Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Sistem Pendidikan Nasional dimaksud untuk menjamin pemerataan kesempatan
pendidikan, meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan serta efisiensi manajemen
pendidikan untuk menghadapi tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global
dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Peraturan pemerintah Indonesia Nomor 19 tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menetapkan delapan standar nasional pendidikan
yang harus menjadi acuan sekaligus kriteria dalam menetapkan keberhasilan
penyelenggaraan pendidikan nasional. Delapan standar nasional pendidikan yang dimaksud
meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga
kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan
standar penilaian pendidikan.
Salah satu standar yang berkaitan penilaian langsung dengan keberhasilan penyelenggaraan
pendidikan adalah standar pendidik dan tenaga kependidikan, khususnya guru. Guru sebagai
tenaga professional bertugas mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Guru yang
professional selain mampu mengajar mampu pula melaksanakan pembelajaran kepada siswa.
Untuk itu guru perlu membuat suatu perencanaan sebelum melaksanakan pembelajaran di
kelasnya.
Pembelajaran merupakan suatu sistem atau proses membelajarkan siswa. Pembelajaran selalu
direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara sistematis agar siswa dapat mencapai
tujuan secara efektif dan efisien. Pembelajaran merupakan suatu sistem karena dalam
pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang terorganisir antara lain: tujuan
pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran,
pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran dan tindak lanjut pembelajaran.
Berdasarkan hasil perolehan ulangan harian pada kompetensi menentukan nilai puluhan dan
satuan pada bilangan diketahui bahwa jumlah siswa di kelas I sebanyak 16 siswa, hanya 10
siswa yang telah tuntas (63%) dan siswa yang belum tuntas 6 siswa (37 %). Padahal pada
kompetensi ini persentase ketuntasan belajar yang harus dicapai sebesar 75%, maka dapat
dikatakan pembelajaran belum berhasil.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi diperoleh beberapa masalah masalah diantaranya:
a. Siswa berbicara sendiri saat guru menerangkan
b. Siswa tidak berani bertanya saat mengalami kesulitan
c. Siswa tidak bias menjawab ketika diberi pertanyaan
d. Siswa banyak yang mencontek ketika diberi tugas
e. Minat belajar siswa rendah/ siswa kurang bersemangat dalam menerima pelajaran
f. Rata-rata hasil evaluasi dibawah KKM
2. Analis Masalah
Setelah dilakukan analisis dalam pembelajaran matematika kompetensi menentukan nilai
puluhan dan satuan pada bilangan, kelas I SD Negeri ... kecamatan ... Kabupaten ... diketahui
bahwa masalah-masalah di atas disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1. Guru terlalu cepat dalam menjelaskan
2. Guru tidak menggunakan alat peraga
3. Guru kurang memberikan latihan
4. Guru kurang memberi motivasi kepada siswa
5. Guru kurang mengaktifkan siswa dalam belajar
6. Guru cenderung menggunakan metode ceramah sehingga pembelajaran menjadi
monoton dan membosankan.

Dari analisis masalah di atas maka perlu diberikan pemecahannya diantanya:


Guru seharusnya lebih sabar dalam menjelaskan materi, yaitu disesuaikan dengan tingkat
kemampuan berpikir siswa.
1. Guru hendaknya menggunakan alat peraga yang konkret
2. Guru seharusnya lebih sering member latihan kepada siswa.
3. Guru harus sering meberi motivasi kepada siswa sehingga lebih bersemangat dalam
belajar.
4. Dalam pembelajaran seharusnya menggunakan metode yang lebih variatif jangan hanya
metode ceramah sehingga siswa tidak bosan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka rumusan masalah
penelitian ini adalah, Apakah metode demonstrasi dan latihan dapat meningkatkan hasil
belajar matematika materi menentukan nilai tempat puluhan dan satuan pada siswa kelas I SD
Negeri ... semester 2 tahun pelajaran 2010/ 2011?
C. Tujuan Perbaikan
Tujuan penelitian ini diantaranya:
1. Meningkatkan kualitas proses dan prestasi belajar matematikan pada materi menentukan
tempat puluhan dan satuan.
2. Meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran khususnya materi menentukan
nilai tempat puluhan dan satuan.
3. Meningkatkan ketrampilan guru dalam membelajarkan kompetensi menentukan nilai
tempat puluhan dan satuan.
D. Manfaat Perbaikan
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi siswa, guru, dan sekolah adalah
1. Manfaat bagi siswa
a. Meningkatnya keterampilan siswa dalam menentukan tempat puluhan dan satuan.
b. Meningkatnya aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran matematika, khususnya
kompetensi menentukan tempat puluhan dan satuan.
2. Manfaat bagi guru
a. Meningkatnya wawasan guru tentang pemanfaatan alat peraga yang tepat dalam
pembelajaran matematika.
b. Meningkatnya kemampuan guru dalam membimbing aktivitas belajar.
3. Manfaat bagi sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas pembelajaran sehingga mutu
pendidikan di sekolah semakin meningkat.
4. Manfaat bagi masyarakat
Melalui penelitian ini dapat memperbaiki kualitas pembelajaran sehingga mutu lulusan
meningkat yang akhirnya dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan diri siswa.
Perubahan yang merupakan hasil belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti
perubahan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan sikap (Winkel, 1991: 14). Belajar juga
menghasilkan suatu perubahan tingkah laku keterampilan, kemapuan dan kecakapan serta

perubahan-perubahan aspek-aspek lainnya yang ada pada diri siswa yang melakukan kegiatan
belajar.
Menurut Grendler (1994: 1), belajar adalah sikap proses orang memperoleh berbagai
kecakapan, keterampilan dan sikap. Slameto (1995: 2) menyatakan bahwa belajar adalah
suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan sebagai suatu hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Sudjana (2001: 28), menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan
adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat
ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pemahamannya, pengetahuannya, sikap
dan tingkah lakunya, daya penerimaan dan lain-lain aspek yang ada pada individu siswa.
Gagne dan Berliner (1983:252) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu
organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Morgan et.al (1986:140)
menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relative permanent yang terjadi karena hasil
dari praktik atau pengalaman. Slavin (1994:152) menyatakan bahwa belajar merupakan
perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman. Gagne (1977:3) menyatakan bahwa
belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia, yang berlangsung selama
periode tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu
bentuk perubahan pada diri seseorang sebagai akibat dari pengalaman dan latihan dalam
berinteraksi dengan lingkungan yang dialami orang tersebut yang tampak pada tingkah
lakunya. Jadi pengalaman belajar yang diperoleh seseorang akan membekas dan meresap
dalam jiwa sehingga akibat apa yang diperolehnya itu dapat bermanfaat bagi dirinya dan
tingkah lakunya akan mengalami perubahan.
B. Pembelajaran
Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi,
minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru
dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004:2).
Pembelajaran adalah suatu rangkaian kejadian yang mempengaruhi pembelajaran sehingga
proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah (Gagne dan Briggs 1979 dalam Kasturi
2009:5).
Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil
dari pengalaman. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang
diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan
kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar
dengan baik (id.wikipedia.org).
Pembelajaran pada dasarnya merupakan aktivitas mengaktifkan, menyentuhkan,
mempertautkan, menumbuhkan, mengembangkan, dan membentuk pemahaman melalui
penciptaan kegiatan, pembangkitan penghayatan, internalisasi, proses penemuan jawaban
pertanyaan, dan rekonstruksi pemahaman melalui refleksi yang berlangsung secara dinamis..
Sementara itu, belajar pada dasarnya merupakan proses menyadari sesuatu, memahami
permasalahan, proses adaptasi dan organisasi, proses asimilasi dan akomodasi, proses
menghayati dan memikirkan, proses mengalami dan merefleksikan,dan proses membuat
komposisi dan membuka ulang secara terbuka dan dinamis.( Rb Aryans dalam
www.blogspot.com)
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran adalah
suatu rangkaian kegiatan yang telah dirancang agar peserta didik memperoleh pengalaman

sebagai akibat dari adanya interaksi. Pengalaman tersebut berupa pengetahuan, sikap maupun
perilaku yang sifatnya tetap atau permanen.
C. Hasil Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999: 250-255), hasil belajar merupakan hal yang dapat
dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar
merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat
sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah
kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat
terselesikannya bahan pelajaran.
Menurut Hamalik (2002:155) hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku
pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam perubahan pengetahuan, sikap, dan
ketrampilan. Perubahan dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih
baik dibandingkan dengan sebelumnya, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, sikap tidak
sopan menjadi sopan dan sebagainya.Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak
dari suatu interaksi dalam proses pembelajaran.
Menurut Nasrun (dalam Tim Dosen, 1980 : 25) mengemukakan bahwa hasil belajar
merupakan hasil akhir pengambilan keputusan mengenai tinggi rendahnya nilai yang
diperoleh siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Hasil belajar dikatakan tinggi apabila
tingkat kemampuan siswa bertambah dari hasil sebelumnya
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan
perilaku baik dalam bentuk bengetahuan, sikap, atau motorik sebagai akibat dari interaksi dan
pengalaman belajar. Perubahan perilaku dapat diukur melaui kegiatan evaluasi atau tes.
D. Metode Pembelajaran
Metode berasal dari bahasa latin methodos yang berarti jalan yang harus dilalui. Menurut
Nana Sudjana ( 2002 : 260 ), Metode adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan
hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran, oleh karena itu peranan
metode pengajaran sebagai alat untuk menciptakan proses pembelajaran.
Sedangkan menurut Sukartiaso ( dalam Moedjiono dan Dimyati 1995 :45 ) Metode adalah
cara untuk melakukan sesuatu atau cara untuk mencapai suatu tujuan.
Wina Senjaya (2008). Mengungkapkan bahwa metode pembelajaran diartikan sebagai cara
yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk
kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran,
diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6)
pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah suatu
cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Dalam kegiatan
pembelajaran, metode sangat diperlukan oleh guru untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.
E. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau
mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang
dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan
oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan ( Mulyani Sumantri, dalam
Roetiyah 2001 : 82). Pendapat lain menyatakan bahwa metode demonstrasi adalah cara
mengajar dimana seorang instruktur atau tim guru menunjukkan, memperlihatkan suatu
proses (Roestiyah N.K 2001 : 83 ).

Menurut Udin S. Wianat Putra, dkk ( 2004 : 424 ) Metode demonstrasi adalah cara
penyajian pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objek atau cara melakukan
sesuatu untuk mempertunjukkan proses tertentu.
Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah ( 2000 : 54 ), metode demonstrasi adalah metode
yang digunakan untuk memperlihatkan suatu proses atau cara kerja suatu benda yang
berkenaan dengan bahan pelajaran.
Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa metode demonstrasi adalah
cara penyajian pelajaran dengan memperagakan secara langsung proses terjadinya sesuatu
yang disertai dengan penjelasan lisan.
F. Metode Latihan
Sangiaji Samino (1994: 73) mengatakan bahwa metode latihan atau pemberian tugas
diartikan sebagai suatu cara interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas
dari guru untuk dikerjakan oleh siswa di sekolah baik secara perseorangan maupun
kelompok.
Thorndike mengemukakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon akan menjadi kuat
jika sering diberikan latihan. Dan sebaliknya apabila tidak ada latihan maka hubungan antara
stimulus dan respon itu akan menjadi lemah.
Subagyo (1999:148), mengungkapkan bahwauntuk memperoleh suatu ketangkasan atau
keterampilan biasanya diperlukan latihan berkali-kali dan terus menerus terhadap apa yang
telah dipelajari, karena hanya dengan melakukannya secara teratur, pengetahuan atau
keterampilan dapat disempurnakan
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa metode latihan adalah
cara pembelajaran dengan memberikan tugas atau latihan secara terus-menerus mengenai
materi yang telah dipelajari sehingga materi tersebut dapat dikuasai dengan baik.
G. Konsep Matematika Umum
1.
Definisi matematika
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang telah lama dipelajari di sekolah.
Namun, selama ini kita mengenal matematika hanya pada objek yang dipelajari saja.
Bagaimana dengan definisi matematika itu sendiri, seringkali kita bertanya apakah
matematika itu?.
Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat diantara para matematikawan, apa yang
dimaksud dengan matematika itu. Sasaran pembelajaran matematika tidaklah konkret, tetapi
abstrak dengan cabang-cabangnya semakin lama semakin berkembang dan bercampur
(Russefendi, 1997:43).
Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani mathein atau manthenein yang artinya
mempelajari. Namun, diduga kata itu erat hubungannya dengan kata
sansekerta medha atau widya yang artinya kepandaian, ketahuan, atau intelegensi. (Andi
Hakim Nasution, dalam Karso, 1998:1.39).
James dan James (1976) dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah
ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan besaran dan konsep-konsep yang saling
berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi ke dalam tiga bidang,
yaitu aljabar, analisis, dan geometri.
Johnson dan Rising (1972) mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola
mengorganisasikan pembuktian logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan
istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat.

Beberapa pernyataan dari para ahli matematika di atas dapat dikatakan bahwa matematika
terdiri dari unsur-unsur yang abstrak yang terbentuk dalam konsep-konsep matematika,
dimana untuk mempelajarinya diperlukan pemikiran secara logika dan penalaran yang tinggi.
2.
Matematika di Sekolah Dasar
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dipelajari pada jenjang sekolah dasar.
Konsep matematika pada dasarnya sangat abstrak oleh karena itu perlu penalaran yang tinggi
untuk dapat memahaminya. Keadaan ini sangat bertentangan dengan karakteristik pendidikan
di sekolah dasar. Namun, bagaimanapun juga matematika harus tetap diajarkan di sekolah
dasar. Hal ini karena matematika sangat dibutuhkan untuk mempelajari pengetahuan yang
lain, selain itu pembelajaran matematika di sekolah dasar sangat berguna untuk memberikan
dasar kepada siswa untuk belajar matematika pada jenjang pendidikan selanjutnya.
Pembelajaran matematika di sekolah dasar juga bermanfaat untuk memberikan bekal kepada
siswa agar bias memecahakan masalah yang muncul di masyarakat yang hanya bisa
dipecahkan dengan menggunakan matematika.
Agar pembelajaran matematika di sekolah dasar dapat berhasil maka harus disesuaikan
dengan karakter siswanya. Beberapa teori yang bisa dipakai dalam pembelajaran matematika
di sekolah dasar diantaranya teori William Brownell dalam Muchtar A. K ( 1997:18 ) yang
mengatakan bahwa anak-anak pasti memahami apa yang mereka pelajari jika belajar secara
permanen atau teus-menerus untuk waktu lama. Salah satu cara bagi anak-anak untuk
mengembangkan pemahaman tentang matematika adalah dengan menggunakan benda-benda
tertentu ketika mereka mempelajari konsep matematika.
Hal itu sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Jean Piaget dalam Muchtar A. K ( 1997:19
). Beliau mengungkapkan bahwa anak usia SD (7-12 tahun) berada pada tahap usia konkret.
Pada tahap ini anak mengembangkan konsep dengan menggunakan benda-benda konkret
untuk menyelidiki hubungan dan model-model ide abstrak. Anak sudah mulai berpikir logis.
Berpikir logis ini terjadi sebagai akibat adanya kegiatan anak memanipulasi benda-benda
konkret.
Maka dari itu kegiatan pembelajaran di SD akan berhasil jika pembelajaran banyak
menggunakan benda-benda konkret (nyata) yang mudah dimanipulasi oleh anak. Kegiatan
latihan yang terus menerus dapat pula meningkatkan pemahaman anak tentang suatu konsep
matematika.
H. Materi Nilai Tempat Puluhan dan Satuan Pada Bilangan
Konsep nilai tempat dalam matematika di sekolah dasar (SD) diajarkan mulai dari kelas 1
semester 2 sampai dengan kelas 6. Untuk mempelajari nilai tempat, siswa dituntut terlebih
dahulu mempunyai kemampuan dalam tiga hal:
1. menggunakan material konkret untuk merepresentasikan bilangan 0-9,
2. menulis lambang bilangan 0-9, dan
3. mengekspresikan suatu bilangan sebagai kombinasi penjumlahan, seperti 3+0, 2+1, 1+2,
dan 0+3 untuk bilangan 3.
Kemampuan ini penting sebagai dasar untuk memahami bahan selanjutnya, misalnya bahwa
suatu bilangan seperti 12 dapat direpresentasikan sebagai 1 puluhan dan 2 satuan dan
sebagai 10+2 (Kennedy & Tipps, 1994, dalam Teguh, online at: sutisna.com)
Pemahamanan konsep nilai tempat pada bilangan cacah dalam matematika berguna untuk
penamaan, pembandingan, dan pembulatan bilangan (Troutman & Lichtenberg, 1991).
Selain itu Riedesel, Schwartz, & Clements menyatakan bahwa kurangnya pemahaman
prosedur seperti regrouping dalam penjumlahan dan pengurangan disebabkan oleh kurangnya
pemahaman nilai tempat. Sementara itu, Van de Walle (1994) menegaskan bahwa number
sense dan pemahaman komputasi tidak dapat dikembangkan tanpa pemahaman yang kuat
akan nilai tempat. Troutman & Lichtenberg menyarankan untuk segera mengecek kesulitan
tentang nilai tempat bila siswa menunjukkan kelemahan dalam aritmetika.

Pemahaman materi nilai tempat sangat diperlukan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa
pemahaman siswa SD akan materi ini belum seperti yang diharapkan.
Konsep nilai tempat perlu dipahami siswa terutama untuk menuliskan lambang bilangan yang
lebih besar dari 9. Menurut Thompson (dalam Payne (Ed), 1993 dalam Nurwati dkk online at:
sutisna.com ) terdapat tiga komponen dasar pengetahuan tentang nilai tempat, yaitu:
konseptual model, oral representations, dan symbolic representations. Dengan demikian,
memahami nilai tempat berarti memiliki pengetahuan konseptual yang diwakili oleh model
(alat peraga yang mewakili pengetahuan konseptual bilangan dasar sepuluh), dan berarti pula
mempunyai kemampuan untuk menyatakan pengetahuan itu dengan kata-kata (lisan) dan
lambang (simbol) tertulisnya.
Aktivitas membilang (mencacah) merupakan hal penting bagi pengembangan konseptual dan
juga merupakan cara utama untuk menyusun hubungan dengan kata-kata dan tertulis.
Pemahaman yang baik mengenai bilangan dua angka atau lebih melibatkan pemikiran
masing-masing bilangan dalam kerangka unsur-unsurnya, hubungannya dengan bilangan lain,
dan pengalaman-pengalaman praktis. Misalnya berpikir bilangan 325, maka: (1) unsur-unsur
bagiannya adalah 3 ratusan, 2 puluhan, dan 5 satuan; (2) hubungan dengan bilangan lain: >
300 ; < 350.
I.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka di atas maka hipotesis tindakan yang diambil dalam perbaikan
ini adalah Penggunaan Metode Demonstrasi dan Latihan dapat meningkatkan Hasil Belajar
Materi Menentukan Nilai Tempat Puluhan dan Satuan Bilangan pada siswa kelas I SD
Negeri ... Kecamatan ... Kabupaten ....
bab III
PELAKSANAAN PERBAIKAN
A. Subyek Penelitian
1. Tempat dan waktu pelaksanaan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran:
a. Tempat
: SD Negeri ...
Jl. Krikilan, Desa ..., Kecamatan
... Kabupaten ....
b.
Kelas/ Semester
: I (satu)/ 2 (dua)
c.
Waktu
: 07.00 s.d 08.10 (tiap siklus)
d.
Mata Pelajaran
: Matematika
e.
Materi
: Menentukan nilai tempat puluhan dan satuan
pada bilangan
f.
Jadwal Perbaikan : Siklus I, hari Selasa 1
2. Mata Pelajaran
Kompetensi yang akan dilakukan perbaikan adalah pada mata pelajaran Matematika.
Khususnya pada materi Menentukan nilai tempat puluhan dan satuan.
3. Karakteristik siswa
Sasaran siswa yang akan diberi perbaikan adalah siswa Kelas I SD
Negeri ..., Desa Grobogkulon, Kecamatan ..., Kabupaten. Secara umum siswa berasal dari
keluarga prasejahtera. Orang tua siswa bekerja sebagai buruh, dan pedangan tahu, ada pula
yang merantau ke Jakarta.
Orangtua siswa biasa bekerja mulai dari pagi setelah sholat Subuh hingga sore hari. Orang
tua siswa sedikit sekali berkesempatan bersama anak-anaknya. Rendahnya tingkat pendidikan

orang tua menyebabkan kurangnya kepedulian terhadap pendidikan anak-anaknya. Sebagian


besar dari mereka tidak memperhatikan kegiatan belajar anaknya. Motivasi belajar siswa
rendah. Sebagian besar siswa sekolah hanya asal-asalan saja yang penting berangkat dan
bermain di sekolah. Di dalam kelas siswa selalu mider ketika disurun maju ke depan kelas
maupun ketika menjawab pertanyaan. Di rumah juga mereka jarang belajar. Jika ada PR tidak
dikerjakan.
B. Deskripsi per Siklus
1. Pra Siklus
a. Perencanaan
1) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui RPP
2) Membuat media dan alat peraga pembelajaran
3) Membuat lembar kerja siswa dan instrumen evaluasi
4) Menyusun tes formatif
b. Pelaksanaan
1) Menyiapkan RPP
2) Menyiapkan media dan alat peraga pembelajaran
3) Mengadakan presensi siswa
4) Menggunakan tahap-tahap pembelajaran dalam RPP dengan menggunakan alat
peraga abacus.
5) Pada pembelajaran siswa mengerjakan tes formatif
c. Pengamatan
Pengamatan difokuskan pada:
1) Hasil belajar siswa
a) Rata-rata kelas
b) Banyaknya siswa yang tuntas belajar (skor 61)
c) Persentase tuntas belajar secara klasikal (persentase 75% )
2) Aktivitas siswa
a) kehadiran peserta didik
b) keberanian siswa menjawab pertanyaan
c) keberanian siswa memanipulasi alat peraga di depan kelas
d) ketekunan siswa dalam menyelesaikan tugas
3) Perfomansi guru dalam proses belajar mengajar
a) Pelaksanaan tugas rutin kelas
b) Membuka pelajaran
c) Penjelasan materi
d) Pemanfaatan alat peraga abacus dalam pembelajaran
e) Memicu dan memelihara aktivitas siswa
f) Kemampuan dalam bertanya
g) Kemampuan mengevaluasi
h) Keterampilan dalam menutup pembelajaran
d. Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan dengan cara menganalisis hasil tes formatif siswa pada pra siklus.
Analisis dilakukan untuk mengetahui keberhasilan pembalajaran yang dilakukan pada pra
siklus, hasil analisis digunakan untuk merencanakan perbaikan pembelajaran yaitu siklus 1.
2.
a.

Siklus I
Perencanaan

1) Mengidentifikasi masalah, menganalisis masalah, dan mengembangkan pemecahan


masalah
2) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui RPP
3) Membuat media dan alat peraga pembelajaran
4) Membuat lembar kerja siswa dan instrumen evaluasi
5) Membuat instrumen observasi aktivitas belajar siswa dan perfomansi pengajar
6) Menyusun tes formatif I
b. Pelaksanaan
1) Menyiapkan RPP
2) Menyiapkan media dan alat peraga pembelajaran
3) Menyiapkan instrumen observasi aktivitas belajar siswa dan perfomansi pengajar
4) Mengadakan presensi siswa
5) Menggunakan tahap-tahap pembelajaran dalam RPP dengan menggunakan alat
peraga abacus.
6) Pada akhir siklus I, siswa mengerjakan tes formatif I
c. Pengamatan
Pengamatan difokuskan pada:
1) Hasil belajar siswa
a) Rata-rata kelas
b) Banyaknya siswa yang tuntas belajar (skor 61)
c) Persentase tuntas belajar secara klasikal (persentase 75% )
2) Aktivitas siswa
a) kehadiran peserta didik
b) keberanian siswa menjawab pertanyaan
c) keberanian siswa memanipulasi alat peraga di depan kelas
d) ketekunan siswa dalam menyelesaikan tugas
3) Perfomansi guru dalam proses belajar mengajar
a) Pelaksanaan tugas rutin kelas
b) Membuka pelajaran
c) Penjelasan materi
d) Pemanfaatan alat peraga abacus dalam pembelajaran
e) Memicu dan memelihara aktivitas siswa
f) Kemampuan dalam bertanya
g) Kemampuan mengevaluasi
h) Keterampilan dalam menutup pembelajaran
d. Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan dengan cara menganalisis semua kegiatan yang dilakukan pada
siklus I. Analisis dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan semua aspek pada
siklus I, hasil analisis digunakan untuk merencanakan tindakan berikutnya.
3. Siklus II
a. Perencanaan
1) Merancang RPP sesuai hasil refleksi pada siklus 1
2) Membuat lembar kerja siswa dan instrumen evaluasi
3) Membuat instrumen observasi aktivitas belajar siswa dan perfomansi pengajar
4) Menyusun tes formatif II
b. Pelaksanaan
1) Menyiapkan RPP
2) Menyiapkan media dan alat peraga abacus
3) Menyiapkan instrumen observasi aktivitas belajar siswa dan perfomansi pengajar
4) Mengadakan presensi siswa

5) Melaksanakan tahap-tahap pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat


sebelumnya
6) Pada akhir siklus II, siswa mengerjakan tes formatif II
c. Pengamatan
Pengamatan difokuskan pada:
1) Hasil belajar siswa
a) Rata-rata kelas
b) Banyaknya siswa yang tuntas belajar (skor 61)
c) Persentase tuntas belajar secara klasikal (persentase 75% )
2) Aktivitas siswa
a)
kehadiran peserta didik
b)
keberanian siswa menjawab pertanyaan
c)
keberanian siswa memanipulasi alat peraga di depan kelas
d) ketekunan siswa dalam menyelesaikan tugas
3) Perfomansi guru dalam proses belajar mengajar
a)
Pelaksanaan tugas rutin kelas
b) Membuka pelajaran
c)
Penjelasan materi
d) Pemanfaatan alat peraga abacus dalam pembelajaran
e)
Memicu dan memelihara aktivitas siswa
f)
Kemampuan dalam bertanya
g) Kemampuan mengevaluasi
h) Keterampilan dalam menutup pembelajaran
d. Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan dengan cara menganalisis semua kegiatan yang dilakukan pada
siklus II. Analisis dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan semua aspek pada
siklus II, selanjutnya hasil analisis digunakan untuk merencanakan tindakan berikutnya.
Hasil analisis pada siklus I dan II terhadap hasil belajar siswa, aktivitas belajar siswa, dan
perfomansi guru, kemudian disimpulkan apakah mengalami peningkatan. Jika meningkat
maka pembelajaran perbaikan yang menggunakan metode demonstrasi dan latihan telah
berhasil.
BAB IV
HASIL PERBAIKAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Berdasarkan analisis data serta dokumen yang diperoleh tampak bahwa hasil perbaikan dari
pra siklus, siklus I dan siklus II yang penulis lakukan di SD ... Kecamatan ... Kabupaten ...
mengalami peningkatan. Secara detail hasil dipaparkan sebagai berikut:
1.
Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan Siklus I
a.
Paparan Hasil Belajar
Berikut ini adalah hasil tes formatif siklus I
Tabel 1
Data Kemampuan Akhir Siklus I
Jumlah
Jumlah
Nilai
Persentase
Siswa
Nilai
100
90
1
80

70
60
50
40
30
20
10
Jumlah
Rata - Rata
Berdasarkan tabel 1 di atas dapat diketahui hasil tes formatif siklus I yang menunjukkan
kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita operasi penjumlahan dan pengurangan
pecahan. Tabel tersebut menunjukkan data siswa yang mendapat nilai 61 ada 24 anak,
ketuntasan belajar baru mencapai 47%. Hasil tersebut masih jauh dari KKM yang telah
ditentukan sebelumnya yaitu 75%. Dengan demikian kegiatan pembelajaran pada siklus I
perlu ditingkatkan lagi.
Tabel 2
Daftar Skor Perkembangan Siklus I
Nama Kelompok
Rata-rata skor
Penghargaan
No.
perkembangan
1.
Kelompok 1
27
Sempurna
2.
Kelompok 2
23
Sangat baik
3.
Kelompok 3
23
Sangat baik
4.
Kelompok 4
27
Sempurna
5.
Kelompok 5
23
Sangat baik
6.
Kelompok 6
23
Sangat baik
7.
Kelompok 7
26
Sempurna
8.
Kelompok 8
23
Sangat baik

Jumla
h
Ratarata

195
24,4

Tabel 2 menunjukkan data hasil skor perkembangan pada tiap kelompok. Pada siklus I ada
tiga kelompok yang mendapat penghargaan nilai sempurna dan lima kelompok lainnya nilai
sangat baik. Nilai yang diperoleh sangat memuaskan, penghargaan yang diperoleh tersebut
menunjukkan berkembangnya sikap-sikap positif dalam kelompok, seperti bekerjasama,
kepedulian sesama angota kelompok dsb. Sikap positif yang dilakukan kelompok mendukung
dalam meningkatkan kemampuan kelompok menyelesaikan soal cerita operasi pecahan.
Tabel 3
Data Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran
KETERCAPAIAN
Jumlh.
No
INDIKATOR
Pertemuan
Pertemuan
Pertemuan
I
II
III
1.
Aktivitas bertanya kepada 1
2
3
6

Perse

50

2
3
4
5
6

guru pada saat


pembelajaran berlangsung
Keberanian siswa dalam
mempresentasikan hasil
kerja
Keberanian siswa dalam
mengemukakan pendapat
Ketekunan siswa dalam
menyelesaikan tugas
Kerja keras siswa dalam
memecahkan masalah
Kerjasama siswa pada
saat bekerja kelompok

42

33

58

50

58

35
5.8

308
51

Jumlah
Rata-rata
Berdasarkan tabel 3 di atas, terlihat bahwa dari 6 indikator rata-rata aktivitas siswa dalam
pembelajaran hanya mencapai 51% siswa. Padahal ratarata persentase ketuntasan yang
harus dicapai siswa pada semua indikator adalah 54 % . Jadi pada siklus I pembelajaran
dikatakan belum berhasil untuk itu perlu diadakan perbaikan pada siklus berikutnya.
TABEL 4
Data Aktivitas Performansi Guru
KETERCAPAIAN
No INDIKATOR
Pertemuan
Pertemuan
Pertemuan
I
II
III
1.
PENDAHULUAN
a. Melaksanakan tugas rutin
2
3
3
kelas
b. Membuka pelajaran
1
2
3
2.
INTI PEMBELAJARAN
a. Penjelasan materi
2
3
3
b. Penerapan STAD
0
2
2
c. Pemanfaatan media
3
2
2
d. Membimbing siswa
1
2
3
e. Pengelolaan kelas
3
3
3
f. Memicu dan memelihara
aktivitas siswa
3.

g. Kemampuan bertanya
PENUTUP
a. Mengevaluasi
b. Menutup

Jumlah

sk

67

50

8
4
7
6
9

67
33
58
50
75

42

67

2
3
Jumlah
Rata-rata

3
3

3
3

8
9
93

67
75
65
59

Berdasarkan tabel 4 di atas, pada siklus I pertemuan kesatu sampai dengan pertemuan ketiga,
skor rata-rata aktivitas performansi guru belum menunjukkan catatan yang baik, yaitu hanya
mencapai 59. Sedangkan kriteria minimal keberhasilan yang harus dicapai adalah 71. Hal ini
berarti aktivitas performansi guru belum berhasil dan perlu ada peningkatan pada sebagian
besar indikator.
b. Deskripsi Observasi Proses Pembelajaran
Kegiatan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan oleh guru. Untuk
melakukan observasi terhadap aktivitas belajar siswa serta performansi guru dalam
pembelajaran, dibantu oleh seorang observer, dalam hal ini adalah rekan guru.
1) Pertemuan I
Pada siklus I kegiatan pembelajaran dilakukan tiga kali pertemuan. Pada pertemuan pertama
guru memberikan konsep pecahan dan operasi pecahan kepada siswa. Kegiatan pembelajaran
dilakukan secara konvensional dengan bantuan media pembelajaran. Guru mengulang materi
tentang konsep pecahan secara singkat. Kemudian guru menjelaskan teknik penyelesaian
operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan secara jelas. Siswa diberi latihan-latihan soal
secara berulang-ulang. Kegiatan ini bertujuan untuk memantapkan konsep dasar operasi
pecahan sebelum siswa belajar tentang soal cerita operasi pecahan. Dalam kegiatan latihan
soal siswa mulai dikenalkan dengan model pembelajaran kooperatif STAD, dalam hal ini
siswa diajak membentuk kelompok belajar.
Aktivitas siswa masih rendah karena siswa tidak terbiasa belajar secara kelompok. Belum
terlihat aktivitas positif kelompok , seperti berdikusi, kerjasama dll. Berdasarkan
pengamatan, siswa terlihat tenang memperhatikan penjelasan guru. Dalam mengerjakan soal
latihan mereka kelihatan malas sehingga guru memberikan motivasi. Aktivitas performansi
guru belum tampak seluruhnya, Hanya beberapa keterampilan mengelola pembelajaran
klasikal yang baru ditampilkan guru. Seperti membuka pembelajaran, melakukan
pembiasaan, sedikit motivasi serta kegiatan tanya jawab.
2) Pertemuan II
Pada pertemuan kedua dan ketiga guru mulai memberikan konsep soal cerita operasi pecahan
pada siswa. Pada pertemuan ini guru menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD.
Pertemuan II, Kegiatan pembelajaran diawali dengan pemberikan motivasi kepada siswa
untuk memahami materi yang dipelajari. Beberapa siswa di belakang asyik bercerita dengan
temannya di luar materi pelajaran.
Pada pertemuan kedua guru mulai mengajarkan konsep soal cerita tentang operasi pecahan
kepada siswa. Guru memberikan satu soal cerita kepada siswa untuk dikerjakan. Setelah
selesai guru menjelaskan teknik penyelesaian soal cerita secara benar. Selanjutnya guru
memberikan latihan soal sekali lagi. Dari hasil latihan soal ini dapat diketahui beberapa siswa
mampu menerapkan teknik penyelesaian soal cerita dengan baik. Siswa-siswa tersebut
merupakan siswa yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan teman-temannya. Siswasiswa tersebut nanti akan dijadikan sebagai ketua kelompok. Ketua kelompok ini diharapkan
nanti dapat membantu teman-temannya yang merasa kesulitan.
Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal ceita operasi pecahan
guru memberikan latihan soal. Pada kegiatan latihan soal ini guru menggunakan model
pembelajaran Kooperatif STAD. Dalam penerapannya siswa dibagi menjadi delapan
kelompok heterogen. Di dalamnya terdapat seorang siswa yang mampu menyelesaikan soal
cerita operasi pecahan dengan baik. Setelah kelompok terbentuk guru memberikan arahan
tentang aturan dalam kegiatan diskusi yang akan dilakukan. Selanjutnya tiap kelompok diberi
kartu soal sebagai tugas kelompok.
Pada kegiatan diskusi ini semua siswa tampak serius membaca soal. Setelah 10 menit
berlangsung mulai terlihat beberapa siswa tengak-tengok ke belakang, ada pula yang tampak
bosan hanya sandaran di meja. Mereka terlihat kesulitan menyelesaikan soal, tetapi enggan

bertanya kepada temannya yang sudah selesai. Siswa yang sudah selesai mengerjakan tugas
hanya bermain-main dan kadangkala mengganggu temannya. Guru berkeliling kelas, namun
tidak ada satupun siswa yang bertanya atau mengungkapkan masalahnya. Melihat hal itu,
guru memberikan motivasi kepada siswa untuk segera menukarkan kartu soal kepada teman
anggota yang lain. Barulah setelah itu siswa serius lagi mengerjakan tugasnya. Selain itu guru
juga memberikan motivasi agar siswa yang kesulitan bertanya kepada temannya yang sudah
selesai dan bagi yang selesai lebih dulu membantu temannya yang kesulitan.
Kegiatan kelompok pada pertemuan ini berlangsung sangat lama, melebihi batas waktu yang
ditentukan sebelumnya. Setelah semua kelompok menyelesaikan tugasnya masing-masing.
Guru menawarkan kepada tiap kelompok membacakan hasil pekerjaannya. Tetapi, tidak ada
satupun kelompok yang mengirimkan wakilnya. Mereka masih takut dan malu. Ada satu
kelompok yang terlihat akan maju ke depan, tetapi masih ragu dan tidak berani. Selanjutnya
guru memberikan motivasi agar setiap kelompok segera menyampaikan hasil pekerjaannya.
Ada tiga kelompok yang maju ke depan yaitu kelompok 3, 4, dan 8.
Pada saat pemaparan hasil pekerjaan kelompok, tidak ada satupun siswa yang protes
meskipun jawaban yang diberikan salah. Selanjutnya guru mengajak siswa merangkum hasil
pembahasaan soal. Guru menyempurnakan dan meluruskan jawaban siswa. Seluruh siswa
memperhatikan dan banyak diantaranya sambil menulis yaitu menyalin jawaban ke dalam
buku catatannya. Setelah itu guru meminta siswa mengumpulkan semua lembar soal dan
jawaban yang ditulis di kertas. Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberi pekerjaan
rumah. Selama proses pembelajaran berlangsung observasi pembelajaran dilakukan dengan
menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa.
3) Pertemuan III
Pada pertemuan ketiga, kegiatan pendahuluan terlaksana sesuai dengan skenario
pembelajaran yang dipersiapkan. Keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita belum
cukup baik, untuk itu guru memberikan penjelasan beberapa hal yang belum dikuasai siswa,
seperti bahasa dalam soal cerita yang belum dikenal siswa. Setelah menyampaikan materi dan
tujuan pembelajaran guru memotivasi siswa agar senantiasa giat dalam berlatih mengerjakan
soal cerita dan terpenting adalah dalam menyelesaikan soal cerita harus mengikuti urutan
yang telah ditentukan.
Selanjutnya pada pertemuan ketiga ini, kegiatan pembelajaran kooperatif STAD kembali
dilaksanakan. Semua siswa berada dalam kelompoknya masing-masing sebagaimana
pembagian kelompok pada pertemuan sebelumnya. Sebelum kegiatan diskusi dimulai guru
memotivasi siswa agar setiap kelompok bekerja sama dengan baik, saling membantu. Bagi
yang tidak memahami soal segera bertanya pada teman kelompoknya dan yang selesai lebih
dahulu segera membantu temannya yang kesulitan. Selanjutnya guru memberikan tugas pada
tiap kelompok.
Semua siswa tampak antusias mengerjakan tugas yang diterimanya. Sudah mulai ada
kelompok yang melakukan diskusi dengan anggotanya. Kegiatan diskusi mulai berjalan baik,
tetapi masih ada dua kelompok yang belum berjalan. Ketika guru berkeliling ada tiga
kelompok yang berani bertanya. Mereka mengalami kesulitan memahami soal. Guru
memberikan bimbingan kepada kelompok yang merasa kesulitan dalam menyelesaikan tugas.
Kegiatan diskusi berjalan baik, setelah semua kelompok menyelesaikan tugasnya. Guru
meminta setiap kelompok memaparkan hasil pekerjaannya. Guru menawarkan kepada semua
kelompok untuk maju ke depan. Ternyata ada empat kelompok yang berani mengacungkan
tangannya. Mereka maju tanpa harus di paksa. Pada saat pemaparan belum ada siswa dari
kelompok lain yang menyanggah atau pun memberikan pendapat. Ada beberapa jawaban
kelompok yang sudah benar. Selanjutnya guru mengajak siswa merangkum hasil
pembahasaan soal. Guru menyempurnakan dan meluruskan jawaban siswa yang masih salah.
Seluruh siswa memperhatikan dan banyak diantaranya sambil menulis yaitu menyalin

jawaban ke dalam buku catatannya. Guru meminta siswa mengumpulkan semua lembar soal
dan jawaban yang ditulis di kertas.
Siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing. Kemudian guru memberikan soal
sebagai evaluasi pada siklus I. Semua siswa terlihat sungguh-sungguh mengerjakan soal.
Meskipun ada beberapa yang kesulitan. Setelah selesai mengerjakan, hasil pekerjaan siswa
dikumpulkan.
c. Refleksi
Refleksi dilakukan guru dengan observer. Berdasarkan analisis hasil evaluasi akhir yang
diperoleh siklus I rata-rata nilai yang dicapai adalah 68, berarti telah melampaui indikator
yang ditentukan sebesar 61. Namun, dilihat dari presentase ketuntasan belajar belum berhasil
memenuhi target. Hasil evaluasi yang diperoleh pada siklus I hanya mencapai ketuntasan
belajar sebesar 47 %, sedangkan KKMnya sebesar 70%. Melihat hasil pekerjaan siswa pada
evaluasi siklus I, dapat diketahui berbagai kesalahan yang dilakukan oleh siswa, diantaranya
yaitu:
1) Siswa belum mampu memaknakan bahasa soal dalam bentuk bahasa matematika
2) Siswa tidak mampu membuat kalimat metematika.
3) Kesalahan dalam menyelesaikan operasi hitung
4) Siswa tidak mengikuti teknik atau urutan dalam penyelesaian soal cerita.
Berdasarkan hasil observasi, tampak bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran masih
rendah. Beberapa indikator belum dapat tercapai sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Hal
ini disebabkan
1) Siswa masih merasa canggung dan malu untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan.
2) Beberapa anggota kelompok tidak disenangi teman satu kelompoknya.
3) Beberapa siswa yang pintar kurang peduli kepada teman anggota yang tidak mampu.
Dari hasil refleksi pada siklus I diketahui aktivitas guru semakin membaik dari awal sampai
akhir siklus, tetapi masih ada kekurangan, diantaranya:
1) Guru kurang dalam membimbing kelompok yang mengalami kesulitan
2) Guru kurang memperhatikan harmonisasi dalam kelompok, karena ada beberapa anggota
kelompok yang kurang disenangi teman-temannya, tetapi guru tidak menukarnya dengan
kelompok lain.
3) Guru sering bercerita di luar materi sehingga banyak waktu yang terbuang
4) Penggunaan alat peraga kurang maksimal
d. Revisi
Beberapa hal yang perlu diperbaiki pada siklus I adalah
1) Pemahaman terhadap makna bahasa dalam soal, yaitu guru perlu memberikan
informasi tentang makna bahasa yang biasa digunakan dalam soal cerita.
2) Kemampuan menuliskan kalimat matematika, dapat ditingkatkan melalui bimbingan dari
guru dan dari teman yang pintar dalam satu kelompok.
3) Penguasaan teknik penyelesaian operasi pecahan. Hal ini diatasi dengan memberikan
bimbingan remidial tentang konsep operasi pecahan.
4)
Penerapan teknik atau langkah-langkah dalam penyelesaian soal cerita, untuk itu perlu
adanya penekanan kepada siswa agar selalu menggunakan langkah-langkah yang benar dalam
menyelesaikan soal cerita.
5)
Aktivitas pembelajaran siswa seperti dalam bertanya, berpendapat, bekerjasama dengan
kelompok. Diatasi dengan cara pemberian motivasi kepada siswa untuk lebih percaya diri,
serta meningkatkan kepedulian terhadap teman yang tidak mampu atau kurang pintar.
6)
Perhatian guru terhadap kesulitan yang dihadapi kelompok perlu ditingkatkan.
7)
Guru harus lebih fokus pada materi pembelajaran
8)
Guru perlu lebih meningkatkan pemanfaatan alat peraga dalam pembelajaran.
Deskripsi Data Pelaksanaan Tindakan Siklus II

a. Paparan Hasil Belajar.


Berikut ini adalah hasil tes formatif siklus II.
Tabel 5
Data Hasil Tes Akhir Siklus II
Nilai
Jumlah siswa
100
9
90
6
80
15
70
11
60
4
50
6
40
30
20
10
Jumlah
51
Rata-Rata

Jumlah Nilai
900
540
1200
770
240
300
3950
78

Persentase
17
12
29
21
8
12
100

Berdasarkan tabel dan grafik di atas, tampak bahwa hasil belajar siswa mengalami
peningkatan jika dibandingkan dengan hasil belajar pada siklus I. Pada siklus I rata-rata nilai
yang dicapai siswa 64, dengan tingkat ketuntasan hanya mencapai 47 %. Namun, pada siklus
II rata-rata nilai pada siklus II mencapai 78. Jumlah siswa yang memiliki nilai 61 sebanyak
41 anak, sehingga ketuntasan belajar mencapai 80%. Dengan begitu ketuntasan belajar pada
siklus II telah melewati KKM yang ditentukan sebelumnya yaitu 75%.
Peningkatan rata-rata nilai dan pencapaian ketuntasan belajar di atas KKM pada siklus II
menunjukkan adanya keberhasilan pembelajaran dalam penelitian tersebut. Berdasarkan hasil
pekerjaan siswa pada evaluasi siklus II, dapat dilihat bahwa kesalahan-kesalahan yang
dilakukan siswa pada siklus sebelumnya telah berkurang. Hal itu menunjukkan adanya
peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita operasi pecahan.
Tabel 6
Daftar Skor Perkembangan Siklus II
Rata-rata skor
No.
Nama Kelompok
Penghargaan
perkembangan
1.
Kelompok 1
30
Sempurna
2.
Kelompok 2
27
Sempurna
3.
Kelompok 3
30
Sempurna
4.
Kelompok 4
30
Sempurna
5.
Kelompok 5
27
Sempurna
6.
Kelompok 6
29
Sempurna
7.
Kelompok 7
30
Sempurna
8.
Kelompok 8
29
Sempurna
Jumlah
232
Rata-rata
29
Pada tabel 6 menunjukkan prestasi yang diraih oleh masing-masing kelompok. Pada siklus II,
keseluruhan kelompok berhasil meraih penghargaan nilai sempurna. Hal ini sebagai bukti
pengaruh aktivitas positif siswa dalam kelompok terhadap kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal cerita operasi pecahan.

Berikut ini, disajikan tabel data aktivitas siswa dalam pembelajaran pada siklus II
Tabel 7
Data Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran
No
1.
2
3
4
5
6

INDIKATOR
Aktivitas bertanya kepada
guru pada saat
pembelajaran berlangsung
Keberanian siswa dalam
mempresentasikan hasil kerja
Keberanian siswa dalam
mengemukakan pendapat
Ketekunan siswa dalam
menyelesaikan tugas
Kerja keras siswa dalam
memecahkan masalah
Kerjasama siswa pada saat
bekerja kelompok

KETERCAPAIAN
Pertemuan
Pertemuan
I
II

Jumlah

Persentas

88

75

63

75

75

88

37
6.2

464
77

Jumlah
Rata-rata

Tabel dan grafik di atas menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar siswa pada siklus
II dibandingkan dengan siklus I. Pada siklus II rata-rata skor yang diperoleh adalah 6,2
dengan rata-rata presentase keberhasilan dari 6 indikator yang diamati mencapai 77%.
Sedangkan pada siklus I hanya sebesar 51%. Aktivitas belajar siswa pada siklus II dikatakan
berhasil karena telah mencapai kriteria rata-rata minimal sebesar 54%.
Tabel 8
Data Aktivitas Performansi Guru Siklus II
No

INDIKATOR

1.

PENDAHULUAN
a. Melaksanakan tugas rutin kelas
b. Membuka pelajaran
INTI PEMBELAJARAN
a. Penjelasan materi
b. Penerapan STAD
c. Pemanfaatan media
d. Membimbing siswa
e. Pengelolaan kelas

2.

KETERCAPAIAN
Pertemuan
Pertemuan
I
II

Jumlah

Persent

3
4

4
4

7
8

88
100

3
3
3
3
3

3
4
3
4
3

6
7
6
7
6

75
88
75
88
75

f. Memicu dan memelihara


aktivitas siswa
3.

g. Kemampuan bertanya
PENUTUP
a. Mengevaluasi
b. Menutup

75

100

3
3
Jumlah
Rata-rata

4
3

7
6
74
6.7

88
75
927
84

Berdasarkan tabel dan grafik di atas pada siklus II indikator pencapaiannya mengalami
peningkatan menjadi 84 %, dibandingkan siklus I yang hanya 74,8 %.
b. Deskripsi Observasi Proses Pembelajaran
1) Pertemuan I
Pada tindakan siklus II ini, guru tetap sebagai pengajar dan peneliti dengan dibantu seorang
observer. Pertemuan pertama diawali dengan penyampaian kepada siswa tentang kesalahan
yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal tes hasil belajar pada siklus I. Kesalahan
umum yang mereka lakukan adalah pada langkah-langkah penyelesaian soal-soal cerita
operasi pecahan.
Pada tahap ini kegiatan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan skenario pembelajaran
yang telah dipersiapkan sebelumnya. Guru menyampaikan indikator pembelajaran dan
memotivasi siswa pada awal pembelajaran. Sebagian besar siswa memperhatikan guru dalam
tahapan motivasi. Tampak semua siswa aktif memberikan respon yang diharapkan walaupun
ada juga yang tidak memperhatikan guru, tetapi siswa menunjukkan sikap yang positif.
Pada tindakan siklus II ini kegiatan pembelajaran kooperatif STAD kembali dilaksanakan.
Siswa berada dalam kelompoknya masing-masing sebagaimana pembagian kelompok pada
siklus I, tetapi ada sedikit perubahan. Sebelum memulai diskusi guru menekankan kembali
tentang teknik dalam menyelesaikan soal serita. Guru juga mengingatkan tentang beberapa
aktivitas yang perlu ditingkatkan.
Setelah siswa berkelompok, guru membagikan kartu soal pada tiap kelompok. Kegiatan
diskusi berjalan seperti biasa. Siswa tampak bersungguh-sungguh dalam mengerjakan soal.
Kerjasama mulai terlihat pada semua kelompok. Namun, masih ada siswa yang bermainmain. Guru berkeliling menghampiri tiap kelompok. Ada dua kelompok yang bertanya ketika
dihampiri, nampaknya siswa sudah tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal
cerita. Kegiatan saling membantu terlihat pada semua kelompok.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, guru meminta tiap kelompok memaparkan hasil
pekerjaannya di depan kelas. Siswa tampak bersemangat untuk maju. Beberapa kelompok
berembug untuk menentukan anggota yang akan memaparkan hasil pekerjaan kelompok.
Ketika guru mewarkan kepada kelompok untuk maju, ada enam kelompok yang
mengacungkan tangan yaitu kelompok 2, 4, 5, 6, 7, dan 8. Mereka maju secara bergiliran.
Siswa yang lain memperhatikan dengan sungguh-sungguh meskipun masih ada beberapa
siswa yang terlihat bermain-main ketika presentasi berlangsung. Ada dua orang siswa yang
tampak aktif, mereka mengacungkan tangan sambil memanggil gurunya. Mereka mengatakan
bahwa jawaban yang dipaparkan kelompok 5 salah. Selanjutnya guru mengajak siswa
merangkum hasil pembahasaan soal. Guru menyempurnakan dan meluruskan jawaban siswa
yang masih salah. Selanjutnya guru mengumpulkan lembar soal dan jawaban semua
kelompok.

Sebelum mengakhiri pembelajaran guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang langsung


dijawab oleh siswa secara berebut. Siswa tampak senang dan bersemangat.
2) Pertemuan II
Pada pertemuan ke dua kegiatan pembelajaran dilakukan sesuai sekenario
pembelajaran yang telah dibuat. Kegiatan diawali dengan pemberian motivasi kepada siswa.
Guru mengungkapkan kekurangan yang terjadi pada pertemuan sebelumnya. Selanjutnya
membacakan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pembelajaran. Guru memberikan
kesempatan kepada siswa bergabung dengan kelompok seperti pada pertemuan sebelumnya.
Setelah kelompok terbentuk guru langsung membagikan kartu soal. Siswa tampak antusias
mengerjakan tugas. Setelah beberapa lama ada seorang siswa mengacungkan dan minta
bantuan kepada guru. Siswa tersebut mengalami kesulitan untuk memahami bahasa baru yang
muncul dalam soal. Setelah mendapat bimbingan guru mereka melanjutkan pekerjaannya.
Kegiatan diskusi berjalan baik. Sudah tidak terlihat lagi anak yang bermain-main. Pekerjaan
kelompok pada pertemuan dua ini dapat diselesaikan lebih cepat dari pertemuan sebelumnya.
Pembelajaran dilanjutkan dengan kegiatan pemaparan hasil pekerjaan siswa. Pada
kegiatan ini terlihat hampir semua kelompok ingin memaparkan hasil pekerjaannya. Setelah
selesai guru bersama siswa membahas hasil pekerjaan kelompok. Hanya ada sedikit
kesalahan yang dilakukan siswa, yaitu ada siswa yang tidak menuliskan pertanyaan pada
lembar jawabannya. Setelah selesai dibahas, siswa merangkum jawaban-jawaban ke dalam
buku catatannya. Seluruh siswa mengumpulkan lembar soal dan jawab kepada guru dan
kembali ke tempat duduknya masing-masing.
Guru memberikan tes akhir kepada semua siswa. Siswa mengerjakan soal dengan
serius. Tidak terlihat anak yang tengak-tengok. Setelah selesai mengerjakan tes, lembar soal
dan jawaban dikumpulkan kepada guru. Sebelum mengakhiri pembelajaran guru memberikan
motivasi kepada siswa.
c. Refleksi
Kegiatan refleksi pada tindakan siklus II ini menunjukkan hasil yang cukup
menggembirakan. Hasil observasi yang dilakukan oleh guru menunjukkan bahwa
pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif STAD sudah memberikan
hasil yang lebih baik.
Pada tahap refleksi ini, yang dilaksanakan secara kolaboratif antara guru dengan observer
menunjukkan masih ada yang harus diperbaiki, yaitu bahwa hanya sebagian siswa yang
mampu menyampaikan pendapat. Selain itu masih ada beberapa siswa yang tidak bekerja
sama dalam kelompok. Tetapi hasil observasi terhadap guru sudah menunjukkan hal yang
lebih baik dari hasil observasi sebelumnya.
Dari hasil evaluasi akhir siklus II terlihat bahwa kemampuan siswa kelas IV SD Negeri
Mokaha 01 dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi pecahan, baik secara kelompok
maupun klasikal, mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan siklus I. Kemampuan
siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan secara klasikal pada
tindakan siklus I sebesar 47% sedangkan pada tindakan siklus II mencapai 80%.
61. Dengan demikian, hipotesis tindakan telah tercapai yaitu melalui model pembelajaran
kooperatif STAD, kemampuan siswa kelas IV SD Negeri Mokaha 01 dalam menyelesaikan
soal-soal cerita operasi pecahan dapat ditingkatkan.Bertitik tolak dari hasil yang diperoleh
pada tindakan siklus II berarti kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita
operasi pecahan mengalami peningkatan, maka penelitian ini tidak perlu dilanjutkan kesiklus
berikutnya. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini sudah tercapai yaitu minimal 70%
siswa telah mencapai nilai
B. Pembahasan
1.
Pemaknaan Temuan Penelitian

Pembelajaran kooperatif STAD sangat bermanfaaat bagi siswa kelas IV SD Negeri Mokaha
01 Jatinegara .... Setelah mengikuti pembelajaran kooperatif STAD pada mata pelajaran
matematika kompetensi soal cerita operasi pecahan hasil belajar mengalami peningkatan.
Peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita operasi pecahan ditunjukkan
dengan pencapaian ketuntasan hingga 80% pada akhir siklus. Berarti telah melampaui KKM
sebesar 75%.
Selain itu aktivitas belajar siswa juga mengalami peningkatan . terutama pada aktivitas
hubungan sosial dalam kelas. Rasa percaya diri siswa sangat tinggi. Beberapa siswa yang
sebelumnya tampak minder dan sering dikucilkan, sudah mulai berbaur dan mudah
menyesuaikan diri. Mereka tidak kesulitan lagi untuk mencari kelompok belajar. Mereka
lebih aktif berbicara dengan teman-temannya dibandingkan pada pembelajaran sebelumnya
yang selalu diam dan sering melamun. Tidak hanya di dalam kelas, dalam permainan di luar
kelas pun mereka mulai bisa beradaptasi dan diterima teman lainnya dengan mudah. Hal ini
sesuai dengan pendapat Mustaji dalam Zainal, dkk.(2002: 174). Beliau mengatakan bahwa
beberapa alasan penggunaan cooperative learning dalam proses pembelajaran bertujuan
(1)Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memperbaiki hubungan dalam satu grup.
(2)Mengatasi rintangan di kelas secara akademik. (3)Meningkatkan harga diri.
(4)Menumbuhkan kesadaran bahwa siswa perlu belajar dan berfikir. (5)Memecahkan masalah
dan belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki.
Selain itu kegiatan pembelajaran kooperatif STAD sangat mendukung dalam melatih siswa
mengenai nilai-nilai sosial. Diantaranya nilai tenggangrasa, tolong menolong, saling
menghargai, dan rasa persatuan. Nilai-nilai tersebut selanjutnya diharapkan tidak hanya
mendukung dalam bidang akademik, tetapi juga dapat membentuk mental dan karakter siswa
sebagai bekal kehidupan kelak.
2. Implikasi Hasil Penelitian
Penerapan model pembelajaran kooperatif STAD bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar
dengan aktivitas siswa pada proses pembelajaran soal cerita operasi pecahan. Untuk dapat
melaksanakan pembelajaran kooperatif STAD dalam kelas konvensional bukan hal yang
mudah. Pembelajaran kooperatif STAD sangat memerlukan kerjasama dalam kelompok, oleh
karena itu agar pembelajaran dapat optimal maka perlu penanaman pemahaman siswa
mengenai kerja kelompok. Siswa harus mengetahui bahwa keberhasilan yang dinilai adalah
keberhasilan kerja kelompok. Sedangkan nilai kelompok diperoleh dari hasil kerja masingmasing anggota kelompok. Untuk itu kegiatan saling membantu antar anggota kelompok
sangat dibutuhkan dalam rangka keberhasilan kerja kelompok. Sikap keterbukaan antar
anggota kelompok sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan kemampuan anggota
lainnya. Sikap silih, asih, dan asuh harus ada dalam kelompok, dalam hal ini adalah sikap
tolong menolong antar anggota kelompok. Dalam kelompok yang heterogen, terdiri dari
anggota yang beragam tingkat kemampuannya. Anggota yang mampu harus rela membantu
dan membimbing anggota lain yang kesulitan, begitu pula sebaliknya, bagi anggota yang
merasa kesulitan harus terbuka pada anggota lainnya. Ia tidak boleh segan bertanya maupun
minta bantuan pada anggota yang lebih pintar.
Pada awalnya kegiatan diskusi kelompok terasa sulit karena siswa tidak terbiasa. Siswa
merasa malu dan canggung dengan teman kelompok yang bukan pilihannya. Untuk itu guru
perlu memberikan motivasi yang tinggi kepada siswa. Motivasi dalam bentuk nasehat serta
sikap positif dalam kelompok, seperti rasa percaya diri, saling menghargai dsb. Pemberian
hadiah bagi kelompok yang memperoleh nilai paling tinggi juga akan menjadi motivasi yang
tinggi bagi kelompok untuk meningkatkan prestasi.
DAFTAR PUSTAKA
Skripsi.pdf

(id.wikipedia.org).
Gagne dan Briggs 1979 dalam Kasturi 2009:5).
Rb Aryans dalam www.blogspot.com)
"http://indramunawar.blogspot.com/"
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group
(Wina Senjaya (2008).dalam Akhmad sudrajat.woodpres.com
Nurmawati, Sri Handayani dan Lusi Rachmiazasi. Pembelajaran Yang Berorientasi Pada
Konstruktivistik Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Nilai Tempat Bagi Siswa Kelas
III Sdn Kutohardjo Ii Rembang. Sutisna.com
Teguh.Pendekatan CSPA Untuk Membantu Siswa Memahami Nilai Tempat Bilangan Cacah
Di Kelas 2 Sekolah Dasar. Online at : Sutisna.com