Anda di halaman 1dari 2

Dalam kampanye pencegahan HIV/AIDS, ada istilah ABCD.

Ringkasnya, A= Abstinencealias jangan


berhubungan seks; B=Be faithfull alias setialah pada pasangan, C= Condomalias pakailah kondom,
atau D= no use Drugs atau hindari obat-obatan narkotika.

Solusi yang ditawarkan tampaknya bagus. Namun realitanya program kondomisasi lebih menonjol.
Padahal, orang bodoh pun tahu bahwa menyodorkan kondom sama saja menyuburkan seks bebas.
Apalagi, faktanya kondom justru dibagi-bagikan di lokasi-lokasi prostitusi, hotel, dan tempat-tempat
hiburan yang rentan terjadinya seks.

Selanjutnya, karena penularan HIV/AIDS banyak terjadipada pengguna narkoba terutama suntik,
maka untuk mencegah penggunaan narkoba, para pencandunyadiberi solusi dengan subtitusi
metadon. Metadon adalah turunan dari narkoba (morfin, heroin, dkk) yang mempunyai efek adiktif
(nyandu) dan menyebabkan loss control (tidak mampu megendalikan diri). Dengan dalih agar tidak
menggunakan narkoba suntik metadon pun ditempuh karena metadon melalui mulut. Padahal, loss
control dapat menyebabkan perilaku seks bebas sebagai transmisi utama penularan virus
HIV/AIDS.

Lebih ironis lagi adalah legalisasi penggunaan jarum suntik pada pecandu narkoba, dengan dalih
agar tidak terjadi penggunaan jarum suntik secara bersama-sama. Padahal, langkah ini ini justru
akan melestarikan penggunaan narkoba suntik. Siapa yang bisa menjamin jarum suntik akan
digunakan sendiri? Sebab, fakta menunjukkan pengguna narkoba biasanya hidup berkelompok.

Jelaslah, solusi ala PBB itu tidak memberantas faktor penyebab utama (akar masalah) atau
menghilangkan media penyebarannya yaitu seks bebas, namun justru melestarikannya. Jangan
heran jika virus HIV/AIDS ini makin merajalela. Buktinya tiap tahun angkanya meningkat. Sampaisampai ada kecurigaan segelintir kalangan, bahwa HIV/AIDS sengaja dipelihara sebagai
upaya genocide (pembunuhan massal) terselubung etnis tertentu.

SOLUSI TUNTAS

Media utama penularan HIV/AIDS adalah hubungan SEKS BEBAS. Oleh karena itu pencegahannya
harus dengan menghilangkan praktik tersebut. Hal ini meliputi penghapusan berbagai rangsangan
menuju seks bebas, seperti pornografi-pornoaksi, tempat prostitusi dan lokasi maksiat.

Para pelaku seks bebas harus dihukum berat agar jera dan tidak ditiru masyarakat umumnya.
Demikian juga pelaku maksiatdan pendukungnya, semua harus dikenakan sanksi. Pelaku pornografi
dan pornoaksi harus dihukum berat, termasuk perilaku menyimpang seperti homoseksual.

Pencegahan seks bebas ini bisa efektif jika masyarakat dididik dan dipahamkan kembali untuk
berpegang teguh pada ajaran agama. Masyarakat yang paham bahwa hubungan seks adalah
sakral dan hanya bisa dilakukan dengan pasangan sah melalui pernikahan akan membentuk
kehidupan sosial yang sehat.