laut Banda

M
B

3 - 4 Lintang Selatan

128 - 129 Bujur Timur

Sebelah Timur dengan:


Desa Suli
Kecamatan Salahutu
Kabupaten Maluku tengah
Sebelah Barat dengan:
Desa Hatu
Kecamatan Leihitu
Kabupaten Maluku Tengah

Sumber : Kota Ambon Dalam Angka 2013

Total luasan wilayah Kecamatan adalah sekitar 35.944,62 km2,


Wilayah Kota Ambon sebagian besar terdiri dari daerah berbukit yang
berlereng terjal seluas 186,9 km2 atau 73 persen dan daerah daratan
dengan kemiringan sekitar 10 persen seluas 55 km2 atau 17 persen dari
total luas wilayah daratan.

5.1.2.

Keadaan Iklim
Iklim di Kota Ambon adalah iklim laut tropis dan iklim musim,

karena letak pulau Ambon dikelilingi oleh laut. Oleh karena itu iklim di sini
sangat dipengaruhi oleh lautan dan berlangsung bersamaan dengan iklim
musim, yaitu musim Barat atau Utara dan musim Timur atau Tenggara.
Pergantian musim selalu diselingi oleh musim Pancaroba yang merupakan
transisi dari kedua musim tersebut.
Musim Barat umumnya berlangsung dari bulan Desember sampai
dengan bulan Maret, sedangkan pada bulan April merupakan masa transisi
ke Musim Timur yang berlangsung dari bulan Mei sampai dengan bulan
28

Oktober disusul oeh masa pancaroba pada bulan Nopember yang merupakan
transisi ke musim Barat.

5.1.3.

Pemerintahan
Wilayah Kota Ambon secara administratif pemerintahan terbagi

menjadi

lima

kecamatan

dengan

50

desa/kelurahan

berklasifikasi

swasembada. Dari jumlah tersebut sesuai dengan perkembangan Lembaga


Ketahanan Masyarakat Desa, seluruhnya telah berkategori maju.

5.1.4.

Kependudukan
5.1.4.1. Penduduk
Kota Ambon terdiri dari 30 Desa dengan total jumlah
penduduk sesuai hasil sensus penduduk Tahun 2012 adalah sekitar
354.464 jiwa. Secara keseluruhan Kota Ambon berbatasan dengan
Kabupaten Maluku Tengah. Sesuai Perda Nomor 2 Tahun 2006,
Kota Ambon memiliki lima kecamatan yaitu Kecamatan Nusaniwe,
Kecamatan Sirimau, Kecamatan Teluk Ambon, Kecamatan
Baguala, dan Kecamatan Leitimur Selatan.
Jumlah penduduk Kota Ambon pada tahun 2012 adalah
sebesar 354.464 jiwa (Tabel 5.2.). Laju pertumbuhan penduduk
Kota Ambon rata-rata per tahun dalam kurun waktu lima tahun
terakhir (2008-2012) adalah sebesar 5,65 persen.
Tabel 5.2.
Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk di Kota Ambon
Luas Area

Kecamatan

Km2

Jumlah Penduduk
Laki-Laki

L+P

Perempuan

Rasio
Jenis
Kelamin

Kepadatan
Jiwa Tiap
Km2

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

Teluk Ambon
T. A. Baguala
Leitimur Selatan
Sirimau
Nusaniwe

93,68
40,11
5.050
86,81
88,35

26,06
11,16
14,05
24,15
24,58

21 174
29 365
5 042
75 447
47 850

19 971
27 854
5 017
74 431
48 313

41 145
57 219
10 059
149 878
96 163

106,02
105,42
100,50
101,37
99,04

439,21
1 426,55
199,19
1 726,51
1 088,43

Kota Ambon

359,45

100

178 878

175 586

354 464

101,87

986,13

Sumber : Kota Ambon Dalam Angka 2013 * Hasil Tabulasi

29

Dari hasil

tersebut, diperoleh rasio jenis kelamin (Sex

Ratio) penduduk

Kota Ambon adalah 101,87. Hal ini

menggambarkan bahwa jumlah penduduk perempuan dan jumlah


penduduk laki-laki berimbang. Seiring dengan kenaikan penduduk
maka kepadatan penduduk dalam kurun waktu lima tahun (20082012) cenderung mengalami kenaikan, pada tahun 2012 tercatat
sebesar 986,13 orang/km2. Kecamatan terpadat penduduknya
adalah kecamatan Sirimau dengan 1.726,51 orang/km2, dan yang
terjarang penduduknya adalah Kecamatan Leitimur Selatan, yaitu
sebanyak 199,19 orang/km2.
Jumlah penduduk yang terus bertambah setiap tahun tidak
diimbangi dengan pemerataan penyebaran penduduk. Kepadatan
penduduk di Kecamatan yang wilayahnya sebagian besar dekat
dengan pusat kota mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi
dibandingkan

dengan

kecamatan

yang

wilayahnya

masih

merupakan daerah pedesaan. Berdasarkan data BPMP dan KB Kota


Ambon, jumlah penduduk miskin Kota Ambon pada tahun 2012
mencapai 45.071 jiwa atau 10.523 KK. Kondisi tersebut
mengakibatkan

terjadinya

kesenjangan

di

berbagai

bidang

kehidupan antara perdesaan dan perkotaan, baik di bidang sosial,


ekonomi, budaya, sarana dan prasarana, serta berbagai bidang
lainnya. Perkembangan kota sebagai pusat pertumbuhan seringkali
justru menimbulkan efek pengurasan sumber daya dari wilayah
sekitarnya (backwash effect).
5.1.4.2. Ketenagakerjaan
Tenaga kerja merupakan salah satu modal dalam
perkembangan roda pembangunan. Jumlah dan komposisi tenaga
kerja

terus

mengalami

perubahan

seiring

dengan

proses

berlangsungnya demografi.
Jumlah pencari kerja menurut jenis kelamin dan tingkat
pendidikan di Kota Ambon pada tahun 2012 dapat dilihat pada
tabel berikut ini:

30

Tabel 5.3. Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan


di Kota Ambon Tahun 2012
Tingkat
Pendidikan

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

(1)

(2)

(3)

(4)

2
21
3.680
433
1.190
5.326

1
9
3.763
622
1.795
6.190

3
30
7.443
1.055
2.985
11.516

SD ke bawah
SLTP
SLTA
Sarjana Muda
Sarjana
Total

Sumber : Kota Ambon Dalam Angka 2013

5.1.4.3. Mata Pencaharian


Mata pencaharian penduduk di Kota Ambon terbesar pada
sektor jasa-jasa, sektor perdagangan, hotel dan restoran kemudian
sektor angkutan dan komunikasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel dibawah ini:
Tabel 5.4. Penduduk Usia Kerja (15 Tahun Keatas) Yang Bekerja Menurut
Lapangan Usaha Utama dan Jenis Kelamin
di Kota Ambon Tahun 2012
Tenaga Kerja
Lapangan Usaha Utama
No.
Jumlah
Laki-Laki
Perempuan
(Sektor)
(1)

1
2
3
4
5
6
7
8
9

(2)

Pertanian
Pertambangan & Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
Angkutan & Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
T o t a l

(3)

(4)

(5)

3.063
1.146
7.119
1.925
7.549
15.110
13.798
2.687
18.828
71.225

1.684
389
3.785
695
0
18.431
417
1.084
17.453
44.118

4.927
1.535
10.904
2.620
7.549
33.541
14.215
3.771
36.281
115.343

Sumber : Kota Ambon Dalam Angka 2013


Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah penduduk
paling banyak masih bekerja di sektor jasa-jasa sebesar 36.281
jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari laki-laki sebesar 18.828 jiwa dan
perempuan sebesar 17.453 jiwa. Sektor Perdagangan, Hotel &
Restoran menempati urutan kedua dengan jumlah pekerja sebesar
33.541 jiwa.
31

5.2. Potensi Sumber Daya Alam


Kota Ambon yang terletak di kawasan timur Indonesia adalah
Ibukota Provinsi Maluku, yang lebih dikenal dengan sebutan "Daerah
Seribu Pulau", karena terdiri dari 1.027 buah pulau besar dan kecil. Letak
daerah ini sangat strategis karena terletak di titik pertemuan sirkum Pasifik
dan sirkum Mediterranean, sehingga bentangan alam flora dan faunanya
sangat unik. Potensi utama kawasan ini adalah taman lautnya yang diakui
sebagai salah satu yang terindah di dunia, keunikan budayanya dan sumber
daya alam lainnya.
Dengan ditetapkannya daerah Maluku sebagai Daerah Tujuan
Wisata ke-16, menjadikan kota Ambon sebagai pintu masuk ke daerah ini
mulai berbenah diri, baik dari segi obyek wisata, sarana maupun
prasarananya yang merupakan faktor utama dalam dunia pariwisata.
Sampai dengan Tahun 2012 di Kota Ambon terdapat 39 objek
wisata, berupa objek wisata alam 24 dan budaya 15 dengan penyebarannya
yaitu untuk Kecamatan Nusaniwe 12 objek wisata alam (Laut 10, Darat 2)
dan 2 objek wisata sejarah serta budaya. Kecamatan Sirimau, 3 objek wisata
alam (darat) serta 8 objek budaya dan sejarah. Kecamatan Baguala objek
wisata alam laut 6, Darat 1 dan Budaya serta sejarah 4. Sejumlah objek
wisata di dua Kecamatan yaitu di Kecamatan Teluk Ambon dan Kecamatan
Leitimur Selatan, belum dikembangkan.
Upaya memperkenalkan obyek wisata di kota ini adalah untuk
menarik wisatawan datang berkunjung dan untuk meningkatkan devisa bagi
pemerintah daerah. Karena aset wisata yang ada cukup potensial dan
mampu mendukung kemajuan kepariwisataan daerah ini, sehingga tujuan
untuk mewujudkan Kota Ambon sebagai pintu gerbang Daerah Tujuan
Wisata di Maluku dapat tercapai. Pengembangan pariwisata saat ini makin
penting, tidak semata-mata hanya peningkatan penerimaan devisa, tetapi
juga memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, sehingga
mampu mendorong kegiatan sektor ekonomi lainnya seperti sektor
angkutan, industri kecil/rumah tangga termasuk juga perhotelan/akomodasi.

32

Hal ini jelas terlihat dengan berkembangnya pembangunan hotel-hotel


berbintang yang telah dibangun maupun dalam tahap proses pembangunan.
Berkedudukan sebagai ibu kota provinsi yang sedang menggiatkan
pembangunan di segala bidang, Kota Ambon merupakan daya tarik bagi
penduduk daerah lain yang ingin mencari pekerjaan. Dengan banyaknya
pendatang, maka pemukiman-pemukiman baru terus dibuka. Hal inipun
dapat dibuktikan dengan perkembangan sektor Bangunan/ Kontruksi yang
dari tahun ke tahun terus meningkat.
Kota Ambon bukan seperti daerah lainnya yang memiliki sumber
daya alam yang melimpah. Kota ini adalah pusat transit perdagangan, bisnis
dan jasa. Minimnya jenis sumber daya alam di Kota Ambon, membuat
Pemerintah Kota Ambon hanya mengandalkan penerimaan dari sektor jasa.
Kota Ambon seperti umumnya kota-kota pantai lainnya di
Indonesia memiliki potensi wilayah pesisir dengan garis pantai yang
panjang dan indah. Pesisir Kota Ambon saat ini kurang mendapat perhatian
pemerintah dan investor dalam pembangunan. Pesisir Kota Ambon masih
dianggap sebagai wilayah belakang kota, belum dilihat sebagai beranda
depan kota. Sejarah Kota Ambon memperlihatkan bahwa terbentuknya
pesisir Kota Ambon adalah sama tuanya dengan keberadaan kota itu sendiri.
Lokasi pesisir pantai saat ini telah tumbuh dan berkembang dengan berbagai
kegiatan untuk memenuhi kehidupan dan penghidupan masyarakat Ambon
atau masyarakat Maluku secara umum, memiliki pencapaian yang baik dan
kondisi tempat yang menarik.

5.3. Kondisi Ekonomi Wilayah Kota Ambon


5.3.1.

Pendapatan Perkapita
Untuk melihat laju pertumbuhan pembangunan dan tingkat

kesejahteraan masyarakat di suatu daerah, maka indikator yang digunakan


adalah dengan melihat angka perkembangan PDRB perkapita. Angka ini
diperoleh dengan cara membagi jumlah PDRB dengan jumlah penduduk di
suatu daerah pada tahun yang sama.

33

Prestasi pembangunan dapat dinilai dengan berbagai macam cara


dan tolak ukur, baik dengan pendekatan ekonomi maupun pendekatan non
ekonomi.

Penilaian

berdasarkan

tinjauan

dengan

pendekatan

ekonomi

dapat

aspek

pendapatan

maupun

non

dilakukan
pendapatan.

Berdasarkan aspek pendapatan, perekonomian biasanya diukur dengan tolak


ukur pendapatan per kapita/PDRB perkapita (Dumairy, 2004:28).
Pendapatan

perkapita

merupakan

bagian

terpenting

dalam

mengukur kesejahteraan penduduk suatu daerah. Secara riil PDRB perkapita


menunjukkan kemampuan daya beli penduduk. Pada tahun 2003 PDRB
perkapita Kota Ambon Atas Dasar Harga Konstan tahun 2000 senilai
4.559.295 rupiah pada tahun 2004 menjadi 4.706.732 rupiah dengan
pertumbuhan sebesar 3,23 persen. Pada tahun 2005 pendapatan perkapita
mengalami peningkatan menjadi 4.892.984 rupiah atau meningkat sebesar
3,96 persen. Selanjutnya pada tahun 2006 hingga tahun 2008 pendapatan
perkapita terus mengalami meningkat. Pada tahun 2009 pendapatan
perkapita Kota Ambon mengalami penurunan menjadi 5.168.861 rupiah.
Dimana pendapatan sebelumnya pada tahun 2008 sebesar 5.493.099 rupiah
atau pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar -5,90 persen. Untuk
selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

No.

Tabel 5.5. Pendapatan Perkapita Kota Ambon


Tahun 2003-2012
Pendapatan Perkapita Kota Ambon
Tahun
(Rp)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Persentase

2003
4.559.295
2004
4.706.732
3,23
2005
4.892.984
3,96
2006
5.088.611
4,00
2007
5.241.531
3,01
2008
5.493.099
4,80
2009
5.168.861
-5,90
2010
4.913.427
-4,94
2011
5.098.825
3,77
2012
5.287.018
3,69
Rata-rata
5.045.038
1,74
Sumber : Kota Ambon dalam angka diolah penulis

34

Hal ini mengindikasikan terjadinya perbaikan tingkat kesejahteraan


masyarakat secara relatif selama tahun 2003 hingga 2008. Namun pada
tahun 2009 hingga 2010 terjadi penurunan. Hal ini disebabkan karena pada
tahun tersebut kontribusi sektor-sektor ekonomi terhadap PDRB Kota
Ambon mengalami penurunan. Walaupun demikian nilai PDRB perkapita
tidak

menggambarkan

tingkat

pemerataan

dalam

distribusinya

di

masyarakat. Pada tahun 2011 hingga 2012 pendapatan perkapita terus


mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar
5.045.038. Namun dilihat dari persentase pertumbuhan pada tahun 2011
pertumbuhannya sebesar 3,77 persen. Sedangkan pada tahun 2012
persentase pertumbuhannya mengalami penurunan yaitu sebesar 3,69
dengan persentase rata-rata pertumbuhan pertahun sebesar 1,74 persen.
5.3.2. Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian di suatu daerah diperoleh dari adanya berbagai
aktivitas ekonomi dengan tolak ukurnya adalah PDRB yang berupa arus
barang dan jasa. Hal ini menggambarkan adanya kemampuan suatu daerah
di dalam mengelola sumber daya yang ada yang tercermin dalam
perkembangan sektor-sektor ekonomi tersebut dalam kurun waktu tertentu.
Secara umum PDRB Kota Ambon tahun 2003-2012 berdasarkan harga
konstan Tahun 2000 cenderung mengalami fluktuasi. Nilai PDRB Kota
Ambon dari tahun 2003 terus mengalami pertumbuhan hingga tahun 2012.
Namun kita lihat periode tersebut, nilai PDRB sektor pertanian mengalami
pertubuhan bernilai positif dari tahun ke tahun. Apabila kita lihat pada
subsektor tanaman perkebunan pada tahun 2012 pertumbuhannya bernilai
negatif sebesar -19,86 persen. Sehingga dilihat dari pertumbuhan rata-rata
selama periode penelitian pertumbuhannya mengalami minus sebesar -0,79
persen.
Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih pada tahun 2009 mengalami
pertumbuhan negatif sebesar -16,88 persen. Pertumbuhan bernilai negatif ini
disebabkan oleh Subsektor Listrik yang mengalami pertumbuhan negatif
sebesar -18,04 persen. Hal ini disebabkan oleh laju peningkatan kapasistas

35

pembangkit tidak secepat dari laju permintaan sehingga margin cadangan


cenderung rendah. Di samping itu kapasitas infrastuktur transmisi distribusi
pada saat itu sudah tua dan sudah mencapai daya yang maksimal sehingga
kapasitas pembangkit yang ada menjadi tidak efektif.
Selama periode tahun penelitian sektor bangunan/kontrusi, sektor
angkutan dan komunikasi serta sektor pertambangan dan penggalian
merupakan sektor yang memiliki laju pertumbuhan rata-rata teringgi yaitu
masing 13,93 persen, 9,22 persen dan 8,25 persen.
Berdasarkan tabel 4.6, laju pertumbuhan sektor/subsektor ekonomi
periode 2003-2012 dapat kita analisis sebagai berikut:
Bila dilihat secara subsektor maka subsektor angkutan udara
memiliki rata-rata laju pertumbuhan tertinggi sebesar 17,19 persen
kemudian subsektor hotel sebesar 10,68 persen dan subsektor komunikasi
sebesar 10,54 persen. Jika diamati secara teliti dapat kita lihat laju
pertumbuhan rata-rata tertinggi dan pertumbuhan rata-rata tertinggi ketiga
ini merupakan sumbangan dari sektor angkutan dan komunikasi. Subsektor
yang memiliki laju pertumbuhan stabil setiap tahunnya adalah subsektor
perikanan dan subsektor angkutan jalan raya. Kedua subsektor ini memiliki
laju pertumbuhan yang cenderung meningkat, walaupun ada penurunan
namun tidak mempengaruhi penurunan yang dratis. Jika diamati rata-rata
laju pertumbuhan kedua subsektor ini, subsektor perikanan memiliki ratarata laju pertumbuhan lebih baik karena mampu meningkat lebih tinggi dari
rata-rata laju pertumbuhan sektor pertanian.
Laju pertumbuhan PDRB Kota Ambon sebagaimana dapat dilihat
dalam grafik pada tabel sebagai berikut :

36

Lapangan Usaha
1
Pertanian
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
2 Pertambangan & Penggalian
a. Pertambangan
b. Penggalian
Primer
3 Industri Pengolahan
a.
Industri Tanpa Migas
4 Listrik, Gas & Air Bersih
a. Listrik
b. Air Bersih
5 Bangunan/ Kontruksi
Sekunder
6 Perdagangan, Hotel & Restoran
a. Perdagangan Besar Eceran
b. Hotel
c. Restoran
7 Angkutan & Komunikasi
A. Angkutan
a. Angkutan Jalan Raya
b. Angkutan Laut
c. Angkutan Penyeberangan
d. Angkutan Udara
e. Jasa Penunjang Angkutan
B. Komunikasi
8 Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c. Sewa Bangunan
d. Jasa Perusahaan
9 Jasa-jasa
i. Pemerintahan Umum & Pertahanan
ii. Swasta
a. Jasa Sosial Kemasyarakatan
b. Hiburan & Rekreasi
c. Perorangan dan Rumah Tangga
Tersier
PDRB
Sumber: BPS Kota Ambon, Kota Ambon Dalam Angka
diolah penulis

2003
2

2004
3
3,09
2,12
1,43
2,61
0,03
3,24
5,14
5,14
3,10
7,25
7,25
8,09
8,51
2,61
6,31
7,25
5,48
5,36
7,74
5,94
14,57
14,70
3,66
3,20
10,71
44,47
9,97
12,18
3,74
4,61
2,60
3,47
7,34
3,21
3,17
3,91
2,68
6,45
4,58
6,33
5,73

2005
4
3,82
2,26
1,45
2,15
1,77
4,07
5,67
5,67
3,83
2,94
2,94
6,65
7,03
1,35
6,75
4,44
6,38
6,37
6,93
6,08
12,50
12,26
3,52
2,80
12,83
29,77
10,03
16,84
3,99
4,71
3,10
3,73
6,98
4,71
4,75
4,09
2,84
7,47
4,52
6,88
6,22

2006
5
3,80
2,40
1,51
2,29
1,32
4,03
5,91
5,91
3,81
5,71
5,71
7,23
7,49
3,47
7,81
6,32
6,94
6,95
7,36
6,43
11,28
10,45
3,75
4,65
13,41
19,42
10,67
25,79
4,88
5,01
4,63
4,82
7,03
5,00
5,06
4,14
3,04
7,54
4,38
7,06
6,43

2007
6
4,31
2,38
1,35
3,24
1,14
4,59
5,10
5,10
4,31
9,06
9,06
6,98
7,23
3,22
7,61
8,33
6,88
6,95
7,74
5,02
8,65
8,28
3,73
8,05
13,33
10,81
9,86
14,25
5,16
5,23
5,62
4,93
3,95
5,56
5,67
3,90
2,72
6,89
4,28
6,68
6,31

2008
7
4,00
0,26
1,28
2,93
0,96
4,45
5,12
5,12
4,01
8,49
8,49
1,42
1,37
2,23
7,80
6,85
6,59
6,61
7,99
5,12
6,44
6,27
3,71
5,79
7,66
8,11
6,49
8,80
5,44
5,77
5,75
5,04
4,69
6,18
6,38
3,12
1,76
6,07
3,65
6,29
5,91

2009
8
4,86
0,19
1,21
3,05
0,78
5,41
5,19
5,19
4,86
7,55
7,55
-16,88
-18,04
1,30
8,72
2,84
6,22
6,34
4,81
5,23
4,87
4,84
5,27
3,56
2,27
6,35
1,08
5,34
5,61
5,99
6,01
5,15
4,13
6,36
6,67
1,29
0,71
5,95
0,54
5,87
5,58

2010
9
8,50
1,86
0,71
4,04
0,07
9,34
13,84
13,84
8,53
4,36
4,36
7,66
7,95
3,94
56,74
15,70
5,91
4,62
36,14
5,59
10,25
10,97
8,94
5,54
8,84
16,19
6,81
0,21
2,15
1,06
0,33
3,92
2,26
3,71
3,75
2,97
3,94
2,17
2,27
5,84
6,65

2011
10
2,18
1,87
3,81
7,91
0,07
2,04
13,77
13,77
2,26
14,75
14,75
7,79
7,69
9,09
15,91
14,01
6,05
6,24
5,58
3,12
6,54
6,77
7,17
0,72
3,13
10,08
5,04
3,01
2,80
1,73
3,07
3,51
3,67
10,09
10,57
1,81
2,58
2,90
0,73
7,20
6,58

2012
11
9,00
6,71
-19,86
7,86
0,06
9,68
14,50
14,50
9,04
10,38
10,38
7,65
7,65
7,62
7,74
9,24
9,88
9,87
11,80
8,09
7,86
7,83
5,41
7,41
9,83
9,54
6,10
8,44
4,70
7,24
4,29
2,83
5,52
9,36
9,75
2,11
0,02
3,26
3,87
8,69
8,77

Rata-Rata
12
4,84
2,23
-0,79
4,01
0,69
5,21
8,25
8,25
4,86
7,83
7,83
4,07
4,10
3,87
13,93
8,33
6,70
6,59
10,68
5,62
9,22
9,15
5,02
4,64
9,11
17,19
7,34
10,54
4,27
4,59
3,93
4,16
5,06
6,02
6,20
3,04
2,25
5,41
3,20
6,76
6,46

37

Tabel 5.6. Laju Pertumbuhan PDRB Kota Ambon Atas Dasar Harga Konstan
Menurut Lapangan Usaha Tahun 2003 - 2012

Tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata pertahun Kota Ambon dan


Provinsi Maluku selama periode penelitian mengalami kenaikan dan
penurunan baik sektor maupun subsektor menurut lapangan usaha. Untuk
pertumbuhan ekonomi Kota Ambon selama periode penelitian mengalami
pertumbuhan yang positif dan negatif, sedangkan pertumbuhan ekonomi
Provinsi Maluku juga mengalami pertumbuhan baik positif maupun negatif.
Secara lengkap tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata pertahun Kota
Ambon dan Provinsi Maluku menurut lapangan usaha tahun 2003-2012
seperti terlihat pada tabel 5.7.

38

Tabel 5.7. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi


Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan
Kota Ambon dan Provinsi Maluku Tahun 2003 - 2012 (jutaan rupiah)
Kota Ambon
Lapangan Usaha
1

3
4

5
6

Provinsi Maluku

2003

2012

Ratarata

2003

2012

Ratarata

Pertanian
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan & Hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a. Pertambangan
b. Penggalian
Industri Pengolahan
a. Industri Tanpa Migas
Listrik, Gas & Air Bersih
a. Listrik
b. Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a. Perdagangan Besar Eceran
b. Hotel
c. Restoran
Angkutan & Komunikasi
A. Angkutan
a. Angkutan Jalan Raya
b. Angkutan Laut
c. Angkutan Penyeberangan
d. Angkutan Udara
e. Jasa Penunjang Angkutan
B. Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a. Bank
b. Lemb. Keuangan Tanpa Bank
c. Sewa Bangunan
d. Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i. Pemerintahan Umum & Pert.
ii.Swasta
a. Jasa Sosial Kemasyarakatan
b. Hiburan & Rekreasi
c. Perorangan dan RT

230.930,76
20.846,53
3.983,56
5.676,94
364,45
200.059,28
1.391,44
0,00
1.391,44
24.775,08
24.775,08
8.547,62
7.942,24
605,38
7.842,79
284.730,46
259.003,25
10.782,62
14.944,59
189.940,34
179.768,72
65.793,85
47.053,40
9.714,89
42.093,93
15.112,65
10.171,62
104.194,34
36.413,25
21.353,83
45.107,83
1.319,43
337.302,41
316.597,77
20.704,64
9.474,29
2.219,06
9.011,29

352.601,30
25.384,61
3.622,18
8.085,23
387,60
315.121,68
2.830,17
0,00
2.830,17
48.641,22
48.641,22
11.904,64
11.054,91
849,73
23.550,52
510.255,86
459.679,31
26.135,78
24.440,77
418.638,27
394.057,00
102.093,37
70.606,13
21.170,73
171.694,79
28.491,98
24.581,27
151.766,80
54.474,45
30.179,20
65.057,45
2.055,70
569.712,74
542.624,30
27.088,44
11.573,46
3.560,31
11.954,66

4,81
2,21
(1,05)
4,01
0,69
5,18
8,21
0,00
8,21
7,78
7,78
3,75
3,74
3,84
12,99
6,70
6,58
10,34
5,62
9,18
9,11
5,10
4,61
9,04
16,91
7,30
10,30
4,27
4,58
3,92
4,15
5,05
6,00
6,17
3,03
2,25
5,39
3,19

1.029.450,16
264.691,02
214.495,22
36.711,87
54.694,94
458.857,11
25.260,22
14.298,34
10.961,88
142.165,09
142.165,09
15.946,09
14.181,07
1.765,02
37.369,87
719.658,30
687.894,41
11.663,01
20.100,88
257.266,28
244.985,49
97.978,77
69.493,55
15.872,19
44.212,58
17.428,40
12.280,79
168.612,35
43.036,31
25.674,66
98.342,61
1.558,77
574.737,34
521.228,01
53.509,33
34.076,29
2.318,97
17.114,07

1.458.218,14
342.100,68
288.994,67
51.895,12
51.618,27
723.609,40
38.200,78
17.357,39
20.843,39
234.164,31
234.164,31
23.222,39
20.795,92
2.426,47
93.285,97
1.282.675,22
1.222.148,74
27.610,12
32.916,36
527.268,12
498.456,43
152.003,85
103.203,96
34.483,97
176.517,67
32.246,98
28.811,69
243.013,48
63.965,67
36.014,02
140.638,89
2.394,90
961.301,55
889.331,73
71.969,82
45.379,93
3.716,29
22.873,61

3,94
2,89
3,37
3,92
(0,64)
5,19
4,70
2,18
7,40
5,70
5,70
4,27
4,35
3,60
10,70
6,63
6,60
10,05
5,63
8,30
8,21
5,00
4,50
9,00
16,63
7,08
9,94
4,14
4,50
3,83
4,05
4,89
5,88
6,12
3,35
3,23
5,38
3,28

PDRB

1.189.655,24

2.089.901,52

6,46

2.970.465,70

4.861.349,96

5,63

Sumber, Data BPS Kota Ambon, diolah penulis


Berdasarkan tabel di atas, dapat kita lihat bahwa tingkat
pertumbuhan ekonomi wilayah Kota Ambon periode 2003-2012 mengalami
peningkatan dengan laju pertumbuhan rata-rata 6,46 persen lebih tinggi
dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku
sebesar 5,63 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi rata-rata pertahun
39

dilihat baik secara sektor/subsektor pada Kota Ambon dan Provinsi Maluku
periode 2003-2012 dapat kita analisis sebagai berikut:
- Sektor Pertanian:
Pertumbuhan rata-rata sektor pertanian pada Kota Ambon 4,81 persen
dan untuk pertumbuhan rata-rata sektor ekonomi untuk Provinsi Maluku
3,94 persen. Dengan demikian secara keseluruhan pertumbuhan sektor
Pertanian Kota Ambon lebih tinggi.
Apabila kita lihat menurut subsektor, subsektor peternakan dan hasilhasilnya dan subsektor kehutanan Kota Ambon memiliki pertumbuhan
rata-rata lebih baik dibandingkan dengan tingkat provinsi. Subsektor
peternakan dan hasil-hasilnya di Kota Ambon sebesar 4,01 persen lebih
tingi

dibandingkan

dengan

Provinsi

Maluku

yang

mengalami

pertumbuhan rata-rata 3,92 persen. Subsektor kehutanan Kota Ambon


rata-rata pertumbuhannya sebesar 0,69 sedangkan pertumbuhan rata-rata
di tingkat provinsi sebesar -0,64 persen. Sedangkan subsektor yang lain
di Kota Ambon memiliki pertumbuhan rata-rata dibawah pertumbuhan
subsektor yang sama pada Provinsi Maluku.
- Pertambangan dan Penggalian
Pertumbuhan rata-rata sektor Pertambangan dan Penggalian Kota Ambon
8,21 persen lebih tinggi dari pertumbuhan Provinsi Maluku yang hanya
mencapai 4,70 persen. Penerimaan pada sektor pertambangan dan
penggalian Kota Ambon hanya didukung oleh subsektor penggalian, hal
ini sebabkan karena Kota Ambon tidak memiliki sumberdaya alam dari
pertambangan. Sehingga pertumbuhan rata-rata sektor ini pada Kota
Ambon lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan rata-rata Provinsi Maluku
didominasi atau hanya didukung oleh subsektor penggalian.
- Industri Pengolahan
Untuk sektor Industri Pengolahan, Kota Ambon memiliki pertumbuhan
rata-rata 7,78 persen lebih baik atau lebih tinggi dibandingkan dengan
pertumbuhan rata-rata Provinsi Maluku yang hanya mencapai 5,70
persen.

40

- Listrik, Gas dan Air Bersih


Pertumbuhan rata-rata untuk sektor Listrik, Gas dan Air Bersih pada
Kota Ambon lebih rendah dibandingkat dengan pertumbuhan rata-rata di
tingkat provinsi. Sedangkan dilihat dari subsektor, hanya subsektor air
bersih di kota Ambon pertumbuhan rata-ratanya lebih baik dibandingkan
di tingkat provinsi. Hanya subsektor listrik di Kota Ambon angka
pertumbuhannya lebih rendah atau lembih lambat dari pertumbuhan
Provinsi Maluku.
- Bangunan/Kontruksi
Pertumbuhan rata-rata untuk sektor Bangunan/Kontruksi di Kota Ambon
sebesar 12,99 persen, ini merupakan pencapaian yang lebih tinggi dari
pertumbuhan rata-rata Provinsi Maluku yang hanya mencapai 10,70
persen.
- Perdagangan Hotel dan Restoran.
Pertumbuhan rata-rata sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Kota
Ambon lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata Provinsi Maluku. Bila
diamati secara subsektor pertumbuhan sektor ini lebih baik dari provinsi
hanya didukung oleh sub sektor hotel. Sedangkan subsektor perdagangan
besar dan eceran dan subsektor restoran tingkat pertumbuhan rata-ratanya
lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan rata-rata Provinsi
Maluku.
- Angkutan dan Komunikasi
Pertumbuhan rata-rata untuk sektor Angkutan dan Komunikasi di Kota
Ambon sebesar 9,18 persen, ini merupakan pencapaian yang lebih tinggi
dari pertumbuhan rata-rata Provinsi Maluku yang hanya mencapai 8,30
persen.

Apabila

dilihat

menurut

subsektor,

secara

keseluruhan

pertumbuhan rata-rata di Kota Ambon, pertumbuhannya lebih tinggi atau


lebih baik dibandingkan Provinsi Maluku.
- Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
Pertumbuhan rata-rata sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
di Kota Ambon baik dilihat dari sektor maupun subsektor lebih tinggi
dibandingkan dengan pertumbuhan rata-rata pada Provinsi Maluku.

41

- Jasa-jasa
Pertumbuhan rata-rata sektor Jasa-jasa di Kota Ambon sebesar 6,00
persen lebih tinggi dibandingkan dengan Provinsi Maluku sebesar 5,88
persen. Jika dilihat menurut subsektor, pertumbuhan rata-rata Kota
Ambon pada subsektor Pemerintahan Umum dan Pertahanan di Kota
Ambon memiliki pertumbuhan rata-rata lebih tinggi dari Provinsi
maluku. Sedangkan subsektor Swasta di Kota Ambon memeliki
pertumbuhan rata-rata sebesar 3,03 persen lebih rendah dari Provinsi
Maluku yang mencapai 3,35 persen. Apabila dilihat dari subsektor
bagian, subsektor bagian Jasa Sosial Kemasyarakatan dan subsektor
bagian Perorangan dan Rumah Tangga di Kota Ambon pertumbuhan
rata-ratanya lebih rendah dari pertumbuhan rata-rata Provinsi Maluku.
Hanya subsektor Hiburan dan rekreasi pada Kota Ambon pertumbuhan
rata-rata sebesar 5,39 persen lebih tinggi terpaut 0,01 persen dari Provinsi
Maluku sebesar 5,38 persen.
Secara keseluruhan dapat dilihat pertumbuhan rata-rata PDRB di
Kota Ambon sebesar 6,46 persen lebih tinggi atau lebih baik
dibandingkan dengan Provinsi Maluku sebesar 5,63 persen.

5.4. Karakteristik Struktur dan Pola Pertumbuhan Perekonomian


5.4.1. Karakteristik Struktur Perekonomian
Struktur ekonomi dapat menggambarkan kemajuan suatu daerah.
Semakin maju perekonomian suatu daerah maka kontribusi sektor/subsektor
menunjukkan peningkatan. Di Indonesia struktur ekonomi biasanya dilihat
dengan pendekatan makro sektoral, yaitu berdasarkan kontribusi sektor
ekonomi terhadap pembentukan PDRB.
Pada tabel 5.8. dapat dilihat bahwa kontribusi terbesar dalam
PDRB Kota Ambon selama kurun waktu tahun 2003-2012 terdapat dua
sektor adalah sektor jasa-jasa, sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Sektor jasa-jasa dalam kurun waktu 2003-2012 memberi kontribusi antara di
atas 26 persen namun masih di bawah 29 persen tiap tahunnya. Sektor
perdagangan, hotel dan restoran memberi kontribusi di atas 23 persen
42

hingga 24,42 persen. Kemudian disusul oleh sektor angkutan dan


komunikasi yang mampu memberi kontribusi sebesar 15,96 persen pada
tahun 2003 hingga mencapai 20,03 persen pada tahun 2012 dengan
kontribusi rata-rata sebesar 19 persen. Sedangkan untuk sektor pertanian
memberi kontribusi antara 16 persen hingga mencapai dibawah 20 persen.
Sedangkan sektor sisanya hanya memberi kontribusi dibawah 9 persen
dalam PDRB Kota Ambon.
Kemampuan sektor jasa di Kota Ambon dalam menunjang
pembangunan melalui PDRB, dapat terlihat sejak tahun 2003-2012, di mana
telah terjadi perubahan struktur ekonomi yang tercermin pada perubahan
kontribusi masing-masing sektor dalam menyumbang terhadap PDRB.
Kontribusi sektor-sektor dalam mendukung ekonomi kota Ambon
tidak lepas dari peran subsektor. Subsektor yang memberikan kontribusi
terbesar adalah subsektor pemerintahan umum dan pertahanan, subsektor
perdagangan besar dan eceran, subsektor Angkutan dan subsektor
Perikanan. Hal ini disebabkan karena Kota Ambon merupakan Ibukota
Provinsi Maluku, dan sekaligus sebagai pusat pemerintahan, terdapat pusatpusat lembaga keuangan dan bank, militer, kepolisian, pendidikan, pusat
perdagangan dan jasa lainnya.
Dari hasil analisis menunjukkan bahwa, sektor Jasa-jasa, sektor
Perdagangan, Hotel & Restoran, sektor Angkutan & Komunikasi sangat
potensial untuk dikembangkan di Kota Ambon. Hal ini disebabkan Kota
Ambon sejak keluar dari krisis global dan baru saja bangkit dari adanya
konflik sosial yang berkepanjangan telah membuat keberadaan sektor Jasajasa dan sektor Perdagangan, Hotel & Restoran, Angkutan dan Komunikasi
mulai tumbuh subur. Bertumbuhnya sektor-sektor ini mulai jelas terlihat
dengan adanya hotel-hotel berbintang yang ada, jalur transportasi (laut,
darat dan udara) penghubung antara Kota Ambon dengan kabupaten/kota di
Provinsi Maluku maupun provinsi lainnya yang semakin lancar dan
berkembang.
Gambaran umum mengenai kontribusi sektor/subsektor pada
PDRB Kota Ambon dapat dilihat pada Tabel 5.8 di bawah ini.

43

Tabel 5.8. Presentase Kontribusi PDRB Kota Ambon Atas Dasar Harga Konstan
Menurut Lapangan Usaha Tahun 2003 - 2012
2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

Rata-rata

Sektor

PDRB

Sektor

PDRB

Sektor

PDRB

Sektor

PDRB

Sektor

PDRB

Sektor

PDRB

Sektor

PDRB

Sektor

PDRB

Sektor

PDRB

Sektor

PDRB

Sektor

PDRB

100,00
8,20
1,51
2,34
0,14
87,81
100,00
100,00
100,00

17,85
1,47
0,27
0,42
0,03
15,67
0,12
0,12
2,14

100,00
100,00
93,30
6,70
100,00
100,00
90,66
4,25
5,09
100,00
94,03
27,47
19,72

2,14
0,67
0,62
0,05
0,81
24,16
21,90
1,03
1,23
19,00
17,86
5,12
3,68
0,97
6,70
1,39
1,14
8,12
2,88
1,64
3,50
0,11
27,14
25,58
1,56
0,68
0,19
0,68

Pertanian
a.Tanaman Bahan Makanan
b.Tanaman Perkebunan
c.Peternakan dan Hasil-hasilnya
d.Kehutanan
e.Perikanan

100,00
9,03
1,73
2,46
0,16
86,62

19,41
1,75
0,33
0,48
0,03
16,82

100,00
8,94
1,70
2,45
0,15
86,76

18,92
1,69
0,32
0,46
0,03
16,42

100,00
8,81
1,66
2,40
0,15
86,98

18,50
1,63
0,31
0,45
0,03
16,08

100,00
8,69
1,62
2,37
0,15
87,17

18,05
1,57
0,29
0,43
0,03
15,73

100,00
8,53
1,58
2,35
0,14
87,40

17,71
1,51
0,28
0,42
0,03
15,47

100,00
8,22
1,54
2,32
0,14
87,78

17,38
1,43
0,27
0,40
0,02
15,26

100,00
7,86
1,48
2,28
0,13
88,25

17,27
1,36
0,26
0,39
0,02
15,24

100,00
7,38
1,38
2,19
0,12
88,93

17,56
1,30
0,24
0,38
0,02
15,62

100,00
7,35
1,40
2,32
0,12
88,81

16,84
1,24
0,24
0,39
0,02
14,95

100,00
7,20
1,03
2,29
0,11
89,37

16,87
1,21
0,17
0,39
0,02
15,08

Pertambangan & Penggalian


a.Pertambangan
b.Penggalian

100,00
100,00

0,12
0,12

100,00
100,00

0,12
0,12

100,00
100,00

0,12
0,12

100,00
-

0,12
0,12

100,00
100,00

0,11
0,11

100,00
100,00

0,11
0,11

100,00
-

0,11
0,11

100,00
100,00

0,12
0,12

100,00
100,00

0,13
0,13

100,00
100,00

0,14
0,14

Industri Pengolahan
a. Industri Tanpa Migas

100,00
100,00

2,08
2,08

100,00
100,00

2,11
2,11

100,00
100,00

2,05
2,05

100,00

100,00
100,00

2,09
2,09

100,00
100,00

2,14
2,14

100,00
100,00

2,13
2,13

100,00
100,00

2,29
2,29

100,00
100,00

2,33
2,33

Listrik, Gas & Air Bersih


a.Listrik
b.Air Bersih

100,00
92,92
7,08

0,72
0,67
0,05

100,00
93,28
6,72

0,73
0,68
0,05

100,00
93,61
6,39

0,74
0,69
0,05

0,75
0,70
0,05

100,00
94,05
5,95

0,74
0,70
0,04

100,00
94,00
6,00

0,72
0,67
0,05

100,00
100,00
92,69
7,31

2,18
2,18

100,00
100,00
93,83
6,17

2,03
2,03

0,56
0,52
0,04

100,00
92,94
7,06

0,57
0,53
0,04

100,00
92,86
7,14

0,58
0,53
0,04

100,00
92,86
7,14

0,57
0,53
0,04

Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a.Perdagangan Besar Eceran
b.Hotel
c.Restoran

100,00
100,00
90,96
3,79
5,25

0,66
23,93
21,76
0,91
1,26

100,00
100,00
90,86
3,87
5,27

0,66
23,88
21,70
0,92
1,26

100,00
100,00
90,86
3,88
5,26

0,67
23,91
21,72
0,93
1,26

100,00
100,00
90,87
3,90
5,23

0,67
24,03
21,83
0,94
1,26

100,00
100,00
90,92
3,94
5,14

0,68
24,16
21,97
0,95
1,24

100,00
100,00
90,94
3,99
5,07

0,69
24,31
22,11
0,97
1,23

100,00
100,00
91,04
3,94
5,02

0,71
24,46
22,27
0,96
1,23

100,00
100,00
89,93
5,06
5,01

1,05
24,29
21,84
1,23
1,22

100,00
100,00
90,10
5,03
4,87

1,14
24,17
21,78
1,22
1,18

100,00
100,00
90,09
5,12
4,79

1,13
24,42
22,00
1,25
1,17

Angkutan & Komunikasi


A. Angkutan
a.Angkutan Jalan Raya
b.Angkutan Laut

100,00
94,64
34,64
24,77

15,97
15,11
5,53
3,96

100,00
94,76
31,34
22,31

17,30
16,39
5,42
3,86

100,00
94,55
28,84
20,39

18,32
17,32
5,28
3,74

100,00
93,84
26,89
19,17

19,15
17,97
5,15
3,67

100,00
93,53
25,67
19,07

19,58
18,31
5,03
3,73

100,00
93,38
25,01
18,95

19,68
18,38
4,92
3,73

100,00
93,35
25,11
18,72

19,55
18,25
4,91
3,66

100,00
93,96
24,81
17,92

20,21
18,99
5,01
3,62

100,00
94,16
26,50
17,99

20,20
19,02
5,04
3,42

100,00
94,13
25,91
17,92

20,03
18,86
4,89
3,38

c.Angkutan Penyeberangan
d.Angkutan Udara
e.Jasa Penunjang Angkutan

5,11
22,16
7,96

0,82
3,54
1,27

4,94
28,52
7,64

0,86
4,93
1,32

4,96
32,90
7,47

0,91
6,03
1,37

5,05
35,30
7,43

0,97
6,76
1,42

5,27
36,01
7,51

1,03
7,05
1,47

5,33
36,57
7,52

1,05
7,20
1,48

5,20
37,09
7,24

1,02
7,25
1,42

5,13
39,09
7,02

1,04
7,90
1,42

5,27
42,89
7,35

1,00
8,16
1,40

5,37
43,57
7,23

1,01
8,22
1,36

B.Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a.Bank
b.Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c.Sewa Bangunan
d.Jasa Perusahaan

5,36
100,00
34,95
20,49
43,29
1,27

0,86
8,76
3,06
1,79
3,79
0,12

5,24
100,00
35,24
20,27
43,18
1,31

0,91
8,59
3,03
1,74
3,71
0,11

5,45
100,00
35,48
20,09
43,08
1,35

1,00
8,41
2,99
1,69
3,62
0,11

6,16
100,00
35,52
20,05
43,05
1,38

1,18
8,29
2,95
1,66
3,57
0,11

6,47
100,00
35,55
20,14
42,95
1,36

1,27
8,20
2,92
1,65
3,52
0,11

6,62
100,00
35,66
20,19
42,79
1,36

1,30
8,17
2,91
1,65
3,49
0,12

6,65
100,00
35,79
20,27
42,61
1,33

1,30
8,17
2,92
1,66
3,48
0,11

6,04
100,00
35,41
19,91
43,35
1,33

1,22
7,82
2,77
1,56
3,39
0,10

5,84
100,00
35,04
19,96
43,66
1,34

1,18
7,54
2,64
1,51
3,29
0,10

5,87
100,00
35,89
19,89
42,87
1,35

1,18
7,26
2,61
1,44
3,11
0,10

Jasa-jasa
i.Pemerin. Umum & Pertahanan
ii.Swasta
a.Jasa Sosial Kemasyarakatan
b.Hiburan & Rekreasi

100,00
93,86
6,14
2,81
0,66

28,35
26,61
1,74
0,80
0,19

100,00
93,82
6,18
2,79
0,68

27,69
25,97
1,72
0,78
0,19

100,00
93,86
6,14
2,74
0,70

27,28
25,60
1,68
0,75
0,19

100,00
93,91
6,09
2,69
0,71

26,91
25,28
1,63
0,72
0,19

100,00
94,00
6,00
2,62
0,73

26,73
25,13
1,60
0,70
0,19

100,00
94,18
5,82
2,52
0,72

26,80
25,24
1,56
0,67
0,19

100,00
94,45
5,55
2,38
0,72

26,99
25,49
1,50
0,64
0,19

100,00
94,49
5,51
2,38
0,72

26,25
24,80
1,45
0,63
0,19

100,00
94,91
5,09
2,22
0,66

27,11
25,73
1,38
0,60
0,18

100,00
95,25
4,75
2,03
0,62

27,26
25,96
1,30
0,55
0,17

5,16
35,41
7,44
5,97
100,00
35,45
20,13
43,08
1,34
100,00
94,27
5,73
2,52
0,69

c.Perorangan & Rumah Tangga

2,67

0,76

2,71

0,75

2,70

0,74

2,29

0,72

2,65

0,71

2,59

0,69

2,45

0,66

2,41

0,63

2,21

0,60

2,10

0,57

2,48

Sumber: BPS Kota Ambon, Kota Ambon Dalam Angka


diolah penulis

100,00
100,00

44

Lapangan Usaha

Pada tahun 2003-2005 sektor pertanian merupakan penyumbang


ketiga terbesar terhadap PDRB, namun pada tahun 2006-2011 kontribusi
sektor pertanian mengalami penurunan. Sedangkan untuk sektor Angkutan
dan Komunikasi pada tahun 2003-2005 merupakan penyumbang keempat
setelah sektor pertanian. Namun pada tahun 2006-2010 kontribusi sektor ini
mengalami peningkatan seiring dengan penurunan kontribusi dari sektor
pertanian. Sehingga pada tahun 2006-2012 kontribusi sektor angkutan dan
komunikasi naik menjadi penyumbang terhadap PDRB pada urutan ketiga
terbesar dan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB turun ke posisi
keempat. Dari hasil pengamatan, jelas telah terjadi perubahan atau
pergeseran struktur ekonomi di Kota Ambon selama periode penelitian dari
sektor Pertanian ke sektor Angkutan dan Komunikasi atau dari sektor
pertanian ke sektor non pertanian.
Perubahan struktur atau pergeseran struktur di Kota Ambon ini
diakibatkan oleh:
1. Berkedudukan sebagai ibukota provinsi, pusat perdagangan, pusat
pendidikan, pusat pemerintahan dan pendidikan merupakan daya tarik
bagi pendatang. Sehingga semakin bertambahnya jumlah penduduk maka
bertambah pula kebutuhan akan tempat tinggal. Sehingga hutan atau
areal pertanian digusur dan dibangun tempat pemukiman atau
perumahan.
2. Pendapatan dari sektor pertanian yang rendah dan tergantung dari hasil
panen dan waktu panen mengakibatkan petani beralih menjadi pekerja
pada sektor lainnya. Hal ini terlihat tahun 2012, sektor jasa-jasa di Kota
Ambon yang mampu menyerap penduduk usia kerja (15 tahun keatas)
sebesar 36.281 tenaga kerja atau 31,45 persen. Sektor perdagangan hotel
dan restoran mampu menyerap 33.541 tenaga kerja atau sebesar 29,08
persen serta sektor angkutan dan komunikasi 14.215 tenaga kerja atau
12,32 persen (tabel 5.4).
3. Kontribusi terbesar dari sektor pertanian (sektor primer) berasal dari
subsektor perikanan, namun kontribusinya dari tahun ke tahun
mengalami penurunan walaupn relatif kecil. Sedangkan ketersediaan

45

sumber daya alam yang ada di darat terbatas sehingga sektor pertanian
dan sektor pertambangan dan penggalian (sektor primer) hanya mampu
memberikan kontribusi terhadap PDRB dibawah 1 (satu) persen. Hanya
subsektor tanaman bahan makanan yang mampu memberikan kontribusi
di atas 1 (satu) persen namun kontribusinya dari tahun ke tahun
mengalami penurunan. Sejalan dengan hal di atas, dapat dilihat bahwa
untuk kebutuhan masyarakat Kota Ambon seperti, sayuran, buah-buahan,
daging ayam dan kayu olahan harus didatangkan dari daerah lain.
4. Pola komsumsi masyarakat yang telah bergeser (mengalami perubahan)
dari komsumsi makanan pokok, umbi-umbian ke komsumsi lainnya
seperti beras. Perubahan ini terjadi karena dengan meningkatnya
pendapatan masyarakat maka komposisi barang yang dikonsumsi
mengalami perubahan, proporsi dalam konsumsi barang kebutuhan
pokok menurun sedangkan proporsi barang bukan kebutuhan pokok
meningkat.
5. Dari berbagai masalah di atas, muncul paradigma atau pandangan dari
para petani agar generasi penerusnya untuk meneruskan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi. Dengan demikian, muncul suatu harapan agar
generasi penerusnya tidak lagi bekerja sebagai petani dan bisa bekerja
pada lapangan pekerjaan sesuai dengan pendidikan yang ditekuni.
Meskipun demikian, apabila dilihat besaran angka pergeseran
persektor, maka keberadaan sektor lainnya tidak dapat diabaikan. Apalagi
jika pengamatan lebih difokuskan pada potensi subsektor dalam menunjang
struktur ekonomi regional di Kota Ambon. Oleh karena itu, studi mengenai
upaya peningkatan potensi ekonomi dalam menunjang struktur ekonomi
regional Kota Ambon dirasa perlu dilakukan.
Dengan demikian, hasil analisis penelitian menunjukan bahwa, di
Kota Ambon telah terjadi pergeseran atau perubahan struktur dari sektor
pertanian ke sektor jasa-jasa. Hasil penelitian ini juga didukung oleh teori
yang dikemukakan oleh Todaro (2000:122). Menyatakan bahwa proses
pertumbuhan

ekonomi

struktural dan sektoral

mempunyai

kaitan

erat dengan perubahan

yang tinggi. Beberapa perubahan komponen

46

utama struktural ini mencakup pergeseran secara perlahan-lahan dari


aktivitas pertanian ke sektor non pertanian dan dari sektor industri ke
sektor jasa. Suatu wilayah yang sedang berkembang proses pertumbuhan
ekonominya akan tercermin dari pergeseran sektor ekonominya, yaitu peran
sektor pertanian dalam PDB atau PDRB akan mengalami pertumbuhan
lebih lambat atau mengalami penurunan, sedangkan peran sektor non
pertanian pertumbuhannya lebih cepat atau semakin meningkat.
Hasil penelitian ini juga berbeda dengan hasil penelitian terdahulu.
Fachrurrazy tahun 2008, dengan judul Analisis Penentuan Sektor Unggulan
Perekonomian Wilayah Kabupaten Aceh Utara Dengan Pendekatan Sektor
Pembentuk PDRB. Penelitian ini menggunakan alat analisis Klassen
Tipology, analisis Location Quotient (LQ) dan analisis Shift Share.
Menyimpulkan bahwa, hasil analisis persektor berdasarkan ketiga alat
analisis menunjukan bahwa sektor yang merupakan sektor unggulan di
Kabupaten Aceh Utara dengan kriteria sektor maju dan tumbuh pesat, sektor
basis, dan kompetitif adalah sektor pertanian. Sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda yang
menyebabkan potensi akan sektor-sektor penunjang perekonomian juga
berbeda.
5.4.2.

Pola Pertumbuhan Perekonomian


Upaya pemerintah untuk meningkatkan pendapatan perkapita,

pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu target yang sangat penting yang
harus dicapai dalam proses pembangunan. Dengan kata lain pertumbuhan
ekonomi dapat mencerminkan kinerja perekonomian suatu daerah. Pola
pertumbuhan perekonomian daerah sangat penting diidentifikasi dan
kemudian diklasifikasi guna mengetahui seberapa besar dampak atau
pengaruh kinerja sektor-subsektor ekonomi tersebut sebagai penunjang
pembangunan daerah.
5.4.2.1. Analisis Shift Share
Analisis Shift Share digunakan untuk mengetahui proses
pertumbuhan

ekonomi

Kota

Ambon

dikaitkan

dengan

perekonomian daerah yang menjadi referensi, yaitu Provinsi

47

Maluku. Analisis Shift Share dalam penelitian ini menggunakan


variabel pendapatan, yaitu PDRB untuk menguraikan pertumbuhan
ekonomi Kota Ambon.
a.

Rasio PDRB Kota Ambon dan PDRB Provinsi Maluku


(Rn, Rin, dan Rij) Tahun 2003-2012
Jika nilai PDRB Provinsi Maluku dan Kota Ambon tiap sektor
dibandingkan antara dua titik waktu, yaitu tahun 2003 sebagai
tahun dasar analisis dan tahun 2012 sebagai tahun akhir
analisis, maka tiap-tiap sektor mempunyai nilai rasio yang
besarnya tidak sama. Rasio Provinsi Maluku dan Kota Ambon
inilah yang akan dijadikan bahan untuk perhitungan Rn, Rin,
dan Rij. Nilai Rn (selisih antara total Provinsi Maluku pada
tahun akhir analisis dan dasar analisis dibagi total Provinsi
Maluku pada tahun dasar analisis) menghasilkan besaran yang
sama yaitu sebesar 0,64 (tabel 5.9). Hal ini di karenakan nilai
Rn didapat dari pembagian total Provinsi Maluku, sehingga
keseluruhan sektor mempunyai nilai Rn sama yaitu sebesar
0,64. Nilai Rn yang bernilai positif ini (Rn > 0)
mengindikasikan bahwa perekonomian Provinsi Maluku
mengalami pertumbuhan.
Nilai Rin didapat dari selisih antara Provinsi Maluku dari
sektor i pada tahun akhir analisis dengan Provinsi Maluku
sektor i pada tahun dasar analisis dibagi Provinsi Maluku
sektor i pada tahun dasar analisis. Tahun 2003-2012 terdapat
satu subsektor yang memiliki nilai Rin negatif (Rin < 0) yaitu
subsektor perikanan. Sedangkan sisanya bernilai positif (Rin >
0) semua hal ini mengidentifikasikan bahwa setiap sektor
perekonomian di Provinsi Maluku mempunyai rasio yang
positif.
Berdasarkan Tabel 5.9. nilai Rij terbesar terdapat pada
subsektor bagian angkutan udara yaitu sebesar 3,08. Hal ini
berarti subsektor bagian angkutan udara mempunyai rasio
tertinggi terhadap Kota Ambon sedangkan nilai Rij terkecil
48

berada di subsektor Tanaman Perkebunan sebesar -0,09. Jadi


secara keseluruhan pada Kota Ambon, subsektor Tanaman
Perkebunan mempunyai rasio pertumbuhan yang terkecil dan
bernilai negatif.
Tabel 5.9. Rasio Pertubumhan ekonomi
Kota Ambon dan Provinsi Maluku (Rn, Rin, Rij)
Lapangan Usaha
1

3
4

5
6

Rn

Pertanian
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a. Pertambangan
b. Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
a. Listrik
b. Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a. Perdagangan Besar Eceran
b. Hotel
c. Restoran
Angkutan & Komunikasi
A. Angkutan
a. Angkutan Jalan Raya
b. Angkutan Laut
c. Angkutan Penyeberangan
d. Angkutan Udara
e. Jasa Penunjang Angkutan
B. Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c. Sewa Bangunan
d. Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i. Pemerintahan Umum & Pertahanan
ii. Swasta
a. Jasa Sosial Kemasyarakatan
b. Hiburan & Rekreasi
c. Perorangan dan Rumah Tangga
PDRB

Pertumbuhan (R)
Rin
Rij

0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64

0,42
0,29
0,35
0,41
-0,06
0,58
0,51
0,21
0,90
0,65
0,56
0,47
0,37
1,50
0,78
0,78
1,37
0,64
1,05
1,03
0,55
0,49
1,17
2,99
0,85
1,35
0,44
0,49
0,40
0,43
0,54
0,67
0,71
0,34
0,33
0,60
0,34

0,53
0,22
-0,09
0,42
0,06
0,58
1,03
0,00
1,03
0,96
0,39
0,39
0,40
2,00
0,79
0,77
1,42
0,64
1,20
1,19
0,55
0,50
1,18
3,08
0,89
1,42
0,46
0,50
0,41
0,44
0,56
0,69
0,71
0,31
0,22
0,60
0,33

0,64

0,64

1,67

Sumber: BPS Provinsi Maluku dan PBS Kota Ambon, diolah penulis

49

b. Komponen Pertumbuhan Wilayah Kota Ambon


Komponen pertumbuhan wilayah Kota Ambon ialah
perubahan produksi wilayah Kota Ambon yang disebabkan
oleh perubahan produksi Provinsi Maluku atau perubahan
dalam hal-hal yang mempengaruhi perekonomian suatu sektor
dan wilayah.
Secara agregat, dari tahun 2003 hingga tahun 2012
terjadi pertambahan tingkat PDRB (output ekonomi/Dij) di
Kota Ambon sebesar 1.981.590,74 rupiah. Dari jumlah
tersebut, 82,27 persen disebabkan karena efek pertumbuhan
ekonomi Provinsi Maluku (Nij). Tidak bisa dielakkan bahwa
kondisi perekonomian Kota Ambon akan dipengaruhi oleh
kinerja perekonomian Provinsi Maluku bahkan perekonomian
Nasional.

Sementara

itu

pengaruh

dari

efek

bauran

industri/sektoral (Mij) terhadap pertumbuhan ekonomi Kota


Ambon yakni sebesar 12,36 persen. Ini menunjukkan bahwa
dampak dari struktur ekonomi Provinsi Maluku hanya mampu
menambah
244.930,35

pertumbuhan
rupiah.

PDRB

Kota

Sementara

Ambon

pengaruh

sebesar

keunggulan

kompetitif/daya saing Kota Ambon terhadap perekonomian


Kota

Ambon

hanya

mampu

mendorong

pertumbuhan

perekonomian Kota Ambon sebesar 3,56 persen. Hal ini jauh


lebih

rendah

dibanding

dengan

pengaruh

komponen

pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku, yang menunjukkan


masih rendahnya daya saing atau rendahnya kemandirian
ekonomi Kota Ambon. Demikian halnya dengan pengaruh
spesialisasi hanya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi
Kota Ambon sebesar 35.949,64 rupiah atau sebesar 1,81
persen.

50

Tabel 5.10. Komponen Pertumbuhan Ekonomi Kota Ambon


Tahun 2003 - 2012 (juta rupiah)
Nij

Mij

Pertanian
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a. Pertambangan
b. Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
a.Listrik
b.Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a. Perdagangan Besar Eceran
b. Hotel
c. Restoran
Angkutan & Komunikasi
A. Angkutan
a.Angkutan Jalan Raya
b.Angkutan Laut
c.Angkutan Penyeberangan
d.Angkutan Udara
e.Jasa Penunjang Angkutan
B. Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c. Sewa Bangunan
c. Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i. Pemerin. Umum & Pertahanan
ii. Swasta
a.Jasa Sosial Kemasyarakatan
b.Hiburan & Rekreasi
c.Perorangan dan Rh. Tangga
PDRB

147.795,69
13.341,78
2.549,48
3.633,24
233,25
128.037,94
890,52
0,00
890,52
15.856,05
5.470,48
5.083,03
387,44
5.019,39
182.227,49
165.762,08
6.900,88
9.564,54
121.561,82
115.051,98
42.108,06
30.114,18
6.217,53
26.940,12
9.672,10
6.509,84
66.684,38
23.304,48
13.666,45
28.869,01
844,44
215.873,54
202.622,57
13.250,97
6.063,55
1.420,20
5.767,23
1.630.186,23

Persentase

82,27

Lapangan Usaha
1

3
4

5
6

Differential Shift (Cij)

Aij

Dij

(50.804,77)
(7.296,29)
(1.155,23)
(1.305,70)
(255,12)
(12.003,56)
(180,89)
0,00
361,77
247,75
(683,81)
(1.350,18)
(163,45)
6.744,80
39.862,26
36.260,46
7.871,31
0,00
77.875,54
70.109,80
(5.921,45)
(7.058,01)
5.148,89
98.920,74
3.173,66
7.221,85
(20.838,87)
(5.461,99)
(5.124,92)
(9.472,64)
(131,94)
10.119,07
22.161,84
(6.211,39)
(2.937,03)
(88,76)
(2.703,39)
244.930,35

44.061,43
(7.665,39)
(37.859,50)
209,12
2.705,72
(892,84)
5.300,95
(1.202,55)
588,22
17.838,86
(1.068,16)
(443,49)
23,77
7.525,48
3.477,74
(1.432,23)
251,67
(36,82)
15.872,49
15.896,85
67,34
293,71
58,51
1.573,24
246,44
327,82
1.119,24
103,52
136,68
483,07
11,25
4.379,52
818,99
(678,76)
(1.479,85)
4,11
(91,63)
70.524,52

(19.381,81)
6.157,98
36.103,87
(128,37)
(2.660,70)
(79,14)
(4.571,85)
1.202,55
(401,78)
(10.076,52)
(361,49)
(176,69)
(3,41)
(3.581,94)
(42,09)
85,75
329,30
(31,54)
13.388,08
13.229,65
45,57
202,85
30,91
2.166,76
287,13
350,14
607,71
115,19
147,16
70,18
12,52
2.038,20
423,13
22,98
452,50
5,70
(28,84)
35.949,64

121.670,54
4.538,08
(361,38)
2.408,29
23,15
115.062,40
1.438,73
0,00
1.438,73
23.866,14
3.357,02
3.112,67
244,35
15.707,73
225.525,40
200.676,06
15.353,16
9.496,18
228.697,93
214.288,28
36.299,52
23.552,73
11.455,84
129.600,86
13.379,33
14.409,65
47.572,46
18.061,20
8.825,37
19.949,62
736,27
232.410,33
226.026,53
6.383,80
2.099,17
1.341,25
2.943,37
1.981.590,74

12,36

3,56

1,81

100,00

Sumber: BPS Provinsi Maluku dan PBS Kota Ambon, diolah penulis

Berdasarkan hasil analisis SS-EM, kenaikan PDRB


Kota Ambon ini didominasi oleh tiga sektor ekonomi yaitu:
sektor Jasa-jasa yang meningkat sebesar 232.410,33 rupiah,
sektor Angkutan dan Komunikasi yang meningkat sebesar
51

Total PDRB

C'ij

228.697,93 rupiah, dan sektor Perdagangan, Hotel dan


Restoran yang meningkat sebesar 225.525,40 rupiah. Sektor
Pertanian berada pada posisi keempat yang meningkat sebesar
121.670,54 rupiah.
Jika dilihat per subsektor maka peningkatan PDRB
sebesar 1.981.590,74 rupiah ini tidak terlepas dari peran
subsektor-subsektor yang dominan di Kota Ambon, yaitu
subsektor

Pemerintahan

Umum

dan

Pertahanan

yang

meningkat sebesar 226.026,53 rupiah. Subsektor Angkutan


yang

meningkat

sebesar

214.288,28

rupiah,

subsektor

Perdagangan Besar dan eceran yang meningkat sebesar


200.676,06 rupiah, dan subsektor Perikanan yang meningkat
sebesar 115.062,40 rupiah.
c.

Pengaruh Pertumbuhan Perekonomian Provinsi Maluku


Terhadap Perekonomian Kota Ambon
Peningkatan kegiatan ekonomi suatu daerah sangat
dipengaruhi oleh kebijakan regional atau wilayah yang lebih
luas (Sjafrizal, 2008). Kebijakan-kebijakan ini secara langsung
maupun tidak langsung akan memberikan dampak pada kinerja
perekonomian daerah. Maka perkembangan perekonomian
Provinsi Maluku yang diindikasikan oleh laju pertumbuhan
ekonomi akan mempengaruhi perkembangan perekonomian di
Kota Ambon.
Tabel 5.11. memperlihatkan kinerja perekonomian
Provinsi Maluku selama periode penelitian yang ditunjukkan
oleh pertumbuhan ekonomi, memiliki kontribusi yang besar
bagi kinerja perekonomian di Kota Ambon. Secara riil,
pertumbuhan eksternal ini telah mengakibatkan peningkatan
PDRB di Kota Ambon sebesar 1.981.590,74 rupiah. Kondisi
ini menunjukkan bahwa 82,27 persen peningkatan PDRB di
Kota Ambon sebesar 1.630.186,23 rupiah disebabkan oleh
pertumbuhan perekonomian agregat Provinsi Maluku yang
merupakan faktor eksternal dari Kota Ambon.
52

Secara sektoral, pengaruh perekonomian Provinsi


Maluku terlihat jelas pada beberapa sektor, di antaranya adalah
sektor Listrik, Gas dan Air Bersih sebesar 162,96 persen,
sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan sebesar
140,17 persen dan
persen.

Apabila

sektor pertanian, yaitu sebesar 121,47


dilihat

dari

subsektor,

yang

paling

mendominasi yaitu dari sektor pertanian dengan subsektornya


yaitu subsektor kehutanan sebesar 1.007,56 persen dan
subsektor Tanaman Bahan Makanan sebesar 294,00 persen.
Subsektor yang mendomonasi di tempat ketiga adalah
subsektor Jasa-jasa sebesar 207,57 persen. Akibat dari
pengaruh yang kuat terhadap subsektor sesungguhnya dapat
meningkatkan PDRB, namun secara riil sektor pertambangan
tidak

memberikan

kontribusi

atau

sumbangan

pada

perekonomian Kota Ambon. Hal ini disebabkan Kota Ambon


tidak memiliki sumberdaya alam dari hasil tambang.
Pengaruh eksternal yang besar pada kegiatan sektor
Listrik, Gas dan Air Bersih, serta sektor Keuangan, Persewaan
dan Jasa Perusahaan disebabkan setelah pulih dari konflik
sosial yang terjadi di Provinsi Maluku dan secara khusus Kota
Ambon mengakibatkan pembangunan mulai di galakan. Bila
dilihat secara administratif di mana Kota Ambon merupakan
Ibu Kota Provinsi serta kebijakan-kebijakan pemerintah
Provinsi melakukan event-event besar di Provinsi Maluku
mengakibatkan Kota Ambon merupakan pintu masuk bagi para
investor sekaligus dijadikan kota perdagangan.

53

Tabel 5.11. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Maluku


Terhadap Perekonomian Kota Ambon
Lapangan Usaha
1

Nij

Pertanian
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a. Pertambangan
b. Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
a. Listrik
b. Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a. Perdagangan Besar Eceran
b. Hotel
c. Restoran
Angkutan & Komunikasi
A. Angkutan
a. Angkutan Jalan Raya
b. Angkutan Laut
c. Angkutan Penyeberangan
d. Angkutan Udara
e. Jasa Penunjang Angkutan
B. Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c. Sewa Bangunan
d. Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i. Pemerintahan Umum & Pertahanan
ii. Swasta
a. Jasa Sosial Kemasyarakatan
b. Hiburan & Rekreasi
c. Perorangan dan Rumah Tangga
PDRB

Total PDRB
Dij

147.759,69
121.670,54
13.341,78
4.538,08
2.549,48
(361,38)
3.633,24
2.408,29
233,25
23,15
128.037,94
115.062,40
2
890,52
1.438,73
0,00
0,00
890,52
1438,73
3
15.856,05
23.866,14
4
5.470,48
3.357,02
5.083,03
3.112,67
387,44
244,35
5
5.019,39
15.707,73
6
182.227,49
225.525,40
165.762,08
200.676,06
6.900,88
15.353,16
9.564,54
9.496,18
7
121.561,82
228.697,93
115.051,98
214.288,28
42.108,06
36.299,52
30.114,18
23.552,73
6.217,53
11.455,84
26.940,12
129.600,86
9.672,10
13.379,33
6.509,84
14.409,65
8
66.684,38
47.572,46
23.304,48
18.061,20
13.666,45
8.825,37
28.869,01
19.949,62
844,44
736,27
9
215.873,54
232.410,33
202.622,57
226.026,53
13.250,97
6.383,80
6.063,55
2.099,17
1.420,20
1.341,25
5.767,23
2.943,37
1.630.186,23 1.981.590,74
Sumber: BPS Provinsi Maluku Kota Ambon, diolah penulis

Pengaruh
%
121,47
294,00
(705,48)
150,86
1.007,56
111,28
61,90
0,00
61,90
66,44
162,96
163,30
158,56
31.95
80,80
82,60
44,95
100,72
53,15
53,69
116,00
127,86
26,40
20,79
72,29
45,18
140,17
129,03
154,85
144,71
114,69
92,88
89,65
207,57
288,86
105,89
195,94
82,27

Sektor Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan


mengalami pertumbuhan yang baik, ini disebabkan kebijakan
dari luar seperti kebijakan pemerintah pusat melalui lembaga
keuangan dalam hal pemberian kredit. Kebijakan ini
menimbulkan sektor keuangan persewaan dan jasa perusahaan
54

tumbuh. Subsektor bank dan subsektor lembaga keuangan


tanpa bank tumbuh dan berperan aktif memberikan bantuan
usaha kepada industri kecil dan menengah. Hal ini terlihat jelas
dengan tumbuhnya usaha-usaha koperasi yang bermunculan
dalam pemberian kredit mudah bagi usaha kecil menengah dan
mikro. Disamping itu pula tumbuhnya perusahaan-perusahaan
swasta non bank dalam memberikan kredit mudah bagi
masyarakat.

Dengan

adanya

kebijakan

eksternal

yang

digulirkan kepada seluruh wilayah di Provinsi Maluku


termasuk Kota Ambon, kedua sektor ini mampu memberikan
pertumbuhan yang cukup besar di Kota Ambon.
d. Pengaruh Bauran Industri Provinsi Maluku Terhadap
Perekonomian di Kota Ambon
Dampak bauran industri atau struktur pertumbuhan
ekonomi Provinsi Maluku secara agregat berpengaruh positif
terhadap peningkatan PDRB di Kota Ambon. Namun bila
dilihat secara sektoral, banyak terdapat dampak negatif bauran
industri terhadap sektoral di Kota Ambon. Hal tersebut terjadi
karena komposisi industri di Provinsi Maluku yang ada sangat
mempengaruhi laju pertumbuhan di Kota Ambon. Artinya,
industri yang berlokasi di Kota Ambon termasuk ke dalam
kelompok industri yang secara nasional kurang berkembang
pesat dan bahwa struktur industri tersebut kurang cocok
berlokasi di Kota Ambon. Hasil dari pengaruh bauran industri
adalah sebagai berikut :
Pada tabel 5.12. dapat dilihat akibat dampak bauran
industri tersebut PDRB Kota Ambon meningkat sebesar
244.930,35 rupiah pada periode analisis. Peningkatan PDRB
sebesar ini menunjukkan bahwa struktur pertumbuhan bauran
industri Provinsi Maluku justru meningkatkan perekonomian
di Kota Ambon sebesar 12,36 persen. Terdapat 5 (lima) sektor
yang paling memperoleh pengaruh positif bauran industri dari
55

Provinsi Maluku adalah sektor Bangunan/Kontruksi meningkat


sebesar 6.744,80 rupiah atau 42,94 persen. Sektor Angkutan
dan Komunikasi sebesar 77.875,54 rupiah atau meningkat
sebesar 34,05 persen. Kemudian sektor Perdagangan, Hotel
dan Restoran meningkat sebesar 39.862,26 rupiah atau
meningkat 17,68 persen. Pada posisi kempat adalah sektor
Jasa-jasa meningkat sebesar 10.119,07 rupiah atau meningkat
4,35 persen dan pada posisi kelima adalah sektor Industri
Pengolahan meningkat sebesar 247,75 rupiah atau meningkat
1,04 persen.
Adapun sektor yang memperoleh dampak bauran
industri negatif yang sangat kuat adalah sektor Keuangan,
Persewaan

dan

Jasa

Perusahaan

yaitu

sebesar

minus

(20.838,87) rupiah atau menurun sebesar minus (43,80%), lalu


diikuti oleh sektor pertanian sebesar minus (50.804,77) rupiah
atau menurun sebesar minus (41,76%),. Kemudian sektor
Listrik, Gas dan Air Bersih yaitu sebesar minus (683,81)
rupiah atau menurun sebesar minus (20,37%).
Dari tabel di bawah, terlihat bahwa sektor Angkutan
dan Komunikasi yang mengalami pengaruh bauran industri
positif juga mengalami pengaruh negatif pada subsektornya,
ini terlihat pada subsektor Angkutan Jalan Raya dan Angkutan
Laut. Begitu pula sebaliknya pada sektor Pertambangan dan
Penggalian

yang

mengalami

pengaruh

negatif,

namun

subsektor penggalian mengalami dampak positif. Sedangkan


pada sektor Jasa-jasa di mana subsektor pemerintahan umum
dan pertahanan mengalami pengaruh bauran industri yang
positif dalam meningkatkan perekonomian Kota Ambon.

56

Tabel 5.12. Pengaruh Bauran Industri Ekonomi Sektoral Provinsi Maluku


Terhadap Peningkatan PDRB Kota Ambon Tahun 2003 dan 2012
(juta rupiah)
Lapangan Usaha
1

3
4

5
6

Mij

Pertanian
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a. Pertambangan
b. Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
a. Listrik
b. Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a. Perdagangan Besar Eceran
b. Hotel
c. Restoran
Angkutan & Komunikasi
A. Angkutan
a. Angkutan Jalan Raya
b. Angkutan Laut
c. Angkutan Penyeberangan
d. Angkutan Udara
e. Jasa Penunjang Angkutan
B.Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c. Sewa Bangunan
d.Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i. Pemerintahan Umum & Pertahanan
ii.Swasta
a. Jasa Sosial Kemasyarakatan
b. Hiburan & Rekreasi
c. Perorangan dan Rh Tangga
PDRB

(50.804,77)
(7.296,29)
(1.115,23)
(1.305,70)
(255,12)
(12.003,56)
(180,89)
0,00
361,77
247,75
(683,81)
(1.350,18)
(163,45)
6.744,80
39.862,26
36.260,46
7.871,31
0,00
77.875,54
70.109,80
(5.921,45)
(7.058,01)
5.148,89
98.920,74
3.173,66
7.221,85
(20.838,87)
(5.461,99)
(5.124,92)
(9.472,64)
(131,94)
10.119,07
22.161,84
(6.211,39)
(2.937,03)
(88,76)
(2.703,39)
244.930,35

Total PDRB
Dij
121.670,54
4.538,08
(361,38)
2.408,29
23,15
115.062,40
1.438,73
0,00
1.438,73
23.866,14
3.357,02
3.112,67
244,35
15.707,73
225.525,40
200.676,06
15.353,16
9.496,18
228.697,93
214.288,28
36.299,52
23.552,73
11.455,84
129.600,86
13.379,33
14.409,65
47.572,46
18.061,20
8.825,37
19.949,62
736,27
232.410,33
226.026,53
6.383,80
2.099,17
1.341,25
2.943,37
1.981.590,74

Pengaruh
%
(41,76)
(160,78)
319,67
(54,22)
(1.102,03)
(10,43)
(12,57)
0,00
25,15
1,04
(20,37)
(43,38)
66,89
42,94
17,68
18,07
51,27
0,00
34,05
32,72
(16,31)
(29,97)
44,95
76,33
23,72
50,12
(43,80)
(30,24)
(58,07)
(47,48)
(17,92)
4,35
9,80
(97,30)
(139,91)
(6,62)
(91,85)
12,36

Sumber: BPS Provinsi Maluku Kota Ambon, diolah penulis

e.

Pengaruh Keunggulan Kompetitif


Analisis Shift Share Esteban Marquillas dapat
mendeteksi sektor dan subsektor ekonomi yang memiliki
keunggulan kompetitif pada suatu wilayah. Sektor ekonomi
dikatakan memiliki keunggulan kompetitif jika pertumbuhan
57

dan peranannya lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan


dan peranan sektor yang sama dalam perekonomian di tingkat
provinsi (rij rin > 0) atau nilai Cij > 0.
Tabel 5.13. menunjukkan bahwa hampir semua sektor
ekonomi memiliki keunggulan kompetitif di Kota Ambon.
Sektor yang tidak memiliki keunggulan kompetitif adalah
sektor Listrik, Gas dan Air Bersih. Hal ini mengindikasikan
bahwa sektor tersebut belum mampu memberikan peranan
yang lebih besar dibandingkan di tingkat provinsi. Jika dilihat
dari pada sektor ekonomi tersebut, subsektor Air Bersih
memiliki keunggulan kompetitif. Namun hal ini menandakan
subsektor ini masih belum mampu memberikan kontribusi
lebih untuk mengangkat keunggulan pada sektornya sehingga
sektor ini tidak memiliki daya saing secara sektoral di Kota
Ambon.
Jika dilihat satu per satu, maka sektor ekonomi yang
mempunyai keunggulan kompetitif di Kota Ambon tidak
sepenuhnya didukung oleh subsektornya. Karena sektor-sektor
ekonomi yang memiliki keunggulan kompetitif terdapat
subsektor yang tidak memiliki keunggulan kompetitif. Namun
semua sektor ini mampu memberikan pertumbuhan ekonomi
yang lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada
tingkat propinsi. Untuk selengkapnya dapat dilihat pada tabel
5.13.

58

Tabel 5.13. Identifikasi Keunggulan Kompetitif Terhadap


Perekonomian Kota Ambon Tahun 2003 - 2012
Cij

Dij

44.061,43
(7.665,39)
(37.859,50)
209,12
2.705,72
(892,84)
5.300,95
(1.202,55)
588,22
17.838,86
(1.068,16)
(443,49)
23,77
7.525,48
3.477,74
(1.432,23)
251,67
(36,82)
15.872,49
15.896,85
67,34
293,71
58,51
1.573,24
246,44
327,82
1.119,24
103,52
136,68
483,07
11,25
4.379,52
818,99
(678,76)
(1.479,85)
4,11
(91,63)

121.670,54
4.538,08
(361,38)
2.408,29
23,15
115.062,40
1.438,73
0,00
1.438,73
23.866,14
3.357,02
3.112,67
244,35
15.707,73
225.525,40
200.676,06
15.353,16
9.496,18
228.697,93
214.288,28
36.299,52
23.552,73
11.455,84
129.600,86
13.379,33
14.409,65
47.572,46
18.061,20
8.825,37
19.949,62
736,27
232.410,33
226.026,53
6.383,80
2.099,17
1.341,25
2.943,37
1.981.590,74

Lapangan Usaha
1

3
4

5
6

Pertanian
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a. Pertambangan
b. Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
a. Listrik
b. Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a. Perdagangan Besar Eceran
b. Hotel
c. Restoran
Angkutan & Komunikasi
A. Angkutan
a. Angkutan Jalan Raya
b. Angkutan Laut
c. Angkutan Penyeberangan
d. Angkutan Udara
e. Jasa Penunjang Angkutan
B. Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a. Bank
b. Lemb Keuangan Tanpa Bank
c. Sewa Bangunan
d. Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i. Pemer. Umum & Pertahanan
ii.Swasta
a. Jasa Sosial Kemasyarakatan
b. Hiburan & Rekreasi
c. Perorangan dan Rh Tangga
PDRB

70.524,52

Pengaruh Keung Kompetitif


%
Rij - Rin Ket.
36,21
(168,91)
10,476,37
8,68
11,687,78
(0,78)
368,45
0,00
40,88
74,75
(31,82)
(14,25)
9,73
47,91
1,54
0,71
1,64
(0,39)
6,94
7,42
0,19
1,25
0,51
1,21
1,84
2,28
2,35
0,57
1,55
2,42
1,53
1,88
0,36
(10,63)
(70,50)
0,31
(3,11)
3,56

0,107
(0,072)
(0,441)
0,014
0,124
(0,005)
0,524
(0,210)
0,134
0,313
(0,167)
(0,078)
0,034
0,503
0,012
(0,005)
0,054
(0,005)
0,154
0,162
0,002
0,011
0,009
0,089
0,035
0,067
0,017
0,006
0,013
0,012
0,018
0,019
0,004
(0,032)
(0,108)
0,004
(0,013)

Sumber: BPS Provinsi Maluku Kota Ambon, diolah penulis


Sektor yang memiliki keunggulan kompetitif baik
dilihat dari sektor maupun subsektor adalah, sektor Industri
Pengolahan, sektor Bangunan dan Kontruksi, sektor Angkutan
dan Komunikasi dan sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan. Bila dilihat pada sektor Jasa-jasa, sektor ini
59

CA
CD
CD
CA
CA
CD
CA
CD
CA
CA
CD
CD
CA
CA
CA
CD
CA
CD
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CD
CD
CA
CD

tergolong dalam sektor yang memiliki keunggulan kompetitif.


Namun kedua subsektornya tidak memiliki keunggulan
kompetitif. Akan tetapi subsektor Swasta memiliki dua
subsektor bagian yang tergolong dalam memiliki keunggulan
kompetitif yaitu subsektor bagian hiburan dan rekreasi dan
subsektor bagian perorangan dan rumah tangga.
f.

Pengaruh Spesialisasi
Analisis SS-EM ini juga dapat mendeteksi sektor dan
subsektor ekonomi yang memiliki spesialisasi pada suatu
wilayah. Sektor ekonomi dikatakan memiliki spesialisasi jika
pertumbuhan dan peranannya lebih baik dibandingkan dengan
pertumbuhan

dan

peranan

sektor

yang

sama

dalam

perekonomian di tingkat provinsi (Eij Eij > 0).


Dapat diketahui bahwa secara agregat PDRB Kota
Ambon dipengaruhi oleh spesialisasi sebesar 35.949,64 rupiah
atau sebesar 1,81 persen. Sektor-sektor yang merupakan
spesialisasi adalah sektor listrik, gas dan air bersih, sektor
angkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan
jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. Sedangkan sektor yang
tidak memiliki spesialisasi adalah sektor Pertanian, sektor
Pertambangan dan Penggalian, sektor Industri Pengolahan
sektor Bangunan/Kontruksi dan sektor Perdagangan, Hotel dan
Restoran. Namun jika kita teliti persektor yang memiliki
spesialisasi terdapat subsektornya tidak memiliki spesialisasi.
Demikian pula jika diteliti terdapat sektor yang tidak memiliki
spesialisasi dan keseluruhan subsektornya juga tidak memiliki
spesialisasi.
Untuk lebih jelasnya, hal ini dapat dilihat pada tabel
5.14. sebagai berikut:

60

Tabel 5.14. Indentifikasi Spesialisasi Terhadap Perekonomian Kota Ambon


Tahun 2003-2012 (jutaan rupiah)

3
4

5
6

Pertanian
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a. Pertambangan
b. Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
a. Listrik
b. Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a. Perdagangan Besar Eceran
b. Hotel
c. Restoran
Angkutan & Komunikasi
A. Angkutan
a. Angkutan Jalan Raya
b. Angkutan Laut
c. Angkutan Penyeberangan
d. Angkutan Udara
e. Jasa Penunjang Angkutan
B. Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c. Sewa Bangunan
d. Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i. Pemer Umum & Pertahanan
ii. Swasta
a. Jasa Sosial Kemasyarakatan
b. Hiburan & Rekreasi
c. Perorangan dan Rh Tangga
PDRB

Spesialisasi

Aij

Dij

Pengaruh
%

Eij - E'ij

Ket.

(19.381,81)
6.157,98
36.103,87
(128,37)
(2.660,70)
(79,14)
(4.571,85)
1.202,55
(401,78)
(10.076,52)
(361,49)
(176,69)
(3,41)
(3.581,94)
(42,09)
85,75
329,30
(31,54)
13.388,08
13.229,65
45,57
202,85
30,91
2.166,76
287,13
350,14
607,71
115,19
147,16
70,18
12,52
2.038,20
423,13
22,98
452,50
5,70
(28,84)

121.670,54
4.538,08
(361,38)
2.408,29
23,15
115.062,40
1.438,73
0,00
1.438,73
23.866,14
3.357,02
3.112,67
244,35
15.707,73
225.525,40
200.676,06
15.353,16
9.496,18
228.697,93
214.288,28
36.299,52
23.552,73
11.455,84
129.600,86
13.379,33
14.409,65
47.572,46
18.061,20
8.825,37
19.949,62
736,27
232.410,33
226.026,53
6.383,80
2.099,17
1.341,25
2.943,37

15,93
135,70
(9.990,56)
(5,33)
(11.493,30)
(0,07)
(317,77)
0,00
(27,93)
(42,22)
(10,77)
(5,68)
(1,40)
(22,80)
(0,02)
0,04
2,14
(0,33)
5,85
6,17
0,13
0,86
0,27
1,67
2,15
2,43
1,28
0,64
1,67
0,35
1,70
0,88
0,19
0,36
21,56
0,42
(0,98)

(181.358,39)
(85.160,77)
(81.920,60)
(9.025,96)
(21.540,57)
16.289,52
(8.725,14)
(5.726,41)
(2.998,73)
(32.161,26)
2.161,30
2.262,80
(101,50)
(7.123,64)
(3.488,75)
(16.494,69)
6.111,65
6.894,30
86.906,60
81.653,37
26.553,89
19.221,61
3.358,16
24.387,03
8.132,67
5.253,23
36.666,02
19.177,44
11.071,27
5.722,15
695,15
107.123,25
107.848,81
(725,55)
(4.173,08)
1.290,33
2.157,20

NS
NS
NS
NS
NS
S
NS
NS
NS
NS
S
S
NS
NS
NS
NS
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
NS
NS
S
S

35.949,64

1.981.590,74

1,81

Lapangan Usaha

Sumber: BPS Provinsi Maluku, BPS Kota Ambon, diolah Penulis


Pada

sektor

Pertanian

yang

tidak

memiliki

spesialisasi, terdapat 5 (lima) subsektor. Namun terdapat satu


subsektor

yang

memiliki

spesialisasi

yaitu

subsektor

Perikanan. Hal ini mengindikasikan subsektor Perikanan


memiliki peranan yang besar bagi sektor Pertanian dan secara
61

umum berdampak bagi ekonomi Kota Ambon dibandingkan


subsektor-subsektor lainnya.
Pada sektor Angkutan dan Komunikasi dan sektor
Keuangan, Perewaan dan Jasa Perusahaan baik sektor maupun
subsektor secara keseluruhan memiliki spesialisasi. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa kedua sektor ini dan subsektornya
memberikan kontribusi atau peranan yang baik terhadap PDRB
Kota Ambon dan berdampak terjadinya spesialisasi pada kedua
sektor ini beserta subsektornya.
g.

Pengaruh Alokasi
Pengaruh Alokasi yang diwakili dengan notasi Eij
(modifikasi Esteban-Marquillas) mengandung arti nilai tambah
output sektor Kota Ambon sama dengan di Propinsi Maluku.
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa pengaruh
alokasi berdampak terhadap PDRB Kota Ambon sebesar
2.426.953,26 rupiah. Sedangkan pengaruh dari alokasi yang
berdampak terhadap sektor ekonomi memiliki keunggulan
kompetitif maupun berspesialisasi adalah sektor Angkutan dan
Komunikasi, sektor Keuangan, Persewan dan jasa Perusahaan
serta sektor Jasa-jasa. Sedangkan sektor yang mempunyai
keunggulan

kompetitif

namn

tidak

memiliki

tingkat

spesialisasi yaitu sektor Pertanian, sektor Pertambangan dan


Penggalian, sektor Industri Pengolahan, sektor Bangunan dan
Kontruksi dan sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran.
Sementara sektor yang tidak memiliki keunggulan kompetitif
namun berspesialisasi adalah sektor Listrik Gas dan air Bersih.
Hal ini dapat dilihat secara jelas pada Tabel 5.15.
sebagai berikut :

62

Tabel 5.15. Pengaruh Alokasi Terhadap


Perekonomian Kota Ambon Tahun 2003-2012 (jutaan rupiah)
Lapangan Usaha
1

3
4

5
6

Nilai E'ij

Pertanian
a.Tanaman Bahan Makanan
b.Tanaman Perkebunan
c.Peternakan dan Hasil-hasilnya
d.Kehutanan
e.Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a.Pertambangan
b.Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
a.Listrik
b.Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a.Perdagangan Besar Eceran
b.Hotel
c.Restoran
Angkutan & Komunikasi
A.Angkutan
a.Angkutan Jalan Raya
b.Angkutan Laut
c.Angkutan Penyeberangan
d.Angkutan Udara
e.Jasa Penunjang Angkutan
B.Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a.Bank
b.Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c.Sewa Bangunan
d.Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i.Pemerintahan Umum & Pertahanan
ii.Swasta
a.Jasa Sosial Kemasyarakatan
b.Hiburan & Rekreasi
c.Perorangan dan Rumah Tangga
PDRB

412.289,15
106.007,30
85.904,16
14.702,90
21.905,02
183.769,76
10.116,58
5.726,41
4.390,17
56.936,34
6.386,32
5.679,44
706,88
14.966,43
288.219,21
275.497,94
4.670,97
8.050,29
103.033,74
98.115,35
39.239,96
27.831,79
6.356,73
17.706,90
6.979,98
4.918,39
67.528,32
17.235,81
10.282,56
39.385,68
624,28
230.179,16
208.748,96
21.430,19
13.647,37
928,73
6.854,09

Pengaruh Alokasi
Kompetitif Spesialisasi
CA
CD
CD
CA
CA
CD
CA
CD
CA
CA
CD
CD
CA
CA
CA
CD
CA
CD
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CA
CD
CD
CA
CD

2.426.953,26

Sumber: BPS Provinsi Maluku, BPS Kota Ambon, diolah Penulis


Keterangan: CA
CD
S
NS

= Competitive Advantage
= Competitive Disadvantage
= Specialisasi
= Not Specialisasi

63

NS
NS
NS
NS
NS
S
NS
NS
NS
NS
S
S
NS
NS
NS
NS
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
S
NS
NS
S
S

Hasil penelitian tentang pola pertumbuhan sektor


ekonomi sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh
Richardson (2001:35) perbedaan pokok antara analisis
pertumbuhan perekonomian nasional dan analisis pertumbuhan
daerah adalah bahwa yang dititikberatkan dalam analisis
tersebut belakangan adalah perpindahan faktor (factors
movement).

Kemungkinan

masuk

dan

keluarnya

arus

perpindahan tenaga kerja dan modal menyebabkan terjadinya


perbedaan

tingkat

pertumbuhan

ekonomi

regional.

Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi daerah akan lebih


cepat apabila memiliki keuntungan absolute kaya akan sumber
daya alam dan memiliki keuntungan komparatif apabila daerah
tersebut lebih efisien dari daerah lain dalam melakukan
kegiatan produksi dan perdagangan.

5.4.2.2. Analisis Tipologi Klassen


Melalui

perbandingan

pertumbuhan

ekonomi

dan

pendapatan perkapita penduduk Kota Ambon dengan Provinsi


Maluku, maka dapat diperoleh pola dan struktur pertumbuhan
ekonomi Kota Ambon yang ditunjukkan oleh posisi relatif
perekonomian Kota Ambon dalam konteks perekonomian Provinsi
Maluku.
Pada tabel 5.16 menginformasikan bahwa rata-rata
pertumbuhan ekonomi Kota Ambon selama tahun 2003-2012
sebesar 6,46 persen pertahun, dengan rata-rata pendapatan
perkapita sebesar 5.045.038 rupiah pertahun. Sementara di Provinsi
Maluku rata-rata pertumbuhan lebih rendah yaitu sebesar 5,63
persen pertahun selama tahun 2003-2012, dengan rata-rata
pendapatan

perkapita

sebesar

2.359.973

rupiah

pertahun.

Berdasarkan kondisi ini, maka dapat disimpulkan Kota Ambon


memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi daripada
Provinsi Maluku dan juga pendapatan perkapita yang lebih tinggi
64

dibandingkan pendapatan perkapita di Provinsi Maluku. Oleh


karena itu, berdasarkan tipologi klassen maka dalam konteks
wilayah Provinsi Maluku, Kota Ambon masuk dalam klasifikasi
daerah yang maju dan tumbuh cepat.

Tabel 5.16. Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan perKapita


Penduduk Provinsi Maluku dan Kota Ambon Tahun 2003-2012
Kota Ambon
Tahun

Pertumbuhan
Ekonomi
(%)

Provinsi Maluku

Pendapatan
Perkapita
(Rp)

Pertumbuhan
Ekonomi
(%)

2003
4.559.295
2
2004
5,73
4.706.732
4,43
3
2005
6,22
4.892.984
5,07
4
2006
6,43
5.088.611
5,55
5
2007
6,31
5.241.531
5,62
6
2008
5,91
5.493.099
4,23
7
2009
5,58
5.168.861
5,43
8
2010
6,55
4.913.427
6,48
9
2011
6,58
5.098.825
6,06
10
2012
8,77
5.287.018
7,81
Rata-rata
6,46
5.045.038
5,63
Sumber: BPS Provinsi Maluku, BPSKota Ambon
Diolah penulis
1

Pendapatan
Perkapita
(Rp)

2.078.181
2.118.482
2.179.013
2,258.882
2.328.048
2.397.374
2.463.318
2.477.613
2.573.554
2.725.263
2.359.973

Selain untuk melihat klasifikasi pola dan struktur


pertumbuhan ekonomi regional, tipologi klassen juga dapat
digunakan untuk melihat pola dan struktur pertumbuhan ekonomi
secara sektoral maupun subsektoral. Klasifikasi sektor dan
subsektor ekonomi di Kota Ambon berdasarkan tipologi klassen
adalah:
1.

Sektor/subsektor yang maju dan tumbuh cepat,


sektor/subsektor
kontribusinya

yang
lebih

memiliki
tinggi

laju

pertumbuhan

dibandingkan

dengan

yaitu
dan
laju

pertumbuhan dan kontribusi sektor/subsektor tersebut secara


keseluruhan di Provinsi Maluku. Sektor yang termasuk
klasifikasi ini adalah sektor Angkutan dan Komunikasi, Sektor
Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan dan Sektor Jasa-jasa.

65

Sedangkan subsektornya adalah subsektor Hotel, subsektor


Angkutan, subsektor bagian Angkutan Laut, subsektor bagian
Angkutan Penyeberangan, subsektor bagian Jasa Penunjang
Angkutan, subsektor Komunikasi, subsektor Bank, subsektor
Lembaga Keuangan Tanpa Bank, subsektor Sewa Bangunan,
subsektor Jasa Perusahaan, subsektor Pemerintahan umum dan
Pertahanan serta subsektor bagian swasta; Hiburan & Rekreasi.
2.

Sektor/subsektor

yang

maju

tapi

tertekan,

yaitu

sektor/subsektor yang laju pertumbuhannya lebih kecil dari


laju pertumbuhan sektor/subsektor di Provinsi Maluku, akan
tetapi kontribusi sektor/subsektor tersebut lebih besar dari
kontribusi sektor/subsektor di Provinsi Maluku. Sektor
ekonomi yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah sektor
Listrik, Gas & Air Bersih. Sedangkan subsektornya adalah
subsektor Perikanan, subsektor Listrik, subsektor bagian
Angkutan Udara, subsektor bagian Angkutan Jalan Raya,
subsektor Restoran dan subsektor bagian swasta; Perorangan
dan Rumah Tangga.
3.

Sektor/subsektor

yang

berkembang

cepat,

yaitu

sektor/subsektor yang laju pertumbuhannya lebih besar


dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor/subsektor di
Provinsi Maluku, akan tetapi kontribusi sektor/subsektor
tersebut lebih rendah dari kontribusi sektor/subsektor di
Provinsi Maluku. Sektor yang termasuk klasifikasi ini adalah
sektor Pertanian, sektor Perdagangan, Hotel & Restoran, sektor
Industri Pengolahan, sektor Bangunan/Kontruksi dan sektor
Pertambangan & Penggalian. Sedangkan subsektornya adalah
subsektor Kehutanan, subsektor Peternakan dan Hasil-hasilnya
dan subsektor Penggalian.
4.

Sektor/subsektor yang relatif tertinggal, yaitu sektor/subsektor


yang memiliki laju pertumbuhan dan kontribusinya lebih
rendah dari laju pertumbuhan dan kontribusi sektor/subsektor

66

tersebut di Provinsi Maluku. Dalam klasifikasi ini tidak ada


sektor yang masuk dalam kategori ini. Sedangkan subsektor
yang masuk katagori di atas termasuk dalam kelompok
sektor/subsektor yang relatif tertinggal adalah Subsektor
Tanaman Bahan Makanan, Subsektor Tanaman Perkebunan,
Subsektor Air Bersih, Subsektor Bg. Swasta; Jasa Sosial
Kemasyarakatan,

Subsektor

Pertambangan,

Subsektor

Perdagangan Besar Eceran dan Subsektor Swasta (lihat tabel


5.17).

67

Tabel 5.17. Identifikasi Sektor/Subsektor Ekonomi Menurut


Tipologi Klassen di Kota Ambon Tahun 2003-2012
Kota Ambon
Lapangan Usaha
1

3
4

5
6

Pertanian
a.Tanaman Bahan Makanan
b.Tanaman Perkebunan
c.Peternakan dan Hasil-hasilnya
d.Kehutanan
e.Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a. Pertambangan
b. Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
a. Listrik
b. Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a.Perdagangan Besar Eceran
b.Hotel
c.Restoran
Angkutan & Komunikasi
A. Angkutan
a.Angkutan Jalan Raya
b.Angkutan Laut
c.Angkutan Penyeberangan
d.Angkutan Udara
e.Jasa Penunjang Angkutan
B. Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a. Bank
b.Lemb. Keuangan Tanpa Bank
c.Sewa Bangunan
d.Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i. Pemer. Umum & Pertahanan
ii. Swasta
a. Jasa Sosial Kemasyarakatan
b. Hiburan & Rekreasi
c.Perorangan dan Rh Tangga
PDRB

Pertum
(Si)
4,84
2,23
-0,79
4,01
0,69
5,21
8,25
8,25
7,83
4,07
4,10
3,87
13,93
6,70
6,59
10,68
5,62
9,22
9,15
5,02
4,64
9,11
17,19
7,34
10,54
4,27
4,59
3,93
4,16
5,06
6,02
6,20
3,04
2,25
5,41
3,20
6,46

Kontri
(Ski)
17,85
1,47
0,27
0,42
0,03
15,67
0,12
0,12
2,14
0,67
0,62
0,05
0,81
24,16
21,90
1,03
1,23
19,00
17,86
5,12
3,68
0,97
6,70
1,39
1,14
8,12
2,88
1,64
3,50
0,11
27,14
25,58
1,56
0,68
0,19
0,68
100,00

Prov. Maluku
Pertum
(S)
3,95
2,90
3,38
3,94
-0,52
5,22
4,87
2,74
7,47
5,75
4,98
4,80
3,62
11,32
6,64
6,60
10,50
5,64
8,33
8,24
5,02
4,25
9,06
17,20
7,10
10,08
4,15
4,50
3,84
4,06
4,90
5,90
6,14
3,35
3,23
5,39
3,28
5,63

Kontri
(Sk)
32,29
8,06
6,71
1,13
1,48
14,94
0,78
0,39
0,39
4,83
0,52
0,47
0,05
1,48
25,33
24,18
0,45
0,69
10,31
9,76
3,27
2,27
0,66
2,91
0,66
0,55
5,44
1,41
0,80
3,18
0,05
19,04
17,37
1,67
1,05
0,08
0,54
100,00

Keterangan.*)
III (Si > S dan Ski < Sk)
IV (Si < S dan Ski < Sk)
IV (Si < S dan Ski < Sk
III Si > S dan Ski < Sk)
III (Si > S dan Ski < Sk)
II (Si < S dan Ski > Sk)
III (Si > S dan Ski < Sk)
IV (Si < S dan Ski < Sk)
III (Si > S dan Ski < Sk)
III (Si > S dan Ski < Sk)
II (Si < S dan Ski > Sk)
II (Si < S dan Ski > Sk)
IV (Si < S dan Ski < Sk)
III (Si > S dan Ski < Sk)
III (Si > S dan Ski < Sk)
IV (Si < S dan Ski < Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
II (Si < S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
II (Si < S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
II (Si < S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
I (Si > S dan Ski > Sk)
IV (Si < S dan Ski < Sk
IV (Si < S dan Ski < Sk
I (Si > S dan Ski > Sk)
II (Si < S dan Ski > Sk)
I( Si > S)

Sumber: Hasil pengolahan berdasarkan data PDRB Provinsi Maluku dan PDRB Kota
Ambon
Keterangan: *) katagori menurut tipologi klassen

68

Setelah kita mengidentifikasi sektor/subsektor yang


tergolong dalam klasifikasi tipology klassen kemudian dapat kita
masukan ke dalam diagram atau tabel tipology klassen seperti yang
terlihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 5.18. Klasifikasi Sektor/Subsektor Ekonomi Menurut
Tipology Klassen di Kota Ambon Tahun 2003-2012
Kuadran I
Sektor/subsektor yang maju dan tumbuh
dengan pesat (developed sector
si > s dan ski > sk

Kuadran II
Sektor/subsektor maju tapi tertekan
(stagnant sector)
si < s dan ski > sk

Subsektor Hotel
Sektor Angkutan & Komunikasi
Subsektor Angkutan
Subsektor Bg. Angkutan Laut
Subsektor Bg. Angkutan Penyeberangan
Subsektor Bg. Jasa Penunjang Angkutan
Subsektor Komunikasi
Sektor Keua.Persewaan & Jasa Perus.
Subsektor Bank
Subsektor Lembaga Keuang. Tanpa Bank
Subsektor Sewa Bangunan
Subsektor Jasa Perusahaan
Sektor Jasa-jasa
- Subsektor Pemer. Umum & Pertahanan
- Subsektor Bg. Swasta; Hibur & Rekreasi
Kuadran III
Sektor/subsektor potensial atau masih
dapat berkembang (developing sector)
si > s dan ski < sk

- Subsektor Perikanan
- Sektor Listrik, Gas & Air Bersih
- Subsektor Listrik
- Subsektor Bg. Angkutan Udara
- Subsektor Bg. Angkutan Jalan Raya
- Subsektor Restoran
- Subsektor Bg. Swasta; Perorangan dan Rh
Tangga

Kuadran IV
Sektor/subsektor relatif tertinggal
(underdeveloped sektor)
si < s dan ski < sk

- Subsektor Kehutanan
- Sektor Industri Pengolahan
- Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran

- Subsektor Tanaman Bahan Makanan


- Subsektor Tanaman Perkebunan
- Subsektor Air Bersih

- Sektor Bangunan/ Kontruksi


- Sektor Pertanian
- Subsektor Peternakan dan Hasil-hasilnya
- Sektor Petambangan & Penggalian
- Subsektor Penggalian

- Subsektor Bg. Swasta; Jasa Sosial


Kemasyarakatan
- Subsektor Pertambangan
- Subsektor Perdagangan Besar Eceran
- Subsektor Swasta

Sumber: Hasil pengolahan berdasarkan data PDRB Provinsi Maluku dan PDRB
Kota Ambon
Dalam pengkasifikasian sektor/subsektor ekonomi yang
ada ke dalam diagram tipology klassen, dapat kita lihat letak atau
posisi

sektor/subsektor

tersebut

sesuai

pertumbuhannya menurut kuadran tipology klassen.

69

dengan

pola

Berdasarkan

posisi

atau

letak

masing-masing

sektor/subsektor berdasarkan analisis tipology klassen menurut


kuadrannya, dapat kita analisis sebagai berikut:
Kuadaran I:
Subsektor-subsektor yang berada pada kuadran I, merupakan
subsektor potensial sebagai penggerak ekonomi daerah Kota
Ambon.

Bila

dilihat

berdasarkan

laju

pertumbuhan

dan

kontribusinya terhadap sektor dan PDRB Kota Ambon, merupakan


subsektor maju dan menjadi penyangga dan motor penggerak
dalam meningkatkan ekonomi daerah. Subsektor-subsektor yang
berada pada kuadaran I, keseluruhannya merupakan subsektorsubsektor yang berada pada sektor tersier. Dengan demikian pola
pertumbuhan ekonomi Kota Ambon, sebagai subsektor yang maju
dan tumbuh dengan pesat berasal dari sektor tersier.
Subsektor pemerintahan umum dan pertahanan tergolong dalam
klasifikasi subsektor maju dan tumbuh dengan pesat. Keberadaan
Kota Ambon sebagai ibu kota provinsi, pusat pendidikan, pusat
pemerintahan, militer, kepolisian, pusat perdagangan dan jasa
lainnya, mampu mengangkat sektor ini manjadi subsektor maju dan
tumbuh pesat.
Kuadaran II:
Pada kuadaran II, terdapat 1 (satu) sektor dan 6 (enam) subsektor
yang tergolong sebagai sektor/subsektor yang maju tapi tertekan.
Seperti kita ketahui, subsektor perikanan merupakan subsektor
potensial di Kota Ambon. Kenyataan ini dapat dilihat dari angka
laju pertumbuhannya dan kontribusinya baik terhadap sektor
pertanian maupun terhadap PDRB Kota Ambon. Namun dalam
analisis tipology klassen, subsektor perikanan masih tergolong
subsektor maju tapi tertekan. Hal ini disebabkan karena
pertumbuhan subsektor perikanan Kota Ambon masih di bawah
pertumbuhan provinsi.

Selain itu, Provinsi Maluku merupakan

daerah kepulauan dengan laut yang luas, sehingga subsektor

70

perikanan Kota Ambon bersaing dengan subsektor perikanan dari


kabupaten/kota yang lain.
Subsektor listrik tergolong dalam subsektor maju tapi tertekan. Bila
dilihat secara rill, sejak perekonomian Kota Ambon mulai bangkit
seperti bertumbuhnya hotel-hotel berbintang, kegiatan produksi
baik skala kecil maupun besar, semuanya ini membutuhkan energi
listrik. Hasil wawancara dengan Manejer Pemasaran PT. PLN
Wilayah Pemasaran Ambon (wawancara tanggal 8 September
2014), diperoleh informasi bahwa, PT. PLN Wilayah Ambon
belum mampu untuk memenuhi permintaan konsumen. Hal ini
nampak dengan sering terjadinya pemadaman listrik yang
dilakukan secara bergiliran oleh PT. PLN diberbagai wilayah di
Kota Ambon. Untuk mengatasi defisit listrik yang dipicu baik dari
sisi suplai akibat mesin pembangkit yang sudah tua dan
peningkatan permintaan masyarakat, PT. PLN Wilayah Ambon
menyewa mesin genset dari Singapura yang berkapasitas 10 MW.
Selain itu, pemerintah daerah belum memanfaatkan secara
maksimal kondisi iklim dengan memanfaatkan potensi sumber
panas bumi atau Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang
dapat dikelola menjadi energi listrik mencapai 600 MW yang
terletak di Desa Suli.
Subsektor Angkutan merupakan subsektor tergolong dalam
klasifikasi maju dan tumbuh dengan pesat di Kota Ambon. Namun,
subsektor bagian Angkutan Udara dan subsektor bagian angkutan
jalan raya masih tergolong subsektor maju tapi tertekan. Seperti
kita ketahui, jumlah kendaraan baik roda dua maupun roda empat
di Kota Ambon pertumbuhannya sangat pesat. Akan tetapi,
pertumbuhannya tidak sejalan dengan kebutuhan jalan. Hal ini
dapat dilihat dari sering terjadinya kemacetan di ruas-ruas jalan
tertentu pada saat tingkat mobilisasi masyarakat tinggi yang dapat
menimbulkan pemborosan bahan bakar. Untuk mengatasi masalah
ini, pemerintah daerah mulai melakukan pelebaran-pelebaran jalan

71

dari Bandara Pattimura menuju Kota Ambon. Sedangkan ruas-ruas


jalan utama yang berada di dalam kota, sudah tidak mungkin
dilakukan pelebaran jalan karena terbentur pembebasan lahan dan
berdirinya

gedung-gedung

disamping

jalan

raya

sehingga

membutuhkan dana yang besar. Sedangkan subsektor bagian


Angkutan Udara tergolong dalam klasifikasi maju tapi tertekan.
Hal ini mengindikasikan bahwa setiap orang yang akan melakukan
penerbangan menjadikan Kota Ambon sebagai Kota Transit atau
masyarakat yang menggunakan jasa angkutan udara sebagian besar
berasal dari luar daerah.
Kuadaran III:
Sektor/subsektor potensial atau masih dapat berkembang pada
kuadran III terdiri dari subsektor kehutanan, sektor industri
pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor
bangunan/kontruksi, sektor pertanian, subsektor peternakan dan
hasil-hasilnya, sektor pertambangan dan penggalian dan subsektor
penggalian.
Subsektor kehutanan di Kota Ambon belum maksimal dalam
memberikan kontribusi terhadap PDRB. Penyebab utamanya
adalah ketersediaan lahan yang terbatas dan penggunaan lahan
yang tidak sesuai dengan fungsinya serta pengerusakan hutan
sebagai akibat dari penebangan pohon secara liar. Sehingga
pemerintah daerah lebih fokus dalam memperbaiki fungsi hutan
dengan jalan melakukan reboisasi.
Sektor industri pengolahan dapat dikatakan belum berkembang di
Kota Ambon, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap
PDRB sebesar 2,14 persen rata-rata pertahun. Selain itu, tidak
tersedianya industri pengolahan guna mendukung sektor/subsektor
unggulan dalam mengelola komoditi-komoditi yang ada. Sehingga
pemasaran produk atau komoditi-komoditi dari sektor-sektor
produktif masih dalam bentuk bahan mentah. Hal ini dapat dilihat

72

dari produk ikan olahan dalam bentuk kemasan atau kaleng yang
beredar, berasal dari luar daerah.
Subsektor penggalian di Kota Ambon merupakan penyumbang
terendah kedua terhadap PDRB. Hal ini di karenakan pendapatan
sektor ini hanya berasal dari bahan galian golongan C. Perhatian
pemerintah belum maksimal terhadap sektor penggalian karena
masih banyak penggalian seperti batu, pasir untuk kegiatan
pembangunan masih bersifat bebas atau liar. Penggalian yang
bersifat bebas dan liar ini akan berdampak terhadap pengrusakan
lingkungan. Namun sektor ini masih dapat berkembang bila ada
pengawasan yang ketat dari pemerintah daerah.
Kontribusi rata-rata pertahun sektor bangunan/kontruksi terhadap
PDRB hanya sebesar 0,81 persen. Pencapaian ini merupakan
penyumbang ketiga terendah setelah sektor pertambangan dan
penggalian dan sektor listrik, gas dan air bersih. Sedangkan bila
dilihat dari laju pertumbuhannya, dari tahun ke tahun terus
mengalami peningkatan. Laju pertumbuhan sektor ini meningkat
dratis pada tahun 2010 sebesar 56,74 persen dengan pertumbuhan
rata-rata pertahun sebesar 13,93 persen. Hal ini, dapat dilihat dari
proses pembangunan yang giat dilakukan seperti pembangunan
mal, gedung-gedung perkantoran, hotel-hotel berbintang dan
jembatan. Kegiatan-kegiatan di atas akan berdampak terhadap
penyerapan tenaga kerja. Namun sektor bangunan/kontruksi belum
mampu menjadi sektor unggulan Kota Ambon. Karena kegiatan
sektor ini hanya bersifat sementara, di mana bila kegiatan pekerjaan
pembangunan selesai maka pekerjanya akan kembali menganggur.
Kuadran IV:
Pada kuadaran ini terdapat dua subsektor yang berasal dari sektor
pertanian. Kedua subsektor ini terdiri dari subsektor tanaman bahan
makanan dan subsektor tanaman perkebunan.
Seperti telah dijelaskan dalam analisis shift share, perekonomian
Kota Ambon telah mengalami pergeseran dari sektor pertanian ke

73

sektor non pertanian. Proses pergeseran ini dapat dilihat dari


kontribusinya terhadap PDRB yang semakin menurun dari tahun ke
tahun. Sehingga dampaknya terlihat pada kedua subsektor ini,
karena merupakan subsektor penunjang terhadap sektor pertanian.
Subsektor air bersih hanya mampu memberikan kontribusi terhadap
PDRB sebesar 0,05 persen rata-rata pertahun dengan laju
pertumbuhan yang berfluktuasi dari tahun ketahun dengan
pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar 3,87 persen. Hal ini
disebabkan karena minimnya permintaan rumah tangga karena
banyak yang telah memiliki sumur bor juga mengurangi pergerakan
ekonomi pada subsektor air bersih. Penggunan air tanah atau sumur
bor untuk kebutuhan rumah tangga ini pada awalnya adalah
pelanggan dari PT. PAM. Beralihnya penggunaan air dari PT. PAM
ke sumur bor karena masalah pipa milik PT. PAM tersebut telah
berusia tua dan sering bocor, sehingga air tidak terdistribusi sampai
ke masyarakat. Selain itu, penebangan hutan secara liar
mengakibatkan tidak terjadinya penyerapan air pada musim hujan,
sehingga debit air dari tahun ke tahun mengalami penurunan.
Subsektor jasa sosial kemasyarakatan memiliki peran dalam
memberikan kontribusi terhadap PDRB sebesar 2,25 persen.
Namun Kontribusi ini lebih rendah dari kontribusi subsektor
hiburan dan rekreasi sebesar 5,41 persen rata-rata pertahun.
Apabila dilihat dari laju pertumbuhan, subsektor ini memiliki laju
pertumbuhan terendah dibandingkan subsektor yang lain pada
sektor swasta. Sehingga subsektor ini juga belum masuk dalam
kategori subsektor unggulan. Hal ini tergambar dari pola kehidupan
masyarakat yang bermukim pada perumahan-perumahan elite yang
penuh dengan kesibukan tanpa peduli akan kebersamaan. Tingkat
partisipasi

keikutsertan

dalam

lembaga-lembaga

sosial

kemasyarakatan masih rendah. Hal ini juga berdampak kepada


kegiatan pemerintah dalam menggerakan ekonomi masyarakat
lewat lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan.

74

Subsektor perdagangan besar eceran merupakan subsektor yang


masih dapat dikembangkan guna meningkatkan ekonomi daerah.
Bila dilihat dari kontribusinya baik terhadap sektor maupun PDRB,
sumbangan subsektor ini lebih tinggi dibandingkan subsektor yang
lainnya. Mengingat Kota Ambon merupakan ibu kota provinsi dan
sebagai pusat segala kegiatan bisnis dan perdagangan, belum
menjadikan subsektor ini sebagai sektor unggulan. Hal ini
disebabkan karena seluruh aktifitas bisnis dan perdagangan tidak
sepenuhnya merupakan kegiatan ekonomi Kota Ambon. Setiap
kegiatan bisnis dan perdagangan dari kabupaten/kota lain
menjadikan Kota Ambon sebagai kota transit.
Melalui pengklasifikasian tersebut, maka dapat pula diketahui
potensi sektor/subsektor ekonomi di Kota Ambon sehingga dapat
menjadi tolak ukur sekaligus acuan bagi Pemerintah Kota Ambon
dalam menentukan perencanaan dan kebijakan pembangunan.

5.5. Penentuan Sektor/Subsektor Ekonomi Basis


Analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk mengetahui
sektor-sektor ekonomi dalam PDRB yang dapat digolongkan ke dalam
sektor basis dan non basis. LQ merupakan suatu perbandingan tentang
besarnya peranan suatu sektor di Kota Ambon terhadap besarnya peranan
sektor tersebut di tingkat Provinsi Maluku.
Nilai LQ dapat dikatakan sebagai petunjuk untuk dijadikan dasar
dalam menentukan sektor basis yang potensial untuk dikembangkan. Karena
sektor tersebut tidak saja dapat memenuhi kebutuhan di dalam daerah, akan
tetapi dapat juga memenuhi kebutuhan di daerah lain atau surplus.
Hasil perhitungan LQ Kota Ambon dari kurun waktu periode
pengamatan tahun 2003-2012, maka dapat teridentifikasikan sektor-sektor
basis dan non basis seperti terlihat pada tabel 5.19.

75

Tabel 5.19. Nilai Location Quotient Kota Ambon


Dirinci Persektor/Subsektor Ekonomi Tahun 2003-2012
Nilai Location Quotient
Lapangan Usaha
1

3
4

5
6

Pertanian
a.Tanaman Bahan Makanan
b.Tanaman Perkebunan
c.Peternakan dan Hasil-hasilnya
d.Kehutanan
e.Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a.Pertambangan
b.Penggalian
Industri Pengolahan
a.Industri Tanpa Migas
Listrik, Gas & Air Bersih
a.Listrik
b.Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a.Perdagangan Besar Eceran
b.Hotel
c.Restoran
Angkutan & Komunikasi
A.Angkutan
a.Angkutan Jalan Raya
b.Angkutan Laut
c.Angkutan Penyeberangan
d.Angkutan Udara
e.Jasa Penunjang Angkutan
B.Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a.Bank
b.Lembaga Keua. Tanpa Bank
c.Sewa Bangunan
d.Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i.Pemerin. Umum & Pertahanan
ii.Swasta
a.Jasa Sosial Kemasyarakatan
b.Hiburan & Rekreasi
c.Perorangan & Rumah Tangga

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

RataRata

0,56
0,20
0,05
0,39
0,02
1,09
0,14
0,00
0,32
0,44
0,44
1,34
1,40
0,86
0,52
0,99
0,94
2,31
1,86
1,84
1,83
1,68
1,69
1,53
2,38
2,17
2,07
1,54
2,11
2,08
1,15
2,11
1,47
1,52
0,97
0,69
2,39
1,32

0,55
0,19
0,05
0,38
0,02
1,08
0,14
0,00
0,31
0,45
0,45
1,33
1,38
0,85
0,52
0,98
0,93
2,28
1,83
1,86
1,85
1,65
1,67
1,53
2,37
2,15
2,05
1,53
2,09
2,05
1,13
2,10
1,45
1,50
0,96
0,69
2,36
1,31

0,55
0,19
0,04
0,38
0,02
1,06
0,14
0,00
0,31
0,44
0,44
1,32
1,37
0,84
0,52
0,97
0,92
2,26
1,81
1,87
1,86
1,64
1,65
1,51
2,36
2,13
2,04
1,51
2,07
2,03
1,12
2,08
1,43
1,48
0,96
0,68
2,34
1,30

0,55
0,19
0,04
0,37
0,02
1,06
0,14
0,00
0,31
0,44
0,44
1,31
1,36
0,84
0,52
0,96
0,91
2,25
1,79
1,86
1,85
1,59
1,61
1,49
2,34
2,12
2,08
1,50
2,06
2,03
1,10
2,07
1,43
1,47
0,95
0,67
2,30
1,29

0,54
0,18
0,04
0,37
0,02
1,05
0,16
0,00
0,30
0,42
0,42
1,32
1,38
0,81
0,52
0,95
0,91
2,27
1,76
1,83
1,81
1,49
1,60
1,50
2,33
2,15
2,15
1,48
2,03
2,07
1,09
2,04
1,45
1,50
0,95
0,66
2,32
1,29

0,54
0,18
0,04
0,36
0,02
1,04
0,16
0,00
0,29
0,43
0,43
1,29
1,35
0,79
0,53
0,95
0,90
2,34
1,74
1,83
1,81
1,47
1,59
1,50
2,34
2,14
2,17
1,48
2,04
2,05
1,08
2,02
1,45
1,50
0,93
0,64
2,32
1,28

0,54
0,18
0,04
0,36
0,02
1,04
0,16
0,00
0,29
0,43
0,43
1,29
1,36
0,78
0,53
0,95
0,90
2,29
1,77
1,79
1,77
1,47
1,58
1,45
2,22
2,05
2,14
1,49
2,06
2,09
1,08
2,01
1,44
1,49
0,92
0,62
2,35
1,28

0,56
0,17
0,04
0,36
0,02
1,03
0,17
0,00
0,30
0,45
0,45
1,19
1,24
0,80
0,57
0,94
0,89
2,23
1,77
1,85
1,84
1,54
1,62
1,46
2,29
2,07
2,04
1,48
2,02
2,04
1,10
2,02
1,39
1,43
0,91
0,62
2,29
1,25

0,55
0,17
0,04
0,36
0,02
1,01
0,16
0,00
0,30
0,48
0,48
1,19
1,24
0,81
0,59
0,93
0,88
2,21
1,74
1,86
1,85
1,58
1,61
1,44
2,28
2,07
1,99
1,47
1,99
1,97
1,10
2,01
1,39
1,43
0,90
0,62
2,25
1,23

0,56
0,17
0,03
0,36
0,02
1,01
0,17
0,00
0,32
0,48
0,48
1,19
1,24
0,81
0,59
0,93
0,87
2,20
1,73
1,85
1,84
1,56
1,59
1,43
2,26
2,06
1,98
1,45
1,98
1,95
1,08
2,00
1,38
1,42
0,88
0,59
2,23
1,22

0,55
0,18
0,04
0,37
0,02
1,05
0,15
0,00
0,31
0,45
0,45
1,28
1,33
0,82
0,54
0,96
0,91
2,26
1,78
1,84
1,83
1,57
1,62
1,48
2,32
2,11
2,07
1,49
2,05
2,04
1,10
2,05
1,43
1,47
0,93
0,65
2,32
1,28

Sumber: PDRB Provinsi Maluku dan BPS Kota Ambon


Diolah Penulis

76

Dari tabel di atas, dapat kita analisis sektor-sektor yang merupakan


sektor basis dan non basis sebagai berikut:
- Sektor Pertanian,
Sektor Pertanian merupakan sektor non basis karena nilai LQ < 1.
Namun dilihat dari subsektor terdapat subsektor Perikanan yang
tergolong subsektor basis karena nilai LQ > 1. Hal ini menunjukkan
subsektor Perikanan di Kota Ambon memiliki peranan atau pengaruh
lebih baik dibandingkan dengan subsektor yang lainnya. Sehingga
subsektor Perikanan merupakan subsektor basis yang memiliki kekuatan
ekonomi yang cukup baik dan sangat berpengaruh terhadap peningkatan
pertumbuhan ekonomi Kota Ambon, sehingga subsektor ini merupakan
subsektor basis atau potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak
perekonomian daerah.
Jika dilihat berdasarkan kondisi riil yang terjadi di Kota Ambon,
subsektor perikanan merupakan subsektor primadona dan mendapat
perhatian yang lebih dibandingkan dengan subsektor lainnya. Dari hasil
wawancara dengan Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas
Kelautan dan Perikanan Kota Ambon diperoleh informasi bahwa;
Pemerintah Kota Ambon melalui DKP Kota tetap berpihak kepada
nelayan melalui intervensi program-program pemberdayaan dengan
sasaran dan tujuan utama untuk meningkatkan pendapatan nelayan.
Subsektor perikanan mendapat perhatian khusus karena, subsektor
perikanan mampu memberikan kontribusi yang besar bagi pendapatan
daerah Kota Ambon. Selain itu, komoditi dari subsektor perikanan
mampu memenuhi permintaan domestik bahkan dapat melayani
permintaan ekspor dari berbagai daerah. Hal ini jelas terlihat dimana
masyarakat nelayan sering mendapat pelatihan bahkan bantuan dari
Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Bantuan yang dilakukan
seperti, pemberian alat tangkap seperti jaring, mesin motor tempel, alat
pendingin, alat pengasapan, keramba jaring apung (KJA) dan modal.
Sedangkan pelatihan yang diberikan berupa pengolahan ikan menjadi
abon, terasi ikan, pengasapan ikan yang baik, pelatihan pengembangan

77

budidaya ikan kerapu, pengolahan rumput laut menjadi puding, es rumut


laut dan mie rumput laut.
- Sektor Pertambangan dan Penggalian,
Sektor Pertambangan dan Penggalian tidak tergolong dalam sekor basis
karena nilai LQ < 1, begitu pula subsektornya tidak tergololong dalam
subsektor basis.
Sektor ini merupakan sektor yang mempunyai kontribusi terendah
terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Ambon. Kinerja sektor ini masih
tergantung pada pertambangan golongan C, sedangkan untuk jenis
kegiatan pertambangan lain relatif terbatas mengingat peta bahan
tambang Kota Ambon secara keseluruhan belum tersedia. Sehingga
kontribusi sektor pertambangan dan pengalian tersebut seluruhnya
berasal dari sub sektor penggalian.
- Sektor Industri Pengolahan
Sektor Industri Pengolahan juga tidak tergolong dalam sektor basis
karena memiliki nilai LQ < 1.
Perlambatan pertumbuhan pada sektor industri pengolahan disebabkan
karena meningkatnya biaya operasional akibat terjadinya krisis listrik di
Kota Ambon yang berlangsung cukup lama sehingga para pengusaha
terpaksa menggunakan generator set dalam mengoperasikan usahanya.
Belum tersediannya industri pengolahan dalam mendukung diversifikasi
hasil

produksi

berupa

produk

atau

komoditi-komoditi

dari

sektor/subsektor basis.
- Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih,
Sektor ini tergolong dalam sektor basis, karena memiliki nilai LQ > 1.
Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih terdiri dari subsektor Listrik dan
subsektor Air Bersih. Namun hanya subsektor Listrik yang tergolong
subsektor basis dengan nilai LQ rata-rata 1,33. Sedangkan subsektor Air
Bersih bukan tergolong subsektor basis karena memiliki nilai LQ < 1
selama periode penelitian.
Namun bila kita lihat periode tersebut, walaupun tergolong sektor basis
nilai LQ subsektor listrik, dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Hal

78

ini disebabkan karena laju peningkatan kapasistas pembangkit tidak


secepat dari laju permintaan sehingga margin cadangan cenderung
rendah. Di samping itu kapasitas infrastuktur transmisi distribusi pada
saat itu sudah tua dan sudah mencapai daya yang maksimal sehingga
kapasitas

pembangkit

yang

ada

menjadi

tidak

efektif.

Sejak

perekonomian Kota Ambon mulai bangkit seperti bertumbuhnya hotelhotel berbintang, kegiatan produksi baik skala kecil maupun besar,
semuanya ini membutuhkan energi listrik. Untuk mengatasi kebutuhan
listrik yang semakin meningkat, maka pemerintah Kota Ambon melalui
PT. PLN Wilayah Ambon menyewa mesin genset dari Singapura yang
berkapasitas 10 MW dan telah mulai dioperasikan sejak minggu I bulan
Maret 2010. Penyewaan mesin genset ini adalah solusi jangka pendek
yang ditempuh PLN Wilayah Ambon untuk mengatasi defisit listrik yang
dipicu baik dari sisi suplai akibat mesin pembangkit yang sudah tua dan
peningkatan permintaan masyarakat. Upaya pengamanan suplai listrik di
jangka menengah dan jangka panjang terkendala oleh fasilitas
pembiayaan bagi PLN sehingga pemerintah perlu mencari solusi lewat
investor swasta.
Rendahnya kontribusi subsektor air bersih terhadap pertumbuhan
ekonomi Kota Ambon relevan dengan masih rendahnya pembiayaan
perbankan kepada sektor ini. Miinimnya permintaan rumah tangga
karena banyak yang telah memiliki sumur bor juga mengurangi
pergerakan ekonomi pada subsektor air bersih. Hal ini dilihat dari nilai
LQ rata-rata subsektor air bersih hanya sebesar 0,82.
- Bangunan dan Kontruksi
Sektor Bangunan dan Kontruksi tergolong dalam sektor non basis karena
memiliki nilai LQ < 1.
Gencarnya pemerintah daerah dan kalangan swasta di Kota Ambon untuk
merealisasikan proyek pembangunan dalam rangka mempersiapkan
pelaksanaan Sail Banda 2010 yang telah dilaksanakan pada bulan JuliAgustus

2010.

Aktifitas

konstruksi

swasta

sebagai

pendorong

pertumbuhan pada sektor ini tercermin dari pembangunan beberapa

79

sarana akomodasi maupun hotel dan guest house yang dipersiapkan


untuk menampung lonjakan wisatawan pada event di maksud. Di
samping itu, dapat dilihat dari proyek pelebaran jalan dan perbaikan
jembatan dari Bandara Pattimura menuju Kota Ambon dan juga ruas
jalan menuju Pantai Natsepa, pembangunan mal-mal belum mampu
menjadikan sektor ini sebagai sektor basis.
- Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran,
Sektor ini tergolong dalam sektor non basis karena memiliki nilai
LQ < 1. Sektor ini terdiri dari subsektor Perdagangan Besar dan Eceran,
subsektor Hotel dan subsektor Restoran. Namn, hanya subsektor Hotel
dan subsektor Restoran tergolong dalam subsektor basis.
Aktivitas kegiatan subsektor perdagangan di Kota Ambon ditandai
dengan terus meningkatnya minat usaha. Tahun 2010, terdapat 1.307
Surat Ijin Usaha yang diterbitkan Pemerintah Kota Ambon meliputi 196
ijin perusahaan besar, 342 ijin perusahaan menengah dan 769 ijin
perusahaan kecil. Selama tahun 2010, program yang dilaksanakan adalah
Program Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri melalui Pembangunan
Pasar Gotong Royong, Pembangunan Pasar Komoditi Daerah Tahap II
(Pasar Ole-Ole), dan Pameran Produk Ekspor; dan Program Perlindungan
Konsumen dan Pengamanan Perdagangan melalui Pengawasan peredaran
barang dan jasa, Pengawasan Operasional Kemetriologian (tera ulang dan
ukur ulang), dan Peningkatan pengawasan terpadu barang berbahaya dan
minuman beralkohol. Namun semua kegiatan ini belum mampu
mengangkat subsektor perdagangan besar eceran menjadi subsektor
basis. Hal ini disebabkan karena seluruh aktifitas bisnis dan perdagangan
tidak sepenuhnya merupakan kegiatan ekonomi Kota Ambon. Setiap
kegiatan bisnis dan perdagangan dari kabupaten/kota lain menjadikan
Kota Ambon sebagai kota transit.
Subsektor hotel dan subsektor restoran merupakan subsektor basis Kota
Ambon. Hal ini dapat terlihat dengan bertumbuhnya restoran-restoran
dan dibangunnya hotel-hotel berbintang baru di Kota Ambon.

80

Bila dilihat secara administratif di mana Kota Ambon merupakan Ibu


Kota Provinsi serta kebijakan-kebijakan pemerintah Provinsi melakukan
event-event besar di Provinsi Maluku mengakibatkan Kota Ambon
merupakan pintu masuk bagi para investor, wisatawan sekaligus
dijadikan kota perdagangan. Faktor ini menyebabkan subsektor hotel dan
subsektor restoran di Kota Ambon tumbuh pesat. Selain itu, subsektor
hotel pertumbuhannya terutama didorong oleh telah beroperasinya hotel
yang memiliki jaringan internasional di kota Ambon seperti Swissbel
Hotel dan Amaris Santika Hotel. Hal ini mengindikasikan banyak turis
mancanegara yang mengunjungi Kota Ambon dan mengunjungi daerah
lain dengan menjadikan Kota Ambon sebagai tempat transit, sehingga
dibangun hotel-hotel bertaraf internasional.
- Sektor Angkutan dan komunikasi,
Sektor Angkutan dan Komunikasi tergolong dalam sektor basis karena
memiliki nilai LQ > 1, begitu pula dengan semua subsektornya tergolong
dalam subsektor basis. Sehingga sektor ini merupakan sektor basis atau
potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian daerah.
Pendorong kinerja susektor angkutan mengalami peningkatan seiring
dengan berkembangnya jalur transportasi seperti:
Transportasi laut; telah beroperasinya angkutan penyeberangan kapal
feri, kapal-kapal milik PT. Pelni maupun kapal kecil dan besar yang
menghubungkan Kota Ambon dengan kabupaten/kota di Provinsi
Maluku maupun provinsi lainnya yang semakin lancar dan berkembang.
Transportasi udara; dibukanya rute penerbangan Jakarta-SurabayaMakassar-Papua-Ambon oleh maskapai nasional serta rute penerbangan
di dalam provinsi dengan volume penerbangan lebih dari sekali dalam
sehari. Hal ini dapat terlihat dari kontribusi maupun tingkat pertumbuhan
subsektor angkutan udara merupakan penyumbang terbesar terhadap
sektor angkutan.
Transportasi darat; dengan berkembangnya jumlah kendaraan maka
pemerintah Kota Ambon melakukan pelebaran jalan dari bandara ke Kota
Ambon maupun di dalam kota sendiri. Transportasi darat semakin

81

bertumbuh dengan tersedianya bus yang dapat menghubungkan Kota


Ambon dengan kabupaten/kota lainnya yang semakin lancar dan
berkembang.
Pendorong kinerja susektor komunikasi sebagai subsektor basis
mengalami peningkatan seiring dengan perkembangnya seperti: televisi
swasta nasional, televisi swasta daerah, televisi daerah, warung
telekomunikasi dan internet, restoran dan cafe yang menyediakan
hotspot, koran-koran nasional dan daerah. Selain itu, munculnya operator
selular yang berkembang pesat di kota ambon sehingga muncul
persaingan dalam menguasai pasar komunikasi.
- Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan,
Sektor ini tergolong dalam sektor basis dan subsektornya pun tergolong
dalam subsektor basis. Karena secara keseluruhan sektor Keuangan,
Persewaan dan Jasa Perusahaan beserta subsektornya memiliki nilai
LQ > 1.
Sektor

Keuangan,

persewaan

dan

jasa

perusahaan

mengalami

pertumbuhan yang baik, ini disebabkan kebijakan dari luar seperti


kebijakan pemerintah pusat melalui lembaga keuangan dalam hal
pemberian kredit. Kebijakan ini menimbulkan sektor keuangan
persewaan dan jasa perusahaan tumbuh. Sub sektor jasa perbankan
menjadi pendorong utama pertumbuhan pada sektor ini. Pertumbuhan
indikator pokok perbankan terus meningkat diantaranya pertumbuhan
realisasi kredit dan DPK yang cukup tinggi. Subsektor bank dan
subsektor lembaga keuangan tanpa bank tumbuh dan berperan aktif
memberikan bantuan usaha kepada industri kecil dan menengah. Hal ini
terlihat jelas dengan tumbuhnya usaha-usaha koperasi yang bermunculan
dalam pemberian kredit mudah bagi usaha kecil menengah dan mikro.
Dengan adanya kebijakan eksternal yang digulirkan kepada seluruh
wilayah di Provinsi Maluku termasuk Kota Ambon, kedua sektor ini
mampu memberikan pertumbuhan yang cukup besar di Kota Ambon.

82

- Jasa-jasa,
Sektor Jasa-jasa tergolong dalam sektor basis karena memiliki nilai
LQ > 1. Sektor ini terdiri dari subsektor Pemerintahan Umum dan
Pertahanan dan subsektor Swasta. Namun subsektor Pemerintahan
Umum dan Pertahanan tergolong dalam subsektor basis sedangkan
subsektor Swasta tidak tergolong dalam subsektor basis. Subsektor
bagian Swasta terdiri dari subsektor bagian Jasa Sosial Kemasyarakatan,
Hiburan dan Rekreasi serta Perorangan dan Rumah Tangga. Ketiga
subsektor bagian ini, hanya subsektor bagian Hiburan dan Rekreasi serta
Perorangan dan Rumah Tangga merupakan subsektor yang tergolong
basis.
Potensialnya subsektor pemerintahan umum di Kota Ambon disebabkan
oleh agresifnya pemerintah daerah dalam melakukan penataan dan
pembangunan di hampir seluruh lini. Hal tersebut bertujuan untuk
mengejar ketertinggalan pembangunan yang diakibatkan oleh krisis
global dan pasca konflik sosial yang terjadi.
Meningkatnya

pertumbuhan

sektor

ini

terutama

didorong

oleh

meningkatnya pertumbuhan pada subsektor jasa-jasa pemerintahan


umum. Peningkatan aktivitas ekonomi daerah juga mampu mendorong
pertumbuhan pada sektor ini.
Pertumbuhan pada sektor ini juga sejalan dengan realisasi pendapatan
asli daerah (PAD) yang berasal dari retribusi dan pajak yang mengalami
pertumbuhan. Hal ini dapat terlihat di Kota Ambon dewasa ini, di jalanjalan umun dan tempat-tempat umum terdapat petugas-petugas parkir
yang bertugas.
Demikian pula untuk subsektor hiburan dan rekreasi di mana banyak
dibuka tempat-tempat karaoke serta tempat rekreasi yang selalu dipenuhi
pengunjung.
Peranan

sektor/subsektor

basis

sangat

penting,

karena

dengan

mengoptimalkan sektor/subsektor basis diharapkan dapat menyerap


tenaga kerja dan peningkatan pendapatan. Hal ini secara riil dapat dilihat
di Kota Ambon, dimana sektor-sektor basis seperti subsektor hotel,

83

subsektor restoran, sektor jasa-jasa, sektor angkutan dan komunikasi


mampu menyerap tenaga kerja tertinggi.
Hasil penelitian tentang sektor/subsektor basis ini didukung oleh teori
yang dikemukakan oleh Adisasmita (2005:28), bahwa; Aktivitas
basis/unggulan memiliki peranan sebagai penggerak utama (primer
mover) dalam pertumbuhan suatu wilayah. Semakin besar ekspor suatu
wilayah ke wilayah lain akan semakin maju pertumbuhanan wilayah
tersebut, dan demikian sebaliknya. Setiap perubahan yang terjadi pada
sektor basis akan menimbulkan efek ganda (multiplier effect) dalam
perekonomian regional.

5.6. Potensi Ekonomi Sektoral Kota Ambon


Analisis ini digunakan untuk mengambil kesimpulan dengan
menggabungkan tiga hasil analisis, yaitu analisis analisis shift share. analisis
Tipology Klassen dan analisis Location Quotient (LQ). Tujuannya untuk
menentukan sektor/subsektor basis sekaligus untuk mendapatkan gambaran
yang lebih jelas mengenai posisi masing-masing sektor/subsektor dilihat
dari segi tingkat pertumbuhan, kemampuan daya saing, keunggulan
kompetitif, keunggulan komparatif serta kemampuan berspesialisasinya.
5.6.1.

Analisis Sektor Pertanian


Sektor Pertanian di Kota Ambon bila dilihat dari kontribusi

terhadap PDRB telah mengalami pergeseran namun dalam kontribusinya


menduduki urutan keempat. Hal ini ditunjukan oleh kontribusi rata-rata
sektor pertanian yang mencapai 17,85 persen pertahun. Laju rata-rata
pertumbuhan sektor pertanian 4,84 persen melebihi laju pertumbuhan di
tingkat provinsi. Namun bila dilihat secara subsektor, subsektor perikanan
memiliki kontribusi rata-rata tertinggi mencapai 15,67 persen dengan laju
pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar 5,21 persen, ini merupakan laju
pertumbuhan tertinggi bahkan melebihi laju pertumbuhan rata-rata sektor
perikanan.

84

Berdasarkan analisis LQ, sektor pertanian menunjukkan nilai LQ


rata-rata sebesar 0,55 (< 1), hal ini berarti sektor ini bukan merupakan sektor
basis. Apabila dilihat secara keseluruhan hanya subsektor perikanan yang
tergolong subsektor basis dengan nilai LQ rata-rata 1,05 (> 1). Artinya
subsektor ini tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Kota
Ambon saja, tapi mampu memenuhi kebutuhan daerah lainnya sehingga
subsektor perikanan merupakan subsektor yang berpotensi ekspor.

Tabel 5.20. Potensi Sektor Pertanian


Sektor

Pertanian

a.. Tanaman Bahan


Makanan

b. Tanaman
Perkebunan

c. Peternakan dan
Hasil-hasilnya

d. Kehutanan

e. Perikanan

Aspek

Parameter

Makna

Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif

Kuadran III
<1
Negatif
Positif

Aij / Spesialisasi

Negatif

Tipologi Klassen

Kuadran IV

LQ

<1

P / Mij

Negatif

Tumbuh lambat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif

Negatif

Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Negatif

Tidak Spesialisasi

Tipologi Klassen

Kuadran IV

Sektor Potensial atau masih dapat berkembang


Sektor Non Basis
Tumbuh lambat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Tidak Spesialisasi
Subsektor relatif tertinggal
Sektor Non Basis

Subsektor relatif tertinggal

LQ

<1

P / Mij

Negatif

Subsektor Non Basis


Tumbuh lambat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif

Negatif

Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Negatif

Tidak Spesialisasi

Tipologi Klassen

Kuadran III

LQ

<1

Sektor Potensial atau masih dapat berkembang


Subsektor Non Bais

P / Mij

Negatif

Tumbuh lambat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif

Positif

Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Negatif

Tipologi Klassen

Kuadran III

Tidak Spesialisasi
Subsektor Potensial atau masih dapat
berkembang
Subsektor Non Basis

LQ

<1

P / Mij

Negatif

Tumbuh lambat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif

Positif

Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Negatif

Tidak Spesialisasi

Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif

Kuadran II
>1
Negatif
Negatif

Aij / Spesialisasi

Positif

Subsektor maju tapi tertekan


Subsektor Basis
Tumbuh lambat di Propinsi
Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provoinsi.
Spesialisasi

Sumber : Hasil pengolahan berdasarkan data PDRB Provinsi Maluku dan PDRB
Kota Ambon
85

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa subsektor


perikanan tergolong sebagai subsektor basis dan memiliki spesialisasi (Aij).
Walaupun subsektor ini tergolong subsektor maju namun pertumbuhannya
tertekan (Tipologi klassen) serta pertumbuhannya lambat di provinsi (Mij)
yang mengindikasikan tidak ada dampak bauran industri di tingkat provinsi
terhadap bauran industri di Kota Ambon pada sektor yang sama. Hal ini
disebabkan karena Provinsi Maluku merupakan provinsi kepulauan dengan
laut yang luas dan kaya akan hasil laut. Sehingga subsektor perikanan Kota
Ambon bersaing dengan subsektor perikanan kabupaten/kota yang ada di
Provinsi Maluku.
5.6.2.

Analisis Sektor Pertambangan dan Penggalian


Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB

Kota Ambon rata-rata sebesar 0,12 persen per tahun dan berada pada urutan
kesembilan dibandingkan sektor-sektor lain. Hal ini disebabkan kontribusi
dari sektor pertambangan dan penggalian hanya dari subsektor penggalian,
karena Kota Ambon tidak memiliki sumberdaya alam dari subsektor
pertambangan. Laju pertumbuhan sektor ini rata-rata sebesar 8,25 persen
per tahun, lebih tinggi dibandingkan sektor yang sama di tingkat Provinsi.
Berdasarkan tabel 5.21 dapat diketahui sektor pertambangan dan
penggalian beserta subsektornya, tidak tergolong ke dalam sektor basis karena
nilai LQ lebih kecil dari 1 (< 1). Sektor ini juga termasuk ke dalam sektor
potensial dan masih dapat berkembang akan tetapi pertumbuhannya lebih cpat
dibanding di tingkat provinsi namun belum berspesialisasi. Sedangkan
sumbangan dari subsektor pengalian terhadap PDRB berasal dari bahan
galian golongan C.

86

Tabel 5.21. Potensi Sektor Pertambangan dan Penggalian


Sektor

Pertambangan dan
Penggalian

Aspek

Parameter

Makna

Tipologi Klassen
LQ

Kuadran III
<1

Sektor Potensial atau masih dapat berkembang


Sektor Non Basis

P / Mij
D / Cij / Kompetitif

Negatif
Positif

Tumbuh lambat di Propinsi


Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Negatif

Tidak Spesialisasi

Tipologi Klassen
LQ

2
a.. Pertambangan

P / Mij
D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi
Tipologi Klassen

b. Penggalian

Kuadran III

Sektor Potensial atau masih dapat berkembang

LQ

<1

P / Mij

Positif

Subsektor Non Basis


Tumbuh cepat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi

Positif
Negatif

Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.


Tidak Spesialisasi

Sumber : Hasil pengolahan berdasarkan data PDRB Provinsi Maluku dan PDRB
Kota Ambon

5.6.3.

Analisis Sektor Industri Pengolahan


Sektor industri pengolahan apabila ditinjau dari segi kontribusinya

terhadap PDRB menduduki urutan keenam dengan konstribusi rata-rata


2,14 persen per tahun. Sektor ini memiliki laju pertumbuhan rata-rata
sebesar 7,83 persen lebih rendah daripada provinsi yang mencapai 7,90
persen.
Tabel 5.22. Potensi Sektor Industri Pengolahan
Sektor

Industri
Pengolahan

Aspek

Parameter

Makna

Tipologi Klassen

Kuadran III

Sektor Potensial atau masih dapat berkembang

LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi

<1
Positif
Positif
Negatif

Sektor Non Basis


Tumbuh cepat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Tidak Spesialisasi

Sumber : Hasil pengolahan berdasarkan data PDRB Provinsi Maluku dan PDRB
Kota Ambon

Sektor industri pengolahan memiliki nilai komponen P sebesar


247,75 yang menunjukkan bahwa sektor ini tumbuh cepat dibandingkan di

87

tingkat Provinsi. Sedangkan nilai komponen D sebesar 17.838,86


menggambarkan bahwa sektor industri pengolahan sebagai sektor yang
memiliki daya saing sehingga pertumbuhannya lebih cepat dibanding
pertumbuhan di provinsi.
Berdasarkan tabel di atas, nilai rata-rata hasil analisis LQ sektor ini
lebih kecil dari 1, yaitu sebesar 0,45, sehingga digolongkan sebagai sektor
non basis. Walaupun termasuk sektor non basis tetapi pertumbuhannya lebih
cepat dibandingkan provinsi (memiliki keunggulan kompetititf) dan
tergolong ke dalam sektor potensial atau masih dapat berkembang.
5.6.4.

Analisis Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih


Hasil analisis menggunakan Tipology Klassen sektor listrik dan air

bersih diklasifikasikan sebagai sektor maju tapi tertekan. Hal ini


disebabkan pertumbuhan rata-rata sebesar 4,07 persen masih lebih kecil
dibandingkan pertumbuhan rata-rata di tingkat provinsi sebesar 4,27
persen. Sedangkan kontribusi rata-rata terhadap PDRB sebesar 0,67 persen
akan tetapi sektor ini tergolong dalam sektor basis.
Hasil analisis terhadap subsektor listrik menunjukkan bahwa
sektor ini termasuk sektor basis dan berspesialisasi. Walupun demikian
subsektor listrik tergolong sebagai subsektor maju tapi tertekan dan laju
pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan Provinsi (tidak kompetitif).
Sedangkan subsektor air bersih tergolong subsektor relatif tertinggal dan
pertumbuhan lebih lambat dibandingkan Provinsi sehingga tidak tergolong
subsektor basis dan tidak berspesialisasi. Berikut ini dapat dilihat hasil
analisis dari ketiga alat analisis yang digunakan terhadap potensi sektor
listrik, gas dan air bersih.

88

Tabel 5.23. Potensi Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih


Sektor

Listrik, Gas
dan Air Bersih

4
a.. Listrik

b. Air Bersih

Aspek

Parameter

Makna

Tipologi Klassen
LQ
P / Mij

Kuadran II
>1
Negatif

D / Cij / Kompetitif

Negatif

Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Positif

Spesialisasi

Tipologi Klassen

Kuadran II

Sektor maju tapi tertekan


Sektor Basis
Tumbuh lambat di Propinsi

Subsektor maju tapi tertekan

LQ

>1

P / Mij

Negatif

Subsektor Basis
Tumbuh lambat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif

Negatif

Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Positif

Spesialisasi

Tipologi Klassen

Kuadran IV

LQ

<1

P / Mij

Negatif

Tumbuh lambat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi

Positif
Negatif

Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.


Tidak Spesialisasi

Subsektor relatif tertinggal


Subsektor Non Basis

Sumber : Hasil pengolahan berdasarkan data PDRB Provinsi Maluku dan PDRB
Kota Ambon
5.6.5.

Analisis Sektor Bangunan dan Kontruksi


Sektor bangunan dan konstruksi memberikan kontribusi rata-rata

sebesar 0,81 persen dan menempati peringkat ketujuh dibandingkan sektorsektor lain. Laju pertumbuhan rata-rata yang mencapai 13,93 persen lebih
tinggi daripada provinsi yang hanya sebesar 10,70 persen. Kondisi ini
menyebabkan sektor bangunan dan konstruksi digolongkan ke dalam sektor
potensial atau masih dapat berkembang.
Berdasarkan hasil analisis shift share, sektor bangunan dan konstruksi
dapat dikategorikan sebagai sektor yang kompetitif, karena memiliki nilai
komponen D positif, sehingga pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan
provinsi. Sementara nilai komponen P atau Mij yang positif berarti sektor ini
merupakan sektor yang tumbuh cepat di Provinsi Maluku dan memberikan
dampak terhadap pertumbuhan bauran industri pada sektor/subsektor yang sama
di Kota Ambon.

89

Tabel 5.24. Potensi Sektor Bangunan dan Kontruksi


Sektor

Bangunan dan
Kontruksi

Aspek

Parameter

Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif

Kuadran III
<1
Positif
Positif

Aij / Spesialisasi

Negatif

Makna
Sektor Potensial atau masih dapat berkembang
Sektor Non Basis
Tumbuh cepat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Tidak Spesialisasi

Sumber : Hasil pengolahan berdasarkan data PDRB Provinsi Maluku dan PDRB
Kota Ambon

Hasil analisis terhadap sektor bangunan dan konstruksi dapat


disimpulkan bahwa sektor ini bukan merupakan sektor basis dan tidak
berspesialisasi. Tetapi sektor ini mempunyai peluang untuk dikembangkan
menjadi sektor basis karena tergolong sektor potensial atau masih dapat
berkembang dan memiliki keunggulan kompetitif dengan laju pertumbuhan
lebih tinggi daripada provinsi.

5.6.6.

Analisis Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran


Hasil analisis menggunakan Tipology Klassen terhadap sektor

perdagangan, hotel dan restoran menunjukkan bahwa sektor ini tergolong ke


dalam sektor potensial atau masih dapat berkembang dan sektor ini
tergolong sektor non basis. Kontribusi sektor ini rata-ratanya sebesar 24,16
persen dan laju pertumbuhan rata-ratanya sebesar 6,70 persen lebih tinggi
dibandingkan dengan laju pertumbuhan provinsi.
Berdasarkan perkembangan nilai LQ sektor perdagangan, hotel dan
restoran menunjukkan nilai LQ rata-rata < 1. Hal ini berarti sektor ini
termasuk sektor non basis dan belum berspesialisasi, sehingga sektor ini
dapat dikatakan belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Ambon
atau tidak kompetitif. Namun nilai komponen P dan komponen D sektor
perdagangan, hotel dan restoran bernilai positif. Hal ini menunjukkan bahwa
sektor ini tumbuh cepat

di provinsi dan dapat dikatakan memiliki

keunggulan kompetitif.

90

Tabel 5.25. Potensi Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran


Sektor

Perdagangan,
Hotel dan Restoran

a.. Perdagangan
Besar Eceran
6

b. Hotel

c. Restoran

Aspek

Parameter

Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif

Kuadran III
<1
Positif
Positif

Aij / Spesialisasi

Negatif

Tipologi Klassen

Kuadran IV

Makna
Sektor Potensial atau masih dapat berkembang
Sektor Non Basis
Tumbuh cepat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Tidak Spesialisasi
Subsektor Relatif Tertinggal

LQ

<1

P / Mij

Positif

Subsektor Non Basis


Tumbuh cepat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif

Negatif

Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Negatif

Tidak Spesialisasi

Tipologi Klassen

Kuadran I

Subsektor maju dan tumbuh dengan pesat

LQ

>1

P / Mij

Positif

Subsektor Basis
Tumbuh cepat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif

Positif

Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Positif

Spesialisasi

Tipologi Klassen

Kuadran II

LQ

>1

Subsektor maju tapi tertekan


Subsektor Basis

P / Mij

Positif

Tumbuh cepat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi

Negatif
Positif

Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provoinsi.


Spesialisasi

Sumber : Hasil pengolahan berdasarkan data PDRB Provinsi Maluku dan PDRB
Kota Ambon

Sektor perdagangan, hotel dan restoran memiliki tiga subsektor.


Subsektor perdagangan besar dan eceran tergolong subsektor relatif
tertinggal dan bukan subsektor basis namun bauran industri memiliki
pertumbuhan lebih cepat dibanding ditingkat provinsi dan belum
berspesialisasi. Sedangkan subsektor hotel merupakan sektor basis dan
berspesialisasi. Hal ini terbukti subsektor ini tergolong subsektor maju dan
tumbuh dengan pesat. Bahkan untuk komponen P atau Mij dan komponen
D/Cij bernilai positif. Subsektor restoran tergolong dalam subsektor maju
tapi tertekan, namun tergolong dalam subsektor basis. Komponen P/Mij dan
komponen Aij bernilai positif namun subsektor ini tidak memiliki
keunggulan kompetitif.
Hasil analisis terhadap sektor perdagangan, hotel dan restoran
dapat ditarik kesimpulan, subsektor hotel dan subsektor restoran merupakan

91

subsektor basis dan potensial sehingga sangat berdampak dalam


memberikan kontribusi terbesar kedua terhadap PDRB Kota Ambon.

5.6.7.

Analisis Sektor Angkutan dan Komunikasi


Sektor angkutan dan komunikasi menduduki peringkat ketiga

dalam kontribusi

rata-ratanya

terhadap

PDRB

Kota Ambon, yaitu

sebesar 19,00 persen. Laju pertumbuhan rata-rata mencapai 9,22 persen


lebih besar dibandingkan laju pertumbuhan di tingkat Provinsi yang sebesar
8.30

persen.

Sehingga

berdasarkan

Tipology

Klassen

sektor

ini

diklasifikasikan sebagai sektor maju dan tumbuh pesat.


Perkembangan nilai LQ sektor ini > 1, sehingga sektor ini
tergolong sebagai sektor basis. Sedangkan hasil analisis shift share terhadap
sektor angkutan dan komunikasi diperoleh nilai komponen P dan nilai
komponen D bersifat positif. Hal ini berarti sektor ini tergolong ke dalam
sektor yang tumbuh cepat di tingkat provinsi dan mempunyai daya saing,
sehingga pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan provinsi serta
berspesialisasi.
Sektor angkutan dan komunikasi terbagi atas dua subsektor,
dimana kedua subsektor ini memiliki karakteristik dan pola pertumbuhan
sama dengan sektornya bila dilihat dari analisis shift share, analisis Tipology
Klassen dan analisis LQ. Subsektor angkutan terdiri dari subsektor bagian
angkutan jalan raya, subsektor bagian angkutan laut, subsektor bagian
angkutan penyeberangan, subsektor bagian angkutan udara dan subsektor
bagian jasa penunjang angkutan. Namun secara keseluruhan sektor angkutan
dan komunikasi termasuk sektor basis dan sangat potensial dalam
meningkatkan PDRB Kota Ambon.

92

Tabel 5.26. Potensi Sektor Angkutan dan Komunikasi


Sektor
Angkutan dan
Komunikasi

A.. Angkutan

a. Angkutan Jalan
Raya

b. Angkutan Laut

c. Angkutan
Penyeberangan

d. Angkutan Udara

e. Jasa Penunjang
Angkutan

B. Komunikasi

Aspek

Parameter

Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi
Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi
Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi
Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi
Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi
Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi
Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi
Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi

Kuadran I
>1
Positif
Positif
Positif
Kuadran I
>1
Positif
Positif
Positif
Kuadran II
>1
Negatif
Positif
Positif
Kuadran I
>1
Negatif
Positif
Positif
Kuadran I
>1
Positif
Positif
Positif
Kuadran II
>1
Positif
Positif
Positif
Kuadran I
>1
Positif
Positif
Positif
Kuadran I
>1
Positif
Positif
Positif

Makna
Subsektor maju dan tumbuh dengan pesat
Sektor Basis
Tumbuh cepat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Spesialisasi
Subsektor maju dan tumbuh dengan pesat
Sektor Basis
Tumbuh cepat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Spesialisasi
Subsektor maju tapi tertekan
Subsektor Basis
Tumbuh lambat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Spesialisasi
Subsektor maju dan tumbuh dengan pesat
Subsektor Basis
Tumbuh lambat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Spesialisasi
Subsektor maju dan tumbuh dengan pesat
Subsektor Basis
Tumbuh cepat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Spesialisasi
Subsektor maju tapi tertekan
Subsektor Basis
Tumbuh cepat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Spesialisasi
Subsektor maju dan tumbuh dengan pesat
Subsektor Basis
Tumbuh cepat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Spesialisasi
Subsektor maju dan tumbuh dengan pesat
Subsektor Basis
Tumbuh cepat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Spesialisasi

Sumber : Hasil pengolahan berdasarkan data PDRB Provinsi Maluku dan PDRB
Kota Ambon
5.6.8.

Analisis Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan


Berdasarkan analisis Tipology Klassen sektor keuangan, persewaan

dan jasa perusahaan beserta semua subsektornya termasuk ke dalam


klasifikasi sektor maju dan tumbuh dengan pesat. Laju pertumbuhan rata93

rata pertahun sebesar 4,27 persen lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di


tingkat provinsi yang hanya sebesar 4,14 persen. Sedangkan nilai kontribusi
rata-rata terhadap PDRB menduduki urutan kelima sebesar 8,12 persen.
Berdasarkan analisis LQ, sektor keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan menunjukkan nilai LQ rata-ratanya > 1, hal ini berarti sektor
keuangan, persewaan dan jasa perusahaan termasuk sektor basis dan sudah
berspesialisasi.
Perhitungan analisis shift share terhadap sektor keuangan,
persewaan dan jasa perusahaan beserta semua subsektornya diperoleh nilai
komponen D positif yang berarti sektor ini merupakan sektor yang tumbuh
cepat di Provinsi Maluku. Sedangkan nilai komponen P keseluruhannya
negatif berarti sektor ini beserta subsektornya tidak memiliki dampak
bauran industri atau mempunyai laju pertumbuhan yang lebih lambat
dibandingkan provinsi.
Berdasarkan hasil analisis terhadap sektor keuangan, persewaan
dan

jasa

perusahaan

beserta

subsektornya

termasuk

ke

dalam

sektor/subsektor basis dan tergolong sektor maju dan tumbuh dengan pesat.

94

Tabel 5.27. Potensi Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan


Sektor

Keuangan, Persewaan
dan Jasa Perusahaan

a. Bank

8
b. Lembaga
Keuangan Tanpa
Bank

c. Sewa Bangunan

d. Jasa Perusahaan

Aspek

Parameter

Tipologi Klassen
LQ
P / Mij

Kuadran I
>1
Negatif

D / Cij / Kompetitif

Positif

Aij / Spesialisasi

Positif

Tipologi Klassen

Kuadran I

LQ

>1

P / Mij

Negatif

D / Cij / Kompetitif

Positif

Aij / Spesialisasi

Positif

Tipologi Klassen

Kuadran I

LQ

>1

P / Mij

Negatif

D / Cij / Kompetitif

Positif

Aij / Spesialisasi

Positif

Tipologi Klassen

Kuadran I

LQ

>1

P / Mij

Negatif

D / Cij / Kompetitif

Positif

Aij / Spesialisasi

Positif

Tipologi Klassen

Kuadran I

LQ

>1

P / Mij

Negatif

D / Cij / Kompetitif

Positif

Aij / Spesialisasi

Positif

Makna
Sektor maju dan tumbuh dengan pesat
Sektor Basis
Tumbuh lambat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding
Provoinsi.
Spesialisasi
Subsektor maju dan tumbuh dengan pesat
Subsektor Basis
Tumbuh lambat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding
Provoinsi.
Spesialisasi
Subsektor maju dan tumbuh dengan pesat
Subsektor Basis
Tumbuh lambat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding
Provoinsi.
Spesialisasi
Subsektor maju dan tumbuh dengan pesat
Subsektor Basis
Tumbuh lambat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding
Provoinsi.
Spesialisasi
Subsektor maju dan tumbuh dengan pesat
Subsektor Basis
Tumbuh lambat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding
Provoinsi.
Spesialisasi

Sumber : Hasil pengolahan berdasarkan data PDRB Provinsi Maluku dan PDRB
Kota Ambon

5.6.9.

Analisis Sektor Jasa-Jasa


Sektor

jasa-jasa tergolong ke dalam sektor maju dan tumbuh

dengan pesat, karena kontribusi rata-rata sektor ini menduduki urutan


pertama dengan nilai sebesar 27,14 persen. Sedangkan laju pertumbuhan
rata-rata sektor jasa-jasa sebesar 6,02 persen lebih tinggi dibandingkan
provinsi sebesar 5,88 persen hanya terpaut 0,14 persen.
Perkembangan nilai LQ sektor jasa-jasa digolongkan ke dalam
sektor basis. Sedangkan hasil perhitungan shift share, komponen P bernilai
95

positif yang menandakan memiliki dampak bauran industri dan tumbuh


lebih cepat dibandingkan provinsi. Komponen D dan Aij bernilai positif, hal
ini menunjukkan sektor ini tumbuh lebih cepat dibanding provinsi dan
tergolong telah berspesialisasi.
Sektor jasa-jasa terdiri dari dua subsektor yaitu, subsektor
pemerintahan umum dan pertahanan dan subsektor swasta. Subsektor
pemerintahan umum tergolong subsektor yang maju dan tumbuh dengan
pesat sedangkan subsektor swasta tergolong subsektor relatif tertinggal.
Namun dari hasil perhitungan LQ hanya subsektor pemerintahan umum dan
pertahanan merupakan sektor basis. Hasil perhitungan shift share untuk
komponen P dan komponen D bernilai positf dan komponen Aij subsektor
ini telah berspesialisasi.
Subsektor swasta di Kota Ambon tergolong subsektor yang relatif
tertinggal dan tidak tergolong subsektor basis. Hal ini dapat dilihat dari
kontribusi rata-rata pertahun hanya sebesar 1,56 persen dengan laju
pertumbuhan rata-rata pertahun 3,04 persen lebih rendah dibanding
pertumbuhan provinsi sebesar 3,35 persen. Hasil perhitungan shift share
menunjukkan seluruh komponen bernilai negatif.
Dari kedua subsektor ini subsektor swasta memiliki tiga subsektor
bagian. Subsektor

bagian

jasa

sosial

kemasyarakatan berdasarkan

perhitungan dengan alat analisis yang ada memiliki karakteristik dan pola
pertumbuhan yang sama dengan subsektor swasta. Subsektor bagian hiburan
dan rekreasi tergolong dalam sektor maju dan tumbuh dengan pesat dan
merupakan sektor basis. Begitupun dengan perhitungan shift share
menunjukkan komponen P/Mij bernilai negatif yang mengindikasikan tidak
memiliki dampak bauran industri atau tumbuh lambat dibandingkan di
tingkat provinsi. Komponen D/Cij dan Komponen Aij bernilai positif,
namun subsektor bagian hiburan dan rekreasi merupakan subsektor yang
memberikan kontribusi dalam menunjang PDRB Kota Ambon. Subsektor
bagian Swasta Perorangan dan Rumah Tangga tergolong dalam subsektor
maju tapi tertekan dan tergolong subsektor basis. Demikian pula dengan
perhitungan shift share menunjukkan komponen P/Mij bernilai negatif yang

96

mengindikasikan tidak memiliki dampak bauran industri atau tumbuh


lambat dibandingkan di tingkat provinsi. Komponen D/Cij bernilai negatif
atau tidak memiliki daya saing namun komponen Aij bernilai positif atau
telah berspesialisasi.
Tabel 5.28. Potensi Sektor Jasa-Jasa
Sektor

Jasa-Jasa

i.

Pemerintahan
Umum dan
Pertahanan

Aspek

Parameter

Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif

Kuadran I
>1
Negatif
Positif

Aij / Spesialisasi

Positif

Tipologi Klassen

Kuadran II

LQ

>1

P / Mij

Negatif

Tumbuh lambat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif

Negatif

Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Positif

Spesialisasi

Tipologi Klassen

Kuadran IV

Subsektor relatif tertinggal


Subsektor Non Unggulan

Spesialisasi
Subsektor maju tapi tertekan
Subsektor Unggulan

LQ

<1
Negatif

Tumbuh lambat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif

Negatif

Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Negatif

Tidak Spesialisasi

Tipologi Klassen

Kuadran IV

Subsektor relatif tertinggal

LQ

<1

Subsektor Non Unggulan

P / Mij

Negatif

Tumbuh lambat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif

Negatif

Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Negatif

Tidak Spesialisasi

Tipologi Klassen

Kuadran I

a. Jasa Sosial
Kemasyarakatan

Sektor maju dan tumbuh dengan pesat

LQ

>1

P / Mij

Positif

Tumbuh cepat di Propinsi

D / Cij / Kompetitif

Positif

Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.

Aij / Spesialisasi

Positif

Spesialisasi

Tipologi Klassen
LQ
P / Mij
D / Cij / Kompetitif
Aij / Spesialisasi

Kuadran I
>1
Negatif
Positif
Positif

b.Hiburan dan
Rekreasi

c Perorangan dan
Rumah Tangga

Sektor maju dan tumbuh dengan pesat


Sektor Unggulan
Tumbuh lambat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.

P / Mij

ii. Swasta
9

Makna

Subsektor Unggulan

Sektor maju dan tumbuh dengan pesat


Subsektor Unggulan
Tumbuh lambat di Propinsi
Pertumbuhan lebih cepat dibanding Provoinsi.
Spesialisasi

Sumber : Hasil pengolahan berdasarkan data PDRB Provinsi Maluku dan PDRB
Kota Ambon

Dari

hasil

pembahasan

potensi

sektoral

ekonomi

dengan

menggunakan alat analisis shift share, Tipology Klassen, dan Location


Quatient, dapat dilihat bahwa sektor/subsektor ekonomi Kota Ambon yang
97

tergolong sebagai sektor/subsektor maju dan tumbuh dengan cepat


(Tipology Klassen/Kuadran I, sektor/subsektor basis, sektor/subsektor yang
tumbuh cepat di provinsi (P/Mij), memiliki keunggulan kompetitif atau
pertumbuhan lebih cepat dibanding provinsi (D/Cij) dan berspesialisasi
(Aij) antara lain: subsektor hotel, sektor angkutan dan komunikasi,
subsektor angkutan, subsektor bagian angkutan penyeberangan, subsektor
bagian jasa penunjang angkutan, subsektor komunikasi, sektor jasa-jasa dan
subsektor pemerintahan umum dan pertahanan.
Berkenaan dengan masalah perencanaan pembangunan dalam
upaya mendorong perekonomian daerah, selalu dihadapkan pada pemilihan
kebijakan pembangunan yang tepat sasaran. Seharusnya pemilihan
kebijakan tersebut dapat merangsang investasi baik asing maupun domestik
untuk berinvestasi di Kota Ambon, dengan tujuan agar dapat memberikan
devisa

bagi

pemerintah

untuk

pembangunan

daerah.

Untuk

itu,

sektor/subsektor yang perlu dikembangkan terus adalah sektor/subsektor


tersebut di atas.
Untuk lebih meningkatkan pembangunan baik ekonomi maupun
manusianya diperlukan suatu gambaran yang dapat memperlihatkan
keterkaitan yang terjadi pada setiap sektor ekonomi. Karakteristik dan pola
pertumbuhan sektor/subsektor ekonomi serta identifikasi sektor basis dan
dampak yang ditimbulkan dari sektor-sektor tersebut sangat dibutuhkan
guna

menentukan

perencanaan

pembangunan.

Jika

perencanaan

pembangunan yang disusun dapat lebih terarah dan tepat sasaran, maka akan
memicu pergerakkan ekonomi dan menciptakan pembangunan yang
berkelanjutan.
Dari pendapat pakar atau teori-teori yang dikemukakan, dapat
dielaborasi dengan hasil penelitian ini. Maka kesempatan ini akan
dikemukakan beberapa faktor yang dapat dijadikan fokus perhatian
pemerintah Kota Ambon sebagai berikut:
1. Sektor Pertanian
Potensi lahan yang dapat dikembangkan untuk produk perkebunan adalah
kelapa dan komoditas rempah-rempah yang terdiri atas pala, kemiri, dan

98

cengkeh. Komoditi perkebunan ini merupakan komoditi yang sudah lama


dikembangakan oleh masyarakat dari turun temurun. Selain itu, perlu
melakukan

pemetaan

menyiapkan

sentra

petani/kelompok

produksi
tani

yang

pertanian

unggulan

memerlukan

dan

dukungan

kredit/pembiayaan. Untuk itu, pemerintah perlu menetapkan kebijakan


dan prioritas bidang usaha yang memerlukan dukungan kredit atau
pembiayaan serta memfasilitasi hubungan usaha di sektor pertanian
dengan perusahaan mitra/off taker dan menyediakan saluran distribusi
dalam memasarkan hasil produksi.
Investasi di sektor pertanian sangat dibutuhkan dalam membangun
industri pengolahan berbahan baku dari sektor pertanian. Tujuannya agar
dapat menciptakan diversifikasi komoditi hasil pertanian sehingga
memiliki nilai jual dan dapat bersaing di pasar domestik maupun pasar
internasional.
2. Sektor Pertambangan dan Penggalian
Kontribusi dari sektor pertambangan dan penggalian, hanya berasal dari
subsektor penggalian golongan C. Selama ini, perhatian pemerintah
belum maksimal terhadap sektor penggalian karena masih banyak
penggalian seperti batu, pasir untuk kegiatan pembangunan masih
bersifat bebas atau liar. Penggalian yang bersifat bebas dan liar ini akan
berdampak terhadap pengrusakan lingkungan. Untuk itu, perlu campur
tangan pemerintah sehingga penerimaan dari subsektor penggalian dapat
ditingkatkan dalam menunjang perekonomian daerah.
3. Sektor Industri Pengolahan
Pengembangan sektor/subsektor potensial diharapkan dapat berdampak
terhadap pertumbuhan sektor/subsektor ekonomi yang lain. Kemajuan
teknologi sangat di harapkan untuk menunjang produktifitas dan
diversifikasi terhadap produk atau komoditi yang dihasilkan dari
sektor/subsektor yang ada. Dalam hal ini, peranan pemerintah dalam
menarik minat investor untuk berinvestasi di Kota Ambon sangat
dibutuhkan. Karena dengan investasi di sektor industri pengolahan
berbahan

baku

dari

komoditi-komoditi

99

yang

dihasilkan

dari

sektor/subsektor yang ada, diharapkan terciptanya produk baru dan dapat


bersaing di pasar domestik maupun pasar internasional.
4. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih
Dalam mengembangkan subsektor listrik, pemerintah diharapakan dapat
mencari energi alternatif guna dapat memenuhi permintaan konsumen.
Kota Ambon merupakan iklim tropis dengan musim kemarau yang
panjang, sehingga investasi dalam mengembangkan pembangkit listrik
tenaga surya dan panas bumi sangat dibutuhkan. Hal ini sangat
diharapkan agar dapat mengatasi defisit listrik yang dihadapi.
Subsektor air bersih merupakan subsektor yang sangat dibutuhkan oleh
masyarakat. Untuk itu, pemerintah perlu menarik minat investasi dalam
bentuk pendanaan agar pipa-pipa yang sudah tua dapat diganti. Sehingga
air bersih dapat distribusi dan dinikmati oleh konsumen dan berdampak
terhadap penerimaan subsektor air bersih. Selain itu, regulasi tentang
batas-batas penggunaan sumor bor sangat dibutuhkan. Hal ini bertujuan
agar dapat mengatur pemakaian sumur bor yang berlebihan oleh
perusahaan atau industri berskala kecil maupun besar.
5. Sektor Bangunan dan Kontruksi
Perlu

adanya

informasi

dalam

menarik

minat

investor

dalam

menanamkan modalnya di Kota Ambon. Birokrasi yang memudahkan


dalam memberikan perijinan usaha dan ditunjang dari segi jaminan
keamanan merupakan faktor utama yang perlu diperhatikan oleh
pemerintah daerah.
6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Subsektor hotel merupakan subsektor basis dan merupakan subsektor
maju dan tumbuh dengan pesat. Sehingga perlu adanya penyediaan
sarana dan prasarana guna menunjang subsektor tersebut. Selain itu,
pelatihan-pelatihan sangat diperlukan untuk meningkatkan ketrampilan.
Tujuannya agar peranan sektor ini dapat dipertahankan dalam menunjang
perekonomian daerah.
Subsektor perdagangan besar eceran tidak memiliki keunggulan
kompetitif, dan belum memiliki spesialisasi. Sehingga perlu dukungan

100

lembaga perbankan dalam menggerakan usaha UMKM. Mendorong dan


menjadikan subsektor perdagangan sebagai salah satu pilar ekonomi
Kota Ambon dengan mengoptimalkan peranan masyarakat dalam dunia
usaha (pelaku ekonomi) melalui UMKM dengan pemanfaatan ekonomi
rakyat dengan memanfaatkan komoditi unggulan daerah.
Program-program pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi dan UMK,
untuk membangun Koperasi dan UMKM dalam bentuk penguatan dan
memfasilitasi kepada Koperasi UMKM untuk terus tumbuh dan
berkembang sebagai kekuatan ekonomi rakyat bagi kesejahteraan
masyarakat.
7. Sektor Angkutan dan Komunikasi
Keseluruhan subsektor

dalam sektor angkutan dan komunikasi

merupakan subsektor basis. Subsektor bagian angkutan laut, Subsektor


bagian angkutan penyeberangan dan subsektor jasa penunjang angkutan
tergolong maju dan tumbuh dengan pesat. Hanya subsektor bagian
angkutan laut dan subsektor bagian angkutan jalan raya merupakan
sektor maju tapi tertekan. Banyak yang sudah dicapai pada subsektor
angkutan jalan raya, namun usaha perbaikan dan rehabilitasi masih perlu
dilanjutkan dan diikuti dengan perluasan dan penambahan jalan,
jembatan,

pelabuhan

dan

lain-lain

serta

peningkatan

kapasitas

angkutannya. Hal ini bertujuan untuk dapat mengatasi tingkat kemacetan


pada ruas-ruas jalan dalam kota. Selain itu, dapat menghubungkan Kota
Ambon dengan daerah lain melalui angkutan jalan raya.
8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
Keseluruhan subsektor pada sektor keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan ini tergolong subsektor maju dan tumbuh dengan pesat dan
merupakan subsektor-susektor basis. Selain itu, keseluruhan subsektor
memiliki keunggulan kompetitif dan berspesialisasi. Namun subsektorsubsektor tersebut belum mampu mendorong iklim usaha untuk
berkembang lebih maksimal. Untuk itu, lembaga bank maupun non bank
dan jasa perusahaan perlu aktif dalam menunjang dan menggerakan
ekonomi masyarakat. Lewat pemberian bantuan kredit maupun jasa

101

perbankan lainnya untuk membantu usaha mikro kecil menengah agar


dapat mengembangkan kegiatan usahanya. Sektor ini beserta seluruh
subsektornya

tidak

memiliki

dampak

bauran

industri

atau

pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan di tingkat Provinsi.


9. Sektor Jasa-jasa
Perkembangan sektor jasa-jasa mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun.

Dengan

demikian,

diharapkan

pemerintah

daerah

perlu

bertanggung jawab melihat sektor jasa ini, sehingga pada tahun-tahun


yang akan datang kontribusinya dapat mengimbangi sektor-sektor lain.
Pertumbuhan pada sektor ini juga sejalan dengan realisasi pendapatan
asli daerah (PAD) yang berasal dari retribusi dan pajak yang mengalami
pertumbuhan. Hal ini dapat terlihat di Kota Ambon dewasa ini, di jalanjalan umun dan tempat-tempat umum terdapat petugas-petugas parkir
yang bertugas. Untuk itu, perlu pengelolaan, penataan dan pengawasan
lebih baik lagi.
5.7. Daya Saing Sektor/Subsektor Ekonomi Basis Kota Ambon
Analisis ini digunakan untuk mengetahui sektor/subsektor basis di
Kota Ambon yang memiliki daya saing terhadap permintaan domestik. Dari
hasil perhitungan LQ dapat kita identifikasi sektor/subsektor basis yang ada
di Kota Ambon. Selanjutnya akan dilihat produk atau komoditi dari
sektor/subsektor basis tersebut yang mampu memenuhi kebutuhan
masyarakatnya maupun dapat memenuhi permintaan domestik.
Berdasarkan hasil perhitungan LQ pada tabel 5.19 dapat dilihat
bahwa sektor/subsektor basis yang memiliki produk/komoditi yang dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat serta mampu memenuhi permintaan
domestik adalah subsektor perikanan. Subsektor perikanan memiliki
kontribusi rata-rata tertinggi mencapai 87,81 persen terhadap sektor
pertanian dan 15,67 persen terhadap PDRB Kota Ambon dibandingkan
dengan subsektor lainnya. Sedangkan laju pertumbuhan rata-rata pertahun
sebesar 5,21 persen lebih lambat dari laju pertumbuhan Provinsi 5,23 persen
hanya terpaut 0,2 persen.

102

Berikut ini dapat kita lihat kontribusi subsektor perikanan terhadap


sektor pertanian maupun terhadap PDRB Kota Ambon dari tahun 20032012 sebagai berikut:

Gambar 5.1. Perkembangan Kontribusi Subsektor Perikanan


Terhadap Sektor Pertanian Tahun 2003-2012
2012

0,11
2,29
1,03
7,20

2011

0,12
2,32
1,40
7,35

2010

0,12
2,19
1,38
7,38

2009
2008
2007
2006
2005
2004
2003

89,37
88,81
88,93
Perikanan
88,25

0,13
2,28
1,48
7,86

Kehutanan
87,78

0,14
2,32
1,54
8,22
0,14
2,35
1,58
0,15
2,37
1,62
0,15
2,40
1,66
0,15
2,45
1,70

87,40

Peternakan dan
Hasil-hasilnya

87,17

Tanaman
Perkebunan

86,98

Tanaman Bahan
Makanan

8,53

8,69

8,81

86,76
8,94

86,62

0,16
2,46
1,73
9,03

Dari gambar di atas, dapat lihat perkembangan kontribusi subsektor


perikanan terhadap sektor pertanian dari tahun ke tahun selalu mengalami
peningkatan. Hal ini mengindikasikan subsektor perikanan sangat berperan
penting

dalam

memberikan

kontribusi

terhadap

sektor

pertanian

dibandingkan dengan subsektor yang lain.


Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kota Ambon juga
dapat kita lihat dengan jelas nampak didominasi oleh subsektor perikanan
selama periode penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa subsektor perikanan
merupakan subsektor basis dalam menggerakan Perekonomian Kota
Ambon.
103

Gambar 5.2. Perkembangan Kontribusi Subsektor Perikanan Terhadap


PDRB Kota Ambon Tahun 2003-2012

2012

1,21
0,17
0,39
0,02

2011

1,24
0,24
0,39
0,02

2010

1,30
0,24
0,38
0,02

2009

1,36
0,26
0,39
0,02

2008
2007
2006
2005
2004
2003

0,27
0,4
0,02

15,08
14,95
15,62
15,24

Tanaman Bahan
Makanan

15,26

Tanaman
Perkebunan

1,43

0,28
0,42
0,03

1,51

0,29
0,43
0,03
0,31
0,45
0,03
0,32
0,46
0,03
0,33
0,48
0,03

15,47
1,57

15,73

Peternakan dan
Hasil-hasilnya
Kehutanan
Perikanan

1,63

16,08
1,69

16,42
1,75

16,82

Dari tabel di atas, dapat kita lihat subsektor perikanan memiliki


peranan yang besar dalam memberikan kontribusi terhadap PDRB Kota
Ambon selama tahun periode penelitian. Walaupun pada kenyataannya
perkembangan kontribusi subsektor perikanan dari tahun 2003-2009
mengalami penurunan. Namun pada tahun 2010-2012 mengalami fluktuasi.
Subsektor perikanan sekaligus merupakan subsektor potensial di Kota
Ambon memiliki komoditi andalan adalah ikan.
Wilayah Perairan kota Ambon dapat dibagi atas 4 (empat) wilayah
perairan, yaitu: perairan Teluk Ambon Dalam, Perairan Teluk Ambon Luar,
perairan Teluk Baguala dan perairan Pantai Selatan. Ke empat wilayah
perairan ini merupakan daerah penangkapan (fishing ground) bagi
masyarakat (nelayan) yang mendiami wilayah sekitarnya. Wilayah Perairan
Teluk Ambon Dalam dengan luas kurang lebih 11,03 km2 sejak dulu
104

dijadikan daerah penangkapan bagi nelayan yang berasal dari 9 desa yang
mendiami wilayah sekitarnya. Desa Galala, Halong, Latta, Lateri, Nania,
Nageri Lama, Waiheru.
Wilayah perairan pulau Ambon memiliki sumberdaya ikan yang
potensial, sumberdaya tersebut harus mampu dikelola dengan tepat dengan
tujuan yaitu kesejahteraan rakyat.
Sumber daya perikanan Kota Ambon meliputi:
A. Sumber daya ikan pelagis
1. Sumber daya ikan pelagis kecil.
Sumber daya ikan pelagis kecil pootensial untuk wilayah perairan
Kota Ambon yaitu; ikan teri, tembang, selar, layang, tongkol,
kembung, peperek, lompa dan ikan terbang.
2. Sumber daya ikan pelagis besar.
Kelimpahan stok ikan pelagis besar terdapat pada perairan selatan
Kota Ambon. Sumber daya ikan pelagis besar di wilayah perairan ini
adalah cakalang dan tuna.
B. Sumber daya ikan demersal.
Potensi ikan demersal untuk teluk Ambon dalam juga sangat potensial
secara faktual namun belum terdata kedalam satuan angka. Spesies ikan
demersal yang terdapat di perairan teluk Ambon dalam antara lain ikan
kakap, biji nangka, kapas-kapas, kerapu dan lantjam. Sedangkan pada
bagian teluk Ambon luar, spesies ikan demersal yang potensial adalah
ikan kakap merah, silapa, kerapu, napoleon dan biji nangka.
C. Sumber daya ikan karang perairan.
Terumbuk karang Kota Ambon memiliki jumlah spesies dan potensi
sumber daya ikan karang yang besar. Jumlah spesies ikan karang di
perairan teluk Ambon luar 155 spesies dan untuk pesisir selatan Kota
Ambon 144 spesies.
D. Sumber daya Bentik.
Kota

Ambon

memiliki

sumber

daya

bentik

yang

dapat

dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai komoditi perikanan dan kelautan.


Potensi yang dimaksud meliputi: siput dan karang, teripang krustasea

105

(kepiting bakau, rajungan dan udang barong serta udang windu) dan rumput
laut.
Kegiatan distribusi dan pemasaran hasil perikanan oleh industri
perikanan yang ada di PPN Ambon terdiri dari 3 (tiga) tujuan pemasaran
yaitu lokal, regional dan ekspor. Komoditi subsektor perikanan yang
merupakan komoditi andalan adalah ikan dan udang. Untuk pemasaran
lokal, hanya mencakup Pulau Ambon, sedangkan untuk pemasaran antar
pulau/daerah tujuannya meliputi Kendari, Makasar, Surabaya dan Jakarta.
Untuk pasar ekspor, dipasarkan dengan negara tujuan Jepang, Hongkong
dan Cina, Thailand, Vietnam dan Korea Selatan. Pada pemasaran antar
pulau/interinsuler, saluran pemasaran oleh perusahaan ke konsumen luar
daerah dilakukan dengan menggunakan transportasi kapal laut.
Pemasaran hasil subsektor perikanan ditujukan juga untuk kegiatan
ekspor yang dapat meningkatkan pendapatan daerah. Sehingga subsektor
perikanan ini didukung dengan adanya Pelabuhan Perikanan Nusantara
(PPN) dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Kegiatan ekspor subsektor
perikanan berupa komoditi ikan dan udang dilakukan pada Pelabuhan
Perikanan Nusantara. Pada Pelabuhan Perikanan Nusantara terdapat Unit
Pelaksana Teknis (UPT) yang bertugas mengawasi setiap kegiatan
pemasaran maupun ekspor hasil perikanan.
Keberhasilan dari suatu perdagangan yang dilakukan baik
perdagangan dalam negeri maupun perdagangan luar negeri sangat
ditentukan dari mutu produk yang diperdagangkan sehingga perlu
penanganan secara baik. Sehingga pemerintah melalui adanya Lembaga
Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) sangat
membantu proses kegiatan ekspor dengan upaya melakukan pengujian mutu
hasil perikanan bagi perusahaan yang akan melakukan kegiatan ekspor
dengan mengeluarkan Sertifikat Mutu Ekspor (SME) dan sampai saat ini
hanya melakukan kegiatan perikanan untuk tujuan ekspor.
Perkembangan nilai produksi dan nilai ekspor komoditi ikan dan
komoditi udang dari tahun 2003-2012 seperti terlihat pada tabel berikut ini.

106

Tabel 5.29. Perkembangan Nilai Produksi dan Nilai Ekspor


Subsektor Perikanan Kota Ambon Tahun 2003-2012
(dalam ribuan)

(Rp)

Nilai Ekspor Komoditi


Ikan
(Rp)
%

2003

18.039.690

4.099.848,58

32.990.209,77

2004

36.197.268

100,65

5.271.421,40

28,58

44.512.489,98

34,93

2005

206.418.814

470,26

5.833.167,08

10,66

52.152.451,97

17,16

2006

378.101.790

83,17

62.232.003,80

966,86

103.168.770,17

97,82

2007

325.822.618

(13,83)

68.447.983,93

9,99

500.250.986,70

384,89

2008

251.186.063

(22,91)

5.232.909,53

(92,35)

84.663.324,36

(83,08)

2009

501.884.856

99,81

65.116.627,77

1.144,37

29.232.672,19

(65,47)

2010

516.941.402

3,00

70.883.290,80

8,86

20.192.001,88

(30,93)

2011

585.496.884

13,26

81.675.096,75

13,21

19.552.875,67

(3,17)

2012

685.228.365

17,03

92.776.905,56

13,59

17.885.895,65

(8,53)

Nilai Produksi

Tahun

Nilai Ekspor Komoditi


Udang
(Rp)
%

Sumber : Laporan Tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemkot Ambon dan
Pelabuhan Perikanan Nusantara, Diolah Penulis
Dari tabel 5.29 dapat dilihat perkembangan nilai produksi dari
tahun 2003-2012 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2003 hingga 2006 nilai
produksi perikanan mengalami peningkatan. Kemudian pada tahun 20072008

mengalami

penurunan.

Setelah

itu,

pada

tahun

2009-2012

perkembangan nilai produksi subsektor perikanan kembali mengalami


peningkatan.
Perkembangan pertumbuhan nilai ekspor subsektor perikanan
untuk komoditi ikan dan udang seperti terlihat pada tabel di atas dari tahun
2003-2007 terjadi peningkatan. Kemudian untuk komoditi ikan pada tahun
2008 pertumbuhannya terjadi penurunan sebesar -92,35 persen. Selanjutnya
pada tahun 2009-2012 pertumbuhanya kembali meningkat. Sedangkan
pertubuhan komoditi udang mengalami penurunan dari tahun 2008-2012.

107

5.8

Daya Saing Terhadap Permintaan Domestik


Analisis ini bertujuan untuk mengetahui atau mengukur seberapa
besar daya saing subsektor perikanan berupa komoditi ikan dan komoditi
udang terhadap permintaan domestik dengan menggunakan analisis Model
Dong Sung Cho.
Dalam mengukur tingkat daya saing komoditi ikan dan komoditi
udang Kota Ambon terhadap permintaan domestik, digunakan peranan
ekspor dari Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Barat dan
Kabupaten Maluku Tenggara sebagai perbandingan. Alasan memilih
kabupaten-kabupaten tersebut karena ketiga kabupaten tersebut memiliki
data yang lengkap selama periode tahun penelitian.
Berdasarkan data perkembangan nilai produksi dan nilai ekspor
Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Barat
dan Kabupaten Maluku Tenggara pada lampiran 4 (empat), kemudian diolah
dengan menggunakan analisis model dong sung cho seperti terlihat pada
tabel 5.30, dapat diketahui tingkat daya saing permintaan domestik terhadap
komoditi ikan dan komoditi udang Kota Ambon dibandingkan dengan
kabupaten yang lain sebagai berikut:

Tabel 5.30. Indeks Daya Saing Permintaan Domestik


Komoditi Ikan dan Komoditi Udang
Indeks Daya Saing Permintaan Domestik
Kabupaten/Kota

Komoditi Ikan
Skor

Rank

Komoditi Udang
Skor

Rank

Ambon

8,66

4,39

Maluku Tengah

3,83

5,22

Seram Bagian Barat

8,18

-170,37

Maluku Tenggara

7,80

8,88

Sumber : BPS Prov. Maluku, Pelabuhan Perikanan Nusantara,


Laporan Tahuhann DKP Kab. Maluku Tengah
Diolah Penulis
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat, komoditi ikan Kota Ambon
memiliki indeks daya saing permintaan domestik 8,66 dan berada pada

108

rangking satu. Hal ini mengindikasikan Kota Ambon berperan penting


terhadap permintaaan domestik terhadap komoditi ikan dibandingkan
dengan kabupaten yang lain. Selanjutnya Kabupaten Seram Bagian Barat
berada pada rangking kedua dengan indeks daya saing permintaan domestik
sebesar 8,18. Kabupaten Maluku Tenggara pada posisi rangking tiga dengan
indeks daya saing permintaan domestik 7,80 dan Kabupaten Maluku Tengah
pada rangking terakhir dengan indeks sebesar 3,83.
Sedangkan indeks daya saing terhadap permintaan domestik
komoditi udang di Kota Ambon berada pada rangking tiga dengan nilai
indeks 4,39. Kabupaten Maluku Tenggara berada pada rangking pertama
dengan nilai indeks 8,88. Selanjutnya Kabupaten Maluku Tengah berada
pada rangking dua dengan nilai indeks 5,22 dan Kabupaten Seram Bagian
Barat berada pada rangking keempat dengan nilai indeks -170,37.
Kabupaten Seram Bagian Barat memiliki nilai indeks daya saing terhadap
permintaan domestik terendah dengan nilai minus. Hal ini disebabkan
selama periode tahun penelitian komoditi udang Kabupaten Seram Bagian
Barat dipasarkan ke luar daerah (antar pulau/interinsuler) hanya pada tahun
2006, 2007 dan 2008.
Kota Ambon memiliki daya saing permintaan domestik untuk
komoditi ikan lebih baik atau lebih unggul dari daerah lain. Keunggulan ini
disebabkan karena untuk kebutuhan konsumsi masyarakat, Kota Ambon
mendapat pasokan ikan dari nelayan tradisional dari desa terdekat. Desadesa tersebut antara lain, desa Hitu, Hila, Kaitetu, Tulehu yang merupakan
wilayah Kabupaten Maluku Tengah yang berbatasan di darat. Selain itu,
Kota Ambon juga mendapat pasokan ikan dari desa yang berada di pulau
Saparua dan pulau Haruku. Sehingga produksi ikan berasal dari kapal-kapal
penangkapan ikan milik perusahaan-perusahaan yang berdomisili di Kota
Ambon dan sebagaian dari nelayan tradsional diutamakan untuk pemasaran
luar daerah (antar pulau/interinsuler).
Komoditi udang Kota Ambon memiliki tingkat daya saing ekspor
yang lemah dari daerah lain. Hal ini disebabkan komoditi udang dari Kota
Ambon sebagian besar diutamakan untuk permintaan domestik atau

109

pemasaran antar pulau. Sedangkan untuk komsumsi masyarakat sehari-hari


sebagian besar adalah ikan karena komoditi udang jarang dijual dan
harganya juga tinggi. Selain itu, Kota Ambon tidak memiliki hasil produksi
dari perikanan darat berupa tambak dan budi daya udang air tawar.
Kabupaten Maluku Tenggara lebih unggul atau memiliki daya saing ekspor
komoditi udang tertinggi dikarenakan memiliki perairan laut yang luas dan
sumber daya alam laut yang melimpah. Komoditi udang dari kabupaten
Maluku tenggara juga berasal dari perikanan darat dan budidaya. Selain itu,
tersedianya Pelabuhan Perikanan Nusantara yang berada di Kota Tual dan
merupakan pintu ekspor kedua selain Kota Ambon, menyebabkan kegiatan
ekspor dapat dilakukan tanpa harus melalui PPN di Kota Ambon.
Produk perikanan di Kota Ambon umumnya dalam bentuk produk
pimer

dan

merupakan

penyedia

bahan

baku,

sehingga

peluang

pengembangan usaha industri pengolahan dan industri terkait lainnya masih


terbuka luas dan merupakan peluang investasi yang sangat menarik. Peluang
investasi untuk sektor perikanan dapat dalam bentuk perikanan budidaya
dan perikanan tangkap. Untuk perikanan tangkap, pada bagian hulu dapat
dikembangkan usaha pengadaan kapal, pasokan es dan Colt Strorage,
sedangkan pada bagian hilir dapat dikembangkan usaha pengolahan
komoditas kaleng, komoditas beku, dan komoditas segar. Disamping adanya
kegiatan pengasapan ikan yang dapat dipasarkan untuk memasok kebutuhan
lokal, regional (intra wilayah Maluku) dan nasional, selain itu juga dapat
dikembangkan usaha rumah makan/restoran. Untuk perikanan budidaya
usaha yang potensial dikembangkan adalah kolam pancing dan ekowisata.
Komoditi ikan subsektor perikanan ini merupakan komoditi yang
sangat potensial untuk terus ditingkatkan oleh pemerintah daerah. Untuk itu,
pemerintah diharapkan dapat mengambil kebijakan yang tepat guna
meningkatkan pendapatan daerah sekaligus sebagai pendorong bagi
bertumbuhnya sektors-sektor yang lain. Hal ini, didukung oeh teori yang
dikemkakan oleh Sjafrizal (2008:87), bahwa; Bila daerah yang bersangkutan
dapat mendorong pertumbuhan sektor-sektor yang mempunyai keuntungan
kompetitif sebagai basis untuk ekspor, maka pertumbuhan daerah yang

110

bersangkutan akan dapat ditingkatkan. Hal ini akan terjadi karena


peningkatan ekspor tersebut akan memberikan dampak berganda (multiplier
effect) kepada perekonomian daerah.

111

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya
maka dibuat kesimpulan sebagai berikut:
1.

Struktur perekonomian wilayah Kota Ambon mulai terjadi pergeseran


dari sektor primer menuju ke sektor sekunder dan tersier, walaupun
tingkat pergeserannya masih relatif kecil. Hal ini terlihat dari kontribusi
sektor primer yang semakin menurun dengan pertumbuhan yang relatif
rendah, sementara pada saat yang sama kontribusi sektor sekunder dan
tersier terlihat semakin meningkat dengan pertumbuhan yang relatif
tinggi. Selain itu, pola pertumbuhan ekonomi Kota Ambon secara
sektoral maupun subsektoral berdasarkan analisis tipologi klassen
adalah:
a. Kuadran I (Sektor/subsektor yang maju dan tumbuh dengan pesat):
Sektor yang termasuk klasifikasi ini adalah sektor Angkutan dan
Komunikasi, Sektor Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan dan
Sektor Jasa-jasa. Sedangkan subsektornya adalah subsektor Hotel,
subsektor Angkutan, subsektor bagian Angkutan Laut, subsektor
bagian Angkutan Penyeberangan, subsektor bagian Jasa Penunjang
Angkutan, subsektor Komunikasi, subsektor Bank, subsektor
Lembaga Keuangan Tanpa Bank, subsektor Sewa Bangunan,
subsektor Jasa Perusahaan, subsektor Pemerintahan umum dan
Pertahanan serta subsektor bagian swasta; Hiburan & Rekreasi.
b. Kuadran II (Sektor/subsektor maju tapi tertekan):
Sektor ekonomi yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah sektor
Listrik, Gas & Air Bersih. Sedangkan subsektornya adalah subsektor
Perikanan, subsektor Listrik, subsektor bagian Angkutan Udara,
subsektor bagian Angkutan Jalan Raya, subsektor Restoran dan
subsektor bagian swasta; Perorangan dan Rumah Tangga.

c. Kuadran

III

(Sektor/subsektor

potensial

atau

masih

dapat

berkembang):
Sektor yang termasuk klasifikasi ini adalah sektor Pertanian, sektor
Perdagangan, Hotel & Restoran, sektor Industri Pengolahan, sektor
Bangunan/Kontruksi dan sektor Pertambangan & Penggalian.
Sedangkan subsektornya adalah subsektor Kehutanan, subsektor
Peternakan dan Hasil-hasilnya dan subsektor Penggalian.
d. Kuadaran IV (Sektor/subsektor relatif tertinggal):
Dalam klasifikasi ini tidak ada sektor yang masuk dalam kategori ini.
Sedangkan subsektor yang masuk katagori di atas termasuk dalam
kelompok sektor/subsektor yang relatif tertinggal adalah Subsektor
Tanaman Bahan Makanan, Subsektor Tanaman Perkebunan,
Subsektor Air Bersih, Subsektor Bg. Swasta; Jasa Sosial
Kemasyarakatan, Subsektor Pertambangan, Subsektor Perdagangan
Besar Eceran dan Subsektor Swasta.
2.

Hasil perhitungan Location Quotient (LQ) Kota Ambon dari kurun


waktu

periode

pengamatan

tahun

2003-2012,

maka

dapat

teridentifikasikan sektor/subsektor basis adalah, subsektor perikanan,


sektor listrik, gas dan air bersih, subsektor listrik, subsektor hotel,
subsektor restoran, sektor angkutan dan komunikasi beserta seluruh
subsektornya, sektor keuangan dan jasa perusahaan beserta seluruh
subsektornya, sektor jasa-jasa, subsektor pemerintahan umum dan
pertahanan, subsektor bagian hiburan dan rekreasi dan subsektor bagian
perorangan dan rumah tangga.
3.

Dari hasil pembahasan potensi sektoral ekonomi dengan menggunakan


alat analisis shift share (sektor/subsektor yang tumbuh cepat di provinsi
(P/Mij), memiliki keunggulan kompetitif atau pertumbuhan lebih cepat
dibanding provinsi (D/Cij) dan berspesialisasi (Aij), Tipology Klassen
(Kuadran I atau sektor/subsektor maju dan tumbuh dengan cepat), dan
Location

Quatient

(sektor/subsektor

basis),

dapat

dilihat

sektor/subsektor ekonomi Kota Ambon yang tergolong kategori di atas


antara lain: subsektor hotel, sektor angkutan dan komunikasi, subsektor

113

angkutan, subsektor bagian angkutan penyeberangan, subsektor bagian


jasa penunjang angkutan, subsektor komunikasi, sektor jasa-jasa dan
subsektor pemerintahan umum dan pertahanan.
4.

Daya saing sektor/subsektor ekonomi basis di wilayah Kota Ambon


berdasarkan hasil perhitungan LQ, dapat dilihat bahwa sektor/subsektor
basis yang memiliki produk/komoditi yang dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat serta mampu memenuhi permintaan domestik adalah
subsektor perikanan. Komoditi ikan Kota Ambon memiliki indeks daya
saing permintaan domestik 8,66 dan berada pada rangking satu. Hal ini
mengindikasikan Kota Ambon berperan penting terhadap permintaaan
domestik terhadap komoditi ikan dibandingkan dengan kabupaten yang
lain.

6.2. Saran
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, penulis menyarankan
beberapa hal untuk pihak-pihak terkait, yaitu:
1. Dalam

mengembangkan

dan

memajukan

sektor/subsektor

basis

diharapkan Pemerintah Kota Ambon tidak mengabaikan sektor/subsektor


ekonomi yang lain sehingga tidak terjadi penurunan pertumbuhan pada
sektor/subsektor tersebut melainkan adanya peningkatan yang sama,
sehingga memberikan dampak yang tinggi bagi peningkatan pendapatan
masyarakat dan terciptanya lapangan pekerjaan.
2. Kepada pengambil kebijakan, untuk menjadikan Kota Ambon sebagai
wilayah yang maju, perlu dirumuskan formula untuk memulai
menggerakkan industri pengolahan terutama yang berbahan baku dari
subsektor perikanan yang melimpah (memiliki beberapa keunggulan) dan
juga mensinergikan dengan sektor/subsektor yang memiliki beberapa
keunggulan agar dihasilkan multiplier effect terhadap peningkatan
pendapatan masyarakat dan percepatan pembangunan ekonomi yang
lebih efektif, dengan tidak mengabaikan sektor/subsektor ekonomi
lainnya.

114

3. Berkedudukan sebagai ibu kota provinsi yang merupakan pusat


berkembangnya industri dan perdagangan, sehingga akan menarik
masyarakat dari luar untuk datang mengadu nasib di Kota Ambon, maka
perlu diupayakan kondisi yang dapat mendorong peningkatan penyerapan
tenaga kerja oleh sektor/subsektor ekonomi yang ada. Apabila
pemerintah ingin memprioritaskan investasi pada sektor/subsektor
ekonomi basis yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar
maka sektor yang direkomendasikan adalah subsektor hotel, sektor
angkutan dan komunikasi, subsektor angkutan, subsektor bagian
angkutan penyeberangan, subsektor bagian jasa penunjang angkutan,
subsektor komunikasi, sektor jasa-jasa dan subsektor pemerintahan
umum dan pertahanan yang secara riil memiliki kontribusi besar dalam
menyerap tenaga kerja di Kota Ambon. Selain itu, sektor ini tergolong
sebagai sektor/subsektor maju dan tumbuh dengan cepat (Tipology
Klassen/Kuadran I, sektor/subsektor basis, sektor/subsektor yang tumbuh
cepat di provinsi (P/Mij), memiliki keunggulan kompetitif atau
pertumbuhan lebih cepat dibanding provinsi (D/Cij) dan berspesialisasi
(Aij). Oleh karena itu, perlu ada kebijakan yang mendukung
perkembangan sektor ini seperti peningkatan kualitas pelayanan hotelhotel dan restoran, serta peningkatan fasilitas penunjang dari sektor ini,
diantaranya yaitu fasilitas perbankan dan fasilitas pelabuhan laut dan
udara agar semakin memudahkan akses perdagangan di Kota Ambon.
4. Mengacu pada hasil perhitungan tipologi klassen, maka perlu perhatian
khusus

pemerintah

daerah

dalam

mengembangkan

selain

sektor/subsektor maju dan tumbuh dengan pesat agar berkembang dan


memberikan sumbangan kepada daerah.
- Sektor/subsektor maju tapi tertekan (kuadaran II)
Sudah seharusnya pihak pemerintah memperbaiki faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan sektor listrik, gas dan air bersih dengan
peningkatan penyediaan tenaga listrik yang meliputi peningkatan
sarana distribusi PLN, pembangunan dan pengembangan Pusat Listrik
Tenaga Air (PLTA), Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP),

115

sehingga dapat memenuhi kebutuhan listrik masyarakat dengan


penambahan pembangunan jaringan tegangan listrik baik tegangan
rendah maupun tegangan menengah. Kemudian untuk meningkatkan
dan mengembangkan pendayagunaan dan pelestarian sumberdaya air
melalui reboisasi untuk pengawetan air dan tanah, diharapkan dapat
memenuhi kebutuhan pertanian, rumah tangga seperti air PAM,
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan sebagainya, sehingga
dapat meningkatkan distribusi air ke masyarakat.
- Sektor/subsektor potensial atau masih dapat berkembang (kuadran III)
Untuk perkembangan sektor industri pengolahan dan sektor
perdagangan, hotel dan restoran di Kota Ambon diperlukan adanya
perbaikan infrastruktur termasuk sarana perhubungan dan komunikasi,
perumusan kebijakan pemerintah yang mendukung pertumbuhan
industri dan perdagangan di Kota Ambon seperti kebijaksanaan
mengenai kemudahan di bidang investasi, perpajakan, perkreditan,
asuransi, mempermudah ijin mendirikan usaha, perbaikan akses
pemasaran produk industri dan perdagangan baik dalam wilayah
maupun ke luar wilayah, pelatihan keterampilan, bimbingan
manajemen dan alih teknologi.
- Sektor/subsektor relatif tertinggal (kuadran IV)
Perlu perhatian khusus pemerintah melalui dinas pertanian agar dapat
menetapkan kebijakan dan prioritas bidang usaha yang memerlukan
dukungan kredit/pembiayaan serta memfasilitasi hubungan usaha di
sektor pertanian dengan perusahaan mitra/off taker dan menyediakan
saluran distribusi dalam memasarkan hasil produksi. Investasi di
sektor pertanian sangat dibutuhkan dalam membangun industri
pengolahan berbahan baku dari sektor pertanian. Tujuannya agar
dapat menciptakan diversifikasi komoditi hasil pertanian sehingga
memiliki nilai jual dan dapat bersaing di pasar domestik maupun pasar
internasional.
5. Analisis yang baik dihasilkan dari input data yang baik (detil, akurat,
melalui tahap verifikasi dan validasi data serta konsisten antar instansi).

116

Oleh karena itu dibutuhkan ketersediaan data yang lengkap, detil, akurat
dan terkoordinasi antar instansi terkait, agar keluarannya dapat
diterapkan untuk mendukung program pembangunan yang tepat sasaran.

117

DAFTAR PUSTAKA
Adisasmita, R, 2005. Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Amir, Hidayat, & Riphat, Singgih, 2005. Analisis Sektor Unggulan untuk
Evaluasi Kebijakan Pembangunan Jawa Timur menggunakan Tabel
Input-Output 1994 dan 2000, Jurnal Keuangan dan Moneter Departemen
Keuangan RI.
Arsyad, Lincolin, 2004. Ekonomi Pembangunan. STIE, Yogyakarta.
Asngari Imam, 2008, Analisis Sektor Unggulan dan Daya Saing Wilayah
Komoditas di Wilayah Oku Timur, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol.
6, No.1.
Kuncoro, Mudjarad. 2005. Strategi Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif.
Penerbit Erlangga. Jakarta.
Sri Kusreni. Pengaruh Perubahan Struktur Ekonomi Terhadap Spesialisasi
Sektoral Dan Wilayah Serta Struktur Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral
Untuk Daerah Perkotaan Di Jawa Timur. Jurnal Majalah Ekonomi
Tahun XIX, No.1 April 2009.
Sjafrizal, 2008. Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi, Baduose Media,
Cetakan Pertama, Padang.
Sutikno Dan Maryunani, Analisis Potensi Dan Daya Saing Kecamatan Sebagai
Pusat Pertumbuhan Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) Kabupaten
Malang. Journal Of Indonesian Applied Economics Vol.1 No.1 Oktober
2007.
Tarigan, Robinson, 2007. Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi, PT. Bumi
Aksara, Cetakan Keempat, Jakarta.
Todaro,

Michael P, 2008. Pembangunan Ekonomi di


Penerbit Erlangga, Jilid 1, Edisi Kesembilan, Jakarta.

Dunia

Ketiga,

Zakaria Junaiddin, 2009, Daya Saing Permintaan Domestik Komoditas Industri


Manufaktur di Lima Daerah Propinsi di Pulau Jawa, Jurnal Aplikasi
Manajemen, Vol. 7, No.4.

LAMPIRAN 1

3
4

5
6

PDRB KOTA AMBON 2003-2012


2005
2006
2007
2008

Lapangan Usaha

2003

2004

2009

2010

2011

10

11

230.930,76
20.846,53
3.983,56
5.676,94
364,45
200.059,28
1.391,44
1.391,44
232.322,20
24.775,08
24.775,08
8.547,62
7.942,24
605,38
7.842,79
41.165,49
284.730,46
259.003,25
10.782,62
14.944,59
189.940,34
179.768,72
65.793,85
47.053,40
9.714,89
42.093,93
15.112,65
10.171,62
104.194,34
36.413,25
21.353,83
45.107,83
1.319,43
337.302,41
316.597,77
20.704,64
9.474,29
2.219,06
9.011,29
916.167,55
1.189.655,24

238.059,21
21.289,05
4.040,50
5.825,06
364,56
206.540,04
1.462,91
1.462,91
239.522,12
26.571,27
26.571,27
9.239,51
8.618,30
621,21
8.337,85
44.148,63
300.345,13
272.895,02
11.617,08
15.833,03
217.613,36
206.202,70
68.203,68
48.559,83
10.755,58
62.063,88
16.619,73
11.410,66
108.090,77
38.092,49
21.908,42
46.673,57
1.416,29
348.143,17
326.629,20
21.513,97
9.728,17
2.362,13
9.423,67
974.192,43
1.257.863,18

247.145,65
21.769,71
4.099,10
5.950,49
371,02
214.955,33
1.545,85
1.545,85
248.691,50
27.352,91
27.352,91
9.853,99
9.224,37
629,62
8.900,53
46.107,43
319.504,89
290.287,23
12.421,98
16.795,68
244.818,36
231485,49
70.605,73
49.917,99
12.135,00
80.540,38
18.286,39
13.332,66
112.404,18
39.885,55
22.586,91
48.416,52
1.515,20
364.535,65
342.142,71
22.392,94
10.004,42
2.538,65
9.849,87
1.041.263,08
1.336.062,01

256.534,83
22.292,86
4.161,15
6.086,87
375,92
223.618,03
1.637,21
1.637,21
258.172,04
28.914,76
28.914,76
10.566,29
9.914,82
651,47
9.539,84
49.020,89
341.674,09
310.462,19
13.336,39
17.875,51
272.445,59
255.674,44
73.252,43
52.239,18
13.762,05
96.182,56
20.238,22
16.771,15
117.888,39
41.883,86
23.632,68
50.750,20
1.621,65
382.759,47
359.439,03
23.320,44
10.308,78
2.730,15
10.281,51
1.114.767,54
1.421.960,47

267.586,90
22.823,19
4.217,33
6.284,08
380,20
233.882,10
1.720,71
1.720,71
269.307,61
31.534,44
31.534,44
11.304,14
10.631,68
672,46
10.265,97
53.104,55
365.183,83
332.042,63
14.368,80
18.772,40
296.001,66
276.840,62
75.984,75
56.444,43
15.597,11
106.579,90
22.234,43
19.161,04
123.973,06
44.074,39
24.960,84
53.252,18
1.685,65
404.048,27
379.819,22
24.229,05
10.589,15
2.918,15
10.721,75
1.189.206,82
1.511.618,98

278.303,65
22.882,22
4.271,41
6.468,40
383,84
244.297,78
1.808,83
1.808,83
280.112,48
34.211,96
34.211,96
11.465,11
10.777,65
687,46
11.066,73
56.743,80
389.237,92
353.986,79
15.517,13
19.734,00
315.057,64
294.211,15
78.804,88
59.713,00
16.791,87
115.224,57
23.676,83
20.846,49
130.713,03
46.615,74
26.396,49
55.936,13
1.764,67
429.017,83
404.033,93
24.983,90
10.775,85
3.095,36
11.112,69
1.264.026,42
1.600.882,70

291.815,66
22.925,32
4.323,30
6.665,92
386,83
257.514,29
1.902,65
1.902,65
293.718,31
36.794,96
36.794,96
9.529,76
8.833,36
696,40
12.031,58
58.356,30
413.458,64
376.429,55
16.263,50
20.765,59
330.404,76
308.445,07
82.957,90
61.839,07
17.173,07
122.541,33
23.933,70
21.959,69
138.044,94
49.406,86
27.983,45
58.817,01
1.837,62
456.288,12
430.982,99
25.305,13
10.852,75
3.279,68
11.172,70
1.338.196,46
1.690.271,07

316.605,50
23.351,73
4.353,99
6.946,56
387,10
281.566,12
2.165,98
2.165,98
318.771,48
38.399,22
38.399,22
10.259,44
9.535,61
723,83
18.858,30
67.516,96
437.888,12
393.820,60
22.141,13
21.926,39
364.280,63
342.274,82
90.374,34
65.264,96
18.691,17
142.380,77
25.563,58
22.005,81
141.008,17
49.930,58
28.075,80
61.122,64
1.879,15
473.202,37
447.144,85
26.057,52
11.280,35
3.350,85
11.426,32
1.416.379,29
1.802.667,73

323.501,90
23.788,41
4.519,88
7.496,17
387,37
287.310,07
2.464,24
2.464,24
325.966,14
44.063,10
44.063,10
11.058,91
10.269,31
789,60
21.858,66
76.980,67
464.382,09
418.395,01
23.376,59
22.610,49
388.118,78
365.450,59
96.853,59
65.732,45
19.276,20
156.735,56
26.852,79
22.668,18
144.949,74
50.794,75
28.938,85
63.268,04
1.948,10
520.937,09
494.408,06
26.529,02
11.571,60
3.448,06
11.509,37
1.518.387,70
1.921.334,51

352.601,30
25.384,61
3.622,18
8.085,23
387,60
315.121,68
2.830,17
2.830,17
355.431,47
48.641,22
48.641,22
11.904,64
11.054,91
849,73
23.550,52
84.096,38
510.255,86
459.679,31
26.135,78
24.440,77
418.638,27
394.057,00
102.093,37
70.606,13
21.170,73
171.694,79
28.491,98
24.581,27
151.766,80
54.474,45
30.179,20
65.057,45
2.055,70
569.712,74
542.624,30
27.088,44
11.573,46
3.560,31
11.954,66
1.650.373,67
2.089.901,52

Pertanian
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a. Pertambangan
b. Penggalian
Primer
Industri Pengolahan
a. Industri Tanpa Migas
Listrik, Gas & Air Bersih
a. Listrik
b. Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Sekunder
Perdagangan, Hotel & Restoran
a. Perdagangan Besar Eceran
b. Hotel
C. Restoran
Angkutan & Komunikasi
A. Angkutan
a. Angkutan Jalan Raya
b. Angkutan Laut
c. Angkutan Penyeberangan
d. Angkutan Udara
e. Jasa Penunjang Angkutan
B. Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c. Sewa Bangunan
d. Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i. Pemerintahan Umum & Pertahanan
ii. Swasta
a. Jasa Sosial Kemasyarakatan
b. Hiburan & Rekreasi
c. Perorangan dan Rumah Tangga
Tersier
PDRB

2012

LAMPIRAN 2

3
4

5
6

PDRB PROVINSI MALUKU 2003-2012


2004
2005
2006
2007
2008

Lapangan Usaha

2003

2009

2010

2011

10

1.029.450,16
264.691,02
214.495,22
36.711,87
54.694,94
458.857,11
25.260,22
14.298,34
10.961,88
1.054.710,38
142.165,09
142.165,09
15.946,09
14.181,07
1.765,02
37.369,87
195.481,05
719.658,30
687.894,41
11.663,01
20.100,88
257.266,28
244.985,49
97.978,77
69.493,55
15.872,19
44.212,58
17.428,40
12.280,79
168.612,35
43.036,31
25.674,66
98.342,61
1.558,77
574.737,34
521.228,01
53.509,33
34.076,29
2.318,97
17.114,07
1.720.274,27
2.970.465,70

1.058.272,19
271.804,10
218.284,91
37.651,33
56.577,75
473.954,10
26.019,49
14.508,53
11.510,96
1.084.291,68
147.069,79
147.069,79
17.188,16
15.377,95
1.810,21
39.372,74
203.630,69
757.097,87
723.252,18
12.556,85
21.288,84
288.267,26
274.515,23
101.711,76
71.750,75
17.397,68
64.544,99
19.110,05
13.752,03
174.646,36
44.934,21
26.331,93
101.715,76
1.664,46
594.062,06
538.897,64
55.164,42
34.904,34
2.468,30
17.791,78
1.814.073,55
3.101.995,92

1.096.737,19
279.632,06
225.750,25
38.524,84
57.737,59
495.092,45
26.951,22
14.811,76
12.139,46
1.123.688,41
152.393,72
152.393,72
18.249,13
16.414,12
1.835,01
41.644,55
212.287,40
802.380,06
766.358,01
13.440,98
22.581,07
318.850,33
302.935,11
105.353,04
73.822,50
19.574,13
83.208,34
20.977,10
15.915,22
181.482,63
47.019,16
27.135,05
105.550,44
1.777,98
620.555,52
563.363,59
57.191,93
36.042,22
2.649,72
18.499,99
1.923.268,54
3.259.244,35

1.129.294,57
288.255,19
234.100,57
39.450,40
58.978,95
508.509,46
28.066,80
15.147,99
12.918,81
1.157.361,37
160.348,67
160.348,67
19.569,53
17.690,78
1.878,75
44.447,23
224.365,43
863.350,98
824.907,76
14.343,35
24.099,87
354.487,41
334.948,94
111.537,26
78.436,41
22.370,39
99.475,53
23.129,35
19.538,47
190.605,80
49.252,57
28.174,84
111.281,83
1.896,56
649.943,11
590.574,05
59.369,06
37.256,96
2.870,36
19.241,74
2.058.387,30
3.440.114,10

1.175.895,75
299.295,36
247.561,35
40.799,60
54.691,18
533.548,26
25.729,91
11.792,91
13.937,00
1.201.625,66
180.252,45
180.252,45
20.558,72
18.555,86
2.002,86
47.705,21
248.516,38
922.452,81
881.633,51
15.193,91
25.625,39
388.588,46
367.137,18
122.389,84
84.664,26
25.083,92
110.089,57
24.909,59
21.451,28
201.042,37
52.114,14
29.042,63
117.896,49
1.989,11
671.249,45
609.735,74
61.513,71
38.534,87
3.027,08
19.951,76
2.183.333,09
3.633.475,13

1.209.850,46
300.318,52
256.943,56
42.056,23
54.734,93
555.797,22
27.004,25
12.325,95
14.678,30
1.236.854,71
188.444,76
188.444,76
20.958,03
18.900,09
2.057,94
49.847,71
259.250,50
971.533,93
928.977,23
15.708,98
26.847,72
407.689,96
384.956,74
127.126,32
88.635,01
26.449,86
116.617,88
26.127,67
22.733,22
209.644,98
54.136,17
30.451,20
122.995,30
2.062,31
702.129,86
638.576,24
63.553,62
39.779,55
3.158,35
20.615,72
2.290.998,73
3.787.103,94

1.258.948,68
306.463,11
270.526,19
43.422,90
54.846,81
583.689,67
28.070,98
12.640,68
15.430,30
1.287.019,66
201.584,99
201.584,99
17.490,86
15.389,24
2.101,62
53.324,07
272.399,92
1.029.787,69
985.264,44
16.749,18
27.774,07
436.237,30
412.027,46
133.269,63
92.562,03
28.061,53
130.540,89
27.593,38
24.209,84
218.900,48
56.804,89
31.579,17
128.359,69
2.156,73
748.442,98
683.349,54
65.093,44
41.148,82
3.299,87
20.644,75
2.433.368,45
3.992.788,03

1.330.244,45
316.866,52
273.087,39
45.109,94
48.776,15
646.404,45
30.901,35
13.598,35
17.303,00
1.361.145,80
202.398,70
202.398,70
20.304,63
18.171,40
2.133,23
78.468,24
301.171,57
1.094.626,21
1.041.869,70
23.463,77
29.292,74
464.617,73
439.142,33
138.255,18
94.992,80
30.271,73
146.536,10
29.086,52
25.475,40
224.370,08
58.255,86
32.466,11
131.452,27
2.195,84
805.424,91
737.755,65
67.669,26
42.722,71
3.450,43
21.496,12
2.589.038,93
4.251.356,30

Pertanian
a. Tanaman Bahan Makanan
b. Tanaman Perkebunan
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya
d. Kehutanan
e. Perikanan
Pertambangan & Penggalian
a. Pertambangan
b. Penggalian
Primer
Industri Pengolahan
a. Industri Tanpa Migas
Listrik, Gas & Air Bersih
a. Listrik
b. Air Bersih
Bangunan/ Kontruksi
Sekunder
Perdagangan, Hotel & Restoran
a. Perdagangan Besar Eceran
b. Hotel
C. Restoran
Angkutan & Komunikasi
A. Angkutan
a. Angkutan Jalan Raya
b. Angkutan Laut
c. Angkutan Penyeberangan
d. Angkutan Udara
e. Jasa Penunjang Angkutan
B. Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a. Bank
b. Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c. Sewa Bangunan
d. Jasa Perusahaan
Jasa-jasa
i. Pemerintahan Umum & Pertahanan
ii. Swasta
a. Jasa Sosial Kemasyarakatan
b. Hiburan & Rekreasi
c. Perorangan dan Rumah Tangga
Tersier
PDRB

1.377.544,76
325.852,87
285.584,80
48.311,68
50.607,39
667.188,02
35.250,02
16.222,85
19.027,17
1.412.794,78
217.021,50
217.021,50
21.753,46
19.479,09
2.274,37
87.238,74
326.013,70
1.169.115,93
1.113.885,27
24.769,55
30.461,11
490.018,25
463.337,69
144.154,94
96.048,57
31.431,29
161.217,38
30.485,51
26.680,56
232.183,59
59.813,46
34.533,96
135.560,94
2.275,23
879.042,35
809.489,72
69.552,63
43.928,33
3.597,10
22.027,20
2.770.360,12
4.509.168,60

2012
11

1.458.218,14
342.100,68
288.994,67
51.895,12
51.618,27
723.609,40
38.200,78
17.357,39
20.843,39
1.496.418,92
234.164,31
234.164,31
23.222,39
20.795,92
2.426,47
93.285,97
350.672,67
1.282.675,22
1.222.148,74
27.610,12
32.916,36
527.268,12
498.456,43
152.003,85
103.203,96
34.483,97
176.517,67
32.246,98
28.811,69
243.013,48
63.965,67
36.014,02
140.638,89
2.394,90
961.301,55
889.331,73
71.969,82
45.379,93
3.716,29
22.873,61
3.014.258,37
4.861.349,96

LAMPIRAN 3
HASIL PERHITUNGAN SHIFT SHARE
Kota Ambon
Lapangan Usaha

Pertanian
a.
Tanaman Bahan Makanan
b.
Tanaman Perkebunan
c.
Peternakan dan Hasil-hasilnya
d.
Kehutanan
e.
Perikanan

Pertambangan & Penggalian


a.
Pertambangan
b.
Penggalian

3
4

Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
a.
Listrik
b.
Air Bersih

5
6

2012

Dij

Rn

Rin

Rij

E'ij

Nij

Mij

C'ij

Aij

Dij

Eij

E*ij

Ein

E*in

E*ij - Eij

(E*n - En)/En

(E*in - Ein)/Ein

(E*ij - Eij)/Eij

Ej (Ein/En)

Eij . Rn

Eij (Rin-Rn)

E'ij (Rij-Rin)

(Eij-E'ij)(Rij-Rin)

Nij + Mij + C'ij + Aij

5=2-1

6 = (4 -3)/3

7 = (4 - 3) / 3

8 =5 / 1

13

14

352.601,30
25.384,61
3.622,18
8.085,23
387,60
315.121,68

1.029.450,16
264.691,02
214.495,22
36.711,87
54.694,94
458.857,11

1.458.218,14
342.100,68
288.994,67
51.895,12
51.618,27
723.609,40

1.391,44
0,00
1.391,44

2.830,17
0,00
2.830,17

25.260,22
14.298,34
10.961,88

38.200,78
17.357,39
20.843,39

24.775,08
8.547,62
7.942,24
605,38

48.641,22
11.904,64
11.054,91
849,73

142.165,09
15.946,09
14.181,07
1.765,02

234.164,31
23.222,39
20.795,92
2.426,47

Bangunan/ Kontruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
a.
Perdagangan Besar Eceran
b.
Hotel
c.
Restoran

7.842,79
284.730,46
259.003,25
10.782,62
14.944,59

23.550,52
510.255,86
459.679,31
26.135,78
24.440,77

37.369,87
719.658,30
687.894,41
11.663,01
20.100,88

93.285,97
1.282.675,22
1.222.148,74
27.610,12
32.916,36

Angkutan & Komunikasi


A.
Angkutan
a.
Angkutan Jalan Raya
b.
Angkutan Laut
c.
Angkutan Penyeberangan
d.
Angkutan Udara

189.940,34
179.768,72
65.793,85
47.053,40
9.714,89
42.093,93

418.638,27
394.057,00
102.093,37
70.606,13
21.170,73
171.694,79

257.266,28
244.985,49
97.978,77
69.493,55
15.872,19
44.212,58

527.268,12
498.456,43
152.003,85
103.203,96
34.483,97
176.517,67

121.670,54
4.538,08
(361,38)
2.408,29
23,15
115.062,40
1.438,73
0,00
1.438,73

0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64

0,42
0,29
0,35
0,41
(0,06)
0,58

23.866,14
3.357,02
3.112,67
244,35
15.707,73
225.525,40
200.676,06
15.353,16
9.496,18
228.697,93
214.288,28
36.299,52
23.552,73
11.455,84
129.600,86

0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64

0,65
0,56
0,47
0,37

0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64
0,64

0,85

0,64

Jasa Penunjang Angkutan

15.112,65

28.491,98

17.428,40

32.246,98

B.
Komunikasi
Keua, Persewaan & Jasa Perus.
a.
Bank
b.
Lembaga Keuangan Tanpa Bank
c.
Sewa Bangunan
d.
Jasa Perusahaan

10.171,62
104.194,34
36.413,25
21.353,83
45.107,83
1.319,43

24.581,27
151.766,80
54.474,45
30.179,20
65.057,45
2.055,70

12.280,79
168.612,35
43.036,31
25.674,66
98.342,61
1.558,77

28.811,69
243.013,48
63.965,67
36.014,02
140.638,89
2.394,90

Jasa-jasa
i.
Pemerintahan Umum & Pertahanan
ii.
Swasta
a.
Jasa Sosial Kemasyarakatan
b.
Hiburan & Rekreasi
c.
Perorangan dan Rumah Tangga

337.302,41
316.597,77
20.704,64
9.474,29
2.219,06
9.011,29

569.712,74
542.624,30
27.088,44
11.573,46
3.560,31
11.954,66

574.737,34
521.228,01
53.509,33
34.076,29
2.318,97
17.114,07

961.301,55
889.331,73
71.969,82
45.379,93
3.716,29
22.873,61

13.379,33
14.409,65
47.572,46
18.061,20
8.825,37
19.949,62
736,27
232.410,33
226.026,53
6.383,80
2.099,17
1.341,25
2.943,37

PDRB
1.189.655,24
Sumber : Kota Ambon Dalam Angka dan Maluku Dalam Angka
Diolah Penulis

2.089.901,52

2.970.465,70

4.861.349,96

1.981.590,76

Komponen (Jt Rupiah)

2003

230.930,76
20.846,53
3.983,56
5.676,94
364,45
200.059,28

e.

Pertumbuhan (R)

2012

1
1

Provinsi Maluku

2003

0,51
0,21
0,90

1,50
0,78
0,78
1,37
0,64
1,05
1,03
0,55
0,49
1,17
2,99

0,53
0,22
(0,09)
0,42
0,06
0,58
1,03
0,00
1,03

412.289,15
106.007,30
85.904,16
14.702,90
21.905,02
183.769,76

0,96
0,39
0,39
0,40
2,00
0,79
0,77
1,42
0,64
1,20
1,19
0,55
0,50
1,18
3,08

56.936,34
6.386,32
5.679,44
706,88

10.116,58
5.726,41
4.390,17

14.966,43
288.219,21
275.497,94
4.670,97
8.050,29
103.033,74
98.115,35
39.239,96
27.831,79
6.356,73
17.706,90
6.979,98

10

44.061,43
(7.665,39)
(37.859,50)
209,12
2.705,72
(892,84)

(19.381,81)
6.157,98
36.103,87
(128,37)
(2.660,70)
(79,14)

121.670,54
4.538,08
(361,38)
2.408,29
23,15
115.062,40

(180,89)
0,00
361,77

5.300,95
(1.202,55)
588,22

(4.571,85)
1.202,55
(401,78)

1.438,73
0,00
1.438,73

15.856,05
5.470,48
5.083,03
387,44
5.019,39
182.227,49
165.762,08
6.900,88
9.564,54
121.561,82
115.051,98
42.108,06
30.114,18
6.217,53
26.940,12

247,75
(683,81)
(1.350,18)
(163,45)

17.838,86
(1.068,16)
(443,49)
23,77

(10.076,52)
(361,49)
(176,69)
(3,41)

23.866,14
3.357,02
3.112,67
244,35

6.744,80
39.862,26
36.260,46
7.871,31
0,00

7.525,48
3.477,74
(1.432,23)
251,67
(36,82)

(3.581,94)
(42,09)
85,75
329,30
(31,54)

15.707,73
225.525,40
200.676,06
15.353,16
9.496,18

77.875,54
70.109,80
(5.921,45)
(7.058,01)
5.148,89
98.920,74

15.872,49
15.896,85
67,34
293,71
58,51
1.573,24

13.388,08
13.229,65
45,57
202,85
30,91
2.166,76

228.697,93
214.288,28
36.299,52
23.552,73
11.455,84
129.600,86

3.173,66

246,44

287,13

13.379,33

7.221,85
(20.838,87)
(5.461,99)
(5.124,92)
(9.472,64)
(131,94)

327,82
1.119,24
103,52
136,68
483,07
11,25

350,14
607,71
115,19
147,16
70,18
12,52

14.409,65
47.572,46
18.061,20
8.825,37
19.949,62
736,27

10.119,07
22.161,84
(6.211,39)
(2.937,03)
(88,76)
(2.703,39)

4.379,52
818,99
(678,76)
(1.479,85)
4,11
(91,63)

2.038,20
423,13
22,98
452,50
5,70
(28,84)

232.410,33
226.026,53
6.383,80
2.099,17
1.341,25
2.943,37

244.930,35

70.524,52

35.949,64

1.981.590,73

0,67
0,71
0,34
0,33
0,60
0,34

230.179,16
208.748,96
21.430,19
13.647,37
928,73
6.854,09

9.672,10
6.509,84
66.684,38
23.304,48
13.666,45
28.869,01
844,44
215.873,54
202.622,57
13.250,97
6.063,55
1.420,20
5.767,23

0,64

1,67

2.426.953,26

1.630.186,22

4.918,39
67.528,32
17.235,81
10.282,56
39.385,68
624,28

12

(50.804,77)
(7.296,29)
(1.155,23)
(1.305,70)
(255,12)
(12.003,56)

0,89
1,42
0,46
0,50
0,41
0,44
0,56
0,69
0,71
0,31
0,22
0,60
0,33

1,35
0,44
0,49
0,40
0,43
0,54

11

147.795,69
13.341,78
2.549,48
3.633,24
233,25
128.037,94
890,52
0,00
890,52

LAMPIRAN 4
Nilai Produksi Dan Nilai Ekspor Komoditi Ikan Dan Komoditi Udang Kabupaten/Kota
Tahun 2003 - 2012
(Dakam Ribuan)
KABUPATEN / KOTA
KOTA AMBON

Kab. Maluku Tengah

Kab. Seram Bagian Barat

Kab. Maluku Tenggara

Tahun

2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012

Nilai
Produksi

Nilai Ekspor
Komoditi
Komoditi
Ikan
Udang

18.039.690

4.099.848,58

36.197.268

5.271.421,40

206.418.814

5.833.167,08

378.101.790

62.232.003,80

325.822.618

68.447.983,93

251.186.063

5.232.909,53

501.884.856

65.116.627,77

516.941.402

70.883.290,80

585.496.884

81.675.096,75

685.228.365

92.776.905,56

32.990.209,77
44.512.489,98
52.152.451,96
103.168.770,17
500.250.986,70
84.663.324,36
29.232.672,19
20.192.001,88
19.552.875,67
17.885.895,65

Nilai
Produksi

Nilai Ekspor
Komoditi
Komoditi
Ikan
Udang
11.981.556,00

Nilai
Produksi

5.005.137,48

5.595.347,87

6.280.888,79

2.290.775.700,00

7.442.087,84

2.362.810.227,36

6.813.512,18

2.385.138.868,12

5.233.386,80

8.217.331,85

12.208.509,54

72.092.575

15.589.904,43

113.014.600

18.357.298,28

158.851.242

164.557.508,58

237.736.153

165.765.731,30

271.978.656

289.572.318,25

154.400.475

10.563.866,43

231.734.975

204.630.813,98

316.064.169

299.924.650,00

16.139.519,60

62.637.416

9.147.625,25

339.639.850

312.093.450,00

27.546.400,00

64.516.414

11.553.690,85

35.018.130,00
267.394.040,46
268.126.716,00
266.295.174,45
15.473.119,22
13.416.088,56

Sumber: BPS Kota Ambon, Laporan Tahunan DKP Kabupaten/Kota, Pelabuhan Perikani Nusantara

20.683.425
24.906.700
36.731.550
44.560.000
36.707.875
34.867.025
39.415.725

Nilai
Produksi

2.437.824,06

70.664.481

15.978.894,09

16.470.800

Nilai Ekspor
Komoditi
Komoditi
Ikan
Udang

0
0

898.326.655
920.920.291
1.412.226.406
1.588.155.180
1.585.650.953
586.978.600
736.631.260
758.730.198

Nilai Ekspor
Komoditi
Komoditi
Ikan
Udang
268.702.734,95

45.914.125,67

103.464.277,42

408.930.574,08

152.511.806,29

22.318.563,85

201.001.484,06

459.481.640,15

199.469.943,38

451.234.512,75

251.582.158,74

1.105.090,22

124.207.273,03

270.841,68

119.720.089,97

7.031.966,99

878.545.290

276.857.805,45

914.765.965

323.554.750,26

8.956.445,65
10.552.336,45

BIODATA KETUA PENELITI


A.

B.

Identitas diri
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Nama Lengkap
Jenis Kelamin
Jabatan Fungsional
NIP/NIK/Identitas lainnya
NIDN
Tempat dan Tanggal Lahir
e- mail
Nomor Telepon/HP
Alamat Kantor

10
11
12

Nomor Telepon/ Faks


Lulusan yang telah dihasilkan
Mata Kuliah Yang Diampu

Sefnat Kristianto Tomasoa SE.,M.Si.


Laki- laki
Assiten Ahli
8171021106720001
1211067201
Salatiga, 11 Juni 1972
s.kristo@yahoo.com
081314550022
Jalan DR. Kayadoe. NO.80
Kelurahan Benteng RT 002 /RW 003.
0911-3345572
1.
2.
3.
4.
5.

Pengantar Ekonomi Mikro


Pengantar Ekonomi Makro
Pengantar Ekonomi Pembangunan
Perekonomian Indonesia
Ekonomi Manajerial

Riwayat Pendidikan
S-1

S
Program Pascasarjana
2

Nama
Perguruan Tinggi

Universitas Pattimura Ambon

Bidang Ilmu

Ilmu Ekonomi dan Studi


Pembangunan

Ekonomi Perencanaan
Pembangunan

Tahun
Masuk- lulus

1991-1997

2010-2013

Judul Skripsi/
Tesis/Disertasi

Tinjauan Tentang
Pemberlakuan UU
Ketenagakerjaan (No. 3 Tahun
1992) Tentang Jamsostek
Terhadap Perlindungan Tenaga
Kerja Pada PT. Dok Waiame
(Studi Kasus)

Analisis Penentuan Sektor


Unggulan Dan Daya Saing
Perekonomian Wilayah
Kota Ambon

Nama
Pembimbing

1. DR. J. Fr. Syauta, M.Ec.


2. Dra. D. Rumerung, M.Si

1. DR. Hj. A. Latuconsina, SU


2. DR. M. Bugis, M.Si.

Universitas Pattimura Ambon

S-3

C. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir


(Bukan Skripsi, Tesis, maupun Disertasi)
No. Tahun
1.

2011

2.

2011

3.

2014

Judul Penelitian
Analisis Determinan Tingkat
Pencarian Informasi Eksternal
Untuk Jasa Perbankan
Identifikasi Sektor Unggulan Dan
Prioritas Pembangunan Ekonomi
Di Kota Ambon
Analisis Kesempatan Kerja
Sektoral Di Kota Ambon
Dengan Pendekatan
Pertumbuhan Berbasis Ekspor

Pendanaan
Sumber
Jumlah (Juta Rr)
KOPERTIS
Wilayah XII

Rp. 5.000.000,-

DIKTI

Rp. 10.000.000,-

KOPERTIS
Wilayah XII

Rp. 5.000.000,-

FORMULIR EVALUASI ATAS CAPAIAN LUARAN KEGIATAN

Ketua

: SEFNAT KRISTIANTO TOMASOA, SE,M.SI

Perguruan Tinggi

: SEKOLAH
TINGGI
ILMU
EKONOMI
MANAJEMEN (STIEM) RUTU NUSA AMBON

Judul

Waktu Kegiatan

: tahun ke 1 dari rencana 1 tahun

ANALISIS
PERGESERAN
STRUKTUR
EKONOMI DAN IDENTIFIKASI SEKTOR BASIS
UNTUK MEMAKSIMALKAN DAYA SAING
PEREKONOMIAN WILAYAH KOTA AMBON

Luaran yang direncanakan dan capaian tertulis dalam proposal awal:


No. Luaran yang Direncanakan
1.

2.

Capaian

Artikel dimuat di Jurnal Nasional Draft/Dalam Proses Penyelesaian


terakreditasi
dan mencari tempat pemuatan atau
publikasi jurnal
Buku Ajar
Draft atau dalam proses penyelesaian
akhir